Halaman

Tampilkan postingan dengan label Tafsir dan takwil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir dan takwil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juli 2023

Perbandingan Pemaknaan Al Quran Surat Al-Bayyinah Dalam Perspektif Eskatologi Islam Dengan Pemaknaan Depag RI

By. Mang Anas 


لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُۙ (١)

Pemaknaan Depag RI :

Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, (Q.S. Al-Bayyinah ayat 1)

Pemaknaan Eskatologi [ Ilmu Akhir Zaman] :

Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab [ yang Menuhankan Isa Al-Masih ] dan orang-orang musyrik, mereka tidak akan bisa lepas ( dari kesesatannya ) sampai datang kepada mereka " Al-Bayyinah ", ( Q.S. Al-Bayyinah ayat 1 )


------------♡------------

رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةًۙ (٢)

Pemaknaan Depag RI :

(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci (Al-Qur'an), (Q.S. Al-Bayyinah ayat 2)

Pemaknaan Eskatologi  [ Ilmu Akhir Zaman] :

[ yaitu Isa Al Masih ] seorang Rasul dari Allah yang [ yang menjelang hari kiamat ] akan membacakan [ kepada mereka ] " Suhuf yang disucikan" ( Q.S. Al-Bayyinah ayat 2 )


------------♡------------

فِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌۗ (٣)

Pemaknaan Depag RI :

di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar). (Q.S. Al-Bayyinah ayat 3)

Pemaknaan Eskatologi [ Ilmu Akhir Zaman] :

Yang di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus [ yang kebenaran hujah-hujahnya tidak bisa dibantah, ditolak atau dipatahkan ]. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 3)


------------♡------------

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُۗ (٤)

Pemaknaan Depag RI :

Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 4)

Pemaknaan Eskatologi [ Ilmu Akhir Zaman] :

Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab [ Yaitu  kaum Nasrani dimasa lalu ] melainkan setelah datang kepada mereka " Al-Bayyinah " [ yaitu berbagai keterangan dalam kitab Injil yang disampaikan oleh Isa Al-Masih dalam bahasa yang sangat lugas dan fasih.  Dan didalamnya terdapat berbagai macam pengajaran berupa hakikat hidup, nilai-nilai ketauhidan dan pesan-pesan moral yang disampaikan dalam bentuk ibarat dan perumpamaan yang mudah dimengerti dan gampang dipahami orang ]. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 4) 


------------♡------------

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ (٥)

Pemaknaan Depag RI :

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (Q.S. Al-Bayyinah ayat 5)

Pemaknaan Eskatologi  [ Ilmu Akhir Zaman] :

Dan [  Isa Al-Masih ] tidak menyuruh mereka kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas, dan menaati-Nya semata karena agama, dan agar mereka melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang tegak lagi lurus. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 5)


------------♡------------

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ (٦)

Pemaknaan Depag RI :

Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.(Q.S. Al-Bayyinah ayat 6)

Pemaknaan Eskatologi [ Ilmu Akhir Zaman] :

Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik ( kelak mereka akan kami masukkan ) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka adalah sejahat-jahat makhluk [ karena telah menfitnah Isa Al-Masih dan menisbatkan kepadanya suatu perkataan yang sangat mungkar terhadap Allah, dan karena mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ]. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 6)


------------♡------------

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ (٧)

Pemaknaan Depag RI :

Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 7)

Pemaknaan Eskatologi [ Ilmu Akhir Zaman] :

Sungguh, orang-orang yang beriman [ kepada Tuhannya Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaqub, Musa, Isa dan Muhammad, dan kemudian mereka berusaha memelihara keimanannya itu dengan memperbanyak shalat, berdzikir, mendatabburi isi kandungan kitab-kitab suci, berpuasa dan berhaji ] dan kemudian mengerjakan kebajikan [ Yaitu berjihad, membayar zakat dan menginfakkan hartanya dijalan Allah, kemudian ia berlaku adil dan berbuat baik terhadap sesama ], mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (Q.S. Al-Bayyinah ayat 7)


------------♡------------

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ  ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ (٨)

Pemaknaan Depag RI :

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.  (Q.S. Al-Bayyinah ayat 8)

Pemaknaan Eskatologi [ Ilmu Akhir Zaman] :

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ; mereka hidup kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang selalu berusaha mencari jalan untuk mendekat diri kepada Tuhannya.  (Q.S. Al-Bayyinah ayat 8)


Keterangan : 

1. Dasar penafsiran Q.S. Al-Bayyinah ayat 1-3 tersebut diatas adalah Al Qur'an ayat berikut,

وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِهٖۚ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًاۚ (١٥٩)

[ Kelak diakhir zaman ] Tidak ada seorang pun di antara Ahli Kitab tidak beriman kepadanya [ Isa Al-Masih ] menjelang kematiannya. Dan pada hari Kiamat dia (Isa) akan menjadi saksi mereka. (Q.S. An-Nisa' ayat 159)

2. Hendaklah pula diketahui bahwa dari sekian banyak nabi dan Rasul yang mashur, hanya ada lima dari mereka yang diketahui pernah menerima suhuf, kelima nabi dan rasul itu adalah :

a. Nabi Adam as, 10 suhuf
b. Nabi Syits as, 50 suhuf
c. Nabi Idris as, 30 suhuf
d. Nabi Musa as, 10 suhuf
e. Nabi Ibrahim as, 10 suhuf

Dengan demikian maka kiranya menjadi kurang tepat jika kalimat " rasul dari Allah " sebagaimana yang tertera  pada ayat ke dua diatas itu ditafsirkan sebagai nabi Muhammad Saw. Sebab seperti yang telah sama-sama kita ketahui, nabi Muhammad itu tidak pernah menerima wahyu dalam bentuk suhuf. 

3. Disebutkan dalam banyak kitab hadits dan bahkan juga termuat dalam al quran, bahwa satu-satunya nabi yang akan diturunkan Allah SWT  diakhir zaman adalah Isa Al-Masih. Dan tugas pertama yang akan ditunaikannya adalah mematahkan simbol salib [ meluruskan iman kaum Nasrani ].  Dan yang kedua beliau akan membunuh babi yang maksudnya adalah akan menegakkan kembali ketentuan  hukum syariat sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Zabur, Taurat, Injil, Al-Quran dan Suhuf para nabi. Barulah setelah itu beliau kemudian memerangi Dajjal serta Menghalau invasi Ya'juj Wa Ma'juj.

4. Yang dimaksudkan dengan Suhuf disini adalah lembaran kitab - kitab suci yang elemennya berupa cahaya. Dalam kondisi terselimuti oleh kekuatan ruhul qudus nantinya Al-Masih akan membacakan Suhuf-suhuf itu dihadapan orang orang Nasrani.
Penjelasannya itu akan disampaikannya dalam perspektif ilmu sejati [yaitu logika ilmu hakikat atau perspektif supra logika ]. Dengan begitu dipastikan tidak akan ada seorangpun dari kalangan kaum Nasrani yang akan dapat menyangkal kebenaran yang disampaikannya, baik dengan dalil akli, filosofi maupun dalil Nash. Maka pada hari itu semua kaum Nasrani akan menjadi tunduk. Berbagai keterangan dan penjelasan yang disampaikan Isa Al-Masih itu akan membuat mereka menjadi paham sepaham -pahamnya.

Semoga penafsiran surat Al Bayyinah dengan perpekstif eskatologi ini dapat memperkaya wawasan para pecinta Al Quran dan para pemerhatinya.



Senin, 01 November 2021

Mendefinisikan kembali makna " Al Maghdubi " dan " Ad Dholin "

By. Mang Anas

1. Hakikat dari " Sirotol mustaqim " adalah nilai - nilai substansial dari Al Qur'an. Ia adalah Rasa sejati manusia yang bersemayam dilubuk hati yang paling dalam, disebut hati nurani. 

2. Hakikat dari " Al Magdhub " adalah Orang yang selalu membantah suara hati nurani atau rahsa sejatinya sendiri.

3. Hakikat dari " Ad Dhoolin " adalah dampak atau akibat dari sikap magdhub tersebut diatas, yaitu jika orang itu terbiasa mengingkari suara hati nuraninya sendiri maka kedepan hidupnya akan bertambah sesat dan hijab dihatinya akan bertambah tebal.

Dengan demikian secara substansi sikap Ad dhoolin itu sesungguhnya jauh lebih buruk atau jauh lebih gawat dari sikap Al Magdhub. Dan inilah rahasianya kenapa didalam surat al - Fatiha itu kata " Ad dhoolin "  penyebutannya diletakkan setelah penyebutan kata Al Magdhub. Penyebutan itu hakikatnya menunjukan makna tingkat atau derajat kegawat - daruratan dari keduanya. 

Selama ini banyak penafsir al Qur'an memahami makna Al Magdhub itu sebagai Orang orang Yahudi karena mereka sering mengabaikan, mengutak - atik dan mantalfekkan hukum - hukum taurat untuk membenarkan kepentingan pribadi dan golongannya [ penerapan hukum mereka sering dibangun diatas landasan hawa nafsu ], dan Ad dhoolin dinisbatkan kepada orang orang Nasrani karena mereka mentahbiskan Yesus atau Isa AS sebagai Tuhan. Kelompok Nasrani ini sebenarnya jauh lebih sesat dan lebih gawat kesalahannya dari pada orang orang Yahudi. Pemaknaaan seperti itu boleh boleh saja dan memang tidak salah sepanjang konteksnya untuk pemaknaan  keluar [ Kita menunjuk orang lain ], tetapi manakala konteksnya adalah untuk pemaknaan kedalam diri, ya pengertiannya akan seperti diatas. 

Tips agar terhindar dari sikap Al maghdub dan sikap Ad dholin.

@ Saat baca Al Fatiha : Alhamdu s/d Maliki yaimiddin --->  Ingatlah nikmat Tuhan dan tafakuri segala nikmat itu dengan sepenuh jiwamu hingga datang kepadamu rasa haru dan isak tangis. Sadari 3 sifatnya Ar rahman, Ar Rahim dan Al Malik.

@ Saat bacaanmu telah sampai pada kalimat " Iyyaka na'bihu wa Iyyaka nastain " dan seterusnya , maka ledakkan rasa harumu dengan jerit dan isak tangis. Begitulah harusnya cara kamu menghadap Tuhan dalam shalatmu.

@ Hakekat Al Hamdu adalah menyatakan rasa syukur dalam hati dan lisan dengan sepenuh jiwa, sedang hakekat Iyyaka na'budu dst...adalah upaya menjaga, memelihara, memupuk dan merealisasikan syukur itu lewat amalan amalan syukur sepanjang hidup kita.

Hakikat dari amalan syukur adalah menjaga apa yang ada, memelihara apa yang sudah baik, memperbaiki apa yang rusak, menciptakan manfaat manfaat baru atas apa yang sebelumnya dipandang tidak atau kurang bermanfaat serta menyempurnakan daya manfaat dari segala yang sudah ada dan sudah baik.

Makna Substansi Sifat-sifat Allah dalam Surat Al Fatihah :

- Ar Rahman =  Ingatlah semua nikmat yang telah Allah berikan kepadamu  [ Q.S. Fatir ayat 3 ]

-  Ar Rahim = Jika engkau menghitung nikmat-Ku maka maka engkau tidak akan mampu menghitungnya. [ Q.S. Ibrahim ayat 34 ]

-  Al Malik = Jika engkau bersyukur maka aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu tetapi jika kamu mengkufuri nikmat-Ku maka azab-Ku sangatlah pedih  [ Q.S. Ibrahim ayat 7 ]

@ Kata Ar Rahman [ Nikmat Lahir ] dan Ar Rahim [ Nikmat Batin atau Nikmatnya Jiwa ] yang secara redaksi diletakkan sebelum kata malik itu menunjukan bahwa Rahmat Allah itu melebihi murkaNya.

--------@@@------------

Nebeng Catatan :

1. Akal, hati dan Rasha itu adanya di dalam Jiwa [ dalam Sistem Software Tubuh ] dan bukan didalam ruh [ Sistem kelistrikan tubuh ]

Putus Dzikir itu berarti Putus sinyal jiwa, atau putusnya hubungan rasha kita dengan Tuhan. Dengan putusnya hubungan rasha itu maka berarti akan putus pula hubungan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Dalam kondisi itu maka Sirr kita tidak dapat bekerja yang berarti doa doa kita akan tertolak.

2. Siir itu adalah elemen udara sedangkan udara adalah elemen dasar yang menjadi asal dari segala materi,  atau dengan kata lain udara adalah materi pertama yang diciptakan oleh Allah swt dan dari anasir udaralah materi materi yang lain [ tanah, air dan api ] itu diciptakan.

ثُمَّ اسْتَوٰىٓ إِلَى السَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَآ أَتَيْنَا طَآئِعِينَ

"Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap [ elemen udara ], lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan patuh." (QS. Fussilat 41: Ayat 11)

3. Manusia tidak akan bisa merasakan kebahagian hidup jika kebutuhan jiwanya tidak terpenuhi, demikian juga jiwa manusia, ia akan menjadi beku jika kebutuhan rohnya [ yang merupakan batin bagi jiwa ] tidak dapat terpenuhi, sebab tanpa ruh yang sehat maka jiwa manusia tidak akan bisa beradaptasi dengan alam disekitarnya karena jiwa itu sendiri pada dasarnya tidak memiliki kesadaran maka ia membutuhkan ruh [ kesadaran ] sebab hakikat ruh adalah Nur atau Cahaya, sesuatu yang keberadaannya sangat diperlukan oleh jiwa. 

Tetapi untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih sempurna maka  kesadaran ruh saja dirasa belum cukup, sebab fungsi ruh hanya  sebatas mengantarkan manusia mencapai kesadaran kemanusiannya [ mengenali jati dirinya selaku hamba Tuhan ], maka disini Ruh membutuhkan kehadiran Rasha [ yang merupakan batin bagi ruh ] untuk dapat manunggal kehadirat Tuhan [ fana billah ].

4. Empat Anasir Manusia :

1. Unsur Tanah membentuk Raga [ Hardware ]

2. Unsur Air membentuk Jiwa [ Software ]

3. Unsur Api Membentuk Ruh [ Daya Listrik ]

4. Unsur Udara membentuk Rasha [ Transponder ]



QS. Al-Baqarah 26 - 27 : Orang Kafir itu Bodoh, Sombong dan Ngawur

By. Mang Anas

☆☆☆

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا  ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ  ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ اللَّهُ بِهٰذَا مَثَلًا  ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًا  ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا الْفٰسِقِينَ

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?" Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 26)

الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مِيثٰقِهِۦ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللَّهُ بِهِۦٓ أَنْ يُوصَلَ

 وَيُفْسِدُونَ فِى الْأَرْضِ  ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُونَ

"(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 27)


☆☆☆

Penjelasan :

1. " Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu " : kalimat itu sebenarnya dimaksudkan sebagai sindirin bahwa betapa diri manusia sesungguhnya bodoh dan lemah. Sebab hakikatnya dia tidak sanggup berkuasa atas apapun juga, bahkan jika untuk sekedar menciptakan seekor nyamuk atau sejenis binatang yang lebih kecil dan yang lebih sederhana dari itu.

Betapapun majunya ilmu pengetahuan dan teknologi  yang dapat dicapai dan dikuasai oleh manusia tetapi kala mereka ditantang untuk menciptakan sebuah mahluk bernyawa [ yang sederhana semisal nyamuk ] mereka tidak akan sanggup. Sampai kapan pun. Tetapi kepada Tuhan anehnya mereka bersikap angkuh dan sombong. Sikap ini sesungguhnya ngawur dan sangat tidak masuk akal.

2. " Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan " : kebenaran yang dimaksud adalah fakta fakta bahwa kemampuan manusia itu sebenarnya sangatlah terbatas. Berkat semakin berkembangnya teknologi kecerdasan buatan, boleh jadi manusia akan berhasil menciptakan berbagai mesin super cerdas, semisal robot-robot industri atau mesin mesin perang modern, tetapi itu akan tetap terbatas hanya diranah pengembangan ilmu-ilmu fisika [ obyek pengetahuan yang berkaitan dengan benda-benda mati ]. Dan adapun untuk obyek pengetahuan yang berhubungan dengan ruh [ ranah disiplin ilmu biologi ] seperti misalnya dalam hal penciptaan " seekor nyamuk " [ yang oleh kebanyakan manusia dianggapnya sepele ] teknologi manusia tidak akan sanggup mencapainya, hingga kapanpun.

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا (٨٥)

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”( Q.S. Al-Isra' ayat 85)

3. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik, [ yaitu ] orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan " : yaitu perjanjian antara manusia dengan Tuhan di alam Ruh [ Syahadat Ruh ], sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلٰىٓ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ  ۖ قَالُوا بَلٰى  ۛ شَهِدْنَآ  ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,"(QS. Al-A'raf 7: Ayat 172)

Perjanjian jiwa-jiwa manusia dengan Allah sebagaimana yang diceritakan pada ayat diatas, itu akan tetap terpelihara jika manusia mau fokus terhadap apa apa yang ada didalam dirinya. Tetapi jika perhatiannya lebih disibukkan terhadap hal hal yang diluar  [ lebih sibuk mengejar kenikmatan yang bersifat jasmani ] maka dialam bawah sadar " memori perjanjian dengan Tuhan itu akan menjadi kabur. Dan apabila keadaan itu berlangsung dalam masa yang panjang, maka akan menyebabkan hati menjadi mati. Dalam terminologi al Quran keadaan ini disebut hati yang buta.

4. " dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan " : yang maksudnya adalah mereka itu sangat menyia-nyiakan shalat. 

Mengapa ditafsirkan sebagai shalat ? Jawabnya adalah karena shalat [ yang secara harfiah berarti doa ] itu satu-satunya sarana bagi manusia untuk bisa berhubungan dengan Tuhan secara langsung. 

5. " dan berbuat kerusakan di bumi : hal itu terjadi sebagai imbas dari ditinggalkannya perintah 3 dan 4.

Makna Takwil Surat Fushshilat Ayat 7 - 12

By. Mang Anas


A. Tujuh Elemen pada Diri Manusia

1. Elemen Nasut : 

a. Raga Jasmani 

b. Akal

c. Jiwa atau Nafsu

2. Elemen Barzah  atau Antara 

d. Ruh

2. Elemen Lahut

e. Siir atau Rahsa

f. Nur

g. Dzat


B. Tiga Fase Tumbuh dan Kembang Manusia :

a. 20 Tahun pertama =  Fase Kematangan Jasmani 

b. 20 Tahun kedua =  Fase Kematangan Jiwa

c. 20 Tahun ketiga =  Fase Kematangan Spiritual 


Bagan : Al Fatiha Sebagai Parameter Tujuh Martabat Rohani Manusia 


C. Hakikat Dohir dan Batin Manusia

1. Organ Otak yang merupakan salah satu jenis dari raga wadag adalah elemen Dohir bagi Akal dan Akal adalah elemen Batin bagi Organ Otak

2. Hakikat Akal adalah elemen Dohir bagi Jiwa atau Nafsu sedangkan hakikat Jiwa atau Nafsu adalah elemen Batin dari Akal

3. Jiwa atau Nafsu adalah elemen dohir bagi Ruh sedangkan hakikat Ruh adalah elemen Batin bagi Jiwa atau Nafsu.

4. Ruh adalah elemen Dohir bagi Siir atau Rahsa sedangkan hakikat Siir atau Rahsa adalah elemen batin bagi Ruh

5. Siir atau Rahsa adalah elemen dohir bagi Nur sedangkan hakikat Nur adalah elemen Batin dari Ruh

6. Eksistensi Nur adalah elemen Dohir bagi Dzat sedangkan hakikat Dzat adalah Elemen Batin bagi Nur.

Itulah yang dimaksud dengan periode penciptaan langit dan bumi dalam enam masa [ dalam perspektif pemaknaan batin ] sebagaimana digambarkan dalam QS. Fushshilat 41:12 berikut ini, 

فَقَضَىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَاتٍ فِى يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمْرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفْظًاۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ 

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit [ tujuh elemen batin manusia dan apa yang ada didalamnya ] dalam dua masa [ hingga manusia itu mencapai usia 20 tahun _ fase awal ], dan pada setiap langit [ pada setiap elemen batin yang Dia ciptakan ] Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi, yaitu yang kemudian disebut sebagai Jiwa Manusia ), Kami hiasi dengan bintang-bintang [ Pesona Nafsu ] , dan [ Kami ciptakan elemen nafsu itu, tujuannya tidak lain semata- mata  ] untuk memelihara [ kelangsungan hidup manusia ]. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. [ Fushshilat 41:12 ]

وَهُوَ الَّذِى خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا  ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَّبْعُوثُونَ مِنۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوٓا إِنْ هٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

"Dan Dialah yang menciptakan langit [ elemen Batin manusia ] dan Bumi [ elemen jasmani manusia ] dalam enam masa [ dalam rentang 60 tahun ], dan 'Arsy-Nya di atas air [ meletakkan Diri- Nya diatas jiwa itu ] , agar Dia [ punya alasan untuk ] menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya [ dapat mematangkan jiwanya ] . Jika engkau [ cahaya  kesadaran jiwa itu ] berkata [ kepada jiwa - jiwa yang tidak bisa berkembang ), "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati," niscaya orang kafir [ jiwa - jiwa yang tidak bisa berkembang ] itu akan berkata, "Ini hanyalah sihir yang nyata [ jiwa mereka tidak akan dapat mencernanya ]." -( QS. Hud 11: Ayat 7)

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَرْضَ فِى يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُۥٓ أَندَادًاۚ ذَٰلِكَ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ 

Katakanlah, “Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi [ menumbuhkan tubuh jasmani-mu ] dalam dua masa [ hingga usiamu mencapai 20 tahun ] dan kamu [ masih juga ] adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya ?  Itulah [ tanda absurdnya cara berpikirmu dalam menangkap tanda - tanda adanya kekuasaan  ] Tuhan seluruh alam.” [ Fushshilat 41:9 ]

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَٰسِىَ مِن فَوْقِهَا وَبَٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقْوَٰتَهَا فِىٓ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَآءً لِّلسَّآئِلِينَ 

" Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya [ potensi - potensi fitrah ] . Dan kemudian [ potensi - potensi fitrah itu ] Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan [ bagi proses tumbuh kembang Fitrah itu ] dalam empat masa [ yaitu hingga manusia itu memasuki usia 40 tahun. Maka masa itu kami anggap cukup ] memadai untuk [ mendukung proses pendewasaan jiwa ] mereka yang memerlukannya. "  [ Fushshilat 41:10 ]

ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ٱئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَآ أَتَيْنَا طَآئِعِينَ 

"Kemudian Dia menuju ke langit [ memanggil setiap jiwa yang sudah berusia 40 tahun itu ]  dan [ jiwa manusia saat ] itu masih berupa asap [cukup matang tetapi belum sempurna ], lalu Dia berfirman kepadanya [ jiwa ] dan kepada bumi [ yaitu jasad yang memenjarakan jiwa itu ] , “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh [ kami berdua bertaubat].” [ Fushshilat 41:11]

يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ 

" Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi [ Dialah yang mengutus utusan-Nya untuk memanggil jiwa - jiwa yang telah matang itu untuk ber- mi'raj kepada-Nya ] kemudian [ jiwa - jiwa yang telah matang ] itu  [ dibawanya ] naik kepada-Nya [  untuk dimusyahadahkan ] dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. " [ As-Sajdah 32:5 ]

ذٰلِكَ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهٰدَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

"Yang demikian itu, ialah Tuhan yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang," (QS. As-Sajdah 32: Ayat 6)


Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat 

Senin, 02 Agustus 2021

Rekonstruksi dan Pemaknaan Ulang Surat An - Nash dan Al-Falak

 By Mang Anas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ


  قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ (١)  مَلِكِ النَّاسِۙ (٢)  اِلٰهِ النَّاسِۙ (٣)  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ (٤) الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ (٥)  مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (٦)

A. Makna Dohir : 

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia (1), Raja manusia (2), sembahan manusia (3), dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi (4),  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia (5), dari (golongan) jin dan manusia " (Q.S. An-Nas ayat 6).


B. Makna Takwil 

Serukanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang mengasuh Diri Manusia [1], Yang Menguasai Diri Manusia [2], Yang menciptakan Diri Manusia [3], dari keragu-raguan dan rasa was-was yang sering menghantui hati manusia [4],  dari bisikan jahat yang sering melintas dan berkecamuk dalam pikiran manusia [5],  Yang dipancarkan oleh tabiat Jin [ nafsu Amarah ] dan Manusia  [ nafsu Lawwamah ] (6)



Bagan : Keberadaan Jiwa Manusia Antara Kuasa Baik dan Kuasa Jahat


------@-------


Pemaknaan Surat Al-Falak 


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ (١)  مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ (٣)  وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ (٤)  وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ (٥)


A. Makna Dohir : 

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai fajar (1), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan (2),  dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita ( 3), dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya)( 4), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki. (Q.S. Al-Falaq ayat 1 - 5)


B. Makna Isyarat :

" Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai Kesadaran (1),  Dari tipu daya Tagut yang meracuni pola pikir dan cara pandang manusia (2), Dan dari berputus asa terhadap besarnya kasih dan rahmat Tuhan  (3), Dan dari dorongan-dorongan hawa nafsu yang mencoba memalingkan hati dari Tuhannya (4), Dan dari kecenderungan jasad yang senantiasa ingin memenjarakan ruh pada tabiat ke-jasadan-nya (5) ".


Catatan : Dasar penerjemahan adalah makna batin ayat dan bukan pada makna dahirnya. Maka jika kemudian terjadi seakan - akan ada perbedaan pemaknaan dengan  terjemahan versi mainstream maka itu hanyalah pada makna lahiriyahnya semata. Makna substansinya sebenarnya sama dan masih bersesuaian. 

Mohon disadari, khususnya dalam surat al falak Allah swt dalam  firman-Nya sarat sekali menggunakan bahasa- bahasa metafor [ perumpamaan ], maka jika disana-sini  terdapat perbedaan yang sangat mencolok dengan makna yang sudah mainstream maka disitulah sebenarnya terletak perbedaan penafsirannya.


Minggu, 06 Juni 2021

Makna Batin Surat Asy - Syams [ 91]

 By Mang Anas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

A. Makna Batin Surat Asy - Syams ayat 1 - 6  [ Paragraf Simbol ]

وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا

"Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 1)

[ Demi Dzat yang telah mentajalikan diri- Nya menjadi Nur Muhammad ]

وَالْقَمَرِ إِذَا تَلٰىهَا

"demi bulan apabila mengiringinya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 2)

[ Demi Nur Nuhammad yang mentajalikan dirinya dalam diri ruh para Nabi dan Rasul ]

وَالنَّهَارِ إِذَا جَلّٰىهَا

"demi siang apabila menampakkannya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 3)

[ Demi Para Rasul yang diutus ditengah tengah manusia ]

وَالَّيْلِ إِذَا يَغْشٰىهَا

"demi malam apabila menutupinya (gelap gulita)," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 4)

[ Demi Jiwa apabila dimasukan ke alam jasad _ yaitu kondisi jiwa manusia setelah dibenamkan kedalam nafsunya, yaitu _ nafsu jasadi, yang meng-hijab antara dirinya dari Tuhan- nya _ itu semata ujian bagi jiwa ]

وَالسَّمَآءِ وَمَا بَنٰىهَا

"demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan),"- (QS. Asy-Syams 91: Ayat 5)

[ Demi anasir Angin dan anasir Api yang terlepas dari hukum gravitasi _yaitu anasir jisim latif yang ada pada jiwa yang tabiatnya selalu condong ke atas ]

وَالْأَرْضِ وَمَا طَحٰىهَا

"demi bumi serta penghamparannya," -QS. Asy-Syams 91: Ayat 6)

[ Demi anasir air dan anasir tanah yang terikat dengan hukum gravitasi _ yaitu anasir jisim latif yang ada pada jiwa yang tabiatnya selalu condong ke bawah ]


B. Makna Batin surat Asy - Syams ayat 7 - 10 [ Paragraf Dohir _ kata katanya jelas dan nampak ]


وَنَفْسٍ وَمَا سَوّٰىهَا

"demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 7)

[ Demi Fitrah yang menjadi esensi kesejatian manusia ]

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوٰىهَا

"maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 8)

[ Maka Dia tanamkan kedalam fitrah itu_ nafsu amaroh, nafsu lawwamah, nafsu sufiyah_ _Nafsu mutmainnah_ _Nafsu rodiyah, nafsu mardiyah dan nafsu kamilah ]

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا

"sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),"- (QS. Asy-Syams 91: Ayat 9)

[ Sungguh anugerah warid itu akan kami berikan kepada siapa saja diantara mereka yang mau bekerja keras dalam menata dan menyeimbangkan ke tujuh unsur nafsunya _ yaitu mereka yang berusaha memurnikan dirinya dengan banyak ber- dzikir kepada Allah dan orang - orang yang didasar hatinya mengeram sebuah rasa_ yaitu rasa positip dan selalu berprasangka baik kepada Allah ]

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا

"dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 10)

[ Dan adapun orang - orang yang tidak memiliki kemauan dalam menata dan menyeimbangkan ke tujuh unsur nafsunya, maka akan kami biarkan mereka selalu terombang ambing dalam kesesatannya ]


C. Makna Batin surat Asy - Syams ayat 11 - 15  [ paragraf kisah ]

كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوٰىهَآ

"(Kaum) Samud telah mendustakan (Rasul-Nya) karena mereka melampaui batas (zalim)," - ( QS. Asy-Syams 91: Ayat 11)

[ Sungguh hitamnya karakter jasad benar - benar telah menutup hati mereka ]

إِذِ انۢبَعَثَ أَشْقٰىهَا

"ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 12)

[ akibat kekuatan hawa nafsu benar benar telah menguasai jiwanya ]

فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيٰهَا

"lalu Rasul Allah (Salih) berkata kepada mereka, "(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya."- (QS. Asy-Syams 91: Ayat 13)

[ maka dalam keadaan itu sekalipun cahaya ruhul qudus dan kesadaran fitrah dimunculkan, _ dan membersit dihati mereka _ untuk mengajaknya kembali _ kepada kesadaran murni hati dan esensi hati nurani ]

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنۢبِهِمْ فَسَوّٰىهَا

"Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah)." - (QS. Asy-Syams 91: Ayat 14)

[ Mereka akan selalu menepisnya dan bahkan tanpa pikir panjang mereka akan segera menolak kesadaran itu, dan itu pada dasarnya mereka sedang menghancurkan potensi fitrahnya sendiri _  serta membinasakan dirinya sendiri __  untuk selama - lamanya __ akibatnya hati mereka menjadi keras disebabkan banyaknya kejahatan dan perbuatan dosa yang mereka lakukan.

Maka kelak diahirat Tuhan tidak akan menyapa dan memandang mereka, dan terhadap apapun yang bakal terjadi pada mereka dan yang akan menimpanya,  Tuhan tidak akan peduli dan tidak akan menolongnya ].

وَلَا يَخَافُ عُقْبٰهَا

"Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya."- (QS. Asy-Syams 91: Ayat 15)

[ hal itu disebabkan karena Tuhan telah mencabut rahmat-Nya atas mereka akibat perbuatan mereka yang melampaui batas, maka jika Tuhan menetapkan " azab-Nya ", mereka sama sekali tidak punya hak untuk menuntut dan menggugat keadilan-Nya _ karena hal itu sudah merupakan ketentuan dan janji yang telah ditetapkannya,  dan semua ketentuan dan janji janji- Nya itu telah disampaikan kepada manusia melalui lisan para nabi dan orang orang yang diangkat sebagai utusan-Nya ]

D. Tafsir dan Pembahasan

1. Dalam paragraf simbol =  terdapat 6 ayat ---> dalam paragraf ini digambarkan tentang tahapan dan alur proses Tanajulnya Jiwa Manusia dari alam qurbah [ alam kelangitan ] hingga ke alam dunia [ alam jasad ].

2. Dalam paragraf dhohir = terdapat 4 ayat ---> Dalam paragraf ini digambarkan tentang esensi dari jiwa serta beberapa tabiat yang terkandung didalamnya. Dalam Ayat itu Allah Swt juga memberikan petunjuk bagaimana jiwa itu seharusnya kita perlakukan, agar setelah jiwa itu dibanamkan ke alam jasad [ alam kegelapan ] jiwa itu bisa tetap murni pada fitrahnya, tidak terseret atau terpengaruh oleh pernak - pernik kehidupan yang serba jasad dan yang serba materi.

Dengan demikian sekalipun jiwa itu ada dalam kondisi terkurung dialam jasad dan menerima banyak pengaruh darinya tetapi dia tetap dapat menatap tegak lurus ke langit , dan selalu memandang wajah Tuhan -nya. Dengan begitu ia pun akan senantiasa merindukan jalan pulang dan sangat menginginkan untuk kembali ke asalnya, yaitu negeri Qurbah. Dalam posisi ini manusia akan dapat tegak lurus diatas prinsipnya, tahan terhadap segala godaan dan akan rela mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk dapat melayani Tuhannya.

3. Dalam paragraf kisah = terdapat 5 ayat ---> Dalam paragraf ini Allah Swt menggelar sebuah lakon tentang kisah kaum Samud [ Simbol Nafsu Fujuroh ], bangkitnya orang yang paling celaka [ Simbol Thagut ] serta Nabi Salih AS [ Simbol Ruhul Kudus ] dan seekor Unta [ Simbol kesadaran Fitrah ] dan Minuman Unta [ Simbol Nafsu Takwaha ]. Kemudian konflik pun terjadi dimana anasir - anasir kegelapan yaitu sisi buram dari tiga anasir Nafsu Fujurah [ Nafsu Amarah, Nafsu Lawwamah dan Nafsu Sufiyah ] dapat digerakan dan diprovokasi oleh Thagut agar mereka menjauhkan unta [ Esensi Fitrah ]  itu dari minumannya yaitu tiga anasir nafsu Takwaha [ Nafsu Rodiyah, Nafsu Mardiyah dan Nafsu Kamilah ]. Bahkan kemudian unta [ Esensi Fitrah ] itupun dibunuhnya pula.

Demikianlah drama tragis itu terjadi, dan nabi Salih [ Simbol Ruhul Kudus ] tidak dapat mencegah dan mendamaikannya, karena provokasi Thagut itu benar benar telah mencengkeram sedemikian rupa tiga sisi buram anasir nafsu fujurohnya, sedangkan si - Fitrah yang disimbolkan dengan seekor unta ada dalam posisi sudah lemas dan tersandra karena berhari - hari telah dijauhkan dari minumannya [ tiga unsur nafsu Takwaha ]. Begitulah drama tragis itu digambarkan melaui sebuah lakon kaum Samud,  dan kita harus menjadikan kisah ini sebagai ibroh dan harus dapat mengambil pelajaran darinya. Bahwa Manusia dapat menjadi celaka jika mereka tidak dapat terus tegak lurus berdiri diatas fitrahnya karena terlalu condong ke kiri _ menjadi seperti binatang _ buas dan kasar_ atau karena terlalu ke kanan _ menjadikan dirinya seperti Malaikat _ diam dan pasif serta tidak memiliki kapasitas untuk ber - ekpresi, mengambil tanggung jawab dan ber-inisiatif.


------- @@@ --------


Catatan : 

Tiga Sifat Nafsu dan Letak letak Nafsu bila dilihat dari gejalanya.

A. Nafsu yang timbul dari sifat Qorin [ Fujuroh ] : 

1. Nafsu Amaroh :  dibawah susu kiri

2. Nafsu Lawwamah : di sebeleh kiri susu kiri

3. Nafsu Sufiyah : diatas susu kiri


B. Nafsu Yang timbul dari sifat Diri Murni [ Fitrah Adam ] :

4. Nafsu Mutmainnah : ditengah dada


C. Nafsu yang timbul dari sifat Mulkan [ Taqwaha ] :

5. Nafsu Radiyah : dibawah susu kanan

6. Nafsu Mardiyah : disebelah kanan susu kanan

7. Nafsu Kamilah : diatas susu kanan

Sumber : Petunjuk Rahsa kala membaca surat Asy- Syams.


Wallahu 'alam

Sabtu, 03 April 2021

Makna Ta'wil Surat An Nas

By Mang Anas


a. Makna Terjemah : 

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

Katakanlah ( Wahai Muhammad ), “aku berlindung kepada Tuhan manusia,

مَلِكِ النَّاسِۙ

raja manusia,

اِلٰهِ النَّاسِۙ

sembahan manusia

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ

dari (golongan) jin dan manusia.”


b. Ta'wil Surat An - Nas [ Makna Jagat Gede ] 

    " Berlindung dari Fitnah Dajjal "

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

Katakan, aku bersandar kepada Rabb yang mengendalikan semua Asma 

مَلِكِ النَّاسِۙ

aku memasrahkan diriku kepada Malik yang berkuasa atas semua sifat, 

اِلٰهِ النَّاسِۙ

aku berlindung kepada Ilah yang menjadi asal dari semua dzat [ materi ]

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

dari konspirasi aliansi jahat yang tersamar [ Sistem Dajjal ]

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ

yang tidak menghendaki jiwa orang orang yang beriman tumbuh dan berkembang [ mencapai kesempurnaannya ] #

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

yang diaktori oleh bangsa Jin [ Dajjal dan Agen agennnya ] dan manusia [ yang memuja kebebasan dan hawa nafsu ].


c. Ta'wil Surat An - Nas [ Makna Jagat Cilik 1 ] 

    " Berlindung dari Jerat Hawa Nafsu "

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

Katakanlah, aku berlindung kepada Rabb, yang memelihara jiwa manusia 

مَلِكِ النَّاسِۙ

aku berlindung kepada Malik, yang menguasai jiwa manusia

اِلٰهِ النَّاسِۙ

Aku berlindung kepada Ilah, Yang menciptakan jiwa manusia

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

dari kecendrungan memanjakan hawa nafsu dan dari putusnya kebersamaan hati dengan Tuhan

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ

yang membuat jiwa manusia secara permanen terbelenggu di Alam Materi 

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

akibat kuatnya pengaruh hawa nafsu yang memancar dari elemen dasar sifat penciptaan Jin [ Api & udara ] dan sifat elemen dasar penciptaan Adam [ Air & Tanah ] yang mendominasi susunan tubuh jasmani manusia @


D. Ta'wil Surat An - Nas [ Makna Jagat Cilik 2 ] 

    " Berlindung dari Sikap bias,  ketidak cermatan dan kurang teguhnya pendirian " 

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ

Serukan dengan Rahsa mu, Aku berlindung kepada Rabb - yang menjaga dan memelihara hati Manusia

مَلِكِ النَّاسِۙ

Aku Berlindung Kepada Al - Malik yang Maha Berkuasa membolak - balikkan hati manusia

اِلٰهِ النَّاسِۙ

Aku berlindung kepada Ilah yang mengilhamkan insting jahat dan potensi takwa dalam diri Manusia

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

Dari sikap bias, ketidak cermatan dan kurang - teguhnya pendirian

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ

Akibat dari adanya tarir - ulur kekuasaan, perebutan pengaruh dan gesekan kepentingan

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Antara bangsa Jin [ Fitrah Syetan ] dan Fitrah diri manusia.



----------- ☆☆☆ -----------------

1. Keterangan :

#. Dasar Penta'wilan ayat 4 - 6 dengan pemaknaan tersebut diatas adalah :

Asy-Syams 91: ayat 7 - 10

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا 

demi jiwa serta ( tahapan - tahapan ) penyempurnaan (ciptaan)nya, - Asy-Syams 91:7

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا 

maka Dia mengilhamkan kepadanya ( jiwa itu ) kejahatan dan ketakwaannya, - Asy-Syams 91:8

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا 

sungguh beruntung orang yang menyucikan ( jiwa ) nya ( yang senantiasa ber-dzikir dan mengingat Allah ), - Asy-Syams 91:9

وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا 

dan sungguh rugi orang yang mengotorinya . ( yang jarang dzikir dan sering melalaikan Allah ).- Asy-Syams 91: 10


@. 1. Elemen dasar penciptaan Jin [ Api & Udara ] : ditundukan dengan shalat ---> Ruku, Sujud dan Salam

     ♤ Api ---> unsur dohir dari api adalah adanya panas didalam tubuh manusia , adapun unsur batin anasir api yang bisa berdampak terhadap kejiwaan manusia adalah munculnya rasa sombong, rasa marah, sikap ingin dipuji,  munculnya ambisi  dan timbulnya rasa percaya diri

     ♤ Udara ---> unsur dohir dari udara adalah adanya rasa dingin didalam tubuh manusia, adapun unsur batin dari anasir udara yang berdampak terhadap kejiwaan manusia adalah munculnya sikap keras hati, munculnya motivasi untuk berbuat sesuatu demi mendapatkan sesuatu, munculnya sifat energik,  daya tahan, ketekunan dan keuletan

     2. Elemen dasar penciptaan Manusia [ Air & Tanah ] : ditundukan dengan Puasa

     ♤ Air ---> unsur dohir dari air adalah adanya unsur basah didalam tubuh manusia , adapun unsur batin dari air yang dapat memunculkan pengaruh tertentu bagi kejiwaan manusia adalah timbulnya nafsu syahwat, munculnya sikap rakus, dan adanya rasa kasih sayang 

     ♤ Tanah ---> unsur dohir dari tanah adalah adanya unsur kering didalam tubuh manusia, adapun unsur batin dari tanah yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan manusia adalah adanya rasa ingin selalu mendapatkan kepuasan , adanya rasa butuh terhadap yang lain,  mendambakan ketenangan, rasa nyaman dan kecendrungan untuk selalu berusaha mencari sandaran.


2. Perjalanan jiwa dialam rohani dan Tahapan - tahapan penyempurnaannya :

   a. Alam Kegelapan : Bentuk Laku, Riyadoh & Mujahadah ( QS. 66 : 6, QS 5 : 105, QS. 41 : 35 )

             1.  Nafsu Amarah ( Unsur Api )

        [ Alam Nasut : Alamnya orang Syariat ]

                                         |

                                        ◇

           2. Nafsu Lawwamah ( Unsur Udara ) 

     [ Alam Malakut : Alamnya Orang Tharekat ]

                                         | 

                                        ◇

             3.  Nafsu Mulhammah ( Unsur Air ) 

    [ Alam Malakut : Alamnya Orang Tharekat ]

                                          |

                                         ◇

b. Alam Antara : inilah Titik Fitrah / Titik Nol,  Dalam posisi ini sang Salik menunggu Allah menyapa, ia sangat mengharap rahmat dan kehendak Tuhan agar dirinya disapa dan diperkenankan Tuhan masuk  ke hadirat- Nya  (  alam jabarut ).

                                         |

        4.  Nafsu Mutmainnah ( Unsur Tanah ) 

         [ Alam Barzah / Titik Fitrah / Titik Nol ]

                                          |

                                         ◇

c. Alam Terang  :  pada titik ini Tuhan berkenan untuk Menyapa dan memanggil hambanya,  dan disini sang Salik dianugerahi Jubah kehormatan, Jubah Makrifat ( QS. Al - Fajr 89 : 27 - 30 )

                                          |

           5. Nafsu Rodiyah  + 6. Nafsu Mardiyah

               [ Alam Jabarut : Alam Makrifat ]

                                          |

                                         ◇

                           7. Nafsu Kamilah 

                  [ Alam Lahut : Alam Hakekat ]

Pada titik ini Allah Swt berkenan menganugerahi hambanya gelar " Abdullah ", Gelar tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang Salik. Selanjutnya sang " Abdullah " akan dibawa oleh Tuhan untuk turun kembali kealam insan tetapi sudah dalam kondisi yang jauh berbeda, karena mulai saat itu ia sudah disifati dengan sifat sifat Tuhan, ia akan memandang segala sesuatu dengan cara pandang Tuhan dan segala perbuatannya sudah menjadi perpanjangan dari perbuatan - perbuatan Tuhan. inilah yang disebut dengan kebersatuan dan Fana - Billah.

3. Kedudukan Rabb adalah pemilik semua Asma, dari Rabb lah semua asma itu berasal,  Rabb lah yang mewujudkan segala ketentuan Qodho itu menjadi Qodar melalui mekanisme peristiwa hukum sebab - akibat ( hukum sunatullah ).  Hakekat asma asma adalah tali - tali simpul dari mekanisme kerja yang ada pada sistem alam semesta.

Dari asma asma lah semua makhluk  diciptakan. Dan fungsi dari makhluk makhluk ciptaan itu tidak lain adalah sebagai bagian dari mata rantai sistem kerja yang berlaku pada alam semesta. Makanya disamping asma asma induk maka asma asma juga memiliki beberapa varian yaitu berupa sub dari asma asma. Ia bisa merupakan hirarki dari sistem kerja para malaikat, hirarki sistem kerja benda benda langit, hirarki kekuasaan pada manusia, hirarki kekuasaan pada mahluk dari golongan jin, sistem air, sistem udara, mekanisme kerja gunung gunung dan sebagainya. 

Semua mekanisme kerja yang berlaku pada sistem yang terbentuk dari asma asma itu ada dalam kendali Robb. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa Rabb adalah Pengendali  Sistem Alam Semesta ( Operator Alam semesta ) dan Al - Malik adalah yang menciptakan hukum hukumnya ( Pencipta Software yang berlaku di alam semesta ) sedangkan Ilahun adalah yang menciptakan semua bahan atau materi yang ada di alam semesta ( Pencipta Hardware alam semesta ).

4. Unsur Fitrah Manusia itu terdiri dari dua elemen yaitu elemen Jin ( unsur Api & Udara )  dan elemen asli manusia ( Air & Tanah ) ----> Tugas manusia adalah memenej agar semua unsur itu bisa stabil dan agar masing masing elemen dasar itu dapat menempatkan dirinya pada tempatnya yang pas dan masing masing didudukan pada titik keseimbangannya. Itulah hakikat Insan - Kamil, hakekat Titik NOL / Titik Fitrah. 

Satu satunya ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi titik fitrah itu adalah dengan men- dawamkan laku dzikir. Sebab laku dzikir itu mekanisme kerjanya sangat mirip  dengan Tehnik Fusi dalam pemurnian atom, agar atom atom itu dapat mencapai derajat pemurniannya maka biji biji atom itu harus mengalami proses fusi terlebih dahulu, caranya biji biji atom harus dipusingkan sebanyak jutaan kali didalam sebuah alat pemutar yang disebut dengan mesin sentrifugal.

Itulah mekanisme kerja dzikir dalam diri manusia, dimana keempat unsur dasar pembentuk nafsu manusia yaitu dua dari elemen Jin ( Unsur Api & Udara ) serta dua dari elemen dasar penciptaan manusia ( Air & Tanah ) harus terus menerus di- thawafkan mengelilingi inti hati ( Baitullah ) yang ada di dalam dada manusia. Melalui proses itu maka keempat unsur nafsu itu akan dapat mencapai proses pemurniannya. Hal itu ditandai dengan dicapainya titik keseimbangan diantara ke empat unsur tersebut diatas.


Wallahu 'alam

---- @@@ -------

Catatan : 

# Gaya Gravitasi Api ( Iblis ) dan Udara ( Ifrit ) : Unsur Jin  ------> Cendrung menarik ke Atas

# Gaya Gravitasi Air ( Eva )  dan Tanah ( Adam ) :  Unsur Manusia ------> Cendrung Menarik ke Bawah

# Fungsi Dzikir adalah  ------> untuk menstabilkan sifat sifat yang terbentuk dari unsur Iblis,unsur Ifrit dan unsur Hawa / Eva sehingga ketiga unsur itu betul betul bisa bersinergi dan dapat berfungsi selaras dengan unsur dasar pembentuk manusia ( Yaitu Tanah / Adam ).  


 


 



Rabu, 10 Maret 2021

Makna الم Dalam Surat Al Baqarah

By Mang Anas

a. Makna  Dhohir Ayat

الٓمٓ 

" Alif Lam Mim " hanya Allah yang tahu maknanya -  Al-Baqarah 2:1

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ 

" Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, " -  Al-Baqarah 2:2

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ 

" (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, " -  Al-Baqarah 2:3

وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ  ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ  ۗ 

"dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat." -  ( QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4)

اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ  ۙ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." - (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 5)

b. Makna Takwil atau makna Batin huruf  الم

الٓمٓ

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ  = ا

لَا رَيْبَۛ فِيهِۛ  = ل

هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ  = م

Penjelasan makna Batin  الٓمٓ   :

ا  =   ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ  -  Sebuah kitab yang memuat pesan - pesan wahyu dari Tuhan semesta Alam. 

ل =   لَا رَيْبَۛ فِيهِۛ  -  Yang dengan pesan - pesan itu Allah hendak menguatkan hati orang - orang yang beriman,  dan hati orang- orang kafir serta orang - orang yang masih ragu dalam menerima kebenaran al quran akan terguncang. 

م  =  هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ  -  Kitab itu berisi petunjuk bagi orang orang yang beriman yang ingin menguatkan ketakwaannya,  serta menjadi petunjuk bagi mereka yang ingin kembali menemui Tuhan- nya dengan hati ridha dan di-ridhai -Nya.  

Kondisi ini [ orang yang ragu ], dalam al Quran digambarkan sebagai sosok al Baqarah atau " Sapi Betina ", yaitu sejenis binatang ternak yang biasa dipakai untuk membajak sawah atau ladang, untuk diambil dagingnya  atau diperah air susunya.

Hakekat isi kandungan al qur'an didalam surat al baqarah itu jika kita cermati isinya ternyata berisi tuntunan supaya kita dapat lebih " Mengenal Diri kita sendiri ". Kondisi yang sesungguhnya dari diri kita.

Oleh karenanya didalam surat itu dibedar pointer pointer tentang hakekat orang orang yang beriman, hakikat orang orang kafir ( Yahudi dan Nasrani ), hakikat orang musyrik serta hakikat tentang orang orang munafik yang didalam hatinya ada penyakit. Dibahas juga dalam surat itu cerita Musa, Fir'aun, Ibrahim dsb sebagai ibrahnya. 

Isi substansi surat al baqarah adalah berupa perintah supaya kita mau menilai diri sendiri dengan berkaca pada sifat, watak, sikap dan prilaku yang digambaran lewat perwatakan figur orang - orang yang beriman, figur orang - orang kafir ( Yahudi dan Nasrani ) dan orang - orang musyrik serta sifat dan perwatakan yang terdapat pada diri orang orang munafik.

Selanjutnya kita diperintah untuk mulai mengevaluasi sejumlah sifat, watak dan prilaku itu kedalam diri kita sendiri : seperti apakah wajah kita,  dalam kondisi seperti apa keadaan kita saat ini, apakah keadaan kita lebih mirip kepada gambaran orang orang beriman dan orang orang yang bertaqwa, atau justru kita malah lebih menyerupai sifat dan perwatakan orang orang kafir, sifat dan perwatakan orang musyrik atau justru sebenarnya kita ini lebih mirip orang munafik. Itulah inti dari surat al baqarah. Kita diperintahkan untuk menghadapkan wajah kita kepada sebuah cermin dan cermin itu adalah al quran sebagai Hudan lil muttaqin.

Jika kita sudah mampu melakukan itu [ menjadikan al quran sebagai cermin diri kita ] maka saat membaca ayat ayat al quran itu hati kita pasti akan tergetar, bahkan kita akan selalu menangis dan berurai air mata lalu sujud dan tersungkur saat membaca dan menghayatinya. Tetapi bila mana setiap kali membaca al quran keadaan hati kita biasa biasa saja, tidak dapat merasakan adanya getaran apapun yang menyebabkan kita tiba tiba ingin menangis, sujud dan tersungkur maka itu tandanya dihati kita ada penyakit. Kebenaran iman kita kepada Allah pun patut diragukan. Baca dan cermati firman Allah Swt dibawah ini, tentang ciri ciri orang yang memiliki Iman yang sejati :

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَٱجْتَبَيْنَآۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُ ٱلرَّحْمَٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًا وَبُكِيًّا۩ 

" Mereka itulah orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu dari (golongan) para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yang Kami bawa (dalam kapal) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil (Yakub) dan dari orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis " -  Maryam 19:58


  إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ مِن قَبْلِهِۦٓ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا  

" Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur'an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud,” - Al-Isra' 17:107


إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ 

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"  -  Al-Anfal 8:2


Konteks Sandaran Ayat, bedaran  kata  الٓمٓ : 

1. Sandaran Huruf ا adalah kata  هٰذَا yang berasal dari kata ها د  sebagaimana  yang terdapat firman Allah, 

هٰذَا بَيَا نٌ لِّلنَّا سِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ

"Inilah (Al-Qur'an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." - (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 138)

2. Sandaran ayat huruf  ل adalah kata  خَلْقِ  sebagaimana firmannya, 

اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ  ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ وَمَا بَيْنَهُمَاۤ اِلَّا بِا لْحَقِّ وَاَ جَلٍ مُّسَمًّى  ۗ وَ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّا سِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَـكٰفِرُوْنَ

"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya." - QS. Ar-Rum 30: Ayat 8)

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَءَايٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal," - ( QS. Ali 'Imran 3: Ayat 190)

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيٰمًا وَقُعُودًا وَعَلٰى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بٰطِلًا سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." - ( QS. Ali 'Imran 3: Ayat 191)

3. Sandaran ayat huruf  م adalah kata  وَيُؤْمِنۢ   sebagaimana firman Allah berikut ini : 

لَآ إِكْرَاهَ فِى الدِّينِ  ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ  ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا  ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." - (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)


Wallahu 'alam

----- @@@ --------

Catatan :

1. Selain dipahami dengan makna diatas, "  الٓمٓ  " juga memiliki makna batin lainnya yakni,

ا =  بِسْمِ اللَّهِ  <---- ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ    adalah sebuah kitab yang diturunkan dengan kehendak Allah

ل = الرَّحْمٰنِ <----  لَا رَيْبَۛ فِيهِۛ    sebagai petunjuk jalan bagi semua manusia, baik orang yang beriman maupun yang belum, sebagai rahmat dari Tuhan semesta alam karena sifat Ar -Rahman - Nya.

م = الرَّحِيمِ  <---- هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ   dan dengan sifat Ar- Rahim -nya , maka khusus bagi mereka yang beriman dan benar benar ingin bertakwa, Allah akan menganugerahkan kepada mereka hikmah dari huruf  " م " yang berupa Warid [ Guru Sejati ] yang dengan warid itu hati orang orang beriman akan terbimbing dan akan dapat menempuh jalan menuju Tuhan- nya dengan cepat, tepat dan selamat.

Dengan demikian,  jika dilihat dari makna batinnya, maka substansi isi dari kalimat

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ 

itu sama persis dengan kalimat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ


2. Agar anda dapat memahami makna takwil dengan mudah, maka mohon amati dan cermati bentuk bentuk huruf hijaiyyah itu [ dalam topik ini adalah huruf  " Alif " Lam " dan " Min " ],  lalu imajinasikan bentuk bentuk huruf menjadi bentuk bentuk sebuah alat, setelah itu  carilah apa saja kegunaan dari masing masing alat itu.  Kemudian kaitkan dengan makna substansi dari kontek surat atau ayat -ayatnya.



Selasa, 15 Desember 2020

Peta Jalan Keselamatan Manusia, Pembahasan Makna Takwil atas Surat Al – Fatiha.


By. Mang Anas


------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:1

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

♤   الحمد   adalah modal dasar atau anugerah terbesar yang  diberikan oleh Allah Swt kepada umat manusia. Di dalam kata  الحمد   itulah segala hal yang baik dan utama yang menjadi cerminan potensi bawaan diri manusia itu oleh Allah Swt kemudian dihimpun dan dianugerahkan, agar dengannya manusia dapat terus maju dan berkembang menuju kesempurnaan, yaitu menjadi sosok Insanul Kamil. 

Didalam nama   الحمد    ( Al Hamiid )  terhimpun nama nama-Nya yang lain yaitu : Allah Yang Maha Pengasih, Allah yang Maha Penyayang, Allah yang Maha Mendengar, Allah yang Maha Melihat, Allah yang Maha Pemberi Petunjuk, Allah yang Maha Pemberi Rejeki, Allah yang Maha Pemberi Kecukupan, Allah yang Maha Menguasai , Allah yang Maha Pewaris, Allah Yang Maha Bijaksana, Allah yang Maha Mengetahui, Allah yang Maha Meneliti, Allah yang Maha Mulia, Allah yang Maha Mengangkat Derajat, Allah yang Maha Pencipta, Allah yang Maha Menjaga dan  Allah yang Maha Memelihara. 

Semua apa yang ada dibalik sifat dan segala potensi yang ada dibalik dibalik nama – nama itu kemudian oleh Allah Swt dalam kadar tertentu dianugerahkannya kepada manusia. Maka dengan bekal kemampuan yang dianugerahkan  itulah  manusia itu ahirnya mampu menguasai bumi, ia menjadi pengatur dan pemelihara atasnya dan  segala jenis makhluk baik yang besar hingga yang kecil semuanya tunduk kepadanya. Itulah hakikat sebenarnya dari makna  الحمد   dan atas dasar itulah kita semua dituntut oleh Allah selaku Tuhan atas Semesta Alam agar senantiasa bersyukur dan mau mengingat segala kebaikannya.

" Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur " (QS. al- Mu‘min; 40/61)


-----   Penuntasan MASIH DALAM PROSES....



  



------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:2

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“ Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”





------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:3

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Yang menguasai di Hari Pembalasan.





------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:4

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“ Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”





------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:5

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

“ Tunjukilah kami jalan yang lurus, “






------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:6

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ 

“ (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; “






------ ☆☆☆☆☆ ---------

Al-Quran 1:7

غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

“ bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”


Sabtu, 28 November 2020

Tafsir atas Surat An-Nahl 16: ayat 125

Inspirasi dari kisah Nuh AS dalam kitab Fusus Al - Hikam,

Ibnu Arabi.

By Mang Anas


Tafsir atas Surat An-Nahl 16: ayat 125

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ 

" Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk ".


a. Tafsir atas penggalan Ayat " " Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik "


♤ Bil Hikmah = Tafsir dari kata " Bil Hikmah " ini jika  dipahami secara hakekat ini mengandung perintah dan anjuran bahwa sebelum kita melakukan aktivitas dakwah atau memberikan seruan kepada orang atau sekelompok orang hendaklah terlebih dahulu kita memahami, memotret dan memetakan kondisi orang - per orang yg hendak kita beri seruan tersebut , mulai dari latarbelakang kehidupannya, cara pandangnya terhadap sesuatu, kecendrungan atau orientasi kehidupannya, masalah masalah yang dihadapinya dan sebagainya,  baru setelah semua itu dilakukan maka kita menyampaiakan pesan pesan kita  kepada mereka atau kita berbuat sesuatu untuk mereka tetapi dengan tetap berpijak diatas landasan riset dan temuan fakta - fakta itu, selanjutnya kita baru coba penuhi apa saja yang menjadi kebutuhannya baik berupa kebutuhannya yang lahir maupun yang batin ( ini yang disebut dengan batinnya dakwah, yaitu memahami kondisi kebatinan orang yang hendak kita seru / disebut juga dengan istilah seruan dimalam hari, lihat kisah Nuh AS dalam al Quran ), Tahapan penyusunan Strategi dan Doa.


♤ Wa mau' idhotil hasanah = Selanjutnya sampaikanlah materi pesan dakwah itu sesuai dengan takaran akal penerimannya dan dalam bahasa yang mereka pahami serta dengan cara dan tutur kata yang lembut dan dengan kalimat kalimat yang menyentuh hati. Tetapi esensi maknanya tetap jelas bahwa pesan itu disampaikan semata untuk kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin mereka sendiri. Pesan itupun harus dibungkus, dikemas dan dilabeli dengan semangat Rahmatal lil'alamin dan jangan dikotori dengan nafsu mengislamkan orang, membangga - banggakan  prestasi dan hasil kerja dakwahnya kepada manusia.


♤ Wa jadilhum billati hia akhsan =  Ini dilakukan hanya kepada audien yang cukup terpelajar, audien - audien yang cerdas/pintar tetapi pemahaman ilmunya belum sampai menyantuh tataran hakekat. Mereka belum bisa menangkap sinyal -  sinyal ketuhanan baik dalam tanda - tandanya yang dhohir ( Wujud - wujud Tuhan yang dhohir barupa wujud wujud ciptaan yang ada dilangit dan bumi ) maupun yang batin ( tanda yang tersembunyi yang hanya bisa disibak dengan jalan kasyaf ). 

♤ Untuk dua yang terahir ini dalam kisah Nuh AS ini disebut Seruan disiang Hari, dakwah ditataran dhohir, seruan diwilayah akal dan logika , tahapan bimbingan dan implementasi / pendampingan.



b. Tafsir atas penggalan Ayat " Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk "


Rujuka tafsir atau penjelasan atas ayat ini adalah peristiwa yang pernah menimpa Rasulallah ketika beliau mendakwahkan Islam dihadapan penduduk Thaif. 

Ada banyak rahasia Allah yang saat itu ditutup atau disamarkan dan baru kemudian terkuak hikmahnya beberapa tahun kamudian, yakni kala penduduk Thaif juga ahirnya beriman dan berbondong - bondong menerima Islam. Dimana dengan Islamnya penduduk Thaif yang rata rata merupakan suku arab yang berwatak berani, liar dan bertubuh kuat, dakwah islam itu ahirnya berkembang begitu pesat, sebab bangsa Thiaf adalah rata - rata prajurit yang berani, mereka kuat dimedan laga serta saat menemui kesulitan merekapun tidak gampang berputus asa.

Itulah penjelasan dari tembung firman Allah diatas, bahwa " Dia lebih mengetahui siapa yang bakal disesatkan dan juga mengetahui siapa yang bakal diberiNya petunjuk ". Ayat ini mengingatkan kita semua agar saat mimilih sasaran dakwah janganlah didasarkan pada praduga semata, apalagi punya praduga jelek dan belum apa -apa kita sudah menjustifikasi bahwa orang tersebut tidak mungkin beriman atau mereka tidak mungkin bisa bertobat. Pelajaran yang dapat dipetik dari penggalan ayat ini adalah, bahwa Allah itu memiliki rahasia masa lalu, masa kini dan masa depan hamba - hambanya. Ia sengaja menyembunyikan sesuatu itu dari kita dan itu semata - mata untuk menguji, apakah dalam situasi ketidakpastian dakwah itu, saat menghadapi sesuatu yang hasilnya sulit ditebak ( bil ghaibi ) kita ini tetap memiliki tekad , tetap ulet, tetap sabar, tetap kuat dan tetap berani ( yu'minuna ) atau malah sebaliknya  kita ini malah mundur dan putus asa ( khusrin ).

Peristiwa Thaif itu bila dipandang secara kasat mata ( menurut pandangan awam ) itu merupakan batu ujian yang sengaja diberikan oleh Allah Swt kepada Rasulnya, yakni Nabi Muhammad SAW untuk menjajagi seberapa tebal tekad beliau, kesabaran dan juga keberaniannya dalam mendakwahkan pesan pesan ilahi yang diembannya. 

Tetapi para ahli hakikat akan memandang peristiwa itu dari sisi batinnya, yakni rahasia Allah yang ada dan yang tersembunyi dibalik peristiwa itu.

Mereka akan memandang peristiwa itu semata ditujukan sebagai ibrah, yakni ibrah dari Allah Swt melalui lakon yang difigurkan oleh RasulNya agar umatnya juga mencontoh caranya, yakni cara Rasulallah SAW dalam mengembangkan dakwah.


                          Indramayu, 28 Nopember 2020