Mang Anas
Membaca Yohanes Pasal 1 Dengan Kerangka Martabat Tujuh
1. Martabat Ahadiyah : Pada Mulanya, Dzat Tuhan
2. Martabat Wahdah : Kalam telah ada dari mulanya. Kalam itu bersama Allah, dan Kalam itu adalah Allah.
3. Martabat Wahidiyah : Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya dan dari segala yang ada, tidak ada sesuatu pun yang dijadikan tanpa Dia.
4. Martabat Ruh : Hidup itu ada di dalam Dia, dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak dapat mengalahkannya.
5. Martabat Mitsal : Ada seorang utusan Allah bernama Yahya. Ia datang untuk memberi kesaksian mengenai terang itu supaya melalui kehadirannya semua orang dapat percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian mengenai terang itu.
6. Martabat Ajsam : Ia ada di dalam dunia, bahkan dunia ini dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik-Nya sendiri, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi, orang-orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya.
7. Martabat Insan Kamil : Kelahiran mereka bukan dari darah, bukan dari keinginan daging, dan bukan dari keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Kalam itu telah menjadi manusia, lalu tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diterima-Nya sebagai Sang Anak Tunggal yang datang dari Sang Bapa, penuh dengan anugerah dan kebenaran. [ Yahya 1:1, 3-8, 10-14 ]
Teks suci sering kali dibaca sebagai laporan sejarah, namun di balik huruf-hurufnya yang tertulis, terdapat lapisan makna yang bersifat ontologis—sebuah deskripsi tentang bagaimana Yang Mutlak menyatakan diri-Nya ke dalam alam semesta yang terbatas. Pembacaan Prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1-14), jika diletakkan di atas kerangka metafisika "Martabat Tujuh" dalam tradisi sufistik, membuka pemahaman baru tentang hakikat "Firman" (Miltha) yang menjadi manusia. Ini bukanlah kisah tentang perubahan substansi Ilahi, melainkan sebuah perjalanan penampakan (Tajalli) sifat-sifat Tuhan melalui cermin kemanusiaan.
Metafisika "Pada Mulanya"
Prolog Yohanes dimulai dengan kedalaman keheningan yang setara dengan martabat "Ahadiyah" —tingkatan di mana Dzat Tuhan masih dalam kemutlakan-Nya, tanpa nama dan tanpa sifat yang terpisah. Namun, saat Yohanes menulis "Pada mulanya adalah Firman", ia sedang menunjuk pada martabat "Wahdah". Di sini, Tuhan mulai menyatakan diri-Nya melalui "Sifat Kalam". Firman bukanlah entitas di luar Allah, melainkan "Tajalli" pertama—cahaya Ilahi yang memancar dari Dzat, yang menjadi akar dari segala realitas.
Perjalanan berlanjut ke "Wahidiyah" , di mana Firman tersebut menjadi prinsip penciptaan. Segala yang ada muncul karena adanya "Kalam" tersebut. Tuhan, melalui "Sifat Ma'ani" -Nya, menampakkan kehendak dan kuasa-Nya untuk mengadakan semesta. Di tingkat "Ruh" , kehidupan yang dipancarkan oleh Firman ini menjadi terang bagi jiwa manusia. Ini adalah momen di mana esensi kemanusiaan bersentuhan langsung dengan Nur Ilahi.
Jembatan dan Keterasingan
Namun, proses "Tanazzul" (penurunan) ini menjumpai tantangan ketika ia turun ke tingkat "Mitsal" (alam perantara). Di sini, sosok Yahya (Yohanes Pembaptis) hadir sebagai Barzakh—jembatan yang menunjuk pada realitas cahaya tanpa menjadi cahaya itu sendiri. Ia menjadi saksi bagi mereka yang masih berada dalam kegelapan.
Saat Firman turun lebih jauh ke tingkat "Ajsam" (alam jasad/jasmani), ia memasuki dunia yang padat, penuh dengan hijab (tirai) material. Inilah tragedi ontologis : "Dunia tidak mengenal-Nya". Kepadatan jasmani dan kebisingan ego manusia seringkali menjadi penghalang bagi jiwa untuk menangkap cahaya Tajalli yang sesungguhnya. Dunia, yang sesungguhnya diciptakan sebagai cermin bagi sifat-sifat Tuhan, justru menjadi buram karena debu-debu keduniawian.
Puncak Tajalli : Insan Kamil
Puncak dari perjalanan ini, dan jawaban atas keterasingan manusia, adalah martabat Insan Kamil. Ketika Yohanes menulis "Kalam itu telah menjadi manusia", ini bukanlah kisah tentang Tuhan yang melepaskan ke-Tuhan-an-Nya untuk menjadi makhluk (sebuah kekeliruan kategori). Sebaliknya, ini adalah tentang Tajalli yang sempurna.
Firman (Sifat Allah) menjadikan kemanusiaan sebagai wadah atau cermin paling jernih untuk menampakkan diri-Nya. Tubuh jasmani Yesus berfungsi sebagai lensa yang memfokuskan Sifat-sifat Tuhan—Kasih, Kebenaran, dan Kehidupan—agar dapat disaksikan secara nyata oleh mata manusia. Ia adalah Insan Kamil, cermin yang tidak lagi tertutup debu, sehingga melalui-Nya, manusia dapat melihat kemuliaan Sang Bapa secara utuh.
Refleksi : Bukan Perubahan, melainkan Penyingkapan
Penting untuk dipahami bahwa dalam kerangka ini, Tuhan tidak pernah berubah menjadi manusia. Sebagaimana cermin yang memantulkan bayangan matahari tidak serta-merta menjadi matahari itu sendiri, kemanusiaan Yesus adalah "Mazhar" (tempat penampakan). Firman tersebut tetaplah Sifat yang abadi, sementara tubuh jasmani hanyalah wadah fana.
Kematian dan kebangkitan dalam narasi ini pun dapat dibaca sebagai pembersihan hijab. Saat tubuh jasmani yang fana disingkap, yang tersisa adalah Sifat-sifat jiwa yang abadi dan murni. Ini adalah undangan bagi setiap manusia : bahwa tujuan hidup adalah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Jika kita mampu membersihkan "cermin" diri kita dari kebisingan jasmani, maka kita pun akan mampu melihat "Tajalli" Tuhan dengan penglihatan yang tajam, sebagaimana janji kebangkitan—di mana saat itu, hijab tersingkap, dan kebenaran nampak sebagaimana adanya.
Melalui pembacaan ini, Injil Yohanes bukan lagi sekadar teks doktrinal yang kaku, melainkan sebuah peta perjalanan bagi jiwa manusia untuk kembali mengenali asal-usulnya, memandang Sang Firman bukan sebagai sosok yang jauh di masa lalu, melainkan sebagai Realitas yang selalu hadir dalam setiap detak kehidupan, menanti untuk disaksikan oleh penglihatan batin yang telah bersih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar