Halaman

Senin, 09 Februari 2026

Dualisme Realitas dalam Al-Qur’an : Antara Yang Zahir dan Yang Batin

By. Mang Anas 


Belakangan ini muncul kecenderungan di berbagai kanal spiritual—termasuk di media sosial dan YouTube—yang menekankan bahwa realitas sejati hanya berada di dalam diri manusia. Dunia luar dianggap sekadar ilusi kesadaran, sementara surga, neraka, dan kiamat dipahami hanya sebagai peristiwa psikologis atau pengalaman batin semata.

Pandangan ini sekilas tampak mendalam dan menenangkan, tetapi jika ditinjau dari perspektif Al-Qur’an secara utuh, pendekatan tersebut menyederhanakan realitas secara berlebihan dan berpotensi menjauhkan manusia dari pesan utama wahyu.

Allah : Yang Zahir dan Yang Batin

Al-Qur’an menegaskan :

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin.” (QS. Al-Hadid: 3)

Ayat ini memberi kerangka ontologis yang sangat penting: realitas tidak tunggal, tetapi memiliki dua sisi sekaligus—yang tampak (zahir) dan yang tersembunyi (batin).

Jika Allah saja menampakkan diri-Nya dalam dua dimensi tersebut, maka realitas ciptaan pun mengikuti pola yang sama. Dunia lahir bukan ilusi belaka, sebagaimana dunia batin bukan sekadar bayangan psikologis.

Menghapus salah satu sisi berarti merusak keseimbangan pemahaman.

Bahaya Reduksi Realitas ke Dunia Batin Saja

Dalam banyak ajaran spiritual modern, sering muncul gagasan :

• Surga ada dalam diri.

• Neraka ada dalam diri.

• Kiamat adalah krisis psikologis pribadi.

• Dunia luar hanyalah pantulan kesadaran.

Masalahnya, jika dunia luar dianggap ilusi, maka :

√ keadilan sosial kehilangan makna,

√ tanggung jawab ekologis menjadi tidak penting,

√ penderitaan manusia dianggap sekadar persepsi,

√ dan misi kemanusiaan kehilangan urgensi.

Padahal Al-Qur’an justru menempatkan manusia sebagai pelaku sejarah nyata :

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Khalifah tidak ditempatkan dalam dunia ilusi, tetapi di bumi nyata, dengan tugas nyata.

Dunia sebagai Medan Tugas, Bukan Ilusi

Kisah penciptaan Adam menunjukkan bahwa manusia ditugaskan untuk mengelola bumi, menjaga keseimbangan, dan mempertanggungjawabkan tindakannya.

Jika dunia hanyalah ilusi, maka :

• Tugas khalifah menjadi tidak relevan,

• Keadilan Tuhan yang sempurna serta konsekuensi atas pahala dan dosa manusia didunia menjadi kehilangan makna,

• dan evaluasi akhir kehidupan menjadi tidak perlu.

Padahal Al-Qur’an berkali-kali menegaskan adanya hari perhitungan sebagai realitas objektif, bukan sekadar pengalaman batin.

Dunia adalah tempat bekerja, bukan tempat menerima hasil akhir.

Keseimbangan Pandangan : Luar dan Dalam

Tentu, dimensi batin tetap penting. Banyak ayat menekankan penyucian jiwa:

Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)

Tetapi penyucian jiwa bukan berarti mengabaikan dunia luar. Justru jiwa yang bersih akan tercermin dalam tindakan nyata :

√ menjaga lingkungan,

√ menegakkan keadilan,

√ membantu sesama,

√ membangun masyarakat yang seimbang.

Spiritualitas Qur’ani selalu menghubungkan batin dan tindakan sosial.

Surga dan Neraka : Simbol dan Realitas

Memang, pengalaman batin di dunia bisa terasa seperti surga atau neraka. Kedamaian hati bisa menjadi “surga kecil”, dan kegelisahan batin bisa terasa seperti “neraka”.

Namun Al-Qur’an tidak berhenti di sana. Surga dan neraka juga digambarkan sebagai realitas akhir setelah kehidupan dunia, sebagai konsekuensi objektif dari pilihan hidup manusia.

Dengan demikian, pengalaman batin di dunia adalah bayangan awal, bukan realitas final.

Kesalahan Dikotomi Spiritual Modern

Kesalahan yang sering terjadi adalah membuat dikotomi :

Dunia batin dianggap nyata,

Dunia lahir dianggap semu.

Padahal Qur’an mengajarkan :

Realitas = zahir + batin sekaligus.

Seperti manusia memiliki tubuh dan jiwa, dunia pun memiliki sisi lahir dan makna batinnya.

Menghilangkan salah satu sisi membuat pemahaman menjadi timpang.

Penutup : Kembali ke Misi Khalifah

Manusia tidak diciptakan untuk melarikan diri dari dunia ke dalam kesadaran batin saja. Ia diciptakan untuk menghadirkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan nyata.

Spiritualitas sejati bukanlah meninggalkan dunia, melainkan memperbaiki dunia.

Bukan tenggelam dalam diri, tetapi membawa cahaya batin keluar menjadi tindakan.

Karena pada akhirnya, manusia akan dimintai pertanggungjawaban bukan hanya atas apa yang ia rasakan, tetapi atas apa yang ia lakukan di bumi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar