Halaman

Tampilkan postingan dengan label Ilmu laduni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu laduni. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2023

Shalat Wustha Makna Hakiki Dan Fadhilahnya

Oleh : Mang Anas


حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ (٢٣٨)

Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.(Q.S. Al-Baqarah ayat 238)


A. Secara lughot atau makna bahasa kata الْوُسْطٰى  berarti " Tengah ".

Tetapi dari sudut makna  hurufnya maka kata الْوُسْطٰى bermakna sebagai berikut :

1. Huruf و pada kata  الْوُسْطٰى bermakna diri hamba yang tunduk patuh [ cermati bentuk huruf و  ]

2. Huruf س  pada kata الْوُسْطٰى bermakna tiga elemen diri manusia, yaitu jasad, akal dan jiwa [ cermati bentuk huruf س ] 

3. Sedangkan huruf ط bermakna wahyu, yakni bimbingan wahyu [ pada huruf ط itu elemen آ bermakna esensi ilahiah sedangkan elemen ص bermakna mata hati ] . 

Maka berdasarkan tinjauan makna huruf tersebut diatas Fadhilah melaksanakan shalat  الْوُسْطٰى bagi diri seorang hamba adalah berikut, 

1. Bagi Maqom Syariat atau Maqom Asbab :

Bagi hamba yang masih duduk dimaqom syariat [ maqom Asbab ] maka melaksanakan shalat wustho itu akan membuat diri hamba mampu memenej dan sekaligus membuatnya menjadi mampu menundukkan kecenderungan buruk hawa nafsu yang melekat pada elemen jasad, akal dan jiwanya [ disebut elemen buruk huruf س ] . Dan berkat salat wustho itu maka ketiga elemen buruknya insya Allah akan menjadi tunduk dan lalu kemudian menjadi patuh dibawah bimbingan wahyu [ Petunjuk Al Qur'an ]. Dalam kasus ini sang hamba disebut mendapatkan hidayah. 

2. Bagi Maqom Hakikat atau Maqom Tajrid  [ Insan Kamil ]  : 

Bagi diri hamba yang sudah duduk dimaqom hakikat [ maqom Tajrid ] maka Istiqomah dalam melanggengkan salat wustho itu bukan saja akan membuat dirinya semakin dalam memahami hakikat kemanusiaannya [ yaitu ketiga elemen diri yang selama ini tersembunyi didalam huruf س  ] , tetapi juga rakhmat dan barokah Allah SWT akan mengalir semakin deras kepada dirinya. Dalam hal ini diri hamba akan memiliki akses lebih jauh kesumber sumber wahyu  [ rahasia lauhul makhfudz ]. Tandanya adalah sang hamba akan semakin sering mendapatkan anugerah ilmu-ilmu ilham dan juga berbagai bentuk pengajaran ilmu ilmu kelangitan.

B. Lalu apa yang dimaksud sebagai Shalat Wustha ? 

Berdasarkan apa yang saya pahami, maka yang dimaksud sebagai shalat wustha adalah, 

1. Bagi maqom syariat yang dinamakan shalat wustha  adalah shalat yang dilakukan dalam keheningan akal pikiran. 

Dalilnya adalah, 

Jasad --- AKAL --- Jiwa

[ Lihatlah pada tipikal manusia jasad, dalam hal ini adalah diri yang belum dapat melepaskan diri dari cangkangnya yaitu unsur kejasadannya, maka posisi AKAL itu adanya ditengah ]

2. Adapun bagi maqom hakikat [ insan Kamil ] maka yang dimaksud sebagai salat wustho adalah shalat Ruh. 

Dalilnya adalah, 

Jasad - Akal - Jiwa - RUH - Sirr - Nur - Dzat

[ Lihatlah pada diri manusia insanul kamil yang sudah mampu menembus tujuh elemen dirinya, maka posisi RUH itu adanya ditengah ]


C. Kapan Waktunya ? 

a. Secara syariat adalah diwaktu Magrib. 

Dalilnya adalah, 

1. Shalat subuh itu Shalat bagi Jasad

2. Shalat Dhuhur itu Shalat bagi Akal  

3. Shalat Ashar  itu Shalat bagi Jiwa

4. Shalat Maghrib itu Shalat bagi Ruh

5. Shalat Isya itu Shalat bagi Sirr  [ yakni rahasia Insan ]

6. Shalatul Lail [ Tahajud ] itu Shalat bagi Nur [ yakni cahaya Insan ]

7. Shalat Witir itu Shalat bagi Dzat  [ yakni Dzat Insan ]

[ Lihat diantara waktu waktu sholat maka posisi Shalat Maghrib itu adanya ditengah ] 

b. Dan adapun secara hakikat maka waktunya adalah disemua shalat dan bahkan pada setiap hembusan nafas dan sudah selayaknya menempel secara otomatis pada setiap detak jantung. 

Demikianlah rahasia [ Fadhilah ] shalat wustho dari sudut ilmu hakikat dan makna hurufnya. 

Semoga Artikel ini bermanfaat.




Minggu, 24 Juli 2022

Esensi Kalimat Bismillahirrahmanirrahim dalam Surat Al-Fatihah

Seri ilmu huruf : 

By Mang Anas


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

🌖 Bahasan kalimat بسم :

1. Huruf ب = Al Qur'an yang Qodim, yaitu esensi Al Qur'an yang berada di Lauhul Mahfud, yang masih ada dalam keadaannya yang azali. Yaitu Al Qur'an yang ber- bahasa Ruh atau ber-bahasa Siir.

2. Huruf س = Adalah tiga pokok pengetahuan yang terkandung dalam Al Qur'an yakni, Ilmu Syariat, ilmu Makrifat dan ilmu Hakikat

3. Huruf م =  Adalah Al-Qur'an yang Hadits, yakni Al-Qur'an yang diwahyukan, dan  yang sudah di-tranformasikan kedalam bahasa Manusia.

Dengan demikian maka hakikat dari kata " bismi " [ بسم ] adalah penggambaran proses turunnya Al-Qur'an dari Lauhul Mahfud hingga sampai ke alam dunia.




🌖 Bahasan kalimat الله 

1. Makna huruf Alif [ ا ] pada kalimat الله adalah berarti = Yang Memerintah, Yang Berkuasa dan Yang Menunjuki jalan kepada tiga entitas Lam [ ل ]. Maka dalam hal ini makna Alif adalah simbol dari esensi dzat dan sifat-sifat Allah SWT.

2. Dan adapun tiga entitas Lam itu  :

a. Huruf Lam [ ل ] yang pertama adalah = Malaikat

b. Huruf Lam [ل ] yang  kedua adalah = Jin

c. Huruf Lam [ ل ] yang ketiga adalah = Manusia

3. Dan adapun huruf Ha [ ه ] adalah = Simbol dari bentang kekuasaan Allah SWT yang meliputi seluruh langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. 

Dengan demikian maka makna dari kata "الله" dalam kalimat bismillahir rahmanir rahim adalah  Dzat Yang Memerintah, Yang Berkuasa dan Yang Menunjuki jalan kepada para malaikat, jin dan manusia yang dikehendaki-Nya. Dan yang berkuasa atas seluruh langit dan bumi serta seisinya.

🌖 Bahasan kalimat  الرَّحْمٰنِ

1. Huruf Alif Lam ال pada kalimat  الرَّحْمٰنِ
adalah simbol makna dari = Pemilik atau Yang Berkuasa atas seluruh Alam. Yaitu yang berupa, 

2. Huruf Ro ر yang berarti = Yang Maha Menyayangi, Yang Maha Memelihara dan Yang Maha Menghidupi. 

3. Dan huruf Kha ح yang bermakna = Yang Memberikan bimbingan dan petunjuk kepada para hamba-Nya, dimana proses pemberian petunjuk itu akan didatangkannya 

4. Lewat Huruf Mim م = yaitu melalui tanda - tanda kekuasaan-Nya  

5. Yang tergambar jelas dalam bentuk huruf Nun ن =  Yaitu lanskap arsitektur bumi dan langit yang terbentang luas sepanjang mata memandang. 

Hakikat Ar-Rahman ini adalah sarana dan model pencarian hidayah bagi maqom Kasbi, yaitu maqom kebanyakan orang atau maqom umum. Dimana tabiat proses pencarian hidayahnya harus berjalan secara alami, yaitu diawali dengan penggunaan indra pendengaran, penglihatan dan baru kemudian hati.

🌖 Bahasan kalimat  الرَّحِيْمِ

1. Huruf Alif Lam ال  pada kalimat الرَّحِيْمِ
adalah simbol makna dari = Sang Pemilik atau Yang Berkuasa penuh atas seluruh Alam. Yang kemudian memanifestasikan dirinya menjadi,  

2. Huruf Ro ر yang berarti = Yang Maha Menyayangi, Yang Maha Memelihara dan Yang Maha Menghidupi. 

3. Dan huruf Kha ح yang bermakna = Yang Memberi petunjuk dan Yang Membimbing hati  para hamba-Nya, dimana proses bimbingan dan pemberian petunjuk itu akan didatangkannya 

4. Lewat huruf Ya ي = yaitu dengan caranya yang khusus, yang diberikan hanya kepada siapa yang dikehendaki -Nya diantara para hamba-Nya yang terpilih. Proses itu dilakukannya melalui pengajaran Ilmu Sirr dari

5. Huruf Mim م = yang diajarkannya secara langsung atau melalui perantaraan Jibril atau melalui hamba yang diperintahkan-Nya [ Rijalul ghaib ]. Sehingga sang hamba yang Dia kehendaki untuk diangkat derajatnya ke maqom " Ulil Albab " itu akhirnya akan dengan mudah memakrifafi  rahasia asma-asmanya, rahasia sifat-sifatnya dan juga eksistensi Dzat - Nya.

Dengan demikian maka hakikat Ar-rahim adalah sarana dan model pemberian hidayah oleh Allah SWT kepada para hamba-Nya yang didudukkan pada maqom Tajrid. Yaitu maqom orang -orang khusus, maqom para nabi dan rasul serta para Auliya-illah yang pilihan.

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat dan kiranya dapat membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.
Amiiin...ya rabbal alamin.




Sabtu, 25 Juni 2022

Kenapa Isa Al-Masih disebut Rohul Kudus

By Mang Anas 


اِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُۖ اسْمُهُ الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيْهًا فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ (٤٥)

(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (fir-man) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (Q.S. Ali 'Imran ayat 45)

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ  قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ (٤٧)

Dia (Maryam) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Q.S. Ali 'Imran ayat 47)

Dalam disiplin ilmu genetika dan biologi molekular modern kita tentu mengenal apa yang disebut dengan istilah Genom, yang pada dasarnya merupakan gabungan dari gen dan kromosom, atau sebuah kumpulan gen.

Setiap organisme memiliki genom yang mengandung informasi biologis yang diperlukan untuk membangun tubuhnya dan mempertahankan hidupnya serta diwariskan ke generasi berikutnya. Kebanyakan genom, termasuk milik manusia dan makhluk hidup bersel lainnya, terbuat dari DNA [ asam deoksiribonukleat ]. 



Bagan : Silsilah Estafet Nur Kenabian Dari Adam, Ibrahim, Isa hingga Nabi Muhammad Saw.

DNA menjelaskan bagaimana manusia memiliki kekerabatan antara satu sama lain. Kekerabatan ini dapat ditelusuri melalui rantai DNA, yang menjadi komponen penting dari genom. Ada tiga marka yang dapat digunakan untuk melacak dan mengetahui asal usul  DNA dari seseorang. Ketiga marka itu adalah kromosom Y yang diturunkan dari ayah kepada anak laki-lakinya. Kedua, DNA mitokondria yang diturunkan dari ibu kepada seluruh anak-anaknya. Dan yang ketiga, adalah DNA autosomal yang mencerminkan pembauran genetik dari kedua orang tua.

Dari gambar silsilah nur kenabian tersebut diatas kita dapat menyimpulkan, bahwa sebagaimana asal usul dari sebuah Genom yang dapat ditelusur melalui jaring rantai DNA-nya, maka begitupun dengan Nur Kenabian, iapun akan dapat dilacak melalui silsilah dari garis keturunannya. Khususnya melalui jalur ayah atau jalur dari orang tua laki-lakinya.

A. Dari mana DNA Kenabian Isa Ibn Maryam [ Yesus ] itu berasal,

Sebagai mana diatas telah dijelaskan bahwa kromosom " Y " itu hanya dapat diturunkan dari pihak ayah kepada anak laki-laki-nya, maka begitu pula dengan nur kenabian, ia pun akan menitis melalui jalur ayah kepada anak laki-laki-nya. Sebagaimana nur kenabian Ibrahim kemudian menitis kepada putranya yaitu Ismail dan Ishak, lalu dari Yaqub kepada putranya yaitu Yusuf,  Dawud kepada Sulaiman serta dari Zakaria kepada putra tunggalnya yang diberi nama Yahya.

Tetapi hal yang demikian itu rupanya tidak berlaku pada kasus Al-Masih Isa Ibnu Maryam. Sebab " ia  ditahbiskan sebagai nabi tidak dari rantai DNA kenabian yang diturunkan dari jalur ayah,  tetapi DNA kenabiannya justru diproses secara khusus melalui tiupan roh dari-Nya didalam rahim ibunya ".

اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗۚ  اَلْقٰىهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ

Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya. (Q.S. An-Nisa' ayat 171)

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَۗ  خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ (٥٩)

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!”  Maka jadilah sesuatu itu. (Q.S. Ali 'Imran ayat 59)



Bagan : Rantai Kenabian dalam Perspektif Makna Sirr Surat Al Fatiha 

Itulah sebabnya mengapa didalam Al-Quran kenabian Isa Al-Masih disebut dengan istilah " Rohul kudus ". Sebutan istimewa itu hanya disematkan kepadanya, dan tidak diperuntukan bagi nabi-nabi yang lainnya.

۞ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ (٢٥٣)

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohul kudus. (Q.S. Al-Baqarah ayat 253)

B. Isa Al-Masih Sebagai Sosok Yang Paling Banyak  Disalah Pahami.

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ قَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ (١١٦)

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 116)

مَا قُلْتُ لَهُمْ اِلَّا مَآ اَمَرْتَنِيْ بِهٖٓ اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ رَبِّيْ وَرَبَّكُمْۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْۚ  فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِيْ كُنْتَ اَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْۗ وَاَنْتَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ (١١٧)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Ma'idah ayat 117)

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَۚ وَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ (١١٨)

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 118)

Yang sangat menarik dan yang perlu digaris bawahi disini adalah permohonan Isa As sebagaimana yang tertera pada QS. Al-Ma'idah ayat 118 diatas, " Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana ”. 

Sikap Nabi Isa itu sungguh menarik, karena tersirat pada pernyataan permohonannya itu semacam pembelaan, bahkan terhadap para pengikutnya yang selama ini telah menyalapahami status dan kedudukan dirinya dihadapan Tuhan. Yakni mereka yang menyatakan bahwa " dirinya dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah ". Sikap Isa ini tentunya bukan tanpa alasan. Disini Isa seakan-akan hendak mengatakan, " karena dulu Engkau pernah memberiku banyak sekali mukjizat dan Engkau menyelubungiku dengan banyak rahasia, oleh karena itu aku mohon dengan sangat janganlah Engkau terlalu menyalahkan mereka jika ahirnya mereka sampai salah memahamiku, atau jika mereka sampai menganggap bahwa aku dan ibuku layak disandingkan dengan-Mu. Semua itu terjadi karena mereka memang tidak tahu hakikat dari yang ghaib, yaitu hakikat-Mu, hakikat Ibuku dan hakikat yang sebenarnya dari diriku. Oleh karena itu aku mohon sekali lagi, jika sekiranya ketidaktahuan mereka itu layak Kau ampuni, maka ampunilah mereka dan kasihanilah mereka, sebab sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu ".

C. Isa Al-Masih Sebagai Sosok Yang Paling Banyak Menuai Kontroversi

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَۘ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ  تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًاۚ وَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَۚ وَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْۚ وَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ (١١٠)

Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan " Rohul Kudus ". Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang yang menentangmu di antara para pemuka agama Yahudi itu berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Q.S. Al-Ma'idah ayat 110)

Diantara sekian banyak nabi dan utusan Allah, Isa Al-Masih adalah nabi yang paling banyak menuai kontroversi, dan paling banyak disalah pahami.

Proses kelahirannya yang ajaib, mukjizat-nya yang membuat takjub, tutur katanya yang lembut, sikapnya yang bijaksana, dan ungkapan -ungkapan kalimatnya yang syarat dengan bahasa roh. Tak urung membuatnya selalu menjadi pusat perbincangan, memicu  kontroversi, dan mengundang sikap pro dan kontra dikalangan bangsa Yahudi dan umat-umat lain disekitarnya.

Para pemuka agama Yahudi yang pada waktu itu paling banyak dikritiknya dan yang sekaligus juga menjadi penentangnya yang paling keras, kerap menganggap bahwa mukjizat-mukjizat yang diperlihatkannya itu sebagai tidak bersumber dari Tuhan. Dalam pandangan mereka, itu hanyalah sihir semata [ lihat QS. Al-Ma'idah ayat 110 diatas ].

Ungkapan kata-kata Isa yang terkait dengan fenomena spiritual ketuhanan juga kerap dituding oleh para ahli Taurat sebagai berpotensi menyesatkan dan mengandung bid'ah. Mereka rupanya merasa kesulitan untuk dapat mencerna dan memahami ungkapan kata-kata  Isa yang syarat dengan bahasa roh itu, dengan akal dan pengetahuan mereka. Demikianlah situasi itu ahirnya tambah memanas dan sampai akhirnya berujung pada rencana makar penyaliban Isa As. 

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُۗ  وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ (٥٤)

Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Ali 'Imran ayat 54 )

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۚ  ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ (٥٥)

(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan.” (Q.S. Ali 'Imran ayat 55)

Situasi serupa, dan seperti yang dialami oleh Isa juga ahirnya menimpa para guru-guru sufi yang hidup dizaman pertengahan islam. Abul Mugith Al-Husayn bin Mansur al-Hallaj [ 858 -922 M ], Fazlallah Astarabadi [ 1340–1394 ], Imadaddin Nasimi (1369 – 1417) dan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemahabang [ 1426 - 1517 ] adalah diantara deretan para sufi besar yang mengalami nasib serupa. Mereka semua dihukum mati hanya gara-gara ungkapan yang terucap dari mulut mereka yang sedang berada dalam keadaan fana itu terbawa keluar, dan kemudian disalah pahami orang. Sikap para pemuka agama Yahudi terhadap Isa dan perlakuan para ulama dohiriyah [ kaum fuqoha ] terhadap para sufi dan ahli-ahli rohani lainnya adalah sama dan serupa. Keduanya sama-sama telah bersikap melampaui batas. Karena mereka  berani menghakimi suatu perkara, yang mereka sendiri sebenarnya tidak pernah mengetahui hakikatnya.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ  ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (١١٢)

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. (Q.S. Ali 'Imran ayat 112)

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى لِسَانِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ (٧٨)

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas "  [QS. Al-Ma'idah ayat 78]



Bagan : Dohir dan Batin Surat Al Fatiha 


D. Nasib Tragis Yang Dialami Para Pemilik Ilmu Isawi.

Kelima Tokoh yang disebutkan diatas, yakni Isa Al-Masih, Al-Husyn bin Mansyur Al Hallaj, Fazlullah Astarabadi, An Nassimi dan Syekh Siti Jenar adalah tokoh-tokoh sufi yang oleh Allah SWT dianugerahi ilmu huruf atau ilmu Isawi. Dan empat diantaranya harus mengalami nasib tragis. Ibnu Arabi dan Isa Al-Masih adalah sebuah pengecualian karena Allah SWT memiliki kehendak khusus terhadapnya. Maka dia diselamatkan. 

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗٓ اٰيَةً وَّاٰوَيْنٰهُمَآ اِلٰى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّمَعِيْنٍ  (٥٠)

Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata bagi (kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di sebuah dataran tinggi, dengan mata air yang mengalir [ mungkin yang dimaksud adalah sebuah lembah didataran tinggi Kasmier, India_ lihat buku Yesus wafat di Kasmier, India ]. (Q.S. Al-Mu'minun ayat 50)

1. Ilmu Huruf adalah asal muasal dari pembentukan ilmu asma atau ilmu sabda dadi atau ilmu dawuh atau ucapan. Sebab asma, sabda, dawuh atau ucapan itu dibentuk dan disusun diatas rangkaian huruf-huruf.

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ  فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ  (٤٠)

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (Q.S. An-Naml ayat 40)

2. Ilmu Huruf juga disebut ilmu Isawi, atau ilmunya nabi Isa, sebab mukzijat-mukzijat nabi Isa itu pada dasarnya terbentuk diatas dasar keajaiban ilmu huruf. Ilmu huruf juga menjadi ilmunya Musa Samiri, dengan memakai ilmu itu dulu Musa Samiri pernah membuat anak lembu dari emas, dan anak lembu itu nampak seperti  hidup, dan bukan itu saja, ia pun bahkan bisa melenguh sebagaimana anak sapi pada umumnya. Saking takjubnya orang-orang bani Israèl terhadap anak lembu ciptaan Samiri itu, maka  mereka pun akhiirnya tergerak untuk menyembahnya.

قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ (٨٥)

Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.” (Q.S. Taha ayat 85)

Ilmu huruf juga nanti akan menjadi ilmunya Dajjal. Dengan mengandalkan kekuatan ilmu itu nanti di akhir zaman Dajjal akan berhadapan secara face to face  dengan Isa Al-Masih.


Gambar : Dajjal dan Isa Al-Masih Dua Kutub Kekuatan Yang Akan Saling Berhadapan Di Akhir Zaman

3. Hakikat dari nabi Isa dan Dajjal adalah ibarat dua mata coin. Yang satu sengaja Allah tempatkan dikutub positif dan yang satunya lagi Allah tempatkan dikutub negatif. Keduanya sama-sama desain dari Tuhan, dan kedua-duanya dianugerahi  dasar ilmu yang sama [ yaitu ilmu Huruf ] dan kekuatannya pun seimbang. Oleh karena itu moments pertemuan antar keduanya saat menjelang hari kiamat, akan menjadi pertarungan yang menentukan antara dua kutub kekuatan, yaitu kutub kebaikan dengan poros kejahatan. Pertemuan itu juga akan menjadi pertarungan pamungkas untuk menyelesaikan pertikaian  lama antara Adam dan Iblis.

قَالَ اَرَاَيْتَكَ هٰذَا الَّذِيْ كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَىِٕنْ اَخَّرْتَنِ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَاَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلًا (٦٢)

Ia (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku ? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (Q.S. Al-Isra' ayat 62)

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِۗ  ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ (١٤)

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (Q.S. Ali 'Imran ayat 14)

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ......  وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ (٢٠)

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, ...... Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (Q.S. Al-Hadid ayat 20 )

4. Diatas ilmu huruf ada ilmu yang lebih tinggi lagi, yaitu ilmu titik. Itulah " ilmu-Kun " atau yang disebut ilmu penciptaan atau ilmu tentang asal dari segala penciptaan. Ilmu itu hanya menjadi ranah Tuhan, tidak ada satupun makhluk baik dibumi maupun yang dilangit yang diijinkan untuk menguasainya. 

Demikianlah, semoga paparan yang panjang- lebar ini bermanfaat.


Jumat, 29 Oktober 2021

IQRO dan Al Qolam : Pengajaran Yang Diterima Lewat Mimpi

By. Mang Anas

Kisah Perjalanan Rohani seorang pencari : 

يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَآءُ  ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا  ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُولُوا الْأَلْبٰبِ

"Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 269)

A. Prolog

1. Dia lahir di Indramayu pada hari Ahad, 24 Oktober th 1965, tepat dua bulan setelah kedua orang tuanya pulang dari melaksanakan ibadah haji ditanah suci.

2. Merasakan Ikhsan.

Saat duduk di Kelas 4 SD  hingga kelas 3 SMP adalah masa - masa emas kerohaniannya. Baginya masa itu adalah masa yang spesial,  karena ia dapat menjalin hubungan yang sangat intim dengan Tuhannya. Fenomena itu disebutnya sebagai peristiwa ikhsan yang berkesinambungan. Karena apa yang dirasakannya itu mirip dengan apa yang digambarkan dalam hadits Jibril AS berikut ini,

"Dari Umar bin Khathab Radhiyallahu'anhu berkata : Suatu ketika, kami duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan ia letakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya.........Selanjutnya ia berkata : “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, yakinlah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.” [HR Muslim]

3. Tiga Orang Nabi dan Umar bin Khatab RA.

Saat duduk dikelas 2 SMP dia mengalami satu peristiwa mimpi dimana dalam mimpi itu ia didatangi oleh tiga orang nabi secara bersamaan, ketiga beliau itu adalah

-  Nabi Yahya AS [ berdiri paling depan ]

-  Nabi Zakaria AS [ berdiri dibelakang nabi Yahya AS ]

-  Nabi Saleh AS [ berdiri dibelakang nabi Zakaria AS ]

Dalam mimpi itu mereka bertiga beruluk salam dan dia pun menjawab salam mereka serta berjabat tangan. Sesaat kemudian dalam kondisi mereka bertiga yang masih dalam posisi berdiri itu dia  mendudukkan dirinya dilantai, dan sesaat setelah itu dia melihat Nabi Yahya AS itu mengayunkan tangan kanannya.

Anehnya [ katanya ] dari tangan beliau itu keluar sebaris cahaya, dan sebaris cahaya yang keluar dari tangan beliau itu kemudian berubah bentuk menjadi sebuah ayat :

وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

"Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali." (QS. Maryam 19: Ayat 15)

Tiga bulan setelah peristiwa itu dia pun kembali bermimpi, kali ini dia bermimpi didatangi sahabat nabi yang mulia, Umar bin Khatab RA.

Kala itu dia bertemu beliau didepan sebuah masjid, lalu oleh beliau kedua pundaknya dipegang, untuk kemudian diajaknya masuk kedalam masjid.

Didalam masjid itu dia dengan Sahabat Umar RA duduk saling berhadapan dan kala itu Umar RA mengutarakan keinginannya untuk mengajarinya sesuatu, tetapi waktu itu beliau menetapkan syarat harus mendapatkan ijin dulu dari Kyai-nya, [ Almarhum KH. Fathoni Ali, Kyai sepuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon yang waktu itu masih hidup. Semoga Ridho Allah bersamanya].

Sesaat setelah itu ia pun diajaknya untuk menemui Kyai-nya, dan ia ingat betul bahwa disepanjang jalan menuju ke rumah KH Fathoni Ali itu tangannya terus digandeng oleh tangan Sahabat Rasul yang Mulia itu, atau lebih tepatnya dia berjalan dengan dituntun oleh beliau. 

Sesampainya dirumah Kyai Fathoni, beliau pun lantas mengutarakan keinginannya dan sekaligus meminta ijinnya untuk mengajari dia sesuatu, hanya saja saat itu kyai- nya ternyata belum mengijinkan. Alasannya, dia masih terlalu kecil dan dalam pandangannya itu belum saatnya.

Sehubungan dengan hal itu, maka pada malam itu beliau [ Umar bin Khatab RA ] berkata kepada - nya, “ Nak, sehubungan Kyai mu belum mengijinkan maka saya belum bisa mengajarimu sesuatu “.  Sesaat setelah itu lalu dia pun terbangun dari mimpi spritualnya....

4.  Masa Kelam

Kelas 2 SLTA adalah masa - masa paling kelam dalam kehidupan kerohaniannya, sebab mulai saat itu dirinya telah berubah menjadi seorang Agnostik. Penyebabnya, karena semenjak kelas 2 SMA itu dia terlalu banyak memanjakan pikiran dan logika liarnya. Waktu itu porsinya dalam membaca buku- buku terkait filsafat dan pemikiran memang terlalu banyak bahkan boleh dibilang ekstrim [ sehari antara 6 - 8 jam ]. Buku - buku yang terkait dengan filsafat dan pemikiran, buku buku sejarah, kitab suci agama - agama dan theologi perbandingan adalah buku buku yang paling sering dibacanya. Selanjutnya adalah karya karya sastra, karya karya ilmiah dibidang biologi dan astronomi serta banyak lagi yang lainnya. 

Tetapi meskipun saat itu dia sudah menjadi seorang Agnostik, anehnya setiap kali dia berdoa, doa – doanya itu selalu saja dikabulkan, dan bahkan dikala didalam doa itu Tuhan dia tantang, seperti dengan ungkapan " Tuhan, jika engkau memang ada, tolong saya Tuhan...!!! Ternyata dengan cara berdoa yang seperti itupun doa doanya dikabulkan dan bahkan kontan, pertolongan Tuhan itu segera datang bahkan hanya dalam hitungan detik.  Keadaan itu [ Agnostik ] terus berlangsung hingga dia tamat perguruan tinggi.

Pasca lulus dari perguruan tinggi dia pun segera mendapat pekerjaan, dan dia pun merasa bersyukur karena semenjak itu kehidupan rohaninya sudah mulai beranjak normal, dalam pengertian dia bisa kembali menjalankan syariat agama sebagaimana umumnya orang. Hanya saja keberagamaannya waktu itu hanya baru sebatas menjalankan kewajiban, dan sifatnya masih dohiriyah.

________♤♤♤_________

B. Inilah Kisah Lengkap Tentang Perjalanan Rohaninya berdasarkan Penuturannya sendiri ................ :

5. Musim semi Rohani.

Pada bulan Mei 2019 [ saat itu usia saya sudah 54 th ]  saya bertemu seseorang,  dan lewat pertemuan itu Tuhan memang bermaksud memanggil saya kembali.  Orang itu rupanya dijadikan alat dan perantara bagi Tuhan untuk menyapa saya, lalu melaluinya saya didudukkan kembali agar berada didekatnya. Sebagaimana dulu saat saya masih menjadi seorang anak dan pada awal masa remaja.

Saya masih ingat, dalam pertemuan itu darinya saya mendapat nasihat tentang dasyatnya kematian, utamanya tentang fenomena sakarotul maut yang bakal dialami oleh setiap orang.

Waktu itu beliau menasehati saya :

1. Orang Yang Terlalu Mendewakan Akal

Bahwa saya adalah tipikal orang yang terlalu mendewakan akal dan itu tidaklah baik.

2. Ternyata Penguasaan Ilmu itu Tidak Ada Hubungannya dengan Kekhusyuan Hati dan Tingkat Keimanan Seseorang.

Bahwa menurut beliau bekal ilmu saya [ bekal ilmu ilmu dohir ] sebenarnya sudah cukup, dan pada saat itu juga beliau menasihati saya hendaklah " berhenti membaca buku dan mulai lebih banyak menggunakan waktunya untuk lebih memperhatikan hati. Sebab bekal ilmu yang telah saya dapat dari hasil membaca beribu - ribu buku itu menurutnya terbukti tidak bisa mengubah apapun, serta tidak dapat menuntun saya kepada keimanan atau membuat hati saya menjadi lebih khusyu kepada Allah ".

3. Harus Berlatih Dzikir

Bahwa seyogyanya hati itu harus terus dilatih dan dibiasakan dengan banyak melakukan dzikrullah, mulai sekarang juga. Katanya, “ mumpung kamu masih diberi waktu dan masih diberi kesempatan untuk hidup “.

Selanjutnya beliau juga berujar bahwa, “ kondisi hati seseorang itu akan sangat menentukan baik dan buruknya nasib seseorang pada saat menghadapi azal dan kematian. Jika semasa hidup hati itu tidak dibiasakan dengan dzikrullah , maka bisa dipastikan saat kematian  tiba....orang itu akan dibuatnya sulit untuk mengingat Allah, deraan rasa sakit yang tidak tertanggung yang dialami seseorang saat merasakan sakarotul maut akan memaksa orang itu lupa kepada Allah, seluruh perhatiannya akan tertuju hanya pada rasa sakit itu. Dan jika itu yang terjadi maka itu menjadi pertanda bahwa dia mati dalam keadaan shuul khotimah, Naudzu billahi mindalik. Jangan sampai itu terjadi pada diri sampean ".

Lalu ujarnya lagi “ Tetapi bagi mereka yang sudah membiasakan dzikir dan yang hatinya selalu tersambung kepada Allah, maka Allah akan menghilangkan sebab dari semua rasa sakit itu, dan itu akan membuatnya sangat tenang saat menghadapi sakaratul maut, sehingga pada moment yang paling genting itu hatinya akan dapat terus fokus memandang wajah Allah. Maka bagi hamba yang wafat atau meninggal dalam keadaan seperti itu datangnya kematian justru merupakan rahmat, dan bukan musibah “.

Nasehat itu terasa sangat masuk....dan itu cukup membuat saya hati tergetar, maka semenjak itu saya pun mulai memikirkan nasihatnya.

Singkat Cerita, setelah perjumpaan dengan orang itu [ Mei 2019 ], mulai pertengahan Juli 2019 saya pun mulai merasakan banyak kejadian aneh.

Jika saya shalat maka pada rokaat pertama dan kedua [ sesudah bacaan al fatiha ] tanpa sadar selalu saja saya membaca surat An- nas, dan itu terjadi disemua shalat saya, mulai dari shalat duhur hingga subuh. Termasuk juga dalam shalat shalat sunah, dan itu berlangsung terus menerus selama sebulan penuh [ mulai pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus 2019 ]. Waktu itu Lidah saya memang sepertinya dikondisikan untuk tidak diijinkan membaca surat- surat yang lainnya, karena bila saya telah ada dalam kondisi shalat, maka selain suratul Fatiha dan surat An -Nas surat - surat al Quran yang lainnya itu tidak bisa saya ingat sama sekali.

4. Merasakan Keganjilan

Merasakan keganjilan itu pada ahirnya saya berpikir, mungkin apa yang dikatakan bapak  yang saya temui kemarin itu benar benar sebuah panggilan Allah. Maka ahirnya sayapun memutuskan untuk bersilaturahim kerumah beliau dan menyatakan ingin mendapatkan bimbingan rohani dari beliau, tepatnya itu terjadi pada Hari Sabtu, 23 Agustus 2019.

Waktu itu saya menuturkan kepada beliau bahwa saya ingin taqarub, dan ingin dekat kembali kepada Tuhan, sebagaimana masa kecil saya dahulu. Satu penggalan masa dimana saya pernah merasa begitu dekat dengan Tuhan. Masa itu sekalipun berlangsung sangat singkat [ cuma 5 tahun _ dari kelas 4 SD hingga kelas 3 SMP ] tetapi sangat membekas. Intinya saya merindukan masa itu kembali, dan sangat menginginkannya.

5. Amalan Dzikir Khofi

Dari beliau saya mendapatkan arahan untuk mengamalkan dzikir khofi. Dengan aturan, dzikir tidak usah dihitung hitung dan sayapun diminta untuk mendzikirkan lafad - lafad dzikir [ lafad apa saja ] yang muncul dari lubuk hati. Katanya : " Biarlah nanti hati yang akan membimbing dzikir dzikir kamu, dengan cara itu mudah - mudahan kamu akan bisa lebih cepat menemukan " ismu a'dhom " mu sendiri.

Dan sayapun ahirnya mempraktekkan apa apa yang diarahkannya.

6. Hakikat dari Kalimat " Subkhanallah wal  Hamdulillah ".

Pada bulan desember 2019, saat dzikir bakda maghrib saya mendapati fenomena Sirr dan penglihatan untuk pertama kalinya, dalam peristiwa itu saya mendapati bahwa Hakikat dari kalimat " Subkhanallah wal Hamdulillah " itu sekalipun secara lahiriyahnya nampak seperti berbeda tetapi substansi dari keduanya adalah sama, atau hakikatnya tunggal. Dalam penglihatan rahsa atau Sirr itu saya juga mendapati bahwa ternyata dua kalimat itu berada dalam satu biji yang sama.  Keduanya adalah ilmu dan amal [ akhlak ]. " Subkhanallah " itu adalah hakikat dari ilmu dan juga hakikat dari syahadat tauhid [ lailaha ilallah ]   dan " Alhamdulillah " itu adalah hakikat  dari akhlak atau amal, atau hakikat dari syahadat rasul [ wa ashadu anna Muhammada rasulallah ] dua hal yang seharusnya memang harus bisa bersatu dan disatukan dalam pribadi setiap manusia, sebab keterpisahannya adalah berarti sebuah bencana bagi manusia baik didunia maupun diahirat. 

7. Fenomena Kata " AHAD " dan Mencari " AS - SOMAD "  [ Pengajaran Surat AL IKHLAS ].

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِىَ بِإِذْنِهِۦ مَا يَشَآءُ  ۚ إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana." (QS. Asy-Syura 42: Ayat 51)

Peristiwa itu terjadi pada bulan yang sama, yakni  Desember 2019 [ tepatnya 3 bulan setelah saya menjalani laku rohani ]. Dalam dzikir bakda maghrib.

Datangnya peristiwa petunjuk itu berlangsung seperti drama dalam sebuah film, dan saya dalam peristiwa itu disamping lebur, juga merasa seperti terjun dalam sebuah lakon drama dan sekaligus menjadi aktornya.

Dalam peristiwa itu saya mendapati petunjuk :

1. Bahwa makna dari kalimat "  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  " itu bukan Allah itu satu, bukan pula Allah itu Maha Esa tetapi Allah itu Sendirian ".

Bahwa pada saat saya mendzikirkan surat al - Ikhlas, pertama - tama apa yang saya lihat dan alami adalah ternyata kata "  أَحَدٌ " dalam kalimat "  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  " itu nampak seperti terpisah dari kalimat induknya [  هُوَ اللَّهُ ], dan kata "  أَحَدٌ " itu dalam pandangan mata batin saya justru nampak seperti tengah bertengger kira - kira setinggi dua atau tiga depa didepan kepala saya. Dan ketika " tangan rohani atau hati saya " itu saya gerakan untuk mencoba meraihnya ternyata kata " أَحَدٌ " itu tidak dapat saya sentuh sama - sekali dan apalagi untuk meraihnya. Dua kali sudah saya mencoba menggapainya [ dengan tangan rohani saya ] tetapi ternyata kedua- duanya gagal.

Lalu pada kali yang ketiga, kata " أَحَدٌ " yang hendak terus saya raih itu, tiba - tiba saja meluncur dari arah depan dan dengan sekonyong - konyong menerjang dada saya sehingga seluruh organ tubuh yang ada didalam dada saya itu secara kontan dan serentak membunyikan lafadz dzikir : "  Ahad, Ahad, Ahad....". Kejadian itu berlangsung beberapa menit lamanya.

Selepas itu, kalimat  "  Ahad, Ahad, Ahad...." yang tadi di dzikirkan oleh semua organ tubuh yang ada didalam dada itu kemudian berubah menjadi semacam kekuatan energi yang memenuhi seluruh dada dan kepala saya.

Selepas itu saya pun mendapati sebuah dawuh [ penjelasan ]  yang disampaikan lewat rahsa [ yang bukan berupa huruf atau suara ] bahwa  makna hakiki dari kalimat "  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  " itu :

" bukan Aku itu satu, bukan pula Aku itu Maha Esa tetapi Aku itu Sendirian ". [ Dudu Isun Kuh Siji, Dudu Isun Kuh Maha Esa, tapi Isun Kuh Dewekan ]

2. " اللَّهُ الصَّمَدُ " :  Mencari Aku itu jangan kemana - mana. Carilah Aku itu ke dalam hatimu sendiri

Selanjutnya saya mendapati petunjuk berikut saat men- dzikirkan  kalimat " اللَّهُ الصَّمَدُ ". Dan sebagaimana yang terjadi pada peristiwa yang pertama, kali ini pun saya mendapati diri saya lebur dalam lakon sebuah drama. 

Pada saat saya mendzikirkan kalimat " اللَّهُ الصَّمَدُ  ",  kata " الصَّمَدُ " yang ada pada kalimat " اللَّهُ الصَّمَدُ " itu tiba - tiba saja hilang dari pandangan mata saya [ pandangan mata hati tentunya ].  Oleh karenanya maka saya pun berusaha untuk mencarinya. 

Mirip lakon pada sebuah drama, maka untuk menemukan  " الصَّمَدُ " itu ahirnya saya pun mencarinya keluar rumah. Pertama - tama saya mencari  " الصَّمَدُ " itu kehalaman samping kanan rumah saya, dan disana ternyata saya tidak menemukan "  الصَّمَدُ ", maka saya pun melanjutkan pencarian itu kehalaman belakang, tetapi disana saya juga tidak menjumpai  "  الصَّمَدُ ".  Lalu saya pun kembali mencarinya kehalaman samping kiri rumah saya, lalu kehalaman depan.  Tetapi lagi - lagi saya tidak mendapati "  الصَّمَدُ " itu berada disana.

Maka setelah sekian lama berputar - putar dan saya tidak dapat menemukannya, ahirnya saya pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah saya itu lewat pintu depan.  Tetapi yang membuat saya kaget, begitu saya membuka pintu, ternyata sosok  " الصَّمَدُ " yang dari tadi saya cari - cari itu " berada persis dibalik pintu itu " dan dengannya hampir - hampi saja saya bertabrakan. 

Sesaat setelah peristiwa hampir bertabrakan itu saya pun kembali mendapatkan Dawuh [ petunjuk ] :

" Mencari Aku itu jangan kemana - mana, carilah Aku itu kedalam hatimu sendiri " [ Gulati Isun kuh aja mendi - mendi, Isun kuh ana ning jerone atine ira ]. 

Lalu Dia pun melanjutkan kata - katanya dengan kalimat bahwa : "  Al Ikhlas itu adalah jalan kamu " [ Al Ikhlas iku dalane Ira ].

◇Mohon untuk dipahami bahwa sosok yang saya maksudkan disini adalah sosok dalam pengertian Dzati. Sosok itu meskipun dikenali keberadan-Nya, dan juga dirasakan kehadiran-Nya, bahkan Ia pun berkata - kata tetapi wujud dan bentuknya sama sekali tidak akan dapat kita lihat, dan kata - katanya hanya bisa kita dengar dan pahami lewat rahsa [ hakikatnya tidak ada bahasa, huruf atau pun suara ]. Itulah penjelasan sosok yang saya maksudkan dalam peristiwa itu. Terasa tidak akan pernah memadai jika harus digambarkan lewat kata atau pun tulisan. Sulit sekali.

◇Dari kejadian itu saya dapat memetik hikmah dan kesimpulan bahwa dengan peristiwa itu Allah Swt sebenarnya hendak menunjukan kepada saya bahwa titian tangga kerohanian saya menuju kehadirat -Nya adalah lewat Ajaran Martabat Tujuh sebagaimana yang terkandung didalam surat Al - Ikhlas. Adapun tangga titian Martabat Tujuh itu adalah sebagai berikut :

a. Tiga Martabat Ilahiyah

1. 'Alamul Ahadiyah

2. 'Alamul Wahdah

3. 'Alamul Wahidiyah

◇ Ke- tiga Martabat tersebut diatas disebut Isi. 

b. Empat Martabat Makhluk 

4. 'Alamul Arwah

5. 'Alamul Mitsal

6. 'Alamul Ajsam

7. 'Alamul Insanul Kamil

◇ Ke-empat Martabat tersebut diatas disebut Kosong.

Adanya tiga Martabat Ilahiyah itu ditandai dengan simbolisasi dari usaha saya dalam meraih kata " أَحَدٌ " itu dilakukan hingga sebanyak tiga kali. Dan adanya empat martabat makhluk itu ditandai dengan simbolisasi jumlah usaha saya dalam mencari sosok " الصَّمَدُ " itu sebanyak empat kali di ke empat sisi rumah saya. Sedangkan apa yang saya temukan berada dibalik pintu itu [ الصَّمَدُ ] adalah simbolisasi atau metafor dari 'Alamul Wahidiyah [ Alam Ilmu dan Pengetahuan : Iqro dan Al Qolam ] yang dikemudian hari pada ahirnya ternyata saya alami sendiri lewat peristiwa mimpi. Dan adapun kata "  أَحَدٌ " yang menerjang dada adalah simbolisasi dari kudratullah, dimana fenomena Musyahadah, Mukasyafah dan Al -Qolam itu tidak akan bisa terjadi kecuali jika memang Allah sendiri yang menghendaki.

8.  Fenomena " Kembang dalam Surat Al Fatiha ". 

Sebulan kemudian, tepatnya pada bulan Januari 2020 saya kembali mengalami fenomena rahsa lainnya, yaitu " Fenomena Al Fatiha “. Hal Itu terjadi saat saya dzikir bakda shalat duhur.

Dalam peristiwa itu saya mendapati surat al Fatiha sebagai sebuah " kembang yang sangat indah ". Sedemikian indahnya kembang itu sehingga kalimat dan diskripsi apapun tidak akan dapat menggambarkan keindahannya.

Lagi lagi saya merasa diri saya betul betul lebur dalam fenomena itu.

Dengan peristiwa itu ahirnya saya mengerti, kenapa kalimat kalimat Al Quran itu berapa kalipun orang membacanya tidak pernah membosankan, ia selalu saja terasa indah dan  mempesona. Ternyata hakikat jiwa dari Al Quran itu adalah seperti sebuah kembang yang sangat mempesona dan hakikat dari kembang yang sangat mempesona itu adalah ruh dari kitab Zabur.

◇Dengan peristiwa itu semoga saja Allah Swt  berkenan memberi saya anugerah Warid  berupa ilmu dan hikmah :  yang bersumber dari al Qu'ran, serta memberi saya pengajaran tentang makna- makna hakikat yang terkandung didalamnya.

9. IQRA dan Al Qolam :  Pengajaran Lewat Mimpi.

a. Bermula dari Rasa Rindu yang Meluap - luap.

Peristiwa itu terjadi pada bulan Pebruari 2020. Masa masa itu adalah masa dimana saya banyak sekali menangis, dan hati saya mudah sekali tersentuh. Dalam dzikir saya menangis, mendengar khotbah saya menangis, dalam shalat saya menangis, dan bahkan setiap kali saya membaca quran sulit rasanya bagi saya menahan diri supaya tidak menjerit dan tersedu - sedu menangis,  sujud dan tersungkur. Rasa rindu saya kepada Tuhan saat itu begitu meluap - luap.

RINDU ku

By. Mang Anas

Tidak ada lagi HURUF

Tidak ada lagi SUARA

Hanya Isak Tangis

dan Belitan Rasa Haru

Lalu

ku tilik

ke dasar hati

Terus ....

Terus ....

Terus ....

hingga ke relung Hati

Yang ku jumpai adalah DIA

Ada DIA

Hanya DIA

DIA

Tidak ada yang selain DIA

DIA lah Sumber Rindu

dan Isak Tangis itu

DIA lah pusat Magnet dan Getar Hati itu

DIA lah yang telah Menjalarkan angan

ke dalam Hati ku

DIA meliputkan Rasa Haru,

DIA mendatangkan Rasa Rindu,

dan

DIA lah yang telah Memeras Air Mata ku

 

Wahai Robb ...

Duhai Sang Kekasih

Untuk apa KAU betot hatiku

Jika hanya membuatku terperangkap dalam Rindu

                             Indramayu, 19 Februari 2020


b. Sepuluh Hari Tidak Dapat Tidur

Dan dalam kondisi jiwa yang seperti itu, sepuluh hari sepuluh malam saya seperti dipaksa untuk tidak bisa tidur walaupun hanya sekejap.

Sebab setiap kali saya hendak terlelap untuk tidur maka selalu saja tubuh saya ini seperti tengah diangkat oleh seseorang lalu hendak ditaruh ditepi pantai, tepat dibatas antara tepian ombak dan bibir pantai. Dan setiap kali hal itu terjadi tentu membuat saya kaget. Kejadian itulah yang memaksa saya tidak lagi melanjutkan tidur.  Dan itu berlangsung terus  - menerus hingga selama 10 hari 10 malam.

وَالْفَجْرِ

"Demi fajar 

[ demi ilmu yang akan Tuhan ajarkan ] ," 

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

"demi malam yang sepuluh 

[ demi malam malam yang akan membentuk dan mengkondisikan jiwamu berada dalam kesadaran fitrah ]," 

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

"demi yang genap dan yang ganjil 

[ demi dua anugerah hikmah dan demi satu anugerah hikmah yang akan Aku ajarkan ] ," 

وَالَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

"demi malam apabila berlalu 

[ demi datangnya waktu sahur ]." 

(QS. Al-Fajr 89: Ayat 1 - 4)

-------☆-------

يٰٓأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

"Wahai jiwa yang tenang !"  

[ wahai hati yang berada dalam kesadaran fitrah ] 

ارْجِعِىٓ إِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

"Kembalilah kepada Tuhanmu 

[ untuk menerima pengajaran dan anugerah ilmu dari-Nya ] 

dengan hati yang rida dan diridai-Nya." 

فَادْخُلِى فِى عِبٰدِى

"Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku 

[ yang menerima bimbingan dan pengajaran langsung dari-Ku ],"

وَادْخُلِى جَنَّتِى

"dan masuklah ke dalam surga-Ku 

[ segeralah menyelam kedalam samudra ilmu dan pengetahuan- Ku ] ." 

(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27 - 30)



Gambar : Tujuh Macam Pengajaran Ilmu Sirr 

c. Peristiwa Mimpi Pada Malam Kesebelas : " Pengajaran dua Hikmah "

Lalu di malam yang kesebelas, tepatnya sekitar pukul 02.30 wib dini hari barulah saya bisa tidur.  Dan dalam tidur itu " Subkhanallah " saya mendapati kenyataan diri saya bermimpi. Dan itu ternyata adalah sebuah mimpi pengajaran.

Saya mendapati diri saya tiba - tiba berada disebuah tempat, dan di tempat itu selain alas duduk yang terbuat seperti dari " batu pualam " saya tidak menjumpai ada apapun juga. Disana saya tidak melihat adanya langit, bulan, bintang dan matahari, juga tidak ada pohon, tidak ada rumput, tidak ada angin dan juga tidak ada bangunan.

Tetapi meskipun disana saya tidak mendapati adanya matahari, namun tempat itu keadaannya cukup terang. Terang yang sejuk serta tidak menyilaukan mata. Berada ditempat itu hati terasa sangat tenang, nyaman dan damai luar biasa. 

Ditempat itu saya mendapati diri saya seperti tengah duduk bersebelahan tetapi sekaligus juga terasa seperti tengah duduk berhadap - hadapan dengan satu eksisten yang sangat ghaib. Saya mengenali eksisten itu seperti tepat ada didepan saya tetapi anehnya sama sekali saya tidak dapat melihat-Nya. Saya hanya sanggup mengenali keberadaan eksisten itu dengan dan hanya didalam rahsa saya.

لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَٰرَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ

 Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [ QS.6:103 ]

Malam itu Dia mengajari saya dua hal, dan proses pengajaran itu dilakukan-Nya dengan bahasa rahsa [ Sirr ], singkatnya antara rahsa dengan rahsa. Sebab disitu memang tidak sedikit pun saya mendapati ada kata dan suara. Yang saya rasakan saat itu adalah seperti fenomena pandang - memandang dan saya menyaksikan [ didalam rahsa saya ] bahwa Dia seperti tengah berkata kata kepada saya tetapi tidak mempergunakan suara, Dia seperti tengah mengajarkan sesuatu kepada saya tetapi tidak menggunakan sebuah bahasa, namun anehnya saya bisa mengerti dan dapat memahami secara gamblang semua yang disampaikan-Nya.

Isi pengajaran malam itu adalah ;

1.Tentang " Urip Sejati Lan Sejatine Urip " [ Hakikat Hidup dan Hakikatnya Kehidupan ].

2.Tentang " Kebenaran Sejati Lan Sejatine bener " [ Kebenaran Hakikat dan Hakikatnya benar ].

Dihadapan saya eksisten yang sangat ghaib itu pun  kemudian mulai membahas dan menjelaskan  satu demi satu topik - topik yang diajarkan-Nya. Mulai dari definisinya, pokok substansinya hingga contoh - contoh kasusnya. 

Satu hal yang sampai sekarang masih saya ingat adalah, gaya penyampaiannya sungguh sangat mempesona. Seumur hidup saya belum pernah mendapati seorang pun manusia yang memiliki kemampuan mengajar dan menjelaskan sesuatu seperti caranya.

Satu hal yang perlu digaris bawahi, bahwa isi substansi dari materi yang diajarkannya itu betul betul sangat langka dan baru sama sekali. Ia mengajarkan kepada saya hal hal yang sama sekali belum pernah saya ketahui, hal hal yang sama sekali belum pernah saya dengar, hal hal yang belum pernah dikatakan orang. Hal hal yang tidak akan pernah kita dapati ada tertulis didalam buku - buku dan kitab yang manapun juga. Dan bahkan hal - hal yang tidak mungkin manusia pernah membayangkan atau memikirkannya. 

Substansi materi dari pengajaran itu dan juga caranya dalam menyampaikan sungguh luar biasa sekali, saking luar biasanya sampai - sampai hati saya tidak bisa berkata lain, kecuali " Oooh, Oooh,...dan Ooooh " disepanjang proses pengajaran. 

Semua substansi materi yang disampaikan-Nya pada malam itu dapat saya pahami dengan jelas sekali. Dan saking jelasnya sampai – sampai saya merasa tidak perlu lagi bertanya.

Diperhadapkan dengan ilmu-Nya yang luar biasa tinggi, agung dan sangat asing itu   saya merasa diri saya benar benar bodoh - sebodoh – bodohnya,  dungu-  sedungu dungunya.

Ilmu yang dulu saya pernah peroleh dan kuasai dari ribuan buku yang pernah saya pelajari, dan dari jutaan halaman pernah saya baca. Ternyata dihadapan-Nya, ilmu dan pengetahuan yang saya kuasai itu tidak ada artinya sama sekali. Disana diri saya hanyalah sebutir debu,  dan bahkan berjuta juta kali lebih kecil dari itu.

Merenungkan peristiwa itu saya teringat dengan fenomena firman Allah dalam surat Al-'Alaq berikut ini :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan," 

خَلَقَ الْإِنْسٰنَ مِنْ عَلَقٍ

"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah." 

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia." 

الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

"Yang mengajar (manusia) dengan pena [ Al-  Qolam ]." 

عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." 

كَلَّآ إِنَّ الْإِنْسٰنَ لَيَطْغٰىٓ

"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas," 

أَنْ رَّءَاهُ اسْتَغْنٰىٓ

"apabila melihat dirinya serba cukup." 

إِنَّ إِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىٓ

"Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu)." (QS. Al-'Alaq 96: Ayat 1- 8)


Keterangan : Dalam bagan diatas dijelaskan bahwa Al Qolam itu berada diatas Arasy dan merupakan hakikat dari Nur Muhammad.

d. Peristiwa mimpi pada malam yang ke dua belas : " Pengajaran Tentang Alam Semesta ".

Pada malam yang ke 12, kembali saya mendapati diri saya baru bisa tidur lagi lagi sekitar pukul 02.30 dini hari. Dan kali inipun kembali saya mendapatkan mimpi, ditempat yang sama dengan Dia yang sama. Hanya saja kali ini materinya berbeda. Yakni tentang " Alam Semesta "

Sosok Ghaib yang keberadaannya hanya dapat saya kenali lewat rahsa [ Sirr ] itu kali ini mengajari saya tentang Alam Semesta, tujuan dari keberadaannya, misteri hukum hukum yang berjalan dibalik keseimbangan dan kesempurnaannya serta hubungan fungsinya satu sama lain serta sekian banyak manfaat dari keberadaan mereka bagi kehidupan manusia.

Bagi saya itu sungguh sebuah pengetahuan yang sangat menakjubkan. Apa yang dijelaskannya itu tidak akan bisa kita dapati dibalik halaman buku buku fisika, buku buku biologi, dan buku buku astronomi yang manapun juga. Tidak ditimur tidak juga di barat.

Satu hal yang berbeda dari mimpi saya pada malam yang ke 12 ini dibanding mimpi saya pada malam sebelumnya [ yaitu pada malam yang ke 11 ] adalah, bahwa sebelum saya benar benar terbangun dari mimpi [ terjaga dari tidur ] saya sempat berdiri terlebih dahulu dan kemudian saya sempat berbalik [ membalikkan badan ] serta memandang kearah yang lain, dan karena waktu itu saya merasa seperti sedang berada diketinggian, maka secara refleks saya pun ahirnya mengarahkan pandangan mata saya kebawah, dan apa yang saya lihat itu : 

" Subkhanallah.....sungguh menakjubkan 

Tampak dalam pandangan mata saya [ mata batin ]. ....sebuah Fenomena Black Hole [ Lubang Hitam ]  yang mana di sekeliling Pusaran Energi dari Lubang Hitam itu milyaran bintang - bintang berpusing mengelilinginya. Mirip dengan fenomena orang - orang yang sedang bertawaf bergerak mengelilingi ka'bah.

Dan anehnya lagi fenomena Black Hole itu ternyata keberadaannya ada jauh dibawah tempat kaki saya berdiri. Ia berada nun jauh disana, milyaran kilometer dibawah tempat saya berdiri.

Ukuran benda benda langit itu saat saya pandang dari atas sana mirip dengan saat kita memandang benda benda langit itu dari bumi.

Jadi entah malam itu saya sedang ada dimana, dan jika tempat saya berdiri itu pantas disebut sebagai langit, maka saya tidak tahu itu di lapis langit yang keberapa, sebab Sosok yang sangat ghaib yang malam itu mengajari saya Hakikat “ Alam Semesta “  tidak menjelaskannya, dan dalam mimpi itu saya memang tidak memilki sama sekali keinginan untuk bertanya.

Satu peristiwa penting lainnya lagi yang malam itu masih dapat saya ingat adalah :

1. Sesaat setelah saya berdiri dan membalikkan badan, tiba – tiba keluar dari dalam dada saya empat macam benda. Ke-empat macam benda itu setelah satu per satu keluar dari dada, mereka terbang, meluncur ke bawah untuk kemudian bergabung dan menyatukan dirinya dengan milyaran bintang yang tersedot oleh pusaran Black Hole itu [ misteri yang hingga kini saya belum tahu apa maknanya ].

2. Sesaat sebelum saya terbangun dari mimpi menakjubkan itu dari Sang Guru Ghaib itu saya mendapat pesan terahir :  " Allah menciptakan setiap benda berpasang - pasangan, dan pada setiap benda Allah ciptakan dua unsur, yaitu unsur lahir dan unsur batin, termasuk pada benda benda mati ".

Itulah fenomena rohani yang pernah saya alami yang terkait dengan fenomena pengajaran ilmu pengetahuan lewat peristiwa mimpi.

10. Ada banyak lagi mimpi - mimpi saya yang lainnya setelah peristiwa itu. Beberapa diantaranya adalah

1. Saya pernah bermimpi membaca sejilid " Al Qur'an dengan Terjemahan Hakikat " 

2. Saya juga pernah bermimpi mendapat pengajaran " Makna huruf huruf atau Ilmu huruf "

3. Didalam mimpi saya juga pernah melihat diri saya sendiri tengah membaca buku - buku yang berisi " Asma -asma " didalam sebuah ruang perpustakaan yang ternyata ruang perpustakaan itu berada didalam dada saya sendiri. Dan anehnya antara diri saya yang melihat dengan diri saya yang dilihat [ tengah berada didalam ruang perpustakaan ] itu sama- sama membaca buku yang sama, tema yang sama, halaman yang sama, dan kalimat yang sama. Serta kami berdua [ diri saya yang melihat dengan diri saya yang dilihat ] itu sama - sama merasa mendapatkan pemahaman yang persis sama......"



Gambar : Rentetan Pengalaman Perjalanan Rohani  Yang Dialami oleh Seorang Salik.



Gambar : Peristiwa Rohani Berada di jendela Muhammad [ Titik Khidir]

_________♤♤♤ _________

" Jika kiamat telah dekat maka hampir-hampir mimpi seorang muslim tidak dusta, orang yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar dalam berkata, dan mimpi seorang muslim adalah satu dari empat puluh enam bagian kenabian " [ HR. Ahmad No.10185, Abu Daud No.4365, Muslim No.4200 , Bukhari No.6499 ,  Ibnu Majah No.3907, Tirmidzi No.2215, Darimi No.2051 ]

“Mimpi yang paling benar adalah di waktu sahur, sebab waktu tersebut adalah waktu turunnya [ isyarat ] ketuhanan, dekat dengan rahmat dan ampunan, serta waktu diamnya setan. Kebalikannya adalah mimpi di waktu petang  atau awal waktu malam.”  [ Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Madarij as-Salikin, juz 1, hal. 76 ]


Sebenarnya masih ada banyak lagi peristiwa mimpi mimpi rohani yang dialaminya tetapi belum sempat ia ceritakan atau tuliskan. Tetapi biarlah ceritanya untuk sementara saya tutup dulu hingga disini. Mudah mudahan kisah ini cukup menggugah dan dapat memotivasi banyak orang agar mulai lebih memperdulikan hatinya serta tidak lagi menganggap bahwa " laku dzikir atau laku rohani itu sebagai hal yang identik dengan bau mistik, kesaktian, ilmu pengobatan dan per- dukunan, serta hal - hal yang berbau kurang sedap lainnya ". 

Wasalam