Halaman

Jumat, 15 Mei 2026

Menelusuri Jejak "Agama Salam" : Warisan Universal Para Nabi dalam Teks Injil dan Al-Qur'an

By. Mang Anas 


Pendahuluan

Dalam diskursus keagamaan modern, label "Nasrani" dan "Islam" sering kali dilihat sebagai dua entitas yang terpisah secara diametral. Namun, jika kita menanggalkan sekat terjemahan bahasa Barat dan kembali ke akar bahasa aslinya—bahasa Semitik (Arab, Aram, Ibrani)—kita akan menemukan sebuah kenyataan linguistik yang menakjubkan. Ada sebuah "benang merah" berupa kata "Salam" yang menjadi identitas utama ajaran para nabi, termasuk Yesus Kristus (Isa Al-Masih).

Kedekatan Struktur : Sebuah Kebetulan atau Kesamaan Misi ?

Menjelang akhir hayatnya, baik Yesus dalam Injil maupun Nabi Muhammad SAW melalui wahyu yang diterimanya, meninggalkan sebuah "wasiat" bagi umatnya. Perhatikan perbandingan teks bilingual berikut :

Teks Asli ( Bahasa Arab)  : 

Yohanes 14 : 27 [ AVD ] --->   سَلاَمًا أَتْرُكُ لَكُمْ. سَلاَمِي أُعْطِيكُمْ

Salāman atruku lakum... Salam Aku tinggalkan bagimu..

QS. Al-Ma'idah 5 : 3 ----> ..وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

wa raḍītu lakumul-Islāma dīnā...dan telah Kuridai Islam sebagai agamamu.

Analisis Mendalam : Salam sebagai "Din"

Secara teologis, ayat-ayat di atas menunjukkan kesamaan momentum:

 1. Momen Perpisahan (The Farewell Moment) : Keduanya diucapkan sebagai poin final dari sebuah perjalanan panjang kerasulan.

 2. Kata Ganti "Lakum" (Bagi Kalian) :  Penggunaan kata "Lakum" menegaskan bahwa apa yang dibawa oleh sang Nabi bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan sebuah warisan (legacy) bagi umat manusia.

 3. Substansi S-L-M : Bagi penutur bahasa Arab, kata "Salam"  (سَلاَم) dan "Islam"  (إِسْلَٰم) mengalir dari akar kata yang sama : S-L-M. Jika "Salam"  berarti kedamaian dan keselamatan, maka "Islam" adalah tindakan berserah diri untuk mencapai kedamaian tersebut.

Saat Yesus berkata, "Salamun atruku lakum", secara substantif ia sedang menyatakan, "Aku tinggalkan sistem kedamaian/ penyerahan diri ini sebagai pegangan hidup kalian." Ini adalah bentuk nyata dari apa yang disebut Al-Qur'an sebagai "Dinul Islam " —agama yang lurus.

Melampaui Sekat Sektarian

Al-Qur'an menegaskan dalam Surah Ali 'Imran ayat 67 bahwa para nabi tidak pernah melabeli diri mereka dengan sebutan sektarian seperti Yahudi atau Nasrani. Temuan dalam teks Injil berbahasa Arab ini seolah menjadi bukti "fosil linguistik" yang masih tersisa.

Istilah "Nasrani" atau "Kristen" adalah label yang muncul kemudian untuk mengidentifikasi kelompok pengikutnya. Namun, dari lisan sang Nabi sendiri, yang keluar adalah proklamasi tentang  " Salam"—sebuah jalan hidup universal yang menuntut penyerahan diri total kepada Sang Pencipta (Muslim).

Kesimpulan

Membaca Injil dalam bahasa Arab memberikan perspektif yang berbeda. Kita tidak lagi melihat Yesus melalui kacamata teologi Barat, melainkan sebagai seorang Nabi Semitik yang membawa pesan kedamaian yang sama dengan nabi-nabi sebelumnya.

Antara "Salamun atruku lakum" dan "Al-Islama dina", tidak ada pertentangan makna. Keduanya adalah satu kesatuan pesan yang menyatakan bahwa keselamatan hanya bisa dicapai melalui kedamaian yang lahir dari penyerahan diri kepada Tuhan. Dengan demikian, "Agama Salam" yang diingat oleh sejarah bukan lain adalah esensi dari Islam itu sendiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar