Halaman

Tampilkan postingan dengan label ilmu huruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu huruf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juli 2023

Hakikat Makna kata مُخْلِصِينَ [ Mukhlisin ]

Serial Ilmu Huruf,

By. Mang Anas 


فَٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَـٰفِرُونَ

" Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya) " [ Surat Ghafir (40) Ayat 14 ]

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

" Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus ". [ Surat Al-Bayyinah (98) Ayat 5 ]

A. Secara bahasa kata مُخْلِصِينَ berasal dari kata dasar خ-ل-ص yang berarti bersih, bening, sejati, murni, terang, benar atau hakiki. Dan adapun secara ilmu huruf maka kata مُخْلِصِينَ artinya sebagai berikut,

1. Makna huruf  خ [ Kho ]

♤ Huruf خ pada kata مُخْلِصِينَ itu bermakna dada dalam kondisi batinnya yang terberkati. Dimaknai demikian karena huruf خ itu terbentuk dari gabungan dua huruf, yaitu dari  ح dan ن. Dimana huruf  ح itu dimaknai sebagai dada [ karena bentuknya menyerupai sebuah organ dada ] dan huruf ن nya bermakna berkat atau anugerah rohani. Agar anda bisa menangkap logika pemaknaannya maka coba imajinasikan bentuk huruf ن itu sebagai  suatu   bentuk yang  menyerupai sebuah mangkok kecil dan lalu diatasnya setetes embun yang sangat bening lagi murni jatuh perlahan dan dengan sangat lembutnya masuk kedalam mangkok. Itulah gambaran imajinasinya  mengapa huruf خ pada kata atau kalimat مُخْلِصِينَ  itu kita maknai sebagai berkat,  rahmat dan anugerah rohani yang dimasukkan kedalam dada orang orang yang beriman yang dikasihi dan yang dikehendaki-Nya.

Surat An-Nisa (4) Ayat 69

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًۭا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, [ anugerah hikmah huruf  خ ] yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

2. Makna huruf ل [ Lam ]

♤ Huruf ل terbentuk dari dua huruf yakni dari huruf أ dan huruf ر. Huruf Alif bermakna " hablum minallah " sedangan huruf ر nya bermakna " hablum minannas ". Dengan demikian maka makna huruf ل dalam kasus ini dimaknai sebagai tali atau sebagai tempat bergantung atau bantolan dalam bahasa jawa [ lihat bentuk huruf ل yang menyerupai sebuah pancing atau sebuah alat pengait ], maka hakikat huruf ل pada kata مُخْلِصِينَ adalah esensi As-Somad yang bersemayam didalam dada setiap manusia. Dan hakikat As-Somad itulah yang kemudian disebut sebagai entitas Nur Muhammad atau insting ketuhanan yang ada pada setiap diri manusia. Entitas itu ditanam pada saat manusia masih berbentuk sperma [ dibentuk di alam bapak atau alam bawah sadar manusia ], perhatikan ayat Al Quran berikut ini. 

Surat Al-A'raf (7) Ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Serta perhatikan pula ayat quran berikut ini, 

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (٢٥٦)

" Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus [ yaitu esensi Huruf ل ]. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. " (Q.S. Al-Baqarah ayat 256)

Esensi As-Somad atau esensi Nur Muhammad  atau esensi huruf ل itu akan terpancar kuat dan sangat maksimal pada diri para nabi dan rasul [ مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ ], dan secara berurutan kepada diri para wali-wali Allah [ وَٱلصِّدِّيقِينَ ], pada diri para syuhada  [ وَٱلشُّهَدَآءِ ] dan baru kemudian pada diri orang orang soleh [ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ]. Simaklah kembali surat An-Nisa (4) Ayat 69 diatas. 

3. Makna huruf ص

♤ Dan adapun Makna dari huruf ص [ sho ] adalah tarikan magnet atau kecenderungan jahat dari nafsu dan atau syahwat jasmani. Dan tarikan magnet ص atau kecenderungan jahat itu akan muncul dengan sangat kuat pada kondisi dimana kelamin dan perut diri manusia itu belum terberkati [ belum dianugerahi berkat huruf خ ], hal itu terjadi karena potensi Nur Muhammad [ huruf ل ] yang ada pada dirinya tidak pernah diurus, dirawat dan lupa diberdayakan.

Tetapi pada diri  مُخْلِصِينَ  [ mukhlisin ] munculnya kecenderungan syahwat atau nafsu itu dapat teratasi berkat adanya perangkat خ dan ل yang terus menguat didalam dirinya. Penguatan خ dan ل itu hanya akan terjadi jika ia rajin melakukan taqarub, yaitu dengan terus menerus bergerak semakin dekat ke kutub ketuhanan [ yang dalam kasus ini adalah medan magnit positif dari huruf ل ] dan pada saat yang sama ia terus menerus bergerak semakin menjauhi kutub Tagut [ yaitu medan magnit negatif huruf ص, yang esensinya adalah simbol syahwat dan hawa nafsu ]. 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُۗ  فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (٣٦)

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah [ dianugerahi hikmah huruf خ ] dan ada pula yang tetap dibiarkan dalam kesesatan [ hidup terpasung di kubangan huruf ص ] . Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. An-Nahl ayat 36)

B. Bagaimana Cara Mencapai Kemurnian Hati

Pemurnian hati itu dapat dicapai dengan cara meningkatkan kualitas ibadah, utamanya adalah ibadah- ibadah yang oleh Allah swt  sedari awal memang didesain, dirancang dan dimaksudkan untuk memperkuat dan mempertebal rasa keimanan manusia kepada Tuhan-Nya, yaitu melalui serangkaian syariat ibadah makhdoh seperti shalat, dzikir, tirakat, puasa, meditasi dan suluk, dan kemudian mentadaburi quran dan kitab-kitab suci lainnya, serta bisa juga melalui serangkaian kegiatan ibadah haji dan umroh [ yang hakikatnya adalah sebuah ziarah, yakni menziarahi tempat-tempat dimana pantulan cahaya ilahi diyakini berada dan terkonsentrasi dengan sangat tinggi dan kuat ]. Hal mengenai adanya pantulan cahaya ilahi itu oleh para ahli rasha [ ahli sirr ] akan dapat dirasakan dengan kuat dan nyata sekali dan juga dengan penglihatan oleh para ahli kasyaf [ penyaksian secara visual lewat mata batinnya ]. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (٨)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”  (Q.S. At-Tahrim ayat 8)

Dan adapun yang dimaksud dengan kualitas ibadah disini adalah " ibadah yang meng-hati " atau ibadah yang dilakukan dengan sepenuh penghayatan, serta dilakukan dengan niat lurus, bersih, dan semurni-murninya. Diniatkannya hanya untuk taqarub kepada Allah,  dan yang dilakukan semata sebagai sebuah bentuk pertobatan kepada Allah SWT.  Tidak boleh didalamnya ada agenda keduniaan yang terselip, baik yang kecil, yang tersembunyi dan bahkan yang tersamar [ disinilah diperlukan adanya guru Mursyid sebagai pembimbing ]. 

C. Ayat-ayat Al Quran Yang Berhubungan dengan kata Mukhlisin 

Surat Al-A'raf (7) Ayat 29

قُلْ أَمَرَ رَبِّى بِٱلْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا۟ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍۢ وَٱدْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)".

Surat Yunus (10) Ayat 22

هُوَ ٱلَّذِى يُسَيِّرُكُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمْ فِى ٱلْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍۢ طَيِّبَةٍۢ وَفَرِحُوا۟ بِهَا جَآءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌۭ وَجَآءَهُمُ ٱلْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍۢ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَـٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".

Surat Luqman (31) Ayat 32

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌۭ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِـَٔايَـٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍۢ كَفُورٍۢ

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.


Semoga Tulisan ini bermanfaat,



Selasa, 11 Juli 2023

Kenapa Para Penerima Wahyu disebut Nabi ?

Serial Ilmu Huruf,

By Mang Anas 


Kata " Nabi " dalam bahasa Arab itu berasal dari kata dasar  نبأ yang artinya berita. Dan adapun berdasarkan kajian ilmu huruf maka kata  ن ب أ  bermakna sebagai berikut,

1. Makna huruf ن ---->  huruf ن adalah bangun garis lengkung yang bentuknya menyerupai sebuah wadah dan lalu diatas bertengger sebuah titik. Bermakna diri seorang hamba yang menyandang wahyu atau diri seorang hamba yang menjadi lokus turunnya sebuah wahyu. 

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ فَقَدْ جَاۤءُوْ ظُلْمًا وَّزُوْرًاۚ (٤)

Dan orang-orang kafir berkata, “(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain,” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. (Q.S. Al-Furqan ayat 4)

وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا (٥)

Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Q.S. Al-Furqan ayat 5)

قُلْ اَنْزَلَهُ الَّذِيْ يَعْلَمُ السِّرَّ  فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّهٗ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا (٦)

Katakanlah (Muhammad), “(Al-Qur'an) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  (Q.S. Al-Furqan ayat 6)

وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ  لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا ۙ (٧)

Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia, (Q.S. Al-Furqan ayat 7)

اَوْ يُلْقٰىٓ اِلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ تَكُوْنُ لَهٗ جَنَّةٌ يَّأْكُلُ مِنْهَاۗ وَقَالَ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا (٨)

atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan atau (mengapa tidak ada) kebun baginya, sehingga dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (Q.S. Al-Furqan ayat 8)

اُنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوْا لَكَ الْاَمْثَالَ فَضَلُّوْا فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ سَبِيْلًا (٩)

Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang engkau, maka sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).  (Q.S. Al-Furqan ayat 9)

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ (٢)

kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, (Q.S. An-Najm ayat 2)

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى (٣)

dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya. (Q.S. An-Najm ayat 3)

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ (٤)

Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (Q.S. An-Najm ayat 4)

عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ (٥)

yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat,  (Q.S. An-Najm ayat 5)

2. Makna Huruf ب  ----> huruf ب posisi titiknya tersembunyi  dibawah wadah, ia bermakna sebuah hakikat firman [ firman Allah ] yang disampaikan tanpa huruf dan suara dan atau yang disampaikan dari balik tabir. Disini huruf ب itu diartikan sebagai media wahyu, atau hakikat Jibril, dan kadang juga disebut sang rasa sejati. 

۞ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ(  ٢٥٣ )  

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohulkudus. (Q.S. Al-Baqarah ayat 253)

۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ (٥١)

Dan tidaklah patut bagi seorang manusia [ biasa ] bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana. (Q.S. Asy-Syura ayat 51)

3. Dan adapun makna huruf أ pada kata نبأ adalah simbol dari diri Allah SWT  sebagai subyek wahyu atau Sang Pemilik Firman. [ lihat Q.S. Al-Furqan ayat 6, diatas ]


Demikian semoga penuturan ini bermanfaat.



Kamis, 30 Maret 2023

Al Quran, Al Fatihah dan Basmalah : Korelasi Isi Serta Persamaan Kandungan antar Ketiganya

By. Mang Anas 


A. Substansi Isi dan Kandungan " Surat Al Fatihah " didalam Kalimah " Bismillahirahmanirrahim " : 


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

1. Huruf  Ba [ ب ] pada kata  بِسْمِ  adalah bermakna اَلْحَمْدُ , mengingat dari titik ب lah  aneka ragam anugerah dan nikmat  Allah SWT itu terpancar, dan kedalam lafad اَلْحَمْدُ lah aneka ragam anugerah dan nikmat Allah itu kemudian dihimpun dan diwadahi. Dengan demikian maka hakikat titik ب  adalah simbol dari eksistensi Dzat Allah dan sementara hakikat dari  اَلْحَمْدُ adalah sebuah eksistens cahaya yang  menyelubungi Dzat dimaksud. Atau dengan kata lain hakikat ب adalah metafor dari esensi Dzat Allah,  sementara hakikat dari  اَلْحَمْدُ adalah metafor dari esensi keberadaan Nur Muhammad, yang kadang juga disebut Hakikatul Muhammadiyah. 

Berangkat dari pemahaman itu maka makna huruf Ba [ ب ] pada lafad  بِسْمِ  menjadi tergambar jelas di dalam Firman Allah berikut ini,  

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢ )

 " Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, "(Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

2. Huruf Sin [ س ] pada kata بِسْمِ itu bermakna Allah dengan ketiga asmanya yakni, Ar Rahman yang menghimpun semua sifat-sifat ke-bapaan, Ar Rahim yang menghimpun semua sifat-sifat ke-ibuan dan Al- Malik  yang menghimpun semua  sifat sifat Kemaha-kuasaan-Nya. Sebagaimana firman-Nya , 

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (Q.S. Al-Fatihah ayat 3)

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)


◇ Melihat fakta bahwa huruf س  pada  lafad  بِسْمِ  itu ber-kharokat sukun dan itu bersukun dengan  huruf  ب yang ber-kharohat kasroh sehingga kedua huruf itu harus dilafalkan bersambung, maka itu merupakan pertanda bahwa hakikat ketiga nama dan atau Sifat-sifat Allah sebagaimana yang tersebut diatas itu tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Dzat [ Allah  ] yang disifati dan atau yang dinamai-nya. Atau dengan kata lain, hakikat keberadaan Dzat Allah  dengan keberadaan Sifat dan nama-nama-Nya itu adalah merupakan satu kesatuan,  dan hakikat ketiganya ada ketunggalan mutlak. Dengan demikian maka ~ Nama Allah itu=Ar-Rahman=Ar-Rahim=Al-Malik ~ atau  Al-Malik itu=Ar-Rahim=Ar-Rahman=Allah.


3. Adapun makna huruf Mim [ م ] pada lafad  بسم الله  itu merujuk pada fenomena adanya hubungan mesra antara hamba dengan Tuhannya.

Hal itu ditandai dengan posisi huruf Mim [ م ] yang sekalipun diposisikan lebih rendah karena ia  ber-kharokat  kasroh tetapi ia [ م itu ]  tersambung sangat manis dengan huruf ل yang berderajat jauh lebih tinggi. Disebut lebih tinggi karena Lam [ ل ] itu bukan saja bertandakan tasdid tetapi juga  sekaligus ber-harokat Mad dan juga merupakan Lam jalalah. 

Untuk melihat betapa mesranya hubungan م dengan ل adalah doa kita berikut ini   : 

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)


4. Dan adapun lafad Allah [ اللّٰهِ ] pada kalimat " بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) " itu kita harus melihatnya dalam perspektif makna batin atau makna isyari dari doa kita berikut  :

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

◇ Kepada siapa doa kita itu ditujukan, jawabnya tentu saja kepada Allah SWT. Dan apa yang dimaksud dengan jalan lurus, maka tentu saja jalan Allah. 

Dengan demikian maka satu-satunya korelasi logis dari lafad الله  pada kalimat  بسم الله   adalah hanya dengan ayat 6 surat Al Fatihah tersebut diatas.

5. Selanjutnya kata Ar Rahman  [ الرَّحْمٰنِ ] pada kalimat " بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) " itu  bermakna : 

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ 

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; ( 7 )

◇ Ditafsirkan demikian karena kata Ar-Rahman itu selalu berhubungan dengan konotasi memberi [ اَنْعَمْتَ ]. Yaitu kehendak Allah SWT untuk memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya yang layak mendapatkan dan yang kemudian dikehendaki-Nya, yakni para syuhada,   hamba-hamba-Nya yang saleh,  Siddiqin, dan kepada para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Dan lalu Allah juga memberikan rejeki  kepada semua makhluk dan hamba-hamba-Nya, yang mukmin dan yang kafir, yang baik dan yang jahat. Tanpa kecuali. 

Catatan : Terkait dengan tafsir lafad اَنْعَمْتَ yang berstatus sebagai fi'il madi itu, maka lalu Syekhul Akbar Muhyiddin Ibn Arabi berkomentar, bahwa untuk kelompok orang yang jelas-jelas saleh [ yakni kelima golongan sebagaimana disebut diatas ] mereka dapat langsung menikmati kehidupan surga tanpa harus terlebih dahulu menunggu datangnya kiamat.  Begitupun bagi mereka yang jelas-jelas kafir maka mereka akan langsung dimasukan kedalam neraka, juga tanpa harus menunggu datangnya kiamat. 

Dan adapun terhadap mereka yang statusnya " Abu-abu ", maka kepada mereka-lah ketentuan transit di Alam Barzakh itu berlaku. Kelompok inilah yang dalam istilah Al Qur'an disebut sebagai para penghuni 'Araf, yaitu kelompok yang ditetapkan masuk surganya tertunda dan mereka terpaksa harus hidup dalam penantian, menunggu tibanya hari keputusan. [ lihat Futuhat Al-Makkiyyah jilid 2 ]. 

6. Sedangkan Kata Ar-Rahim  [ الرَّحِيْمِ ] pada kalimat  بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)  menjadi bermakna, 

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ (٧)

bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah ayat ( 7)

◇ Ditafsirkan demikian karena kata Ar-Rahim itu selalu dikonotasikan dengan perbuatan mengasuh, mendidik, merawat, menjaga dan memelihara serta perbuatan Rabb dalam usahanya membimbing dan mengarahkan para hamba yang dikehendaki-Nya agar tetap berdiri di jalan-Nya. Supaya ia tidak menjadi " magdhub " terhadap-Nya dan agar ia tidak berlaku " dholin " terhadap dirinya sendiri. 

Itulah penjelasan sekilas mengenai kandungan Al Fatiha didalam kalimat  Basmalah. 


Gambar  : Tabel Korelasi Makna Antara Huruf Ba, Basmalah, Al Fatiha  dan Kandungan Al Quran 


B. Substansi Isi dan Kandungan " Al Quran " didalam " Surat Al Fatihah " : 

Berikut ini adalah kandungan Surat Al Fatihah yang isinya ternyata telah mencakup keseluruhan isu pokok yang dibicarakan dalam Al Quran, yakni : 

1. Konsep Akidah 

2. Konsep Akhlak

3. Konsep Hukum

4. Konsep Ibadah

5. Konsep Pengetahuan 

6. Tema Kisah-kisah Umat di Masa Lalu


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)


1. Konsep Akidah [ Tauhid ] : 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, (Q.S. Al-Fatihah ayat 2)


2. Konsep Akhlak : 

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (Q.S. Al-Fatihah ayat 3)


3. Konsep Hukum : 

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)


4. Konsep Ibadah :

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)


5. Konsep Pengetahuan : 

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

◇ Yaitu jalan para ahli ilmu, baik yang dohir [ yaitu jalan para ahli ilmu yang berbasis logika dan rasionalitas ] maupun ilmu yang batin [  yaitu jalan para ahli makrifat yang berbasis ilmu-ilmu Ruh dan ilmu-ilmu Sirr ].


6. Tema Kisah-kisah Umat di Masa Lalu

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya [ yaitu jalan para Syuhada, Salihin, Siddiqin, Ambiya dan Mursalin ] ; bukan (jalan) mereka yang dimurkai [ yakni jalan Kaum Nuh, Kaum Namrud, Kaum Hud, Kaum Samud, Kaum Luth, Kaum Fir'aun, Askhabul Ross, Askhabul 'Aikah, Kaum Tuba, Serta Kaum Yahudi ], dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [ yaitu jalan kaum Nasrani yang akidahnya telah dikotori oleh kepercayaan pagan bangsa Romawi serta pengaruh Filsafat Helenisme Yunani ]. (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

Kesimpulan

1. Bahwa hakikat dari huruf ب pada kalimat بسم الله  adalah ibarat esensi otak, atau esensi hati, atau esensi jantung dan atau esensi paru-paru dari Al Qur'an

2. Bahwa hakikat dari kalimat Basmalah adalah ibarat jaringan syaraf, atau jaringan otot-otot dan atau keseluruhan saluran peredaran darah dari al Quran 

3. Bahwa hakikat dari surat Al Fatihah adalah ibarat struktur kerangka dan atau tulang belulang dari Al Qur'an

4. Bahwa hakikat dari Al Qur'an secara keseluruhan [ minus Basmalah dan Fatiha ] adalah ibarat daging dan kulit yang membungkus keseluruh tulang belulang, jaringan syaraf, jaringan otot dan keseluruhan peredaran darahnya. 

Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat serta dapat menambah wawasan kaum muslimin khususnya yang terkait dengan  pemahaman makna-makna Isyari [ makna tersembunyi ] dari Al Quran.



Selasa, 14 Maret 2023

Shalat Wustha Makna Hakiki Dan Fadhilahnya

Oleh : Mang Anas


حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ (٢٣٨)

Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.(Q.S. Al-Baqarah ayat 238)


A. Secara lughot atau makna bahasa kata الْوُسْطٰى  berarti " Tengah ".

Tetapi dari sudut makna  hurufnya maka kata الْوُسْطٰى bermakna sebagai berikut :

1. Huruf و pada kata  الْوُسْطٰى bermakna diri hamba yang tunduk patuh [ cermati bentuk huruf و  ]

2. Huruf س  pada kata الْوُسْطٰى bermakna tiga elemen diri manusia, yaitu jasad, akal dan jiwa [ cermati bentuk huruf س ] 

3. Sedangkan huruf ط bermakna wahyu, yakni bimbingan wahyu [ pada huruf ط itu elemen آ bermakna esensi ilahiah sedangkan elemen ص bermakna mata hati ] . 

Maka berdasarkan tinjauan makna huruf tersebut diatas Fadhilah melaksanakan shalat  الْوُسْطٰى bagi diri seorang hamba adalah berikut, 

1. Bagi Maqom Syariat atau Maqom Asbab :

Bagi hamba yang masih duduk dimaqom syariat [ maqom Asbab ] maka melaksanakan shalat wustho itu akan membuat diri hamba mampu memenej dan sekaligus membuatnya menjadi mampu menundukkan kecenderungan buruk hawa nafsu yang melekat pada elemen jasad, akal dan jiwanya [ disebut elemen buruk huruf س ] . Dan berkat salat wustho itu maka ketiga elemen buruknya insya Allah akan menjadi tunduk dan lalu kemudian menjadi patuh dibawah bimbingan wahyu [ Petunjuk Al Qur'an ]. Dalam kasus ini sang hamba disebut mendapatkan hidayah. 

2. Bagi Maqom Hakikat atau Maqom Tajrid  [ Insan Kamil ]  : 

Bagi diri hamba yang sudah duduk dimaqom hakikat [ maqom Tajrid ] maka Istiqomah dalam melanggengkan salat wustho itu bukan saja akan membuat dirinya semakin dalam memahami hakikat kemanusiaannya [ yaitu ketiga elemen diri yang selama ini tersembunyi didalam huruf س  ] , tetapi juga rakhmat dan barokah Allah SWT akan mengalir semakin deras kepada dirinya. Dalam hal ini diri hamba akan memiliki akses lebih jauh kesumber sumber wahyu  [ rahasia lauhul makhfudz ]. Tandanya adalah sang hamba akan semakin sering mendapatkan anugerah ilmu-ilmu ilham dan juga berbagai bentuk pengajaran ilmu ilmu kelangitan.

B. Lalu apa yang dimaksud sebagai Shalat Wustha ? 

Berdasarkan apa yang saya pahami, maka yang dimaksud sebagai shalat wustha adalah, 

1. Bagi maqom syariat yang dinamakan shalat wustha  adalah shalat yang dilakukan dalam keheningan akal pikiran. 

Dalilnya adalah, 

Jasad --- AKAL --- Jiwa

[ Lihatlah pada tipikal manusia jasad, dalam hal ini adalah diri yang belum dapat melepaskan diri dari cangkangnya yaitu unsur kejasadannya, maka posisi AKAL itu adanya ditengah ]

2. Adapun bagi maqom hakikat [ insan Kamil ] maka yang dimaksud sebagai salat wustho adalah shalat Ruh. 

Dalilnya adalah, 

Jasad - Akal - Jiwa - RUH - Sirr - Nur - Dzat

[ Lihatlah pada diri manusia insanul kamil yang sudah mampu menembus tujuh elemen dirinya, maka posisi RUH itu adanya ditengah ]


C. Kapan Waktunya ? 

a. Secara syariat adalah diwaktu Magrib. 

Dalilnya adalah, 

1. Shalat subuh itu Shalat bagi Jasad

2. Shalat Dhuhur itu Shalat bagi Akal  

3. Shalat Ashar  itu Shalat bagi Jiwa

4. Shalat Maghrib itu Shalat bagi Ruh

5. Shalat Isya itu Shalat bagi Sirr  [ yakni rahasia Insan ]

6. Shalatul Lail [ Tahajud ] itu Shalat bagi Nur [ yakni cahaya Insan ]

7. Shalat Witir itu Shalat bagi Dzat  [ yakni Dzat Insan ]

[ Lihat diantara waktu waktu sholat maka posisi Shalat Maghrib itu adanya ditengah ] 

b. Dan adapun secara hakikat maka waktunya adalah disemua shalat dan bahkan pada setiap hembusan nafas dan sudah selayaknya menempel secara otomatis pada setiap detak jantung. 

Demikianlah rahasia [ Fadhilah ] shalat wustho dari sudut ilmu hakikat dan makna hurufnya. 

Semoga Artikel ini bermanfaat.




Selasa, 27 September 2022

Tafsir Ayat Ayat Sifat Surat Al-Fatiha ayat 1 dan 3

Tafsir Ayat - ayat Sifat Seri 1 ; 

By Mang Anas


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣

1. Atas nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Esensi makna dari huruf Ba [ب] yang terdapat di dalam kalimat

 آلله الرحمن الرحيم  بِسۡمِ   

tersebut diatas dijabarkan maknanya oleh Al Quran didalam kalimat Al Hamdu [ ٱلۡحَمۡدُ ] yang terdapat pada ayat kedua. Sedangkan hakikat dari Al Hamdu  [ ٱلۡحَمۡدُ ]  adalah perwujudan dari sifat Allah yang Ar- rahman dan Ar- rahim [ الرحمن الرحيم ]. Dan adapun kalimat  اسم الله [ yang terdapat di dalam rangkaian kalimat Bismillah itu ] dijabarkan maknanya pada kalimat  رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [ pada ayat 2 ]. Dengan demikian maka hakikat dari huruf Ba [ ب ] adalah الحمد , yang didalamnya kedua sifat Allah yang paling utama itu termanifestasi dalam wujud penciptaan alam semesta beserta semua makhluk yang tinggal didalamnya. Sedangakan hakikat dari 

اسم للله adalah رب العلمين  atau lebih kongkrit lagi dapat dikatakan bahwa esensi dari kalimat آلله  بِسۡمِ  itu adalah kalimat ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ .

Dan adapun esensi dari kalimat 

ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ   sebagaimana yang terdapat pada ayat yang ke tiga itu fungsinya tidak lain adalah sebagai penegasan dari dua sifat yang melekat pada diri Allah Swt sebagaimana yang tertera pada ayat sebelumnya  [ yaitu ayat pertama ] dan yang kemudian pada ayat yang  ke tiga kedua sifat Allah itu telah bermanifestasi menjadi sifat pada diri Rabbull Alamin [ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ].

Demikianlah maka berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka bisa disimpulkan bahwa esensi  kalimat

 آلله الرحمن الرحيم  بِسۡمِ   itu memiliki makna yang identik dan sama persis dengan kalimat  ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢  ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣  dan bahkan hakikat isi dan makna substansi  kedua ayat itu sebenarnya adalah tunggal. Sebagaimana manunggalnya esensi Dzat Allah dengan semua sifat-sifat -Nya , dalam hal ini adalah Allah dalam kedudukannya sebagai Rabbal Alamin [ penguasa jagat raya ]. Demikianlah penjelasan makna Al Fatiha mulai dari ayat 1  hingga 3. 

Dan jika diantara para ahli fiqh kemudian terdapat perbedaan pandangan mengenai kedudukan Basmalah dalam surat Al Fatiha, maka berdasarkan penjelasan diatas maka perbedaan itu hakikatnya bukanlah suatu pertentangan. Membaca Al Fatiha dalam shalat dengan Basmalah [ yang dihukumi wajib dalam Mazhab Syafii ] dan membaca Al Fatiha dalam shalat tanpa Basmalah  [ dan membacanya dihukumi makruh menurut Mazhab Khanafi ], pendapat keduanya adalah sah. Bagi yang membaca Basmalah maka berarti dia telah Man-taukidkan kalimat mulia itu dengan pengulangan bacaannya pada kalimat 

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢  ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣ 

sedangakan untuk mereka yang meniadakan Basmalah dalam bacaan Al Fatihanya maka apa yang oleh sementara orang dianggap menanggalkan itu hakikatnya adalah tidak, karena hakikat bacaan Basmalah itu secara implisit sebenarnya sudah terkandung didalam kalimat

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢  ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣  .

Dan adapun hakikat Al Hamdu [ ٱلۡحَمۡدُ ] yang merupakan esensi dari misteri huruf BA [ ب  ] dan yang didalamnya sifat Allah yang Ar-rahman dan Ar-rahim [ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ] termanifestasi adalah bermakna sebagai berikut :

1. Bahwa Hakikat  Al Hamdu itu adalah “ Anugerah Pendengaran, Penglihatan, dan Hati atau Pikiran [ Fuad ] yang diberikan Allah Swt kepada Jin dan Manusia “ selaku makhluk-Nya yang utama sebagaimana firmannya,

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٧٨

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. [ QS. An Nahl 78 ]

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٧٨

Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. [ QS. Al Mukminun 78 ]

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٩

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. [ QS. As Sajdah 9 ]

 

2. Bahwa Hakikat dari Al Hamdu adalah Anugerah wahyu dan hakikat kenabian yang diturunkan Allah Swt dalam kehidupan bangsa Jin dan umat Manusia yang fungsinya adalah selaku pembimbing dan pemandu  kehidupan bagi keduanya, dan sebagai pedoman agar keduanya dapat kembali dan agar dapat mengenali jalan pulangnya kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ١٦٤

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [ QS. Al Imran 164 ]

3. Bahwa hakikat Al Hamdu adalah “ Segala fasiliatas penunjang kehidupan yang ada pada alam semesta yang telah Allah anugerahkan kepada Jin dan Manusia untuk dikelola dan diambil manfaatnya untuk sebaik baik kegunaan berdasarkan tuntunan yang tertera didalam kitab- kitab Allah Swt.

وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ࣖ ١٠

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. [ Al A’raf 10 ]

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir." ( QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13)

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٣٢

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu ? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [ Az Zukhruf 32 ]

وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ ١٩

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. [ Al Hijr 19 ]

 

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَّسْتُمْ لَهٗ بِرٰزِقِيْنَ ٢٠

Dan Kami telah menjadikan padanya sumber-sumber kehidupan untuk keperluanmu, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya. [ Al Hijr 20 ]

Semoga ulasan singkat ini bermanfaat.





Minggu, 24 Juli 2022

Esensi Kalimat Bismillahirrahmanirrahim dalam Surat Al-Fatihah

Seri ilmu huruf : 

By Mang Anas


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

🌖 Bahasan kalimat بسم :

1. Huruf ب = Al Qur'an yang Qodim, yaitu esensi Al Qur'an yang berada di Lauhul Mahfud, yang masih ada dalam keadaannya yang azali. Yaitu Al Qur'an yang ber- bahasa Ruh atau ber-bahasa Siir.

2. Huruf س = Adalah tiga pokok pengetahuan yang terkandung dalam Al Qur'an yakni, Ilmu Syariat, ilmu Makrifat dan ilmu Hakikat

3. Huruf م =  Adalah Al-Qur'an yang Hadits, yakni Al-Qur'an yang diwahyukan, dan  yang sudah di-tranformasikan kedalam bahasa Manusia.

Dengan demikian maka hakikat dari kata " bismi " [ بسم ] adalah penggambaran proses turunnya Al-Qur'an dari Lauhul Mahfud hingga sampai ke alam dunia.




🌖 Bahasan kalimat الله 

1. Makna huruf Alif [ ا ] pada kalimat الله adalah berarti = Yang Memerintah, Yang Berkuasa dan Yang Menunjuki jalan kepada tiga entitas Lam [ ل ]. Maka dalam hal ini makna Alif adalah simbol dari esensi dzat dan sifat-sifat Allah SWT.

2. Dan adapun tiga entitas Lam itu  :

a. Huruf Lam [ ل ] yang pertama adalah = Malaikat

b. Huruf Lam [ل ] yang  kedua adalah = Jin

c. Huruf Lam [ ل ] yang ketiga adalah = Manusia

3. Dan adapun huruf Ha [ ه ] adalah = Simbol dari bentang kekuasaan Allah SWT yang meliputi seluruh langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. 

Dengan demikian maka makna dari kata "الله" dalam kalimat bismillahir rahmanir rahim adalah  Dzat Yang Memerintah, Yang Berkuasa dan Yang Menunjuki jalan kepada para malaikat, jin dan manusia yang dikehendaki-Nya. Dan yang berkuasa atas seluruh langit dan bumi serta seisinya.

🌖 Bahasan kalimat  الرَّحْمٰنِ

1. Huruf Alif Lam ال pada kalimat  الرَّحْمٰنِ
adalah simbol makna dari = Pemilik atau Yang Berkuasa atas seluruh Alam. Yaitu yang berupa, 

2. Huruf Ro ر yang berarti = Yang Maha Menyayangi, Yang Maha Memelihara dan Yang Maha Menghidupi. 

3. Dan huruf Kha ح yang bermakna = Yang Memberikan bimbingan dan petunjuk kepada para hamba-Nya, dimana proses pemberian petunjuk itu akan didatangkannya 

4. Lewat Huruf Mim م = yaitu melalui tanda - tanda kekuasaan-Nya  

5. Yang tergambar jelas dalam bentuk huruf Nun ن =  Yaitu lanskap arsitektur bumi dan langit yang terbentang luas sepanjang mata memandang. 

Hakikat Ar-Rahman ini adalah sarana dan model pencarian hidayah bagi maqom Kasbi, yaitu maqom kebanyakan orang atau maqom umum. Dimana tabiat proses pencarian hidayahnya harus berjalan secara alami, yaitu diawali dengan penggunaan indra pendengaran, penglihatan dan baru kemudian hati.

🌖 Bahasan kalimat  الرَّحِيْمِ

1. Huruf Alif Lam ال  pada kalimat الرَّحِيْمِ
adalah simbol makna dari = Sang Pemilik atau Yang Berkuasa penuh atas seluruh Alam. Yang kemudian memanifestasikan dirinya menjadi,  

2. Huruf Ro ر yang berarti = Yang Maha Menyayangi, Yang Maha Memelihara dan Yang Maha Menghidupi. 

3. Dan huruf Kha ح yang bermakna = Yang Memberi petunjuk dan Yang Membimbing hati  para hamba-Nya, dimana proses bimbingan dan pemberian petunjuk itu akan didatangkannya 

4. Lewat huruf Ya ي = yaitu dengan caranya yang khusus, yang diberikan hanya kepada siapa yang dikehendaki -Nya diantara para hamba-Nya yang terpilih. Proses itu dilakukannya melalui pengajaran Ilmu Sirr dari

5. Huruf Mim م = yang diajarkannya secara langsung atau melalui perantaraan Jibril atau melalui hamba yang diperintahkan-Nya [ Rijalul ghaib ]. Sehingga sang hamba yang Dia kehendaki untuk diangkat derajatnya ke maqom " Ulil Albab " itu akhirnya akan dengan mudah memakrifafi  rahasia asma-asmanya, rahasia sifat-sifatnya dan juga eksistensi Dzat - Nya.

Dengan demikian maka hakikat Ar-rahim adalah sarana dan model pemberian hidayah oleh Allah SWT kepada para hamba-Nya yang didudukkan pada maqom Tajrid. Yaitu maqom orang -orang khusus, maqom para nabi dan rasul serta para Auliya-illah yang pilihan.

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan kiranya dapat membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.
Amiiin...ya rabbal alamin.




Selasa, 05 Juli 2022

Takwil Hurufi kata Syetan, Iblis dan Thogut

By Mang Anas

A. Makna Hurufi kata Syetan [ الشَّيْطٰنُ ]

فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۚ  وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ (٣٦)

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 36)

Kata الشَّيْطٰنُ tersusun atas enam unsur huruf dan dengan tanda tasdid diletakkan pada huruf ش  dengan faedah li Taukid [ bersifat menguatkan ]. 

1. Alif [ آ ] mengandung makna syetan selaku kiblat atau kutub magnet yang akan senantiasa mengajak manusia kepada kejahatan.

2. Lam [ ل ] mengandung makna keinginan atau elemen fitrah dari nafsu fujuroh yang yang ada didalam diri manusia yang cenderung untuk memuaskan keinginannya, dan tabiatnya akan selalu tunduk kepada kepentingan syetan. 

3. Huruf Shin [ ش ] dengan tanda tasdid adalah parameter dari tiga sifat dasar nafsu manusia yaitu, 

a. Ingin selalu bergegas dan cenderung terburu-buru dalam mencapai suatu tujuan, 
b. Kecendrungan untuk menabrak dan mengabaikan norma-norma yang berlaku demi untuk meraih dan mendapatkan apa yang diinginkan. 
c. Orientasi pada kepentingan jangka pendek  [menjadikan kehidupan dunia sebagai prioritasnya yang utama].

4 . Adapun makna huruf Ya [ ي ] pada kata الشَّيْطٰنُ itu mengandung pengertian adanya dua eksistens jahat yang bersembunyi dalam diri manusia. 
a. Yakni yang menempel pada jasadnya yang disebut naluri kebinatangan [ unsur debu dan air ] 
b. Yang menempel pada jiwanya yang disebut naluri Iblis atau Syetan [ unsur api dan angin ] 

5. Huruf Tho [ ط ] adalah ilham -ilham yang selalu dibisikkan oleh setan kedalam diri manusia. Yakni pada jasad dan jiwanya.

6 . Dan yang terakhir adalah huruf Nun [ ن ] yaitu predikat diri syetan yang menyandang lima sifat-sifat tersebut diatas

B. Makna Hurufi kata Iblis [ اِبْلِيْسُ ]

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ (٢٠)

Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. (Q.S. Saba' ayat 20)

Iblis adalah eksistens yang tersusun atas enam unsur negatif huruf-huruf, yakni manifestasi ke akuan [ ا ], yang sifatnya samar dan terselubung [ ب ], yang bentuknya berupa nafsu fujuroh atau dorongan kearah kejahatan [ ل ], yang ditimbulkan oleh unsur api dan udara [ ي ] selaku komponen utama pembentuk jiwa manusia. Dan dampaknya akan membuat manusia cenderung untuk, 

a. Lebih mengutamakan pencapaian tujuan, 
b. Dan demi mencapai tujuan yang diinginkannya itu mereka kurang memperhatikan norma dan etika dalam prosesnya. 
c. Lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek [menjadikan kehidupan dunia sebagai prioritasnya yang utama].

Ketiga kecenderungan itu tersimpan dalam rahasia huruf [ س ]. 

C. Makna Hurufi kata  Thogut [ الطَّاغُوْتَ ]

وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ

" Dan orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak mengikutinya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, " (QS. Az-Zumar Ayat: 17)

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ

" (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Az-Zumar Ayat: 18)

Tagut adalah kekuatan konspirasi besar berupa kutub negatif dari alam semesta yang dalam hal ini adalah Dajjal [ إ ] yang merupakan kiblat bagi hawa nafsu [ ل ]. Kekuatan Tagut ini cenderung ingin memalingkan diri manusia dan menjauhkannya dari bimbingan wahyu para nabi dan rasul [ ط ] atau kutub positif yang dalam hal ini adalah Dinullah atau jalan Tuhan [ أ ]. 

Togut bekerja dengan cara meracuni cara pandang atau cara berpikir ( ع ] manusia dan jin [ ن ]. Ingat bahwa Huruf غ itu tersusun dari huruf ع dan ن. 

Sehingga fungsi manusia yang seharusnya menjadi agen atau wakil Tuhan di bumi [ و ] malah terseret dalam kesesatan, yakni mereka berbuat syirik [ berkhianat ] dan menduakan Tuhan [ ت ]. Mereka mengabdikan hidupnya bukannya kepada Tuhan tetapi malah berkiblat kepada hawa nafsunya.

Semua Nabi telah mengingatkan bahaya Dajjal [ Tagut ]

Dalam salah satu hadis yang bersumber dari Ibnu Umar disebutkan, "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dia mengingatkan umatnya ( dari bahaya Dajjal ). Nuh telah mengingatkan umatnya dan juga para nabi yang datang setelahnya. Ketahuilah bahwa Dajjal akan keluar kepada kalian, dan sekali-kali tidak tersembunyi dari kalian. Dan Rabb kalian pun tidak akan menyembunyikannya dari kalian. (Beliau menyebutkan hingga tiga kali).…"
Dari hadis lainnya yang bersumber dari An-Nawwas bin Sam'an Al-Killabi, Rasulullah bersabda, " Jika Dajjal keluar, dan aku masih bersama kalian, maka akulah yang akan melindungi kalian darinya. Namun, jika ia keluar dan aku tidak lagi bersama kalian, maka setiap orang harus bisa melindungi dirinya sendiri. Allah adalah pelindung bagiku dan setiap Muslim. Barang siapa dari kalian berjumpa dengannya, hendaklah ia bacakan awal surah al-Kahfi . Sebab, itu akan melindungi kalian dari fitnahnya."  ( HR Muslim, Abu Da wud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Semoga tulisan ini membawa manfaat.


Sabtu, 25 Juni 2022

Kenapa Isa Al-Masih disebut Rohul Kudus

By Mang Anas 


اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ (٤٥)

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (fir-man) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (Q.S. Ali 'Imran ayat 45)

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ  قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ (٤٧)

Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Q.S. Ali 'Imran ayat 47)

Dalam disiplin ilmu genetika dan biologi molekular modern kita tentu mengenal apa yang disebut dengan istilah Genom, yang pada dasarnya merupakan gabungan dari gen dan kromosom, atau sebuah kumpulan gen.

Setiap organisme memiliki genom yang mengandung informasi biologis yang diperlukan untuk membangun tubuhnya dan mempertahankan hidupnya serta diwariskan ke generasi berikutnya. Kebanyakan genom, termasuk milik manusia dan makhluk hidup bersel lainnya, terbuat dari DNA [ asam deoksiribonukleat ]. 



Bagan : Silsilah Estafet Nur Kenabian Dari Adam, Ibrahim, Isa hingga Nabi Muhammad Saw.

DNA menjelaskan bagaimana manusia memiliki kekerabatan antara satu sama lain. Kekerabatan ini dapat ditelusuri melalui rantai DNA, yang menjadi komponen penting dari genom. Ada tiga marka yang dapat digunakan untuk melacak dan mengetahui asal usul  DNA dari seseorang. Ketiga marka itu adalah kromosom Y yang diturunkan dari ayah kepada anak laki-lakinya. Kedua, DNA mitokondria yang diturunkan dari ibu kepada seluruh anak-anaknya. Dan yang ketiga, adalah DNA autosomal yang mencerminkan pembauran genetik dari kedua orang tua.

Dari gambar silsilah nur kenabian tersebut diatas kita dapat menyimpulkan, bahwa sebagaimana asal usul dari sebuah Genom yang dapat ditelusur melalui jaring rantai DNA-nya, maka begitupun dengan Nur Kenabian, iapun akan dapat dilacak melalui silsilah dari garis keturunannya. Khususnya melalui jalur ayah atau jalur dari orang tua laki-lakinya.

A. Dari mana DNA Kenabian Isa Ibn Maryam [ Yesus ] itu berasal,

Sebagai mana diatas telah dijelaskan bahwa kromosom " Y " itu hanya dapat diturunkan dari pihak ayah kepada anak laki-laki-nya, maka begitu pula dengan nur kenabian, ia pun akan menitis melalui jalur ayah kepada anak laki-laki-nya. Sebagaimana nur kenabian Ibrahim kemudian menitis kepada putranya yaitu Ismail dan Ishak, lalu dari Yaqub kepada putranya yaitu Yusuf,  Dawud kepada Sulaiman serta dari Zakaria kepada putra tunggalnya yang diberi nama Yahya.

Tetapi hal yang demikian itu rupanya tidak berlaku pada kasus Al-Masih Isa Ibnu Maryam. Sebab " ia  ditahbiskan sebagai nabi tidak dari rantai DNA kenabian yang diturunkan dari jalur ayah,  tetapi DNA kenabiannya justru diproses secara khusus melalui tiupan roh dari-Nya didalam rahim ibunya ".

اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗۚ  اَلْقٰىهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ

Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya. (Q.S. An-Nisa' ayat 171)

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ  خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ (٥٩)

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!”  Maka jadilah sesuatu itu. (Q.S. Ali 'Imran ayat 59)



Bagan : Rantai Kenabian dalam Perspektif Makna Sirr Surat Al Fatiha 

Itulah sebabnya mengapa didalam Al-Quran kenabian Isa Al-Masih disebut dengan istilah " Rohul kudus ". Sebutan istimewa itu hanya disematkan kepadanya, dan tidak diperuntukan bagi nabi-nabi yang lainnya.

۞ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ (٢٥٣)

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohul kudus. (Q.S. Al-Baqarah ayat 253)

B. Isa Al-Masih Sebagai Sosok Yang Paling Banyak  Disalah Pahami.

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ قَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ (١١٦)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 116)

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْۚ  فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْۗ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ (١١٧)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Ma'idah ayat 117)

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَۚ وَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ (١١٨)

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 118)

Yang sangat menarik dan yang perlu digaris bawahi disini adalah permohonan Isa As sebagaimana yang tertera pada QS. Al-Ma'idah ayat 118 diatas, " Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana ”. 

Sikap Nabi Isa itu sungguh menarik, karena tersirat pada pernyataan permohonannya itu semacam pembelaan, bahkan terhadap para pengikutnya yang selama ini telah menyalapahami status dan kedudukan dirinya dihadapan Tuhan. Yakni mereka yang menyatakan bahwa " dirinya dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah ". Sikap Isa ini tentunya bukan tanpa alasan. Disini Isa seakan-akan hendak mengatakan, " karena dulu Engkau pernah memberiku banyak sekali mukjizat dan Engkau menyelubungiku dengan banyak rahasia, oleh karena itu aku mohon dengan sangat janganlah Engkau terlalu menyalahkan mereka jika ahirnya mereka sampai salah memahamiku, atau jika mereka sampai menganggap bahwa aku dan ibuku layak disandingkan dengan-Mu. Semua itu terjadi karena mereka memang tidak tahu hakikat dari yang ghaib, yaitu hakikat-Mu, hakikat Ibuku dan hakikat yang sebenarnya dari diriku. Oleh karena itu aku mohon sekali lagi, jika sekiranya ketidaktahuan mereka itu layak Kau ampuni, maka ampunilah mereka dan kasihanilah mereka, sebab sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu ".

C. Isa Al-Masih Sebagai Sosok Yang Paling Banyak Menuai Kontroversi

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَۘ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ  تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًاۚ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ وَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ (١١٠)

Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan " Rohul Kudus ". Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang yang menentangmu di antara para pemuka agama Yahudi itu berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 110)

Diantara sekian banyak nabi dan utusan Allah, Isa Al-Masih adalah nabi yang paling banyak menuai kontroversi, dan paling banyak disalah pahami.

Proses kelahirannya yang ajaib, mukjizat-nya yang membuat takjub, tutur katanya yang lembut, sikapnya yang bijaksana, dan ungkapan -ungkapan kalimatnya yang syarat dengan bahasa roh. Tak urung membuatnya selalu menjadi pusat perbincangan, memicu  kontroversi, dan mengundang sikap pro dan kontra dikalangan bangsa Yahudi dan umat-umat lain disekitarnya.

Para pemuka agama Yahudi yang pada waktu itu paling banyak dikritiknya dan yang sekaligus juga menjadi penentangnya yang paling keras, kerap menganggap bahwa mukjizat-mukjizat yang diperlihatkannya itu sebagai tidak bersumber dari Tuhan. Dalam pandangan mereka, itu hanyalah sihir semata [ lihat QS. Al-Ma'idah ayat 110 diatas ].

Ungkapan kata-kata Isa yang terkait dengan fenomena spiritual ketuhanan juga kerap dituding oleh para ahli Taurat sebagai berpotensi menyesatkan dan mengandung bid'ah. Mereka rupanya merasa kesulitan untuk dapat mencerna dan memahami ungkapan kata-kata  Isa yang syarat dengan bahasa roh itu, dengan akal dan pengetahuan mereka. Demikianlah situasi itu ahirnya tambah memanas dan sampai akhirnya berujung pada rencana makar penyaliban Isa As. 

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ  وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ (٥٤)

Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Ali 'Imran ayat 54 )

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ  ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ (٥٥)

(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan.” (Q.S. Ali 'Imran ayat 55)

Situasi serupa, dan seperti yang dialami oleh Isa juga ahirnya menimpa para guru-guru sufi yang hidup dizaman pertengahan islam. Abul Mugith Al-Husayn bin Mansur al-Hallaj [ 858 -922 M ], Fazlallah Astarabadi [ 1340–1394 ], Imadaddin Nasimi (1369 – 1417) dan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemahabang [ 1426 - 1517 ] adalah diantara deretan para sufi besar yang mengalami nasib serupa. Mereka semua dihukum mati hanya gara-gara ungkapan yang terucap dari mulut mereka yang sedang berada dalam keadaan fana itu terbawa keluar, dan kemudian disalah pahami orang. Sikap para pemuka agama Yahudi terhadap Isa dan perlakuan para ulama dohiriyah [ kaum fuqoha ] terhadap para sufi dan ahli-ahli rohani lainnya adalah sama dan serupa. Keduanya sama-sama telah bersikap melampaui batas. Karena mereka  berani menghakimi suatu perkara, yang mereka sendiri sebenarnya tidak pernah mengetahui hakikatnya.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ  ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (١١٢)

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (Q.S. Ali 'Imran ayat 112)

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (٧٨)

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas "  [QS. Al-Ma'idah ayat 78]



Bagan : Dohir dan Batin Surat Al Fatiha 


D. Nasib Tragis Yang Dialami Para Pemilik Ilmu Isawi.

Kelima Tokoh yang disebutkan diatas, yakni Isa Al-Masih, Al-Husyn bin Mansyur Al Hallaj, Fazlullah Astarabadi, An Nassimi dan Syekh Siti Jenar adalah tokoh-tokoh sufi yang oleh Allah SWT dianugerahi ilmu huruf atau ilmu Isawi. Dan empat diantaranya harus mengalami nasib tragis. Ibnu Arabi dan Isa Al-Masih adalah sebuah pengecualian karena Allah SWT memiliki kehendak khusus terhadapnya. Maka dia diselamatkan. 

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗٓ اٰيَةً وَّاٰوَيْنٰهُمَآ اِلٰى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّمَعِيْنٍ  (٥٠)

Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata bagi (kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di sebuah dataran tinggi, dengan mata air yang mengalir [ mungkin yang dimaksud adalah sebuah lembah didataran tinggi Kasmier, India_ lihat buku Yesus wafat di Kasmier, India ]. (Q.S. Al-Mu'minun ayat 50)

1. Ilmu Huruf adalah asal muasal dari pembentukan ilmu asma atau ilmu sabda dadi atau ilmu dawuh atau ucapan. Sebab asma, sabda, dawuh atau ucapan itu dibentuk dan disusun diatas rangkaian huruf-huruf.

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ  فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ  (٤٠)

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (Q.S. An-Naml ayat 40)

2. Ilmu Huruf juga disebut ilmu Isawi, atau ilmunya nabi Isa, sebab mukzijat-mukzijat nabi Isa itu pada dasarnya terbentuk diatas dasar keajaiban ilmu huruf. Ilmu huruf juga menjadi ilmunya Musa Samiri, dengan memakai ilmu itu dulu Musa Samiri pernah membuat anak lembu dari emas, dan anak lembu itu nampak seperti  hidup, dan bukan itu saja, ia pun bahkan bisa melenguh sebagaimana anak sapi pada umumnya. Saking takjubnya orang-orang bani Israèl terhadap anak lembu ciptaan Samiri itu, maka  mereka pun akhiirnya tergerak untuk menyembahnya.

قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ (٨٥)

Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (Q.S. Taha ayat 85)

Ilmu huruf juga nanti akan menjadi ilmunya Dajjal. Dengan mengandalkan kekuatan ilmu itu nanti di akhir zaman Dajjal akan berhadapan secara face to face  dengan Isa Al-Masih.


Gambar : Dajjal dan Isa Al-Masih Dua Kutub Kekuatan Yang Akan Saling Berhadapan Di Akhir Zaman

3. Hakikat dari nabi Isa dan Dajjal adalah ibarat dua mata coin. Yang satu sengaja Allah tempatkan dikutub positif dan yang satunya lagi Allah tempatkan dikutub negatif. Keduanya sama-sama desain dari Tuhan, dan kedua-duanya dianugerahi  dasar ilmu yang sama [ yaitu ilmu Huruf ] dan kekuatannya pun seimbang. Oleh karena itu moments pertemuan antar keduanya saat menjelang hari kiamat, akan menjadi pertarungan yang menentukan antara dua kutub kekuatan, yaitu kutub kebaikan dengan poros kejahatan. Pertemuan itu juga akan menjadi pertarungan pamungkas untuk menyelesaikan pertikaian  lama antara Adam dan Iblis.

قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا (٦٢)

Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku ? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 62)

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ (١٤)

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Q.S. Ali 'Imran ayat 14)

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ......  وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (٢٠)

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, ...... Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (Q.S. Al-Hadid ayat 20 )

4. Diatas ilmu huruf ada ilmu yang lebih tinggi lagi, yaitu ilmu titik. Itulah " ilmu-Kun " atau yang disebut ilmu penciptaan atau ilmu tentang asal dari segala penciptaan. Ilmu itu hanya menjadi ranah Tuhan, tidak ada satupun makhluk baik dibumi maupun yang dilangit yang diijinkan untuk menguasainya. 

Demikianlah, semoga paparan yang panjang- lebar ini bermanfaat.