Halaman

Minggu, 24 Januari 2021

Lintasan Lintasan Hati

By Mang Anas

Lintasan Hati Bagian 1

 1.Al Hamdu :

Al Hamdu adalah seperangkat anugerah yang Allah swt berikan kepada manusia, baik yang berupa potensi yang ada di dalam diri ( potensi bawaan ) maupun potensi potensi yang berada diluar dirinya, seperti anugerah ditundukannya alam semesta, diutusnya nabi dan rasul serta diwariskannya petunjuk petunjuk ketuhanan sebagaimana yang tertera dalam kitab suci.

Dan nanti pada Yaumul Hisab, terhadap jiwa jiwa manusia,  anugerah " Al Hamdu " itulah yang akan ditanyakan dan dimintai pertanggung jawaban, untuk apa dipergunakan dan mengapa ?

2. Lafi Khusrin  :

Yaitu Orang yang Hatinya mati karena Jarang diasah, mereka tidak peka dalam melihat tanda tanda adanya kekuasaan Tuhan. Mereka punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat, mereka punya telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar dan mereka punya akal, mereka punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk berpikir dan mereka malas untuk merenung. Mereka itu buta, tuli dan bisu. Martabat mereka hina layaknya seekor keledai dan bahkan lebih hina lagi.

2. Ayat ayat yang berhubungan dengan Ar Rohman & Ar Rohim = Lahaula, Yagfiru liman yasa, Khayata dunnya laibun, 

a. Lahaula :

ini Ibarat Sumber Utama Tegangan atau Asal Muasal dari daya dan kekuatan atau ibarat mesin Pengisi Daya  atau Mesin Pembangkit Listrik yang bertegangan Tinggi  ----> Otoritas ini Mutlak hanya dimiliki Allah Swt.

b. Illah Billah :

Ibaratnya baterai dari sebuah HP, ia baru bisa memiliki daya hanya apabila terlebih dahulu mendapat limpahan daya dari sumber tegangan melalui proses  isi daya  ---> ini otonomi yang diberikan Allah swt kepada Manusia dan Jin ( otonomi terbatas ).

c. Yaghfiru liman yasa wa yuaddibu man yasa

    #  Yaghfiru liman yasa :

        ketentuan ini berlaku dimaqom asbab. 

    # wa yuaddibu man yasa

        ketentuan ini berlaku dimaqom tajrid.

d. Khayata Dunnya Laibun : 

Gurat takdir dan warna Kehidupan semua Mahluk sudah ditentukan oleh yang Maha Kuasa semenjak mereka masih berada di alam Al Hamdu ( Esensi Nur Muhammad )  ---> yaitu sebagian terbesar diletakan pada kodrat Ar- Rohman dan sebagian kecil diletakkannya pada kodrat Ar- Rohim, sebagian manusia ada yang ditempatkan ditempat yang jauh dariNya,  ada yang diletakan ditengah tengah atau  sedang ( gurat takdir Ar Rahman ), dan juga ada yang sengaja ditempatkan didekat diriNya ( gurat takdir Ar Rahim ). Tetapi hakekat dari semuanya itu adalah permainan atau " Laibun " dari sang Maha Rahman, yang tujuannya semata mata untuk menguji manusia. Seberapa besar kesungguhannya, seberapa tebal tekadnya, serta seberapa gigih usahanya untuk tetap istiqomah dijalan taat  dan upayanya dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Ini semua Ibarat permainan bola, semua pemain harus bermain diposisinya masing masing, dan mereka semua harus bertanggung jawab untuk bisa bermain cantik, bisa bertahan atau menyerang di atau dari zona pertahanannya masing masing.

Dengan demikian yg disebut dengan Maqom  Tajrid & Asbab itu tidak lain hanyalah permainan takdir yang sengaja dilekatkan oleh Ar Rahman kepada masing masing hambanya supaya mereka berusaha untuk bisa bermain secantik mungkin sesuai dengan bidang tugas dan pembagian fungsinya masing masing.

Dimata Tuhan ; Kaya atau Miskin, Susah atau Senang, Jelek atau Cantik,  Mulia atau Hina, Bodoh atau Pintar, Penguasa atau Rakyat biasa semua berkedudukan sama. Hanya tingkat ketaqwalah yang nantinya akan dilihat dan yang akan dinilai.  Siapa yang bisa bermain cantik di zonanya masing masing itulah yang disebut sebagai orang orang yang beruntung ( Mutaqin ), mereka itulah yang akan dibalasi dengan surga. Dan adapun mereka yang malas, yang lemah semangat dan tidak bersungguh sungguh dalam memainkan lakonnya itulah yang disebut dengan " khosirun " atau orang orang yang rugi.

Itulah sebenarnya hakekat hidup dan kehidupan itu, itulah rahasia permainannya. Maka bersabar dan bertahanlah serta bermainlah dengan sungguh sungguh sesuai dengan perannya masing masing,

-----♤♤♤------

Seri Pengetahuan ilmu Hakikat,

RAHASIA Surat AL - FATIHA : 

Hakikat dari surat al - Fatiha adalah Misteri Diri Manusia. Didalam surat al- Fatiha itu Allah Swt meletakkan tiga  buah rahasianya didalam diri manusia, yaitu :

A. Rahasia Asmanya 

B. Rahasia Takdirnya

C. Rahasia Jalan Menuju Diri-Nya.

♡ Didalam diri manusia itu Allah Swt meletakkan 48 Asma-Nya, yaitu Asma- asma yang dulu pernah diajarkannya kepada Nabi Adam AS.  Dengan 48 Asma itulah dahulu nabi Adam AS dibentuk oleh Allah Swt menjadi makhluk-Nya yang paling Sempurna [ Fi Ahsani Takwim ] sehingga kemudian sebagian besar para Malaikat dan Iblis serta mahluk - makhluk Tuhan lainnya diperintahkan -Nya supaya  bersujud, menghamba, dan menjadi palayannya. Rahasia Asma ini tersembunyi didalam kalimat "  Al Hamdu lillahi robbil 'alamim".

♡ Pada masing- masing diri manusia juga Allah Swt kemudian meletakkan takdirnya, yang tujuannya tidak lain adalah untuk menguji siapa diantara hambanya yang dapat memahami dengan benar siapa hakikat dirinya, untuk apa ia ada, apa peran yang harus dijalaninya dan bagaimana cara menjalankannya. Rahasia Takdir ini tersembunyi didalam kalimat  " Ar Rahman dan Ar Rahim ".

♡ Di dalam diri manusia Allah Swt juga menanamkan sebuah kompas dan peta jalan menuju diri- Nya. Pada peta jalan itu Allah Swt menggambarkan bahwa jalan menuju dirinya itu hanya akan bisa ditempuh lewat dua buah rute, yaitu " rute  Na'budu "  dan " rute  Nasta'in ".

Para hamba-Nya yang ditempatkan- Nya didalam garis takdir Ar Rahman maka baginya disediakan Rute Na' budu. Siapa saja yang oleh Allah Swt ditempatkan pada rute ini maka untuk bisa sampai kapada- Nya diperlukan kerja ekstra keras [ sebab garis takdirnya berada dimaqom kasbi ]. -------> inilah jalan bagi para Syuhada wa Solihin.

Adapun bagi para hamba yang  Allah Swt tempatkan didalam garis takdir Ar Rahim maka baginya disediakan Rute Nasta'in. Siapa saja yang oleh Allah Swt ditempatkan pada rute ini maka jalannya menuju diri-Nya akan dimudahkan karena Allah Swt menempatkannya dimaqom Tajrid. Terhadap kelompok ini Allah Swt meletakkan sebuah tugas, yaitu menjadi pembimbing rohani atas manusia.------> Inilah jalan bagi para Ambiya wal Mursalin serta kelompok Sidiqin [ para Mursyid ].

Kebalikan dari keduanya adalah jalan para hamba yang tersesat serta tidak dapat menemukan jalan pulang, yaitu mereka yang malah memilih jalan Tagut [ jalan Syetan ] yakni kelompok " Al Magdhub dan Ad Dholin ".  Karena mereka saat hidup didunia tidak kunjung dapat memahami siapa dirinya, untuk apa ia ada serta saat hidup didunia tidak dapat menjalankan perannya dengan benar. Pada dasarnya mereka ini adalah orang orang yang malas, yang terperdaya dan tersandra oleh nafsunya sendiri.


------♤♤♤ -------

Lintasan Hati Bagian 2

# Part 1

Fadzilah yang dianugerahkan kepada seorang hamba sebagai buah dari dzikir :

1. Dzikir Subkhanallah = anugerah ilmu, yaitu ilmu yang didapat sebagai buah dari ilham.

2. Dzikir Alkhamdulillah = anugerah Hikmah, yaitu kemampuan untuk memahami kesejatian dari segala sesuatu ( kasafy ) yang diimplementasikan sesuai dengan situasi dan kondisi.

3. Dzikir La ilaha illa Allah = anugerah Poros atau Pewaris, Yaitu pribadi hamba yang didudukan dalam posisi khalifah setelah dinyatakan lulus mengatasi segala bentuk ujian hidup [ berhasil menundukan hawa nafsu ].

4. Dzikir Allahu Akbar = anugerah Wadah, yakni berupa diluaskannya dada si hamba oleh Allah swt sehingga ilmu dan hikmah yang terkandung didalam al quran karim itu bisa masuk kedalam dadanya, kedua duanya dapat ditampung dan berhasil dikuasainya.


# Part 3

Makna Simbolis Dari Bangunan Kabah Yang Berbentuk Kubus : Memiliki 4 Sisi dan 4 Sudut

♤ 4 Sisi melambangkan unsur Dhohirnya Manusia yaitu  : Tanah - Air - Api dan Angin 

♤ 4 Sudut melambangkan unsur Batinnya Manusia yaitu : Akal - Nafs /Jiwa - Ruh dan Rasha

♤  Sari pati Tanah mewujudkan Akal, Saripati Air mewujudkan Nafs/ Jiwa, Saripati Api mewujudkan Roh dan Saripati angin mewujudkan Rasha.

♤ Komposisi dan Kombinasi dari ke - delapan Unsur Dhohir dan Batin manusia itu akan sangat mempengaruhi keadaan hati seseorang. Karena  hakekat dari Hati adalah wadah dari semua unsur nafsu. Bahkan bisa dikatakan bahwa hakekat dari hati adalah Nafsu itu sendiri.

# Jenis, Sifat, Corak, Warna, Watak dan Tabiat Nafsu yang ada didalam diri seseorang itu sangat dipengaruhi oleh sifat intraksi, kadar percampuran unsur unsur, kohesitas dan intensitas hubungan yang terjadi antar empat unsur dhohir dan batin tersebut diatas. Sifat hubungan itu sangat mirip dengan sistem Equalizer pada perangkat elektronik atau hukum elektroda dalam ilmu elektro atau Hukum Reaksi pencampuran dalam ilmu kimia. 

Dengan demikian maka yang disebut dengan Mujahadah atau perang melawan hawa nafsu itu pada hakekatnya adalah bagaimana upaya dan cara kita dalam menakar, meracik, mencampur unsur unsur, menyambung dan mengkombinasikan ke - empat unsur dhohir dan batin tersebut diatas sehingga menghasilkan susunan, komposisi dan kombinasi yang paling harmonis. Tetapi disinilah justru letak kerumitannya, karena komposisi unsur yang membentuk nafsu dalam diri setiap manusia itu kadarnya berbeda beda, kombinasinya juga cendrung unik, dan keragamannya mirip dengan sidik jari. 

Oleh karenanya agar upaya menundukan hawa nafsu itu bisa berhasil maka kita dituntut untuk terlebih dahulu dapat mengenali diri kita yang cendrung unik itu, selanjutnya perlu memahami seluk beluk Hawa Nafsu, baru kemudian kita bermujahadah, dengan banyak berdoa dan berdzikir kepada Allah Swt agar kita senantiasa mendapatkan bimbingan dan pertolongan - dariNya.  

Hakekat dzikir adalah men - thawafkan ke-delapan unsur tersebut diatas agar ia senantiasa bergerak mengitari inti hati ( Ka'bah didalam diri ), maka manakala kedelapan unsur itu terus menerus bergerak,  berputar dan berpusing mengikuti gerak thawaf dengan intensitas yang semakin naik, maka sebagai mana tehnik fusi dalam pemurnian atom lambat laun ke-delapan unsur itu akan akan mencapai titik kemurniannya. Inilah yang disebut dengan titik Nol, yaitu suatu keadaan dimana  setiap unsur atau anasir nafsu sudah mampu menyelaraskan dirinya secara sempurna dengan unsur unsur dan anasir lainnya. Maka dalam keadaan ini setiap unsur dan anasir dari nafsu itu telah mencapai titik keseimbangannya ( Mutmainnah ).


# Part 4

Bedaran lafadz Dhikir ; 

Laa khaula wala kuwwata illa billah = Nafsu Mutmainnah, yaitu Manunggalnya unsur Iman, Ikhtiar dan Sabar dalam 1 pribadi secara berkekalan.

# Part 5

Bedaran Maksud Ayat   مِّن رَّبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ :

تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

" Diturunkan dari Rabbil 'alamiin. " - Al-Quran 56:80

Penjelasan :

تنزيل =   Cetak biru, Copy-an atau turunan    

من رب =  dari sistem alam semesta

Kata " Min Rabbil 'alamiin" Disini mengandung pengertian bahwa hakekat al quran itu sebenarnya merupakan copy atau cetak biru dari sistem alam semesta, oleh karenanya jika  manusia itu mampu merealisasikan nilai nilai isi kandungan al quran maka kehidupannya pasti akan bisa selaras dengan alam. Dan ia dipastikan akan bisa mengemban tugas ke khalifahannya.

# Part 6

Takwil Alif Lam Ro :

 الٓر ۚ تِلْكَ ءَايٰتُ ٱلْكِتٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ

" Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. "- QS. 15 : 1

Makna Takwil  الٓر

تِلْكَ  = أ   -------->  dengan ini

ءَايٰتُ ٱلْكِتٰبِ = ل --------> kami jelaskan tanda - tanda kekuasaan kami baik yang dilangit maupun yang ada dibumi

 وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ = ر ------>  dan  tanda - tanda itu sesungguhnya dapat kamu lihat dengan jelas 


-------- ☆☆☆ ---------

Part 7

Takwil 

الٓمٓصٓ

"Alif Lam Mim Sad." -(QS. Al-A'raf 7: Ayat 1)

ال =  Al Quran ini adalah kitab yang diturunkan kepada 

م =  Muhammad dan para pewarisnya 

ص = Dengan cara di curahkan ke dalam dada Muhammad dan dada pewarisnya, agar dengan kitab itu mudah - mudahan engkau dapat menyadarkan orang orang kafir dan mengajari orang orang yang beriman supaya mereka lebih mengenal Allah dan lebih mendekat lagi kepada - Nya.

Dengan demikian subtansi makna dari   المص itu dijabarkan secara gamblang oleh ayat ke 2 : 

كِتٰبٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِى صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِۦ وَذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai Muhammad dan para pewarisnya _   (Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu ; maka janganlah engkau sesak dada karenanya _ yang maksudnya janganlah engkau merasa enggan atau merasa keberatan saat diberi tugas,  _ dengan bekal kitab itu mudah - mudahan engkau dapat menyadarkan mereka _ orang orang kafir _ dan mengajari orang orang yang beriman _ supaya mereka dapat lebih mengenal Allah dan bertambah dekat dengan - Nya ." - (QS. Al-A'raf 7: Ayat 2

----- ♤♤♤ -----

Takwil Makna Simbol Huruf  طسٓ 

طسٓ  ۚ تِلْكَ ءَايٰتُ الْقُرْءَانِ وَكِتَابٍ مُّبِينٍ

"Tha Sin. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an, dan Kitab yang jelas," - ( QS. An-Naml 27: Ayat 1)

هُدًى وَبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِينَ

"petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman," - ( QS. An-Naml 27: Ayat 2)

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ بِالْأَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

"(yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, dan mereka meyakini adanya akhirat." - ( QS. An-Naml 27: Ayat 3)

Penjelasan Makna Takwil Huruf  طسٓ [ Gotong - Royong ].

ط  =   ۚ تِلْكَ ءَايٰتُ الْقُرْءَانِ وَكِتَابٍ مُّبِينٍ ♡ هُدًى وَبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِينَ

س =  الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ بِالْأَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Dengan demikian makna dari huruf :

Huruf Tho_ ط _ = Adalah sebuah Kitab atau ayat - ayat Al Quran yang berfungsi sebagai petunjuk dan pembawa berita gembira bagi orang - orang yang beriman.

Huruf Sin _ س _ =  adalah tiga sifat atau tiga amalan yang menjadi ciri orang - orang yang beriman, yaitu mendirikan Shalat, menunaikan kewajiban zakat serta mereka sangat meyakini adanya kehidupan ahirat. 


Takwil  kalimat  عَرْشُهُۥ عَلَى الْمَآءِ

وَهُوَ الَّذِى خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى الْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا  ۗ وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَّبْعُوثُونَ مِنۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوٓا إِنْ هٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, dan 'Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati," niscaya orang kafir itu akan berkata, "Ini hanyalah sihir yang nyata."- (QS. Hud 11: Ayat 7)

وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى الْمَآءِ = Dapat diartikan, Allah itu bersemayam di hati [ Jiwa ], mengingat Air atau Maa itu sendiri adalah merupakan perlambang dari jiwa.



Rabu, 20 Januari 2021

Hikmah, Ilmu Yang Telah Menjadi " Laku "

 

MINGGU, 26 JANUARI 2020 | 14:15 WIB

Ulil Abshar Abdalla / Cendekiawan muslim


Tiap- tiap orang biasanya memiliki ayat favorit tertentu dalam Qur’an, sesuai dengan kecenderungan intelektual, spiritual, dan personalnya masing-masing.

Orang-orang yang menggemari “ilmu kanuragan”, tentu menghafal dengan baik ayat-ayat yang berkaitan dengan “kejadugan”.

Sementara orang-orang yang menggemari mistik atau ilmu tasawwuf, tentu akan menyukai ayat-ayat “mistikal”, misalnya ayat 24:35 dalam Surah al-Nur: Tuhan adalah cahaya langit dan bumi. Ayat ini ditafsirkan secara mistikal dan filosofis oleh Imam Ghazali (w. 1111) dalam kitabnya yang masyhur, Misykat al-Anwar.

Salah satu ayat favorit saya adalah QS 2:269: 

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

"Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang berlimpah. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat."

Jika direnungi secara reflektif dan dengan menggunakan "mata rohani" yang tajam, ayat ini akan membawa kita kepada kebijaksanaan yang kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa makna “hikmah" dalam ayat itu?

Ibn Rusyd, filsuf besar Muslim dari Andalusia (Spanyol) yang hidup di abad ke-12, menyepadankan "hikmah" dengan "falsafah" dalam pegertain yang dikenal di Yunani. Dan ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada, sebab kata "sophia" dalam bahasa Yunani sepadan-semakna dengan "hikmah" (kebijaksanaan) dalam bahasa Arab.

Ayat dalam surah al-Baqarah itu, dalam pandangan Ibn Ruysd, bermakna: barangsiapa diberikan anugerah berupa "filsafat", maka ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak. Tetapi, filsafat di sini harus dipahami dalam pengertian "hikmah" seperti akan saya jelaskan di bawah.

Al-Razi (w. 1209), seorang teolog dari abad ke-12 yang menulis tafsir massif "Mafatih al-Ghaib", menafsirkan hikmah di sini, antara lain, sebagai berikut: “al-takhalluq bi-akhlaqi Allah 'ala qadri al-thaqah al-basyariyyah”; berusaha untuk berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan seturut dengan kemampuan manusia.

Dengan kata lain, hikmah adalah usaha manusia untuk meniru tindakan Tuhan, untuk mendekati sifat-sifat ketuhanan. Oleh karena itu, dalam tradisi filsafat Islam, seorang filsuf, alias seseorang yang mempelajari dan mempraktekkan hikmah dalam kehidupannya, biasa juga disebut sebagai "al-muta'allih", seseorang yang mencoba meniru dan mendekati sifat-sifar ketuhanan (“muta'allih" berasal dari akar kata "ilah" yang artinya: Tuhan).

Seorang filsuf besar Iran yang hidup hampir sezaman dengan Kiai Mutamakkin (Kiai Cebolek) dari Pati, yaitu Mulla Shadra (w. 1640), misalnya, disebut sebagai "shadr al-muta'allihin", seorang "muta'allih" (dalam pengertian: seorang bijak yang berhasil medekati sifats-sifat ketuhanan) yang paling terdepan.

Apa yang dikatakan baik oleh Ibnu Rusyd maupun al-Razi, walau diungkapkan dalam rumusan yang beda, pada dasarnya mengandung pengertian yang sama: hikmah adalah suatu kebijaksanaan yang lahir karena seseorang bertindak sesuai dengan ilmunya, dan dengan cara yang tepat, sesuai dengan siatuasi yang dihadapinya.

Tindakan yang tepat, bijak, sesuai dengan ilmu, sesuai dengan situasi yang ada sejatinya adalah "tindakan ketuhanan" itu sendiri. Itulah akhlak yang sejatinya akhlak. Seseorang yang medapatkan anugerah hikmah semacam ini, ia mendapatkan kebaikan yang berlimpah, sebagaimana diungkapkan dalam QS 2:296 itu.

Di sini, kita harus membedakan antara dua hal: "ilmu" dan "hikmah". Ilmu adalah sejenis informasi atau pengetahun yang bersifat "nadzari", teoritis, yang berhasil kita transfer ke dalam pikiran atau otak. Ilmu adalah suatu entitas atau keberadaan yang sifatnya "virtual"; dia hanya ada dalam fikiran, belum mengalami transformasi menjadi tindakan.

Sementara hikmah lain lagi: ia adalah ilmu yang sudah berubah menjadi laku, menjadi akhlak, menyatu dengan tubuh kita. Hikmah, kalau mau memakai bahasa dalam filsafat mutakhir, adalah “an embodied knowledge”, suatu pengetahuan yang sudah menyatu dalam tubuh kita.

Pengetahuan tentang bagaimana cara berenang yang tertuang dalam buku-buku mengenai "teknik renang" adalah ilmu. Tetapi teknik renang yang sudah menyatu menjadi bagian dari tubuh Michael Phelps, seorang jagoan renang Amerika yang masyhur itu, adalah "hikmah".

Teknik kungfu yang tertulis dalam buku adalah ilmu. Tetapi teknik kungfu yang sudah menyatu dalam tubuh seorang Bruce Lee adalah hikmah, karena ia telah menjadi “an embodied knowledge”, ilmu yang ditubuhkan.

Dalam pandangan filsuf Muslim klasik (dan pandangan serupa juga kita jumpai dalam tradisi filsafat Yunani), sumber kebahagiaan (al-sa'adah [Arab]; eudaemonia [Yunani]) bukanlah harta, atau bahkan ilmu dalam pengertian "pengetahuan teoritis" (al-'ulum al-nazariyyah), melainkan "hikmah", yaitu ilmu yang sudah menjadi "laku". Orang-orang Jawa sebetulnya memiliki istilah yang sangat bagus: ilmu dan "ngelmu".

Ilmu adalah pengetahuan sebatas sebagai informasi. Tetapi "ngelmu" adalah pengetahuan yang telah menyatu menjadi prilaku. “Ngelmu iku kalakone kanti laku,” demikian dikatakan dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV (w. 1820).

Ilmu yang tidak berlanjut menjadi "laku", menjadi panduan dalam prilaku hidup sehari-hari, dan berhenti hanya menjadi informasi yang ditimbun di kepala, akan mejadi sumber kesengsaraan.

Seseorang yang memiliki banyak informasi dan pengetahuan mengenai banyak hal, tetapi tidak bisa "meng-eksekusi" pengetahuannya itu, dia bisa mengalami frustrasi yang berat, bahkan depressi.

Ini terjadi pada banyak sarjana yang meraih pengetahuan berlimpah dari Barat, kemudian pulang ke tanah air, dan, karena satu dan lain hal, tidak bisa menerapkan ilmunya itu. Orang-orang seperti ini rentan mengalami tekanan mental yang akut.

Kebahagiaan yang tak ternilai bagi seorang yang memiliki ilmu adalah mendapatkan "panggung", kesempatan, lahan, "kavling sosial" untuk menerapkan ilmunya, untuk menerjemahkan ilmunya itu menjadi "laku", lalu melahirkan "hikmah".

Bagi saya, keistimewaan para kiai di pesantren-pesantren bukanlah karena banyaknya ilmu yang mereka kuasai, meruahnya kitab yang mereka koleksi dan pajang ruang tamu, melainkan kemampuan para kiai itu menjadikan ilmu yang mereka miliki sebagai "laku".

Dari segi ilmu, jelas para kiai itu kalah jauh dari para sarjana dan profesor yang mengajar di perguruan tinggi modern. Publikasi ilmiah para kiai di pondok-pondok itu jelas sangat minimal, jika malah bukan nihil sama sekali.

Tetapi, dari segi hikmah dan "laku", jelas para kiai itu jauh mengungguli para profesor di universitas-universitas modern. Sebab, para kiai ini tidak sekedar mempelajari ilmu sebagai “an exercise in intellectual luxury”, menjalani suatu kegiatan inelektual yang mewah. Bagi mereka, ilmu adalah langkah awal untuk menjadi seorang yang bijak.

Ilmu yang tertansformasi menjadi "laku" inilah yang membuat seseorang bisa memiliki “kualitas linuwih”. Di pesantren di daerah pantura Jawa Tengah, kualitas seperti ini disebut: "suwuk". Seseorang yang telah me-"lako"-ni ilmunya sepanjang hayat, ia akan bisa menjadi "guru" dalam pengertian "mursyid" (master) yang bisa dapat mengubah watak dan kepribadian orang lain, seperti tergambar dalam kisah Sunan Kalijaga yang berubah total, dari seorang yang berperangai buruk menjadi seorang wali, hanya gara-gara bertemu dengan sosok bijak, muta'allih, bernama Sunan Bonang.

Seorang "hakim" adalah seperti seseorang yang menguasai ilmu "alchemy" dalam pengertian tradisional. Sebagai disiplin ilmu, alkemi jelas sudah terdiskreditkan oleh penemuan kimia modern. Tetapi sebagai "ilmu rohani", alkemi jelas tidak bisa digantikan oleh ilmu yang terakhir itu.

Alkemi adalah ilmu yang dipercayai bisa mengubah logam biasa (misalnya besi) menjadi logam mulia (seperti emas). Seorang "hakim" yang "muta'allih" layaknya seorang ahli alkemi: dia bisa bertindak seperti Sunan Bonang itu, mengubah seseorang yang akhlaknya kasar, preman (persis dengan logam biasa – "besi") menjadi seseorang yang berakhlak mulia, seperti "emas".

Hikmah adalah ilmu yang bersifat transformatif, dia mengubah seseorang dari "logam biasa" menjadi "logam mulia", dari manusia biasa menjadi "insan kamil", manusia sempurna. Ini tidak terjadi pada ilmu yang berhenti menjadi pengetahuan teoritis belaka. Hikmah adalah ilmu yang mengalami transformasi menjadi laku, dan dari sanalah kebahagiaan memancar. 

( Ulil Abshar Abdalla / Cendekiawan muslim )


-----------♤♤♤---------------


Beberapa Catatan tentang pengertian Hikmah :

MERUJUK ke bahasa Arab, asalnya, kata hikmah punya beberapa arti (lafazh musytarak). Dalam Lisan al-Arab, Ibn Manzhur menyebut hikmah itu al-qadha, artinya memutuskan.

Sedang di al-Mu’jam al-Wasîth, hikmah berasal dari kata hakama, bermakna melarang atau menghalangi (mana’a). Hukum itu dikatakan tegak jika menghalangi seseorang berbuat kezhaliman.

Selanjutnya, hikmah juga bermaksud adil dalam memutuskan sesuatu. Hikmah adalah mengetahui hakikat segala sesuatu apa adanya, dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya (Mu’jam Taj al-Arus).

Hikmah Sakit dan Penggugur Dosa

Dalam Mafhum al-Hikmah fi al-Da’wah, Dr. Shaleh ibn Abdullah ibn Humaid menjelaskan, kata al-hikmah berasal dari kata al-hakamah. Yaitu tali kekang binatang yang dengannya orang bisa mengendalikan hewannya sesuai dengan keinginannya. Diharapkan, dengan hikmah, orang itu bisa terkendali dari akhlak-akhlak yang tidak terpuji.

Hikmah dalam al-Qur’an

Kata hikmah juga didapati dalam al-Qur’an. Sebut misalnya, “Dan yang telah diturunkan kepada kalian dari kitab dan hikmah untuk memberikan nasihat dan pengajaran kepadamu,” (QS. Al-Baqarah [2]: 231). Hikmah di sini bermakna nasihat, seperti dikatakan ar-Razi mengutip pendapat al-Muqatil. (Tafsir Mafatih al-Ghaib).

Hikmah juga bermakna pemahaman. Seperti ditunjukkan dalam ayat: “Dan Kami memberikan al-hikmah (pemahaman) kepadanya (Yahya) ketika dia masih kecil.” (QS. Maryam [19]: 12). Ibn Katsir menerangkan bahwa Kami memberikan kepada Yahya pemahaman, ilmu, kesungguhan memenuhi panggilan kebaikan dan konsisten atasnya (Tafsir al-Qur’an al-Azhim).

Makna hikmah selanjutnya adalah pengetahuan. Allah berfirman: “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah (ilmu dan pemahaman) serta kenabian.” (QS. Al-An’am [6]: 89). Prof. Wahbah az-Zuhaili mengatakan, al-hukma dalam ayat tersebut berarti ilmu yang bermanfaat dan pemahaman terhadap agama. (Tafsir al-Munir).

Hikmah juga bisa bermaksud kenabian (nubuwah). Firman Allah: “Sungguh Kami telah memberikan kitab dan hikmah (kenabian) kepada keluarga Ibrahim.” (QS. An-Nisa [4]: 54). Mufassir Abdurrahman as-Sa’di menerangkan bahwa Allah memberikan nikmat kenabian dan kitab kepada Ibrahim dan keturunannya. (Tafsir Karim ar-Rahman fi Kalam al-Mannan).

Hikmah Saat Diberi Ujian (1)

Makna yang sama terdapat dalam QS. Shad [38]: 20. Allah berfirman: “Dan kami berikan hikmah (kenabian) kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan.” Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan, hikmah artinya adalah kenabian dan ketepatan dalam segala perkara.

Makna berikut bisa dilihat di ayat yang lain. Allah berfirman: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (perkataan yang tegas dan benar) dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125).

Terakhir, kata hikmah juga terdapat pada ayat: “Dia memberikan hikmah (kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syari’at Islam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

Dalam Tesis berjudul “Konsep Pendidikan Hikmah dalam al-Qur’an, UIKA Bogor 2016” Abd. Hafidh menyebut setidaknya ada 11 makna hikmah yang beririsan dalam al-Qur’an.

Pertama; kenabian dan kerasulan (an-nubuwah wa ar-risâlah),kedua; tafsir (takwil) al-Qur’an (tafsir al-Qur’an wa ta’wiluhu), ketiga; memahami rahasia dan detail-detail syariat Islam (al-ilm wa fahm ad-daqa’iq wa al-fiqh fi ad-din), keempat; mengetahui kebenaran dan mengamalkannya (ma’rifatu al-haq wa al-amalu bihi), kelima; amal shalih (al-amal al-shalih), keenam; menghalangi kezhaliman (man’u azh-zhulm), ketujuh; nasihat dan peringatan (al-wa’zhu wa at-tazkir), kedelapan; ayat-ayat al-Qur’an, perintah-perintah dan larangan-larangannya (ayat al-Qur’an wa awamiruhu wa nawahihi), kesembilan, kemampuan akal memahami hukum-hukum syari’ah (hujjatu al-aql ala wifqi ahkam al-syari’ah), kesepuluh; meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya (wadh’u asy-syai’ fi maudhi’ihi), kesebelas; mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan, di saat dan momen yang tepat.*








Minggu, 17 Januari 2021

Waktu Shalat dan Makna - makna Simbolisnya

By Mang Anas

" Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." - Al-Quran 17:44

"Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari." - ( QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 15)



1. Waktu Dhuhur 

Simbol Rukun Shalat = Berdiri 

Makna   =   Al - Muraqabah &  Al - Qurb  perasaan diawasi & perasaan dekat )

Simbol huruf =   ا ( Alif ), yang artinya Bibit,  Kawitan, asal usul serta bekal. ا ( Alif )  juga bisa diartikan   وَأَقِيمُوا الصَّلَاة  yang artinya siapa menerima amanah, siap menerima perintah dan siap melaksanakan tugas tugas ke-khalifahan dimuka bumi sebagai amanah dan perintah dari Tuhan yang Maha Besar, Maha Agung dan yang Maha Tinggi.

Simbol Ayat :  

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ  ♡ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

" Segala puji bagi Allah, Tuhan ( yang telah mengamanatkan manusia untuk menjadi wakilnya dimuka bumi, dan yang telah menganugerahkan semua yang ada di ) semesta alam ( ini untuk dikelola oleh manusia agar digunakan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki oleh )"  -  ( Tuhan yang ) " Maha Pemurah, yang Maha Penyayang " - Al-Quran 1: 2 - 3

Posisi Matahari = Matahari tegak lurus diatas kepala, pada saat itu Matahari pun berdiri, ia turut berdiri bersama orang orang yang mendirikan shalat dhuhur.

Konteks Ayat :  

 وَلَقَدْ مَكَّـنّٰكُمْ فِى الْاَ رْضِ وَجَعَلْنَا لَـكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ  ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

"Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur." - (QS. Al-A'raf 7: Ayat 10)

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit 
dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) 
dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum 
yang berpikir”. (QS. al-Jaatsiyah; 45/13)

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?" - Al-Quran 27:59

" Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)." - Al-Quran 27:60

" Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. " - Al-Quran 27:61

" Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). "- Al-Quran 27:62

Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). " -  Al-Quran 27:63

Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".  -  Al-Quran 27:64

" Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa". -  Al-Quran 7:171

" Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", -  Al-Quran 7:172


2.  Waktu Ashar

Simbol Rukun Shalat =  Ruku 

Makna :    Al - Khauf wal al Raja' &  Al - Mahabbah  - ( harap harap cemas  & perasaan cinta )

Simbol huruf =    ر  atau  ( رَاكِعًا )  yang artinya mereka yang menyungkur , yang merunduk, yang melayani dan yang menyesali dosa dosanya dengan sungguh sungguh. Mereka yang memuji, mereka yang bersyukur, mereka yang berdoa dan yang memohon pertolongan dengan suara yang lembut. 

Simbol Ayat :   اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

" Hanya kepada Engkaulah kami menyembah ( akan senantiasa taat, mengabdi dan melayani, serta tunduk dan patuh dengan sepenuh hati ) dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan ". - (Al-Fātiḥah [1]:5)

Posisi Matahari = Matahari Condong, pada saat itu Matahari pun menunduk , ia ruku bersama orang orang yang mendirikan shalat Ashar

Konteks Ayat :   

" Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. " - Al-Quran 6:79

" Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. " -  Al-Quran 6:162

Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". - 
Al-Quran 6:163

3. Waktu Magrib

Simbol Rukun Shalat = Sujud 

Makna :   Al - Syauq & Al - Uns ( perasaan Rindu yang tak terperi & perasaan Tentram dihadirat - Nya )

Simbol huruf =  ه ( Ha ), yakni orang sudah sampai pada maqom Fana, ia telah meleburkan dirinya dengan Dzat yang dicintainya. Lebur luluhnya Rasha hamba kepada Asma, Sifat dan Dzat - Nya. Lebur selebur leburnya hingga tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya dan Ia merasa tentram dihadirat - Nya, Maqom Fana billah.

Simbol Ayat  :    اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

" Bimbinglah kami ke jalan yang lurus ( yaitu leburnya rasha hamba kehadirat - Nya, maqom Fana Billah ), ". - (Al-Fātiḥah [1]:6)

Posisi Matahari =  Matahari Tenggelam ( Fana Billah ), pada saat itu Matahari dan Bulan sujud bersama, keduanya bersujud bersama orang orang yang mendirikan shalat Magrib.

Konteks Ayat  : 

" Hai jiwa yang tenang." -  Al-Quran 89:27

" Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya." - Al-Quran 89:28

" Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, " -  Al-Quran 89:29

" masuklah ke dalam surga-Ku. " - Al-Quran 89:30

4. Waktu Isya #)

Simbol Rukun Shalat = Duduk Tahiyat

Makna  :   Al - Musyahadah ( perasaan menyaksikan tuhan dengan mata hati )

Simbol huruf =   ذ ( Dhal ), atau  درجة   artinya adalah kedudukan atau pangkat, orang yang berhasil meraih dua kedudukan dan dua pangkat dan dua status sekaligus , yaitu status yang tinggi didunia dan diahirat . Pribadi yang teguh dan Istiqomah. Manusia yang telah teruji mampu menjalankan semua tugas dan titah dari Tuhan yang Maha Besar, Maha Agung dan MahaTinggi. Kepadanya Allah Swt  menyematkan pangkat,  ia mendudukan hambanya pada kedudukan yang Agung, yaitu maqom Khalifah yang bergelar عبدلله , dia lah Sang Pewaris dan yang menjadi wakil Tuhan dimuka Bumi. 

Simbol Ayat :    صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ 

" (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat ( orang orang yang telah engkau dudukan pada maqom khalifah, yaitu mereka yang telah mencapai maqom huruf Dal ), "  - (Al-Fātiḥah [1]:7)

Posisi Bulan =  Bulan tegak diatas kepala, pada saat itu bulan pun duduk, ia duduk Tahiyat bersama orang orang yang mendirikan shalat Isya.

Konteks Ayat :  Firman Allah Swt,

" Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi." - Al-Quran 19:56

" Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. "- Al-Quran 19:57

" Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." -  Al-Quran 19:58

5. Waktu Subuh 

Simbol Rukun Shalat  = Salam 

Makna  :  Al - Yaqin  ( perasaan yakin kepada- Nya ).

Simbol huruf =  ش ( Shin ), atau  سلام yang artinya menyebarkan dharma,  menyebarkan kebaikan, birri wa takwa. Menyebarkan keselamatan, ketentraman, kedamaian dan keharmonisan dikalangan umat manusia dan kepada alam semesta ( misi rahmatal lil alamin ).  

Simbol ayat  :   غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

" bukan (jalan) mereka ( para pendahulu kami )  yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat ( maka bimbinglah kami ke kepada jalan yang ditempuh oleh Muhammad dan para pengikutnya yang setia , yaitu jalan salam, jalan yang bisa mengembalikan kami kepada fitrah ) " - (Al-Fātiḥah [1]:7)

Posisi bulan = Bulan hampir tenggelam dan Matahari akan segera terbit ( waktunya menjelang pergantian dari malam ke siang hari ), pada saat itu bulan dan matahari saling menyapa dan mereka berdua juga memberi salam kepada semua yang hidup bersama orang orang yang mendirikan shalat shubuh.

Konteks Ayat : 

" Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)." - Al-Quran 36:55

" Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan." -  Al-Quran 36:56

" Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta."  -  Al-Quran 36:57

" Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, " - Al-Quran 56:25

(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. -  Al-Quran 36:58


------------ ♤♤♤ -----------

#) Catatan : Terkait waktu pelaksanaan shalat Isya,  Imam Muslim meriwayatkan hadits sebagai berikut : " Lebih afdhal jika Shalat Isya itu dikerjakan di pertengahan atau sepertiga malam, karena pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan shalat isya’ sehingga para shahabat berkata : ‘Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tidur, lalu beliau keluar dan shalat bersama mereka kemudian bersabda :

 إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى 

' Sesungguhnya inilah waktu yang paling tepat (untuk shalat isya’) kalaulah tidak memberatkan umatku'.  [ Hadits Riwayat Muslim. Kitabul Masyajidi, bab Waktul isya’ wa takhiruka ] "

Kesimpulan :

# Hakekat Shalat adalah Proses pembentukan diri agar manusia mampu menjadi khalifah Tuhan dimuka bumi.

# Sejatinya shalat adalah ilmu " Brayan Urip " atau ilmu tentang tata cara bagaimana hidup bersama secara benar, baik, benar terhormat.

# Cahaya Matahari dan Bulan adalah simbol rohani alam semesta,  mereka senantiasa berdzikir dan bertasbih kepada Tuhan disepanjang waktu dan mereka selalu mengiringi shalat shalat kita dengan jiwa jiwa mereka. Mereka ikut berdiri, rukuk, duduk dan sujud bersama kita. Hanya saja kita tidak tahu tasbih mereka.

Semoga bermanfaat.

Indramayu, 17 Januari 2021


Rabu, 16 Desember 2020

Tafsir Isyari Menguak Aspek yang Terabaikan


Ikmal Online 29 April 2011

Oleh : Salman Fadllullah, M.A 

           Apresisasi kaum muslimin dari berbagai kalangan  terhadap al-Quran menunjukkan  bahwa al-Quran—baik disadari atau tidak—adalah bagian dari kekuatan kudus. Dr. Syihabudin Qalyubi  menyatakan bahwa banyak orang yang kagum kepada al-Quran, namun mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka kagum atau tertarik. Pesona al-Quran bukan hanya karena faktor dogma teologis tapi juga karena  ada faktor  inheren di dalam teks itu sendiri.Karena itu, Thâhâ Husayn (1889-1973) menyatakan bahwa al-Quran tidak bisa disebut dengan puisi atau prosa. Al-Quran tidak bisa bisa dikategorikan dengan nama apapun. Ia adalah kitab yang sangat sempurna yang datang dari Yang Mahabijak dan Maha memiliki pengetahuan.

Al-Quran adalah kalamullah dan kitabullah sekaligus. Kalamullah artinya  wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw, adapun kitabullah artinya mushaf yang ada di tangan kita ini—yang terjaga keasliannya dari sejak diturunkan hingga sekarang. Al-Quran sebagai kalamullah jika kalam difahami sebagai sifat Allah—maka al-Quran bukanlah makhluk; ia abadi. Namun jika kalamullah difahami sebagai kreasi, perbuatan (af ’al)  Allah yaitu Allah berbicara kepada Rasulullah—maka ia adalah makhluk-Nya, sebab Af ’al tuhan meniscayakan sisi lain yang menjadi penerima wahyu tersebut. Kesalahfahaman dalam menempatkan makna kalamullah ini pernah melahirkan fitnah antara Asy’ari dan Muktazilah. Kelompok Asy’ari menuduh Muktazilah—yang menganggap al-Quran sebagai makhluk—telah kafir.  Sebab dianggap telah merendahkan sifat Allah dan  menyamakannya dengan makhluk.        

Bangunan Islam didirikan di atas ilmu pengetahuan . Ilmu pengetahuan artinya adalah kesadaran spritual dan intelektual  dan maxim dari para pengembannnya. Masalah-masalah yang timbul dari aliran-aliran Islam di era klasik, bisa jadi sumbernya  dari kekacauan cara berpikir dan nalar yang tidak logis dan tidak sistematis; tidak holistik alias  parsialis, atau mengabaikan proses alamiah dan ilmiahnya, atau tidak diuji secara metodologisnya oleh para ahli zamannya,  dan suka menyederhanakan pendekatan atau mengebiri akal sehat, tidak mempertimbangkan opini-opini umum, tidak berusaha menguji validitas tafsirannya dengan tafsiran yang lain, sekaligus mengabaikan standar-standar baku dari pada pakarnya 

Mengkaji tafsir ayat al-quran rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa salah satu mukjizat al-quran adalah petunjuk spiritualnya (hûdan) yang akan membuat takjub siapapun yang mencoba menghampirinya. 

Dari sisi lain al-Quran juga bisa menjadi sumber polemik dari yang lembut hingga yang kasar dan bahkan menjadi justifikasi untuk tindakan-tindakan yang justeru bertentangan  dengan semangat al-Quran sendiri. Tetapi ini bukan kesalahan al-Quran. Menurut Mulla Sadra, manusia lah yang menjadikan teks al-Quran itu cahaya yang menyinari hatinya ataukah ia membelenggu dirinya, menghijab dirinya dari cahaya al-Quran. Karena itu,  tidak semua tafsiran atas al-Quran bisa dibenarkan. Kita harus mendudukan hirarki tafsiran—secara proporsional—dari yang termulia sampai yang terburuk dan terjahat dari al-Quran.

Analisis atas pelbagai kecenderungan  studi al-Quran digagas secara sistematis oleh Ignaz Goldhiher. Dalam magnum opusnya  tentang madzab-mazhab  tafsir. Ia membagi studi tafsir dari era klasik hingga modern menjadi studi al-Quran tradisionalis, studi al-Quran dogmatik, mistik, sektarian dan modern

Al-Quran menurut para arif 

al-Quran secara literal artinya himpunan, kumpulan, koleksi. Sinonim al-Quran adalah al-Furqan yang artinya  memecahmecah, memisah-misah, merinci. Allah swt berfirman : Innâ alaynâ jam’ahu wa quranâhu, faidza qaranâ fattabi quranahu, tsumma alaynâ bayanahu. Sesungguhnya kami yang menghimpun alquran dan pabila kami bacakan al-Quran maka ikuti bacaanya dan sesungguhnya kami yang akan menjelaskannya.

Himpunan itu adalah ilmu ijmali, akal basith,  dan furqan adalah ilmu nafsani yang terperinci. Rasulullah dalam  al-Quran menyatakan :  “utîtu jawâmi’ al-Quran” (aku dikaruniai al-Quran yang sangat lengkap). al-Quran yang ada di tangan kita atau mushaf ini adalah al-Quran sekaligus juga  al-Furqan. al-Quran itu adalah entitas yang sangat agung sebab datang dari Tuhan, kemudian diturunkan pada Muhammad dan kemudian diturunkan lagi kepada yang lebih rendah lagi yaitu umatnya. 

Al-quran sekalipun sesuatu yang sangat tak terkatakan ketinggian martabatnya tapi dipersembahkan apa adanya; dibungkus dengan tirai-tirai material huruf agar bisa difahami oleh makhluknya ini lutf Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Ibarat intan yang mulia yang tidak bisa disentuh oleh tangan-tangan kotor, karena itu dibungkus dengan kain agar siapa saja bisa menggenggamnya dan merasakan nilainya,  Di dalam surat al-Anfal ayat 23, Allah swt berfirman, “Seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, pasti Allah akan membuatnya mereka mau menyimaknya.” 

Maksudnya bahwa menyimak al-Quran menuntut kualitas diri yang mulia, supaya Allah berkenan membukakan pintu hatinya. Jika tidak ada kualitas diri seperti itu, maka Allah tidak akan berkenan membukakan mata hatinya.

Al-Quran itu diselimuti oleh berbagai hijab, ribuan hijab agar bisa dicerna oleh yang lemah akalnya, sebab yang terlalu benderang akan  menyilaukan mata yang lemah, sepertinya halnya kelelawar yang tidak kuat dengan cahaya matahari, karena itu mereka tidak suka berkeliaran di siang hari. Agar si lemah dapat menikmati cahaya al-Quran,  cahaya itu tidak dilemahkan intensitasnya tapi cahaya itu tapi dibungkus dengan ribuan pembungkus (hijab),  al-Quran itu satu hakikat tapi memiliki martabat-martabat dalam penurunnya dan memiliki ragam nama sesuai  ragam lokus.  Al-Quran yang ada di tangan kita adalah Kalamullah dan Kitabullah sekaligus. Sebagai kalamullah ia adalah cahaya maknawiyah. yang diturunkan kepada hati-hati para kekasih-Nya. Al-Quran mengisyaratkan “Walakin ja’anlahu nûran nahdî bihi man nasyâ min ‘ibâdina.  wa bil haqi anzalnâhu wa bilhaqi nazala. Akan tetapi kami jadikan (al-Quran) sebagai cahaya yang dengannnya Kami beri petunjuk siapa saja yang kami hendaki.

Mulla Sadra membedakan antara kalamullah atau wahyu dengan kitabullah. Pertama al-Quran secara hakikat diturunkan kepada Muhammad—wa bil haq anzalnâ,  dan hakikat (al-Quran) kami turunkan (kepada  Muhammad)—ini menegaskan bahwa sesungguhnya dalam tingkatan yang paling tinggi Muhammad telah menerima keseluruhan al-Quran dan sekaligus hakikatnya. Namun dalam tingkatan untuk umatnya beliau harus menyampaikannya  disesuaikan dengan situasi dan kondisi.   

Mulla Shadra mengatakan bahwa Al-quran memiliki derajat-derajat dan manzilah-manzilah seperti layaknya manusia juga memiliki derajat-derajat. Derajat yang paling bawah dari al-Quran adalah seperti derajat yang paling bawah dari manusia. Derajat yang paling bawah dari al-Quran yaitu (nushaf) yang ada di antara dua jilid dan demikian juga derajat yang paling bawah dari manusia adalah apa yang ada di kulitnya. Dan bagi setiap derajat ada para pemikul  (hamalah) yang selalu menjaganya dan mencatatkannya—yang tidak akan disentuh kecuali setelah membersihkan diri dari kotoran (hadats) atau kebaharuan (huduts) atau setelah menyucikan diri dari belenggu-belenggu tempat dan status imkan (possibility states). Manusia yang terbelenggu dengan lahiriyah (literalis) hanya akan  mengapresiasi  kulit teks-teks al Quran. Sementara yang dapat menangkap ruh al-Quran hanyalah ulul albab ( orang-orang yang tercerahkan hati dan pikirannya _penulis). 

Di dalam surat al-Hasyr, Allah Swt berfirman, “Seandainya al Quran itu kami turunkan di atas gunung maka gunung itu akan hancur karena takut kepada Allah swt.” Ayat seperti ini tidak mendapatkan refleksi yang mendalam dari sebagian kalangan kaum muslimin. Sebagian orang hanya mengukur kemuliaan, kehormawan dari penampilan-penampilan lahiriyah dengan tanpa memperhatikan kualitas-kualitas batinnya. Cara pandang seperti itu telah menjerumuskan seseorang pada  pandangan dunia positifisme yang menjadi kaki tangan materialisme.

Mengkaji tafsir ayat al-Quran, rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa al-Quran adalah mukjizat abadi dan terbesar dari mukjizatmukjizat yang lain. Salah satu mukjizat itu adalah kekuatan petunjuk spiritualnya (hûdan).

Setiap orang membutuhkan petunjuk al-Quran,  namun jarang sekali yang berjalan melalui proses yang alamiah dan ilmiah. al-Quran mengatakan hal yastawiladzina ya’lamu walladzian la ya’lamuna? Apakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?  Di sini perlu mendapatkan perhatian penuh bahwa memilih  jenis tafsir bukanlah karena suka atau tidak suka yang kadang-kadang membelenggu seorang penafsir atau orang  yang belajar tentang tafsir—tapi harus karena cahaya ilmu. 

Memilih tafsir isyari bukanlah karena pergeseran paradima dari literalis (zahiri) menjadi esoteris (maknawi) atau dari esoteris menjadi tafsiran eksoteris dan esoteris (tafsir zahir wal batin) namun lantaran ilmu. Bahwa dalam islam pengetahuan tidak hanya terbatas pada yang lahiriyah namun juga batiniyah , intuitif, mental, cognitif, dan lebih jauh lagi adalah kasyaf. Pengetahuan tidak hanya didapat lewat penyimpulan nalar tapi juga lewat pengalaman dan juga lewat pembersihan diri (tazkiyatun nafs). Seperti yang dicontohkan oleh Imam Shadiq as yang dilukiskan oleh Imam Malik bahwa imam Shadiq selalu dalam tiga kondisi ; sedang menunaikan salat, sedang berpuasa, atau sedang membaca al-Quran, dan tidak pernah menyebutkan nama Rasulullah tanpa dalam keadaan berwudu.

Keistimewaan Tafsir Isyârî 

Kehidupan ini sangat ditentukan oleh apa yang tidak tampak, yaitu perasaan, emosi, iman, sesuatu yang sangat tidak tersentuh oleh indrawi, dan sesuatu yang tidak bisa dilacak oleh alat-alat fisik. Yang sangat halus dan lembut justeru memiliki efek yang sangat dahsyat. Adalah sangat mustahil al-Quran tidak menghargai pengetahuan-pengetahuan batin yang diperoleh oleh seseorang yang selama hidupnya beribadah dengan  ikhlas kepada Allah swt. Pengetahuan yang bersifat batin, ilhami, intuitif, contemplatif memiliki tingkatan-tingkatan antara satu dengan yang lain, Jika al-Quran hanya sekedar himpunan kata-kata yang kering dan tidak mengandung makna-makna batin maka tidak mungkin melahirkan inspirasi-inspirasi spiritual. Sayid Qutub  misalnya sekalipun dikenal sebagai pembela  kelompok literalis—pernah mengatakan bahwa kebahagiaan spiritual  dan ilham sebagai sesuatu yang sangat menentukan bagi kehidupan bagi setiap orang.

Menurut saya pandangan yang parsial tentang al-Quran itu beranjak dari sikap yang tidak adil terhadap ayat-ayat lain. Mereka tidak memiliki pengetahuan atau tidak membaca ayat-ayat lain yang secara diametrikal berbeda  dan yang ketiga ini adalah penyakitnya para ulama yaitu kurang analisa yang tajam;  sesuatu sikap yang tidak terpuji. Al-quran mengatakan bahwa hanya orang-orang yang serius, giat  mengasah pikikran dan menganalisa dengan tajam yang akan memperoleh wawasan yang maksimal (insight).Dengan demikian  perintah untuk tafakur dan berpikir bukanlah sekedar berpikir saja tapi memang benar-benar berpikir dan mengerahkan seluruh waktu, tenaga dan analisa dengan data-data yang lebih lengkap untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih matang. 

Tafsir isyari memberikan makna yang dalam atau hakikat dari setiap simbol. Dalam ayat terakhir surah al-Fatihah, misalnya kita diingatkan bahwa kata maghdubi ‘alayhim yang biasanya untuk menunjukkan kelompok Yahudi dan Nasrani—ternyata juga bisa menampar wajah orang-orang muslim. Ibnu Arabi dalam tafsirnya mengatakan yang bahwa yang dimaksud dengan kata maghdubi alayhim  adalah mereka yang terhijab oleh hijab materi, hijab inderawi (hijab jasmani)  dan hijab dzawq hissi sehingga tidak bisa merasakan karunia kalbu, karunia akal. Dan itu mirip dengan orang-orang Yahudi sebab justifikasi mereka tentang hal-hal yang eksoteris. Dengan demikian, jika orang-orang muslim juga terbelenggu oleh materi, jasmani dan sensual (hissi)  sehingga sulit mendapatkan karunia-karunia spiritual, mereka juga adalah bukti konkret (misdhaq) dari frase ayat  maghdûbi alayhim. 

Dengan bantuan tafsir-tafsir esoteris, bisa diakses makna-makna yang lebih mendalam, komprehensif—yang sering hilang dalam tafsiran-tafsiran teologis dan jurisprudensi atau sektarian, apalagi tafsiran politis fundamentalis. Tafsir isyari juga adalah bentuk apresiasi atas amal atas akhlak sebab makna-makna itu ditemukan oleh orang-orang suci dan yang ingin membersihkan dirinya. Dengan kata lain, lewat tafsir isyari, kita menemukan epistemologi tak terbatas dari pengalaman keberagamaan (religious experience) yang sangat tak terbatas. Dan untuk menyerap Yang Tak terbatas, tentu memerlukan tafsiran-tafsiran yang tak membatasi potensi manusia dalam dimensi tertentu. 

Dari sisi lain, terlalu melompat pada tafsiran isyari juga kadang-kadang jika belum waktunya yang pas, dikhawatirkan akan kurang mengapresisi kekayaan tafsir-tafsir yang lain seperti :  tafsir bil matsûr, tafsir lughawi, dan tafsir-tafsir lain. Lebihlebih dengan tafsiran isyari kadang-kadang terasa hilang dimensi historis, ruang, waktu, konteks dan teks. Saat kita membaca surah Yusuf misalnya  kita bisa menghirup dimensi korporeal; sejarah, perjuangan dan penderitaan seorang anak muda yang dizalimi,dan difitnah, Demikian juga dengan sejarah dakwah Nabiyullah Musa as, kita bisa merasakan degup keberanian dalam melawan tiran yang sangat bengis di zamanya. 

Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa setiap orang lebih suka dengan pilihan-pilihannya sendiri, Sebagian orang  lebih senang memilih ayat-ayat yang sesuai dengan selera hati dan pikiran mereka sambil mengabaikan ayat-ayat lain. Mulla Sadra menyatakan  bahwa ketika pendapat telah menjadi keyakinan akhirnya akan terbelenggu dengan pendapatnya dan jika pendapatnya kesesatan maka akan keyakinannya menjadi kegelapan yang nyata. 

Aktifitas membaca atau menafsirkan al-quran adalah penyatuan antara wujud yang lemah dengan Sang Wujud Yang Maha Mulia. Jadi secara ontologis tafsir adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas wujud, sebab kuantias dan kualitas ilmu akan meningkatan intensitas wujud. Seperti yang disinggung di atas, bahwa secara epistemologis tafsir isyari adalah suatu bentuk apresiasi atas pencarian ilmu lewat penyucian diri. Salah satu upaya penyucian diri adalah dengan melawan dorongan-dorongan rendah dari jiwa, yaitu nafsu.  dalam hadis dikatakan : “Sesungguhnya Allah swt mencintai sang pemberani, yaitu yang berani membunuh hayat (ular) dan tidak ada hayat (ular) yang lebih mengerikan dari nafsumu; taklukanlah dan selamatkan dirimu dari racunnya yaitu akidah yang batil, pendapat yang kotor, dan pengaruh-pengaruhnya.”

Tafsir Isyâri (tafsir esoteris) Ibnu Arabi dan Mulla Sadra

Menghadirkan gagasan Ibnu Arabi dan Mulla Sadra dalam konteks ayat-ayat al-Quran merupakan kajian baru dan menarik karena sementara ini, tafsir esoteris keduanya  masih jarang diapresiasi. Sebagian besar apreasisi para peneliti masih sering dipusatkan pada studi-studi doktrin-doktrin metafisik atau teologi. Padahal jika dilihat dari kualitas dan kuantitas, tafsir mereka berdua didasarkan pada sebuah teori yang utuh dan kuat dan memiliki basis dari sumber-sumber ajaran Islam. Yang kedua juga dari kekayaan literatur dan kemudahan mendapatkan kitab-kitab mereka. Mulla Sadra misalnya, memiliki kajian tersendiri dalam kitab sepert "  Tafsīr al Qur'ān al- Karīm "  yang  menjadi pengantar untuk memahami sisi batin al-Quran dan irfannya, demikian juga dengan delapan jilid tafsir filosofis dan irfannya dan beberapa kitab kecil tentang rahasia ayat-ayat dan kritikan untuk pseudo-sufism. Sementara Ibn  Arabi sendiri memiliki kitab-kitab yang dipenuhi dengan tafsir-tafsir alQuran, Kitab Futuhat al-Makiyyah misalnya sebetulnya adalah sebuah kitab tentang tafsir al-Quran dan kitab-kitab lain yang terselamatkan.    

Tafsir Mulla Sadra adalah perpanjangan dari filsafat hikmah muta’aliyahnya, demikian juga tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu Arabi  adalah wadah bagi teori-teori utamanya. Menurut Dr. Sulayman Atasy, puncak zaman keemasan tafsir isyari terjadi di era Ibnu Arabi,banyak para penafsir besar lahir dari haribaan pengaruh ibnu Arabi seperti Kâsyânî, Simnânî dan setelah itu tafsir  isyari  kehilangan orisinalitasnya. Tasawuf setelah itu kembali lagi sibuk hanya seputar salat dan wirid-wirid, hikmah filosofisnya semakin menyusut. 

Tapi sebelum itu ada beberapa pembahasan yang akan kita lalui pertama  pengetahuan kasyaf secara epistemologis dan kedua alQuran di mata kaum arif.  

Ayat-ayat al-Quran tentang pengetahuan batin (ladunî, irfan, tashawuf, mistikism) 

Allah swt berfirman  wa man yutal hikmah faqad ûtiya khayran katsîran (sesiapa yang dikarunia hikmah sesungguhnya telah dikaruniai kebaikan yang sangat melimpah).  Ayat ini dengan tegas menunjukan bahwa Al-quran memberikan nilai yang positif kepada ilmu-ilmu yang tidak tersirat di dalam al-Quran seperti hikmah atau dalam bahasa sekarang falsafah.  Atau ayat yang memberikan pujian kepada ûlul albâb:  alladzina yadzkurûnallah qiyâman wa quû’dan  wa ‘a’lâ junûbihim wayatafakarûna fikhalqi samâwâti wal ardhi. Ayat yang sangat populer ini mengajak orang-orang islam untuk melakukan refleksi dan mengambil hikmah dari apa saja dan bukan hanya teks-teks yang tersurat. Termasuk diantaranya  menurut saya adalah merenungkan kata-kata dari para kekasihkekasih Allah (wali-wali Allah) 

wa fil ardhi ayâtun lil muqinîna wa fi anfusikum afalâ tubshirûn.  (Di bumi  terdapat ayat-ayat untuk orang-orang yang memiliki keyakinan dan apakah mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri). Menurut ayat ini, orang-orang yang memiki iman yang sangat kuat memiliki kemampuan untuk mendapatkan tandatanda kebenaran di dunia ini. Artinya dengan kualitas seperti itu akan meraih ilmu dari alam semesta ini. Keyakinan dan kekuatan imanlah yang ikut mencerdaskan mereka. Setelah itu Allah swt juga menyuruh manusia untuk melakukan perenungan atas diri mereka sendiri. Artinya di dalam jiwa,  ada pengetahuan yang diraih. Ilmu pengetahuan tidak hanya dicapai dari luar tetapi juga bisa diraih dari dalam diri. Jiwa mengandung sesuatu yang luarbiasa. Melihat ke dalam adalah jalan pengetahuan yang paling awal dan sekaligus juga paling meyakinkan. Ayat lain mengatakan, Kami akan memperlihatkan ayat-ayat kami di afaq dan di dalam diri-diri kalian sehingga jelaskan kebenaran bagi kalian. Ayat ini dengan tegas sekali menunjukan bahwa kebenaran itu bisa ditemukan di dalam pengalaman kesucian (spiritual experience). 

Hadis-Hadis tentang pengetahuan batin

Disini saya sengaja tidak membeda-bedakan hadis sunni atau hadis syiah.  Saya lebih suka melihat bahwa syiah adalah sisi yang tak terlihat atau yang hilang dari mazhab Sunni  dan Sunni adalah sisi yang terabaikan dari mahab Syiah. Keduanya sekalipun memiliki perbedaan tapi merupakan kesatuan dari perspektif yang berbeda. Perbedaan itu tergantung sudut pandang yang melihatnya. Apapun bisa menjadi beda untuk sesuatu yang sebetulnya sama, jika yang dilihat adalah aspek perbedaannya. Sebagian orang yang suka melihat perbedaan dan tidak bisa melihat kesatuan tentu akan mengabaikan banyaknya kesamaan dari dua mazhab besar ini.

 1. Imam Shadiq as berkata, “Al-Quran itu memiliki aspek lahiriyah dan memiliki aspek batin. Aspek lahirnya mengandung hukum tertentu dan aspek batinnya juga mengandung hukum tertentu. Ilmu pengetahuan tentang aspek lahiriyah sangat elok sementara pengetahuan tentang aspek batinnya sangat mendalam.”

2. Rasululullah saw berkata, “Kiblatku antara masyriq dan magrib.”  hadis ini menurut Sayid Haidar Amuli menjadi dalil bahwa Rasulullah menguasai semua level. Sebab yang dimaksud dengan masyriq adalah  kiblat nabi Isa as dan magrib adalah kiblat nabi Musa as. dan ini adalah level yang paling agung sebab menghimpuan esoterik dan eksoterik. dan ini sesuai dengan ayat :  wa ja’alnâ kum ummatan wasathan litakûnû syuhadâ ‘ala nas (aku jadikan kalian  sebagai umat washatan (umat yang menggabungkan antara eksoterik dan esoterik)

3. Ali bin Abi Thalib as berkata, -Asy-syari’atu nahrun,wal haqîqat bahrun, wa al-fuqahâ hawla nahrun yathûfûna wal hukamâ fil bahri yaghûshûna (Syariat itu adalah sungai dan haqiqat itu samudera. Para fukaha berdiri di tepi sungai sementara para ahli hikmah berenang di dalam samudera.’Aku adalah al-Quran yang berbicara dan aku adalah al-quran yang lengkap karena menghimpun dua maqam yaitu lahir dan batin.

4. Abu  Hurairah meriwayatkan bahwa Rasululah saw berkata, “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis   dan kalian akan keluar ke tempat-tempat yang ‘sepi’ (- teks asli arabnya -lakharajtum ilâ shu’udât) dan tidak akan bisa tidur dengan tenang.” Hadis ini dimuat di kitab shahih Bukhari, Muslim dan juga Nasâi tetapi hanya sampai redaksi kalian akan sering menangis. Menurut hadis ini bahwa ada hal-hal yang tidak diketahui oleh para sahabat dan hanya diketahui oleh Rasululah saja; sesuatu yang sangat menggugah  emosi dan spiritual—tentunya adalah seuatu yang sangat agung dan tinggi dan itu adalah pengetahuan tentang hakikat dari segala hakikat.

5. Masih dari Abu  Hurairah  (inna min al-‘ilmi ka hayati maknûn lâ ya’lamu ha illâ  al’ulamâu billah fa idzâ nathaqû bih lâ yunkiruhu illâ ahlu ghurrati billah aaza wajalla), dikatakan “Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang seperti permata tersembunyi di dalam tiram, yang hanya diketahui oleh para ulama lillah dan tidak akan mengingkari pengetahuan itu kecuali orang-orang tertipu di hadapan Allah swt.” Pengarang Qut al-Qulûb mentakhrij hadis dari Ibnu Mas’ûd yang menyatakan, “ Sesungguhnya al-Quran itu  memiliki makna lahir dan memiliki makna batin, memiliki had dan mathla”.

6. Abu Nua’im dalam kitab Hilyatul Awliyâ menukil hadis dari Ibn Mas’ud,  “Sesungguhnya al-Quran itu  diturunkan dengan tujuh huruf dan setiap huruf itu mengandung makna lahir dan makna batin dan sesungguhnya Ali bin  Abi Thalib menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.” 

7. Di dalam surat al-An’am, “Allah swt menjelaskan bahwa mereka yang akan menerima islam adalah orang-orang yang memiliki hati yang lapang (syarh shadr). Rasulullah ditanya, bagaimana seseorang bisa memiliki hati yang lapang (syarh shadr)? Rasululah menjawab, “Ada cahaya yang menyinari dadanya sehingga menjadi luas dan lapang.”

8. Dalam Kitab Bukhari, bab ilmu, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia pernah berkata, “Aku mengingat hadis-hadis dari  Rasulullah sebanyak dua wadah besar. Satu wadah  aku sampaikan dan satu wadah lagi kalau aku sampaikan maka tenggorakanku pasti dipotong.”

Namun  kita juga jangan tergesa-gesa menyimpulkan mereka yang menolak tafsir isyari tidak merujuk pada al-quran. Tampaknya pendapat apapun  di dalam Islam, dari yang ilmiah, dan tidak ilmiah, dari yang ekstrim atau yang moderat tidak pernah tidak meninggalkan al-Quran sebagai dasar rujukannnya. AlQuran mengatakan Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (syâkilah) masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS al-Isra : 82-84). Fakhrurazi menafsirkan ayat di atas demikian : 

al-Quran dapat mendatangkan rahmat dan kesembuhan bagi sebagian orang, tetapi pada saat yang sama juga mendatangkan bencana, kerugian dan kehinaan bagi yang lain. Ayat seterusnya juga menegaskan bahwa setiap orang beramal sesuai dengan syâkilah (tabiat)-nya.  Maksudnya  al-Quran akan mendatangkan pengaruh yang baik seperti  pengetahuan dan kesempurnaan bagi mereka yang membersihkan dirinya tapi sebaliknya akan mendatangkan pengaruh  yang buruk, menghinakan bagi orang-orang yang memiliki jiwa yang kotor. Seumpama sinar matahari  matahari  yang sinarnya memiliki efek yang berbeda pada benda-benda yang berbeda-beda. Sinar matahari dapat membekukan garam, tapi juga bisa mencairkan minyak. Sinar itu juga bisa menghitamkan wajah tapi juga dapat memutihkan kain cucian. Artinya ini menunjukan variasi species jiwa. Ada  species jiwa yang cemerlang sekali sehingga layak menerima cahaya al-Quran, tapi ada juga species jiwa yang sangat gelap dan kotor sekali yang menjadikan al-quran sebagai sumber kesesatan. 

Kelompok yang menolak jenis tafsir isyari mengatakan bahwa yang memiliki otoritas menjelaskan ayat-ayat hanyalah Rasulullah dan para sahabatnya yang mendapatkan ilmu dari Rasulullah. Mereka berdalih, misalnya dengan surah an-Nahl ayat 44, Allah swt berfirman Kami turunkan padamu  ad-zikra (al-quran) untuk engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah kami turunkan padamu agar mereka berpikir).Jadi menurut mereka, Islam ini telah sempurna, semua hal yang fundamental telah dijelaskan oleh Rasulullah  mengapa harus merujuk pada klaim-klaim Ibn Arabi, dsb? Tapi ini dibantah oleh sebuah hadis. Siti Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan seluruh ayat al-quran dari awal hingga akhir ayat. Aisyah mengatakan  Rasulullah tidak menafsirkan al-Quran kecuali yang diajarkan oleh Jibril kepadanya.


Contoh-contoh tafsir Isyari  

Imam Shadiq as pernah berkata, “Tidak ada satu pun masalah yang diperselisihkan dua orang kecuali pasti ada jawabannya di dalam al-Quran, hanya saja tidak semua orang bisa menggalinya. Imam Shadiq as menyatakan Allah bertajali kepada hamba-hambaNya lewat kalam-Nya tapi tidak terlihat.

1. Wahai orang-orang yang beriman penuhi janji kalian!. Menurut Ibn Arabi yang dimaksud dengan orang yang beriman, yaitu yang memiliki iman ilmi, sementara yang dimaksud memenuhi janji (awfu bil-‘uqud) yaitu janji ketegasan kalian di dalam suluk. Perbedaan antara ‘ahd dan ‘aqd, ‘ahd adalah mengesakan tuhan semenjak azali (tauhid fi al-‘ajal), sementara ‘aqd yaitu membulatkan tekad untuk menuju tuhan (suluk). 

2. Wa lâ tuhillu sya’arillah,  menurut Ibn Arabi maksudnya janganlah kalian lepaskan maqam-maqam dan ahwal-ahwal di dalam suluk seperti sabar, syukur, tawakal, ridha dsb. 

3. Janganlah kalian terpukau dengan aktifitas orang-orang kafir. Orang kafir di sini sebagai insan yang terhijab dari tauhid;  yaitu din al-haq dalam (urusan) maqamat dan ahwal.

4. Washiti memiliki pandangan bahwa kematian sejati itu pasti diinginkan oleh jiwa. Ia menafsirkan ayat maka,  bertaubatlah kepada tuhan kalian dan bunuhlah diri-diri kalian! (Qs al-Baqarah: 54). Taubat umat ini (umat Islam) lebih berat dari taubat bani Israil. Taubat bani Israil dengan cara membunuh jiwa-jiwa mereka sementara umat islam harus membunuh hakikatnya dan bukan hanya jiwanya.    

Sekalipun hadis-hadis itu menegaskan bahwa untuk setiap ayat ada makna batinnya disamping makna-makna  lahiriyah. Yang dimaksud dengan makna-makna lahiriyah adalah maknamakna yang difahami dari lafaz-lafaz ayat itu—tentu saja dengan bantuan analisis bahasa— atau juga makna-makna yang difahami lewat bantuan riwayat, sejarah —sementara yang dimaksud maknamakna batiniyah atau takwil—seperti yang telah disinggung di atas—adalah makna-makna yang dicerap oleh seorang arif atau makna yang dijelaskan oleh Rasulullah, para imam atau wali-wali yang suci di luar makna yang umum. 

Namun kemudian kita juga melihat bahwa di dalam tafsir-tafsir irfan tidak semua ayat itu ditafsirkan. Sebagian besar ayat-ayat yang dijelaskan makna-makna lahiriyahnya adalah ayat-ayat tertentu saja— dan teruma jenis ayat-ayat yang memang mengandung kiasan-kiasan, atau simbol-simbol seperti cahaya, pohon yang baik (syajarah thayyibah), ceruk, misykat, dan sebagainya.

Disini kita bisa melihat misalnya gambaran tentang surga yang menawarkan  kebahagian-kebahagiaan fisik seperti kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai  (jannâtin tajrî min tahtihâ al-anhâr). Teks ayat ini menurut para arif hanyalah simbol untuk menarik hati orang-orang yang masih terhijab dalam fantasi fisik—sementara kebahagiaan yang sejati  adalah memiliki karakter spiritual— dalam hadis ditegaskan bahwa tidak ada kebahagiaan yang mengatasi kebahagiaan melihat  Allah Swt. 

Tafsiran-tafsiran  isyari itu menjadikan ayat-ayat hanyalah sebagai simbol (sandi) atau code kepada makna yang lebih dalam lagi. Misalnya ayat yang berbicara tentang pohon yang baik (syajarah thayyibah)—yang menurut ayat al-Quran akarnya menghunjam kuat ke dalam tanah (ashluha tsâbitun) dan rantingnya atau dahannya menjulang ke langit (far’uha fi as-samâ) yang memberikan buah-buah setiap saat (tuti ukulha kulla hîn)— Syaikh Jafar Subhani mewakili kaum theolog menafsirkan pohon yang baik dengan  keyakinan yang benar (aqidah shahihah), yang ciri-cirinya, keyakinan itu harus kuat menghunjam di dalam dada, namun juga keyakinan itu mendorongnya untuk selalu taqarrub kepada Allah dan di saat yang sama juga memberikan keberkatan kepada manusia yang lain. Ayat yang sama di atas, dimaknai untuk menunjukan keutamaan ahlubait nabi. Yang dimaksud dengan pohon, akar dan cabang adalah personifikasi dari manusia-manusia suci (ma’shum). Kedua tafsir itu tentu saja tidak bertentangan. Diktum mengatakan tafsir esoteris tidak boleh bertentangan dengan tafsir esoterik. Yang satu berbicara tentang tafsir dan yang kedua berbicara tentang takwil. 

Di dalam kitab-kitab tafsir syiah kita menemukan banyak sekali tafsiran atau takwil ayat-ayat itu untuk menunjukan keistimewaan imam-imam seperti di dalam ayat ‘amma yatasalun yang ditakwilkan untuk menunjukan pengangkatan imam Ali as menjadi  washy.  

5. Di dalam surah Saba, ayat 46 dikatakan, Qul innama ‘aiduum biwahidaitn an taqûmû lillah (katakanlah aku hanya menasehatimu dengan satu hal yaitu bangkitlah untuk Allah). Menurut penyusun Kitab Anîsul ‘Ârifîn—  yaitu kitab yang berisikan komentar Abd Razaq Kasyani atas kitab Manazil Sairin li-Khaja Abdulllah Anshârî—yang dimaksud dengan bangkit untuk Allah (awakening) adalah bangkit (awakening) dari tidur kelalaian ghaflah atau  dari perangkap kevakuman (wartah fatrah). Kebangkitan menuju Allah dalam terma sufi adalah yaqzah, Yaqzah merupakan maqam awal yang harus dimasuki oleh para salik yang ingin menuju Allah. Ayat ini menjadi memiliki makna yang agung dibandingkan  dengan tafsiran eksoterik yang biasa-biasa saja yang diberikan oleh tafsirtafsir kaum teolog. 

Salah satu hikmah dari makna-makna batin memang mengangkat  ayat-ayat makna-makna lahiriyah—ayat-ayat yang hanya bisa difahami oleh mereka yang terhijab hati mereka dari cahaya hakikat kasyaf—untuk mereka yang terbelenggu dengan kulit-kulit (literal) ayat-ayat al-Quran. 

Salah satu keindahan dari metoda tafsir isyari adalah penjelasan bahwa ayat-ayat itu selalu menyingkapkan sifat-sifat dan af ’al Ilahi. Jadi para arif selalu mencari kreasi dan sifat-sifat tuhan dari ayat ayat itu sementara kaum literalis hanya mencari nomos (hukum)nya.   Pemahaman atas hukum tanpa menghubungkan dengan sifat dan af ’al Ilahi mungkin akan menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap. Sebenarnya sebagian para mufasir juga sudah menyebutkan tentang rahasia penyebutan sifat-sifat tuhan di setiap akhir ayat. Sifat-sifat tuhan itu menjadi clue atas makna yang sebenarnya dari ayat itu. 

Dengan demikian, ayat-ayat yang diakhiri dengan menyebutkan sifat-sifat Jamaliyah Tuhan, seperti Yang maha pengasih, Yang maha penyayang, atau maha santun (raûf) biasanya ayat-ayat  itu berbicara tentang hal-hal yang positif, dan jika diakhiri dengan sifat-sifat Jalaliyah-Nya, maka ayat itu berbicara tentang suatu dampratan untuk kaum atau untuk perbuatan tertentu. 

Sisi lain dari tafsir Isyari adalah kekayaan maknanya. Seorang arif mengatakan bahwa setiap huruf mengandung ribuan makna bahkan sampai enam puluh ribu makna. Bagi seorang arif, kata-kata, konsep adalah simbol dari sebuah makna yang ingin disampaikan oleh Zat Yang Maha Agung. Allah menggunakan bahasa sebab itu adalah media yang paling komunikatif bagi manusia. Tamtsil, metaforis, alegoris, semua itu adalah bahasa simbol. Kita belum bisa mengetahui apakah kecenderungan itu karena pesona ayat-ayat itu yang memiliki magnitude yang lebih dahsyat dari ayat-ayat lain ataukah karena kekayaan makna-makna ayat itu yang bisa mewadahi seluruh perspektif esoterik, ataukah kecenderungan para mufasir esoterik yang hanya memilih ayat-ayat tertentu saja.   

Semoga bermanfaat. 


Indramayu, 17 Desember 2020