Pengantar
Di dalam Al-Qur’an, kisah-kisah besar para nabi tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang struktur kesadaran manusia. Salah satu peristiwa paling agung dalam Islam adalah Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad SAW.
Secara lahiriah, Isra’ Mi‘raj adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu naik menuju Sidratul Muntaha.
Namun dalam pembacaan hakikat, perjalanan itu juga dapat dipahami sebagai simbol perjalanan kesadaran manusia : dari jasad menuju ruh, dari hijab menuju penyaksian, dari keterpecahan menuju kesatuan, dan dari keterasingan menuju kepulangan kepada Tuhan.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan ruang, tetapi perjalanan eksistensial. Dan menariknya, pola perjalanan itu ternyata memiliki hubungan mendalam dengan : struktur martabat tujuh, tingkatan nafsu manusia, serta ayat-ayat tentang jiwa yang kembali kepada Rabb-nya.
_________________________
BAB 1 : Masjidil Haram dan Medan Nafs Amarah
Isra’ dimulai dari :
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Masjidil Haram.
Dalam pembacaan lahiriah, ia adalah pusat ibadah umat Islam. Namun dalam pembacaan simbolik, Masjidil Haram juga dapat dipahami sebagai simbol medan awal kesadaran manusia : medan Ajsam.
Isra’ dimulai dari :
الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Masjidil Haram.
Dalam pembacaan lahiriah, ia adalah pusat ibadah umat Islam. Namun dalam pembacaan simbolik, Masjidil Haram juga dapat dipahami sebagai simbol medan awal kesadaran manusia : medan Ajsam.
Yaitu wilayah: tubuh, kebutuhan biologis, rasa takut, rasa lapar, syahwat, ego, kepemilikan, dan keterikatan kepada dunia. Inilah wilayah Nafs Amarah.
Disini Nafsu Amarah bukan sekadar nafsu buruk. Ia adalah kondisi kesadaran yang masih sangat dipengaruhi tarikan jasad. Di sini manusia melihat dunia sebagai pusat realitas.
• Yang tampak dianggap paling nyata.
• Yang terlihat dianggap paling penting.
Namun menariknya, Allah justru menempatkan titik awal perjalanan ruhani manusia dari titik ini.
Tempat di mana kesadaran manusia sengaja “dijauhkan” sementara dari sumbernya, agar tampak :
siapa yang mencari,
siapa yang lupa,
siapa yang kembali,
dan siapa yang tenggelam dalam bentuk-bentuk lahiriah.
Maka kata "Asfalasafilin" sebagaimana disinggung Al Quran dalam surat At-tin, itu tidaklah dimaksudkan sebagai bentuk hukuman. Tetapi ia adalah medan ujian dan sekaligus wahana tarbiyah bagi jiwa manusia.
____________________________
BAB 2 : Masjidil Aqsa dan Medan Nafs Lawwamah
Isra’ tidak berhenti di Masjidil Haram. Kesadaran kemudian bergerak :
اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا
menuju Masjidil Aqsa.
Kata “Aqsa” berarti : yang jauh.
Dan dalam perjalanan kesadaran, ini maknanya sangat simbolik. Karena setelah manusia mulai jenuh dengan dominasi dunia material, kesadaran harusnya mulai bergerak menuju wilayah batin. Namun wilayah itu terasa jauh.
Jauh dari ego lama.
Jauh dari identitas jasadiyah.
Jauh dari kenyamanan dunia.
Inilah wilayah Mitsal. Wilayah : refleksi, pencarian, mimpi, penyesalan, kontemplasi, dan pergulatan batin.
Inilah medan Nafs Lawwamah. Jiwa yang mulai sadar terhadap dirinya sendiri. Ia belum stabil. Tetapi ia sudah mulai melihat : kesalahannya, kehampaannya, keterpecahannya, dan keterasingannya.
Di sinilah agama mulai berubah. Agama tidak lagi hanya menjadi ritual lahiriah. Tetapi mulai menjadi perjalanan kesadaran. Manusia mulai mencari makna. Mulai mempertanyakan hakikat hidup. Mulai merasa bahwa dunia tidak cukup menjelaskan keberadaan. Dan justru dalam kegelisahan itulah kesadaran akhirnya mulai bangkit.
_______________________
BAB 3 : Mi‘raj menuju Sidratul Muntaha
Mi‘raj adalah simbol kenaikan kesadaran. Yakni ketika jiwa mulai : melepaskan dominasi jasad, menenangkan turbulensi ego, dan bergerak menuju stabilitas ruh.
Puncaknya adalah :
سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
Sidratul Muntaha.
Dan “Muntaha” berarti : titik akhir. Ia adalah simbol batas tertinggi kesadaran makhluk, yang sesudah itu bukan lagi wilayah pencapaian manusia, tetapi wilayah kemutlakan Ilahi. Itulah makanya kenapa dalam kisah Mi‘raj Nabi, Sidratul Muntaha itu sering digambarkan sebagai simbol : batas ilmu makhluk, batas kesadaran makhluk, dan batas tajalli yang mampu ditanggung ciptaan.
Dalam kerangka perjalanan jiwa, Sidratul Muntaha itu digambarkan sebagai wilayah : Ruh, Nafs Mutmainah, dan kemapanan eksistensial.
Karena itu Al-Qur’an memanggilnya :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
“Wahai jiwa yang tenang.”
Dalam pengertian itu, Nafs Mutmainah bukanlah sekadar hati yang tenang dan stabil secara psikologis. Tetapi jiwa yang telah : menemukan orientasi sejatinya, tidak lagi tercerai-berai oleh dunia, dan stabil dalam kehadiran Ilahi.
Dan di sini Nafs Mutmainah menjadi syarat penting dan utama. Karena hanya jiwa yang telah stabil, tenang, dan tidak lagi tercerai-berai oleh kemelekatan dunia, yang akan mampu mendekati horizon kesadaran Sidratul Muntaha.
Kesimpulan Bab 3
Dengan apa yang telah diulas dan dijelaskan diatas, seluruh proses perjalanan hidup akan dimaknai secara berbeda. Karena dalam kerangka itu,
Karena itu Al-Qur’an memanggilnya :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
“Wahai jiwa yang tenang.”
Dalam pengertian itu, Nafs Mutmainah bukanlah sekadar hati yang tenang dan stabil secara psikologis. Tetapi jiwa yang telah : menemukan orientasi sejatinya, tidak lagi tercerai-berai oleh dunia, dan stabil dalam kehadiran Ilahi.
Dan di sini Nafs Mutmainah menjadi syarat penting dan utama. Karena hanya jiwa yang telah stabil, tenang, dan tidak lagi tercerai-berai oleh kemelekatan dunia, yang akan mampu mendekati horizon kesadaran Sidratul Muntaha.
Kesimpulan Bab 3
Dengan apa yang telah diulas dan dijelaskan diatas, seluruh proses perjalanan hidup akan dimaknai secara berbeda. Karena dalam kerangka itu,
• hidup bukan lagi sekadar bertahan,
• bekerja,
• atau mengumpulkan dunia.
Tetapi perjalanan kesadaran :
• dari Ajsam menuju Ruh,
• dari Amarah menuju Mutmainah,
• dari keterpecahan menuju kesatuan,
• dari hijab menuju penyaksian,
• dan dari lupa menuju kembali mengenali sumber eksistensinya sendiri.
_________________________________________
BAB 4 : Apa Yang Akan Ditemukan Kesadaran di Puncak pencapaiannya ?
Jika isra adalah proses perjalanan kesadaran dari masjidil haram, yang disini dimaknai sebagai simbol kesadaran nafsu amaroh, dan lalu ke masjid Aqsa, ke kesadaran nafsu lawwamah, dan kemudian mi'raj ke Sidratul Muntaha, horizon kesadaran ruh, atau kesadaran nafsu Mutmainah. Maka muncul Pertanyaan berikutnya :
Pengalaman apa saja yang akan ditemukan manusia saat ia telah berada dan tiba di puncak kesadarannya ?
Dalam struktur martabat tujuh, jawaban itu dapat dipahami melalui tiga horizon tertinggi :
> Wahidiyah → Pengetahuan Sejati
> Wahdah → Pencerahan Jiwa
> Ahadiyah → Hakikat Eksistensi
1. Wahidiyah : Horizon Alam Asma, Maqom Pengetahuan Sejati
Ketika kesadaran manusia memasuki stabilitas ruhani, hal pertama yang mulai tersingkap adalah keteraturan makna. Di sini manusia mulai melihat : hubungan, pola, hikmah, keterkaitan, dan rahasia di balik keberagaman ciptaan.
Di sinilah manusia mulai memahami :
> Wahdah → Pencerahan Jiwa
> Ahadiyah → Hakikat Eksistensi
1. Wahidiyah : Horizon Alam Asma, Maqom Pengetahuan Sejati
Ketika kesadaran manusia memasuki stabilitas ruhani, hal pertama yang mulai tersingkap adalah keteraturan makna. Di sini manusia mulai melihat : hubungan, pola, hikmah, keterkaitan, dan rahasia di balik keberagaman ciptaan.
Di sinilah manusia mulai memahami :
mengapa sesuatu terjadi, bagaimana sifat-sifat Ilahi bekerja, bagaimana rahmat, hikmah, jalal, dan jamal bertajalli dalam kehidupan.
Maka pengetahuan di sini bukan lagi sekadar informasi rasional, tetapi penyaksian keteraturan. Seolah alam semesta berubah menjadi jaringan ayat. Dan mungkin karena itu dalam banyak pengalaman ruhani, orang tidak merasa “menambah pengetahuan”, tetapi merasa : tabir hubungan antar realitas mulai terbuka.
2. Wahdah : Horizon Alam Nur, Maqom Pencerahan Jiwa
Namun pengetahuan saja belum cukup. Karena setelah kesadaran memahami pola, ia mulai bergerak menuju cahaya penyatuan. Inilah wilayah Wahdah : Alam Nur.
Di sini kesadaran manusia mulai mengalami : keluasan, kelembutan, keheningan, keterhubungan, cinta, dan kesatuan rasa.
Dualitas mulai melemah. Ego tidak lagi menjadi pusat mutlak. Manusia mulai merasakan bahwa seluruh keberadaan hidup dalam satu lautan cahaya yang sama.
Maka “pencerahan” di sini bukan sekadar intelektual, tetapi iluminasi eksistensial. Ia bukan hanya mengetahui, tetapi mengalami.
Dan mungkin karena itu banyak tradisi tasawuf menggambarkan tahap ini dengan simbol : cahaya, samudera raya, langit luas, atau fana dalam cinta Ilahi. Karena jiwa mulai lepas dari keterpecahan.
3. Ahadiyah : Horizon Alam Dzat, Maqom Hakikat Eksistensi
Lalu perjalanan kesadaran mencapai batas paling halus : Ahadiyah. Di sini seluruh diferensiasi mulai luluh.
Manusia tidak akan lagi melihat : nama, bentuk, citra, bahkan identitas spiritual. Yang tersisa hanyalah kesadaran terhadap sumber keberadaan mutlak semata.
Dan hal itu terjadi karena Ahadiyah adalah wilayah keesaan mutlak : sebelum pemisahan, sebelum penampakan, dan sebelum diferensiasi.
Maka “hakikat eksistensi” yang ditemukan di sini bukan pengetahuan tentang benda-benda, melainkan penyaksian bahwa seluruh keberadaan bergantung sepenuhnya kepada Yang Wajibul Wujud.
Dan mungkin inilah makna terdalam dari :
“Yang Awal,”
“Yang Akhir,”
“Yang Zhahir,”
“Yang Bathin.”
Bahwa seluruh perjalanan kesadaran pada akhirnya bermuara pada penyaksian : segala sesuatu berasal dari-Nya, tegak karena-Nya, dan kembali kepada-Nya.
______________________
BAB 5 : Irji‘i Ila Rabbiki
Setelah perjalanan panjang kesadaran itu, Al-Qur’an berkata :
ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ
“Kembalilah kepada Tuhanmu.”
Menariknya, Allah tidak mengatakan : “Pergilah kepada Tuhanmu.” Tetapi : “Kembalilah.”
Artinya : ini berarti ada sesuatu dalam diri manusia yang semenjak lampau sebenarnya telah mengenal sumbernya. Dengan demikian maka hakikat perjalanan spiritual itu bukanlah sekadar menemukan sesuatu yang baru.
Tetapi : ia mengingat, tersadar, dan kemudian kembali mengenali asal eksistensinya.
Maka seluruh kehidupan pada akhirnya adalah sebuah perjalanan pulang.
Dari :
• Ajsam menuju Ruh,
• Amarah menuju Mutmainah,
• Keterpecahan menuju kesatuan,
• Hijab menuju penyaksian.
Dan seluruh perjalanan itu berlangsung di dalam rahmat Allah yang maha luas. Karena bahkan medan keterjatuhan manusia pun sesungguhnya merupakan bagian dari tarbiyah Ilahi.
• Ajsam menuju Ruh,
• Amarah menuju Mutmainah,
• Keterpecahan menuju kesatuan,
• Hijab menuju penyaksian.
Dan seluruh perjalanan itu berlangsung di dalam rahmat Allah yang maha luas. Karena bahkan medan keterjatuhan manusia pun sesungguhnya merupakan bagian dari tarbiyah Ilahi.
Penutup
Isra’ Mi‘raj dalam pembacaan hakikat bukan hanya kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW. Ia juga merupakan peta perjalanan kesadaran manusia dari dunia jasad, menuju dunia batin, lalu naik menuju stabilitas ruh, dan akhirnya kembali kepada sumber eksistensinya.
Dalam perjalanan itu manusia akan melewati :
1. Medan Nafsu Amarah di Martabat Ajsam, atau Alam Jasad
2. Medan Nafsu lawwamah di Martabat Mitsal, atau Alam Jiwa
3. Rahmat Nafsu Mutmainah pada Martabat Ruh.
Lalu pada puncak kesadarannya, manusia akan mulai :
4. Menerima Pengajaran Ilmu Sejati di Martabat Wahidiyah, atau alam Asma
5. Mengalami Pencerahan jiwa di Martabat Wahdah atau Alam Sifat
6. Memahami Hakikat Eksistensi di Martabat Ahadiyah atau Alam Dzat.
Maka hidup bukan sekadar perjalanan biologis. Tetapi sebuah perjalanan pulang kesadaran menuju Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar