Halaman

Jumat, 16 Januari 2026

Mengapa Dunia Sunni Kehilangan Figur “Rahbar”

By. Mang Anas 

Krisis Kaderisasi Ulama dan Terputusnya Integrasi Ilmu, Jiwa, dan Kepemimpinan Dalam Tradisi Sunni.

Pendahuluan: Dari Ulama menjadi Pejabat Agama

Di banyak negeri Muslim hari ini, terutama di dunia Sunni, kita menyaksikan paradoks yang aneh: ulama semakin banyak, institusi keagamaan semakin besar, tetapi figur pemimpin ruhani yang mampu memikul tanggung jawab peradaban justru semakin langka.

Kita memiliki mufti, profesor syariah, dai televisi, pakar hadits, dan doktor fikih. Namun hampir tidak ada lagi sosok yang, ketika ia berbicara, umat merasakan bahwa yang berbicara bukan hanya akal dan kitab, tetapi jiwa yang telah ditempa.

Fenomena ini menjadi semakin kontras ketika dunia melihat model kepemimpinan Iran: seorang Rahbar yang bukan sekadar pejabat negara, tetapi diposisikan sebagai rujukan ruhani, intelektual, dan moral. Terlepas dari sikap politik seseorang terhadap Iran, secara peradaban ada satu pertanyaan serius yang patut diajukan:

mengapa dunia Sunni hampir tidak lagi melahirkan figur dengan kedalaman seperti itu?

1. Hilangnya Filsafat: Ulama tanpa Horizon Ontologis

Dalam tradisi hauzah Syi’ah klasik (Najaf dan Qom), filsafat bukan musuh agama, tetapi pintu pendewasaan akal. Seorang calon mujtahid tinggi hampir pasti melewati:

mantiq (logika),

falsafah wujud,

hikmah Isyraqiyah,

Hikmah Muta‘aliyah Mulla Shadra.

Ini membentuk ulama yang tidak hanya tahu “apa hukumnya”, tetapi juga bergulat dengan pertanyaan:

apa itu wujud,

apa itu jiwa,

apa itu kesadaran,

bagaimana relasi Tuhan–alam–manusia.

Akibatnya, Rahbar umumnya lahir sebagai faqih sekaligus hakim (filsuf dalam makna Islam klasik).

Di dunia Sunni modern, filsafat lama dicurigai. Ia dikeluarkan dari kurikulum pesantren dan universitas syariah. Digantikan oleh pengulangan fikih, khilafiyah, dan hafalan. Akal dilatih untuk mematuhi, bukan untuk menembus.

Maka lahirlah generasi ulama yang :

piawai mengutip,

cepat memvonis,

tetapi miskin kosmologi dan metafisika.

Padahal pemimpin peradaban tidak cukup dengan jawaban halal-haram. Ia harus memahami struktur realitas tempat umat hidup.

2. Terpecahnya Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat

Dalam arsitektur keilmuan Syi’ah—khususnya yang terpengaruh jalur irfan—ulama ideal adalah:

faqih dalam hukum,

‘arif dalam penyucian jiwa,

hakim dalam filsafat.

Imam Khomeini bukan hanya menulis tentang wilayat al-faqih, tetapi juga menulis syarah doa, adab shalat, dan risalah irfan. Artinya, kepemimpinan dibangun di atas laku batin, bukan hanya legitimasi teks.

Di dunia Sunni, struktur ini terbelah:

fuqaha di satu sisi,

sufi di sisi lain,

filsuf hampir punah.

Lebih parah, tasawuf sering didorong keluar dari pusat peradaban, direduksi menjadi amalan pinggiran, bahkan dicurigai. Akibatnya, banyak ulama lahir dengan otoritas hukum, tetapi tanpa disiplin tazkiyatun nafs.

Padahal sepanjang sejarah kenabian, inti kepemimpinan selalu bermula dari penyucian jiwa:

“Dia yang mengutus kepada mereka seorang rasul… yang menyucikan mereka, mengajarkan Kitab dan hikmah.”

Tanpa dimensi ini, ulama mudah berubah menjadi teknokrat agama.

3. Terputusnya Sanad Kepemimpinan

Seorang Rahbar tidak muncul dari ruang kuliah semata. Ia lahir dari ekosistem panjang:

hidup di hauzah puluhan tahun,

membina murid,

memikul tanggung jawab sosial,

menyaksikan langsung bagaimana otoritas ruhani diterjemahkan menjadi tata negara.

Ada sanad kepemimpinan, bukan hanya sanad kitab.

Dalam dunia Sunni, ulama modern sering berada dalam dua ekstrem:

sepenuhnya di luar sistem, sehingga utopis,

atau sepenuhnya di bawah sistem, sehingga kehilangan independensi ruhani.

Nyaris tidak ada jalur tarbiyah yang menyiapkan ulama sebagai pemikul amanah peradaban. Yang disiapkan adalah pengajar, penceramah, atau pegawai lembaga agama.

Padahal pemimpin umat bukan hanya orang alim, tetapi orang yang telah dilatih memimpin jiwa dan masyarakat.

4. Dari Khalifah dan Wali menjadi “Influencer Religius”

Krisis ini melahirkan gejala yang kasat mata: ulama semakin terkenal, tetapi semakin dangkal; semakin viral, tetapi semakin ringan.

Otoritas tidak lagi lahir dari laku, tapi dari algoritma. Bukan dari riyadhah, tapi dari retorika.

Di titik ini, dunia Sunni kehilangan figur yang dalam bahasa peradaban lama disebut:

insan kamil,

pandhita-ratu,

pewaris nabi,

pemegang wahyu keprabon.

Yang tersisa adalah spesialisasi, bukan integrasi.

5. Wahyu Keprabon dan Wilayah Ruhani

Dalam kosmologi Jawa, pemimpin sejati harus menerima wahyu keprabon : tanda bahwa jiwanya telah selaras dengan tatanan Ilahi.

Dalam Islam, para nabi menerima wahyu tasyri‘i. Para wali menerima ilham dan futuh. Dalam dunia Syi’ah, Rahbar diposisikan—setidaknya secara ideal—sebagai faqih yang juga memiliki otoritas moral dan ruhani.

Semua ini bertemu pada satu prinsip :

kekuasaan yang sah bukan yang paling kuat,

tetapi yang paling selaras dengan amanah langit.

Duduknya para jenderal dan pejabat Iran di lantai di hadapan Rahbar bukan sekadar budaya. Ia adalah bahasa simbolik: negara diletakkan di bawah bimbingan, bukan di atasnya.

Penutup : Bukan Masalah Mazhab, tetapi Arsitektur Peradaban

Tulisan ini bukan untuk mengidealkan satu negeri atau satu mazhab. Ini adalah cermin bagi dunia Sunni.

Krisis kepemimpinan ruhani bukan disebabkan oleh Sunni atau Syi’ah, tetapi oleh rusaknya arsitektur pendidikan ulama: hilangnya filsafat, terpinggirkannya tasawuf, dan terputusnya sanad kepemimpinan.

Selama ulama hanya ditempa sebagai penghafal dan komentator, umat hanya akan memiliki juru bicara agama, bukan pewaris kenabian.

Dan selama kepemimpinan tidak kembali diletakkan di atas fondasi jiwa, setiap kekuasaan—betapapun Islami slogannya—akan tetap miskin cahaya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar