Halaman

Tampilkan postingan dengan label Tafsir Isyari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Isyari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2021

Proses Penciptaan Alam Raya dan Hukum Kehidupan Yang Tersembunyi Didalamnya

By. Mang Anas


TAFSIR ATAS SURAT AL FURQAN 25 : AYAT 57 - 61 DALAM PERSPEKTIF MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DIMUKA BUMI.

A.  al Furqan ayat 57 : 

قُلْ مَآ أَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَآءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلٰى رَبِّهِۦ سَبِيلًا

"Katakanlah, "Aku tidak meminta imbalan apa pun dari kamu dalam menyampaikan itu, melainkan [ hanya agar ] orang-orang mau mengambil jalan kepada Tuhannya." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 57)

□  Makna dari kalimat agar manusia mau " mengambil jalan kepada Tuhannya " adalah hendaklah manusia itu dapat berdiri tegak pada garis tugas dan fungsinya selaku khalifah dan selaku kepanjangan tangan Tuhan dimuka bumi. Dengan jalan itu, maka barulah manusia dapat dianggap telah mengambil jalan kepada Tuhannya. Sebab kewajiban utama manusia adalah menegakkan prinsip - prinsip kehidupan, dengan merawat dan memeliharanya serta menfasilitasi tumbuh dan berkembangnya marwah kehidupan itu disemua aspeknya. Dan bukan berlaku sebaliknya, mematikan, merusak dan menghambatnya.


B. al Furqan ayat 58

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَىِّ الَّذِى لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِۦ  ۚ وَكَفٰى بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا

"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 58)

□ Dan yang dimaksud dengan kalimat " Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya " adalah hendaklah manusia itu senantiasa berusaha menyelaraskan dirinya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki, itulah yang disebut tawakkal dalam kontek ini. Dan hendaklah  ia tetap berkomitmen dalam menjalankan tugas dan fungsinya, itulah yang dimaksud dengan bertasbih dengan memuji-Nya. Jadi makna hakiki bertasbih dan memuji itu bukanlah semata pekerjaan lidah dan mulut, tetapi haruslah berupa tindakan nyata. "Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya " (QS. Az-Zumar 39: Ayat 67)

□ Adapun yang dimaksud dengan kata dosa pada kalimat " Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya," adalah bahwa Allah itu sangat mengetahui segala perbuatan yang dilakukan oleh hamba - hambaNya yang dampaknya dapat merusak dirinya dan tatanan hukum semesta serta merusak keseimbangannya.

C. al Furqan ayat 59

الَّذِى خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ  ۚ الرَّحْمٰنُ فَسْئَلْ بِهِۦ خَبِيرًا

" [ Dialah [ yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa [ enam tahapan ], kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah kepada orang yang lebih mengetahui." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 59)




□ Yang dimaksud dengan periode penciptaan dalam enam masa [ enam tahapan ] dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Fase Nur Muhammad [ Alam Sifat ]

□ Pada mulanya Tuhan itu barulah berupa eksistensi اله atau هو atau yang disebut sebagai Sang Maha Hidup [ الْحَىِّ ]. Keberadaan Tuhan pada tahap ini [ dalam eksistensi  هو atau اله ] belumlah dapat dikenali, karena pada fase ini hanya Dia lah satu - satunya keberadaan itu, dan belum ada yang lainnya. Jadi ini adalah fase Allah yang Ahad, atau Allah yang masih ada dalam kesendirianNya.

Lalu Allah yang Ahad dan yang pada mulanya Sendiri itu pada ahirnya berkehendak agar keberadaan diriNya dapat dikenali, maka memancarlah dari Diri-Nya itu Nur yang kemudian kita kenal dengan sebutan Nur Muhammad atau Hakikatul Muhammadiyah yang kemudian dari padanya tercipta 'Arsy, Al Qolam, Kursi dan Lauh Makhfuzh.

Adapun dasar pengambilan istilah Nur Muhammad adalah dari ayat al quran berikut ini,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعٰلَمِينَ

"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 2)

اللَّهُ نُورُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ  ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكٰوةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ  ۖ الْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ  ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ  ۚ نُّورٌ عَلٰى نُورٍ  ۗ يَهْدِى اللَّهُ لِنُورِهِۦ مَنْ يَشَآءُ  ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثٰلَ لِلنَّاسِ  ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nur 24: Ayat 35)

□  Kata  الْحَمْدُ [ segala puji ] dan kata Nur pada ayat diatas itulah yang kemudian melahirkan istilah Nur Muhammad. Itulah pangkal segala penciptaan, dan yang menjadi lokus segala pujian seluruh makhluknya. Tetapi Ibnu Arabi dan Abdul Karim al Jaili lebih menyukai menyebut hal ini dengan istilah Akal Pertama.

Penting untuk diketahui bahwa hakikat Nur Muhammad atau Hakikatul Muhammadiyah adalah wujud dari Allah itu sendiri yaitu  [ اللَّهُ نُورُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ]  atau Allah (selaku sumber) cahaya (bagi) langit dan bumi,  oleh karena itu janganlah kita sampai menyamakan atau mencampur- adukan istilah Nur Muhammad itu dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Itu adalah dua esensi yang sama sekali berbeda. Sebab yang disebut dengan Nur Muhammad itu adalah hakikat Allah Swt selaku Tuhan Yang Maha Pencipta, dan penyebutan itu sebenarnya hanyalah sekedar istilah. Sedangkan esensi yang kedua yakni Nabi Muhammad SAW adalah hakikat makhluk-Nya, hamba dan utusan-Nya. Jadi sekali lagi jangan saudara dibingungkan oleh dua istilah Muhammad itu, dan janganlah sampai salah dalam memahaminya.

2. Fase Terbentuknya Al Qolam dan Lauh Makhfuzh [ Alam Asma ]

□ Kemudian melalui Al Qolam itu Allah Swt menyusun desain dan rancangan dasar dari Alam semesta. Lalu  diinstalkanlah desain program dan rancangan dasar alam semesta itu kedalam sebuah chip maha canggih yang bernama Lauh Makhfuzh.

فِى لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ

"yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfuz)." (QS. Al-Buruj 85: Ayat 22)

وَعِنْدَهُۥ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ  ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ  ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمٰتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 59)

وَلَوْ أَنَّمَا فِى الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلٰمٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللَّهِ  ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Luqman 31: Ayat 27)

3. Fase Pembentukan Pusat Energi [ Alam Ruh ].

□ Dan melalui chip maha canggih yang bernama Lauh Makhfuzh itulah kemudian materi pertama diciptakan, yang waktu itu bentuknya masih berupa Energi [ Ruh Universal ]. ----> Kondisi ini mirip dengan fenomena Big Bang dalam teori ilmu fisika quantum, yang dihipotesakan oleh Georges Lemaitre [ 1927 ] sebagai awal mula dari terbentuknya alam semesta.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا أَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا  ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ  ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?" (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 30)

4. Fase Pembentukan DNA Alam Semesta [ Alam Mitsal ]

□ Dari Ruh Universal [ materi pertama ] itu lalu terbentuklah garis - garis kecendrungan dari cikal bakal segala alam ciptaan, yang disebut Alam Mitsal  [ itu semacam DNA dari Alam Semesta ]. ----> Kondisi ini mirip dengan fenomena pembentukan sperma atau kumpulan asam amino dalam teori biologi  [ Stanley Miller, 1953 ] tentang asal mula terbentuknya kehidupan dimuka bumi.

هَلْ أَتٰى عَلَى الْإِنْسٰنِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَّذْكُورًا

"Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ? [ masih semacam DNA ] " (QS. Al-Insan 76: Ayat 1)

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ مِنْ نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur [ bergabungannya sel sel DNA itu dengan sebuah Ovum ]  yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan 76: Ayat 2)

5. Fase Pembentukan Genos atau Embrio Alam Semesta [ Alam Ajsam ]

□ Dari Alam Mitsal yang masih berupa DNA itu lalu mulailah tercipta wujud - wujud nyata yang berupa embrio atau genos dari alam semesta, tetapi pembentukan pada tahap ini sifatnya masihlah tersembunyi [ bersifat Ajsam ] ----> Kondisi ini mirip dengan proses pertumbuhan bayi dalam kandungan atau pertumbuhan Genos dalam sebuah biji. 

يَخْلُقُكُمْ فِى بُطُونِ أُمَّهٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِى ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍ  ۚ ذٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ  ۖ لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ  ۖ فَأَنّٰى تُصْرَفُونَ

" Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan [ tri semestar pertama, kedua dan ketiga _ merujuk pada istilah kebidanan ]. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan?" (QS. Az-Zumar 39: Ayat 6)

يُخْرِجُ الْحَىَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَىِّ وَيُحْىِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا  ۚ وَكَذٰلِكَ تُخْرَجُونَ

"Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati [ biji yang tumbuh ] dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup [ biji yang jatuh lalu mengering ] dan menghidupkan bumi setelah mati (kering). Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (QS. Ar-Rum 30: Ayat 19)

6. Fase Perwujudan Alam Semesta [ Alam Insan ]

□ Dan dari alam Ajsam itu [ genos atau embrio ] lahir dan mewujudlah kemudian  segala macam makhluk hidup serta segala jenis benda yang ada dialam raya. 

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِى تَجْرِى فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 164)

وَفِى خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَآبَّةٍ ءَايٰتٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini," (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 4)

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِى هٰذَا الْقُرْءَانِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ  ۚ وَكَانَ الْإِنْسٰنُ أَكْثَرَ شَىْءٍ جَدَلًا

"Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang -ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 54)

□ Adapun kalimat "  kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy Yang Maha Pengasih " maksudnya adalah, setelah Allah Swt menciptakan seluruh tahapan penciptaan itu, maka tidak perlu lagi Allah itu berpayah - payah  untuk terus - menerus mengurus dan memelihara secara langsung makhluk - makhluknya, karena pada Alam semesta yang diciptakan-Nya itu Allah telah meletakkan segala ketentuan dan hukum - hukumNya, yaitu berupa sunnatullah yang hidup dan yang tidak akan pernah berubah. Hukum itulah nantinya yang akan menggerakan secara otomatis proses perkembangan dan pertumbuhan Alam semesta beserta seluruh kehidupan yang ada didalamnya. ----> itulah hakikat dari kata Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha Meliputi serta yang dimaksud dengan makna hakikat dari kalimat "  lalu Allah bersemayam diatas 'Arsy " [ QS. Al-Furqan 25: Ayat 59).

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ  ۗ إِنَّ ذٰلِكَ فِى كِتٰبٍ  ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." (QS. Al-Hajj 22: Ayat 70)

Berdasarkan penjelasan ayat itu maka jelaslah bahwa fungsi Lauh Mahfuzh itu adalah mesin otomatis yang memproses pertumbuhan dan perkembangan Alam semesta beserta seluruh kehidupan yang ada didalamnya.


-----@-------

D. al Furqan ayat 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih," mereka menjawab, "Siapakah Yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau (Muhammad) perintahkan kepada kami (bersujud kepada-Nya)?" Dan mereka makin jauh lari (dari kebenaran)." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 60)

□ Yang dikatakan dengan "  Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih " maka yang dimaksudkan disini adalah hendaklah kamu semua tunduk dan patuh kepada Allah, yaitu kepada segenap hukum dan ketentuan yang melekat di dalam kodratmu dan dengan apa yang menjadi kodrat dari alam semesta. Hanya dengan kepatuhan dan ketundukan inilah hidup kita nantinya akan bisa selaras dengan gerak hidup dan dinamika kehidupan alam semesta.

E. al Furqan ayat 61

تَبَارَكَ الَّذِى جَعَلَ فِى السَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا

"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang [ untuk menjaga keseimbangan ] dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar [ untuk menjaga kehidupan ]" (QS. Al-Furqan 25: Ayat 61)

□  Penafsiran itu selaras dengan bunyi ayat al Quran berikut ini,

فَقَضَىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَاتٍ فِى يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمْرَهَاۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفْظًاۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ 

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara [ menjaga keseimbangn ]. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui [ Fushshilat 41:12 ]

Semoga tulisan ini bermanfaat.


Kamis, 04 November 2021

Makna Takwil Surat Al - Ikhlas : Perspektif 2

By. Mang Anas

Makna Takwil Surat Al Ikhlas

( ١ )  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ   

Makna dari kalimat   "  قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  "  itu artinya " bukan AKU itu satu, bukan AKU itu Maha Esa, tetapi AKU ini Sendirian ".  

( ٢ )  اللَّهُ الصَّمَدُ 

 " Mencari Aku itu jangan kemana - mana. Carilah Aku ini ke dalam lubuk hatimu sendiri  "

( ٤ ) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  (٣ )  ، وَلَمْ يَكُنْ لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ

" Maka jika engkau sangat menginginkan Aku, dan mengharapkan perjumpaan dengan - Aku, maka buanglah يَلِدْ ،   يُولَدْ ،  يَكُنْ ، dan   كُفُوًا  itu dari hatimu.

Utamakanlah Aku ini diatas dirimu sendiri, diatas kepentingan Keluargamu, diatas harta kekayaanmu, diatas pangkat dan jabatanmu dan diatas apapun juga ".

Biarkan hanya AKU saja satu-satunya  yang bertahta di hatimu, tidak boleh ada yang lainnya lagi. 

Ku beritahukan kepadamu :  Al-Ikhlas ini adalah jalanmu. Yaitu jalan yang akan bisa menghantarmu sampai kepada-Ku.

(QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1 - 4)

----®----

  فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا (١١٠)

 Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya [ Wushul Ilallah ] maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.

(Q.S. Al-Kahf ayat 110)


Indramayu, Desember 2020,


Selasa, 24 Agustus 2021

RAHASIA Surat AL - FATIHA didalam Diri Manusia

By Mang Anas

Seri Pengetahuan ilmu Hakikat,

Rahasia didalam Diri Manusia : 

Hakikat dari surat al - Fatiha adalah Misteri Diri Manusia. Melalui surat al- Fatiha itu Allah Swt meletakkan tiga  buah rahasianya didalam diri manusia, yaitu :

A. Rahasia Asmanya 

B. Rahasia Takdirnya

C. Rahasia Jalan Menuju Diri-Nya



Bagan : Pohon Al Fatiha [ Rahasia Takdir Manusia & Rute Jalan Menuju Tuhan ]

♡ Didalam diri manusia itu Allah Swt meletakkan empat puluh delapan Asma-Nya, yaitu Asma- asma yang dulu pernah diajarkannya kepada Nabi Adam AS.  Dengan empat puluh delapan Asma itulah dahulu nabi Adam AS dibentuk oleh Allah Swt dan sehingga menjadi makhluk-Nya yang paling Sempurna [ Fi Ahsani Takwim ]. Atas dasar itu maka kemudian para Malaikat dan Iblis pun diperintahkan -Nya supaya bersujud dan menghamba kepada Adam. Didalam surat al - Fatiha rahasia Asma-asma itu tersembunyi didalam kalimat "  Al Hamdu lillahi robbil 'alamim".

Pada setiap diri manusia Allah Swt [ Rabb ] juga meletakkan jalan takdirnya, yang tujuannya tidak lain adalah untuk menguji siapa diantara hambanya itu yang dapat memahami dengan benar siapa hakikat dirinya, untuk apa ia ada, apa peran takdir yang dilekatkan kepada dirinya serta bagaimana cara menjalaninya. Didalam surat al Fatiha rahasia Takdir ini tersembunyi didalam kalimat  " Ar Rahman dan Ar Rahim ".

♡ Di dalam diri manusia Allah Swt juga menanamkan sebuah kompas dan peta jalan menuju diri- Nya [ Menuju Maliki Yaumiddin ]. Pada peta jalan itu Allah Swt menjelaskan bahwa jalan menuju dirinya itu hanya bisa ditempuh lewat dua buah rute, yaitu " rute  Na'budu "  dan " rute  Nasta'in ".

Para hamba yang ditempatkan- Nya didalam garis takdir Ar Rahman maka baginya disediakan Rute Na' budu. Siapa saja yang oleh Allah Swt ditempatkan pada rute ini maka untuk bisa sampai kapada- Nya diperlukan kerja ekstra keras [ sebab garis takdirnya telah ditentukan oleh Allah Swt untuk ditempatkan dimaqom kasbi ]. -------> inilah jalan bagi para Syuhada wa Solihin.

Adapun bagi para hamba yang  Allah Swt tempatkan didalam garis takdir Ar Rahim maka baginya disediakan Rute Nasta'in. Siapa saja yang oleh Allah Swt ditempatkan pada rute ini maka jalannya menuju diri-Nya akan dimudahkan karena Allah Swt telah menempatkan hamba-Nya itu pada maqom Tajrid. Terhadap kelompok ini Allah Swt meletakkan sebuah tugas, yaitu menjadi pembimbing atas diri manusia.------> Inilah jalan bagi para Ambiya wal Mursalin serta jalan para Sidiqin [ para Auliya dan guru- guru Mursyid ].

Itulah kedua kelompok orang yang oleh Allah Swt dianugerahi gelar " An'amta Alaihim ".

Kebalikan dari keduanya adalah jalan para hamba yang tersesat serta tidak dapat menemukan jalan pulang, yaitu mereka yang malah memilih jalan Tagut [ jalan Syetan ] yakni kelompok " Al Magdhub dan Ad Dholin ".  Karena mereka saat hidup didunia tidak kunjung dapat memahami siapa dirinya, tidak dapat merumuskan apa tujuan hidupnya, tidak mengetahui diposisi mana dia seharusnya berada, apa peran yang harus diambilnya, serta bagaimana cara menjalaninnya. Pada dasarnya mereka ini adalah kelompok orang orang yang malas merenung serta enggan bertafakur. Orang - orang ini terlalu dalam mencintai kehidupan dunia, mereka telah terperangkap dalam ego dan kubangan hawa nafsunya. 

Demikianlah, dan semoga kita semua dijauhkan oleh Allah Swt dari menjadi orang- orang yang disebut terahir itu. 

Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat membuka wawasan banyak orang terkait selubung rahasia yang terdapat didalam surat al-Fatiha yang selama ini tertutup karena hanya dipahami berdasarkan makna dohirnya.


Rabu, 16 Desember 2020

Tafsir Isyari Menguak Aspek yang Terabaikan


Ikmal Online 29 April 2011

Oleh : Salman Fadllullah, M.A 

           Apresisasi kaum muslimin dari berbagai kalangan  terhadap al-Quran menunjukkan  bahwa al-Quran—baik disadari atau tidak—adalah bagian dari kekuatan kudus. Dr. Syihabudin Qalyubi  menyatakan bahwa banyak orang yang kagum kepada al-Quran, namun mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka kagum atau tertarik. Pesona al-Quran bukan hanya karena faktor dogma teologis tapi juga karena  ada faktor  inheren di dalam teks itu sendiri.Karena itu, Thâhâ Husayn (1889-1973) menyatakan bahwa al-Quran tidak bisa disebut dengan puisi atau prosa. Al-Quran tidak bisa bisa dikategorikan dengan nama apapun. Ia adalah kitab yang sangat sempurna yang datang dari Yang Mahabijak dan Maha memiliki pengetahuan.

Al-Quran adalah kalamullah dan kitabullah sekaligus. Kalamullah artinya  wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw, adapun kitabullah artinya mushaf yang ada di tangan kita ini—yang terjaga keasliannya dari sejak diturunkan hingga sekarang. Al-Quran sebagai kalamullah jika kalam difahami sebagai sifat Allah—maka al-Quran bukanlah makhluk; ia abadi. Namun jika kalamullah difahami sebagai kreasi, perbuatan (af ’al)  Allah yaitu Allah berbicara kepada Rasulullah—maka ia adalah makhluk-Nya, sebab Af ’al tuhan meniscayakan sisi lain yang menjadi penerima wahyu tersebut. Kesalahfahaman dalam menempatkan makna kalamullah ini pernah melahirkan fitnah antara Asy’ari dan Muktazilah. Kelompok Asy’ari menuduh Muktazilah—yang menganggap al-Quran sebagai makhluk—telah kafir.  Sebab dianggap telah merendahkan sifat Allah dan  menyamakannya dengan makhluk.        

Bangunan Islam didirikan di atas ilmu pengetahuan . Ilmu pengetahuan artinya adalah kesadaran spritual dan intelektual  dan maxim dari para pengembannnya. Masalah-masalah yang timbul dari aliran-aliran Islam di era klasik, bisa jadi sumbernya  dari kekacauan cara berpikir dan nalar yang tidak logis dan tidak sistematis; tidak holistik alias  parsialis, atau mengabaikan proses alamiah dan ilmiahnya, atau tidak diuji secara metodologisnya oleh para ahli zamannya,  dan suka menyederhanakan pendekatan atau mengebiri akal sehat, tidak mempertimbangkan opini-opini umum, tidak berusaha menguji validitas tafsirannya dengan tafsiran yang lain, sekaligus mengabaikan standar-standar baku dari pada pakarnya 

Mengkaji tafsir ayat al-quran rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa salah satu mukjizat al-quran adalah petunjuk spiritualnya (hûdan) yang akan membuat takjub siapapun yang mencoba menghampirinya. 

Dari sisi lain al-Quran juga bisa menjadi sumber polemik dari yang lembut hingga yang kasar dan bahkan menjadi justifikasi untuk tindakan-tindakan yang justeru bertentangan  dengan semangat al-Quran sendiri. Tetapi ini bukan kesalahan al-Quran. Menurut Mulla Sadra, manusia lah yang menjadikan teks al-Quran itu cahaya yang menyinari hatinya ataukah ia membelenggu dirinya, menghijab dirinya dari cahaya al-Quran. Karena itu,  tidak semua tafsiran atas al-Quran bisa dibenarkan. Kita harus mendudukan hirarki tafsiran—secara proporsional—dari yang termulia sampai yang terburuk dan terjahat dari al-Quran.

Analisis atas pelbagai kecenderungan  studi al-Quran digagas secara sistematis oleh Ignaz Goldhiher. Dalam magnum opusnya  tentang madzab-mazhab  tafsir. Ia membagi studi tafsir dari era klasik hingga modern menjadi studi al-Quran tradisionalis, studi al-Quran dogmatik, mistik, sektarian dan modern

Al-Quran menurut para arif 

al-Quran secara literal artinya himpunan, kumpulan, koleksi. Sinonim al-Quran adalah al-Furqan yang artinya  memecahmecah, memisah-misah, merinci. Allah swt berfirman : Innâ alaynâ jam’ahu wa quranâhu, faidza qaranâ fattabi quranahu, tsumma alaynâ bayanahu. Sesungguhnya kami yang menghimpun alquran dan pabila kami bacakan al-Quran maka ikuti bacaanya dan sesungguhnya kami yang akan menjelaskannya.

Himpunan itu adalah ilmu ijmali, akal basith,  dan furqan adalah ilmu nafsani yang terperinci. Rasulullah dalam  al-Quran menyatakan :  “utîtu jawâmi’ al-Quran” (aku dikaruniai al-Quran yang sangat lengkap). al-Quran yang ada di tangan kita atau mushaf ini adalah al-Quran sekaligus juga  al-Furqan. al-Quran itu adalah entitas yang sangat agung sebab datang dari Tuhan, kemudian diturunkan pada Muhammad dan kemudian diturunkan lagi kepada yang lebih rendah lagi yaitu umatnya. 

Al-quran sekalipun sesuatu yang sangat tak terkatakan ketinggian martabatnya tapi dipersembahkan apa adanya; dibungkus dengan tirai-tirai material huruf agar bisa difahami oleh makhluknya ini lutf Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Ibarat intan yang mulia yang tidak bisa disentuh oleh tangan-tangan kotor, karena itu dibungkus dengan kain agar siapa saja bisa menggenggamnya dan merasakan nilainya,  Di dalam surat al-Anfal ayat 23, Allah swt berfirman, “Seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, pasti Allah akan membuatnya mereka mau menyimaknya.” 

Maksudnya bahwa menyimak al-Quran menuntut kualitas diri yang mulia, supaya Allah berkenan membukakan pintu hatinya. Jika tidak ada kualitas diri seperti itu, maka Allah tidak akan berkenan membukakan mata hatinya.

Al-Quran itu diselimuti oleh berbagai hijab, ribuan hijab agar bisa dicerna oleh yang lemah akalnya, sebab yang terlalu benderang akan  menyilaukan mata yang lemah, sepertinya halnya kelelawar yang tidak kuat dengan cahaya matahari, karena itu mereka tidak suka berkeliaran di siang hari. Agar si lemah dapat menikmati cahaya al-Quran,  cahaya itu tidak dilemahkan intensitasnya tapi cahaya itu tapi dibungkus dengan ribuan pembungkus (hijab),  al-Quran itu satu hakikat tapi memiliki martabat-martabat dalam penurunnya dan memiliki ragam nama sesuai  ragam lokus.  Al-Quran yang ada di tangan kita adalah Kalamullah dan Kitabullah sekaligus. Sebagai kalamullah ia adalah cahaya maknawiyah. yang diturunkan kepada hati-hati para kekasih-Nya. Al-Quran mengisyaratkan “Walakin ja’anlahu nûran nahdî bihi man nasyâ min ‘ibâdina.  wa bil haqi anzalnâhu wa bilhaqi nazala. Akan tetapi kami jadikan (al-Quran) sebagai cahaya yang dengannnya Kami beri petunjuk siapa saja yang kami hendaki.

Mulla Sadra membedakan antara kalamullah atau wahyu dengan kitabullah. Pertama al-Quran secara hakikat diturunkan kepada Muhammad—wa bil haq anzalnâ,  dan hakikat (al-Quran) kami turunkan (kepada  Muhammad)—ini menegaskan bahwa sesungguhnya dalam tingkatan yang paling tinggi Muhammad telah menerima keseluruhan al-Quran dan sekaligus hakikatnya. Namun dalam tingkatan untuk umatnya beliau harus menyampaikannya  disesuaikan dengan situasi dan kondisi.   

Mulla Shadra mengatakan bahwa Al-quran memiliki derajat-derajat dan manzilah-manzilah seperti layaknya manusia juga memiliki derajat-derajat. Derajat yang paling bawah dari al-Quran adalah seperti derajat yang paling bawah dari manusia. Derajat yang paling bawah dari al-Quran yaitu (nushaf) yang ada di antara dua jilid dan demikian juga derajat yang paling bawah dari manusia adalah apa yang ada di kulitnya. Dan bagi setiap derajat ada para pemikul  (hamalah) yang selalu menjaganya dan mencatatkannya—yang tidak akan disentuh kecuali setelah membersihkan diri dari kotoran (hadats) atau kebaharuan (huduts) atau setelah menyucikan diri dari belenggu-belenggu tempat dan status imkan (possibility states). Manusia yang terbelenggu dengan lahiriyah (literalis) hanya akan  mengapresiasi  kulit teks-teks al Quran. Sementara yang dapat menangkap ruh al-Quran hanyalah ulul albab ( orang-orang yang tercerahkan hati dan pikirannya _penulis). 

Di dalam surat al-Hasyr, Allah Swt berfirman, “Seandainya al Quran itu kami turunkan di atas gunung maka gunung itu akan hancur karena takut kepada Allah swt.” Ayat seperti ini tidak mendapatkan refleksi yang mendalam dari sebagian kalangan kaum muslimin. Sebagian orang hanya mengukur kemuliaan, kehormawan dari penampilan-penampilan lahiriyah dengan tanpa memperhatikan kualitas-kualitas batinnya. Cara pandang seperti itu telah menjerumuskan seseorang pada  pandangan dunia positifisme yang menjadi kaki tangan materialisme.

Mengkaji tafsir ayat al-Quran, rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa al-Quran adalah mukjizat abadi dan terbesar dari mukjizatmukjizat yang lain. Salah satu mukjizat itu adalah kekuatan petunjuk spiritualnya (hûdan).

Setiap orang membutuhkan petunjuk al-Quran,  namun jarang sekali yang berjalan melalui proses yang alamiah dan ilmiah. al-Quran mengatakan hal yastawiladzina ya’lamu walladzian la ya’lamuna? Apakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?  Di sini perlu mendapatkan perhatian penuh bahwa memilih  jenis tafsir bukanlah karena suka atau tidak suka yang kadang-kadang membelenggu seorang penafsir atau orang  yang belajar tentang tafsir—tapi harus karena cahaya ilmu. 

Memilih tafsir isyari bukanlah karena pergeseran paradima dari literalis (zahiri) menjadi esoteris (maknawi) atau dari esoteris menjadi tafsiran eksoteris dan esoteris (tafsir zahir wal batin) namun lantaran ilmu. Bahwa dalam islam pengetahuan tidak hanya terbatas pada yang lahiriyah namun juga batiniyah , intuitif, mental, cognitif, dan lebih jauh lagi adalah kasyaf. Pengetahuan tidak hanya didapat lewat penyimpulan nalar tapi juga lewat pengalaman dan juga lewat pembersihan diri (tazkiyatun nafs). Seperti yang dicontohkan oleh Imam Shadiq as yang dilukiskan oleh Imam Malik bahwa imam Shadiq selalu dalam tiga kondisi ; sedang menunaikan salat, sedang berpuasa, atau sedang membaca al-Quran, dan tidak pernah menyebutkan nama Rasulullah tanpa dalam keadaan berwudu.

Keistimewaan Tafsir Isyârî 

Kehidupan ini sangat ditentukan oleh apa yang tidak tampak, yaitu perasaan, emosi, iman, sesuatu yang sangat tidak tersentuh oleh indrawi, dan sesuatu yang tidak bisa dilacak oleh alat-alat fisik. Yang sangat halus dan lembut justeru memiliki efek yang sangat dahsyat. Adalah sangat mustahil al-Quran tidak menghargai pengetahuan-pengetahuan batin yang diperoleh oleh seseorang yang selama hidupnya beribadah dengan  ikhlas kepada Allah swt. Pengetahuan yang bersifat batin, ilhami, intuitif, contemplatif memiliki tingkatan-tingkatan antara satu dengan yang lain, Jika al-Quran hanya sekedar himpunan kata-kata yang kering dan tidak mengandung makna-makna batin maka tidak mungkin melahirkan inspirasi-inspirasi spiritual. Sayid Qutub  misalnya sekalipun dikenal sebagai pembela  kelompok literalis—pernah mengatakan bahwa kebahagiaan spiritual  dan ilham sebagai sesuatu yang sangat menentukan bagi kehidupan bagi setiap orang.

Menurut saya pandangan yang parsial tentang al-Quran itu beranjak dari sikap yang tidak adil terhadap ayat-ayat lain. Mereka tidak memiliki pengetahuan atau tidak membaca ayat-ayat lain yang secara diametrikal berbeda  dan yang ketiga ini adalah penyakitnya para ulama yaitu kurang analisa yang tajam;  sesuatu sikap yang tidak terpuji. Al-quran mengatakan bahwa hanya orang-orang yang serius, giat  mengasah pikikran dan menganalisa dengan tajam yang akan memperoleh wawasan yang maksimal (insight).Dengan demikian  perintah untuk tafakur dan berpikir bukanlah sekedar berpikir saja tapi memang benar-benar berpikir dan mengerahkan seluruh waktu, tenaga dan analisa dengan data-data yang lebih lengkap untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih matang. 

Tafsir isyari memberikan makna yang dalam atau hakikat dari setiap simbol. Dalam ayat terakhir surah al-Fatihah, misalnya kita diingatkan bahwa kata maghdubi ‘alayhim yang biasanya untuk menunjukkan kelompok Yahudi dan Nasrani—ternyata juga bisa menampar wajah orang-orang muslim. Ibnu Arabi dalam tafsirnya mengatakan yang bahwa yang dimaksud dengan kata maghdubi alayhim  adalah mereka yang terhijab oleh hijab materi, hijab inderawi (hijab jasmani)  dan hijab dzawq hissi sehingga tidak bisa merasakan karunia kalbu, karunia akal. Dan itu mirip dengan orang-orang Yahudi sebab justifikasi mereka tentang hal-hal yang eksoteris. Dengan demikian, jika orang-orang muslim juga terbelenggu oleh materi, jasmani dan sensual (hissi)  sehingga sulit mendapatkan karunia-karunia spiritual, mereka juga adalah bukti konkret (misdhaq) dari frase ayat  maghdûbi alayhim. 

Dengan bantuan tafsir-tafsir esoteris, bisa diakses makna-makna yang lebih mendalam, komprehensif—yang sering hilang dalam tafsiran-tafsiran teologis dan jurisprudensi atau sektarian, apalagi tafsiran politis fundamentalis. Tafsir isyari juga adalah bentuk apresiasi atas amal atas akhlak sebab makna-makna itu ditemukan oleh orang-orang suci dan yang ingin membersihkan dirinya. Dengan kata lain, lewat tafsir isyari, kita menemukan epistemologi tak terbatas dari pengalaman keberagamaan (religious experience) yang sangat tak terbatas. Dan untuk menyerap Yang Tak terbatas, tentu memerlukan tafsiran-tafsiran yang tak membatasi potensi manusia dalam dimensi tertentu. 

Dari sisi lain, terlalu melompat pada tafsiran isyari juga kadang-kadang jika belum waktunya yang pas, dikhawatirkan akan kurang mengapresisi kekayaan tafsir-tafsir yang lain seperti :  tafsir bil matsûr, tafsir lughawi, dan tafsir-tafsir lain. Lebihlebih dengan tafsiran isyari kadang-kadang terasa hilang dimensi historis, ruang, waktu, konteks dan teks. Saat kita membaca surah Yusuf misalnya  kita bisa menghirup dimensi korporeal; sejarah, perjuangan dan penderitaan seorang anak muda yang dizalimi,dan difitnah, Demikian juga dengan sejarah dakwah Nabiyullah Musa as, kita bisa merasakan degup keberanian dalam melawan tiran yang sangat bengis di zamanya. 

Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa setiap orang lebih suka dengan pilihan-pilihannya sendiri, Sebagian orang  lebih senang memilih ayat-ayat yang sesuai dengan selera hati dan pikiran mereka sambil mengabaikan ayat-ayat lain. Mulla Sadra menyatakan  bahwa ketika pendapat telah menjadi keyakinan akhirnya akan terbelenggu dengan pendapatnya dan jika pendapatnya kesesatan maka akan keyakinannya menjadi kegelapan yang nyata. 

Aktifitas membaca atau menafsirkan al-quran adalah penyatuan antara wujud yang lemah dengan Sang Wujud Yang Maha Mulia. Jadi secara ontologis tafsir adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas wujud, sebab kuantias dan kualitas ilmu akan meningkatan intensitas wujud. Seperti yang disinggung di atas, bahwa secara epistemologis tafsir isyari adalah suatu bentuk apresiasi atas pencarian ilmu lewat penyucian diri. Salah satu upaya penyucian diri adalah dengan melawan dorongan-dorongan rendah dari jiwa, yaitu nafsu.  dalam hadis dikatakan : “Sesungguhnya Allah swt mencintai sang pemberani, yaitu yang berani membunuh hayat (ular) dan tidak ada hayat (ular) yang lebih mengerikan dari nafsumu; taklukanlah dan selamatkan dirimu dari racunnya yaitu akidah yang batil, pendapat yang kotor, dan pengaruh-pengaruhnya.”

Tafsir Isyâri (tafsir esoteris) Ibnu Arabi dan Mulla Sadra

Menghadirkan gagasan Ibnu Arabi dan Mulla Sadra dalam konteks ayat-ayat al-Quran merupakan kajian baru dan menarik karena sementara ini, tafsir esoteris keduanya  masih jarang diapresiasi. Sebagian besar apreasisi para peneliti masih sering dipusatkan pada studi-studi doktrin-doktrin metafisik atau teologi. Padahal jika dilihat dari kualitas dan kuantitas, tafsir mereka berdua didasarkan pada sebuah teori yang utuh dan kuat dan memiliki basis dari sumber-sumber ajaran Islam. Yang kedua juga dari kekayaan literatur dan kemudahan mendapatkan kitab-kitab mereka. Mulla Sadra misalnya, memiliki kajian tersendiri dalam kitab sepert "  Tafsīr al Qur'ān al- Karīm "  yang  menjadi pengantar untuk memahami sisi batin al-Quran dan irfannya, demikian juga dengan delapan jilid tafsir filosofis dan irfannya dan beberapa kitab kecil tentang rahasia ayat-ayat dan kritikan untuk pseudo-sufism. Sementara Ibn  Arabi sendiri memiliki kitab-kitab yang dipenuhi dengan tafsir-tafsir alQuran, Kitab Futuhat al-Makiyyah misalnya sebetulnya adalah sebuah kitab tentang tafsir al-Quran dan kitab-kitab lain yang terselamatkan.    

Tafsir Mulla Sadra adalah perpanjangan dari filsafat hikmah muta’aliyahnya, demikian juga tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu Arabi  adalah wadah bagi teori-teori utamanya. Menurut Dr. Sulayman Atasy, puncak zaman keemasan tafsir isyari terjadi di era Ibnu Arabi,banyak para penafsir besar lahir dari haribaan pengaruh ibnu Arabi seperti Kâsyânî, Simnânî dan setelah itu tafsir  isyari  kehilangan orisinalitasnya. Tasawuf setelah itu kembali lagi sibuk hanya seputar salat dan wirid-wirid, hikmah filosofisnya semakin menyusut. 

Tapi sebelum itu ada beberapa pembahasan yang akan kita lalui pertama  pengetahuan kasyaf secara epistemologis dan kedua alQuran di mata kaum arif.  

Ayat-ayat al-Quran tentang pengetahuan batin (ladunî, irfan, tashawuf, mistikism) 

Allah swt berfirman  wa man yutal hikmah faqad ûtiya khayran katsîran (sesiapa yang dikarunia hikmah sesungguhnya telah dikaruniai kebaikan yang sangat melimpah).  Ayat ini dengan tegas menunjukan bahwa Al-quran memberikan nilai yang positif kepada ilmu-ilmu yang tidak tersirat di dalam al-Quran seperti hikmah atau dalam bahasa sekarang falsafah.  Atau ayat yang memberikan pujian kepada ûlul albâb:  alladzina yadzkurûnallah qiyâman wa quû’dan  wa ‘a’lâ junûbihim wayatafakarûna fikhalqi samâwâti wal ardhi. Ayat yang sangat populer ini mengajak orang-orang islam untuk melakukan refleksi dan mengambil hikmah dari apa saja dan bukan hanya teks-teks yang tersurat. Termasuk diantaranya  menurut saya adalah merenungkan kata-kata dari para kekasihkekasih Allah (wali-wali Allah) 

wa fil ardhi ayâtun lil muqinîna wa fi anfusikum afalâ tubshirûn.  (Di bumi  terdapat ayat-ayat untuk orang-orang yang memiliki keyakinan dan apakah mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri). Menurut ayat ini, orang-orang yang memiki iman yang sangat kuat memiliki kemampuan untuk mendapatkan tandatanda kebenaran di dunia ini. Artinya dengan kualitas seperti itu akan meraih ilmu dari alam semesta ini. Keyakinan dan kekuatan imanlah yang ikut mencerdaskan mereka. Setelah itu Allah swt juga menyuruh manusia untuk melakukan perenungan atas diri mereka sendiri. Artinya di dalam jiwa,  ada pengetahuan yang diraih. Ilmu pengetahuan tidak hanya dicapai dari luar tetapi juga bisa diraih dari dalam diri. Jiwa mengandung sesuatu yang luarbiasa. Melihat ke dalam adalah jalan pengetahuan yang paling awal dan sekaligus juga paling meyakinkan. Ayat lain mengatakan, Kami akan memperlihatkan ayat-ayat kami di afaq dan di dalam diri-diri kalian sehingga jelaskan kebenaran bagi kalian. Ayat ini dengan tegas sekali menunjukan bahwa kebenaran itu bisa ditemukan di dalam pengalaman kesucian (spiritual experience). 

Hadis-Hadis tentang pengetahuan batin

Disini saya sengaja tidak membeda-bedakan hadis sunni atau hadis syiah.  Saya lebih suka melihat bahwa syiah adalah sisi yang tak terlihat atau yang hilang dari mazhab Sunni  dan Sunni adalah sisi yang terabaikan dari mahab Syiah. Keduanya sekalipun memiliki perbedaan tapi merupakan kesatuan dari perspektif yang berbeda. Perbedaan itu tergantung sudut pandang yang melihatnya. Apapun bisa menjadi beda untuk sesuatu yang sebetulnya sama, jika yang dilihat adalah aspek perbedaannya. Sebagian orang yang suka melihat perbedaan dan tidak bisa melihat kesatuan tentu akan mengabaikan banyaknya kesamaan dari dua mazhab besar ini.

 1. Imam Shadiq as berkata, “Al-Quran itu memiliki aspek lahiriyah dan memiliki aspek batin. Aspek lahirnya mengandung hukum tertentu dan aspek batinnya juga mengandung hukum tertentu. Ilmu pengetahuan tentang aspek lahiriyah sangat elok sementara pengetahuan tentang aspek batinnya sangat mendalam.”

2. Rasululullah saw berkata, “Kiblatku antara masyriq dan magrib.”  hadis ini menurut Sayid Haidar Amuli menjadi dalil bahwa Rasulullah menguasai semua level. Sebab yang dimaksud dengan masyriq adalah  kiblat nabi Isa as dan magrib adalah kiblat nabi Musa as. dan ini adalah level yang paling agung sebab menghimpuan esoterik dan eksoterik. dan ini sesuai dengan ayat :  wa ja’alnâ kum ummatan wasathan litakûnû syuhadâ ‘ala nas (aku jadikan kalian  sebagai umat washatan (umat yang menggabungkan antara eksoterik dan esoterik)

3. Ali bin Abi Thalib as berkata, -Asy-syari’atu nahrun,wal haqîqat bahrun, wa al-fuqahâ hawla nahrun yathûfûna wal hukamâ fil bahri yaghûshûna (Syariat itu adalah sungai dan haqiqat itu samudera. Para fukaha berdiri di tepi sungai sementara para ahli hikmah berenang di dalam samudera.’Aku adalah al-Quran yang berbicara dan aku adalah al-quran yang lengkap karena menghimpun dua maqam yaitu lahir dan batin.

4. Abu  Hurairah meriwayatkan bahwa Rasululah saw berkata, “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis   dan kalian akan keluar ke tempat-tempat yang ‘sepi’ (- teks asli arabnya -lakharajtum ilâ shu’udât) dan tidak akan bisa tidur dengan tenang.” Hadis ini dimuat di kitab shahih Bukhari, Muslim dan juga Nasâi tetapi hanya sampai redaksi kalian akan sering menangis. Menurut hadis ini bahwa ada hal-hal yang tidak diketahui oleh para sahabat dan hanya diketahui oleh Rasululah saja; sesuatu yang sangat menggugah  emosi dan spiritual—tentunya adalah seuatu yang sangat agung dan tinggi dan itu adalah pengetahuan tentang hakikat dari segala hakikat.

5. Masih dari Abu  Hurairah  (inna min al-‘ilmi ka hayati maknûn lâ ya’lamu ha illâ  al’ulamâu billah fa idzâ nathaqû bih lâ yunkiruhu illâ ahlu ghurrati billah aaza wajalla), dikatakan “Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang seperti permata tersembunyi di dalam tiram, yang hanya diketahui oleh para ulama lillah dan tidak akan mengingkari pengetahuan itu kecuali orang-orang tertipu di hadapan Allah swt.” Pengarang Qut al-Qulûb mentakhrij hadis dari Ibnu Mas’ûd yang menyatakan, “ Sesungguhnya al-Quran itu  memiliki makna lahir dan memiliki makna batin, memiliki had dan mathla”.

6. Abu Nua’im dalam kitab Hilyatul Awliyâ menukil hadis dari Ibn Mas’ud,  “Sesungguhnya al-Quran itu  diturunkan dengan tujuh huruf dan setiap huruf itu mengandung makna lahir dan makna batin dan sesungguhnya Ali bin  Abi Thalib menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.” 

7. Di dalam surat al-An’am, “Allah swt menjelaskan bahwa mereka yang akan menerima islam adalah orang-orang yang memiliki hati yang lapang (syarh shadr). Rasulullah ditanya, bagaimana seseorang bisa memiliki hati yang lapang (syarh shadr)? Rasululah menjawab, “Ada cahaya yang menyinari dadanya sehingga menjadi luas dan lapang.”

8. Dalam Kitab Bukhari, bab ilmu, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia pernah berkata, “Aku mengingat hadis-hadis dari  Rasulullah sebanyak dua wadah besar. Satu wadah  aku sampaikan dan satu wadah lagi kalau aku sampaikan maka tenggorakanku pasti dipotong.”

Namun  kita juga jangan tergesa-gesa menyimpulkan mereka yang menolak tafsir isyari tidak merujuk pada al-quran. Tampaknya pendapat apapun  di dalam Islam, dari yang ilmiah, dan tidak ilmiah, dari yang ekstrim atau yang moderat tidak pernah tidak meninggalkan al-Quran sebagai dasar rujukannnya. AlQuran mengatakan Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syâkilah) masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS al-Isra : 82-84). Fakhrurazi menafsirkan ayat di atas demikian : 

al-Quran dapat mendatangkan rahmat dan kesembuhan bagi sebagian orang, tetapi pada saat yang sama juga mendatangkan bencana, kerugian dan kehinaan bagi yang lain. Ayat seterusnya juga menegaskan bahwa setiap orang beramal sesuai dengan syâkilah (tabiat)-nya.  Maksudnya  al-Quran akan mendatangkan pengaruh yang baik seperti  pengetahuan dan kesempurnaan bagi mereka yang membersihkan dirinya tapi sebaliknya akan mendatangkan pengaruh  yang buruk, menghinakan bagi orang-orang yang memiliki jiwa yang kotor. Seumpama sinar matahari  matahari  yang sinarnya memiliki efek yang berbeda pada benda-benda yang berbeda-beda. Sinar matahari dapat membekukan garam, tapi juga bisa mencairkan minyak. Sinar itu juga bisa menghitamkan wajah tapi juga dapat memutihkan kain cucian. Artinya ini menunjukan variasi species jiwa. Ada  species jiwa yang cemerlang sekali sehingga layak menerima cahaya al-Quran, tapi ada juga species jiwa yang sangat gelap dan kotor sekali yang menjadikan al-quran sebagai sumber kesesatan. 

Kelompok yang menolak jenis tafsir isyari mengatakan bahwa yang memiliki otoritas menjelaskan ayat-ayat hanyalah Rasulullah dan para sahabatnya yang mendapatkan ilmu dari Rasulullah. Mereka berdalih, misalnya dengan surah an-Nahl ayat 44, Allah swt berfirman Kami turunkan padamu  ad-zikra (al-quran) untuk engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah kami turunkan padamu agar mereka berpikir).Jadi menurut mereka, Islam ini telah sempurna, semua hal yang fundamental telah dijelaskan oleh Rasulullah  mengapa harus merujuk pada klaim-klaim Ibn Arabi, dsb? Tapi ini dibantah oleh sebuah hadis. Siti Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan seluruh ayat al-quran dari awal hingga akhir ayat. Aisyah mengatakan  Rasulullah tidak menafsirkan al-Quran kecuali yang diajarkan oleh Jibril kepadanya.


Contoh-contoh tafsir Isyari  

Imam Shadiq as pernah berkata, “Tidak ada satu pun masalah yang diperselisihkan dua orang kecuali pasti ada jawabannya di dalam al-Quran, hanya saja tidak semua orang bisa menggalinya. Imam Shadiq as menyatakan Allah bertajali kepada hamba-hambaNya lewat kalam-Nya tapi tidak terlihat.

1. Wahai orang-orang yang beriman penuhi janji kalian!. Menurut Ibn Arabi yang dimaksud dengan orang yang beriman, yaitu yang memiliki iman ilmi, sementara yang dimaksud memenuhi janji (awfu bil-‘uqud) yaitu janji ketegasan kalian di dalam suluk. Perbedaan antara ‘ahd dan ‘aqd, ‘ahd adalah mengesakan tuhan semenjak azali (tauhid fi al-‘ajal), sementara ‘aqd yaitu membulatkan tekad untuk menuju tuhan (suluk). 

2. Wa lâ tuhillu sya’arillah,  menurut Ibn Arabi maksudnya janganlah kalian lepaskan maqam-maqam dan ahwal-ahwal di dalam suluk seperti sabar, syukur, tawakal, ridha dsb. 

3. Janganlah kalian terpukau dengan aktifitas orang-orang kafir. Orang kafir di sini sebagai insan yang terhijab dari tauhid;  yaitu din al-haq dalam (urusan) maqamat dan ahwal.

4. Washiti memiliki pandangan bahwa kematian sejati itu pasti diinginkan oleh jiwa. Ia menafsirkan ayat maka,  bertaubatlah kepada tuhan kalian dan bunuhlah diri-diri kalian! (Qs al-Baqarah: 54). Taubat umat ini (umat Islam) lebih berat dari taubat bani Israil. Taubat bani Israil dengan cara membunuh jiwa-jiwa mereka sementara umat islam harus membunuh hakikatnya dan bukan hanya jiwanya.    

Sekalipun hadis-hadis itu menegaskan bahwa untuk setiap ayat ada makna batinnya disamping makna-makna  lahiriyah. Yang dimaksud dengan makna-makna lahiriyah adalah maknamakna yang difahami dari lafaz-lafaz ayat itu—tentu saja dengan bantuan analisis bahasa— atau juga makna-makna yang difahami lewat bantuan riwayat, sejarah —sementara yang dimaksud maknamakna batiniyah atau takwil—seperti yang telah disinggung di atas—adalah makna-makna yang dicerap oleh seorang arif atau makna yang dijelaskan oleh Rasulullah, para imam atau wali-wali yang suci di luar makna yang umum. 

Namun kemudian kita juga melihat bahwa di dalam tafsir-tafsir irfan tidak semua ayat itu ditafsirkan. Sebagian besar ayat-ayat yang dijelaskan makna-makna lahiriyahnya adalah ayat-ayat tertentu saja— dan teruma jenis ayat-ayat yang memang mengandung kiasan-kiasan, atau simbol-simbol seperti cahaya, pohon yang baik (syajarah thayyibah), ceruk, misykat, dan sebagainya.

Disini kita bisa melihat misalnya gambaran tentang surga yang menawarkan  kebahagian-kebahagiaan fisik seperti kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai  (jannâtin tajrî min tahtihâ al-anhâr). Teks ayat ini menurut para arif hanyalah simbol untuk menarik hati orang-orang yang masih terhijab dalam fantasi fisik—sementara kebahagiaan yang sejati  adalah memiliki karakter spiritual— dalam hadis ditegaskan bahwa tidak ada kebahagiaan yang mengatasi kebahagiaan melihat  Allah Swt. 

Tafsiran-tafsiran  isyari itu menjadikan ayat-ayat hanyalah sebagai simbol (sandi) atau code kepada makna yang lebih dalam lagi. Misalnya ayat yang berbicara tentang pohon yang baik (syajarah thayyibah)—yang menurut ayat al-Quran akarnya menghunjam kuat ke dalam tanah (ashluha tsâbitun) dan rantingnya atau dahannya menjulang ke langit (far’uha fi as-samâ) yang memberikan buah-buah setiap saat (tuti ukulha kulla hîn)— Syaikh Jafar Subhani mewakili kaum theolog menafsirkan pohon yang baik dengan  keyakinan yang benar (aqidah shahihah), yang ciri-cirinya, keyakinan itu harus kuat menghunjam di dalam dada, namun juga keyakinan itu mendorongnya untuk selalu taqarrub kepada Allah dan di saat yang sama juga memberikan keberkatan kepada manusia yang lain. Ayat yang sama di atas, dimaknai untuk menunjukan keutamaan ahlubait nabi. Yang dimaksud dengan pohon, akar dan cabang adalah personifikasi dari manusia-manusia suci (ma’shum). Kedua tafsir itu tentu saja tidak bertentangan. Diktum mengatakan tafsir esoteris tidak boleh bertentangan dengan tafsir esoterik. Yang satu berbicara tentang tafsir dan yang kedua berbicara tentang takwil. 

Di dalam kitab-kitab tafsir syiah kita menemukan banyak sekali tafsiran atau takwil ayat-ayat itu untuk menunjukan keistimewaan imam-imam seperti di dalam ayat ‘amma yatasalun yang ditakwilkan untuk menunjukan pengangkatan imam Ali as menjadi  washy.  

5. Di dalam surah Saba, ayat 46 dikatakan, Qul innama ‘aiduum biwahidaitn an taqûmû lillah (katakanlah aku hanya menasehatimu dengan satu hal yaitu bangkitlah untuk Allah). Menurut penyusun Kitab Anîsul ‘Ârifîn—  yaitu kitab yang berisikan komentar Abd Razaq Kasyani atas kitab Manazil Sairin li-Khaja Abdulllah Anshârî—yang dimaksud dengan bangkit untuk Allah (awakening) adalah bangkit (awakening) dari tidur kelalaian ghaflah atau  dari perangkap kevakuman (wartah fatrah). Kebangkitan menuju Allah dalam terma sufi adalah yaqzah, Yaqzah merupakan maqam awal yang harus dimasuki oleh para salik yang ingin menuju Allah. Ayat ini menjadi memiliki makna yang agung dibandingkan  dengan tafsiran eksoterik yang biasa-biasa saja yang diberikan oleh tafsirtafsir kaum teolog. 

Salah satu hikmah dari makna-makna batin memang mengangkat  ayat-ayat makna-makna lahiriyah—ayat-ayat yang hanya bisa difahami oleh mereka yang terhijab hati mereka dari cahaya hakikat kasyaf—untuk mereka yang terbelenggu dengan kulit-kulit (literal) ayat-ayat al-Quran. 

Salah satu keindahan dari metoda tafsir isyari adalah penjelasan bahwa ayat-ayat itu selalu menyingkapkan sifat-sifat dan af ’al Ilahi. Jadi para arif selalu mencari kreasi dan sifat-sifat tuhan dari ayat ayat itu sementara kaum literalis hanya mencari nomos (hukum)nya.   Pemahaman atas hukum tanpa menghubungkan dengan sifat dan af ’al Ilahi mungkin akan menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap. Sebenarnya sebagian para mufasir juga sudah menyebutkan tentang rahasia penyebutan sifat-sifat tuhan di setiap akhir ayat. Sifat-sifat tuhan itu menjadi clue atas makna yang sebenarnya dari ayat itu. 

Dengan demikian, ayat-ayat yang diakhiri dengan menyebutkan sifat-sifat Jamaliyah Tuhan, seperti Yang maha pengasih, Yang maha penyayang, atau maha santun (raûf) biasanya ayat-ayat  itu berbicara tentang hal-hal yang positif, dan jika diakhiri dengan sifat-sifat Jalaliyah-Nya, maka ayat itu berbicara tentang suatu dampratan untuk kaum atau untuk perbuatan tertentu. 

Sisi lain dari tafsir Isyari adalah kekayaan maknanya. Seorang arif mengatakan bahwa setiap huruf mengandung ribuan makna bahkan sampai enam puluh ribu makna. Bagi seorang arif, kata-kata, konsep adalah simbol dari sebuah makna yang ingin disampaikan oleh Zat Yang Maha Agung. Allah menggunakan bahasa sebab itu adalah media yang paling komunikatif bagi manusia. Tamtsil, metaforis, alegoris, semua itu adalah bahasa simbol. Kita belum bisa mengetahui apakah kecenderungan itu karena pesona ayat-ayat itu yang memiliki magnitude yang lebih dahsyat dari ayat-ayat lain ataukah karena kekayaan makna-makna ayat itu yang bisa mewadahi seluruh perspektif esoterik, ataukah kecenderungan para mufasir esoterik yang hanya memilih ayat-ayat tertentu saja.   

Semoga bermanfaat. 


Indramayu, 17 Desember 2020

Kamis, 26 November 2020

Tafsir Isyari Surat Ad - Dukhan Ayat 1 sd 8

By Mang Anas

Tafsir Isyari :

------  ☆☆☆  --------

 QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 1

حمٓ

"Ha Mim"

Huruf  “ ح “  memiliki makna  حمد atau Muhammad, pada ayat ini  huruf  ح   menjadi huruf pertama dari kata   حم dan juga menjadi huruf pertama dari kata   حمد

Adapun huruf  " م " merupakan kepanjangan dari kata  علم , yakni pengetahuan wahyu yang berupa Al Quran , disini huruf  م  merupakan huruf terahir dari kata  حم  dan juga menjadi  huruf terahir dari kata  علم .

Pemaknaan huruf  م  sebagai  علم  yang maksudnya adalah Al Qur’an itu penjelasannya kita dapati pada Surat Ar – Rahman berikut ini, 

(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 1)

الرَّحْمٰنُ

"(Allah) Yang Maha Pengasih,"

(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 2)

عَلَّمَ الْقُرْءَانَ

"Yang telah mengajarkan Al-Qur'an."

Jadi bila penjalasan diatas  kita runtut maka kata  حم    itu memiliki pengertian, Sungguh Muhammad itu adalah seorang utusan yang kepadanya Allah telah mengajarkan ilmu dan hikmah berupa Al Qur’an yang diwahyukan, yang diturunkan pada suatu malam yang diberkahi untuk memberikan peringatan kepada umat manusia.

Dengan demikian maka seluruh kandungan makna mulai dari  ayat 2 sampai dengan ayat 7 itu dapat diringkas dalam dua huruf saja yakni  huruf    ح  dan  م  

Itulah rahasia huruf  ح   dan  م    pada kata  حم    pada ayat pertama dari surat ini ( Surat Ad – Dukhan ), dan itulah rahasia maknanya termasuk rahasia peletakan huruf – hurufnya, kenapa huruf  ح  diletakan didepan sementara huruf   م  diletakan dibelakang.

Tentu saja penggunaan kombinasi huruf – huruf ini beserta peletakanya mengandung rahasia, dan penjelasan diatas  kiranya hanya mewakili sebagian dari sekian banyak penjelasan yang terkait dengan pemecahan rahasia kode – kode huruf  yang banyak terdapat dalam Al Qur’an. 

------- ☆☆☆ --------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 2 

وَالْكِتٰبِ الْمُبِينِ

"Demi Kitab (Al-Qur'an) yang jelas,"

♤ Kata " jelas " disini mengandung substasi makna Petunjuk, yakni hakekat Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia sebagaimana firman Allah dalam surat al - Baqarah : 185, 

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ 

" Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). "

Dengan adanya bimbingan wahyu yang menjadi petunjuk ini maka manusia akan dapat mengenali jalannya, yakni menemukan jalan pulangnya menuju Allah. Ia tidak tersesatkan oleh nafsu dan tidak pula akan jatuh dalam prangkap iblis yang akan membuatnya gagal untuk kembali sehingga tidak bisa menyatukan dirinya dengan Allah sebagaimana firmannya, 

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمُسْتَقَرُّ

" Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali. " ( Al-Quran 75:12 )


------ ☆☆☆ -----------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 3 

إِنَّآ أَنْزَلْنٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ  ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan."

♤ Penggunaan kata kami disini  mengandung pengertian bahwa Allah Swt menurunkan Al Qur’an itu tidak secara langsung melainkan melalui perantara Jibril sebagaimana Firmannya, 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَآئِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِىَ بِإِذْنِهِۦ مَا يَشَآءُ  ۚ إِنَّهُۥ عَلِىٌّ حَكِيمٌ

"Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana." ( QS. Asy-Syura 42: Ayat 51 )

وَكَذٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا  ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِى مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْإِيمٰنُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا  ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلٰى صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur'an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus," (QS. Asy-Syura 42: Ayat 52)

Dan selanjutnya  melalui lisan Rasulallah lah Allah Swt memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Adapun kata " malam " pada ayat itu bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang ada dibalik dada, yang maksudnya adalah dasar hati yang paling dalam, paling rahasia dan yang paling sulit dijajagi, sebagaimana para penyair sering menggunakan kata malam sebagai kiasan untuk sesuatu yang tidak nampak atau untuk menggambarkan sesuatu obyek yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat. Sehingga pemaknaan ayat itu bisa juga diartikan : 

" sesungguhnya Kami menurunkan wahyu al Qur'an itu kedalam dadanya, yang telah kami berkahi ".


----- ☆☆☆ --------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 4 

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

"Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh Hikmah,"

♤ Wahyu itu berikut penjelasannya sejatinya merupakan suatu pengajaran yang isi kandungannya sangatlah luas, sangat dasyat dan sangat dalam. Suatu pengetahuan yang tidak mungkin bisa ditampung oleh dada manusia biasa. Oleh karenanya maka pada malam yang penuh barokah itu Allah pun berkenan membukakan dada rasulallah SAW dan meluaskannya hingga melebihi luasnya langit dan bumi, sebab keagungan ilmu dan hikmah dari al - qur'an itu tidak mungkin bisa ditampungkan kedalam dada manusia, kecuali jika dada manusia itu luasnya telah melebihi langit dan bumi. Inilah makna rahasia dibalik penggunaan kalimat " penuh hikmah " pada ayat diatas. Setelah itu maka Allah pun kemudian memerintahkan Jibril untuk menjelaskan pengajaran hikmah itu setelah Jibril sebelumnya dibekali dengan Ilmu - Nya, sehingga rasulallah SAW pun ahirnya dapat memahaminya, sebagaimana firmannya dalam Surat Al - Qiyaamah 75 : ayat 16 - 19.

لَا تُحَرِّكْ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ

" Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. " ( Al-Quran 75:16 )

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ

" Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya." ( Al-Quran 75:17 )


فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

" Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." ( Al-Quran 75:18 )

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ

" Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. "  ( Al-Quran 75:19 )

Yaitu berupa segala penjelasan yang menyangkut , 

-------- ☆☆☆ ---------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 5 

أَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَآ  ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

" urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus Rasul-rasul,"

♤ Kata " urusan dari kami " disini mengandung pengertian yang sangat penting dan serius, yaitu sehubungan amanat agung yang dulu pernah diberikan Allah Swt kepada manusia, yakni penugasannya sebagai khalifah dimuka bumi, padahal sebagaimana dikatakan oleh Allah Swt sendiri bahwa kondisi manusia itu sebenarnya " sungguh amat zalim dan amat bodoh, "  hal itu disinggung dalam firmannya dalam surat Al - Ahzaab 33 ayat 72 berikut ini, 

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

" Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, "

Oleh karenanya maka Allah pun kemudian  
secara silih berganti mengutus rasul rasulnya untuk memberikan pengajaran dan agar menjadi pendamping dan pembimbing bagi manusia, supaya manusia dari waktu ke waktu serta dari generasi ke genarasi senantiasa dapat meningkatkan kapasitas dirinya, baik dalam bentuk keimanan, kapasitas moral, penguasaan ilmu pengetahuan, peradaban, kepemimpinan dan kapasitas kemanusiaanya. Sehingga upayanya untuk mengatur, menjaga dan memakmurkan bumi ini dapat berjalan sebagaimana mestinya serta bersesuaian dengan kehendak Allah Swt.

♤ Dan pasca wafatnya Rasulallah SAW selaku penutup para nabi ( khotamul ambiyin ) maka kehadiran para pembimbing pun pasti akan terus berlanjut, hanya saja kali ini kapasitasnya bukan lagi sebagai seorang nabi dan rasul akan tetapi sebagai pewaris.  Dan kepada para pewaris itu nantinya Allah akan menganugerahkan ilmunya, yakni ilmu yang diberkahi berupa pengajaran huruf   حم  ini, mereka inilah orang - orang yang nantinya akan dipilih oleh Allah Swt untuk dianugerahi ilmu yang diilhamkan, yaitu berupa pengetahuan yang suci dan mendalam guna menafsirkan kembali substansi konteks dari ayat - ayat suci. Mereka itulah sejatinya para pewaris, yakni pewaris ilmu dari para nabi. Melalui merekalah nantinya penjabaran substansi makna, roh dan maksud dari kandungan ayat ayat suci al Quran ini akan terus menerus dikembangkan sesuai dengan pergesaran sudut pandang, alasan kebutuhan dan konteks jamannya. Disini al Qur'an tidak lagi dipandang sebagai sebuah teks yang mati tetapi ia adalah al Qur'an yang hidup,  yakni al - Qur'an yang sebagai Ruh ( Qs. Asy-Syura 42: Ayat 52)


--------☆☆☆ ------------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 6

رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ  ۚ إِنَّهُۥ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui,"

♤  Hikmah di wahyukannya Al Qur' an adalah Rahmat dari Tuhan Semesta alam kepada umat manusia. Adapun maksud dan pengertian dari kalimat " sungguh Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui " dalam ayat ini adalah bahwa ' Sungguh Allah Maha Mendengar jeritan fitrah - fitrah manusia dan mengetahui kecendrungannya ', yakni jeritanya untuk ingin kembali kepada Allah, deburan rasa rindunya, dan kecendrungan untuk bergantung dengan kuat kepada asmanya As Somad, maka Allah pun mendengar kerinduan mereka dan menyerunya untuk kembali, karenanya Allah Swt kemudian menurunkan wahyu - wahyu- Nya kepada para nabi dan rasul-Nya sebagai pemberi peringatan kepada umat manusia agar mereka dapat mengenali kembali fitrahnya. Sebagaimana firmannya, 

Al-Quran : Al -A' raaf 7:172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

" Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", yaitu :

------- ☆☆☆ -----------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 7 

رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ  ۖ إِنْ كُنْتُمْ مُّوقِنِينَ

"Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu orang-orang yang meyakini."

♤  Diserunya fitrah - fitrah manusia oleh Allah Swt agar mau kembali kepadaNya sebagaimana mana telah dijelaskan pada tafsir ayat 6 diatas,  adalah semata untuk mengingatkan manusia agar setiap diri mampu mengenali kembali asal usul keberadannya.

Adapun maksud dari kalimat " jika kamu orang-orang yang meyakini ", adalah meyakini akan adanya Tuhan yang Maha Pencipta dan yang Memelihara Langit dan Bumi serta meyakini bahwa , 

-------- ☆☆☆ -----------

QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 8

لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءَابَآئِكُمُ ٱلْأَوَّلِينَ

" Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu."

Sekian, semoga bermanfaat. 

Indramayu, 27 Nopember 2020

Mang Anas


Jumat, 20 November 2020

Tafsir Hurufi Surat At - Tin

Surat At – Tin  Dalam Perspektif Tafsir Hurufi

By Mang Anas

Tafsir At – Tin 95 ayat 1

وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيْتُونِ 

 “ Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun “ , 

Kedudukan dan simbolisasi dari ayat ini adalah huruf  :  ت

Yang Artinya “ Man Arofa Nafsahu faqod Arofa Robbahu “ yakni barang siapa yang dapat memahami eksistensi dirinya maka ia akan dapat pula memahami eksistensi Tuhannya “.

Kata   التين  sebagaimana yang tertera pada ayat diatas itu diartikan sebagai simbol Kebumian, yang maksudnya adalah manusia. 

“ Demi Manusia yang Aku Ciptakan, yakni Manusia yang Mengenal dirinya . " 

Sedangkan kata  الزيتن   itu sendiri dikonotasikan sebagai simbol  Kelangitan, yang maksudnya adalah Allah Swt,  sebagaimana diterangkan dalam surat An -Nur 24:35

" pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api ".

dengan demikian kata Az-zaitun itu bisa diartikan dengan “ Demi Nur atau Cahaya Allah Swt atau demi Tuhan yang telah mentajalikan diriNya lewat realitas dan wujud wujud ciptaan,  Yang dengannya ( melalui Tajalli ) itu tanda - tanda  keberadaan Tuhan  ahirnya dapat dikenali , diketahui dan  dipahami oleh manusia “. 

Simbol huruf  ت  juga bisa diartikan sebagai perlambang bertemunya nabi Musa AS dengan nabi Khidir AS. Dua sosok manusia yang berasal dari dimensi alam yang berbeda, yaitu kisah pertemuan Musa AS  yang berasal dari dimensi Nasut dengan sosok Khidir yang berasal dari dimensi Lahut.  Perjumpaan antara dua sosok manusia suci yang mewarisi pengetahuan yang berbeda, yakni Khidir AS yang membawa pengetahuan langit dengan Musa AS yang sangat memahami hukum - hukum ( syariat ) di bumi. Pertemuan itu juga merupakan persinggunan antara dua wujud, yaitu wujud manusia yang dhohir dengan dirinya yang batin dan antara dunia syariat dengan batinnya yang hakekat.


♤♤♤♤♤----♤♤♤♤♤

Tafsir At – Tin 95 ayat 2

وَطُورِ سِينِينَ 

“ Demi gunung Sinai “, 

Kedudukan dan simbolisasi dari ayat ini adalah huruf  :  ط  yang dinisbatkan kepada diri nabi Musa AS, kala masih didudukan pada maqom wahyu. Seorang rasul yang  sangat diistimewakan oleh Allah Swt yang kisahnya paling banyak memenuhi halaman al qur'an. sebagaimana dituturkan pada surat Thaa Ha ayat 11 – 13.  Saat beliau menerima wahyu dilembah suci yang bernama Tuwa  ( nama salah satu lembah yang ada dideretan bukit Thursina ) :

فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِىَ يَٰمُوسَىٰٓ 

“ Maka ketika dia mendatanginya (ke tempat api itu) dia dipanggil, “Wahai Musa! ( Qs Thaa Ha 20:11 )

إِنِّىٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخْلَعْ نَعْلَيْكَۖ إِنَّكَ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى 

Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa. ( Qs. Thaa Ha 20:12 )

وَأَنَا ٱخْتَرْتُكَ فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ 

Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu) “ . ( Qs.Thaa Ha 20:13 )


♤♤♤♤♤------♤♤♤♤♤

Tafsir At – Tin 95 : ayat 3

وَهَٰذَا ٱلْبَلَدِ ٱلْأَمِينِ 

“Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini“.

Kedudukan dan simbolisasi dari ayat ini adalah huruf : ب , Pada maqom inilah hakikat dari segala wujud itu disibakkan, demikian juga hakikat unsur dhohir dan batinya, inilah simbol pencapaian tertinggi manusia dalam hal kemakrifatan dan penguasaan ilmu pengetahuan ( wa 'alama adama asma a kullaha ). 

Inilah maqom bapak kita Adam AS dan maqom Muhammad SAW, juga maqom para nabi dan rasul - rasulnya yang utama serta para Auliya Allah yang agung yang tersebar diseluruh penjuru bumi dan langit. 


♤♤♤♤♤-----♤♤♤♤♤

Tafsir At-Tin 95 ayat : 4

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ 

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,

Ayat ini dinisbatkan pada sosok bapak kita Adam AS, dimana ia diciptakan oleh Allah Swt dengan bentuk yang paling sempurna,  dan  didudukan oleh Allah Swt pada martabat yang setinggi – tingginya ( martabat huruf  ب ) , dan tingkatan ini dicapai oleh Adam AS karena penguasaan pengetahuannya terhadap semua benda benda ciptaan, inilah maksud dari ayat itu. Penafsiran serupa dikemukakan oleh Syaekhul Akbar Ibnu Arabi ( lihat Fusus Al Hikam ). 

Adapun dalam konteks al Qur'an rujukan tafsir dari ayat ini  adalah beberapa firman Allah Swt berikut ini, 

Al-Baqarah 2:30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ 

“ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” 

Maksud dari kalimat “ “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  Adalah bahwa Allah Swt tanpa sepengetahuan para malaikat dan juga iblis telah menganugerahkan kepada Adam AS rahasia Siir - Nya, yakni peta jalan Ketuhanan yang berupa roh dari surat Al- Fatiha dan roh dari surat Al- Ikhlas serta pengetahuan rahasia alam semesta yang esensinya merupakan roh dari ayatul kursy . Berkat mapping dan chip itulah, bapak kita Adam AS  sekalipun harus menjalani hukuman dalam pembuangan, yakni dikeluarkan dari negeri Qurbah  ( Alam Kedekatan ) dan ditempatkan di alam Jauh yakni Alam Hijab ( Bumi ) ahirnya bisa kembali.

Al-Baqarah 2:31

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ 

“ Dan Dia ajarkan kepada Adam ( melalui Siir – nya )  nama-nama ( hakikat dari wujud dhohir dan batin benda benda ciptaan )  semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”


Al-Baqarah 2:32

قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ 

“ Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”


Al-Baqarah 2:33

قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ 

Lalu “ Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah ( maksudnya presentasikan )  kepada mereka nama-nama itu! (meliputi nama, sifat, kandungan unsur, fungsi, manfaat dan mekanisme kerja dari semua benda itu ) ” Setelah dia (Adam) menyebutkan ( mem – Presentasikan ) nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”


Al-Baqarah 2:34

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ 

“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” ( karena ketinggian derajat & Maqomnya ) Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir “, 

Iblis secara diam diam memendam rasa dengkinya kepada Adam,  karena ia sangat berharap sanjung dan puji dari Allah itu jatuh kepadanya dan bukan kepada Adam, dan semua itu terjadi karena Iblis merasa bangga dengan asal usul dirinya serta banyaknya ibadah yang dipersembahkannya jika dibanding dengan Adam yang diciptakan oleh Allah Swt jauh setelahnya.

Al-Baqarah 2:35

وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga ( surga disini adalah hakikat dari huruf ب  : Baladin Amin atau Negeri Qurbah ) dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini ( pohon nafsu ), nanti kamu termasuk orang-orang yang zhalim!”

" Al-Quran menyebut manusia sebagai makhluk terunggul serta khalifah Allah Swt di muka bumi bahkan para malaikat pun bersujud kepadanya. Akan tetapi pada saat yang sama, Al-Quran juga menjelaskan kelemahan, ketergesaan, kesombongan dan ketamakan yang dimiliki manusia. Manusia memiliki potensi untuk berkembang dan sempurna, namun pada saat yang sama juga berpotensi menyimpang dan tergelincir.
Manusia berada di antara dua pilihan untuk sempurna atau tersesat. Jika memilih untuk mencapai kesempurnaan, maka para malaikat tidak akan dapat menandinginya, namun jika memilih jalan kegelapan, maka manusia akan lebih hina dari binatang.
Mengetahui potensi, kemampuan dan kekuatannya sendiri, akan menjadi sumber seluruh amal perilakunya menuju kesempunaan. Kemampuan manusia memilih itu sendiri yang akan menjadi alasan mengapa dia akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya.
Semakin dalam manusia mengenali dirinya, maka semakin banyak pula potensi yang akan terbuka baginya. Ketika manusia telah mengenali diri dan kepribadiannya, maka pencapaian menuju kesempurnaan sudah bukan lagi menjadi opsi melainkan keharusan baginya " ( Imam Al - Ghazali , Kitab Misykatul Anwar )


♤♤♤♤♤-----♤♤♤♤♤

Tafsir Surat At-Tin 95 ayat  5

ثُمَّ رَدَدْنَٰهُ أَسْفَلَ سَٰفِلِينَ 

“ kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya “,

     Sandaran Tafsir dari ayat ini adalah Al- Qu'ran surat Al-Baqarah 2:36 dan 2 : 38

Al-Baqarah 2:36 

فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ 

“ Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana ( Negeri Qurbah). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain ( yakni mereka yang berada di jalan Allah yaitu orang orang yang beriman yang menempuh jalan NA’ BUDU dan jalan NASTA’IN, akan berhadapan secara langsung dengan orang - orang yang menempuh jalan Thagut yakni mereka yang ada di jalan AL-MAGDHUB dan AL – DHOLIN, lihat surat Al Fatiha ) Dan bagi kamu ( penempuh kedua jalan yang saling bertentangan itu ) ada tempat tinggal dan kesenangan ( sesuai kecendrungannya masing – masing, yakni sebagian dari mereka akan cendrung/ menyenangi aspek aspek kehidupan yang sifatnya kerohanian dan sebagian lagi akan cendrung pada pengagungan  aspek kehidupan jasmani, dan kedua kedua kelompok itu akan hidup bersama );di bumi sampai waktu yang ditentukan.”


Al-Baqarah 2:38

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًاۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ 

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”


♤♤♤♤♤-----♤♤♤♤♤

Tafsir Surat At-Tin 95: ayat 6

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ 

“ kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya “ ( Kenikmatan yang bakal diperolehnya di negeri Qurbah, yakni berupa kenikmatan melihat wajah Tuhan, puncak dari segala kenikmatan para penghuni surga )

Ayat diatas secara makna tersambung dengan kisah Adam AS pada ayat berikut di dalam surat al Baqarah,

Al-Baqarah 2:37

فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ 

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.


♤♤♤♤♤-----♤♤♤♤♤

At-Tin 95:7

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِٱلدِّينِ 

Maka apa yang menyebabkan ( mereka yang mengikuti Thagut itu ) mendustakanmu (tidak mempercayai keteranganmu tentang berita akan datangnya) hari pembalasan setelah ( semua keterangan yang disampaikan lewat wahyu ) itu ( turun dan didakwahkan kepada mereka ) ?


♤♤♤♤♤-----♤♤♤♤♤

At-Tin 95:8

أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَحْكَمِ ٱلْحَٰكِمِينَ 

Bukankah Allah hakim yang paling adil? 

Maksudnya bukankah Allah telah memberimu semua sarana  yang dibutuhkan untuk menuntunmu menemukan petunjuk agar dengannya kamu dapat menyempurnakan diri ( yaitu menemukan titik  ب  mu sendiri ). Jika saja semua sarana yang ada pada kalian itu  kalian pergunakan sebagaimana mestinya ( melalui titik  ت  mu ) dan kalian pun bersedia membuka diri, maka pasti petunjuk Ku akan datang ( berupa huruf  ط ), yaitu melalui apa - apa yang ada pada diri kalian sendiri, berupa anugerah pendengaran, penglihatan, Fitroh  dan hati nurani maupun dari apa - apa yang ada disekelilingmu berupa tanda tanda kekuasaan Tuhan yang bisa kamu lihat dan amati, yaitu rahasia penciptaan dirimu sendiri, rahasia susunan unsur dari benda - benda yang ada disekelilingmu dan kesempurnaan cara kerjanya, rahasia  alam raya dan kesempurnaan sistem yang mengaturnya, hikmah diutusnya para nabi dan rasul dan kitab kitab suci yang diwariskanya, yang dengannya kalian bisa belajar untuk mendapat petunjuk. Atas dasar itulah maka kelak kalian akan dimintai pertanggung jawaban dan Aku sendirilah yang akan mengadili kalian dan yang akan memutuskan perkara  yang ada diantara kalian. Disana hisab Ku sangatlah cepat, dan kamu akan mendapati kitab yang terbuka ( Al Isra : 13 ) ,isi kitab itu sangatlah lengkap dan didalam kitab catatan amal itu tidak akan kamu dapati apapun yang tertinggal baik yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya. Dan Tuhanmu tidak akan menzalimi seorang juapun ( Al Kahf : 49 ). Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan ( Al Jasiyah : 28 ).

Demikianlah nantinya Aku akan mengadili kalian dan pasti semua akan kami putuskan dengan seadil adilnya. 

Semoga bermanfaat

Indramayu, 21 November 2020

Mang Anas 




Senin, 09 November 2020

Tafsir Isyari Surat Al Fatiha

Al Fatiha : RAHASIA TAKDIR DALAM POHON KESELAMATAN 

By Mang Anas

Tafsir Ringkas : 

1.Surat Al Fatiha Episod Pertama : Rahasia Takdir dalam VISI  TUHAN SEMESTA ALAM

-------- ☆☆☆☆ -----------

Al-Quran 1:1

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

" Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam "

♤  Makna Isyari : Semua bermula dari sebutir biji ( yaitu biji ٱلْحَمْدُ ) ;   dimana didalam biji itu, inang dari batang, dahan, cabang-cabang, ranting, daun-daun, kembang dan buahnya masih tersembunyi dan belum terpisah-pisah.

------------ ☆☆☆☆ -------------

Al-Quran 1: 2

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

" Maha Pemurah lagi Maha Penyayang "

♤ Makna Isyari :

☆ Di dalam biji itu tangan الرحمن  menuliskan ketetapan takdir dan kadar kehidupan dari semua dahan dahan pohon, cabang cabang, ranting dan daun daun yang akan diciptakannya. Sebagiannya telah ia tetapkan untuk Tumbuh dan Condong ke arah Kanan sehingga akan menghasilkan buah yang baik  dan sebagiannya lagi Ia tetapkan untuk Tumbuh dan Condong ke arah Kiri dan akan menghasilkan buah yang buruk. Di dalam nama  الرحمن maka dahan itu disebut dahan Asbab/ Kasbi.

☆ Di dalam biji itu juga tangan - الرحمن - dengan Asma -  الرحيم - telah menetapkan guratan takdir dan kadar kehidupan bagi cikal bakal dahan, cabang cabang, ranting dan daun daun yang akan diciptakanNya secara istimewa . Dengan cara ini maka - الرحيم -  akan menumbuhkan dahan itu beserta cabang- cabang, ranting dan daun - daunnya ke arah Kanan, ia secara langsung akan dihadapkan ke sumber cahaya. Karenanya Ia akan menghasilkan buah yang sangat lebat, masak dan bermutu tinggi.  Di dalam nama  الرحيم  maka dahan itu disebut dahan Tajrid.

Sebagaimana firman- Nya :

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنٰىٓ أُولٰٓئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ

"Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka)."- (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 101)

لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا  ۖ وَهُمْ فِى مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خٰلِدُونَ

"Mereka tidak mendengar bunyi desisnya (api neraka) dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka inginkan."- (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 102)

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقّٰىهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ هٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِى كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu."- (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 103)


------------- ☆☆☆ -----------

Al-Quran 1:3

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

" Yang menguasai di Hari Pembalasan " 

♤ Makna Isyari  : 

ملك يوم الدين = Arsy , tempat kembali, ia berada jauh diatas langit, dan menjadi sumber dari semua cahaya, arah yang seharusnya dituju oleh semua pucuk pohon. Dan karena الحمد atau biji yang menumbuhkan pohon itu adalah wujud mumkin yang berasal dari-Nya, maka pada saatnya pohon itu pasti akan kembali lebur [ fana ] ke pangkuan Dzat - Nya sesuai dengan tabiat dan kodrat penciptannya. Sebagaiman firman-Nya,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ (٢٦)

Semua yang ada di muka bumi akan binasa(Q.S. Ar-Rahman ayat 26)

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ (٢٧)

Tetapi wajah Tuhamu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan akan tetap kekal. (Q.S. Ar-Rahman ayat 27)

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ (٢٨)

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?( Q.S. Ar-Rahman ayat 28)


----------- ☆☆☆☆  ----------

2. Surat Al Fatikha Episod Dua : MISI Keselamatan Manusia


Al-Quran 1:4

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

" Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan "

♤ Makna Isyari : 

اياك نعبد واياك نستعين =  Dari biji itu lalu tumbuh satu batang pohon yang disebut dengan Pohon semesta, kemudian dari batang pohon itu akan tumbuh dua macam dahan, yaitu dahan As-khaabul Yamin dan dahan As- khabus Syimal. Lalu dari masing - masing dahan itu menumbuhkan pula dua macam cabang. 

Catatan ;

# As- khabul Yamin, adalah makna yang nyata, atau makna yang nampak pada dhohirnya ayat. Adapun As- khabus Syimal, adalah makna-nya yang tersembunyi / makna itu dikandung tetapi tidak dinyatakan ( Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah, QS 51:49 ).


----------- ☆☆☆☆ -----------

Al-Quran 1:5

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

" Tunjukilah kami jalan yang lurus, "

♤ Makna Isyari :

اهدنا الصراط المستقيم =   Kudrat dari dahan - dahan, cabang dan ranting serta mata dari pucuk pohon Semesta yang cendrung mengarah ke Sumber Cahaya ( Al - Qur'an ), yaitu sebagian dari dahan dan cabang pohon yang ada dalam genggaman kuasa  الرحمن  dan semua cabang dan ranting pohon yang ada dalam berkah dan curahan rahmat dari  الرحيم.

------------ ☆☆☆☆ -------------

Al-Quran 1:6

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ 

" (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka ; "

♤ Makna Isyari : 

صراط الذيب انعمت عليهم = Yaitu dahan, cabang dan ranting serta pucuk pohon Semesta yang tidak terhalang ( Tidak Terhijab ) dari Sumber Cahaya,  yaitu dahan Askhaabul Yamin yang memiliki dua buah cabang pohon, yaitu cabang  pohon yang bernama نعبد  dan  cabang pohon yang bernama نستعين.

Dari cabang yang bernama  نعبد  akan tumbuh dari padanya dua buah ranting yaitu ranting Syuhada dan ranting  Solihin,   serta dari cabang pohon نستعين , akan tumbuh dari padanya ranting Ambiya dan ranting Siddiqin. Itulah suratan takdir empat buah ranting yang semenjak jaman azali Ar Rahman telah mengguratkannya didalam sebuah biji, yaitu biji الحمد.


------------- ☆☆☆☆ -------------

Al-Quran 1:7

غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

" bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat "

♤ Makna Isyari :

 غيرالمغظوب عليهم ولا الظا لينغ = Bukan batang ,dahan dan cabang - cabang serta ranting dan pucuk pohon yang terhalang dari sumber Cahaya, Yaitu dahan Askhabus Syimal  yang memiliki dua cabang , Yaitu cabang   المغضوب  dan cabang  yang bernama الضالين

Daun, ranting, cabang dan dahan pohon itu hampir hampir semuanya tidak tertimpa oleh cahaya atau hanya sedikit sekali  menerima cahaya, maka dahan pohon itu akan tumbuh bengkok dan  menyamping / mengarah ke kiri, menjadi dahan yang meranggas, memiliki sedikit daun, layu dan tumbuh merana, ia tidak hidup dan tidak pula mati. 

Wallahu a'lamu bi murodihi.