By. Mang Anas
“Membaca Ulang
Eskatologi Semitis dari Taurat, Injil, hingga Al-Qur’an”
“Sebuah Analisis
Teologis atas Perpindahan Mandat dari Bani Israil kepada Bani Ismail”
Kata Pengantar
Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang menghimpun manusia dalam satu asal,
satu ayah, dan satu amanah, namun menguji mereka dengan keragaman tafsir,
ingatan, dan perjalanan sejarah. Shalawat serta salam tercurah bagi para nabi
yang memikul risalah Salām, dari Adam hingga Muhammad, penutup seluruh
kenabian.
Buku
ini lahir dari kegelisahan panjang: mengapa bangsa-bangsa yang sama-sama
bersumber dari Ibrahim justru terpecah dalam klaim kebenaran, saling
menegasikan satu sama lain, bahkan memperebutkan kota yang dimuliakan oleh
ketiganya? Mengapa Yerusalem—yang seharusnya menjadi jantung tauhid—berubah
menjadi titik persilangan konflik teologis dan geopolitik paling panas dalam
sejarah manusia?
Penulis
membaca kembali kitab-kitab suci—Taurat, Injil, dan Al-Qur’an—sebagaimana
seorang anak mencari kembali pesan asli ayahnya yang hilang terselip dalam
lipatan waktu. Dalam perjalanan panjang itu, penulis menemukan benang merah
yang sangat konsisten: bahwa agama para nabi bukanlah Yahudi atau Kristen dalam
pengertian etnis dan sektarian, tetapi Salām—ketundukan universal kepada
Tuhan—yang diwariskan kepada seluruh keturunan Ibrahim tanpa kecuali.
Dari
perspektif itu, banyak hal yang tampak kabur menjadi terang. Nubuat Musa
tentang “saudara mereka” menemukan konteksnya. Isyarat Yesaya tentang “kitab
termatrai” menemukan momennya. Tamsil Yesus tentang kebun anggur menemukan
realisasinya. Dan gelombang sejarah—termasuk pembebasan Yerusalem oleh Umar bin
Khattab—mendadak tersusun dalam satu struktur logika teologis yang kokoh.
Buku
ini tidak lahir sebagai pembelaan sektarian, namun sebagai upaya merekonstruksi
kembali mandat Ibrahim yang telah lama terpecah dalam tiga tradisi besar
Abrahamik. Mandat itu tidak pernah dimiliki secara eksklusif oleh satu etnis,
tetapi oleh siapa pun yang memegang teguh tauhid dan amanah ilahi.
Dalam
konteks eskatologi, Al-Aqsha tidak hanya sekadar situs geografis, tetapi simbol
kebenaran terakhir yang akan mempertemukan kembali kedua putera Ibrahim—Ismail
dan Ishaq—entah dalam kedamaian atau dalam pengadilan sejarah.
Penulis
menyadari bahwa tema yang diangkat dalam buku ini sensitif, bahkan provokatif.
Namun tanpa keberanian menelusuri akar konflik keyakinan, kita hanya akan terus
mewarisi kesalahpahaman masa lalu. Harapan penulis, karya ini dapat membuka
ruang dialog baru antara umat Islam, Kristen, dan Yahudi—dialog yang berbasis
nubuatan, sejarah, dan kesadaran bahwa mereka sebenarnya saudara satu sumber.
Semoga
buku ini menjadi pemantik pemahaman baru, penjernihan makna, dan jalan untuk
kembali kepada agama para nabi: Salām.
Wallāhu
waliyyut-taufīq.
Mukadimah
Sejarah
umat manusia adalah sejarah pencarian akan makna. Setiap bangsa, setiap
generasi, dan setiap agama berusaha memahami dari mana mereka datang, kepada
siapa mereka harus kembali, dan amanah apa yang sebenarnya mereka pikul di muka
bumi. Namun tidak semua bangsa diberi kehormatan untuk berdiri di persimpangan
sejarah besar seperti keturunan Ibrahim—Ismail dan Ishaq—dua garis keturunan
yang mewarisi janji, nubuatan, dan amanah ilahi.
Dalam
perjalanan ribuan tahun, kedua garis ini tidak hanya mewarisi darah yang sama,
tetapi juga memikul harapan besar yang sama: menjaga tauhid. Namun sejarah
membuktikan bahwa ingatan manusia rapuh. Ia mudah dikaburkan oleh nasionalisme,
etnosentrisme, rivalitas kekuasaan, dan kepentingan politik. Risalah para nabi
pun sering tereduksi menjadi identitas kelompok, sementara makna aslinya—yang
bersifat universal—terlupakan dalam keramaian narasi yang saling meniadakan.
Buku
ini lahir dari keprihatinan terhadap kaburnya pemahaman tentang hakikat agama
para nabi. Dari Taurat hingga Injil, dari Injil hingga Al-Qur’an, pesan itu
tidak pernah berubah: agama Tuhan adalah Salām—penyerahan diri
sepenuhnya kepada-Nya, tanpa warna suku dan tanpa klaim eksklusif etnis apa
pun. Namun perjalanan panjang sejarah kemudian melahirkan dua identitas besar:
Yahudi dan Kristen, yang sering kali meleset dari maksud awal risalah kenabian.
Kekeliruan
epistemik itu membawa konsekuensi serius: tafsir yang salah terhadap mandat
ilahi. Ketika agama berubah menjadi etnis dan wahyu berubah menjadi klaim
kedaulatan, maka konflik tidak terelakkan. Yerusalem menjadi panggung utama
dari pertikaian ini—sebuah kota yang disucikan oleh wahyu, tetapi dijadikan
rebutan bagi memori-memori yang saling bersilang.
Dalam
kajian mendalam ini, penulis menelusuri kembali akar mandat Ibrahim sebagaimana
tercatat dalam kitab-kitab suci. Penulis menunjukkan bagaimana perjanjian, hak
waris, dan perpindahan mandat tidak didasarkan pada garis etnis, melainkan pada
keteguhan tauhid. Penulis juga menelusuri bagaimana nubuatan Musa, tamsil
Yesus, dan wahyu Al-Qur’an saling menjelaskan dalam struktur teologis yang
sangat koheren.
Kajian
ini tidak dimaksudkan sebagai polemik, tetapi sebagai upaya mengembalikan
pembahasan ke jalur wahyu dan akal sehat. Sebab, jika pertikaian antara Ismail
dan Ishaq terus dibaca sebagai pertikaian politik semata, dunia tidak akan
pernah keluar dari lingkaran konflik yang sama. Namun jika dilihat melalui
lensa nubuatan dan mandat, maka sejarah tampak sebagai sebuah drama ilahi yang
berjalan sangat rapi menuju kesimpulan eskatologisnya.
Buku ini diawali dengan pertanyaan: Siapakah
sebenarnya pewaris mandat Ibrahim?
Namun ia berakhir dengan jawaban yang lebih besar:
Bahwa agama para nabi adalah satu, dan bahwa seluruh anak-anak Ibrahim
dipanggil untuk kembali kepada agama itu—Salām—sebelum sejarah mencapai
puncaknya.
Pengantar Penerbit
Penerbit
merasa terhormat mempersembahkan sebuah karya yang langka dalam dunia kajian
Abrahamik kontemporer. Buku “Pertikaian Dua Pewaris, Al-Aqsha dan
Yerusalem: Mandat Ibrahim di Akhir Zaman” hadir pada saat dunia
membutuhkan perspektif baru—perspektif yang tidak hanya historis, tetapi juga
teologis, hermeneutis, dan visioner.
Perdebatan
mengenai hak pewarisan tanah suci, identitas bangsa pilihan, serta legitimasi
spiritual atas Yerusalem telah berlangsung selama ribuan tahun. Namun diskursus
publik modern, baik akademik maupun keagamaan, sering kali berdiri di atas
narasi parsial yang terpisah dari konteks nubuatan asli dalam kitab-kitab suci.
Banyak karya meninjau konflik Timur Tengah dari aspek politik, geopolitik, atau
ekonomi, tetapi sangat sedikit yang membedah akar masalahnya dari sumber primer
wahyu—Taurat, Injil, dan Al-Qur’an—secara seimbang, mendalam, dan menyatu.
Karya
ini mengisi kekosongan tersebut.
Dengan
pendekatan lintas kitab suci, penulis berhasil menghubungkan garis nubuatan
yang selama ini terabaikan, mulai dari Ulangan 18:18 hingga tamsil Yesus
tentang “kebun anggur”, hingga kesaksian Al-Qur’an mengenai perpindahan mandat
risalah. Penulis juga memperlihatkan integrasi ketiga tradisi besar—Yahudi,
Kristen, dan Islam—dalam satu alur kesatuan sejarah yang menakjubkan.
Lebih
dari itu, buku ini menunjukkan bahwa esensi agama para nabi adalah Salām,
dan bahwa hilangnya kesadaran terhadap esensi ini menjadi sebab utama
pertikaian antara dua pewaris Ibrahim. Dari titik itulah penulis mengurai
bagaimana mandat spiritual bergeser, bagaimana bangsa Ismail mengambil posisi
kunci dalam sejarah akhir zaman, serta bagaimana pembebasan Yerusalem oleh Umar
bin Khattab menjadi penanda besar dalam teologi Semitis.
Sebagai
penerbit, kami meyakini bahwa buku ini bukan sekadar kajian teks, tetapi juga
undangan untuk membaca sejarah dengan mata yang tercerahkan. Ia menantang
pembaca untuk keluar dari sekat identitas sempit dan kembali kepada logika
covenant yang universal, sebagaimana dimaksudkan oleh para nabi.
Kami
berharap karya ini dapat memberikan kontribusi berarti bagi para akademisi,
teolog, pengkaji studi agama, dan siapa pun yang ingin memahami pangkal konflik
Arab–Israel secara lebih jernih, adil, dan orisinil. Semoga buku ini menjadi
pintu dialog baru antara berbagai tradisi Ibrahim yang hari ini terpecah oleh
prasangka dan misinterpretasi sejarah yang panjang.
Selamat membaca dan merenungkan.
— Penerbit
Penilaian Akademik Mendalam atas Karya Pertikaian Dua Pewaris, Al-Aqsha dan
Yerusalem: Mandat Ibrahim di Akhir Zaman
Oleh Prof. Idang Damanhuri,
Ph.D
Guru Besar Sejarah Agama-Agama dan Filologi Kitab Suci Semitis
Karya ini menempati posisi istimewa
dalam kajian teologi Abrahamik modern karena keberhasilannya merekonstruksi
ulang narasi “mandat Ibrahim” melalui metodologi hermeneutis yang bersifat
intertekstual, lintas bid’ah konfesional, dan berpijak pada kajian sejarah yang
seksama. Penulis tidak berhenti pada elaborasi teologis internal suatu agama,
tetapi mengembangkan suatu sintesis komparatif antara Taurat, Injil, dan
Al-Qur’an yang jarang ditemukan dalam literatur kontemporer—bahkan dalam
disiplin akademik yang mapan sekalipun, seperti Biblical Studies, Qur’anic
Studies, dan Comparative Semitology.
Berikut adalah evaluasi akademik
atas kontribusi konseptual dan metodologis buku ini.
1.
Konstruksi Hermeneutika Abrahamik yang Koheren dan Trans-Konfesional
Keunggulan paling mencolok dari
karya ini adalah kemampuan penulis menyusun grand hermeneutical narrative
yang menyatukan tiga tradisi kitab suci dengan ketelitian filologis yang
memadai. Penulis:
- memanfaatkan analisis leksikal terhadap konsep
“saudara” (’āḥ/akh) dalam Ulangan 18:18,
- menghubungkan tamsil Yesus dalam Injil Sinoptik dengan
isu peralihan mandat keagamaan,
- lalu menautkannya dengan ayat-ayat Qur’an yang
mengafirmasi pola historis penolakan Bani Israil terhadap rasul yang tidak
berasal dari garis etnis mereka.
Keterpaduan hermeneutis ini
menunjukkan kompetensi penulis dalam membaca teks-teks Semitik dengan
sensitivitas terhadap konteks linguistik, historis, dan teologisnya.
Pendekatan seperti ini jarang
ditemui bahkan dalam karya akademik tingkat tinggi karena memerlukan keahlian
simultan dalam ketiga korpus wahyu Semitis.
2.
Teori Peralihan Mandat (Transfer of Covenant) sebagai Kerangka Baru Kajian
Abrahamik
Kontribusi teoretis paling signifikan
dari buku ini adalah pengembangan konsep peralihan mandat Ibrahim
(transfer of covenant trusteeship) sebagai kategori analitik yang dapat
dijadikan kerangka untuk membaca sejarah agama-agama Semitis. Penulis
berargumen bahwa:
- mandat tidak bersifat rasial atau etno-kultural,
- tetapi bergantung pada kesetiaan moral terhadap tauhid,
- sehingga suatu komunitas dapat kehilangan atau
mempertahankan mandat berdasarkan kontinuitas spiritual, bukan garis
keturunan biologis.
Dengan demikian penulis mengoreksi apa
yang dalam studi modern disebut ethno-theological essentialism—yakni
keyakinan bahwa mandat ilahi melekat secara permanen pada satu etnis tertentu.
Ini adalah kontribusi konseptual
yang sangat penting, dan sejauh pengamatan saya, belum diejawantahkan secara
sistematis dalam karya lain.
3.
Pembebasan Yerusalem oleh Umar sebagai Data Teologis-Eskatologis, Bukan Sekadar
Sejarah Politik
Salah satu wacana paling orisinal
dalam buku ini adalah reinterpretasi peristiwa pembebasan Yerusalem oleh
Khalifah Umar bin Khattab dalam kerangka eskatologi Semitis.
Umumnya peristiwa ini dianalisis
melalui:
- lensa sejarah militer,
- diplomasi pra-modern, atau
- diskursus Islam klasik.
Namun penulis menunjukkan bahwa:
- pembebasan tersebut merupakan konkretisasi nubuatan
yang lebih luas,
- yang telah disinyalkan oleh Musa (dalam Ulangan 18),
- dipadatkan oleh Yesus melalui parabola kebun anggur,
- dan dikonfirmasi oleh Al-Qur’an sebagai pola sejarah
yang konsisten:
apabila suatu komunitas menolak mandat moral, amanah itu berpindah
kepada saudara mereka yang lain.
Ini merupakan reinterpretasi yang
mampu menggeser paradigma akademik standar.
4.
Konsep “Agama Salām” sebagai Prastruktur Teologi Abrahamik
Penulis mengartikulasikan suatu
gagasan yang patut dicatat: bahwa agama para nabi sebelum segmentasi
Yahudi–Kristen adalah suatu tradisi tauhid primordial yang ia sebut Agama
Salām.
Argumen ini ditopang oleh:
- analisis etimologi “Islam” dan “Salām” dalam korpus
Arab-Klasik,
- kajian historis mengenai transformasi identitas
“Yehudi” pasca-pembuangan Babilonia,
- serta distorsi teologi yang muncul ketika “Kristiani”
berkembang menjadi agama dengan metafisika tersendiri yang terpisah dari
risalah Yesus yang asli.
Dalam konteks studi sejarah
agama-agama, klaim ini termasuk perspektif yang berani sekaligus berdasar.
5.
Analisis tentang Krisis Identitas Spiritual Bani Israil: Sebuah Kajian
Intertekstual Tajam
Penulis mampu menunjukkan bahwa
penyimpangan moral yang dicatat baik oleh Taurat maupun oleh Injil—seperti
penyembahan berhala, pembunuhan nabi, dan manipulasi syariat—berkaitan langsung
dengan terputusnya legitimasi spiritual dan politik mereka.
Analisis ini koheren dengan:
- kritik para nabi pasca-Pembuangan (Deutero-Isaiah,
Jeremiah),
- konsensus historis mengenai keruntuhan moral Second
Temple Judaism,
- serta narasi Qur’ani mengenai penolakan Bani Israil
terhadap “rasul yang tidak berasal dari mereka.”
Konsistensi intertekstual seperti
ini biasanya hanya ditemukan dalam monograf akademik yang sangat khusus.
6.
Keterhubungan Eskatologi Semitis melalui Titik Tunggal: Al-Aqsha
Buku ini menghadirkan argumen bahwa
Al-Aqsha bukan sekadar objek perebutan politik, tetapi “titik simpul
eskatologis” tempat seluruh tradisi Abrahamik bertemu dalam satu garis
dramatik.
Penulis menunjukkan bahwa:
- bagi Yahudi: Al-Aqsha adalah locus Bayt HaMikdash,
- bagi Kristen: wilayah ini adalah tanah nubuatan Matius
21,
- bagi Islam: Al-Aqsha adalah pusat Mi’raj dan amanah
akhir zaman.
Penyatuan ketiganya dalam satu alur
naratif eskatologis adalah capaian intelektual yang tidak biasa.
Kesimpulan
Akademis
Dari sudut pandang sejarah
agama-agama dan riset kitab suci, buku ini menawarkan:
- Model hermeneutika komparatif baru,
- Kerangka teologis yang memperbarui studi Abrahamik,
- Analisis mendalam tentang dinamika mandat keagamaan,
- Reinterpretasi historis Yerusalem yang belum pernah
dirumuskan secara sistematik,
- Sintesis teologis-eskatologis yang berpotensi mengubah
arah wacana akademik.
Dengan demikian, saya menilai bahwa
buku ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan dapat dijadikan bahan rujukan
dalam perkuliahan tingkat lanjut mengenai:
- Comparative Scripture Studies,
- Theology of Covenant,
- Abrahamic Eschatology,
- Political Theology of the Holy Land,
- serta kajian hubungan Yahudi–Kristen–Islam.
Karya ini bukan hanya memberikan
pembacaan ulang sejarah, tetapi menawarkan paradigma baru untuk memahami
identitas spiritual umat Ibrahim di akhir zaman.
10 Nilai Baru yang Ditawarkan Buku Ini
1.
Pengembalian Konflik ke Akar Teologis Ibrahimik (Bukan Politik Modern)
Sebagian besar literatur hanya
membahas konflik Israel–Palestina sebagai isu kolonialisme modern.
Buku ini justru mengembalikan persoalan ke:
- struktur keluarga Ibrahim,
- mandat spiritual yang diwariskan,
- pergeseran otoritas nubuatan,
- dan jejak sejarah yang membentuk dua memori kolektif.
Ini baru dan jarang disentuh
karena membutuhkan kompetensi gabungan antara tafsir, sejarah Timur Dekat kuno,
dan studi kitab suci komparatif.
2.
Membaca Kembali Yerusalem sebagai "Mandat" — Bukan Sekadar Lokasi
Suci
Literatur umum melihat Yerusalem
sebagai kota penting untuk tiga agama.
Buku ini memperlakukan Yerusalem sebagai:
- mandat
- titipan
- tanggung jawab pewarisan
yang diikat oleh syarat moral
(shalat, tauhid, keadilan).
Pendekatan ini memindahkan diskusi dari siapa yang kuat ke siapa yang
memenuhi syarat spiritual.
Ini perspektif baru yang sangat
kuat.
3.
Wacana “Dua Saudara” yang Bertemu di Akhir Zaman
Buku ini menyatukan narasi
Ishaq–Ismail tidak sebagai kompetitor, tetapi:
- dua pewaris Ibrahim
- yang bercabang lalu bertemu kembali
- di titik sejarah bernama Yerusalem.
Tidak ada buku modern yang
menguraikan konflik geopolitik sebagai drama keluarga besar Ibrahim—dengan
kerangka eskatologi.
Ini wacana original.
4.
Konsep Mandate Transfer: Perpindahan Otoritas Spiritual
Buku ini menunjukkan secara historis
dan teologis bahwa:
- otoritas menjaga tempat suci
- otoritas menegakkan tauhid
- otoritas moral untuk memimpin umat manusia
telah berpindah dari Bani Israil
kepada keturunan Ismail.
Dengan indikator empiris:
- Kejatuhan Yerusalem berulang kali
- Hilangnya otoritas politik dan imamiyah
- Pembebasan oleh Umar yang justru memulihkan hak Yahudi
Pendekatan “teologi transisi mandat”
ini hampir tidak ditemukan dalam literatur konvensional.
5.
Kritik Epistemik terhadap Zionisme dari Perspektif Abrahamik Asli
Buku ini tidak mengkritik Zionisme
hanya sebagai kolonialisme, tetapi sebagai:
- kesalahan tafsir atas Taurat,
- pelanggaran terhadap etika para nabi,
- pemutusan hubungan antara etnis dan ketaatan,
- pemberontakan terhadap mandat Ibrahim.
Ini memberikan landasan teologis
yang lebih kuat dibanding kritik politik biasa.
6.
Penjelasan Mengapa Islam Lebih Berhak atas Al-Aqsha
Tetapi bukan dalam bentuk klaim
emosional.
Melainkan melalui:
- logika perjanjian (covenantal logic)
- pemenuhan syarat moral
- kontinuitas risalah
- catatan sejarah pembebasan yang paling damai dalam 2000
tahun terakhir.
Argumen ini sangat jarang dirangkai
dalam bentuk sistematik.
7.
Integrasi Eskatologi Yahudi–Kristen–Islam dalam Satu Kerangka
Ini salah satu hal paling inovatif.
Buku ini meletakkan:
- nubuat Musa,
- nubuat Yesaya, Yeremia, Daniel,
- nubuat Yesus,
- narasi kenabian Islam
dalam satu garis besar cerita
yang sama.
Tidak ada buku Indonesia yang
menyajikan synthesis Abrahamic prophetic timeline sekomprehensif ini.
8.
Menunjukkan Bahwa Krisis Al-Aqsha adalah Simptom dari Krisis Makna Agama
Buku ini berhasil menunjukkan bahwa:
- konflik bukan soal tanah
- tetapi soal kehilangan makna wahyu
- terdistorsi oleh nasionalisme, etnisitas, dan
sekularisme.
Ini pendekatan yang mengembalikan
agama ke pusat analisis.
9.
Memperkenalkan “Agama Salam” — Abrahimic Peace Theology
Buku ini menawarkan reinterpretasi:
- Islam bukan sekadar agama terakhir,
- tetapi sebagai penyembuh konflik Abrahamik,
- dengan solusi teologis, etis, dan historis.
Kita jarang melihat Islam dijelaskan
sebagai agama penyatu, bukan pesaing.
10.
Gaya Penulisan: Kombinasi Akademik, Historis, dan Spiritualitas
Sangat sedikit karya yang:
- akademis, tetapi tetap bisa dibaca publik,
- kritis, tetapi tidak polemis,
- teologis, tetapi tidak dogmatis,
- historis, tetapi tidak kering.
Buku ini memiliki kualitas hibrid
yang membuatnya unik.
Kesimpulan: Apa Nilai Besar Buku Ini?
Buku ini memberi pembaca:
- cara baru membaca sejarah
- cara baru membaca kitab suci
- cara baru memahami konflik Israel–Palestina
- cara baru memahami Ibrahim sebagai figur trans-abadi
- cara baru menempatkan Islam dalam peta besar kosmologi
kenabian.
Singkatnya:
Buku ini memperkenalkan paradigma
baru dalam memahami pertikaian dua pewaris Ibrahim—sebuah perspektif yang belum
pernah ditawarkan sebelumnya.
___________________________________________________________
BAGIAN I — PENGANTAR TEOLOGIS
BAB
1 — AGAMA PARA NABI SEBAGAI AGAMA “SALĀM”
(Taurat, Injil, dan Al-Qur’an
Bersaksi Bahwa Agama Para Nabi BUKAN Yahudi, BUKAN Kristen, Melainkan “Salām”)
1. Pendahuluan : Melacak Nama Agama Para Nabi
Pertanyaan paling mendasar dalam
teologi Abrahamik adalah:
Apa sebenarnya agama para nabi sebelum munculnya label “Yahudi” dan
“Kristen”?
Apakah Musa menyebut agamanya Yahudi?
Apakah Isa menyebut agamanya Kristen?
Apakah Ibrahim menyebut dirinya penganut salah satu dari dua itu?
Jawabannya—menurut Taurat, Injil,
dan Al-Qur’an—TIDAK.
Ketiga kitab sepakat bahwa agama
asli para nabi adalah:
- agama penyerahan diri total,
- agama perdamaian,
- agama Tauhid Murni,
- agama kesetiaan mutlak pada kehendak Tuhan.
Nama yang paling tepat dan paling
tua bagi agama ini adalah
agama “Salām”, agama submit, surrender, peace, wholeness.
2. Kesaksian Taurat: Ibrahim, Musa, dan Para Nabi
Tidak Pernah Disebut Yahudi
a.
Ibrahim bukan Yahudi
Taurat memberi kesaksian paling
jelas:
Ibrahim hidup ratusan tahun sebelum kelahiran Yehuda, anak Yakub yang
kelak menjadi eponim “Yehudi”.
Artinya:
- tidak mungkin Ibrahim disebut Yahudi,
- tidak mungkin agama Ibrahim disebut Yahudi,
- istilah itu bahkan belum ada secara historis.
Ibrahim hanya disebut sebagai:
- orang yang berjalan di hadapan Tuhan,
- orang yang mematuhi perjanjian,
- orang yang menyerahkan diri (submit) sepenuhnya.
b.
Musa tidak pernah menyebut agamanya Yahudi
Di seluruh Taurat:
- Musa tidak pernah berkata, “Inilah agama Yahudi.”
- Musa tidak pernah memerintahkan, “Jadilah Yahudi.”
Ia hanya memerintahkan:
“Dengarlah hai Israel, Tuhan itu
Esa.”
— Ulangan 6:4
Ajaran Musa adalah tauhid dan
ketaatan pada wahyu, bukan etnisitas.
c.
Para nabi Israel dihukum karena membuat agama menjadi etnis
Kitab para nabi berulang kali
mengecam:
- fanatisme suku,
- menyangka Tuhan milik bangsa tertentu,
- menjadikan hukum suci sebagai identitas rasial,
- dan mengklaim diri sebagai “umat pilihan” secara etnis.
Nabi-nabi seperti Yesaya, Yeremia,
dan Mikha menyatakan bahwa Tuhan menolak agama yang digerakkan oleh
etnosentrisme, karena agama adalah jalan kebenaran, bukan kartu
identitas suku.
3. Kesaksian Injil: Yesus Tidak Membawa Agama Kristen
a.
Yesus tidak pernah menyebut agama yang ia ajarkan “Kristen”
Injil tidak mencatat satu pun ayat
di mana Yesus berkata:
- “Agamaku Kristen.”
- “Pengikutku harus disebut Kristen.”
Nama Kristen baru muncul di
Antiokhia puluhan tahun setelah kenaikan Yesus, bukan dari ajaran Isa
sendiri.
b.
Yesus mengajarkan agama penyerahan diri total
Yesus mengajarkan:
“Bukan kehendakku, tetapi
kehendak-Mu yang jadi.”
— Lukas 22:42
Inilah definisi submit, islam,
salām.
Yesus membangun:
- tauhid murni
- ketaatan kepada kehendak Allah
- hukum cinta kasih
- penyucian hati
- kesalehan batin
- bukan agama baru.
c.
Yesus menghidupkan kembali agama Ibrahim
Berkali-kali Yesus berkata:
“Jika kamu anak-anak Ibrahim,
lakukanlah pekerjaan yang dilakukan oleh Ibrahim.”
— Yoh 8:39
Ini berarti:
- agama Yesus bersambung pada Ibrahim,
- bukan agama etnis Yahudi,
- bukan pula sistem baru yang kelak disebut Kristen.
Yesus datang sebagai mujaddid—pembaharu
tauhid Ibrahim—bukan pendiri agama baru.
4. Kesaksian Al-Qur’an: Agama Para Nabi Adalah “Islam”
— Salām, Penyerahan Total
Dalam Al-Qur’an, istilah Islam
tidak pernah dimulai dari Nabi Muhammad.
Ia adalah nama agama primordial dari Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa.
a.
Ibrahim: “Aku berserah diri (aslamtu) kepada Tuhan semesta alam.”
Al-Qur’an menyatakan:
“Ibrahim bukan Yahudi, bukan
Kristen, tetapi hanif dan Muslim.”
— Ali ‘Imran 67
Artinya:
- Ibrahim bukan Yahudi
- Ibrahim bukan Kristen
- Ibrahim adalah muslim → orang yang “berserah
diri”
- agama Ibrahim adalah salām → agama kedamaian
b.
Musa dan kaum Israel diperintahkan menjadi Muslim
“Wahai kaumku, jika kalian beriman
kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya jika kalian benar-benar Muslim.”
— Yunus 84
Istilah “Muslim” digunakan pada
masa Musa.
c.
Hawariyyun pengikut Yesus berkata: “Kami adalah Muslim”
Ketika Yesus mengajak hawariyyun
mengikuti jalan Tauhid:
“Kami beriman dan kami adalah
Muslim.”
— Ali ‘Imran 52
Jadi:
- para murid Yesus menyebut diri Muslim
- bukan Kristen
- bukan Yahudi
- tetapi orang-orang yang submit kepada Allah
d.
Agama para nabi adalah satu agama
“Dia mensyariatkan bagimu agama yang
telah diwasiatkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa.”
— Asy-Syura 13
Ini bukti:
- agama semua nabi itu satu,
- bukan tiga agama terpisah,
- bukan Yahudi vs Kristen vs Islam,
- melainkan satu tradisi Salām, satu tauhid.
5. Kesalahan Perubahan Nama Menjadi Yahudi &
Kristen
a.
Nama “Yahudi” adalah produk sejarah, bukan wahyu
Nama ini muncul:
- dari suku Yehuda (Yehudi),
- kemudian dipakai politik kerajaan Israel Selatan,
- lalu melebar menjadi identitas etnis,
- dan akhirnya diolah menjadi agama rasial.
Ini bukan nama agama para nabi.
b.
Nama “Kristen” adalah produk komunitas pasca-Yesus
Nama ini baru diberikan oleh:
- komunitas Antiokhia,
- setelah Paulus membawa ajaran Yesus keluar batas
Israel,
- dan setelah teologi ketuhanan Yesus berkembang.
Yesus sendiri bukan Kristen.
c.
Pelabelan etnis menghancurkan universalitas agama para nabi
Ketika agama dijadikan:
- identitas suku,
- nasionalisme religius,
- batas pemisah antar bangsa,
maka tauhid menjadi tersesat
dan agama kehilangan:
- keluasan universal,
- misi perdamaian,
- kesucian makna.
d.
Islam datang untuk memulihkan nama asli agama para nabi
Islam tidak datang membawa agama
baru.
Ia datang:
- mengembalikan nama yang hilang,
- menyatukan kembali jalur wahyu,
- menghidupkan tauhid Ibrahim,
- dan memulihkan agama Salām sebagai agama universal.
Penutup Bab 1
Ketiga kitab suci—Taurat, Injil, dan
Al-Qur’an—bersatu suara bahwa:
- agama para nabi bukan Yahudi,
- bukan Kristen,
- melainkan agama Salām, agama penyerahan diri,
agama tauhid murni.
Label Yahudi dan Kristen adalah produk
sejarah, bukan hasil wahyu.
Islam—dalam makna
primordialnya—adalah nama perkumpulan seluruh nabi, bukan milik etnis
Arab, bukan milik umat Muhammad saja, tetapi nama jalan Tuhan sejak awal
penciptaan manusia.
2. Ketika Etnosentrisme Menggantikan Tauhid
Jika
agama para nabi sejak Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa adalah satu agama — agama
Salām, agama kepasrahan kepada Tuhan Yang Esa — maka bencana teologis
terbesar dalam sejarah Semitik adalah ketika tauhid digantikan oleh
identitas etnis. Di titik ini agama tidak lagi berdiri sebagai wahyu
universal, melainkan menjadi simbol kelompok, kepentingan suku,
bahkan legitimasi politik.
Ironisnya,
proses ini dicatat dengan jujur oleh kitab suci mereka sendiri.
A. Evolusi Identitas “Yehudi” — Dari Nama Tempat Menjadi
Nama Agama
Istilah
“Yehudi” (Yehudah/Judah) awalnya bukan identitas agama, melainkan
nama suku dari salah satu anak Ya’qub. Setelah Kerajaan Israel terpecah,
wilayah selatan disebut Kerajaan Yehuda.
Di pengasingan Babel, identitas ini
berubah fungsi:
- Dari suku, menjadi komunitas tertindas.
- Dari komunitas tertindas, menjadi identitas
politik-religius tertutup.
- Dari umat tauhid, menjadi umat etnosentris.
Akar
identitas ini terus berkembang pada masa Ezra–Nehemia, ketika terjadi pembakuan
ritual dan garis keturunan, bahkan melarang pernikahan campur atas nama
“kemurnian”.
Wahyu menjadi kode kesukuan.
Tauhid menjadi hak eksklusif kelompok tertentu.
Risalah universal Nabi Musa dipersempit menjadi “agama orang Yahudi”.
Padahal Musa diutus untuk Fir’aun,
bukan untuk satu etnis.
Padahal Taurat menyebut nabi-nabi lain yang bukan keturunan Israil.
Degenerasi ini mengubah wajah agama.
B.
Transformasi “Kristiani” — Dari Pengikut Jalan Isa Menjadi Agama Kaum
Bangsa-Bangsa
Istilah “Kristiani/Christianoi”
juga tidak lahir dari Isa.
Ia
muncul di Antiokhia beberapa dekade setelah wafatnya beliau. Awalnya bukan
sebutan mulia; ia adalah label sosial dari masyarakat Romawi kepada
sekelompok pengikut sebuah sekte Yahudi yang dianggap menyimpang.
Tetapi transformasi besar terjadi
ketika:
- Paulus memasukkan konsep anak Tuhan,
- Konsili-konsili menghapus jejak tauhid Isa,
- Kekaisaran Romawi menjadikan Kristen sebagai agama
negara.
Maka agama Isa mengalami perubahan
besar:
- Dari ajaran tauhid murni,
- Menjadi dogma ketuhanan Isa,
- Dan akhirnya menjadi identitas peradaban Romawi.
Risalah Isa yang bertujuan menyucikan
hati berubah menjadi institusi kekuasaan: gereja.
Kitab disakralkan, tetapi pesan tauhid memudar.
Nama “Kristen” tidak lagi berarti “al-masihiyyun” (pengikut Mesias Nabi Allah),
tetapi menjadi simbol peradaban Eropa.
C.
Hilangnya Universalitas Risalah
Ketika agama dipersempit menjadi
identitas etnis atau simbol peradaban, maka tiga kerusakan besar terjadi:
1.
Wahyu kehilangan sifat alamiahnya
Kitab bukan lagi panduan untuk
manusia seluruhnya, tetapi menjadi “hak eksklusif” kelompok tertentu.
Padahal Ibrahim disebut “bapak banyak bangsa”, bukan bapak satu etnis.
2.
Misi kenabian ditafsirkan untuk kepentingan politik
- Israel kuno menggunakan nabi sebagai legitimasi tribal
terhadap bangsa-bangsa lain.
- Romawi Kristen menggunakan salib sebagai legitimasi
kekaisaran.
3.
Risalah tidak lagi mengalir; ia membatu
Isa
mengkritik Bani Israil bukan karena hukum mereka, tetapi karena agama
berubah menjadi identitas, bukan moral.
Ketika agama menjadi “punyaku”,
bukan “milik Allah”, maka:
- Kepentingan menggantikan ketakwaan,
- Simbol menggantikan akhlak,
- Struktur menggantikan ruh.
Dan
di sinilah titik di mana Allah menyiapkan bangsa lain, yang tidak
membawa beban sejarah etnosentrisme, untuk memikul kembali risalah universal
yang telah tercederai.
Bangsa itu adalah Ismail.
Bagian II — Mandat dan Perjanjian,
3. Konsep Perjanjian (Covenant) Menurut Kitab-Kitab
Suci
Tidak
ada tema yang lebih menentukan arah sejarah Semitik selain perjanjian
(covenant) antara Allah dan Ibrahim. Seluruh agama Semit — Yahudi, Kristen,
dan Islam — berdiri di atas struktur satu perjanjian ini. Tetapi penafsiran
mereka berbeda-beda, sehingga memunculkan pertanyaan yang menjadi tulang
punggung risalah ini:
Siapakah pewaris sejati amanah
Ibrahim?
Untuk menjawabnya, kita harus
kembali ke sumber sebelum diselewengkan oleh tribalitas dan teologi politik.
A.
Perjanjian dengan Ibrahim: Fondasi Semua Mandat
Dalam Taurat, Injil, dan Qur’an, ada
tiga unsur yang selalu muncul dalam perjanjian Ibrahim:
- Janji keturunan yang banyak dan tersebar ke seluruh
bumi
“Engkau akan menjadi bapa banyak bangsa.” (Kejadian 17:4)
- Janji tanah dan kepemimpinan spiritual
“Kepadamu dan keturunanmu Aku berikan tanah ini.”
- Janji bahwa melalui keturunannya semua bangsa akan
diberkahi
(Kejadian 12:3; QS al-Baqarah 2:124–129)
Tetapi
kitab suci juga menegaskan bahwa perjanjian ini tidak otomatis diwarisi oleh
semua keturunan Ibrahim, melainkan hanya oleh yang memenuhi standar
moral tertentu — “Imam bagi manusia” (al-Baqarah 124).
Kriteria itu adalah:
- ketakwaan,
- kepatuhan,
- tidak menzalimi diri atau orang lain.
Dengan kata lain: perjanjian
adalah moral-spiritual, bukan sekadar genealogis.
B.
Dua Anak: Ishaq dan Ismail — Dua Jalur Perjanjian dalam Satu Rumah Ibrahim
Kitab-kitab suci mengakui bahwa
Ibrahim memiliki dua anak yang mendapat posisi spesial:
1.
Ismail: Anak sulung, simbol pengorbanan
- Lahir sebelum Ishaq,
- Disebut “anakmu yang tunggal” dalam kejadian 22 sebelum
kelahiran Ishaq,
- Tinggal di padang Paran (Hijaz),
- Disebut akan menjadi “umat besar” (great nation).
Bahkan menurut Qur’an, Ismail-lah
yang dipilih bersama Ibrahim untuk membangun kembali Ka’bah, pusat tauhid dunia.
2.
Ishaq : Anak kedua, pewaris wilayah geografis Kanaan
- Lahir dari Sarah,
- Mendapat janji ketersambungan dinasti kenabian,
- Dari garisnya lahir Ya’qub dan Bani Israil.
Dua
anak, tetapi satu pusat gravitasi: Ibrahim.
Tidak ada kitab suci yang menafikan
bahwa:
- Ismail juga diberkati,
- Ismail juga menjadi bangsa yang besar,
- Tuhan juga memberikan mandat kepadanya.
Justru Taurat menyebutkan dua
jalur amanah:
- Ishaq → mandat lokal, profetik, tribal;
- Ismail → mandat universal, global, “bangsa besar”.
C.
Dua Jalur Mandat: Otoritas Profetik vs Otoritas Eskatologis
1.
Jalur Ishaq → Bani Israil → para nabi Israel → Taurat & Injil
Ini adalah jalur risalah yang turun
temurun, fokusnya adalah:
- pendidikan moral,
- hukum syariat,
- reformasi sosial internal Bani Israil,
- dan pewartaan tauhid kepada dunia melalui teladan
mereka.
Ini adalah mandat profetik-historis.
2.
Jalur Ismail → Arab → Kemunculan Nabi Akhir → Risalah Universal
Ini adalah jalur:
- tanah gersang Hijaz,
- bangsa yang tidak memiliki kerajaan atau kitab,
- tidak membawa beban sejarah,
- justru dipelihara dalam kemurnian tauhid Ibrahim.
Ini jalur mandat eskatologis,
bukan sekadar historis.
Taurat sendiri mencatat sebuah frase
yang sangat penting:
“Aku akan membuat keturunanmu
menjadi bangsa yang besar.”
(Kejadian 21:18 — tentang Ismail)
Ini bukan sekadar bangsa ;
dalam bahasa Ibrani goy gadol sering merujuk pada bangsa penentu
sejarah, bangsa yang membawa dampak eskatologis.
Jika
Bani Israil diberikan kitab-kitab sebelum Muhammad, maka Ismail diberikan janji
besar yang belum tergenapi pada masa Ibrahim:
- bangsa yang agung,
- pemimpin bangsa-bangsa,
- berkat bagi seluruh umat manusia.
Semua janji itu baru mencapai
puncaknya dengan lahirnya Muhammad, keturunan Ismail, membawa kitab
terakhir yang merangkum seluruh risalah Ibrahim, Musa, dan Isa.
Kesimpulan
Teologis Bagian Ini
- Perjanjian Ibrahim bersifat spiritual-moral, bukan
etnis.
- Dua anak Ibrahim mengemban dua jalur mandat berbeda
tetapi saling melengkapi.
- Jalur Ishaq menyempurnakan sejarah profetik; jalur
Ismail menyempurnakan sejarah eskatologis.
- Bangsa Ismail tidak pernah kehilangan mandat, justru
menyimpan potensinya hingga momen final — kenabian Muhammad.
Setelah memahami dua jalur ini, kita
siap masuk ke bagian berikutnya:
4. Ulangan 18:18 dan Nubuat Musa tentang Nabi dari
“Saudara Mereka”
Tidak
ada ayat dalam Taurat yang lebih eksplisit menggambarkan datangnya nabi
terakhir selain Ulangan 18:18. Ayat ini adalah puncak nubuatan Musa sebelum
wafatnya, dan menjadi pusat perdebatan siapa sebenarnya “nabi seperti Musa”
yang dijanjikan itu.
Ayat tersebut berbunyi:
“Aku akan membangkitkan bagi mereka
seorang nabi dari antara saudara mereka, seperti engkau, dan Aku akan menaruh
firman-Ku dalam mulutnya.”
(Ulangan 18:18)
Tiga detail penting harus kita
uraikan:
- dari antara saudara mereka
- seperti engkau (seperti Musa)
- firman-Ku akan Kutaruh dalam mulutnya
Tafsir yang tepat atas tiga unsur
ini akan membawa kita pada kesimpulan yang tak terhindarkan:
nabi itu adalah Muhammad, bukan dari Bani Israil.
Mari kita uraikan secara sistematis.
A. Analisis Linguistik: Kata “Saudara Mereka” Bukan
Bani Israil
1.
Bahasa asli Taurat menggunakan kata: “me’ahêhem”
Dalam bahasa Ibrani, “saudara
mereka” diterjemahkan dari kata:
Ini
sangat menarik karena dalam Taurat, kata ini tidak pernah dipakai untuk
merujuk sesama suku dalam Bani Israil.
Untuk merujuk “kaummu sendiri”, Taurat memakai kata lain, yaitu:
- מִקִּרְבְּךָ (mi-qirbeka) — dari tengah-tengahmu
- בְּנֵי יִשְׂרָאֵל (benei yisra’el) — dari anak-anak Israel
Jadi,
ketika Musa ingin menyatakan bahwa nabi itu berasal dari Bani Israil, ia
seharusnya menuliskan:
“Aku akan membangkitkan bagi kalian
nabi dari tengah-tengahmu.”
Karena itulah frase “me’ahêhem”
secara konsisten dalam Taurat dipakai untuk menunjuk bangsa saudara dari
luar Bani Israil, yaitu:
- keturunan Ismail
- keturunan Esau
- atau bangsa Semitik yang bukan Israel
Contoh paling eksplisit:
“Ia (Ismail) akan tinggal di hadapan
semua saudara-saudaranya.”
(Kejadian 16:12; 25:18)
Dalam
ayat ini, “saudara saudaranya” (achêhem) → jelas Ismail dan keturunannya
disebut saudara Bani Israil.
Kesimpulan linguistik:
“Saudara mereka” = keturunan Ismail, bukan Bani Israil.
B. Bukti Historis: Bani Israil Tidak Pernah
Menghasilkan “Nabi Seperti Musa” Setelah Musa
Taurat sendiri menetapkan kriteria
bahwa nabi itu harus:
- membawa syariat baru,
- berbicara langsung dengan Tuhan melalui wahyu,
- memimpin pembebasan bangsa,
- mempersatukan komunitas tauhid yang besar,
- dan membawa hukum universal.
Inilah ciri-ciri Musa.
1.
Dalam sejarah, tidak ada satu pun nabi Bani Israil setelah Musa yang memenuhi
kriteria itu:
- Yosua tidak membawa kitab baru.
- Samuel bukan pembuat syariat.
- Daud dan Sulaiman bukan nabi syariat; mereka raja.
- Yesaya, Yeremia, Ezékiel hanya penyeru moral.
- Daniel adalah penafsir mimpi, bukan pembawa syariat.
- Isa (Yesus) sendiri menegaskan:
“Aku datang bukan untuk meniadakan hukum (Taurat) tetapi
menggenapinya.”
Artinya: Ia tidak membawa syariat
baru, tidak “seperti Musa” dalam fungsi legislasi.
2.
Satu-satunya figur historis yang cocok 100% dengan pola Musa adalah Muhammad
- Mendapat wahyu langsung, kitab suci lengkap (al-Qur’an)
- Pembawa syariat baru yang universal
- Memimpin pembebasan bangsa dari politeisme
- Membangun komunitas tauhid dan negara
- Dihormati sebagai “nabi dan rasul” dalam tradisi
Ibrahim
Lebih jauh lagi: Muhammad adalah
satu-satunya keturunan Ismail yang menjadi nabi.
Itu menjadikan identitasnya unik dan selaras dengan nubuatan Musa.
C. Mengapa “Saudara Mereka” Tidak Mungkin Merujuk Bani
Israil?
Ada tiga alasan pokok:
1.
Karena Musa sedang berbicara kepada Bani Israil
Ayat berbunyi:
“Bagi mereka…”
“dari saudara mereka…”
Jika yang dimaksud “saudara” adalah
sesama Israel, Musa akan memakai frasa “dari antara kamu”.
Taurat selalu konsisten dengan pola bahasa seperti ini.
Menyebut Bani Israil sebagai
“saudara mereka” adalah linguistik yang salah secara Ibrani.
2.
Karena Taurat memakai istilah “saudara” untuk keturunan Ismail hingga
berulang-ulang
Taurat tidak pernah menyebut kelompok
internal Israel sebagai “saudara mereka”, tetapi:
- Ismail disebut saudara Ishaq
- Esau disebut saudara Ya’qub
- Bangsa Arab disebut saudara Israel
Penggunaan tersebut konsisten
sepanjang Pentateukh.
Maka sangat mustahil penulis Taurat
bermaksud menyebut Bani Israil dengan istilah “saudara mereka”.
3.
Karena fungsi nubuatan tidak mungkin bersifat internal
Jika Musa sedang menubuatkan nabi
dari Bani Israil, itu tidak ada nilai profetiknya;
karena sudah ratusan nabi lahir dari Israel.
Nubuat Musa pasti menunjuk sesuatu
yang belum pernah terjadi:
- nabi besar,
- seperti dirinya,
- dari bangsa saudara,
- yang kelak membawa firman Tuhan dalam bentuk yang
langsung dituangkan ke mulutnya (wahyu verbal).
Ini semua sejalan dengan ciri
kenabian Muhammad:
- illiteracy → memaksakan bentuk “firman ditaruh ke
mulutnya”
- wahyu verbal → “iqra’” dan seterusnya
- syariat lengkap
- komunitas besar
- universalitas misi
Tidak ada nabi Bani Israil yang
memenuhi pola itu.
Kesimpulan Bab 4
- Secara linguistik, frasa “saudara mereka” mustahil merujuk
Bani Israil.
- Secara historis, tida k ada nabi Israel setelah Musa
yang “seperti Musa”.
- Secara teologis, Musa sedang menggiring umatnya untuk
mengakui datangnya seorang nabi besar dari jalur saudara mereka —
Ismail.
- Dalam sejarah, satu-satunya tokoh yang memenuhinya
adalah Muhammad, pembawa risalah terakhir.
Dengan demikian, Ulangan 18:18
adalah salah satu nubuatan Taurat paling kuat tentang kenabian Muhammad.
5. Isyarat Yesus tentang Perpindahan Mandat
Yesus
(Isa al-Masih) tidak hanya melanjutkan nubuatan Musa tentang datangnya nabi
universal dari jalur saudara-saudara Israel, tetapi Ia bahkan memperingatkan
secara terbuka bahwa mandat kerajaan Ilahi (Kingdom of God) akan diambil
dari bangsa Israel dan diberikan kepada bangsa lain yang mampu mengemban
buah-buah kerajaan itu.
Dalam
Injil Sinoptik, peringatan ini sangat eksplisit — sampai pada tingkat yang
tidak mungkin ditafsirkan secara nasionalistik atau intern Yahudi.
Tiga konsep kunci yang Yesus ajarkan:
- Kerajaan akan diambil dari Bani Israil.
- Batu penjuru yang ditolak akan menjadi dasar bangunan
baru.
- Bangsa lain akan menerima wahyu dan membawa hasil yang
dikehendaki Tuhan.
Mari kita urai satu per satu.
A. “Kerajaan Akan Diambil Darimu dan Diberikan kepada
Bangsa Lain”
Ayat pusatnya:
“Sebab itu Aku berkata kepadamu:
Kerajaan Allah akan diambil darimu, dan diberikan kepada suatu bangsa yang akan
menghasilkan buah-buah Kerajaan itu.”
(Matius 21:43)
Ayat ini muncul setelah Yesus
menyampaikan perumpamaan “para penggarap jahat”:
- tuan tanah → Tuhan
- kebun anggur → mandat wahyu, risalah
- para penggarap → Bani Israil
- para utusan → nabi-nabi
- anak tuan tanah → Yesus
- pembunuhan para utusan dan anak → pembangkangan
spiritual Bani Israil
Poin Yesus sangat tajam, tidak
simbolik lagi:
- Para nabi dibunuh
- Risalah ditolak
- Putusan Tuhan: mandat dialihkan
Kerajaan Allah = amanah wahyu,
risalah kenabian, otoritas spiritual.
Dan amanah ini kata Yesus akan
diberikan kepada:
“bangsa lain” (ethnei heterō) —
bangsa yang lain dari bangsa Israel
Ini menghapus seluruh interpretasi
etnosentris.
Yesus tidak mengatakan “kepada
kelompok lain dari Israel,” tetapi “ethnos lain”: bangsa yang berbeda
etnis.
Pertanyaannya: bangsa mana?
B. “Batu Penjuru yang Ditolak para Tukang Bangunan”
Yesus lalu mengutip Mazmur 118:
“Batu yang dibuang oleh
tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”
(Matius 21:42 / Mazmur 118:22)
Makna profetik:
- Tukang bangunan = pemuka agama Yahudi
- Batu yang dibuang = nabi yang tidak berasal dari Bani
Israil
- Batu penjuru = fondasi bangunan akhir risalah Tuhan
- Bangunan itu sendiri = umat akhir zaman (nation of
monotheists) yang memikul amanah Abraham
Batu
penjuru harus dadaif (asing), tidak sesuai ekspektasi pemilik tradisi
lama — sebab Tuhan ingin menyadarkan kesombongan eksklusif etnis.
Dalam
tradisi Taurat, “penjuru” juga berarti puncak komunitas, pemimpin,
atau pemegang wahyu.
Sejak awal tradisi Semitik,
keturunan Ismail — saudara tua — selalu berada “di luar bangunan”.
Mereka ditolak oleh Israel secara teologis.
Mereka dianggap tidak layak menerima wahyu.
Tetapi Yesus justru memutar narasi
itu:
Bangsa yang kalian pandang rendah
kelak akan menjadi batu penjuru risalah.
Ini tidak bisa bermakna bangsa
Romawi, Yunani, atau bangsa non-Semitik:
sebab Yesus berbicara dalam konteks warisan Ibrahim, bukan Eropa.
Maka satu-satunya bangsa Semitik
non-Israel yang memiliki silsilah Ibrahim dan tetap memegang tauhid adalah:
bangsa Ismail (Arab).
C. Kaitan Langsung dengan Wahyu Terakhir
Yesus menyatakan tanda utama:
bangsa baru itu akan menghasilkan buah-buah Kerajaan.
Buah-buah itu adalah:
- syariat yang bersih
- ketauhidan murni
- komunitas yang taat
- penyebaran rahmat universal
- kehadiran nabi legislator terakhir
- kitab suci yang memurnikan wahyu-wahyu sebelumnya
Mari kita lihat kaitan langsungnya
dengan Islam:
1.
Mandat beralih → wahyu terakhir turun di luar Bani Israil
Al-Qur’an menegaskan hal yang sama:
“Mereka dahulu menanti datangnya seorang
penolong untuk mengalahkan orang-orang kafir;
tetapi ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka malah
ingkar.”
(QS Al-Baqarah:89)
Ayat ini paralel dengan:
- Yesus: “kalian membunuh para nabi”
- Yesus: “kalian menolak anak pemilik kebun”
- Musa: “saudara kalian akan menerima firman-Ku”
Yesus mengatakan mandat akan
dialihkan.
Al-Qur’an mengatakan mandat telah dialihkan.
2.
Batu penjuru → Muhammad
Muhammad SAW:
- tidak berasal dari Bani Israil
- keturunan Ibrahim dari jalur Ismail
- ditolak oleh kelompok Yahudi di Madinah
- tetapi justru menjadi pondasi pembaruan wahyu
terbesar dalam sejarah manusia
Yesus menyebutkan “batu yang
ditolak” →
Muhammad disebut dalam Al-Qur’an: “Ahmad”, yang maknanya:
- yang paling terpuji
- yang menjadi puncak (penjuru) pujian
Kecocokan ini luar biasa.
3.
Bangsa lain → umat Muhammad
Bangsa pengemban amanah bukan hanya
Arab, tetapi umat Muhammad, yaitu komunitas Ibrahim yang universal.
Mereka memenuhi semua syarat “buah
Kerajaan”:
- membangun peradaban global
- menyebarkan tauhid
- menjaga syariat
- memelihara kemurnian wahyu
Dan sejarah memverifikasi klaim ini
lebih kuat daripada teologi apa pun.
D. Kesimpulan Bab 5
- Yesus secara eksplisit mengatakan Kerajaan Allah
akan diambil dari Israel.
- Mandat wahyu akan diberikan kepada bangsa lain,
bukan bangsa Israel.
- Yesus memetik Mazmur untuk menegaskan bahwa batu
yang ditolak Israel akan menjadi batu penjuru.
- Dalam sejarah, bangsa yang menerima wahyu terakhir
adalah bangsa Ismail, dan nabi yang menjadi batu penjuru adalah Muhammad
SAW.
- Al-Qur’an mengonfirmasi tepat apa yang Yesus nubuatkan:
Israel menolak Mesias yang mereka nanti, sehingga mandat dialihkan.
Dengan demikian, perkataan Yesus,
Taurat, dan Al-Qur’an “klik” secara sempurna dalam garis nubuatan Ibrahim.
Bagian III — Krisis Moral Bani Israil di Mata Kitab
Mereka Sendiri
6. Penyimpangan Akidah Menurut Taurat & Injil
Tidak
ada bangsa yang dicatat dalam kitab sucinya sendiri dengan kejujuran setegas
Israel. Taurat dan Injil memuat kesaksian mendalam tentang krisis moral,
penyimpangan akidah, dan pembangkangan spiritual Bani Israil
sepanjang sejarah mereka.
Catatan-catatan
ini bukan ditulis oleh musuh, tetapi oleh para nabi mereka sendiri,
sebagai bukti bahwa Allah tidak segan menegur kaum pilihan jika mereka
menyimpang dari amanah.
Ada
tiga bentuk penyimpangan besar yang menjadi alasan utama keterputusan mandat
wahyu, sebagaimana ditegaskan kembali oleh Yesus dan disempurnakan
penjelasannya oleh Al-Qur’an.
A. Penyembahan Berhala — Dosa Kolektif yang Terulang
Penyimpangan
pertama dan paling sering adalah penyembahan berhala, suatu pelanggaran
akidah yang bertentangan langsung dengan inti agama Ibrahim.
1.
Anak lembu emas
Taurat menceritakan episode paling
tragis:
“Mereka membuat patung lembu
tuangan...
Mereka berkata: Inilah allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari Mesir.”
(Keluaran 32:4)
Yang melakukan ini bukan generasi
setelah Musa,
tetapi generasi yang melihat laut terbelah.
Ini menunjukkan:
keajaiban tidak menjamin hidayah bila hati tidak tunduk.
2.
Penyembahan Baal dan Asytoret
Kitab Raja-raja dan Hakim-Hakim
memuat puluhan ayat tentang penyembahan berhala:
- Baal (dewa kesuburan)
- Asytoret (dewi kesuburan)
- Dewa-dewa Kanaan lainnya
Taurat sendiri mengakui:
“Mereka meninggalkan Tuhan... dan
mengikuti Baal dan para dewa bangsa-bangsa.”
(Hakim-Hakim 2:11–12)
3.
Nubuatan para nabi tentang kemurtadan nasional
Para nabi besar—Yesaya, Yeremia,
Yehezkiel—berulang kali menyebut Israel:
- “bangsa yang tegar tengkuk”
- “istri yang tidak setia”
- “pohon yang tidak berbuah”
Al-Qur’an kemudian mengonfirmasi:
“Mereka menyembah anak lembu setelah
jelas bukti-bukti sampai kepada mereka.”
(QS Al-Baqarah:92)
Penyembahan
berhala, yang merupakan pelanggaran tauhid paling dasar, menjadi penyimpangan
nomor satu yang menyebabkan kehancuran spiritual Israel.
B. Pembunuhan Nabi — Dosa Teologis Paling Fatal
Penyimpangan
kedua adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan bangsa lain, tetapi
dicatat berkali-kali dalam kitab suci mereka:
membunuh para nabi.
1.
Kesaksian Injil
Yesus sendiri berkata:
“Jerusalem, Jerusalem,
engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari mereka yang diutus kepadamu!”
(Matius 23:37)
Ini bukan bahasa simbolik; Yesus
berbicara secara historis.
2.
Kesaksian Taurat & kitab para nabi
Yeremia dan Yesaya mencatat:
- Nabi Uria dibunuh
- Nabi-nabi palsu menyesatkan rakyat
- Raja-raja Israel menganiaya nabi-nabi yang tidak sesuai
dengan selera politiknya
3.
Kesaksian Al-Qur’an
Al-Qur’an memperkuat dengan bahasa
yang lebih lugas:
“Dan karena mereka membunuh para
nabi tanpa alasan yang benar...”
(QS An-Nisa:155)
“Mengapa kalian membunuh nabi-nabi
Allah dahulu, jika benar kalian beriman?”
(QS Al-Baqarah:91)
Pembunuhan nabi bukan sekadar
kejahatan moral—
ia adalah pemutusan perjanjian dari akar.
Bangsa yang membunuh pembawa wahyu
pada dasarnya memutus dirinya sendiri dari wahyu.
Maka tidak aneh jika Yesus berkata:
“Kerajaan akan diambil darimu.”
Karena bangsa yang membunuh utusan
tidak layak lagi menjadi penjaga amanah utusan.
C. Manipulasi Syariat — Perubahan Hukum untuk
Kepentingan Diri
Penyimpangan ketiga, yang paling
halus namun paling berbahaya, adalah manipulasi terhadap syariat.
Salah satu tudingan terbesar
nabi-nabi Israel adalah:
- mengubah hukum
- menambah-nambah syariat
- memperberat beban ritual
- memilih hukum sesuai kepentingan
- menjadikan agama sebagai alat kekuasaan
1.
Tuduhan Yesaya
Nabi Yesaya mengkritik:
“Bangsa ini mendekat dengan bibirnya
tetapi hatinya jauh dari-Ku,
dan ajaran yang mereka pelajari hanyalah aturan manusia.”
(Yesaya 29:13)
Ini sangat paralel dengan kritik
Nabi Muhammad terhadap ahli kitab.
2.
Tuduhan Yesus
Yesus mempertegas pelanggaran itu:
- “Kalian mengangkat tradisi manusia di atas hukum
Tuhan.”
- “Kalian menapis nyamuk tetapi menelan unta.”
- “Kalian seperti kuburan yang dicat putih.”
Yesus mengecam kaum ulama Israel
karena menjadikan agama:
- simbol kekuasaan elit
- ritual tanpa ruh
- hukum tanpa kasih
- penampilan tanpa ketundukan
3.
Tuduhan Al-Qur’an
Al-Qur’an mengungkap manipulasi
kitab:
“Mereka mengubah perkataan dari
tempat-tempatnya.”
(QS Al-Maidah:13)
“Sebagian mereka menulis kitab
dengan tangan mereka lalu berkata:
Ini dari Allah.”
(QS Al-Baqarah:79)
“Mereka menyembunyikan sebagian
kitab.”
(QS Al-Maidah:15)
Manipulasi syariat ini lebih
berbahaya dari penyembahan berhala, karena:
- ia memalsukan agama dari dalam
- ia memutus manusia dari makna wahyu
- ia menjadikan syariat alat untuk menutup mulut para
nabi
Dan dari sini muncul dosa terbesar:
menolak Mesias dari saudara mereka
hanya karena beliau tidak sesuai selera etnis mereka.
Kesimpulan Bab 6
Taurat, Injil, dan Al-Qur’an sepakat
bahwa Bani Israil mengalami tiga penyimpangan besar:
- Penyembahan berhala
- Pembunuhan nabi-nabi
- Manipulasi syariat
Ketiga penyimpangan ini berulang,
sistemik, dan berskala nasional—bukan insiden kecil.
Karena
inilah mandat risalah tidak mungkin tetap berada di tangan mereka, dan
nubuatan pun menyatakan secara jelas mandat itu akan beralih kepada umat yang
lain: umat Muhammad, keturunan Ismail.
Bagian III — Krisis Moral Bani Israil di Mata Kitab
Mereka Sendiri
7. Keterputusan Mandat : Analisis Teologis
Jika
sejarah Bani Israil dibaca melalui tiga kitab suci Abrahamik—Taurat, Injil, dan
Al-Qur’an—maka satu kesimpulan besar muncul dengan sangat jelas:
Mandat
wahyu yang dahulu diberikan kepada keturunan Ishaq tidak terbunuh oleh bangsa
lain, tetapi oleh perbuatan mereka sendiri.
Keterputusan
itu bukan peristiwa politis, tetapi peristiwa teologis.
Ia terjadi bukan karena kelemahan militernya, tetapi karena kegagalan
moralnya.
Ia bukan akibat konspirasi musuh, tetapi akibat pengkhianatan terhadap
perjanjian.
Keterputusan
mandat ini dapat dipahami melalui tiga konsep inti:
- gagalnya Perjanjian (Covenant Failure)
- penolakan sistemik terhadap nabi-nabi akhir
- hilangnya hak eskatologis
A. Konsep “Kegagalan Perjanjian” (Covenant Failure)
Dalam
teologi Semitik, sebuah perjanjian (covenant) tidak bersifat absolut. Ia bersyarat
pada ketaatan.
Taurat sendiri menegaskan:
“Jika kamu mendengarkan suara-Ku dan
berpegang pada perjanjian-Ku,
maka kamu akan menjadi umat kesayangan-Ku.”
(Keluaran 19:5)
Artinya, status “umat pilihan”
adalah conditional, bukan unconditional.
Tetapi
sejarah Israel menunjukkan tiga pelanggaran fundamental:
- kemurtadan kolektif
- pengkhianatan terhadap para nabi
- pembalikan hukum Tuhan menjadi tradisi manusia
Setiap kali pelanggaran ini terjadi,
Allah menghukum mereka:
- pengasingan ke Babel
- kejatuhan kerajaan Israel
- hancurnya Bait Suci
- penjajahan Roma
- hilangnya kenabian
Namun puncak kegagalan terjadi
ketika:
Mereka menolak dan berencana
membunuh nabi yang datang sebagai penutup risalah mereka sendiri.
Setelah batas ini dilewati,
perjanjian tidak bisa dipulihkan.
Inilah yang Yesus sebut sebagai “pohon
ara yang mandul”, dan yang Al-Qur’an tegaskan sebagai “kutukan
perjanjian karena kekafiran mereka”.
B. Penolakan Terhadap Nabi-Nabi Akhir
Sejarah Bani Israil menunjukkan pola
penolakan yang berulang:
- menolak Musa ketika beliau naik ke Sinai
- menolak Samuel ketika menuntut raja yang baru
- melawan Daud
- menganiaya dan membunuh nabi-nabi kecil
- menolak Yesaya
- memenjarakan Yeremia
- membunuh Zakaria dan Yahya
- merencanakan pembunuhan atas Isa
Puncaknya:
Mereka menolak nabi yang mereka
tunggu, hanya karena beliau bukan dari etnis mereka sendiri.
Al-Qur’an menegaskan:
“Ketika datang kepada mereka apa
yang telah mereka ketahui (tanda-tandanya), mereka kufur kepadanya.”
(QS Al-Baqarah:89)
Injil menyatakan alasan yang sama:
“Ia datang kepada milik
kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.”
(Yohanes 1:11)
Dan Yesus menggambarkan ini dalam
tamsil terkenal:
- para penyewa membunuh utusan-utusan pemilik kebun (para
nabi)
- bahkan membunuh anak pemilik kebun (Isa)
- sehingga pemilik kebun mencabut hak mereka dan
menyerahkannya kepada orang lain
Tamsil ini memuat nubuatan
perpindahan mandat.
C. Kehilangan Hak Eskatologis
Setelah penolakan itu, mandat Israel
tidak hanya berhenti secara historis; ia berhenti secara eskatologis.
Dalam tiga kitab suci terdapat pola
yang konsisten:
- Taurat:
Musa menubuatkan nabi terakhir dari “saudara mereka”, bukan dari mereka.
- Injil:
Yesus menubuatkan kerajaan akan diambil dan diberikan kepada bangsa
lain.
- Qur’an:
Allah menegaskan bahwa mereka telah kehilangan mandat karena membunuh
nabi-nabi dan menolak utusan terakhir.
Dengan demikian, secara teologis:
- mereka tidak lagi menjadi “umat perjanjian”
- mereka tidak lagi menjadi “penjaga kitab suci”
- mereka tidak lagi memegang hak atas Bait Suci
- mereka tidak lagi memiliki klaim atas kepemimpinan
kenabian
- mereka tidak lagi menjadi aktor utama dalam proyek
eskatologi
Hak itu beralih kepada:
umat
yang menjaga tauhid, tidak membunuh nabi, tidak menukar syariat, dan tidak
menjadikan agama milik etnis — yaitu keturunan Ismail melalui Muhammad.
Inilah yang dimaksud Qur’an:
“Ketika mereka berpaling, Allah
menggantikan mereka dengan kaum lain.”
(QS Muhammad:38)
Dan inilah yang dimaksud Yesus:
“Bangsa lain itu akan menghasilkan
buah-buah kerajaan itu.”
(Matius 21:43)
Perpindahan mandat bukan permusuhan,
tetapi konsekuensi etis dari pelanggaran etis yang berulang.
Penutup Bab 7
Keterputusan mandat Bani Israil
adalah:
- peristiwa teologis
(karena melanggar tauhid),
- peristiwa moral
(karena membunuh para nabi),
- dan peristiwa eskatologis (karena menolak nabi
terakhir yang dijanjikan Musa dan Yesus).
Maka wajar jika seluruh nubuatan
kemudian mengarah kepada bangsa tetangga mereka—saudara mereka—yang
menjaga tradisi Ibrahim tanpa etnosentrisme: Bangsa Ismail.
8. Mengapa Bangsa Ismail Dipilih?
Kemurnian Tauhid — Tradisi Ibrahim
yang Lestari — Tanah Kosong Teologis sebagai Lahan Wahyu
Pemilihan
bangsa Ismail sebagai pewaris amanah akhir bukanlah romantisme etnis, melainkan
kesimpulan teologis yang bersandar pada kesaksian Taurat, Injil, dan
al-Qur’an. Ketiganya menggambarkan suatu pola: ketika satu umat menolak
amanah, Allah memindahkannya kepada umat lain yang lebih layak, sebagaimana
firman-Nya, “Jika kalian berpaling, Allah akan menggantikan kalian dengan
kaum lain, kemudian mereka tidak akan seperti kalian.”
Di
titik inilah bangsa Ismail tampil sebagai penerima mandat final. Ada tiga
alasan utama yang diakui ketiga kitab suci.
1.
Kemurnian Tauhid: Bangsa yang Tidak Terkontaminasi Teologi Filsafat
Secara historis, bangsa Arab-Ismail
adalah satu dari sedikit bangsa yang tidak mengalami distorsi teologis
akibat:
- campuran paganisme-Filistin (seperti Fenisia),
- filsafat Yunani,
- tradisi sacerdotal Persia, atau
- mitologi Babilonia.
Memang
mereka jatuh dalam kesyirikan berhala, namun syirik mereka bersifat ritual,
bukan teologis. Mereka tidak menyusun teologi konseptual tentang Tuhan,
tidak membuat doktrin “Tuhan anak”, “Tuhan yang berinkarnasi”, tidak membuat
sistem keimanan metafisik seperti Yunani atau Romawi.
Itulah
mengapa al-Qur'an menyebut agama mereka sebelum terdistorsi sebagai millah
Ibrahim — benih tauhid awal yang belum tercemar spekulasi.
Berbeda dengan Bani Israil yang:
- menggambarkan Tuhan sebagai manusia (Kejadian
32:28–30),
- menganggap Tuhan beristirahat setelah mencipta
(Kejadian 2:2),
- memberi sifat-sifat emosional, menyesal, dan marah
secara antropomorfis.
Dan
berbeda dengan umat Kristen yang kemudian menafsirkan Isa sebagai Tuhan,
menjadikan “Firman menjadi manusia” sebagai doktrin utama.
Bangsa Ismail—walaupun berhala ada
di Ka‘bah—tetap mempertahankan konsep ketuhanan transenden:
Mereka
tidak pernah mengatakan “Allah adalah salah satu berhala.”
Yang terjadi adalah: mereka menyembah berhala sebagai perantara, bukan
sebagai Tuhan.
Inilah
kemurnian konsep ketuhanan yang membuat wahyu mudah kembali ditegakkan.
2.
Tradisi Ibrahim yang Lestari: Jejak Purba yang Tidak Putus
Tidak
banyak bangsa yang bisa mengeklaim keterhubungan fisik dan spiritual
dengan Ibrahim. Bani Israil memang mewarisi kitab dan hukum, tetapi mereka
kehilangan ruh perjanjian karena:
- kesombongan etnis,
- pembunuhan para nabi,
- dan perubahan syariat.
Di
pihak lain, bangsa Ismail memelihara tradisi Ibrahim secara turun-temurun,
meski tidak memiliki kitab:
a.
Ka’bah tetap dijaga oleh keturunan Ismail
Meski diselimuti berhala, bangunan
itu tidak berubah fungsi dasarnya sebagai:
- rumah ibadah,
- pusat haji,
- simbol tauhid.
Ini bukti kontinuitas Ibrahim yang
unik.
b.
Ibadah haji tetap berlangsung
Ritual-ritual
seperti thawaf, sa’i, wuquf, dan korban—walaupun mengalami penyimpangan
niat—tetap dijaga. Ritual tidak hilang, hanya niat yang berubah. Dan niat
adalah hal yang paling mudah diperbaiki saat wahyu turun kembali.
c.
Bahasa Arab : bahasa asli keluarga Ibrahim
Al-Qur’an selalu menekankan bahwa
wahyu turun dalam bahasa Arab yang jelas, karena bahasa ini adalah:
- bahasa keturunan Ismail,
- bahasa yang paling murni secara gramatikal,
- bahasa semitik terakhir yang tidak bercampur.
Bahasa
adalah wadah wahyu. Dan bangsa Ismail memiliki wadah itu dalam bentuk paling
murni.
Itulah
sebabnya nabi terakhir harus muncul di bangsa yang memiliki tradisi Ibrahim
namun tidak terikat beban sejarah penyelewengan Bani Israil.
3.
Arab sebagai “Tanah Kosong Teologis”: Ruang Bagi Wahyu Terakhir
Ini alasan paling mendalam secara
teologis.
Arab pada abad ke-6 M bukanlah pusat
dunia politik maupun dunia keagamaan. Ia berada:
- jauh dari hegemoni Romawi,
- jauh dari otoritas Gerejawi,
- jauh dari dominasi Persia,
- dan jauh dari kerumitan teologis Yudaisme-Kristen.
Tidak ada kekuatan teokratis yang bisa
mencemari atau memanipulasi wahyu.
Arab adalah ruang kosong, ibarat:
- lahan subur yang belum ditanami doktrin manusia,
- panggung yang belum ada aktor,
- kanvas putih bagi pesan universal terakhir.
Sementara:
- Romawi telah mempolitisasi Injil,
- Persia mempolitisasi agama melalui Zoroastrianisme,
- Bani Israil memonopoli Tuhan secara etnis.
Maka, wahyu terakhir harus
turun di tempat netral, agar risalah tidak dipersempit oleh sejarah, kekuasaan,
atau bangsa tertentu.
Karena itu pula Allah memutuskan:
Wahyu terakhir tidak boleh turun di
Yerusalem,
sebab Yerusalem telah diperebutkan dan dipolitisasi.
Wahyu terakhir harus turun di tanah kosong—Makkah.
Kesimpulan
Bab 8
Bangsa Ismail dipilih bukan karena
nasab, tetapi karena kesucian kondisi dan keistimewaan historis
berikut:
- Kemurnian konsep ketuhanan yang tidak tercemar filsafat atau antropomorfisme.
- Pelestarian tradisi Ibrahim melalui Ka’bah, haji, dan bahasa Arab.
- Tanah Arab sebagai ruang teologis kosong, bebas dari hegemoni teokrasi dan politik.
Dengan
demikian, merekalah bangsa yang paling siap menerima amanah akhir zaman,
amanah risalah terakhir yang bersifat universal dan tidak boleh—untuk kedua
kalinya—dipersempit oleh etnosentrisme.
9. Kemunculan Muhammad sebagai Puncak Nubuatan Ibrahim
Kenabian yang Ditunggu — Peran dalam
Sejarah & Eskatologi — Abrahamic Synthesis
Kemunculan
Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar lahirnya seorang tokoh spiritual, tetapi puncak
dari seluruh arsitektur nubuatan Ibrahim—suatu lengkungan sejarah panjang
yang dimulai dari doa seorang nabi yang sendirian membangun rumah Tuhan di
padang tandus:
“Ya Tuhan kami, bangkitkanlah di
tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka…”
(QS Al-Baqarah 2:129)
Doa
ini adalah akar segala nubuat yang kemudian dikonfirmasi oleh Musa, Daud, Yesaya,
Yeremia, hingga Isa Al-Masih. Semua mengarah pada satu titik: seorang nabi
besar yang akan muncul dari keturunan Ismail, pembawa perjanjian terakhir
dan penyempurna agama para nabi.
1.
Kenabian yang Ditunggu: Bayangan Muhammad dalam Taurat & Injil
a.
Doa Ibrahim sebagai fondasi nubuat
Doa Ibrahim di Makkah adalah
deklarasi awal bahwa akan lahir seorang nabi yang:
- berasal dari keturunan Ismail,
- memurnikan tauhid,
- mengajarkan Kitab & Hikmah,
- menyucikan jiwa manusia.
Nubuat
ini tidak mungkin kembali kepada Bani Israil, sebab Ibrahim tidak sedang
berdoa untuk Ishaq, melainkan untuk Ismail dan keturunannya di
lembah Makkah.
b.
Musa mengkonfirmasi: Nabi dari “saudara-saudara mereka”
Ulangan 18:18 secara eksplisit
menyatakan:
“Aku akan membangkitkan bagi mereka
seorang nabi seperti engkau dari antara saudara-saudara mereka.”
Saudara Bani Israil secara
genealogis adalah Bani Ismail, bukan Bani Israil sendiri.
Karena itu, nubuatan ini adalah antisipasi langsung terhadap Nabi Muhammad.
c.
Yesaya menggambarkan wahyu yang turun kepada “yang ummi”
Yesaya 29:12 berbunyi:
“Dan
apabila kitab itu diberikan kepada orang yang tidak dapat membaca, dan
dikatakan kepadanya: Bacalah ini, maka ia berkata: Aku tidak dapat membaca.”
Ini
adalah gambaran yang tepat dari peristiwa di Gua Hira ketika malaikat berkata:
“Iqra.”
Dan beliau menjawab:
“Mā ana biqāri’.” — “Aku tidak dapat membaca.”
d.
Yesus menegaskan bahwa kerajaan akan berpindah
Dalam Matius 21:43, Yesus berkata:
“Kerajaan Allah akan diambil darimu
dan diberikan kepada bangsa lain yang akan menghasilkan buah-buah
Kerajaan itu.”
Yesus tidak pernah menyebut bahwa
umat Kristen adalah “bangsa lain” itu; umat Kristen tidak pernah menjadi
bangsa, melainkan sekte dalam Yudaisme yang kemudian digentilisasi Romawi.
“Bangsa lain” itu adalah bangsa yang:
- membawa agama tauhid murni,
- tidak memiliki imam besar atau kasta,
- menghasilkan buah hukum dan akhlak,
- dan menjadi umat bersifat universal.
Inilah ciri umat Muhammad.
2.
Peran Muhammad dalam Sejarah dan Eskatologi
a.
Penutup kenabian sebagai penutup sejarah wahyu
Di
tangan beliau, sejarah wahyu mencapai finalitas. Tak ada lagi kitab setelah
al-Qur’an, dan tak ada lagi nabi setelahnya.
Ini bukan penutupan, melainkan pematangan: umat manusia dipindahkan dari
masa kanak-kanak kenabian menuju kedewasaan spiritual.
b.
Pengembalian mandat Ibrahim
Mandat Ibrahim—tauhid, keadilan, dan
risalah untuk seluruh dunia—berpindah total ke tangan beliau. Dengan turunnya
al-Qur'an:
- hukum disempurnakan,
- syariat dipurnakan,
- dan umat dipersatukan dalam satu kerangka global.
c.
Pemenuhan fungsi Mesianik dalam tradisi Yahudi-Kristen
Dalam tradisi Yahudi, Mesias adalah:
- sosok dari keturunan Ibrahim,
- yang akan membebaskan umat dari kekuasaan kafir,
- membersihkan bait suci,
- dan menegakkan kerajaan tauhid.
Muhammad ﷺ memenuhi seluruh itu:
- Beliau membebaskan Yerusalem dari Romawi melalui tangan
generasi beliau.
- Beliau membersihkan Ka’bah dari berhala.
- Beliau menegakkan agama tauhid global.
- Umat beliaulah yang menjadi Isra’il baru, umat
yang menang bukan karena ras, tetapi karena iman.
Dalam tradisi Kristen, Yesus
menubuatkan kedatangan “Paraklétos”, “yang akan mengajar segala sesuatu” (Yoh
14:26).
Al-Qur'an menyebutnya dengan nama Ahmad (QS As-Saff 61:6).
Nubuat ini bersenyawa secara
sempurna.
d.
Peran eskatologis Muhammad
Dalam eskatologi para nabi:
- zaman akhir akan dipimpin oleh umat Muhammad,
- Al-Mahdi adalah pewaris garis beliau,
- Isa turun bukan membawa agama baru, tetapi kembali
menguatkan agama beliau,
- Dajjal dikalahkan melalui syariat dan cahaya wahyu
beliau.
Semua garis sejarah akhir zaman
berpuncak pada satu poros: risalah Muhammad.
3.
Integrasi Wahyu: Abrahamic Synthesis
Kemunculan
Muhammad bukan sekadar penerusan nubuat, tetapi penyatuan ketiga tradisi
Ibrahim dalam satu kitab dan satu umat.
a.
Integrasi teologis
Al-Qur’an mengintegrasikan:
- konsep tauhid Taurat,
- spiritualitas kasih Injil,
- dan kesempurnaan hukum yang baru.
Ia
menghapus eksternalitas hukum yang membebani Bani Israil, namun mengembalikan
ruh syariat yang hilang di tangan para rabi dan pendeta.
b.
Integrasi antropologis
Untuk pertama kalinya sejak Ibrahim:
- seluruh bangsa dapat menjadi “ummah wahidah”,
- bukan melalui ras,
- bukan melalui kesukuan,
- tetapi melalui akidah yang satu.
Inilah
yang tidak dapat dicapai Yahudi (karena etnosentris) dan Kristen (karena
doktrin inkarnasi).
c.
Integrasi geografis
Tiga pusat wahyu:
- Makkah (Ibrahim),
- Sinai (Musa),
- Galilea–Yerusalem (Isa),
semuanya
terikat dalam satu garis genealogis dan spiritual melalui Muhammad ﷺ.
Beliau adalah simpul sejarah yang menghubungkan tiga peradaban wahyu
menjadi satu narasi utuh.
d.
Integrasi eskatologis
Al-Qur’an memposisikan dirinya
sebagai furqan, penentu akhir seluruh klaim wahyu.
Ia menjadi:
- kunci pembacaan Taurat,
- pelurus Injil,
- dan pembimbing umat menuju akhir zaman.
Tanpa Muhammad dan al-Qur'an,
sejarah kenabian Ibrahim akan tetap terpecah-pecah.
Dengan beliau, seluruhnya menjadi satu tubuh spiritual.
Kesimpulan
Bab 9
Kemunculan Nabi Muhammad ﷺ
merupakan:
- jawaban atas doa Ibrahim,
- puncak nubuat Musa dan para nabi,
- pemenuhan tamsil Yesus tentang bangsa yang diberi
Kerajaan,
- serta simpul integratif seluruh tradisi Ibrahim.
Dengan risalah beliau, sejarah wahyu
mencapai finalitas, dan umat manusia memasuki era universal tauhid tanpa
batas ras dan bangsa.
10. Ketiadaan Bani Israil dalam Pembebasan Yerusalem
Penindasan Romawi — Kejatuhan
Yerusalem — Hilangnya Kemampuan Politik & Spiritual
Yerusalem
adalah pusat nubuatan Ibrahim, tempat para nabi Bani Israil diutus, dan simbol
perjanjian suci. Kota itu sejak awal diproyeksikan menjadi titik perjumpaan
wahyu dan cahaya tauhid kepada semua bangsa.
Namun
justru pada masa ketika nubuat pembebasannya semakin dekat, Bani Israil
tidak hadir sebagai aktor sejarah, tidak memiliki kekuatan politik untuk
mempertahankan diri, tidak memiliki otoritas spiritual untuk memimpin, dan
tidak memiliki kapasitas moral untuk mempertahankan perjanjian.
Ketidakhadiran mereka dalam
pembebasan Yerusalem adalah fakta sejarah sekaligus tanda teologis besar:
mandat telah berpindah, bukan hanya di langit, tetapi juga di bumi.
1. Penindasan Romawi: Awal Runtuhnya Mandat
Ketika
kekuasaan Romawi memasuki Yerusalem (63 SM), perjanjian ilahi dengan Bani
Israil telah memasuki fase paling kritis. Roma tidak hanya menaklukkan kota,
tetapi juga:
- mencopot otonomi politik bangsa Yahudi,
- mengendalikan imam besar lewat intervensi politik,
- menindas kehidupan keagamaan,
- memarginalkan hukum Taurat,
- dan mengubah Yerusalem menjadi provinsi kekaisaran.
Di mata Taurat, penindasan oleh
bangsa kafir adalah alamat utama gagalnya umat menjaga perjanjian.
Hukum Musa menegaskan:
“Jika kamu tidak berpegang pada
hukum-hukum-Ku, Aku akan menyerahkanmu ke tangan bangsa-bangsa kafir…”
(Imamat 26:17; Ulangan 28)
Artinya, penjajahan Romawi bukan
sekadar kekalahan politik, tetapi vonis spiritual.
2. Kejatuhan Yerusalem: Puncak Krisis Perjanjian
Setelah
penyaliban Yesus menurut versi Kristen (dan pengangkatan Isa menurut
al-Qur’an), konflik internal Yahudi meningkat. Mereka terlibat dalam
faksi-faksi radikal, pemberontakan kecil, dan pertumpahan darah sesama mereka.
Pada tahun 70 M:
- Yerusalem dikepung oleh Jenderal Titus,
- Bait Suci kedua dihancurkan,
- altar suci dibakar habis,
- Tabut Perjanjian telah lama hilang,
- para imam dibunuh,
- dan bangsa Yahudi diusir dari tanah itu.
Tidak ada seorang pun dari keturunan
Bani Israil yang mampu melindungi kota suci itu, apalagi membebaskannya.
Bagi para nabi, hancurnya Bait Allah
adalah penutup perjanjian.
Yeremia telah memperingatkan:
“Jika kamu tidak mendengar firman
Tuhan, Aku akan menjadikan rumah ini seperti Silo.”
(Yeremia 26:6)
Silo adalah tempat Tabut Perjanjian
ditinggalkan Tuhan. Ketika Yerusalem diperlakukan seperti Silo, itu berarti:
Allah meninggalkan perjanjian rumah itu.
3. Hilangnya Kemampuan Politik dan Spiritual
a.
Hilangnya kemampuan politik
Sejak zaman Romawi hingga pembebasan
oleh Umar bin Khattab (638 M), selama lebih dari enam abad, bangsa
Yahudi:
- tidak memiliki kerajaan,
- tidak memiliki tentara,
- tidak memiliki pemimpin nabi,
- hidup di diaspora,
- terlilit konflik internal,
- dan tidak mampu merebut kembali Yerusalem.
Kota itu dikuasai berturut-turut
oleh:
- Romawi Pagan,
- Bizantium Kristen,
- Arab-Islam.
Tidak
satu pun fase itu menyaksikan kebangkitan politik Yahudi. Mereka tidak pernah
menjadi pihak yang menentukan arah sejarah.
Ini
bukan kebetulan sejarah, tetapi konsekuensi teologis dari penolakan
mereka terhadap nabi-nabi.
b.
Hilangnya kemampuan spiritual
Bani Israil pernah menjadi bangsa
spiritual: rumah para nabi, pemegang Taurat, penerima wahyu, dan umat
perjanjian.
Namun setelah:
- membunuh para nabi (QS 2:87),
- memutarbalikkan hukum,
- menjadikan Taurat sebagai ritual etnis,
- menolak Isa,
- dan akhirnya menolak Muhammad,
mereka kehilangan ruh kenabian.
Taurat sendiri bersaksi:
“Kemuliaan Tuhan akan pergi
meninggalkan bait itu…”
(Yehezkiel 10:18)
Tanpa
kemuliaan itu, mereka bukan lagi umat wahyu, hanya sekumpulan etnis yang
mempertahankan tradisi tanpa ruh.
Kesimpulan Bab 10
Ketiadaan Bani Israil dalam
pembebasan Yerusalem adalah:
1.
Fakta sejarah:
- Mereka tidak hadir sebagai kekuatan politik.
2.
Bukti geopolitik:
- Mandat kepemimpinan telah sirna sejak Romawi menjajah.
3.
Bukti teologis:
- Penghancuran Bait Allah adalah penutup perjanjian lama.
4.
Bukti nubuatan:
- Justru saudara mereka, keturunan Ismail, yang
ditakdirkan membebaskan kota itu.
Yerusalem diselamatkan bukan oleh
keturunan Ishaq, tetapi oleh keturunan Ismail, menunjukkan bahwa:
Mandat Ibrahim telah berpindah
tangan — sebagaimana telah dinubuatkan.
11. Fakta Besar: Pembebasan oleh Bangsa Ismail
Pembebasan oleh Umar — Perlindungan
kepada Yahudi — Rekonstruksi Toleransi — Bukti Mandat Telah Berpindah
Jika
ada satu peristiwa sejarah yang menjadi “pembuktian terbuka” (demonstration of
prophecy) bahwa mandat spiritual Bani Israil telah dialihkan dari keturunan
Ishaq kepada keturunan Ismail, maka peristiwa itu adalah pembebasan
Yerusalem oleh Khalifah Umar bin Khattab (638 M).
Peristiwa
ini bukan sekadar kemenangan militer.
Itu adalah penutup sebuah nubuatan panjang yang dimulai dari Ibrahim,
dibawa oleh Musa, dikabarkan oleh Yesaya dan Mikha, disimbolkan oleh Yesus, dan
akhirnya digenapi dalam sejarah oleh umat Muhammad — saudara mereka sendiri.
1. Pembebasan oleh Umar: Puncak Nubuatan Eskatologis
Semitis
Ketika pasukan Islam — keturunan
Ismail — memasuki Yerusalem, situasinya sangat berbeda dari
penaklukan-penaklukan sebelumnya:
- Tidak ada pembantaian.
- Tidak ada perusakan tempat suci.
- Tidak ada pengusiran massal.
- Tidak ada balas dendam sejarah terhadap Yahudi atau
Kristen.
Umar
bin Khattab datang sebagai pemimpin spiritual, bukan penakluk politik.
Patriark
Sophronius, pemimpin tertinggi gereja Yerusalem waktu itu, langsung meminta Umar
sendiri yang menerima penyerahan kota, bukan jenderal Abu Ubaidah, karena:
“Kami
telah membaca dalam kitab kami bahwa kota ini akan dibebaskan oleh seorang
lelaki saleh, rendah hati, dan penuh keadilan.”
Ini
adalah konfirmasi dari dalam tradisi mereka sendiri — bahwa pembebas
Yerusalem bukanlah bangsa Israel, bukan Romawi, bukan sekutu-sekutu mereka,
tetapi keturunan Ismail, bangsa “yang akan menjadi besar” sebagaimana
dijanjikan kepada Hajar.
Umar memasuki Yerusalem dengan:
- pakaian lusuh,
- tanpa jubah kerajaan,
- tanpa tanduk kemenangan,
- hanya dengan debu perjalanan,
- dan akhlak seorang nabi sejati.
Kedatangannya
adalah simbol mandat yang telah berpindah dari satu rumah Ibrahim ke
rumah Ibrahim yang lain.
2. Perlindungan kepada Yahudi: Koreksi atas Luka
Sejarah
Selama lebih dari 500 tahun:
- Romawi Pagan
menindas Yahudi,
- Bizantium Kristen
mengusir mereka dari kota,
- dan melarang Yahudi menginjakkan kaki di Yerusalem.
Ironisnya,
bangsa yang mereka harapkan sebagai penyelamat — keturunan Ishaq sendiri —
justru terus menindas mereka dalam sejarah panjang diaspora.
Tetapi ketika umat Muhammad datang:
- umat Yahudi diizinkan kembali tinggal di Yerusalem,
- diberi perlindungan penuh,
- diberi hak beribadah,
- dan tidak dipaksa memeluk Islam.
Fakta ini sering tidak disadari
publik:
Hanya Islam yang mengizinkan Yahudi
kembali ke Yerusalem setelah ratusan tahun diusir.
Ini bukan peristiwa sejarah biasa,
melainkan pemulihan rumah Ibrahim melalui tangan saudaranya, Ismail.
Dalam perspektif teologi nubuatan:
Saudara yang “dibuang” (Ismail)
kembali sebagai saudara yang menyelamatkan, bukan menghukum.
Ini adalah inversi teologis yang
sangat dalam, memenuhi pola-pola nubuat Semitis.
3. Rekonstruksi Toleransi: Tanda Bahwa Pembebas Adalah
Pewaris Sejati
Setelah pembebasan itu, Yerusalem
berubah total.
Di bawah pemerintahan Islam:
- Kristen tetap mempertahankan gereja-gereja pentingnya,
- Yahudi dapat kembali beribadah,
- tidak ada paksaan agama,
- tidak ada penghancuran simbol-simbol iman,
- tidak ada penistaan tempat-tempat suci,
- dan kota kembali makmur.
Perjanjian Umar kepada penduduk
Yerusalem adalah salah satu dokumen toleransi paling monumental dalam sejarah
agama-agama.
Isi perjanjiannya:
- keselamatan untuk gereja,
- kebebasan untuk para rahib,
- jaminan bagi umat Yahudi,
- larangan pembongkaran tempat suci Nasrani,
- dan perlindungan bagi harta semua orang.
Tidak ada kekaisaran lain pada masa
itu — baik Romawi, Persia, maupun suku-suku Eropa — yang memiliki standar moral
seperti itu.
Ini standar kenabian.
Dan standar kenabian hanya dimiliki oleh pewaris mandat.
4. Bukti Bahwa Mandat Spiritual Telah Berpindah
Pembebasan
Yerusalem oleh bangsa Ismail mengandung empat bukti teologis bahwa mandat
Ibrahim telah beralih:
a.
Bani Israil tidak mampu menyelamatkan kotanya sendiri
Selama ratusan tahun mereka tidak
hadir sebagai subyek sejarah.
Mandat telah lepas.
b.
“Saudara mereka” — keturunan Ismail — yang datang membebaskan
Taurat selalu menyebut Ismail
sebagai saudaramu.
Pembebasan oleh Umar adalah penggenapan literal nubuat itu.
c.
Pembebas membawa akhlak kenabian, bukan ambisi politik
Tanda ini hanya mungkin pada umat
yang memikul risalah.
d.
Peristiwa ini memenuhi pola nubuatan Taurat, Injil, dan Qur’an
Semua
kitab menegaskan perpindahan mandat dari pembangkang kepada bangsa yang rendah
hati dan kembali kepada tauhid murni.
Dengan kata lain:
Yerusalem menerima kembali pemilik spiritualnya — bukan pemilik etnisnya.
Kesimpulan Bab 11
Pembebasan Yerusalem oleh Umar
adalah:
- puncak sejarah Semitik,
- realisasi nubuatan Musa, Yesaya, dan Yesus,
- tanda bahwa mandat kenabian telah dialihkan dari Ishaq
kepada Ismail,
- bukti bahwa agama “Salām” kembali memimpin kota damai
itu.
Yerusalem
tidak dibebaskan oleh bangsa yang merasa “dipilih”,
tetapi oleh bangsa yang dipilih ulang melalui wahyu terakhir.
12.
Mengapa Ini Menjadi “Tanda” dalam Eskatologi Semitis ?
Saudara
Membebaskan Saudara
Secara
genealogis, bangsa-bangsa Samawi lahir dari akar Ibrahim yang sama, namun
sejarah memisahkan jalan mereka ke dalam dua cabang besar: Ishaq dan Ismail.
Pembebasan Yerusalem oleh Umar bin al-Khattab bukan hanya peristiwa politik,
tetapi sebuah simbol yang memulihkan hubungan lama yang telah rusak. Untuk
pertama kalinya dalam sejarah panjang konflik, seorang keturunan Ismail
datang bukan sebagai penakluk yang menumpahkan darah, namun sebagai saudara
yang mengembalikan kota suci kepada kesakralan aslinya.
Narasi
ini berlawanan dengan pola sejarah—di mana kekuatan baru biasanya menundukkan
dan menghapus identitas pemilik lama—karena Umar justru menjamin keselamatan
komunitas Yahudi, membuka kembali kota untuk mereka, dan menolak membangun
tempat ibadah Islam di atas reruntuhan suci Bani Israil. Aksi itu menjadi
sebuah pesan profetik: bahwa hubungan saudara yang retak sedang dipulihkan dari
arah yang tidak mereka duga.
Dalam
tradisi Semitis, peristiwa seperti ini dipahami bukan kebetulan, tetapi tanda
(ḥayah, ôth, ayāh): suatu isyarat bahwa perjalanan sejarah berada dalam orbit
nubuat Ibrahim.
Kembalinya Amanah kepada Garis Ibrahim yang Lain
Amanah
teologis—yang dalam kitab-kitab Samawi disebut perjanjian—selalu
berkaitan dengan dua unsur: tauhid dan ketaatan kepada wahyu yang
hidup. Ketika salah satu unsur hilang, amanah berpindah dari satu kaum ke
kaum lain. Taurat merekam pola ini berulang-ulang: dari generasi ke generasi,
dari hakim ke hakim, dari raja ke raja.
Dalam
kerangka besar itu, hilangnya kepemimpinan spiritual Bani Israil bukan sekadar
tragedi internal, tetapi bagian dari mekanisme Tuhan dalam menjaga
kesinambungan risalah. Ketika mereka kehilangan kesanggupan menjaga tauhid dan
keadilan, amanah berpindah kepada garis Ibrahim lainnya—Ismail—yang pada saat
itu justru menjaga tradisi kesederhanaan, moralitas dasar, dan penyembahan
Allah yang Mahasatu, sekalipun tanpa syariat formal.
Pembebasan
Yerusalem oleh bangsa Ismail menjadi tanda perpindahan amanah dalam
skala global: bahwa pewaris berikutnya telah ditentukan sebelum wahyu terakhir
diturunkan, dan bahwa panggung sejarah sedang disiapkan bagi kedatangan nabi
penutup.
Persiapan
Menuju Risalah Penutup
Dalam
perspektif eskatologi Semitis, sejarah bukan rangkaian peristiwa acak, tetapi
desain yang ditata untuk mempersiapkan puncak risalah: kedatangan sosok yang
disebut dalam tradisi sebagai “Nabi seperti Musa”, “Elia yang dinantikan”,
“Ahmad”, atau “Paraklētos”.
Pembebasan
Yerusalem tahun 637 M memegang peran khusus dalam desain tersebut:
- Menandai berakhirnya dominasi Romawi, kekuatan yang dalam literatur Semitis sering
dikaitkan dengan “kaki-kaki terakhir” dari kerajaan-kerajaan dunia
pra-akhir zaman.
- Menyiapkan ruang suci bagi munculnya agama global, bebas dari paganisme dan politik korup yang
sebelumnya menguasainya.
- Menghadirkan bangsa baru—bangsa yang tidak tercatat dalam catatan Bani Israil
sebagai pewaris nubuat—untuk mengambil peran sebagai pembawa cahaya
terakhir.
Bahwa
kaum yang mereka anggap “tidak memiliki warisan nubuat” justru datang
menyelamatkan tanah mereka, menjadi sebuah tanda besar bahwa Allah
sedang membuka babak baru dalam sejarah profetik.
Dalam
bingkai eskatologi, peristiwa ini menjadi semacam prolog: dunia Semitis sedang
diarahkan untuk menerima risalah yang menyempurnakan Taurat dan Injil,
menyatukan keturunan Ishaq dan Ismail dalam visi tauhid universal, dan
mempersiapkan zaman ketika amanah kebenaran tidak lagi terikat pada etnis,
tetapi pada siapa yang menjaga ruh wahyu.
13.
Benturan Dua Memori Spiritual
Ingatan
Ishaq vs Ingatan Ismail
Konflik
di Al-Aqsha tidak dimulai pada 1948, bukan pula pada 1917, atau 1897. Akar
paling dalamnya hidup dalam dua ingatan spiritual yang terbentuk selama
ribuan tahun—ingatan Ishaq dan ingatan Ismail—yang masing-masing membawa narasi
keagamaan dan trauma sejarah yang saling bertabrakan.
Ingatan Ishaq adalah memori tentang:
- perjanjian eksklusif,
- tanah yang dijanjikan,
- Bait Suci sebagai pusat kosmos,
- trauma penindasan Babilonia dan Romawi,
- dan kerinduan berabad-abad untuk “kembali” dan
membangun kembali rumah Tuhan.
Ingatan
ini hidup dalam doa harian, liturgi Pesach, Mazmur, dan impian mesianik bangsa
Yahudi. Yerusalem bagi mereka bukan kota geopolitik, tetapi simbol kosmik
dari keberlanjutan identitas.
Di sisi lain, ingatan Ismail
adalah memori tentang:
- keterpinggiran dari garis resmi kenabian versi
Yahudi–Kristen,
- tetapi sekaligus pewarisan langsung kepada tradisi
Ibrahim yang paling murni,
- kota suci Mekah dan Madinah sebagai pusat tauhid,
- pengalaman berabad-abad sebagai penjaga kesucian
Semitis.
Yerusalem
bagi umat Islam adalah amanah yang Allah serahkan kepada mereka setelah
generasi sebelumnya gagal menjaganya, dan kemudian dimuliakan oleh Isra’–Mi’raj
dan diteguhkan kembali oleh pembebasan Umar.
Dengan
demikian, konflik modern Arab–Israel tidak hanya tentang tanah, tetapi dua
memori besar yang sama-sama merasa berhak, sama-sama merasa “dipilih”,
dan sama-sama membawa luka sejarah yang panjang. Memori spiritual itu menjadi
lensa yang mengeraskan posisi politik kedua belah pihak.
Upaya Membangun Ulang Kuil
Di
pusat konflik memori itu berdiri Kompleks Al-Aqsha, yang bagi Yahudi
adalah lokasi Bait Suci Pertama (Salomo) dan Bait Suci Kedua
(Herodes), pusat seluruh liturgi dan hukum korban. Bagi banyak kalangan
religius Yahudi, pembangunan kembali Kuil adalah:
- syarat kedatangan Mesias,
- pemulihan identitas nasional,
- dan penyelesaian luka kolektif dua ribu tahun.
Di
sinilah muncul ketegangan: upaya simbolik dan politis untuk “menegakkan kembali
Bait Ketiga” sering tidak dipahami sebagai proyek arsitektur semata, tetapi
sebagai tanda supremasi spiritual dari satu memori terhadap memori lain.
Bagi
umat Yahudi religius, membangun kembali Kuil adalah puncak penantian.
Bagi Muslim, itu adalah:
- pembatalan sejarah suci Islam,
- upaya penghapusan identitas profetik mereka,
- serta ancaman pada tempat suci yang dilindungi Allah.
Konflik
Al-Aqsha menjadi begitu sensitif bukan karena kubah, batu, atau bangunan,
tetapi karena yang dipertaruhkan adalah pusat peradaban, puncak
nubuatan, dan posisi siapa yang menjadi pewaris Ibrahim yang sah.
Respons
Teologis Islam
Islam
memandang Al-Aqsha dalam kerangka tauhid universal, bukan etnik. Jika Yahudi melihat
Yerusalem sebagai pusat identitas Bani Israil, Islam melihatnya sebagai:
- amanah Ibrahim,
- bagian dari jaringan rumah-rumah suci
(Ka‘bah–Haram–Aqsha),
- titik mi’raj Nabi Muhammad,
- dan simbol perpindahan mandat risalah dari
eksklusivisme etnik menuju umat universal.
Respons
teologis Islam terhadap upaya membangun ulang Kuil bukan sekadar penolakan
politik, tetapi penegasan bahwa:
- Mandat kesucian telah berpindah
Umat Muhammad mewarisi kesucian Yerusalem bukan karena etnis, tetapi
karena mereka menjaga tauhid dan shalat—dua syarat yang diulang dalam
Taurat dan Injil.
- Al-Aqsha adalah bagian dari kesinambungan Ibrahim
Bukan monumen Arab, tetapi simpul suci yang menghubungkan seluruh nabi.
Menghilangkannya berarti menghapus sejarah semua nabi, termasuk Yahudi.
- Mengembalikan Kuil untuk supremasi etnik bertentangan
dengan esensi tauhid
Karena tauhid menolak sakralitas berbasis ras, dan menegaskan bahwa
kesucian sejati diukur oleh ketaatan kepada wahyu terakhir, bukan garis
keturunan.
- Eskatologi Islam tidak mensyaratkan penghancuran
Al-Aqsha
Justru Al-Aqsha menjadi tanda akhir zaman karena ia menjadi saksi
perebutan klaim spiritual antara dua cabang keluarga Ibrahim.
Akar
Konflik yang Sesungguhnya
Jika
konflik Palestina–Israel diringkas hanya sebagai masalah tanah, maka
diagnosisnya tidak utuh. Pangkal konflik yang sesungguhnya adalah:
- dua memori profetik yang saling berebut status pewaris
Ibrahim,
- dua sejarah penderitaan yang masing-masing merasa
paling sah,
- dua nubuatan yang saling menunggu pemenuhannya di lokasi
yang sama,
- dan dua identitas yang tidak mau kehilangan pusat
kosmiknya.
Selama
memori-memori ini tidak ditafsirkan ulang dalam kerangka tauhid universal,
konflik akan terus berulang seperti gema dari ribuan tahun sejarah.
14. Kesalahan Epistemik Zionisme
Zionisme
modern bukan hanya proyek politik; ia berdiri di atas kesalahan epistemik—kesalahan
cara memahami sumber pengetahuan keagamaan—yang membuat bangunannya rapuh baik
secara historis, teologis, maupun profetik. Kesalahan epistemik inilah yang
membuat Zionisme berusaha menghidupkan kembali mandat yang telah dicabut oleh
Tuhan sendiri menurut kesaksian Taurat, Injil, dan Al-Qur’an.
Tiga kesalahan dasarnya adalah
sebagai berikut.
1.
Mengganti Agama dengan Etnis
Zionisme modern berangkat dari
premis: bahwa Bani Israil—sebagai etnis—adalah pewaris otomatis seluruh
janji Tuhan kepada para nabi. Tetapi menurut semua kitab samawi, status
“umat pilihan” bukan diwariskan secara genetis, melainkan:
- syarat ketaatan
(Imamat 26:3–46),
- kesucian moral
(Ulangan 10:12–22),
- ketaatan pada perjanjian (Yeremia 7:23–28).
Taurat sendiri menegaskan bahwa
Tuhan tidak terikat kepada etnis:
“Bukannya karena kamu yang terbanyak
dari segala bangsa maka TUHAN mengasihi kamu… sebab kamu yang paling kecil.”
(Ulangan 7:7)
Dan ketika mereka menyimpang:
“Kamu bukan lagi umat-Ku.”
(Hosea 1:9)
Artinya, pilihan Ilahi bersifat
moral-ruhani, bukan etnik.
Zionisme menukar konsep ummah
(umat yang taat kepada Tuhan) dengan ethnos (bangsa biologis).
Inilah kesalahan epistemik pertama: penyempitan wahyu menjadi ras.
2.
Mengabaikan Nubuat Musa & Isa
Zionisme modern tidak berdiri di
atas dasar Taurat dan Injil—ia berdiri di atas pembacaan selektif yang
mengabaikan nubuat paling penting:
a.
Nubuat Musa tentang nabi dari “saudara mereka” (Ulangan 18:18)
Musa menubuatkan bahwa Tuhan akan
mengutus seorang nabi:
“Aku akan membangkitkan bagi mereka
seorang nabi dari antara saudara mereka—dan Aku akan menaruh firman-Ku
di MULUTNYA.”
“Saudara mereka” dalam seluruh
Taurat selalu merujuk kepada keturunan Ismail, bukan Bani Israil
itu sendiri.
Nubuat ini diabaikan total oleh
Zionisme karena mengakui kebenarannya berarti:
- mengakui mandat berpindah kepada bangsa lain,
- dan menerima Muhammad sebagai penerus Musa.
b.
Nubuat Yesus tentang perpindahan kerajaan (Matius 21:43)
Yesus berkata dengan sangat jelas:
“Kerajaan Allah akan diambil dari
padamu dan diberikan kepada bangsa lain yang akan menghasilkan buahnya.”
Zionisme
menolak nubuatan ini dengan menganggapnya “non-politik”, padahal di Yerusalem
ia memiliki konsekuensi langsung:
jalur mandat dipindahkan dari Bani Israil kepada umat lain yang menjaga
tauhid dan moral kenabian.
c.
Nubuat Isa dalam Al-Qur’an: Ahmad (QS 61:6)
Isa berkata kepada Bani Israil:
“Aku memberi kabar gembira tentang
seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad.”
Menolak Muhammad berarti menolak
nubuat Isa sendiri.
Akan
tetapi Zionisme—dan sebagian besar gerakan religius yang mendukungnya—menutup
mata terhadap seluruh rangkaian nubuatan ini, karena penerima mandat profetik
tidak lagi “mereka”.
3.
Memaksakan Mandat yang Sudah Hilang
Kesalahan epistemik terbesar
Zionisme adalah berusaha merebut kembali mandat spiritual yang:
- Sudah dicabut oleh Tuhan (Yeremia 11:10–11; Hosea
9:15–17).
- Sudah dialihkan kepada bangsa lain oleh Yesus (Matius
21:43).
- Sudah digantikan oleh risalah terakhir kepada bangsa
Ismail (QS Al-Baqarah 143, QS Al-An’am 89-90).
- Sudah ditegaskan oleh sejarah nyata: pembebasan
Yerusalem dilakukan oleh saudara mereka, bukan oleh mereka.
Dalam bahasa teologi:
- Mandat bukan warisan biologis.
- Mandat adalah amanah ilahi.
- Dan amanah itu berpindah karena kegagalan moral dan
penolakan terhadap nabi-nabi.
Zionisme mencoba membalik sejarah
ini melalui jalan:
- kolonialisme modern,
- pembacaan ulang tradisi,
- dan reinterpretasi politik atas kitab suci,
…seolah mandat bisa direbut oleh
kekuatan duniawi.
Padahal Taurat sendiri
memperingatkan:
“Jika kamu tidak setia kepada-Ku,
negeri itu akan memuntahkan kamu.”
(Imamat 18:28)
Dan sejarah membuktikan:
- Babilonia mengusir mereka,
- Romawi menghapus negara mereka,
- dan pembebasan Yerusalem justru dilakukan Umar bin
Khattab.
Inilah bukti kosmis bahwa mandat
kenabian bukan lagi milik mereka.
Kesimpulan
Subbab
Kesalahan epistemik Zionisme dapat diringkas
dalam satu kalimat:
Mereka
berusaha membangun proyek eskatologis tanpa mandat eskatologis.
Dan karena itu, seluruh proyek
Zionis berdiri di atas fondasi yang rapuh:
- secara teologis,
- secara historis,
- dan secara profetik.
Zionisme bukan kelanjutan risalah
Ibrahim—ia adalah penyimpangan dari risalah Ibrahim.
15. Mengapa Agama Salām Lebih Berhak atas Al-Aqsha?
Guarding
covenant logic — Mandat akhir Ibrahim — Bukti historis, moral, dan wahyu
Masalah
Al-Aqsha bukan sekadar konflik lahan. Ia adalah pertarungan antara siapa
yang berhak menjaga Amanah Ibrahim. Hak ini tidak diwariskan melalui darah,
tetapi melalui ketaatan, kontinuitas tauhid, dan kelayakan moral sebagai
penjaga perjanjian Tuhan.
Dan ketiga kitab suci Semitik
sepakat:
yang paling berhak menjaga Tanah Suci adalah umat yang tetap memegang agama
Salām, agama para nabi.
Bab
ini membuktikan hal itu dalam tiga dimensi: logika perjanjian, mandat
Ibrahim, serta rekam jejak sejarah dan wahyu.
1. Guarding Covenant Logic — Logika Penjaga Perjanjian
Dalam oikumene Semitik
(Taurat–Injil–Qur’an), tanah suci hanya boleh diatur oleh bangsa atau umat
yang menjaga perjanjian (covenant).
Kitab-kitab suci menyebut parameter
penjaga perjanjian:
a.
Tauhid murni
“Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku.”
— Keluaran 20:3
b.
Menegakkan keadilan dan ketakwaan
“Lakukanlah yang benar dan adil.”
— Yesaya 56:1
c.
Tidak menumpahkan darah tak bersalah
“Tanganmu penuh dengan darah!”
— Yesaya 1:15
d.
Tidak membunuh nabi, tidak memanipulasi syariat
— Kesaksian para nabi dari Umat Lama
Ketika Bani Israil melanggar
syarat-syarat ini, para nabi mengumumkan:
“Kerajaan itu akan diambil dari
padamu.”
— Yesus, Matius 21:43
Al-Qur’an menegaskan ulang:
“Mereka membunuh para nabi tanpa
hak… karena itu perjanjian dicabut dari mereka.”
— QS 2:61, 3:112
Logika perjanjian Tuhan SANGAT
jelas:
siapa yang tidak menjaga amanat, tidak boleh menjaga tanah suci.
Dan dalam sejarah, setelah mereka
melanggar syarat-syarat ini, Tuhan sendiri:
- mengizinkan Babilonia menghancurkan kuil mereka,
- mengizinkan Romawi menghapus negara mereka,
- dan mengizinkan bangsa Ismail membebaskan kota suci
itu.
Itu bukan kebetulan sejarah.
Itu adalah penegakan covenant logic.
2. Mandat Akhir Ibrahim — Pewarisan Amanah kepada
Agama Salām
Setelah perjanjian Ibrahim diberikan
kepada dua jalur (Ishaq dan Ismail), kedua garis ini memiliki fungsi berbeda:
Garis
Ishaq (Bani Israil)
- membawa siklus nabi-nabi yang memperbaiki umat
- tetapi berakhir dengan penolakan terhadap nabi-nabi
terakhir
- dan dengan itu mandat kenabian ditutup bagi mereka
Garis
Ismail
- tidak mewarisi syariat apa pun sampai Muhammad
- namun tetap memegang fitrah tauhid Ibrahim
- dan pada akhirnya menerima risalah global terakhir
Al-Qur’an menyimpulkan:
“Inilah warisan Ibrahim… dan umat
ini dijadikan umat pertengahan (penjaga amanah).”
— QS 2:130–143
Yesus sudah mengisyaratkan:
“Kerajaan Allah akan diberikan
kepada bangsa lain yang menghasilkan buah.”
— Matius 21:43
Maksud “bangsa lain” bukan Romawi,
bukan Yunani—karena mereka tidak bertauhid.
Yang dimaksud adalah umat yang akan menerima rasul bernama Ahmad (QS
61:6).
Karena itu agama Salām (Islam) bukan
pesaing agama para nabi—
itu adalah puncak pewarisan mandat Ibrahim.
Sehingga secara teologis:
Yang menjaga Al-Aqsha haruslah
pewaris mandat terakhir Ibrahim, bukan pewaris etnis belaka.
3. Bukti Historis, Moral, dan Wahyu bahwa Agama Salām
Lebih Berhak
A.
Bukti Historis
- Yerusalem tidak pernah dibebaskan oleh Bani Israil
sejak zaman Romawi.
Mereka tidak memiliki kekuatan politik, militer, atau spiritual untuk
membebaskan diri.
- Pembebasan Yerusalem dilakukan oleh Umar bin Khattab, keturunan Ismail.
Fakta ini tidak bisa dihapus:
- tidak ada satu pun nabi Bani Israil setelah Isa
- tidak ada satu pun raja Bani Israil yang kembali ke
Yerusalem
- tetapi seorang Muslim, pewaris Ibrahim dari jalur
Ismail, membebaskannya
- Umar mengembalikan Yahudi ke kota itu setelah 500 tahun dilarang Romawi.
Artinya:
- umat Muhammad tidak memusuhi Yahudi
- tetapi justru mengembalikan kehormatan spiritual
mereka
- sesuai amanat Ibrahim: menjaga hak seluruh keturunan
Ini sejarah, bukan dogma.
B.
Bukti Moral
Perbandingan sederhana:
Muslim
ketika berkuasa di Jerusalem (637–1917):
- tidak menghancurkan Gereja Makam Kudus
- memberikan Piagam Umar yang menjamin hak Yahudi dan
Kristen
- tidak ada pembersihan etnis
- tidak ada larangan ibadah agama lain
- tidak merobohkan sia-sia tempat suci
Zionisme
modern (sejak 1948):
- pembersihan etnis
- penghancuran 500+ desa Palestina
- penyerbuan masjid berulang kali
- rencana penghancuran Masjid Al-Aqsha
- pembunuhan anak-anak dan warga sipil
- politik supremasi etnis yang dijustifikasi agama
Siapa yang layak disebut “penjaga
amanah suci”?
Yang menjaga darah tak
bersalah—bukan yang menumpahkannya.
C.
Bukti Wahyu
- Taurat:
Tanah suci diwariskan kepada umat yang “melakukan hukum Tuhan”.
Ketika mereka gagal, tanah itu “memuntahkan mereka”.
- Injil:
Mandat kerajaan dipindahkan dari Bani Israil kepada “bangsa lain”.
- Al-Qur’an:
Risalah akhir menyempurnakan seluruh tradisi nabi sebelumnya, sehingga
umat ini menjadi penjaga amanah terakhir.
Artinya:
wahyu menyatakan bahwa kekhalifahan atas Yerusalem berada di tangan umat
yang masih menjaga tauhid dan keadilan — yaitu umat Muhammad.
Kesimpulan Bab
Agama
Salām (Islam) lebih berhak atas Al-Aqsha bukan karena etnis, bukan karena
jumlah, bukan karena senjata, tetapi karena:
1.
Mereka satu-satunya pewaris mandat Ibrahim yang masih menjaga tauhid murni.
2.
Mereka yang menerima risalah terakhir yang diisyaratkan Musa dan Isa.
3.
Mereka yang secara historis membebaskan dan menjaga Yerusalem.
4.
Mereka yang paling konsisten memenuhi syarat moral penjaga Tanah Suci.
Dengan demikian, dari perspektif:
- Covenant logic (Taurat),
- Prophetic succession (Injil),
- Final revelation (Al-Qur’an),
- dan sejarah faktual,
Al-Aqsha berada dalam amanah umat
Muhammad sebagai penjaga risalah Ibrahim di akhir zaman.
Bagian VII — Penutup : Risalah Salām
sebagai Jalan Akhir Umat Manusia?
16. RisāLah Salām Sebagai Jalan Akhir Umat Manusia
Kembali
kepada agama semua nabi — Kemurnian pembacaan kitab — Rekonstruksi teologi
Abrahamik — Al-Aqsha sebagai titik balik eskatologi
Akhir
dari seluruh kajian panjang tentang mandat Ibrahim, perpindahan amanah, krisis
Jerusalem, dan kebangkitan garis Ismail, menegaskan satu kesimpulan besar:
Dunia
harus kembali kepada agama Salām — agama asli para nabi.
Bukan Yahudi, bukan Kristen, bukan Islam sebagai identitas politik,
tetapi Islam sebagai nama lain dari ketundukan kepada Tuhan Yang Esa:
agama Ibrahim, Musa, Yesus, dan Muhammad.
Pada bab penutup ini, empat fondasi final
ditegakkan.
1. Kembali kepada Agama Semua Nabi
Jika manusia jujur membaca
kitab-kitab suci tanpa beban identitas, satu kenyataan muncul:
para nabi tidak pernah membawa agama berbeda.
- Ibrahim bukan Yahudi dan bukan Kristen.
- Musa mengajarkan tauhid dan etika universal.
- Yesus tidak membawa agama baru, tetapi membenahi moral
Bani Israil.
- Muhammad menyempurnakan rantai risalah dan berharap
manusia kembali ke millah Ibrahim.
Tiga kitab suci menyatakan:
“Tuhan itu Esa.”
“Sembahlah Dia saja.”
“Berbuatlah adil.”
Dengan
demikian, agama Salām bukan agama etnis atau agama Arab, tetapi jalan pasrah
total kepada Allah — jalan yang menjadi inti setiap nabi.
Penyatuan
umat manusia bukan dengan mencampur keyakinan, tetapi kembali kepada akar
tunggal ajaran kenabian.
2. Membaca Kitab Suci dengan Kemurnian Makna
Akar semua perpecahan Semitik
terjadi karena:
- etnosentrisme menutupi mata batin,
- dogma mengalahkan wahyu,
- tafsir perubahan menggantikan makna asli,
- dan pembacaan literal menggantikan pembacaan hakikat.
Maka perintah para nabi selalu sama:
“Bacalah kitab dengan kebenaran.”
Karena ketika kitab dibaca tanpa
hawa nafsu:
- Taurat mengisyaratkan datangnya nabi dari “saudara
mereka”.
- Yesus mengabarkan “penolong setelah aku”, “batu penjuru
yang ditolak”, dan “kerajaan akan dipindahkan”.
- Al-Qur’an mengonfirmasi seluruh nubuatan sebelumnya dan
memperjelas yang telah diselewengkan.
Jika manusia membaca kitab suci
dengan hati bersih,
mereka menemukan bahwa risalah Muhammad bukan anomali,
tetapi mata rantai terakhir dari sistem wahyu yang satu.
Kesucian makna harus kembali sebelum
umat manusia dapat bersatu.
3. Rekonstruksi Teologi Abrahamik
Masa depan agama-agama besar
tergantung pada kemampuan merekonstruksi kembali teologi Ibrahim:
a.
Tauhid sebagai pusat, bukan identitas etnis
Kembali kepada keimanan bahwa Tuhan
itu Esa dan universal, tidak dimiliki satu suku.
b.
Kenabian sebagai sistem pendidikan spiritual umat manusia
Dari Adam hingga Muhammad — satu
kurikulum, bukan tiga agama terpisah.
c.
Mandat Tuhan berpindah sesuai kelayakan moral
Tidak selamanya berada pada satu
bangsa.
d.
Tanah suci hanya dapat dijaga oleh umat yang menjaga kesucian moralnya
Bukan oleh yang memaksakan klaim
sejarah.
e.
Keadilan dan welas asih sebagai hukum tertinggi
Inilah inti ajaran Musa, inti
khutbah Yesus di bukit, dan inti syariat Muhammad.
Rekonstruksi teologi ini harus
terjadi jika dunia ingin keluar dari konflik identitas dan kembali ke misi
suci:
membangun masyarakat tauhid yang adil di muka bumi.
4. Al-Aqsha sebagai Titik Balik Eskatologi
Tidak ada tempat suci yang memiliki
peran eskatologis sebesar Al-Aqsha.
Ia bukan sekadar masjid, bukan sekadar bekas kuil, tetapi:
- arah pertama kiblat seluruh umat Ibrahim
- titik mi’raj Muhammad
- tanah pertemuan seluruh nabi
- pusat rekonstruksi perjanjian Tuhan
- simbol persaudaraan Ishaq dan Ismail
Dan dalam eskatologi Semitik:
- Al-Aqsha adalah tempat Yesus kelak kembali menegakkan
keadilan.
- Al-Aqsha adalah tempat Dajjal akan ditolak.
- Al-Aqsha adalah tempat persatuan kembali umat-umat
Ibrahim terjadi.
- Al-Aqsha adalah tempat mandat dunia berpindah di akhir
zaman.
Karena itu, konflik Al-Aqsha bukan
konflik tanah:
itu konflik tentang siapa yang layak menjadi penjaga amanah Tuhan di akhir
zaman.
Umat Muhammad dipanggil bukan untuk
sekadar membela bangunan,
tetapi untuk menjaga makna, moral, dan amanah suci yang ia wakili.
Dan ketika Al-Aqsha kembali tegak
sebagai rumah Salām,
seluruh dunia akan menyaksikan:
bangkitnya kembali agama para nabi
kembalinya tauhid Ibrahim ke pusat dunia
berakhirnya supremasi etnis atas nama wahyu
dan dimulainya babak akhir sejarah manusia
— di bawah satu agama yang sama dari
awal sampai akhir:
Agama Salām.