Halaman

Tampilkan postingan dengan label Al quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al quran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juli 2023

Hakikat Makna kata مُخْلِصِينَ [ Mukhlisin ]

Serial Ilmu Huruf,

By. Mang Anas 


فَٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَـٰفِرُونَ

" Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya) " [ Surat Ghafir (40) Ayat 14 ]

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

" Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus ". [ Surat Al-Bayyinah (98) Ayat 5 ]

A. Secara bahasa kata مُخْلِصِينَ berasal dari kata dasar خ-ل-ص yang berarti bersih, bening, sejati, murni, terang, benar atau hakiki. Dan adapun secara ilmu huruf maka kata مُخْلِصِينَ artinya sebagai berikut,

1. Makna huruf  خ [ Kho ]

♤ Huruf خ pada kata مُخْلِصِينَ itu bermakna dada dalam kondisi batinnya yang terberkati. Dimaknai demikian karena huruf خ itu terbentuk dari gabungan dua huruf, yaitu dari  ح dan ن. Dimana huruf  ح itu dimaknai sebagai dada [ karena bentuknya menyerupai sebuah organ dada ] dan huruf ن nya bermakna berkat atau anugerah rohani. Agar anda bisa menangkap logika pemaknaannya maka coba imajinasikan bentuk huruf ن itu sebagai  suatu   bentuk yang  menyerupai sebuah mangkok kecil dan lalu diatasnya setetes embun yang sangat bening lagi murni jatuh perlahan dan dengan sangat lembutnya masuk kedalam mangkok. Itulah gambaran imajinasinya  mengapa huruf خ pada kata atau kalimat مُخْلِصِينَ  itu kita maknai sebagai berkat,  rahmat dan anugerah rohani yang dimasukkan kedalam dada orang orang yang beriman yang dikasihi dan yang dikehendaki-Nya.

Surat An-Nisa (4) Ayat 69

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًۭا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, [ anugerah hikmah huruf  خ ] yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

2. Makna huruf ل [ Lam ]

♤ Huruf ل terbentuk dari dua huruf yakni dari huruf أ dan huruf ر. Huruf Alif bermakna " hablum minallah " sedangan huruf ر nya bermakna " hablum minannas ". Dengan demikian maka makna huruf ل dalam kasus ini dimaknai sebagai tali atau sebagai tempat bergantung atau bantolan dalam bahasa jawa [ lihat bentuk huruf ل yang menyerupai sebuah pancing atau sebuah alat pengait ], maka hakikat huruf ل pada kata مُخْلِصِينَ adalah esensi As-Somad yang bersemayam didalam dada setiap manusia. Dan hakikat As-Somad itulah yang kemudian disebut sebagai entitas Nur Muhammad atau insting ketuhanan yang ada pada setiap diri manusia. Entitas itu ditanam pada saat manusia masih berbentuk sperma [ dibentuk di alam bapak atau alam bawah sadar manusia ], perhatikan ayat Al Quran berikut ini. 

Surat Al-A'raf (7) Ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Serta perhatikan pula ayat quran berikut ini, 

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (٢٥٦)

" Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus [ yaitu esensi Huruf ل ]. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. " (Q.S. Al-Baqarah ayat 256)

Esensi As-Somad atau esensi Nur Muhammad  atau esensi huruf ل itu akan terpancar kuat dan sangat maksimal pada diri para nabi dan rasul [ مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ ], dan secara berurutan kepada diri para wali-wali Allah [ وَٱلصِّدِّيقِينَ ], pada diri para syuhada  [ وَٱلشُّهَدَآءِ ] dan baru kemudian pada diri orang orang soleh [ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ]. Simaklah kembali surat An-Nisa (4) Ayat 69 diatas. 

3. Makna huruf ص

♤ Dan adapun Makna dari huruf ص [ sho ] adalah tarikan magnet atau kecenderungan jahat dari nafsu dan atau syahwat jasmani. Dan tarikan magnet ص atau kecenderungan jahat itu akan muncul dengan sangat kuat pada kondisi dimana kelamin dan perut diri manusia itu belum terberkati [ belum dianugerahi berkat huruf خ ], hal itu terjadi karena potensi Nur Muhammad [ huruf ل ] yang ada pada dirinya tidak pernah diurus, dirawat dan lupa diberdayakan.

Tetapi pada diri  مُخْلِصِينَ  [ mukhlisin ] munculnya kecenderungan syahwat atau nafsu itu dapat teratasi berkat adanya perangkat خ dan ل yang terus menguat didalam dirinya. Penguatan خ dan ل itu hanya akan terjadi jika ia rajin melakukan taqarub, yaitu dengan terus menerus bergerak semakin dekat ke kutub ketuhanan [ yang dalam kasus ini adalah medan magnit positif dari huruf ل ] dan pada saat yang sama ia terus menerus bergerak semakin menjauhi kutub Tagut [ yaitu medan magnit negatif huruf ص, yang esensinya adalah simbol syahwat dan hawa nafsu ]. 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُۗ  فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (٣٦)

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah [ dianugerahi hikmah huruf خ ] dan ada pula yang tetap dibiarkan dalam kesesatan [ hidup terpasung di kubangan huruf ص ] . Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. An-Nahl ayat 36)

B. Bagaimana Cara Mencapai Kemurnian Hati

Pemurnian hati itu dapat dicapai dengan cara meningkatkan kualitas ibadah, utamanya adalah ibadah- ibadah yang oleh Allah swt  sedari awal memang didesain, dirancang dan dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal rasa keimanan manusia kepada Tuhan-Nya, yaitu melalui serangkaian syariat ibadah makhdoh seperti shalat, dzikir, tirakat, puasa, meditasi dan suluk, dan kemudian mentadaburi quran dan kitab-kitab suci lainnya, serta bisa juga melalui serangkaian kegiatan ibadah haji dan umroh [ yang hakikatnya adalah sebuah ziarah, yakni menziarahi tempat-tempat dimana pantulan cahaya ilahi diyakini berada dan terkonsentrasi dengan sangat tinggi dan kuat ]. Hal mengenai adanya pantulan cahaya ilahi itu oleh para ahli rasha [ ahli sirr ] akan dapat dirasakan dengan kuat dan nyata sekali dan juga dengan penglihatan oleh para ahli kasyaf [ penyaksian secara visual lewat mata batinnya ]. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (٨)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”  (Q.S. At-Tahrim ayat 8)

Dan adapun yang dimaksud dengan kualitas ibadah disini adalah " ibadah yang meng-hati " atau ibadah yang dilakukan dengan sepenuh penghayatan, serta dilakukan dengan niat lurus, bersih, dan semurni-murninya. Diniatkannya hanya untuk taqarub kepada Allah,  dan yang dilakukan semata sebagai sebuah bentuk pertobatan kepada Allah SWT.  Tidak boleh didalamnya ada agenda keduniaan yang terselip, baik yang kecil, yang tersembunyi dan bahkan yang tersamar [ disinilah diperlukan adanya guru Mursyid sebagai pembimbing ]. 

C. Ayat-ayat Al Quran Yang Berhubungan dengan kata Mukhlisin 

Surat Al-A'raf (7) Ayat 29

قُلْ أَمَرَ رَبِّى بِٱلْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا۟ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍۢ وَٱدْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)".

Surat Yunus (10) Ayat 22

هُوَ ٱلَّذِى يُسَيِّرُكُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمْ فِى ٱلْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍۢ طَيِّبَةٍۢ وَفَرِحُوا۟ بِهَا جَآءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌۭ وَجَآءَهُمُ ٱلْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍۢ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَـٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".

Surat Luqman (31) Ayat 32

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌۭ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِـَٔايَـٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍۢ كَفُورٍۢ

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.


Semoga Tulisan ini bermanfaat,



Selasa, 04 April 2023

Membumikan Nilai-nilai Al Fatiha Sebagai Asas Kita Bernegara dan Asas Dalam Tata Kelola Pemerintahan

By. Mang Anas

A. Pendahuluan 

Bahasan berikut ini adalah makna lain dari surat Al Fatiha, yaitu usaha menafsirkan substansi makna surat Al Fatiha dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)


B. Kewajiban Pemerintah [ Penguasa ] Terhadap Rakyatnya 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

Tafsir  : 

1. Makna lafad  اَلْحَمْدُ  pada kalimat  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ dalam konteks berbangsa dan bernegara  adalah keseluruhan potensi sumberdaya baik manusia maupun bentuk kekayaan lainnya yang dimiliki oleh sebuah bangsa, yaitu kekayaan yang berada di darat, laut, di dalam bumi dan di wilayah udaranya.  

2. Makna lafad  لِلّٰهِ  dalam konteks berbangsa dan bernegara adalah agar seluruh potensi sumberdaya anugerah Tuhan Yang Maha Esa itu digunakan untuk sebesar - besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, dan jangan sampai hanya dinikmati atau dikuasai oleh segelintir dan sekelompok orang saja [ yaitu oleh oligarki ekonomi yang mengkooptasi kekuasaan ].

3. Dan adapun makna  lafad رَبِّ pada kalimat  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ adalah berarti kemampuan negara [ pemerintah ] dalam memenej seluruh potensi sumberdaya yang dimilikinya menggunakan sistem tata kelola pemerintahan yang baik, benar, efektif dan efisien. 

4. Selanjutnya adalah makna lafad  الْعٰلَمِيْنَۙ  yaitu agar pemerintahan itu dalam mengelola sumberdayanya selalu memperhatikan asas pelestarian lingkungan dan asas kesinambungan ketersediaan sumberdaya bagi kepentingan generasi dibelakangnya. 

--------®---------

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 3)

5. Dan adapun makna lafad  الرَّحْمٰنِ dalam konteks kebangsaan adalah " bangunlah badannya ", yaitu peran pemerintah sebagai fasilitator bagi rakyatnya. Caranya adalah dengan berupaya menyediakan berbagai infrastruktur dibidang perekonomian, berbagai sarana penunjang lembaga pendidikan, sarana kesehatan serta menyediakan berbagai sarana infrastruktur dibidang sosial. Hal itu dilakukan dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan warganya. 

6. Makna lafad  الرَّحِيْمِۙ  dalam konteks kebangsaan adalah " bangunlah jiwanya " , yaitu peran pemerintah sebagai dinamisator bagi rakyatnya.  Yaitu dengan memprakarsai tumbuhnya budaya inovasi, mendukung setiap kegiatan riset dan pengembangan teknologi. Baik yang dilakukan oleh badan-badan pemerintah, swasta dan pihak perguruan tinggi. 

Hal itu  mutlak harus dilakukan dalam rangka menciptakan kemandirian ekonomi. Yaitu dengan memperkuat tatanan perekonomian yang berbasis industri, disamping sektor perdagangan dan jasa.

--------®---------

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)

7. Adapun Lafad مٰلِكِ  dalam konteks ini adalah peran pemerintah selaku otoritas penegak hukum yang berwibawa  dan sekaligus penegak disiplin warga negaranya.  Diharapkan berjalan efektif. Hal itu dilakukan dalam rangka menciptakan tertib sosial didalam masyarakat dan dalam rangka menjaga stabilitas nasional. 


C. Kewajiban Rakyat  [ Warga negara  ]  Terhadap Negara dan Pemerintahnya.


اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)

1. Dan adapun makna kalimat  اِيَّاكَ نَعْبُدُ dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kewajiban warga negara terhadap pemerintah dan negaranya,  yaitu agar mereka terbiasa dengan budaya kerja keras, dan rela mendedikasikan hidupnya demi tercapainya cita-cita dan tujuan bersama.  

2. Dan makna kalimat   وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ dalam konteks ini adalah tumbuhnya budaya inovasi dan kreatifitas dikalangan warga negara dalam rangka memajukan peradabannya.

--------®---------

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

3. Makna kalimat  اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ adalah kewajiban semua warga negara untuk memahami konstitusi, undang-undang dan berbagai peraturan yang disepakati itu  untuk kemudian dilaksanakan dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari mereka.  

--------®---------

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

4. Makna kalimat صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ adalah agar seluruh rakyat menyadari bahwa kekayaan sumberdaya yang dimiliki oleh negara merupakan milik bersama, dan  itu harus dikelola dan dimanfaatkan untuk kemakmuran bersama.  

5. Makna kalimat غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ adalah terciptanya rasa aman dan tertib sosial yang tinggi.

Semua warga negara hendaknya memiliki disiplin diri yang tinggi serta lebih mengutamakan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi  atau golongannya. 

6. Makna kalimat  وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  adalah semua warga negara hendaklah dapat menahan dirinya agar  tidak terjerumus pada pola hidup yang konsumtif dan atau prilaku hedonis yang akibatnya dapat  menjerumuskan bukan saja dirinya tetapi juga anak cucu yang akan lahir dibelakangnya [ akan mengalami kelangkaan sumberdaya ].

Semoga Tulisan ini dapat menambah wawasan cara kita memandang dan memahami Al Quran. 




Sabtu, 28 Januari 2023

Rumus Cerdas [ Futukh ] Ala Ibn Arabi

By. As-Syeikh Al-Akbar Muhyidin Ibn Al-'Arabi [ Kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah ] 

Tilawah Al-Qur'an Para 'Arif Muḥaqqiq Di Malam Hari 

Tak akan bisa mengenal-Ku dan tak akan mampu menilai dengan benar perkataan-Ku, "Malam adalah untuk-Ku" serta mengetahui mengapa Aku turun kepadamu di malam hari kecuali seorang _'Arif Muḥaqqiq_ . Ia yang ketika berjumpa dengan saudaranya yang mengatakan padanya, "Saudaraku, sebutlah diriku dalam khalwatmu bersama Rabbmu!" ia akan menjawab, "Kalau aku menyebutmu berarti aku sedang tidak berkhalwat dengan-Nya." Seorang _'Arif_ seperti inilah yang tahu seperti apa kadar penurunan-Ku di malam hari ke langit dunia, serta kenapa Aku turun dan siapa yang Kucari. " Akulah yang membacakan Kitab-Ku kepada orang itu melalui lisannya sendiri, sementara dia hanya mendengarkan. Inilah yang disebut "percakapan di malam hari dengan-Ku". Hamba itulah yang merasakan kelezatan dan kenikmatan Kalam-Ku [1]. Namun bila ia terpaku pada makna-maknanya, maka ia telah meninggalkan-Ku melalui pikiran dan perenungannya ".

Yang harus ia lakukan adalah " memusatkan perhatiannya kepada-Ku dan mengosongkan pendengarannya hanya untuk mendengar Kalam-Ku. Hingga pada saat tilawah itu, karena Aku yang membacakan dan memperdengarkan padanya, Akulah yang menjelaskan Kalam-Ku dan menerjemahkan maknanya kepada orang itu. Itulah yang dinamakan percakapan-Ku dengannya. Sehingga ia akan mengambil ilmu langsung dari-Ku, bukan dari pikiran dan pengertiannya sendiri ".

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ (١٦)

Jangan engkau gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. (Q.S. Al-Qiyamah ayat 16)

اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗۚ (١٧)

Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. (Q.S. Al-Qiyamah ayat 17)

فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗۚ (١٨)

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.  (Q.S. Al-Qiyamah ayat 18)

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗۗ (١٩)

Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.  (Q.S. Al-Qiyamah ayat 19)


Sang _Arif Muḥaqqiq_ itu tidak akan terlalu memperhatikan cerita tentang surga, neraka, hisab, hari kiamat, dunia maupun akhirat, karena ia tidak melihat itu semua dengan akalnya dan tidak menelaah ayat tersebut melalui pikirannya. Ia hanya akan mendengarkan dengan seksama apa yang Kukatakan padanya. Ia menjadi orang yang disaksikan dan menyaksikan ( _syahid_ ), hadir bersama-Ku dan Aku Sendiri yang bertanggungjawab atas pengajarannya. Lalu Kukatakan padanya, “Wahai hamba-Ku! Yang Kumaksud dengan ayat ini adalah ini dan itu,sedangkan untuk ayat yang lain adalah ini dan itu.”

Demikianlah yang terjadi hingga fajar menyingsing. Maka Sang _'Arif_ tersebut akan memperoleh banyak ilmu yang belum pernah ia miliki sebelumnya dengan penuh keyakinan, karena ia mendengar Al-Qur'ān dan penjelasan serta tafsir makna-maknanya, juga apa yang Kuinginkan dari Kalam, ayat serta surah tersebut langsung dari-Ku. Dengan itu, ia telah berlaku dengan adab yang baik bersama-Ku, karena ia telah mendengarkan dengan seksama dan memberikan perhatiannya.

Ketika Aku memintanya kembali untuk bercakap-cakap tentang hal-hal tersebut, maka ia akan menanggapi permintaan-Ku itu dengan kehadiran diri dan musyahadah. Ia akan menyampaikan kembali pada-Ku segala apa yang pernah Kusampaikan dan Kuajarkan padanya, dan apakah ia telah menerima sepenuhnya segala ilmu yang terkait dengan hal tersebut atau tidak. Jika tidak, maka kami akan menambahkan kepadanya apa yang kurang dari hal tersebut. Dengan ini, ia menjadi hanya untuk-Ku, bukan untuk dirinya sendiri atau untuk sesama makhluk.

Hamba yang seperti ini adalah sepenuhnya untuk-Ku dan milik-Ku, sementara malam menjadi penghubung antara Diri-Ku dan dirinya. Ketika fajar telah menyingsing, Aku bersemayam di atas _'Arsy-Ku_ untuk mengatur segala urusan dan memerinci ayat-ayat, sementara hamba-Ku ini akan berjalan menuju penghidupan dan mata pencahariannya serta berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya. Tetapi telah Kubukakan pintu yang menghubungkan antara Diri-Ku dan dirinya pada makhluk-Ku. Ia melihat-Ku dari makhluk dan Aku juga melihatnya dari makhluk, walau para makhluk itu tidak merasakannya. Aku berbicara pada hamba itu melalui lisan-lisan para makhluk meski mereka tidak mengetahuinya. Para makhluk itu mengira ia sedang berbicara dengan mereka, padahal ia tidak berbicara dengan siapa pun selain Diri-Ku. Mereka juga mengira bahwa ia sedang menyahuti ucapan mereka, padahal ia tidak menyahuti siapa pun kecuali Diri-Ku. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang pemilik sifat ini: 

" Wahai Dikau penghiburku kala makhluk terlelap di malam hari, dan teman berbincangku di tengah-tengah mereka di siang hari ".


Catatan Kaki : [1] Semua Rasa Nikmat dan Kelezatan yang diperoleh dan dirasakan oleh sebagian besar pembaca Al Qur'an itu,  terjadi akibat sentuhan-sentuhan magis yang bersumber dari kalimat al quran, dan efek megis dari sentuhan huruf-huruf [ yang sejatinya mengandung ruh ].  Daya magis yang berasal dari kumpulan ruh yang terhimpun di dalam sebuah kalimat dan huruf secara individual itu kemudian melanda selaput membran-membran tipis yang ada di seputar relung hati. Itulah sejatinya yang disebut mukjizat Al quran. 

Pengaruh efek magis dari sentuhan ayat ayat suci itu lambat- laun akan membuat hati kita menjadi lembut,  mata hati menjadi hidup, dan lama kelamaan permukaan mata hati kita pun akan menjadi bening dan rasa kita juga akan menjadi sangat tajam. 

Dalam kondisi itu maka hati seorang hamba pada hakikatnya telah menjadi sebuah lahan subur. Dan hati dalam keadaannya yang sudah seperti itu akan layak menerima tajalli Allah Swt. Menjadi kredibel untuk menjadi lokus curahan Ilmu- ilmu Ilham dan Ilmu-ilmu Laduni yang bersumber dari-Nya dan diajarkan secara langsung oleh-Nya.  

Untuk diketahui, di zaman kita ini [ zaman akhir : tahun 2000 ke atas ], semua pintu kerohanian [ pintu pintu langit ] telah dibuka lebar-lebar. Maka untuk mencapai hal itu sekarang peluangnya menjadi sangat besar, dan insya Allah menjadi jauh lebih mudah, dibanding masa- masa sebelumnya. Sebab zamannya memang sudah tiba. 

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian. Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya."   ( Hadis sahih - Muttafaq 'alaih ). Keterangan lebih lengkap mengenai mimpi seorang mukmin  [ ru'yan sadiqah ] klik artikel kami di url dibawah ini, 

https://matahatirasasejati.blogspot.com/2021/10/perjalanan-suluk-pengajaran-lewat-mimpi.html?m=1






Rabu, 05 Oktober 2022

Hakikat Makna " Liya'budun " Dalam Perspektif Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia

By Mang Anas


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (٥٦)

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.  (Q.S. Az-Zariyat ayat 56)


Semua bermula dari kisah Penciptaan Adam, lalu Allah SWT memberikan mandat  kepada Adam agar ia menjadi wakil-Nya di muka bumi, yaitu agar Adam menjalankan tugas Khalifahanya disana. Dan misi itulah yang kemudian ditataran Implementasi disebutnya sebagai Liya'budun, yang maknanya berarti adalah bahwa Adam dan semua anak keturunannya hendaklah selalu mengindahkan perintah Tuhan,  serta agar dapat melaksanakan seluruh tugas dan amanat yang diberikan kepadanya. Yakni hendaknya Adam dan anak keturunan mereka berupaya menciptakan tata kehidupan yang harmonis dan sinergis-kolaboratif antara sesama mereka,  dan hendaklah mereka dapat menyalaraskan dirinya dengan alam.  Itulah esensi perintahnya, dan esensi itulah yang sebenarnya dimaksudkan sebagai ibadah. Yakni ibadah dalam arti yang sebenarnya, atau ibadah dalam maknanya yang sejati. 

Dan adapun aktivitas shalat, puasa, dzikir, tadabbur al Qur'an dan menuntut ilmu sebagaimana yang diperintahkan oleh agama, hal itu hakikatnya hanyalah alat atau media bagi manusia agar ia dapat mengasah dirinya [ jiwanya ], dan bukan tujuan utama Allah SWT menciptakan makhluk yang bernama manusia.  Sebab sebagaimana telah disinggung dimuka bahwa tujuan utama Allah menciptakan manusia adalah agar mereka mewarisi bumi dan supaya dapat mendirikan kehidupan yang baik di atasnya. 

Lalu kenapa Allah SWT memerintahkan manusia agar setiap saat ia harus mengasah dirinya melalui shalat, puasa, dzikir, tadabbur al Qur'an dan menuntut ilmu ? 

Jawabnya tidak lain, yaitu agar sisi lembut, sisi baik dan daya sensitivitas kemanusiaan yang ada pada diri kita [ yaitu seluruh potensi ruh dan jiwa yang ada pada kita ] itu terus bisa terasah sepanjang waktu. Sehingga dengan demikian  mata hati kita menjadi hidup, sensor rasa kita menjadi tajam,  dan agar seluruh potensi keunggulan komparatif yang ada pada diri kita,  yaitu memori pengajaran " wa'alama adama asma kullaha " yang pernah Allah Swt ajarkan kepada nenek moyang kita [ yaitu Nabi Adam AS ]  itu bisa ter-ekspose dan bisa dimunculkan kepermukaan, dari yang sebelumnya terpendam, tidak teraba, bahkan tidak pernah disadari karena letaknya yang jauh dilubuk hati, dan karena ia tersamar dan tersembunyi dibawah lapisan alam bawah sadar kita sendiri. 

Itulah sesungguhnya hikmah dan manfaat yang tersembunyi dibalik perintah shalat, puasa, dzikir, tadabbur al-qur'an serta menuntut ilmu. Yakni, agar pada saatnya nanti manusia yang telah Allah ciptakan dan didesain dengan tangan-Nya sendiri itu dapat mencapai puncak kematangannya [ yaitu menjadi sosok insanul kamil ].

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ (١٠٥)

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr ( Arsip original kitab yang tersimpan di Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (Q.S. Al-Anbiya' ayat 105)

Dengan menjadikan dirinya sosok yang insanul kamil [ manusia yang matang ] itu maka Allah SWT berharap bahwa manusia yang diciptakan-Nya itu akan dapat memikul tanggung jawabnya dengan baik. Yaitu menjadi wakil-Nya yang paling representatif dimuka bumi. Disana diharapkan manusia bisa menciptakan harmoni, dan dapat menata  diatasnya tata kehidupan yang indah. Jadi Itulah makna yang sesungguhnya dari kata " Liya'budun" sebagaimana disinggung dalam QS. Az-Zariyat ayat 56 tersebut diatas.

Pertanyaan selanjutnya adalah, shalat, puasa, dzikir dan tadabbur Qur'an yang bagaimanakah yang dampaknya dapat melembutkan hati, membuat sensitivitas rasa kita menjadi tajam dan agar seluruh potensi Sirr [ kemampuan rahasia ] yang ada pada diri kita bisa semuanya terekspos dan dimunculkan ke permukaan ? 

Jawabnya adalah ke-tiga hal tersebut diatas akan dapat kita capai jika,

1. Dalam shalat dan dzikir jiwa kita merasa benar benar tergetar, dan jika dalam shalat dan dzikir itu hati kita dipenuhi rasa haru-biru [ isak tangis bahagia ] serta derai kerinduan yang meluap-luap kepada Allah SWT.  

2. Jika setiap kali kita membaca dan mentadabburi Al quran itu diri kita merasa seperti sedang berkaca. Yakni di kala tengah membaca dan mentadabburi Al Qur'an itu kita dapat merasakan suatu fenomena seakan-akan kita sedang mengukur dan membandingkan apa yang selama ini kita lakukan dengan apa yang Allah katakan dan kehendaki dari diri kita sesuai apa yang tertera dalam al Quran. Dengan begitu kita akan segera dapat menyadari apa saja kesalahan diri kita,  dan kita akan dibuat segera dapat menyadari apa-apa saja yang selama ini menjadi kelemahan atau kekurangan diri kita. 

Dalam kondisi itu, untuk orang yang hatinya telah benar benar lembut pasti dia akan berurai air mata. Ia akan  merasakan dirinya menjadi sangat hina-dina dan hidupnya selama ini ternyata dipenuhi oleh banyak kesalahan. Maka dalam keadaan itu dihadapan Allah SWT dirinya akan tersungkur, bersujud dan akan menangis sejadi-jadinya.

3. Jika laku puasa yang kita jalankan dilakukan dengan hati ikhsan. Yakni jika dalam keadaan puasa itu hati kita dipenuhi oleh perasaan sambung yang terus menerus kepada Allah SWT. Maka dalam keadaan itu  kita merasa seperti selalu melihat Allah dimanapun kita memandang atau seperti sedang dilihat Allah dimanapun kita berada. Maka dalam keadaan itu prilaku kita akan selalu terjaga dan kita akan terhindar dari perbuatan salah dan dosa.

4. Jika apa yang kita tonton atau ilmu yang banyak kita baca dan pelajari adalah berupa ilmu ilmu rohani yang dapat menuntun kita menjadi semakin dekat kepada Allah SWT. Dan bukannya tontonan atau ilmu-ilmu yang justru semakin mengajak kita untuk terikat lebih kuat terikat kepada dunia  [ semakin terjerumus dalam kehidupan materialistik].

Jika ke-empat hal itu dapat kita lakukan maka semua landasan untuk mencapai martabat Insan Kamil telah dapat kita penuhi. Untuk selanjutnya maka Allah lah yang akan memanggil diri kita untuk kemudian dimasukkan kehadirat-Nya. 

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

Artinya:

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."[ QS. Al-Fajr ayat 27–30 ]

Disana oleh Allah SWT kepada kita akan diperlihatkan segala kebesaran dan keagungan diri-Nya, diajarkan beberapa bagian dari rahasia ilmu-Nya serta di alam lahut itu sifat, akhlaq, cara pandang kita terhadap segala sesuatu akan dibentuk ulang [ dilahirkan kembali ], dan seluruh proses pembentukan ulang diri kita itu dilakukan oleh Allah SWT hanya dalam waktu satu malam [ Islah ]. Sehingga ke-esok harinya begitu kita bangun dari tidur kita benar benar telah menjadi sosok manusia yang lain, manusia baru [ sosok insanul kamil ].

Apa yang saya tulis ini bukanlah sekedar sebuah teori, tetapi betul betul beranjak dari peristiwa yang saya sendiri dan beberapa salik lain pernah alami.


Semoga artikel singkat ini bermanfaat.




Selasa, 06 September 2022

Iman dan Amal Salih : Pengertian dan Substansinya dalam Perspektif Ilmu Hakikat

By Mang Anas 


لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ (٤)

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, (Q.S. At-Tin ayat 4)

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ (٥)

kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, (Q.S. At-Tin ayat 5)

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ (٦)

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (Q.S. At-Tin ayat 6)


Pengertian Amanu dan Amala Saliha 

A. Yang dimaksud dengan " Amanu " [  الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ] sebagaimana yang disebutkan dalam Al-quran surat At-tin ayat 6 tersebut diatas adalah orang-orang yang dengan rela hati bersedia melakukan semua jenis amalan keimanannya. Dan adapun yang dimaksud dengan amalan keimanan disini adalah semua jenis amalan ibadah makhdoh  yang bentuk amalanya berupa pendekatan diri kepada Allah swt dan untuk tujuan membersihkan  hati atau mengasah diri. 

Yang tergolong dalam amalan jenis ini adalah shalat, dzikir, puasa, menuntut ilmu, membaca atau mentadabburi Al Quran serta amalan-amalan sebangsanya. Dan adapun beberapa manfaat  yang dapat diperoleh dari melakukan amalan - amalan ibadah tersebut diatas adalah,

1. Amalan jenis itu akan dapat melunakkan dan melembutkan hati manusia.

2. Dapat membersihkan semua kotoran yang bersarang didalam hati, yaitu karat-karat dosa yang pernah diperbuat manusia.

3. Dapat membuka semua lapisan-lapisan hijab, dalam hal ini adalah  hawa nafsu, dan utamanya adalah hijab nafsu bahimiyah [ nafsu jasad ] dan nafsu amarah [ nafsu yang bersumber dari jiwa ].

4. Dapat menjadikan hati manusia  menjadi bening bagai kaca, tajam melebihi mata pedang serta sensitif melebihi radar. Dalam kondisi itu  maka qolbu manusia akan menjadi lokus ilham. Karena ia akan bisa menangkap dengan mudah datangnya sinyal-sinyal kelangitan.  Mampu  menguraikan secara cermat, lugas dan jelas substansi isi dari petunjuk- petunjuk Ilham yang datang melintas didasar hatinya itu kepada orang lain. Kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apapun.

5. Manusia akan bisa mendapatkan kembali kesucian dan kemurnian hatinya, dalam hal ini diri sejati manusia akan dapat didudukan kembali pada martabat ruh [ martabat asal dari diri manusia  ]. Dan hati manusia  itu apabila sudah mampu duduk pada martabat ini [ ruh ] maka segala penyakit batinnya seperti dendam, hasad, iri, dengki, tamak dan serakah serta semua rasa kemelekatannya terhadap dunia akan hilang lenyap.

Itulah sejumlah manfaat yang bisa diraih dari beberapa amalan keimanan yang jenis-jenisnya sebagaimana diatas telah dijelaskan.


B. Dan adapun yang dimaksud sebagai " Amalan Saliha " sebagaimana yang tertera dalam ayat tersebut diatas  adalah semua jenis amalan atau ibadah yang dimensinya bersifat sosial atau yang bentuknya berupa ibadah muamalah seperti, mengeluarkan zakat, memberi makan kepada orang yang kelaparan, menjenguk orang yang sakit, menolong orang-orang yang sedang tertimpa musibah, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan amalan sebangsanya.  

c. Dengan demikian maka kedua hal sebagaimana yang tersebut diatas yaitu Amanu dan Amalu Saliha adalah jenis-jenis amalan yang wajib ditempuh oleh semua manusia yang menginginkan dirinya bisa kembali kepada kesucian dan kemurnian dirinya. Setelah sebelumnya manusia itu oleh Tuhan sengaja ditempatkan pada maqom atau kedudukan yang serendah- rendahnya atau  اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ  [ lihat QS. At-Tin ayat 5 ] sebagian ujian baginya.

d. Oleh karena itu orang-orang yang saat hidup didunia melulu disibukkan dengan amalan-amalan  ibadah makhdoh seperti shalat, dzikir, puasa, membaca quran, menuntut ilmu dan sebangsanya, dan dengan sengaja  mengabaikan ibadah sosial yang seharusnya menjadi kewajiban dirinya, maka dalam terminologi al Quran  [ lihat: QS. Al-A'raf ayat 46 - 49 ]  nanti diahirat orang-orang itu akan menjadi calon para penghuni 'Araf. 

Ciri utama dari calon penghuni 'Araf adalah mereka yang saat hidup didunia terlalu menyibukkan dirinya dengan amalan ibadah- ibadah makhdoh [ ibadah yang sifatnya ritual ] seperti shalat, dzikir, berpuasa, menuntut ilmu dan membaca alquran, tetapi melupakan kewajiban kemasyarakatannya. Yaitu pemenuhan hak - hak tetangga dan hak-hak  masyarakat yang ada disekitarnya. 

Perumpamaan mereka  itu adalah seperti  sebuah pohon yang meskipun dahan dan daun - daunnya rimbun tetapi tidak dapat menghasilkan buah sama sekali. Jadi manfaat pohon itu hanya sebatas sebagai peneduh, tidak memiliki manfaat lainnya. Maka sebagai manusia orang-orang ini nilai dan fungsinya dianggap tidak sempurna.

Dan begitu pula sebaliknya,  mereka yang hanya disibukkan dengan amalan-amalan kebajikan yang sifatnya sosial tetapi lupa mendasari amalannya itu dengan akar keimanan. Maka hakikat amalan mereka itu ibarat putik dari sebuah kembang yang jatuh berserakan dan lalu terbang kesana-kemari ditiup angin. Status amalan mereka seperti  sampah. Maka tidak akan dicatat dalam buku catatan amal, dan tidak akan mendapatkan stempel ketuhanan. 

Dengan demikian maka hakikat shalat, puasa, dzikir, baca quran dan menuntut ilmu [ semua jenis ibadah yang tujuannya untuk memperteguh dan menguatkan keimanan ] itu adalah ibarat pohon, sedangkan berbuat baik kepada manusia seperti mendermakan harta, waktu, tenaga, pikiran dan jiwa untuk kebajikan serta untuk  kemaslahatan orang banyak [ amala saliha ] itu adalah ibarat buah. Maka untuk kedua hal ini semua manusia haruslah dapat membangun dan mengerjakannya secara bersamaan dan dengan bersungguh-sungguh. Tipikal manusia yang seperti inilah yang sebenarnya sangat diharapkan, dan yang disebut sebagai khalifah [ manusia paripurna atau insanul kamil ]. Dan hanya manusia dari jenis inilah yang dalam terminologi al Quran surat At-Tin disebut akan dapat meraih kembali kehormatan dan kejayaan dirinya dan yang akan kembali " mendapatkan kedudukan yang sebaik - baiknya "  atau  فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ [ lihat QS. At-Tin ayat 4 ].


Sabtu, 23 Juli 2022

Tiga Jenis Golongan Manusia dan Perumpamaan Amalannya

By Mang Anas


Tiga perumpamaan amalan manusia dan Penjelasan maknanya 

1. Orang yang ketinggalan kereta 

Yakni orang yang datang ke stasiun kereta dengan membawa banyak sekali barang dan macam-macam perbekalan, tapi begitu orang tersebut sampai di stasiun, ternyata kereta terakhir itu baru saja berangkat. Orang yang ketinggalan kereta tersebut tampak sangat menyesal, sangat kecewa dan terlihat sangat menyalahkan dirinya sendiri.

Makna dari Perumpamaan : Ini adalah jenis manusia yang merasa dirinya telah banyak beramal dan berbuat banyak kebajikan. Tetapi ternyata dihadapan Tuhan semua amalannya itu tidak ada yang diterima. Hakikat dari amalannya itu seperti debu yang ditiup angin, alias sia-sia belaka. 

Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang munafik. Dan sebagian dari orang-orang yang mengaku dirinya beriman tetapi mereka sangat gila hormat, mabok pujian dan manakala beramal maka yang diharapkannya adalah sanjungan dari manusia [ pencitraan ]. Kebodohannya itu membuatnya tidak dapat menyadari bahwa hakikat dari apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kejahatan terhadap Tuhan, karena hakikat Riya adalah pembajakan dan perampokan terhadap hak-hak Tuhan.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًاۗ (١٠٣)

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Q.S. Al-Kahf ayat 103)

اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا (١٠٤)

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (Q.S. Al-Kahf ayat 104)

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَاۤىِٕهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًا (١٠٥)

Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (Q.S. Al-Kahf ayat 105)

ذٰلِكَ جَزَاۤؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوْا وَاتَّخَذُوْٓا اٰيٰتِيْ وَرُسُلِيْ هُزُوًا (١٠٦)

Demikianlah, balasan mereka itu neraka Jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok. (Q.S. Al-Kahf ayat 106)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ  كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ  فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًاۗ   لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْاۗ  وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ (٢٦٤)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. (Q.S. Al-Baqarah ayat 264)

2. Orang yang naik kereta tetapi tidak membawa bekal apapun juga 

Yakni orang yang naik kereta, tetapi selama dalam perjalanan orang tersebut tidak membawa bekal sama-sekali. Maka sepanjang perjalanan orang tersebut keadaannya sangat memprihatinkan. Ia terlihat sangat tersiksa setiap kali harus melihat teman seperjalanan yang ada dikanan - kirinya bisa makan minum dengan sepuasnya, dan bahkan dapat menikmati apa saja yang diinginkannya. Sementara dirinya sendiri ada dalam keadaan sangat haus dan lapar. Dan anehnya lagi dalam perjalanan tersebut setiap orang terlihat hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Disana tidak ada rasa simpati, orang-orang tidak saling peduli, dan hati mereka sama sekali tidak merasa tergerak untuk saling menolong. 

Makna dari Perumpamaan : Ini tipikal orang yang membatasi dirinya sudah merasa cukup dengan hanya menjadi orang baik-baik, tetapi ia sangat enggan berbagi kebaikan kepada orang lain. Ia memang tidak pernah mencuri barang milik orang lain , tidak menipu, tidak mengganggu,  dan apalagi menindas.  Tetapi ia memiliki watak sangat kikir, egois, tidak peduli dan sangat enggan berbagi. Maka ia hanya memiliki sangat sedikit amal kebaikan dan bahkan sama sekali tidak memiliki amal.

Dalam terminologi Qur'an kelompok ini digambarkan sebagai para penghuni " A'raf " seperti dalam firman-nya,

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌۚ وَعَلَى الْاَعْرَافِ رِجَالٌ يَّعْرِفُوْنَ كُلًّا ۢ بِسِيْمٰىهُمْۚ وَنَادَوْا اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْۗ  لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ (٤٦)

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A‘raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk). (QS. Al-A'raf ayat 46)

۞ وَاِذَا صُرِفَتْ اَبْصَارُهُمْ تِلْقَاۤءَ اَصْحٰبِ النَّارِۙ قَالُوْا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ (٤٧)

Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu.” (QS. Al-A'raf ayat 47)

وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْاَعْرَافِ رِجَالًا يَّعْرِفُوْنَهُمْ بِسِيْمٰىهُمْ قَالُوْا مَآ اَغْنٰى عَنْكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ (٤٨)

Dan orang-orang di atas A‘raf (tempat yang tertinggi) menyeru orang-orang yang mereka kenal dengan tanda-tandanya sambil berkata, “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang kamu sombongkan, (ternyata) tidak ada manfaatnya buat kamu. (QS. Al-A'raf ayat 48)

اَهٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللّٰهُ بِرَحْمَةٍۗ  اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ اَنْتُمْ تَحْزَنُوْنَ (٤٩)

Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah, bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?” (Allah berfirman), “Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati.” (QS. Al-A'raf ayat 49)

وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ النَّارِ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ اَفِيْضُوْا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاۤءِ اَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُۗ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكٰفِرِيْنَۙ (٥٠)

Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” Mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir,” (QS. Al-A'raf ayat 50)

الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَهْوًا وَّلَعِبًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۚ فَالْيَوْمَ نَنْسٰىهُمْ كَمَا نَسُوْا لِقَاۤءَ يَوْمِهِمْ هٰذَاۙ وَمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ (٥١)

(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al-A'raf ayat 51)

Saya memiliki keyakinan, bahwa kebanyakan dari kita dan orang - orang  yang mengaku dirinya beriman  yang hidup di zaman ini, adalah merupakan calon penghuni A'raf. Karena seperti  apa yang dapat kita lihat dan sama-sama saksikan, bahwa akhir-akhir ini kebanyakan dari kita, baik selaku individu, sebagai warga negara dan dalam kepasitasnya sebagai warga masyarakat, terlihat lebih sibuk menuntut hak dibanding melaksanakan kewajibannya.  Diri kita ini pada dasarnya rata - rata hanya pandai menuntut,  menilai, menonton dan hanya pandai berbicara. Sangat sedikit sekali yang benar-benar ingin  tandang, dan aktif berbagi kebaikan terhadap sesama. Lebih sedikit lagi adalah orang yang  rela mewakafkan hidupnya demi kepentingan kemanusiaan dan kemaslahatan bersama. Jauh dari apa yang digambarkan Allah swt,

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ (٢٠)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (Q.S. At-Taubah ayat 20)

3. Orang yang naik kereta dengan membawa bekal yang cukup 

Yakni orang yang naik kereta dengan membekal perbekalan yang cukup memadai. Maka sepanjang perjalanan orang tersebut terlihat bisa makan minum sepuasnya, dan bahkan dapat menikmati apa saja yang diinginkannya.

Makna dari Perumpamaan : Ini adalah jenis manusia yang selalu istiqomah dan sangat konsisten dalam beramal, dan ditambah lagi amalannya itu kebanyakan dilakukan dengan ikhlas, dan diniatkan semata karena Allah SWT. Ia adalah orang yang benar-benar baik dan memiliki watak sangat suka berbagi kebaikan terhadap sesamanya.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۙ (١٠٧)

Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal, (Q.S. Al-Kahf ayat 107)

اُولٰۤىِٕكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا ۙ (٧٥)

Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. (Q.S. Al-Furqan ayat 75)

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْۗ  لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ (١١٩)

Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 119)

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُۚ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَاۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَآ اَنْ هَدٰىنَا اللّٰهُۚ  لَقَدْ جَاۤءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّۗ وَنُوْدُوْٓا اَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (٤٣)

dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-A'raf ayat 43)

خٰلِدِيْنَ فِيْهَا لَا يَبْغُوْنَ عَنْهَا حِوَلًا (١٠٨)

mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana. (Q.S. Al-Kahf ayat 108)

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menambah kebaikan 


-------®-------

Keterangan :

Bekal adalah simbol hakikat dari amalan, dan kereta adalah simbol dari amalan yang bisa diangkut atau yang diterima dan yang tercatat didalam kitab di illiyin.




Sabtu, 25 Juni 2022

Kenapa Isa Al-Masih disebut Rohul Kudus

By Mang Anas 


اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ (٤٥)

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (fir-man) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (Q.S. Ali 'Imran ayat 45)

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ  قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ (٤٧)

Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Q.S. Ali 'Imran ayat 47)

Dalam disiplin ilmu genetika dan biologi molekular modern kita tentu mengenal apa yang disebut dengan istilah Genom, yang pada dasarnya merupakan gabungan dari gen dan kromosom, atau sebuah kumpulan gen.

Setiap organisme memiliki genom yang mengandung informasi biologis yang diperlukan untuk membangun tubuhnya dan mempertahankan hidupnya serta diwariskan ke generasi berikutnya. Kebanyakan genom, termasuk milik manusia dan makhluk hidup bersel lainnya, terbuat dari DNA [ asam deoksiribonukleat ]. 



Bagan : Silsilah Estafet Nur Kenabian Dari Adam, Ibrahim, Isa hingga Nabi Muhammad Saw.

DNA menjelaskan bagaimana manusia memiliki kekerabatan antara satu sama lain. Kekerabatan ini dapat ditelusuri melalui rantai DNA, yang menjadi komponen penting dari genom. Ada tiga marka yang dapat digunakan untuk melacak dan mengetahui asal usul  DNA dari seseorang. Ketiga marka itu adalah kromosom Y yang diturunkan dari ayah kepada anak laki-lakinya. Kedua, DNA mitokondria yang diturunkan dari ibu kepada seluruh anak-anaknya. Dan yang ketiga, adalah DNA autosomal yang mencerminkan pembauran genetik dari kedua orang tua.

Dari gambar silsilah nur kenabian tersebut diatas kita dapat menyimpulkan, bahwa sebagaimana asal usul dari sebuah Genom yang dapat ditelusur melalui jaring rantai DNA-nya, maka begitupun dengan Nur Kenabian, iapun akan dapat dilacak melalui silsilah dari garis keturunannya. Khususnya melalui jalur ayah atau jalur dari orang tua laki-lakinya.

A. Dari mana DNA Kenabian Isa Ibn Maryam [ Yesus ] itu berasal,

Sebagai mana diatas telah dijelaskan bahwa kromosom " Y " itu hanya dapat diturunkan dari pihak ayah kepada anak laki-laki-nya, maka begitu pula dengan nur kenabian, ia pun akan menitis melalui jalur ayah kepada anak laki-laki-nya. Sebagaimana nur kenabian Ibrahim kemudian menitis kepada putranya yaitu Ismail dan Ishak, lalu dari Yaqub kepada putranya yaitu Yusuf,  Dawud kepada Sulaiman serta dari Zakaria kepada putra tunggalnya yang diberi nama Yahya.

Tetapi hal yang demikian itu rupanya tidak berlaku pada kasus Al-Masih Isa Ibnu Maryam. Sebab " ia  ditahbiskan sebagai nabi tidak dari rantai DNA kenabian yang diturunkan dari jalur ayah,  tetapi DNA kenabiannya justru diproses secara khusus melalui tiupan roh dari-Nya didalam rahim ibunya ".

اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗۚ  اَلْقٰىهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ

Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya. (Q.S. An-Nisa' ayat 171)

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ  خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ (٥٩)

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!”  Maka jadilah sesuatu itu. (Q.S. Ali 'Imran ayat 59)



Bagan : Rantai Kenabian dalam Perspektif Makna Sirr Surat Al Fatiha 

Itulah sebabnya mengapa didalam Al-Quran kenabian Isa Al-Masih disebut dengan istilah " Rohul kudus ". Sebutan istimewa itu hanya disematkan kepadanya, dan tidak diperuntukan bagi nabi-nabi yang lainnya.

۞ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ (٢٥٣)

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohul kudus. (Q.S. Al-Baqarah ayat 253)

B. Isa Al-Masih Sebagai Sosok Yang Paling Banyak  Disalah Pahami.

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ قَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ (١١٦)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 116)

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْۚ  فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْۗ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ (١١٧)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Ma'idah ayat 117)

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَۚ وَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ (١١٨)

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 118)

Yang sangat menarik dan yang perlu digaris bawahi disini adalah permohonan Isa As sebagaimana yang tertera pada QS. Al-Ma'idah ayat 118 diatas, " Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana ”. 

Sikap Nabi Isa itu sungguh menarik, karena tersirat pada pernyataan permohonannya itu semacam pembelaan, bahkan terhadap para pengikutnya yang selama ini telah menyalapahami status dan kedudukan dirinya dihadapan Tuhan. Yakni mereka yang menyatakan bahwa " dirinya dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah ". Sikap Isa ini tentunya bukan tanpa alasan. Disini Isa seakan-akan hendak mengatakan, " karena dulu Engkau pernah memberiku banyak sekali mukjizat dan Engkau menyelubungiku dengan banyak rahasia, oleh karena itu aku mohon dengan sangat janganlah Engkau terlalu menyalahkan mereka jika ahirnya mereka sampai salah memahamiku, atau jika mereka sampai menganggap bahwa aku dan ibuku layak disandingkan dengan-Mu. Semua itu terjadi karena mereka memang tidak tahu hakikat dari yang ghaib, yaitu hakikat-Mu, hakikat Ibuku dan hakikat yang sebenarnya dari diriku. Oleh karena itu aku mohon sekali lagi, jika sekiranya ketidaktahuan mereka itu layak Kau ampuni, maka ampunilah mereka dan kasihanilah mereka, sebab sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu ".

C. Isa Al-Masih Sebagai Sosok Yang Paling Banyak Menuai Kontroversi

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَۘ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ  تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًاۚ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ وَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ (١١٠)

Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan " Rohul Kudus ". Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang yang menentangmu di antara para pemuka agama Yahudi itu berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 110)

Diantara sekian banyak nabi dan utusan Allah, Isa Al-Masih adalah nabi yang paling banyak menuai kontroversi, dan paling banyak disalah pahami.

Proses kelahirannya yang ajaib, mukjizat-nya yang membuat takjub, tutur katanya yang lembut, sikapnya yang bijaksana, dan ungkapan -ungkapan kalimatnya yang syarat dengan bahasa roh. Tak urung membuatnya selalu menjadi pusat perbincangan, memicu  kontroversi, dan mengundang sikap pro dan kontra dikalangan bangsa Yahudi dan umat-umat lain disekitarnya.

Para pemuka agama Yahudi yang pada waktu itu paling banyak dikritiknya dan yang sekaligus juga menjadi penentangnya yang paling keras, kerap menganggap bahwa mukjizat-mukjizat yang diperlihatkannya itu sebagai tidak bersumber dari Tuhan. Dalam pandangan mereka, itu hanyalah sihir semata [ lihat QS. Al-Ma'idah ayat 110 diatas ].

Ungkapan kata-kata Isa yang terkait dengan fenomena spiritual ketuhanan juga kerap dituding oleh para ahli Taurat sebagai berpotensi menyesatkan dan mengandung bid'ah. Mereka rupanya merasa kesulitan untuk dapat mencerna dan memahami ungkapan kata-kata  Isa yang syarat dengan bahasa roh itu, dengan akal dan pengetahuan mereka. Demikianlah situasi itu ahirnya tambah memanas dan sampai akhirnya berujung pada rencana makar penyaliban Isa As. 

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ  وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ (٥٤)

Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Ali 'Imran ayat 54 )

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ  ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ (٥٥)

(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan.” (Q.S. Ali 'Imran ayat 55)

Situasi serupa, dan seperti yang dialami oleh Isa juga ahirnya menimpa para guru-guru sufi yang hidup dizaman pertengahan islam. Abul Mugith Al-Husayn bin Mansur al-Hallaj [ 858 -922 M ], Fazlallah Astarabadi [ 1340–1394 ], Imadaddin Nasimi (1369 – 1417) dan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemahabang [ 1426 - 1517 ] adalah diantara deretan para sufi besar yang mengalami nasib serupa. Mereka semua dihukum mati hanya gara-gara ungkapan yang terucap dari mulut mereka yang sedang berada dalam keadaan fana itu terbawa keluar, dan kemudian disalah pahami orang. Sikap para pemuka agama Yahudi terhadap Isa dan perlakuan para ulama dohiriyah [ kaum fuqoha ] terhadap para sufi dan ahli-ahli rohani lainnya adalah sama dan serupa. Keduanya sama-sama telah bersikap melampaui batas. Karena mereka  berani menghakimi suatu perkara, yang mereka sendiri sebenarnya tidak pernah mengetahui hakikatnya.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ  ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (١١٢)

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (Q.S. Ali 'Imran ayat 112)

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (٧٨)

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas "  [QS. Al-Ma'idah ayat 78]



Bagan : Dohir dan Batin Surat Al Fatiha 


D. Nasib Tragis Yang Dialami Para Pemilik Ilmu Isawi.

Kelima Tokoh yang disebutkan diatas, yakni Isa Al-Masih, Al-Husyn bin Mansyur Al Hallaj, Fazlullah Astarabadi, An Nassimi dan Syekh Siti Jenar adalah tokoh-tokoh sufi yang oleh Allah SWT dianugerahi ilmu huruf atau ilmu Isawi. Dan empat diantaranya harus mengalami nasib tragis. Ibnu Arabi dan Isa Al-Masih adalah sebuah pengecualian karena Allah SWT memiliki kehendak khusus terhadapnya. Maka dia diselamatkan. 

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗٓ اٰيَةً وَّاٰوَيْنٰهُمَآ اِلٰى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّمَعِيْنٍ  (٥٠)

Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata bagi (kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di sebuah dataran tinggi, dengan mata air yang mengalir [ mungkin yang dimaksud adalah sebuah lembah didataran tinggi Kasmier, India_ lihat buku Yesus wafat di Kasmier, India ]. (Q.S. Al-Mu'minun ayat 50)

1. Ilmu Huruf adalah asal muasal dari pembentukan ilmu asma atau ilmu sabda dadi atau ilmu dawuh atau ucapan. Sebab asma, sabda, dawuh atau ucapan itu dibentuk dan disusun diatas rangkaian huruf-huruf.

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ  فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ  (٤٠)

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (Q.S. An-Naml ayat 40)

2. Ilmu Huruf juga disebut ilmu Isawi, atau ilmunya nabi Isa, sebab mukzijat-mukzijat nabi Isa itu pada dasarnya terbentuk diatas dasar keajaiban ilmu huruf. Ilmu huruf juga menjadi ilmunya Musa Samiri, dengan memakai ilmu itu dulu Musa Samiri pernah membuat anak lembu dari emas, dan anak lembu itu nampak seperti  hidup, dan bukan itu saja, ia pun bahkan bisa melenguh sebagaimana anak sapi pada umumnya. Saking takjubnya orang-orang bani Israèl terhadap anak lembu ciptaan Samiri itu, maka  mereka pun akhiirnya tergerak untuk menyembahnya.

قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ (٨٥)

Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (Q.S. Taha ayat 85)

Ilmu huruf juga nanti akan menjadi ilmunya Dajjal. Dengan mengandalkan kekuatan ilmu itu nanti di akhir zaman Dajjal akan berhadapan secara face to face  dengan Isa Al-Masih.


Gambar : Dajjal dan Isa Al-Masih Dua Kutub Kekuatan Yang Akan Saling Berhadapan Di Akhir Zaman

3. Hakikat dari nabi Isa dan Dajjal adalah ibarat dua mata coin. Yang satu sengaja Allah tempatkan dikutub positif dan yang satunya lagi Allah tempatkan dikutub negatif. Keduanya sama-sama desain dari Tuhan, dan kedua-duanya dianugerahi  dasar ilmu yang sama [ yaitu ilmu Huruf ] dan kekuatannya pun seimbang. Oleh karena itu moments pertemuan antar keduanya saat menjelang hari kiamat, akan menjadi pertarungan yang menentukan antara dua kutub kekuatan, yaitu kutub kebaikan dengan poros kejahatan. Pertemuan itu juga akan menjadi pertarungan pamungkas untuk menyelesaikan pertikaian  lama antara Adam dan Iblis.

قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا (٦٢)

Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku ? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 62)

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ (١٤)

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Q.S. Ali 'Imran ayat 14)

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ......  وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (٢٠)

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, ...... Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (Q.S. Al-Hadid ayat 20 )

4. Diatas ilmu huruf ada ilmu yang lebih tinggi lagi, yaitu ilmu titik. Itulah " ilmu-Kun " atau yang disebut ilmu penciptaan atau ilmu tentang asal dari segala penciptaan. Ilmu itu hanya menjadi ranah Tuhan, tidak ada satupun makhluk baik dibumi maupun yang dilangit yang diijinkan untuk menguasainya. 

Demikianlah, semoga paparan yang panjang- lebar ini bermanfaat.


Selasa, 21 Juni 2022

Membandingkan Hasil Dua Metode Penerjemahan QS. Ar-Rahman ayat 26 - 28

By Mang Anas


A. Terjemahan Harfiyah Versi Depag RI  


كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ (٢٦)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa,  (Q.S. Ar-Rahman ayat 26)

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ (٢٧)

tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.  (Q.S. Ar-Rahman ayat 27)

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ (٢٨)

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahman ayat 28)


◇ Menterjemahkan ayat ayat mutasyabihat dengan cara seperti itu [ pendekatan tafwidl ] tentu hasilnya akan terasa janggal dan menjadi sulit untuk bisa dipahami. Coba saja anda baca teks terjemahan ayat 26 dan 27 diatas lalu hubungkan terjemahan kedua ayat itu dengan terjemahan ayat penutupnya yaitu ayat 28, pengertian apakah yang bisa saudara tarik ? hasilnya pasti akan membuat saudara bingung. 

Apa imajinasi yang muncul didalam benak saudara kala kata فَانٍۖ  yang diartikan  " binasa " pada ayat 26 itu  saat dinisbatkan sebagai nikmat pada ayat 28.  Bukankah itu akan terasa janggal. 

Nah ...sekarang bacalah terjemahan versi yang kedua dibawah ini [ versi takwil atau makna isyari dari ayat ] dan bandingkan hasilnya.


B. Terjemahan Dengan Metode Takwil [ Makna Isyari dari ayat ] 


كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ (٢٦)

Setiap entitas [ yaitu Sirr, Nur dan Dzat Insan ] semua  akan lebur keharibaan-Nya. (Q.S. Ar-Rahman ayat 26)

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ (٢٧)

Dan setiap entitas yang dapat meleburkan dirinya [ fana ] kehadirat Tuhan-Nya, maka mereka akan dapat hidup kekal didalam kebesaran dan kemulian-Nya. (Q.S. Ar-Rahman ayat 27)

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ (٢٨)

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahman ayat 28)


◇ Dengan cara penerjemahan seperti itu bukankah anda akan lebih mudah memahaminya. Yakni bahwa kembali kepada Tuhan dalam kondisi " ridha dan diridhainya " itu adalah sebuah anugerah dan kenikmatan yang paling besar. Sebab Substansi dari ayat 26 dan 27 tersebut diatas sebenarnya sama persis dengan kalimat " Innalillahi wa innalillahi roji'un " Kita semua berasal dari-Nya dan nanti akan kembali kepada-Nya.


وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ (٤٥)

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Q.S. Al-Baqarah ayat 45)

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ (٤٦)

(yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Q.S. Al-Baqarah ayat 46)


Berdasarkan makna hakiki ayat tersebut diatas, maka  batas minimal pencapaian rohani manusia agar supaya dirinya dapat lebur [ fanin] atau dapat kembali dengan mulus  keharibaan Allah swt  adalah harus dapat mencapai martabat alam Sirr.  Yaitu alam rohani yang keberadaannya ada satu tingkat diatas alam Ruh. Dibawah ini adalah uraian singkat tujuh tingkatan alam rohani dimaksud  : 

1. Alam jasad [ dimurnikan dengan menyempurnakan  shalat subuh ]

2. Alam Akal atau alam imajinasi [ dimurnikan dengan menyempurnakan shalat Dzuhur  ]

3. Alam Jiwa atau alam Nafsu [ dimurnikan dengan menyempurnakan shalat Ashar  ] 

4. Alam Ruh [ diraih dengan menyempurnakan shalat Maghrib  ]

5. Alam Asma atau alam Sirr atau alam rahasia Tuhan [ diraih dengan menyempurnakan shalat Isya  ]

6. Alam Sifat atau alam Nur  [ diraih dengan melanggengkan shalat Tahajjud ]

7. Dan puncaknya adalah alam Dzat [ diraih dengan melanggengkan shalat Witir ]


Demikian semoga tulisan ini bermanfaat.




Jumat, 05 November 2021

Suasana Batin Surat Adh - Dhuhaa dan Al-Muzzammil

By. Mang Anas

Membaca kedua surat itu tangis saya tiba - tiba saja pecah. Saya seperti sedang merasakan sendiri kesedihan dan kepiluan yang tengah dialami oleh seorang muhammad muda itu. Dalam imajinasi saya Ia kedapatan sedang duduk murung, merasa asing dengan dirinya sendiri, sedih dan terkucil. Telah bertahun - tahun ia menyeru kaumnya supaya beriman dan menyambutnya tetapi kaum yang diserunya itu sangat sedikit sekali yang mau mendengar dan datang menyambut dakwahnya. Sebagian dari mereka bahkan tidak segan - segan untuk menghina,  memusuhinya dan melecehkannya. Mereka pun bahkan dengan tega mengancam dan mencoba menganiaya dirinya serta orang - orang yang telah mengikutinya. Tragisnya lagi bahkan sebagian dari mereka yang menghina dan yang memusuhinya itu adalah diantara kerabat dan paman - pamannya sendiri. Maka Muhammad muda itu pun merasa sedih, murung dan tak berdaya hingga hampir - hampir saja ia berputus asa.

Lalu tiba - tiba saja Tuhan  hadir dan datang menyapanya bagai sosok seorang Ayah. Sosok itu  memberinya suport dan berusaha menyemangati untuk membesarkan hatinya. Ia pun membimbing dan menasehatinya. Berjanji akan menolong dan melindunginya dengan sepenuh hati.


مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ 

" Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, " -  [ Adh-Dhuhaa 93:3 ]

وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ 

" dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. " -  [ Adh-Dhuhaa 93:4 ]

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ 

" Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas." - [ Adh-Dhuhaa 93:5 ]

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ 

" Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu), " - [ Adh-Dhuhaa 93:6 ]

وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدَىٰ 

" dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk, " -  [ Adh-Dhuhaa 93:7 ]

وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنَىٰ 

" dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. " - [ Adh-Dhuhaa 93:8 ] 

Kalam Tuhan ini sekalipun redaksinya dituturkan dengan sangat lembut dan indah tetapi suasana batinnya menyiratkan kesedihan dan suasana haru yang amat sangat.

Nuansa sedih dan haru itu terasa begitu menyihir dan lalu membetot sukma. Sampai - sampai perasaan saya dibuatnya hanyut lalu menangis sejadi - jadinya.


يٰٓأَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!" (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 1)

قُمِ الَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا

"Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil," ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 2)

نِّصْفَهُۥٓ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا

"(yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu," (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 3)

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا

"atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 4)

إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

"Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 5)

إِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan." ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 6)

إِنَّ لَكَ فِى النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا

"Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang." ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 7)

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

"Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati." ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 8)

رَّبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

"(Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung." ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 9)

وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

"Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik." ( QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 10)

ذَرْنِى وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا 

" Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya,"  - [ Al-Muddatstsir 74:11 ]

وَذَرْنِى وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا

"Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar." (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 11)