By. Mang Anas
Pendahuluan
Di dalam Al-Qur’an terdapat peringatan yang sangat mendasar :
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [ QS. At-Tahrim (66) ayat 6 ]
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” [ QS. Thaha (20) ayat 132 ]
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” [ QS. Al-A’la (87) ayat 16–17 ]
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab utama keluarga adalah menjaga arah akhir kehidupan, bukan sekadar memastikan keberhasilan dunia.
Namun dalam realitas modern, yang tampak justru sebaliknya :
• anak-anak diarahkan untuk masuk sekolah terbaik
• mengikuti berbagai kursus
• mengejar perguruan tinggi unggulan
• lalu mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi
Tulisan ini berargumen bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan pola pendidikan, tetapi :
> " Pergeseran orientasi kesadaran keluarga dari akhirat ke dunia"
---
1. Pendidikan sebagai Jalur Ekonomi
Dalam praktik hari ini, pendidikan hampir sepenuhnya diposisikan sebagai :
> alat mobilitas ekonomi
Targetnya jelas :
> masuk perguruan tinggi ternama
> memperoleh pekerjaan mapan
> mencapai kestabilan finansial
Institusi seperti:
> Institut Teknologi Bandung
> Universitas Indonesia
> Universitas Gadjah Mada
menjadi simbol keberhasilan.
Namun dalam proses itu, sering terjadi :
> tujuan pendidikan menyempit menjadi sekadar alat mencapai karier
---
2. Ayat Tidak Hilang, Tapi Tenggelam
Perintah :
√ menjaga keluarga dari neraka
√ menegakkan shalat
√ mengutamakan akhirat
√ tidak pernah hilang dari teks.
Yang berubah adalah:
> posisinya dalam prioritas kehidupan
Dalam keseharian keluarga :
waktu untuk belajar akademik → besar
waktu untuk pembinaan ruhani → sering minimal
Akibatnya:
> nilai akhirat tidak ditolak, tetapi tidak menjadi pusat
---
3. Akar Masalah : Tekanan Sistemik
Fenomena ini tidak bisa dilihat hanya sebagai kesalahan individu.
Ada tekanan besar dari :
a. Sistem ekonomi
• kehidupan semakin kompetitif
• keamanan finansial menjadi kebutuhan utama
---
b. Budaya sosial
• keberhasilan diukur dari prestasi dan penghasilan
• status keluarga terkait pencapaian anak
---
c. Psikologi orang tua
• keinginan melindungi anak
• ketakutan akan masa depan
Sehingga:
> orientasi dunia menjadi dominan karena dianggap lebih “mendesak”
---
4. Dampak pada Kesadaran Anak
Anak-anak tumbuh dengan kerangka :
hidup = kompetisi
nilai diri = prestasi
tujuan = keberhasilan dunia
Namun mereka jarang diajak memahami :
untuk apa hidup ini
ke mana arah akhirnya
bagaimana posisi mereka di hadapan Tuhan
Akibatnya:
> mereka siap menghadapi dunia, tetapi belum tentu siap menghadapi kehidupan
---
5. Pergeseran Makna Ilmu dan Kerja
Dalam kerangka wahyu:
ilmu → cahaya
kerja → amanah
harta → sarana
Namun dalam praktik modern :
ilmu → alat karier
kerja → sumber penghasilan
harta → tujuan
Maka terjadi perubahan :
> dari makna ke fungsi, dari tujuan ke alat, dari ibadah ke utilitas
---
6. Bukan Menolak Dunia, Tapi Meluruskan Orientasi
Penting ditegaskan :
pendidikan tinggi → bukan masalah
pekerjaan baik → bukan masalah
kesejahteraan → bukan masalah
Yang menjadi persoalan adalah :
> ketika semua itu terputus dari orientasi akhirat
Seharusnya :
belajar → bagian dari ibadah
bekerja → bentuk pengabdian sebagai khalifah
harta → sarana untuk kebaikan
---
7. Sintesis : Krisis Kesadaran dalam Keluarga
Jika diringkas, masalah utamanya adalah :
> kesadaran yang menyempit pada dunia dan melupakan horizon akhirat.
Ini bukan penolakan terhadap agama, tetapi :
> pelemahan prioritas spiritual dalam kehidupan sehari-hari
---
Kesimpulan
Fenomena pendidikan modern dalam keluarga menunjukkan:
> pergeseran orientasi dari membentuk manusia yang selamat di akhirat, menjadi membentuk manusia yang berhasil di dunia
Dalam satu kalimat paling padat :
> ketika keluarga lebih sibuk menyiapkan masa depan dunia anak daripada arah hidupnya, maka keberhasilan bisa tercapai, tetapi keselamatan belum tentu terjamin
---
Penutup Reflektif
Peradaban modern telah memberikan :
√ akses pendidikan luas
√ peluang ekonomi besar
√ mobilitas sosial tinggi
Namun tanpa orientasi ilahiah:
> semua itu berisiko menjauhkan manusia dari tujuan utamanya
Karena pada akhirnya:
> pertanyaan terpenting bukanlah “anak ini akan jadi apa?”, tetapi “anak ini akan menuju ke mana?
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar