By. Mang Anas
Dalam tradisi Islam, sosok Isa Al-Masih di akhir zaman tidak hadir sekadar sebagai figur spiritual, tetapi sebagai agen koreksi sejarah. Tiga tindakan yang dinisbatkan kepadanya—mematahkan salib, membunuh babi, dan membunuh Dajjal—selama ini sering dipahami secara literal. Namun, jika dibaca dalam kerangka simbolik dan diuji dengan realitas peradaban modern, ketiganya justru membentuk peta diagnosis paling tajam terhadap krisis manusia hari ini.
Esai ini berangkat dari satu asumsi sederhana :
bahwa wahyu tidak hanya berbicara tentang peristiwa, tetapi tentang struktur kesadaran manusia.
---
1. Mematahkan Salib : Meluruskan Konsep Ketuhanan
“Mematahkan salib” bukan sekadar tindakan terhadap simbol fisik, tetapi koreksi terhadap cara manusia memahami Tuhan.
Dalam sejarah, kesalahan terbesar manusia bukanlah tidak mengenal Tuhan, melainkan mengaburkan-Nya:
• menjadikan-Nya berlapis,
• membagi otoritas-Nya,
• atau secara halus menggantikan-Nya dengan sistem dan kekuatan lain.
Di sinilah kita bisa membaca kembali fondasi Surah Al-Fatihah :
> Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, Ar-Rahman Ar-Rahim, Maliki yaumiddin
Ayat-ayat ini bukan sekadar pujian, tetapi penetapan ontologi:
• Tuhan adalah sumber segala sesuatu
• Tuhan adalah pengatur dan pemelihara
• Tuhan adalah pemilik akhir dari seluruh konsekuensi
Dengan demikian, “mematahkan salib” adalah :
> mengembalikan kesadaran manusia kepada tauhid yang murni—tanpa cabang, tanpa perantara kekuasaan yang menggantikan-Nya.
Tanpa pelurusan ini, seluruh struktur kehidupan manusia akan berdiri di atas fondasi yang keliru.
---
2. Membunuh Babi : Mengoreksi Orientasi Hidup
Jika kesalahan pertama adalah pada Tuhan, maka kesalahan kedua adalah pada apa yang manusia jadikan tujuan hidup.
“Babi” dalam konteks simbolik merepresentasikan :
• kehidupan yang berpusat pada konsumsi
• pemuasan diri tanpa batas
• orientasi pada kenikmatan instan
Inilah wajah peradaban modern :
• konsumsi menjadi identitas
• kekayaan ditimbun tanpa batas
• manusia dinilai dari apa yang ia miliki, bukan apa yang ia jaga
Di titik ini, ayat berikutnya dari Al-Fatihah menjadi kunci :
> Iyyaka na’budu wa iyyaka نستعين
Sering diterjemahkan sebagai “kami menyembah”, padahal maknanya lebih dalam :
> kami mengabdi sepenuhnya
Artinya:
• hidup bukan untuk diri sendiri
• bukan untuk sistem
• bukan untuk nafsu
tetapi untuk Tuhan
“Membunuh babi” berarti :
> memindahkan pusat pengabdian manusia dari nafsu menuju Tuhan.
Dan di sinilah etika kekhalifahan dimulai :
• resource tidak lagi dieksploitasi
• kekayaan tidak lagi ditimbun
• kehidupan tidak lagi diarahkan untuk konsumsi tanpa makna
---
3. Membunuh Dajjal : Meluruskan Cara Berpikir
Jika Tuhan sudah diluruskan dan orientasi hidup sudah diperbaiki, masih ada satu lapisan yang paling berbahaya:
cara manusia memahami realitas.
Di sinilah hadir sosok Dajjal—bukan sekadar figur, tetapi simbol dari :
• manipulasi persepsi
• pembalikan nilai
• ilusi yang tampak rasional
Dajjal adalah dunia di mana:
• yang salah terlihat benar
• yang merusak disebut kemajuan
• yang sementara dianggap tujuan
Jawaban terhadap ini kembali terdapat dalam Al-Fatihah:
Ini bukan sekadar doa, tetapi:
> permintaan koreksi atas cara berpikir manusia
“Membunuh Dajjal” berarti :
• mengembalikan manusia pada kemampuan membedakan antara hakikat dan ilusi
• berpikir dalam jangka panjang
• melihat konsekuensi, bukan sekadar kenikmatan sesaat
---
4. Tiga Misi, Satu Struktur
Jika dirangkum :
1. Misi Pertama
Misi Isa : Mematahkan salib
Penyakit : Kesalahan konsep Tuhan
Koreksi dalam Al-Fatihah : Alhamdulillah – Maliki yaumiddin
2. Misi kedua
Misi Isa : Membunuh babi
Penyakit : Kesalahan orientasi hidup
Koreksi dalam Al-Fatihah : Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta'in
3. Misi ketiga
Misi Isa : Membunuh Dajjal
Penyakit : Kesalahan cara berpikir
Koreksi dalam Al-Fatihah : Ihdinas shirothol mustaqim - hingga waladdolin
Ketiganya membentuk satu rantai :
1. Siapa Tuhan ?
2. Untuk apa hidup ?
3. Bagaimana memahami realitas ?
Jika salah satu rusak, seluruh sistem runtuh.
---
5. Krisis Modern sebagai Pengkhianatan Kekhalifahan
Apa yang kita saksikan hari ini:
• pemuasan diri berlebihan
• pemusatan kekayaan
• kerusakan lingkungan
• bukanlah fenomena acak.
Itu adalah:
> hasil dari kegagalan manusia menjalankan perannya sebagai khalifah
• Manusia tidak lagi menjadi penjaga bumi,
• tetapi berubah menjadi predator atasnya.
---
6. Penutup : Isa sebagai Proses, Bukan Sekadar Peristiwa
Dengan demikian, kedatangan kembali Isa Al-Masih tidak harus dipahami hanya sebagai peristiwa di masa depan.
Ia bisa dibaca sebagai :
> proses pemurnian kesadaran manusia
- meluruskan Ketuhanan
- meluruskan orientasi hidup
- meluruskan cara berpikir
Dan dalam bentuk paling ringkas, seluruh proses itu telah dirangkum dalam satu surat pendek yang dibaca setiap hari :
-Surah Al-Fatihah
---
Akhirnya, pertanyaannya bukan lagic: kapan Isa datang?
Tetapi:
> apakah manusia siap menjalani tiga pemurnian itu dalam dirinya?
Karena di situlah sebenarnya pertempuran akhir zaman berlangsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar