By. Mang Anas
Bagi miliaran Muslim di seluruh dunia, Jazirah Arab bukan sekadar kawasan geografis. Ia adalah ruang simbolik tempat langit dan bumi pernah bersentuhan melalui wahyu. Dari tanah tandus itulah Al-Qur’an diturunkan, Nabi terakhir diutus, dan Ka'bah ditegakkan sebagai pusat orientasi ruhani umat manusia.
Karena itu, secara psikologis dan historis, dunia Islam selama berabad-abad membangun asumsi bawah sadar bahwa kondisi moral tanah Arab merepresentasikan kondisi spiritual umat Islam secara keseluruhan. Seolah-olah jika jantung peradaban Islam itu sehat, maka sehat pula tubuh umat; dan jika ia membusuk, maka kerusakan itu perlahan akan menjalar ke seluruh sendi dunia Muslim.
Asumsi ini dapat dipahami. Rasulullah ﷺ lahir di sana. Bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab. Kota Makkah dan Madinah menjadi pusat kerinduan jutaan jiwa. Tetapi sejarah berulang kali menunjukkan bahwa kedekatan geografis dengan wahyu tidak pernah otomatis melahirkan kemuliaan moral. Putra Nabi Nuh dapat tenggelam. Istri Nabi Luth dapat binasa. Bahkan Bani Israil—bangsa yang menerima begitu banyak nabi—berulang kali jatuh justru setelah mencapai kemapanan.
Di titik inilah dunia Islam perlu keberanian untuk bercermin.
Sebab jika realitas sebagian negara Teluk modern hari ini ditempatkan di hadapan cermin Al-Qur’an dan sunnah kenabian, maka yang tampak bukanlah wajah “khairu ummah” sebagaimana yang dibayangkan banyak Muslim awam. Yang tampak justru sebuah paradoks besar : kemajuan material yang melesat bersamaan dengan pengikisan ruh peradaban Islam itu sendiri.
Di balik gemerlap Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Manama, dunia sedang menyaksikan lahirnya bentuk baru masyarakat Muslim : religius secara simbolik, tetapi sekular secara struktural ; Islami dalam identitas, tetapi kapitalistik dalam orientasi hidup.
Perjanjian Ibrahim yang Dikhianati di Atas Meja Diplomasi
Iraoni terjadi ketika UEA, Kuwait, Qatar dan Bahrain menandatangani Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, mereka membungkus pragmatisme politik itu dengan narasi perdamaian berkedok nama sang nabi. Namun, cermin Al-Qur'an tidak bisa dikelabui. Aliansi ini tidak dibangun untuk menegakkan keadilan bagi kaum yang tertindas (mustad'afin) di Palestina—yang tanahnya terus dirampas, rumahnya dibongkar, dan anak-anaknya dibunuh,
Dan ketika sebagian negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords, narasi yang dipakai adalah perdamaian, stabilitas regional, investasi, dan masa depan ekonomi. Namun pertanyaan moral yang jauh lebih mendasar jarang diajukan :
Apakah perdamaian dapat disebut bermoral jika dibangun di atas pembiaran terhadap ketidakadilan yang belum selesai?
Selama puluhan tahun, dunia menyaksikan pendudukan wilayah Palestina, perluasan permukiman ilegal, blokade Gaza, pengusiran warga sipil, serta ribuan korban sipil yang terus berjatuhan. Bahkan berbagai lembaga internasional dan organisasi hak asasi manusia global berkali-kali mengeluarkan laporan tentang pelanggaran serius terhadap hak-hak rakyat Palestina. Namun sebagian elit Arab justru bergerak menuju integrasi ekonomi dan keamanan dengan Israel.
Dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah : 124), Ibrahim pernah meminta agar kepemimpinan spiritualnya diteruskan kepada anak cucunya, Allah menjawab dengan ketegasan yang mutlak: "Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim." Status sebagai keturunan biologis atau geografis Ibrahim runtuh seketika jika kezaliman dipelihara. Kezaliman di sini bukan hanya perang fisik, tetapi juga diam atas penindasan—sesuatu yang ditegaskan dalam QS. An-Nisa' : 135 untuk menjadi saksi yang adil walau terhadap diri sendiri, ibu bapak, dan kerabat.
Ketergantungan mutlak UEA, Qatar, Kuwait, Arab Saudi dan Bahrain terhadap payung keamanan Amerika Serikat—dan sekarang kepada sistem pertahanan Israel seperti yang baru saja dilakukan oleh Uni Emirat Arab (melalui teknologi seperti Iron Dome atau Pegasus)—adalah bukti nyata dari kezaliman mereka yang dilakukan secara terang-terangan. Menggantungkan eksistensi dan keselamatan negara kepada kekuatan "binatang bumi" [ meminjam istilah kitab wahyu ] atau adidaya sekuler seraya mengabaikan perintah ilahi : "Dan janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya' dengan meninggalkan orang-orang mukmin." (QS. Ali 'Imran: 28).
Lebih dalam lagi, tindakan ini mengingkari prinsip al-walā' wa al-barā'—loyalitas kepada kaum mukmin dan berlepas diri dari kezaliman serta kelaliman, terutama yang dilakukan terhadap sesama Muslim. Bukannya menjadi benteng terakhir bagi saudara-saudara yang terjepit di Gaza dan Tepi Barat, tanah Ibrahim justru menjadi pintu gerbang bagi legitimasi ekonomi dan pariwisata Israel.
Ghazwul Fikr" dan Ilusi Islam Kemasan
Banyak Muslim mengira bahwa peringatan Al-Qur'an tentang kaum Yahudi dan Nasrani yang tidak akan ridha hingga umat Islam mengikuti millah mereka (QS. Al-Baqarah: 120) berarti pemurtadan massal yang kasat mata. Ini adalah jebakan berpikir yang berbahaya. Iblis dan sekutunya terlalu cerdas untuk membisikkan para penguasa Teluk agar mengganti syahadat mereka dengan teologi salib atau bintang Daud. Hal sekasar itu pasti akan ditolak mentah-mentah oleh rakyat yang masih mencintai agamanya.
Strategi yang digunakan jauh lebih halus dan sistemik : Sekularisasi Fungsional. Yang digeser bukanlah pokok keimanan di atas kertas, melainkan way of life—panduan hidup yang utuh. Umat di kawasan Teluk hari ini terjebak dalam kondisi skizofrenia spiritual : mereka tetap shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, dan mendanai kompetisi hafiz Al-Qur'an bernilai jutaan dolar, namun di saat yang sama mengadopsi materialisme, hedonisme, dan konsumerisme Barat secara paripurna.
Alih-alih menjadi standar moral dunia yang mengoreksi ketimpangan global, beberapa negara teluk Arab khususnya UEA dan Bahrain - negara ini justru memilih untuk larut dan melebur ke dalam arus utama globalisasi barat. Mereka berlomba-lomba menjadi "paling barat di Timur Tengah"—mengejar pengakuan dunia lewat legalisasi alkohol, kebebasan sosial, konser-konser megah, mal raksasa, hotel hotel mewah, klub malam, dan kemewahan yang artifisial lainnya, sementara fungsi korektif terhadap kezaliman global sepenuhnya ditinggalkan.
Al-Qur'an telah mandek di tenggorokan. Ia dibaca dengan suara yang mendayu-dayu dan dicetak di atas kertas-kertas emas berlapis beludru sebagai artefak prestise, tetapi tidak pernah merasuk ke dalam ruang rapat pengambilan kebijakan negara.
Inilah bentuk paling mutakhir dari Ghazwul Fikr (invasi pemikiran) : bukan penghapusan Islam, tetapi pengosongannya dari substansi, lalu pengisiannya dengan ruh baru bernama kapitalisme tanpa batas.
---
Penggenapan Tragis Nubuatan Akhir Zaman
Melihat lanskap Arab Teluk hari ini seperti sedang membaca lembar demi lembar hadis nubuatan Rasulullah ﷺ yang diucapkan 14 abad silam. Apa yang dipuji dunia sebagai "Kisah Sukses Kemajuan Arab Modern" justru merupakan indikator keruntuhan spiritual yang paling akurat dalam eskatologi Islam.
1. Penyakit Wahn yang Menggurita : Rasulullah ﷺ bersabda, "Hampir saja bangsa-bangsa berebut menyerbu kalian, seperti orang-orang yang rakus berebut makanan dalam sebuah piring." Para sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami yang sedikit saat itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bahkan jumlah kalian banyak, tetapi kalian akan menjadi seperti buih di sungai (tidak berbobot). Dan Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian, serta menanamkan penyakit wahn dalam hati kalian." Para sahabat bertanya, "Apa itu wahn, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Abu Dawud, Ahmad).
Cinta dunia dan takut mati telah membuat negara-negara kaya Teluk rela melakukan apa saja untuk mempertahankan kenyamanan materi mereka. Demi menjaga aliran modal asing dan stabilitas ekonomi, mereka dingin dan menutup mata terhadap penderitaan saudara seiman di Yaman yang kelaparan atau Palestina yang dibantai. Mereka bersikap keras (asyidda') pada sesama Muslim yang miskin dan tertindas, namun sangat lembut (ruhamā') pada sistem kapitalisme global dan sekutu-sekutunya yang zalim. Ini adalah kebalikan total dari karakter umat Islam yang sejati: "asyiddā'u 'ala al-kuffār, ruhumā'u baynahum" (keras terhadap orang kafir, saling menyayangi di antara mereka).
2. Perlombaan Menembus Langit : Hanya dalam hitungan dekade, keturunan para penggembala kambing yang dahulu berjalan tanpa alas kaki di padang pasir tandus, kini saling berlomba untuk membangun menara-menara tertinggi di dunia. Kemegahan arsitektur Burj Khalifa dan proyek-proyek futuristik nan megah lainnya berdiri kokoh sebagai monumen kesombongan arsitektur sekaligus bukti otentik kebenaran sabda Nabi ﷺ : "Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, dan jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju (miskin), lagi pengembala domba, berlomba-lomba membangun gedung yang tinggi." (HR. Muslim, no. 8). Namun, alih-alih menjadi sarana kemakmuran yang berkeadilan, pencakar langit itu justru menjadi mercusuar kesenjangan sosial dan keterasingan spiritual.
3. Keluarga yang Terbalik: Di balik dinding-dinding vila mewah, struktur sosial Islam sedang mengalami pembusukan internal yang diam-diam. Sabda Nabi ﷺ, "Akan datang pada manusia suatu masa, di mana seorang budak perempuan akan melahirkan tuannya" (HR. Bukhari), tidak lagi semata-mata metafora tentang anak-anak yang durhaka, tetapi telah mewujud secara sosiologis yang nyata. Para ibu dari kelas elit larut dalam pesta kemewahan, pusat kebugaran, dan urusan duniawi, lalu menyerahkan pengasuhan anak secara mutlak kepada para pekerja migran asing (Filipina, Sri Lanka, Ethiopia). Anak-anak ini tumbuh besar dalam asuhan orang yang tidak memiliki ikatan ruhani dan adab Islam, lalu mereka menjadi "tuan kecil" yang mendikte dan menghina pengasuhnya sendiri. Mereka kehilangan madrasah pertama seorang Muslim: rahim dan dekapan seorang ibu yang sarat dengan kasih sayang, pengajaran adab, dan internalisasi nilai-nilai tauhid. Rumah berubah menjadi hotel, dan keluarga menjadi sekadar struktur kosong tanpa ruh.
Sebuah Seruan untuk Membuka Mata
Kepiluan terbesar dari realitas ini adalah kehancuran ekspektasi. Ketika umat Islam sedunia yang tertindas, miskin, dan didera konflik menengadahkan wajah mereka ke tanah Arab dengan harapan menemukan sosok " Khairu Ummah" —umat terbaik yang menegakkan keadilan dan menjadi kompas moral dunia—mereka hanya menemukan fatamorgana. Mereka hanya melihat para pemimpin yang sibuk mempercantik "hidangan" minyak dan gas mereka agar terus diperebutkan oleh bangsa-bangsa lapar di dunia.
Artikel ini bukan sekadar kritik geopolitik, melainkan sebuah ratapan spiritual sekaligus peringatan keras. Tanah Teluk sedang berlari dengan kecepatan penuh menuju modernitas, namun ironisnya, mereka sedang berlari menjauh dari ruh kenabian Muhammad ﷺ dan ketauhidan Ibrahim AS. Mereka membangun peradaban dari marmer dan baja, tetapi meruntuhkan fondasinya dari dalam : iman, akhlak, dan solidaritas.
Bagi kita yang menyaksikan dari kejauhan, ini adalah alarm penanda zaman. Barometer itu telah bergeser. Kesalehan dan kebangkitan Islam tidak lagi bisa kita gantungkan pada kemegahan bangunan di tanah Arab. Sudah saatnya umat Islam sedunia membuka mata: bahwa Islam yang sejati tidak diukur dari tingginya menara di Dubai, melainkan dari sejauh mana nilai-nilai Al-Qur'an dihidupkan di dalam dada, ditegakkan dalam keadilan, dan diwujudkan dalam pembelaan nyata terhadap kemanusiaan.