Halaman

Jumat, 27 Mei 2022

Kupas Tuntas Makna " Amanu, Aslamu, Kafaru , Musyriku dan Munafiku "

Seri Ilmu Huruf :

By. Mang Anas


A. Makna Sirr kata امن [ Amanu ]

Yang disebut orang beriman adalah orang yang dilimpahi berkah kemakrifatan [ ن ] dan hikmat  [ م ] ketuhanan [ ا ]. 

Kata أمن juga bisa diartikan penyaksian seseorang [ ن ] dengan seluruh jiwanya dan dari hatinya yang paling dalam, benar bahwa Muhammad saw [ م ] adalah nabi dan utusan Allah [ ا ] .

Dari kata " dilimpahi " itu kita dapat menyimpulkan bahwa perkara iman itu adalah murni otoritas Tuhan dan sifatnya tajalli. Dan karena perkara keimanan ini adalah sesuatu yang sifatnya tajalli maka kepada siapa ia datang dan iman apa yang dipeluknya, semuanya sudah merupakan kehendak dan ketetapan Tuhan, disini manusia sama sekali tidak memiliki otoritas ataupun wewenang untuk menolaknya. Dan dengan demikian maka hakikat keimanan itu adalah murni pemberian dari Tuhan. 




Bagan : Misteri Agama agama dan Kedudukannya pasca Kedatangan Syariat Nabi Muhammad Saw dalam Perspektif Makna Sirr Surat Al-Fatiha.


وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًاۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ (١٤٨)

" Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. " (Q.S. Al-Baqarah ayat 148)

Dari uraian diatas kita pada ahirnya akan diajak untuk menyelami sebuah hakikat  pengetahuan yang bukan saja penting, tetapi juga sering kurang tuntas dijelaskan : yaitu mengapa Tuhan menjadikan manusia agamanya berbeda - beda,  iman dan kepercayaan mereka juga bermacam - macam. Apa alasannya, dan apa tujuannya.

Dan kala kita telah mampu mencermati dan menyelami dalil-dalilnya, maka dengan sendirinya kitapun akan mendapatkan jawabannya, yaitu bahwa ternyata keanekaragaman iman, agama dan kepercayaan manusia itu semuanya terjadi karena kehendak Allah. Dia sendirilah yang mengatur dan yang menetapkannya, mulai dari : kapan seseorang harus lahir, dimana,  dari keturunan siapa, dilingkungan keluarga yang agamanya apa, dalam ras apa, di lingkungan sosial yang bagaimana dan seterusnya. Dengan kata lain, disini manusia sama sekali tidak diberi kewenangan untuk memilih.

Rasulullah Saw bersabda: "Setiap anak dilahirkan (dalam keadaan) fitrah, kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau bahkan beragama Majusi ...[ HR. Muslim ]

Pertanyaanya, siapakah yang menetapkan seorang anak harus lahir dari keluarga yang Yahudi, Nasrani atau Majusi ?  Sehingga anak itu pada ahirnya merasa lebih cenderung dan merasa lebih familiar terhadap agama yang dianut oleh bapak dan ibunya. Jawabnya, pastilah Tuhan. Tuhan lah yang membuatnya demikian.

Lalu jika memang itu perbuatan Tuhan dan terjadi melalui kehendak dan ketetapan-Nya, maka pemilik akal sehat pasti akan bertanya,  mengapa Tuhan yang katanya Maha Adil, Maha Rahman dan Maha Rahim berbuat demikian ?,  maka inilah jawabannya,

 لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ (٤٨)

" Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, " (Q.S. Al-Ma'idah ayat 48)l

لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ   لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ (٦٧)   وَاِنْ جَادَلُوْكَ فَقُلِ اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ (٦٨) اَللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ (٦٩ )

Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan dengan engkau dalam urusan (syariat) ini dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus (67), Dan jika mereka membantah engkau, maka katakanlah, “Allah lebih tahu tentang apa yang kamu kerjakan " ( 68), Allah akan mengadili di antara kamu pada hari Kiamat tentang apa yang dahulu kamu memperselisihkannya. (Q.S. Al-Hajj ayat 67- 69)

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ  كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (١٠٨)

"Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan". (Q.S. Al-An'am ayat 108)

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالصَّابِـُٔوْنَ وَالنَّصٰرٰى مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ (٦٩)

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, shabiin dan orang-orang Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati." (Q.S. Al-Ma'idah ayat 69)

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ (١٣)

" Sesungguhnya orang-orang yang  berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. " (Q.S. Al-Ahqaf ayat 13)

سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ (٢١)

" Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. "   (Q.S. Al-Hadid ayat 21)

Begitulah, dan ternyata bahwa yang namanya kebenaran, nur dan cahaya Tuhan itu banyak terserak, ia bisa berada dimana saja,  tersembunyi  dibalik berbagai macam agama dan keyakinan, dan didalam hati sanubari hamba hamba-Nya. 

Dan adapun untuk mendapatkan apa yang terserak dan yang tersembunyi itu [ yang disebut sebagai jati diri atau fitrah], disini kita dituntut untuk melakukan pencarian dan pendakian rohani secara bersungguh-sungguh, dengan berkesinambungan, dan musti dilakukan sepanjang hayat.

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ  فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ (٦٤)

Katakanlah, “Wahai Ahli Kitab! Marilah [ kita melakukan pendakian rohani dengan  sungguh -sungguh lewat agama dan cara kita masing-masing  ], hingga kita tiba di puncak [ makrifat] yang sama, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. ” (Q.S. Ali 'Imran ayat 64)

Dengan " melakukan proses pendakian ruhani secara benar dan bersungguh-sungguh itu " maka manusia dengan latar belakang agama dan kepercayaan apapun dipastikan akan dapat mencapai hakikat Tuhannya, yaitu dapat memakrifahi Af'al,  Asma, Sifat dan Dzat-Nya. Proses ini sebenarnya mirip dengan peristiwa beberapa kelompok pendaki yang hendak melakukan pendakian ke sebuah puncak bukit, maka dari sisi manapun mereka mendaki pada ahirnya akan sampai dan tiba dipuncak yang sama, yakni bahwa "  bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah ", itulah yang disebut menemukan fitrah, 

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ  لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ (٣٠)

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus [ yaitu agama yang paling sesuai dengan hakikat dirimu ], itulah  fitrah Allah, yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrahnya [ masing-masing]. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. Ar-Rum ayat 30)

Ketidak-tahuan itulah yang menyebabkan manusia satu sama lain saling bertengkar, menjadi saling membenci, bahkan bunuh-membunuh dan saling menumpahkan darah sesamanya hanya gara-gara perbedaan agama dan keyakinan. 

 ۨ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ (٤٠)

" Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. " (Q.S. Al-Hajj ayat 40)

Siapakah yang dimaksudkan sebagai orang-orang yang menolong Agama Allah  ? 

اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ (٤١)

" 1. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat [ yaitu memakmurkan masjid-masjid, biara- biara, sinanog-sinanog dan gereja- gereja yang didalamnya Nama Allah  disebut dan diagungkan ] 

2. menunaikan zakat [ Memiliki komitmen terhadap prinsip kemakmuran dan kesejahteraan bersama  ]

3. dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar [ memiliki komitmen untuk senantiasa memelihara keamanan dan ketertiban umum ] 

Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan [ hanya Allah -lah satu- satunya yang berhak menilai dan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah  ]. "  (Q.S. Al-Hajj ayat 41)

Yaitu nanti bila telah tiba waktunya [ di alam akhirat ] dan saat itu segala  hijab yang menutupi mata manusia disingkapkan [ semua hati manusia dikasyafkan ]. Maka pada saat itu barulah semua manusia akan menyadari bahwa apa yang selama ini selalu mereka perselisihkan itu pada hakikatnya  hanyalah skenario besar Yang Maha  Agung,  Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Menetapkan Permainan. Sesuai dengan firman-Nya berikut ini : "Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu,...(Q.S. Al-Ma'idah ayat 48)l, dan bahwa " Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan, maka tidak sepantasnya mereka berbantahan....(Q.S. Al-Hajj ayat 67- 69), dan " Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka...." [ QS. Al-An'am ayat 108 ].


Bagan : Level - level Pendakian Rohani Manusia lewat Agama -agama dan Kepercayaannya

Oleh karena itu mengenai jalan syariat antar agama yang berbeda- beda itu, maka sepanjang mereka masih dapat menemukan kebenaran Tauhidnya [ kebenaran yang Tunggal dan Universal  ] dan sepanjang masih berada dalam koridor yang dapat dibenarkan, maka Allah swt tidak akam hendak mempermasalahkannya.

Dan kalau kita mencoba menilik lebih teliti lagi ayat ayat tersebut diatas hingga pada substansinya yang paling dalam, maka yang namanya  " keislaman " [ jalan para nabi dan rasul atau Dinullah ] itu hakikatnya adalah universal, ia tidak bisa kita claim atau dimonopoli sebagai hanya milik kita. Islam dan keislaman itu bersifat inklusif, maka ia bisa diperoleh dari banyak jalan, lewat agama-agama dan dari segala ragam keyakinan.

Oleh karena Islam itu adalah agama yang dibawa dan diwahyukan kepada semua nabi, maka ia bisa menjadi milik siapa saja yang merasa menjadi umat dari nabi yang di ikutinya, yang mengimani dan yang mengamalkan ajaran agamanya. Sebab arti substansi dari islam itu sendiri adalah aman, sampai, selamat, damai, serta tunduk dan pasrah kepada kehendak Tuhan. Yakni Tuhan Yang Sejati, Yang Tunggal, Yang Sendiri dan Yang Berdiri diatas Dirinya Sendiri. Terlepas siapapun nabinya.

Dan adapun jalan yang paling dibenci Allah swt adalah jika kita menjadi kafir, menjadi musyrik, berlaku fasik atau jika kita menjadi orang munafik dalam segala seginya dan disemua mantranya. Yaitu jika kita menjadi manusia yang malas untuk mendaki dalam rangka mencari kesejatian dirinya, baik karena sombong atau menutup diri. Karena berwatak rakus, tiran dan serakah. Atau karena sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas. Menjadi pendendam, berkhianat,  iri, dengki dan tidak peduli serta tidak memiliki sifat belas kasih. Suka menyebarkan fitnah, suka mengadu domba  dan suka mengobarkan  permusuhan diantara sesama manusia. 

Dengan  demikian maka sekali lagi bahwa yang namanya penganut Islam [ pengikut jalan para nabi dan rasul atau Dinullah ] itu bukanlah apa yang tertulis pada kolom agama di KTP - nya. Sebab Islam itu adalah substansi, ia  bukanlah kulit, jubah, gamis, kerudung atau jenggot. Lebih penting lagi Islam adalah soal tauhid, soal hati, sikap dan perilaku yang mencerminkan ketulusan dan kelembutan hati, kepedulian dan kasih sayang. Sebab hakikat Islam [ jalan para nabi dan rasul atau Dinullah ] adalah " Rahmatan lil alamin " dan " Bismillahi rohmani rohim ". Dan hal itu hanya bisa dicapai dengan pencarian dan usaha yang sungguh-sungguh serta tidak kenal-lelah. Nilai-nilai itu jika ia telah bersemayam pada diri seseorang karena ia telah berusaha untuk mencari dan bertekad mendapatkannya maka ia layak menyebut dirinya muslim : dimata manusia ia bisa saja berwujud sosok seorang kyai, sosok pendeta, sosok pastur, sosok bikshu, sosok petani, sosok pedagang, sosok buruh, karyawan, dukun, atau sosok pejabat, pengusaha, akademisi dan bahkan tukang cendol, sepanjang nilai-nilai itu ada dan tertanam kuat didalam dirinya, terlepas dari apapun bunyi kolom agama yang tertulis di KTP-nya, maka hakikat mereka dimata Tuhan adalah muslim dan mereka termasuk orang-orang yang beriman dalam pengertiannya yang murni dan sejati. Itulah " orang orang yang oleh Allah dijanjikan akan mendapatkan keselamatan, tidak ada rasa khawatir dan tidak bersedih hati ".

Pandangan yang sama kunjungi laman Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=CiBkE3E3OTQ


B. Makna Sirr kata  اسلم [ Aslamu ]

Adapun yang dimaksud dengan اسلم adalah manusia yang dengan kemampuan hikmat yang dimilikinya, yaitu dengan seluruh potensi hati, akal dan kecerdasannya [ م ] berusaha menundukkan nafsunya atau membuka hijab dirinya [ ل ] sampai ia dapat memahami dengan sebenar- benarnya siapa misteri dirinya [ س ] sehingga ia pun kemudian dapat mengenali Tuhannya [ ا ] lalu ia berusaha mentaatinya disepanjang kehidupannya. 

Kata أسلم juga bisa dimaknai sebagai pelaksanaan lima rukun islam, yaitu syahadat sebagai  bentuk pengakuannya kepada Tuhan [ ا ], shalat sebagai tanda ketundukan dan sifat penghambaannya [ ء ], zakat sebagai bentuk derma kemanusiaannya [ س ], puasa sebagai cara untuk menundukkan hawa nafsunya [ ل ] dan haji sebagai puncak pencapaian martabat kemanusiaannya, yang dalam hal ini adalah maqom Muhammad [ م ] atau maqom insan kamil.

Dan yang ketiga, kata  أسلم  juga bisa dimaknai sebagai pelaksanaan lima sila dalam Pancasila yaitu, Ketuhanan yang maha esa [ ا ], Kemanusian yang adil dan beradab [ ء ], persatuan [ س ], Kerakyatan yang dipimpin [ ل ] oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, dan yang terahir adalah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat [ م ]. 

C. Makna Sirr kata  كفر [ Kafaru ]

Makna Sirr atau makna substantif huruf ك pada kata كفر adalah kesombongan. Yakni manusia yang merasa dirinya dapat melakukan segalanya sendiri, karena jabatan dan kekuasaannya [ د  ] atau karena ilmu dan kemampuannya [ ء ], harap diingat bahwa asal usul pembentukan huruf ك adalah dari elemen huruf د dan ء.

Adapun huruf ف  adalah perlambang dari kharisma atau besarnya pengaruh keduniaan orang yang bersangkutan dihadapan masyarakatnya atau terhadap komunitas yang dipimpinnya. Sementara huruf ر adalah simbol dari amal dan jasa jasanya. 

Dengan demikian huruf ك ، ف dan ر itu masing-masing berkontribusi dalam membentuk kepribadian seseorang untuk menjadi sombong. Sedangkan kesombongan adalah pintu dari segala kekafiran.

اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مُّنْكِرَةٌ وَّهُمْ مُّسْتَكْبِرُوْنَ (٢٢)

" Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari, dan mereka adalah orang yang sombong. " (Q.S. An-Nahl ayat 22)

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓ ۙ (٦)  اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ (٧)

" Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas (6), apabila melihat dirinya serba cukup. " (Q.S. Al-'Alaq ayat 6 - 7)

"Tidak akan masuk kedalam surga orang yang dihatinya ada kesombongan meskipun seberat biji sawi. Lalu ada yang bertanya : sesungguhnya seseorang itu sangat senang kepada baju dan sandal yang bagus ? maka beliau berkata : sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia". [ HR Muslim ].

D. Makna Sirr kata  مشرك [ Musyriku ]

Musyrik adalah suatu keadaan dimana seseorang mengingkari fitrah ke-Muhammad-an [ م ] yang sejati yang ada pada dirinya [ ش ] sekalipun Tuhan sudah dengan jelas sekali menunjukkan segala rahmat dan tanda tanda kasih-sayangnya [ ر ] kepada manusia. Mereka [ ك ] berbuat demikian itu tidak lain karena mereka merasa dirinya dapat melakukan segalanya sendiri, baik karena jabatan dan kekuasaannya [ د  ] atau karena ilmu dan teknologi [ ء ] yang dikuasainya. Semua itu dipandangnya dapat diraih semata- mata karena berkat usaha dan kerja kerasnya sendiri. Dan pada apa yang telah diraihnya itu mereka beranggapan, disana tidak ada peran atau andil Tuhan. 

فَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَاۖ ثُمَّ اِذَا خَوَّلْنٰهُ نِعْمَةً مِّنَّاۙ قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ ۗبَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ

" Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Az-Zumar Ayat: 49)

Dengan demikian maka di era modern ini kata مشرك itu harus dimaknai sebagai kecendrungan untuk " me-nuhan-kan " dirinya sendiri. Jadi Musyrik itu jangan hanya dikonotasikan dengan penyembah patung, pepohonan, matahari, bintang - bintang ,  jin atau setan.

Karena model kemusyrikan yang lebih banyak mewujud pada era sekarang ini adalah kesombongan model fir'aun dan gaya tiran raja Namrud. Dua figur manusia yang dimabok kepayang karena besarnya kekuasaan dan ketinggian ilmu dan tingkat peradaban yang dicapainya.

E. Makna Sirr kata منفق [ Munafik ] 

Kata munafik tersusun atas huruf, م، ن، ف، ق. Huruf م menyimbolkan pengetahuan, ن melambangkan diri orang yang berpengetahuan, huruf ف dengan harokat kebawah melambangkan kegelisahan hatinya terkait terganggunya kepentingan atau ketakutan surutnya pamor diri atau pengaruh kepemimpinannya dihadapan orang, sedangkan huruf ق adalah simbol dari usahanya untuk mempertahan diri dengan berbagai cara. Dengan demikian makna dari kata منفق  adalah individu atau segolongan orang dari kasta atau kelompok tertentu yang berusaha mempertahankan status quo dirinya dihadapan orang banyak, biasanya karena datangnya figur baru yang dianggap bisa mengancam kepentingan diri dan atau kedudukannya, dan itu akan ditempuh dan dilakukan dengan berbagai cara termasuk jika itu sebuah penghianatan atau bahkan tindak kejahatan. 

Oleh karena itu sifat atau karakter utama yang menghinggapi orang orang munafik adalah bersarangnya sifat sifat dendam,  dengki, iri hati, menyebar fitnah, berkhianat dan suka mengadu domba. 

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ رَاَيْتَ الْمُنٰفِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًاۚ (٦١)

" Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (niscaya) engkau melihat orang munafik menghalangi dengan keras dirimu. " (Q.S. An-Nisa' ayat 61)

يَحْذَرُ الْمُنٰفِقُوْنَ اَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُوْرَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلِ اسْتَهْزِءُوْاۚ اِنَّ اللّٰهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُوْنَ (٦٤)

" Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), “Teruskanlah berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kamu takuti itu. "  (Q.S. At-Taubah ayat 64)

وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَدَعْ اَذٰىهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا (٤٨)

" Dan janganlah engkau menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah engkau hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. " (Q.S. Al-Ahzab ayat 48)

۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ نَافَقُوْا يَقُوْلُوْنَ لِاِخْوَانِهِمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَىِٕنْ اُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيْعُ فِيْكُمْ اَحَدًا اَبَدًاۙ وَّاِنْ قُوْتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ (١١)

" Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. "  (Q.S. Al-Hasyr ayat 11)

وَاِذْ يَقُوْلُ الْمُنٰفِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اِلَّا غُرُوْرًا (١٢)

" Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit berkata, “Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka.” (Q.S. Al-Ahzab ayat 12)

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat.




Rabu, 25 Mei 2022

Rahasia Keutamaan Lafadz Dzikir Empat Kalimat Mulia Yang Jarang Orang Tahu

Seri Ilmu Huruf : 

By Mang Anas 


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ ».

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” (HR. Muslim no. 2695).


Gambar  : Tingkatkan Dzikir, Martabat dan Warna - warna Cahayanya [ Warna Cahaya bisa dilihat pada Warna kotaknya dan bukannya huruf ]


1. Makna sirr fadhilah lafad dzikir kata سُبْحَانَ

Kala Huruf س [ diri manusia ] telah menemukan rahasia ب [ pengajaran ilmu sejati ] dan kala ilmu itu dituangkan kedalam dadanya [ ح ]  sebagai bentuk anugerah dari Tuhannya [ ا ],  maka atas kehendak-Nya di dudukkanlah si hamba itu pada maqom huruf ن, yaitu kedudukan orang-orang yang diberi pengajaran dan karunia ilmu langsung dari Tuhannya. 

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ (٣)  الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ (٤)  عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ (٥)

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia (3), Yang mengajar (manusia) dengan pena ( 4) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-'Alaq ayat 3 - 5)

2. Makna Siir fadhilah lafad dzikir kata  الْحَمْدُ

Saat Tuhan [ ا ] menghendaki untuk membuka hijab para hambanya [ ل ] yaitu hijab raga, akal dan nafsunya, lalu Tuhan menghendaki untuk menuangkan warid - warid hikmah kedalam dada hambanya [ ح ] atas karunia dari-Nya, maka dengan seketika akan jadilah si hamba itu manusia yang bijaksana [ م ], lalu Allah pun mendudukkannya pada maqom ulil albab [ د ]. Yakni segolongon manusia yang dianugerahi ilmu dan hikmah dari Tuhannya.

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُۚ  وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ  وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ (٢٦٩)

Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali para Ulil Albab. (Q.S. Al-Baqarah ayat 269)


3. Makna Siir fadhilah lafad dzikir kata  اللهُ

Kala Dia, yakni Dzat yang Ghoibul ghuyub [ ا ] menghendaki diri-Nya untuk dikenali maka kepada hamba yang dikehendaki- Nya itu Dia akan memperlihatkan cahaya diri-Nya للل  [ Nurullah dan Nur Muhammad ] kepada diri hamba-Nya. Dan kepada hamba-Nya itu lalu dibentangkanlah segala keagungan dan rahasia kebesaran diri-Nya [ ه ]. 

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ (٦)

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. (Q.S. Al-Insyiqaq ayat 6)


4. Makna Siir fadhilah lafad dzikir kata  أَكْبَرُ

Kala Dia [ ا ] telah berkehendak untuk mendekatkan sang hamba kepada  diri-Nya, serta mengangkat derajat hamba yang sangat dikasihi-Nya itu pada maqom khusus [ ك ] dan Dia pun berkehendak untuk memberikan kepada hamba-Nya itu anugerah-Nya yang paling besar, " Sirrun min Asrariy atau Rahasia di antara Rahasia-Ku " [ ب ], maka sebagai tanda dari pencapaian maqom, kepada hamba-Nya itu dihiaskanlah jubah kebesaran- Nya [ ر ]. Demikianlah pentahbisan itu dilakukan-Nya terhadap diri hamba yang Dia kehendaki untuk diangkat derajatnya ke maqom Siddiqin [ وَشَاهِدٍ وَّمَشۡهُوۡدٍؕ ].

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ (٤)  عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ (٥)  ذُوْ مِرَّةٍۗ  فَاسْتَوٰىۙ (٦)  وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ (٧) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ (٨)  فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ (٩) فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ (١٠)  مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى (١١)

Tidak lain (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (4) yang diajarkan kepadanya oleh yang sangat kuat,  (5) yang mempunyai keteguhan; maka Dia menyibakkan rahasia diri-Nya (6) Sedang dia berada di ufuk yang tinggi (7) Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat,  (8) sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi) (9) Lalu disampaikan- Nya wahyu kepada hamba-Nya apa yang telah diwahyukan (10) Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.  (Q.S. An-Najm ayat 5 - 11)


5. Makna Siir fadhilah lafad dzikir kata  حَوْلَ dan kata  قُوَّةَ

a. Makna Sirr huruf- huruf lafad حَوْلَ

Yaitu ketika  para hamba yang dadanya telah dipenuhi oleh ilmu, hikmat, makrifat dan hakikat itu [ ح ] diturunkan kembali ke alam manusia dan dia harus bertindak sebagai agen atau wakil Tuhan dimuka bumi [ و ] untuk menjalankan perannya selaku rijaul ghaib [ ل ], yaitu menjadi guru dan mursyid ditengah - tengah manusia dan mengajari mereka jalan sampai kepada Tuhannya. 

b. Makna Sirr huruf- huruf lafad قُوَّةَ

Maka dengan kehendak-Nya dijadikanlah manusia yang sangat dikasihani-Nya itu pemimpin ditengah tengah umatnya [ ق ] lalu orang-orang pun serentak menjadi sangat takdim dan merasa sangat menyintainya, karena mereka seperti melihat pantulan cahaya Tuhan itu ada pada dirinya [ و ] lalu mereka pun berduyun duyun datang mengerumuninya untuk mendapatkan barokah ilmu yang diajarkannya [ ت ] 

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ (١٢٨)

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (Q.S. At-Taubah ayat 128)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ (٢١)

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Q.S. Al-Ahzab ayat 21)


Semoga Tulisan ini bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita semua. 




Senin, 09 Mei 2022

Tahapan Penciptaan Manusia dan Proses Perjalanan Rohaninya Kembali Kepada Tuhan [ Perspektif Martabat Tujuh ]

By. Ki Bagus Fanani 


Berikut sedikit keterangan dari alam-alam yang dinaiki oleh rohani seseorang: 

Bagan : Tujuh Lapisan Batin Diri Manusia


1.Alam pertama adalah alam wadag (alam semesta) tempat tubuh kasar manusia (jisim kasyif) beraktifitas. 

Dalam martabat tujuh jisim kasyif adalah alam insan kamil tempat bersemayamnya jisim latif (tubuh halus) dan anggota batin yang sudah bersamanya. Jisim kasyif dipenuhi cahaya yang berwarna-warni disebut juga sebagai latifah, cahayanya berubah-rubah warna tergantung keadaan batin manusia. 

Setelah Dia membentuk jisim latif manusia di alam ajsam Dia memastikan Diri kalau makhluk yang akan mengenal-Nya menjadi mahkluk super semesta. Dia kemudian menggabungkan seluruh unsur kelangitan yang sudah tercipta untuk dijadikan tempat bagi para jisim latif dan terciptalah alam wadag dan salah satunya adalah bumi yang kemudian unsurnya dijadikan bahan untuk penciptaan jisim kasyif (tanah, air, angin, dan api). 

Sesudah terbentuknya alam wadag tersebut jisim latif manusia mulai berpindah dari alam ajsam ke alam insan kamil atau jisim kasyif saat berusia empat bulan di dalam kandungan, dan diusia tujuh bulan jisim kasyif berproses memersiskan wujudnya seperti wujud jisim latifnya. 

Alam wadag memiliki jaringan alam semesta bentuknya seperti jala yang saling terhubung. Satu titik jala memiliki gabungan dari berbagai galaksi, satu titik jala terhubung dengan satu titik jala yang lain dan saling menguatkan. Jala-jala semesta ini keluar dari lubang gelap penghubung antara alam wadag dan alam alus, mereka keluar dan menemukan jalannya masing-masing ada yang diam, berputar, berpindah, berterbangan, dan mengikuti yang besar. Jisim latif dan anggota batin lainnya yang masih berada di alam wadag diperkenankan menjelajah menaiki lapisan-lapisannya dan mampu masuk di lubang gelap yang kemudian tembus menaiki alam ajsam dan lapisan-lapisan alam selanjutnya.

مِنَ اللّهِ ذِى الْمَعَارِجِ.

(Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. (Al Ma’aarij, 3). 

Manusia di alam wadag disebut sebagai insan yang telah terbentuk sempurna dari tujuh susunan yakni dzat, nur, sirr, ruh, nafsu, akal, dan tubuh. Keadaannya tenang, terang, penuh rahasia, mengenali, berkeinginan, berpikir, dan berbentuk. 



Gambar  : Ruh Manusia dan Perjalanan Takdirnya 


2.Alam kedua yang akan dinaiki adalah alam alus atau alam ajsam. 

Setelah alam mitsal tercipta, Dia mewujudkan keinginannya terciptalah alam ajsam dan akal. Bersamaan dengan itu ruh manusia berpindah ke alam ajsam. Saat ruh manusia berada di alam ajsam, ruh manusia dibekali akal dan membentuk wujud halus, jadilah jisim latif manusia. 

Alam ajsam adalah tempat dimana seluruh makhluk halus berada, mereka berbentuk halus, berwarna dan bersuara. Wujud alamnya serba halus dan berlapis-lapis ada yang dominasi warna merah, biru, hijau, putih, dan warna warni lainnya. 

Seluruh makhluk halus yang tak kasat mata berpusat di alam ini termasuk jin dan lain sebagainya, mereka semua beribadah dan menerima hasil dari perbuatannya sendiri. 

Manusia di alam ajsam ini telah terbentuk enam susun yakni dzat, nur, sirr, ruh, nafsu, dan akal. Keadaannya tenang, terang, penuh rahasia, mengenali, berkeinginan, dan berpikir. 

Karena jisim latif manusia terbentuk di alam ini, manusia diperkenankan masuk di alam ini. Baik sedang dalam keadaan terjaga atau dalam keadaan tidur. 

3.Alam ketiga yang dinaiki adalah alam lembut atau alam mitsal. 

Setelah Dia menciptakan ruh manusia di alam arwah Dia menggerakan Ruh-Nya berputar terciptalah alam mitsal dan nafsu. Setelah alam mitsal tercipta ruh manusia berpindah ke alam mitsal dan dibekali nafsu, saat ruh dibekali nafsu ruh menjadi memadat dan menjadi jisim na’im (tubuh lembut). 

Alam mitsal sangat luas dan teduh, lebih halus dari alam ajsam, penuh cahaya-cahaya yang bergerak bebas, mereka adalah jisim na’im yang belum turun ke alam ajsam, atau juga manusia yang telah mampu naik, atau manusia yang sudah meninggal. Mereka yang berada di alam ini senang memuja dan memuji, saling memberi salam dan saling memberi kabar. 

Di alam mitsal ini manusia telah terbentuk dari lima susun yakni dzat, nur, sirr, ruh, dan nafsu. Keadaannya tenang, terang, penuh rahasia, mengetahui dan berkeinginan. 

Karena manusia berbahan dari alam ini manusia diperkenankan untuk memasukinya. 

4.Alam keempat yang dinaiki adalah alam Ruh atau alam Arwah. 

Setelah Dia menampakan rahasia-Nya Dia mewujudkan keinginan-Nya jadilah Ruh-Nya, dan dari ruh-Nya Dia menciptakan alam arwah. Setelah alam arwah tercipta Dia menciptakan ruh manusia dari ruh-Nya. 

Keadaan alam arwah sangat jernih dan luas, di dalamnya terlihat cahaya-cahaya yang berkelompok, ketika didekati mereka adalah ruh-ruh manusia. 

اَلْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ

Ruh-ruh itu (seperti) pasukan yang mengelompok. 

Setelah ruh-ruh tercipta Dia mempertanyakan kepada ruh-tersebut siapa Diri-Nya, dan ruh -ruh pun mengakui kalau Dia adalah pencipta-Nya. 

وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا

Dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. 

Ruh-ruh yang belum menerima kodrat masih berada di alam ini, ruh-ruh yang telah menerima kodrat diturunkan di bumi dan dimasukan pada tubuh manusia yang telah siap didiami. 

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan roh ke dalam (tubuh) nya roh-Nya. (As-Sadjah: 9) 

Ruh-ruh yang masih berada di dalam tubuh manusia diperkenankan hadir di alam arwah ini, dan ruh-ruh yang telah berpisah dari tubuh manusia karena kematian dan telah menyampaikan misi kelangitan akan kembali ke alam ini, mereka berkumpul kembali dengan kelompoknya dan saling bercerita tentang perjalanannya di alam wadag. 

Di alam ini manusia sudah tercipta empat susunan yakni dzat, nur, sirr, dan ruh. Keadaannya tenang, terang, penuh rahasia, dan mengenali Tuhannya. 

Dulu di alam ini ruh manusia dicipta dari Ruh-Nya. Dan karena ruh manusia berasal dari Ruh-Nya manusia yang masih di dunia diperkenankan masuk di alam arwah ini.

5.Alam kelima yang dinaiki adalah alam Sirr atau alam Wahidiyyah, tempat rahasia Allah meracik alam semesta, alamnya berkilau seperti kirstal. 

Setelah Dia menerangi Diri-Nya dengan Nur-Nya, Dia menampakan siapa Diri-Nya jadilah Sirr-Nya (rahasia-Nya), dari dari sirr-Nya Dia menciptakan alam Sirr atau alam Wahidiyyah. 

Di alam kelima ini Dia meracik nur manusia dari Nur Muhammad sekaligus menanamkan Sirr-Nya agar manusia mampu mengenali, memahami dan menyaksikan segala rahasia-Nya. 

اِنَّ عِلْمَ الْبَاطِنِّ هُوَسِرٌّ مِنْ سِرِّيْ، أَجْعَلُهُ فِيْ َقَلْبِ عَبْدِيْ، وَلاَ يَقِفُ عَلَيْهِ أَحَدٌ غَيْرِيْ 

Ilmu batin adalah rahasia-Ku yang paling rahasia, Aku wujudkan di dalam kalbu hamba-Ku dan tidak ada yang bisa memberikan pemahaman tentangnya kecuali Aku. 

Sirr yang diberikan pada manusia tidak diinformasikan kepada Makhluk lainnya dan hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Dengan keputusan Allah inilah manusia menjadi makhluk yang paling rahasia dan teristimewa di antara makhluk-Nya, karena sudah menjadi takdir manusia ditanami Sirr-Nya manusia diperkenankan masuk di alam ini untuk mengetahui segala rahasia-Nya. 

Di alam ini manusia telah tercipta dari tiga susunan, dzat, nur, dan sirr. Keadaannya tenang, terang, dan penuh rahasia. 

6.Alam keenam yang dinaiki adalah alam Nur atau alam Wahdah atau alam Nurullah. 

Setelah Dia menghendaki kepada Diri-Nya sendiri untuk menciptakan makhluk Dia pun menerangi Diri-Nya sendiri, terciptalah Nur-Nya. Setelah Nur-Nya menerangi Diri-Nya sendiri Dia ingin menciptakan nur manusia kemudian Nur-Nya membelah tapi tidak mengurangi terciptalah Nur Muhammad dan dari Nur Muhammad inilah nur manusia diciptakan. 

Dari Dia yang ingin menerangi Diri-Nya sendiri terciptalah alam wahdah atau alam nur, alamnya luas terang dan menerangkan, terlihat pelita di atas pelita, cahaya di atas cahaya, indahnya tak dapat dilupakan, dialah Nurullah dan Nur Muhammad. 

Di alam ini manusia baru tercipta dua susunan yakni dzat dan nur, keadaannya tenang dan menerangkan. 

Karena nur manusia berasal dari Nur Muhammad dan Nur Muhammad berasal dari Nurullah maka manusia yang masih berada di bumi diperkenankan masuk di alam ini untuk menyaksikan Nur Muhammad dan Nurullah. 

7.Alam ketujuh yang akan dinaiki adalah alam urip atau alam ahadiyyah atau alam Dzat. 

Alam ahadiyah adalah tempat Dzat Yang Maha Suci Sampurna, tidak ada siapa-siapa kecuali Diri-Nya sendiri dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. 

Berawal dari Dia yang ingin dikenali, Dia menghendaki pada Diri-Nya sendiri untuk menciptakan manusia, dan dari Dzat-Nya terciptalah dzat manusia. 

كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِي عَرَفُوْنِي

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka aku menjadikan makhluk agar mereka mengenalKu. 

Di alam ini manusia baru tercipta satu susunan yakni dzatnya, belum ada siapa-siapa, keadaannya sangat tenang dan menenangkan. 

Karena dzat manusia berasal dari Dzat-Nya manusia yang masih di alam syahadah (bumi) diperkenankan masuk di alam ini untuk meleburkan dzat pribadinya pada Dzat-Nya, setelah meleburkan dzatnya manusia kembali lagi di alam syahadah melanjutkan perjuangannya menyampaikan misi kelangitan di bumi. Inilah yang dinamakan fana’ fi Dzat. Manusia yang telah mengalaminya tidak akan mampu menjelaskan tentang keadaan di alam ahadiyyah ini. 

بِلَا كَيْفٍ وَلَا كَيْفِيَّةٍ وَلَا تَشْبِيْهٍ

Dalam penglihatan itu, (Dzat Allah SWT) tidak dapat dijelaskan dengan bentuk, cara dan perumpamaan. 

Manusia yang telah memfanakan dzat pribadinya adalah manusia yang telah mencapai derajat Syuhudul Haqqi bil Haqqi, mengetahui hakekat dirinya dan hakekat Tuhannya.

Begitulah perjalanan manusia ketika menaiki lapisan-lapisan alam asal mulanya selama masih di hidup di bumi. Di mulai keluar dari tubuh, naik ke alam ajsam, naik ke alam mitsal, naik ke alam arwah, naik ke alam wahidiyyah, naik ke alam wahdah, dan naik ke alam ahadiyyah.

Semoga pengetahuan ini bermanfaat.


Kroya - Mei 2022

Ki Bagus Fanani [ KH. Agus Santoso ]

Mursyid Thariqah Syatariyah Cirebon

Majlis An-nasir Indonesia 




Senin, 21 Maret 2022

Diri Sejati, Guru Sejati, Nur Muhammad dan Hati Nurani.

By Mang Anas

Hakikat dari Guru Sejati adalah percikan Nur Muhammad yang ada didalam diri setiap manusia. Dan percikan nur Muhammad yang ada didalam diri manusia itu kemudian bermetamorfose menjadi makhluk yang bernama hati nurani. Yaitu diri murni, diri sejati, atau hakikat insan, atau disebut juga sebagai guru sejati. 

Dalam fragmen kisah penciptaan Adam, pancaran nur Muhammad yang kemudian bermanifestasi menjadi hati nurani dan guru sejati itu disebut- sebut pernah menerima pengajaran langsung dari Tuhan, berupa limpahan pengetahuan sejati tentang asma asma [ lihat QS. Al- Baqarah 30 - 33 ] . Limpahan pengetahuan itu diajarkan Tuhan kepada Adam tanpa perantara, dan kejadian itu tidak diketahui siapapun juga, kecuali hanya oleh Adam dan Allah SWT itu sendiri [ pengajaran ilmu- ilmu Siir ].

Lalu apa yang dimaksud dengan mengenal diri ? 

Yang dimaksud dengan mengenal diri adalah pengenalan manusia terhadap dirinya yang murni atau dirinya yang sejati. Pengenalan itu akan bisa dicapai hanya jika manusia dapat membebasan dirinya dari segala kotoran jiwa, yang disebut sebagai hawa nafsu. 

Dengan terbebaskannya jiwa dari kotoran hawa nafsu yang membelenggunya itu, maka akan terkuaklah rahasia huruf BA [ ب ] yang ada didalam dirinya, yaitu diri yang berpendar cahaya yang disebut hati nurani. 



Bagan : Fenome Yang Akan Dirasakan Saat Seorang Hamba Berada Di Titik KHIDIR atau Duduk Di Jendela Muhammad.


Pertanyaan selanjutnya siapakah sesungguhnya makhluk yang dinamakan diri itu :  dirimu, diriku dan dirinya ? Maka jawabnya,

Dirimu adalah esensi-mu yang murni, dan diri-mu yang sejati adalah hati nurani - mu, percikan Nur Muhammad yang ada pada diri- mu yang sekaligus juga menjadi Guru sejati-mu.

Diriku adalah esensi-ku yang murni, dan diri-ku yang sejati adalah hati nurani- ku, percikan Nur Muhammad yang ada pada diri-ku yang sekaligus juga menjadi Guru Sejati-ku.

Dirinya adalah esensi-nya yang murni dan diri-nya yang sejati adalah hati nurani- nya, percikan Nur Muhammad yang ada pada diri-nya yang sekaligus juga menjadi Guru Sejati-nya.

Mu, Ku dan Nya adalah kita, satu asal, satu bahan, satu dzat, satu esensi, satu kesatuan dan satu kemanunggalan yang tersembunyi didalam titik BA [ ب ]   yang kemudian dinyatakan melalui HU [ ه ] sehingga nampaklah kemudian bentuk bentuk wujud seperti yang kenal kita sekarang ini. 

Pahami bahwa HU [ ه ] adalah sebuah himpunan, dan juga sebuah lingkaran. Didalam HU [ ه ] kita semua [ wujud - wujud ilusi ] dihimpun, dan pada Titian HU [ ه ] itulah kita semua berjalan menapaki rute hidup dan kehidupan, bergerak disepanjang lingkaran, sampai ahirnya bertemu dititik yang sama. Yaitu titik DIA yang menyelubungi setiap rahasia. Dan nanti Cahaya-Nya lah yang akan yang membimbing kita semua kesana, sehingga DIA yang selama ini terselubungi oleh ribuan misteri dan rahasia itu pada ahirnya akan dapat kita temukan bersama - sama. Tidak peduli dari rute manapun kita menempuhnya.

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ (٦)

"Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya." (Q.S. Al-Insyiqaq ayat 6)

1. Gambaran Nur Muhammad [ hakikat Hati Nurani ] didalam Al Qur'an : 

۞ اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ  اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ  اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ  نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ (٣٥)

" Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. " (Q.S. An-Nur ayat 35)

2. Gambaran Nur Muhammad [ hakikat Hati Nurani ] didalam Injil : Yohanes 1:1-18 (SB2010)

1 Kalam telah ada dari mulanya. Kalam itu bersama Allah, dan Kalam itu adalah Allah.

2 Sejak semula Kalam itu bersama Allah.

3 Segala sesuatu dijadikan oleh-Nya dan dari segala yang ada, tidak ada sesuatu pun yang dijadikan tanpa Dia.

4 Hidup itu ada di dalam Dia, dan hidup itu adalah terang manusia.

5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak dapat mengalahkannya.

6 Ada seorang utusan Allah bernama Yahya.

7 Ia datang untuk memberi kesaksian mengenai terang itu, supaya melalui kehadirannya semua orang dapat percaya.

8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian mengenai terang itu.

9 Terang yang benar, yang menerangi setiap orang, datang ke dalam dunia.

10 Ia ada di dalam dunia, bahkan dunia ini dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

11 Ia datang kepada milik-Nya sendiri, tetapi orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya.

12 Tetapi orang-orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah [ hamba hamba yang maha pengasih ], yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya.

13 Kelahiran mereka bukan dari darah, bukan dari keinginan daging, dan bukan dari keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

14 Kalam itu telah menjadi manusia lalu tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diterima-Nya sebagai Sang Anak Tunggal [ Nur Muhammad ] yang datang dari Sang Bapa, penuh dengan anugerah dan kebenaran.

15 Nabi Yahya pun memberi kesaksian tentang Dia, katanya, "Inilah orang yang kukatakan, Dia, yang datang kemudian setelah aku, melebihi aku, karena Dia sudah ada lebih dahulu sebelum aku. "

16 Dari kelimpahan-Nya, kita semua sudah menerima anugerah demi anugerah.

17 Karena hukum Taurat, yaitu hukum yang terdapat dalam Kitab Suci Taurat, disampaikan melalui Nabi Musa, tetapi anugerah dan kebenaran itu akan datang melalui Yesus Kristus. 

18  Tak seorang pun pernah melihat Allah; Sang Anak Tunggal, yang ada di pangkuan Sang Bapa, Dialah yang telah menyatakan-Nya. 

@ Kaum Nasrani menganggap bahwa sosok yang dimaksud pada ayat 15 dan 17 adalah Isa Al Masih. Sedangkan kaum Muslimin menganggapnya sebagai sosok Nabi Muhammad Saw. Dan dalam pandangan penulis, kedua duanya adalah benar. Dan adapun terkait bunyi pada ayat 18 " Tak seorang pun pernah melihat Allah; Sang Anak Tunggal yang ada di pangkuan Sang Bapa, Dialah yang telah menyatakan-Nya." Dalam tradisi sufi Islam kitapun sebenarnya telah sejak lama mengenalnya, yaitu lewat doktrin emanasi [ teori manifestasi pancaran Nur Muhammad ], suatu proses tentang bagaimana cara Tuhan memperkenalkan keberadaan dirinya kepada makhluk.  Dari yang sebelumnya tidak dikenali [ yaitu saat Tuhan masih berada pada martabat Ahadiyah ] sampai kemudian dapat dikenali [ yaitu saat Tuhan hadir pada martabat Alam Insan ]. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi dan kemudian dipopulerkan oleh Syaikh Burhanpuri lewat teori martabat tujuhnya. 

@  Istilah Anak Bapak dalam tradisi Yahudi itu biasa disematkan sebagai gelar kehormatan kepada hamba hamba Tuhan yang salih dan untuk hamba Tuhan yang terkasih. Yaitu gelar untuk orang-orang yang bertakwa.  Tetapi dalam kasus ayat diatas, saya memahaminya sebagai Nur Muhammad. 

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para pembaca dan juga bagi penulisnya.


Sabtu, 19 Februari 2022

Menyingkap Rahasia Gent Spiritual Nabi Besar Muhammad SAW

Seri ilmu huruf :

By. Mang Anas


هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا (١)

Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ? (Q.S. Al-Insan ayat 1)

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ  (٢)

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur ... (Q.S. Al-Insan ayat 2)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ  فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ (١٤)

Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. Al-Mu'minun ayat 14).



Bagan : Pohon Muhammad dalam Surat Al Fatihah 


A. Ayah dan Ibu Rasulallah : 

1. Nama Ayahnya : Abdullah [ عبدالله ]

2. Nama Ibundanya : Aminah [ امينه ]


B. Wedaran Makna kata  عبد اللّٰهِ    dan kata  امينه : 

1. Kala  ع  menyatu dengan  ا  lalu menjadi [  عَلَقَةً ]

2. Kala  ب  menyatu dengan  م  lalu menjadi [ مُضْغَةً ]

3. Kala  د  menyatu dengan  ي  lalu menjadi [ عِظٰمًا ]

4. Kala  ا  menyatu dengan  ن  lalu menjadi [ الْعِظٰمَ لَحْمًا ]

5. Dan kala kalimah LILLAH [ لِلّٰهِ ] sudah diringkas menjadi HU [ ه ] dan kala huruf HU [ ه ] itu kemudian Allah sembunyikan didalam [ خَلْقًا اٰخَرَۗ ]. Maka sang janin yang telah genap berusia sembilan bulan sepuluh hari itu pun lahir kedunia dan ia diberi nama Muhammad.


C. Dari garis ayahnya [ عبد اللّٰهِ ] Muhammad mewarisi beberapa sifat :

a. Menjelang usia empat puluh tahun ia sangat suka berkhalwat, bertafakur dan mengasingkan diri dari keramaian [ ع ]

b. Saat memasuki usia dewasa ia sangat menggandrungi hal - hal yang bersifat spiritual, seperti mencari jati diri dan berupaya untuk menemukan keberadaan Tuhannya [ ب ]

c. Semenjak usia remaja ia telah memiliki naluri dan bakat kepemimpinan yang besar, tinggi, agung dan paripurna [ د ]

d. Semenjak masih kanak - kanak hatinya selalu terjaga dan terbebas dari syirik [ ا ] 

e. Ia pun memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengatur,  mengendalikan dan membebaskan dirinya dari jeratan nafsu lawwamah [ lam pertama ], nafsu amaroh [ lam kedua ] dan nafsu sufiyah [ lam ketiga ]. Sehingga pada saat usianya menginjak 40 tahun disingkapkan lah kepada dirinya rahasia Tuhannya [ لِلّٰهِ ]. 

D. Dari garis ibunya  [ امينه ] Muhammad mewarisi sifat - sifat berikut ini : 

a.  Hati yang senantiasa terjaga serta terbebas dari syirik [ ا ] 

b.  Bakat Ilmu dan kecerdasan [ م ]

c.  Rasa tanggung jawab [ ي ]

d.  Kelembutan, hikmah dan kasih sayang  [ ن  ] 

e. Mampu menjaga rahasia, amanat dan kepercayaan [ ه ].

Berkat gabungan dari gent - gent itulah [  عبدالله  dan  امينه ] maka makhluk pilihan yang bernama Muhammad itu pada saat menginjak usia dewasa,

1. Ia [ ع ] dapat menemukan apa yang selama ini dicarinya, yaitu rahasia huruf Alif [ ا ] atau rahasia ketuhanan. 

2. Dan segala hal yang pada mulanya merupakan sebuah rahasia [ ب ] maka pada masanya banyak diantara rahasia- rahasia itu disingkapkannya hingga menjadi sebuah pengetahuan [ م ]. 

3. Pada masanya ia pun dapat membangun pemerintahan [ د ] di atas landasan kemanusiaan, kebersamaan, kesetaraan dan keadilan bagi semua [ ي ].

4. Dalam mendakwahkan ajaran Tauhid [ ا ] maka yang disampaikannya adalah hikmah, ilmu, Ilham dan petunjuk wahyu semata  [ ن ] 

5. Dan selaku figur seorang nabi dan pemimpin bagi umat, maka kesabaran, ketabahan dan rasa tawakalnya kepada Allah [ لله ] luar biasa kuat. Rasa itu tertanam hingga jauh ke dasar hatinya, yaitu dititiknya yang paling dalam [ titik ه atau هو ].

Itulah sekelumit rahasia gent spiritual nabi besar Muhammad SAW berdasarkan pelacakan dan penelusuran makna huruf nama kedua orang tuanya.

Dan kedepan ada banyak lagi hal yang akan dapat kita singkap melalui ilmu huruf ini, insya Allah.




Kamis, 03 Februari 2022

Rahasia Dibalik Kejayaan Kerajaan Dawud dan Sulaiman

By Mang Anas


A. Rahasia Kalimat " bismillahi rohmani rohimi " 

Kunci kejayaan dan kemuliaan kerajaan nabi Daud dan Sulaiman AS adalah terletak pada pemahaman dan penghayatannya yang sempurna terhadap kalimat " bismillahi rohmani rohim ". Sebabnya adalah : 

1. Pada titik ب pada kalimat " bismillahi " itu tersembunyi didalamnya rahasia mukasyafah, musyahadah, fanafillah dan bakabillah.

2. Semua rahasia mukasyafah, musyahadah, fanafillah dan bakabillah yang ada didalam titik ب itu kemudian oleh Allah dihimpun kedalam Asma " Ar Rahman " yang pada hakikatnya adalah sebuah perbendaharaan tersembunyi yang tersimpan didalamnya banyak rahasia kitab [ syariat ],  rahasia pengetahuan [ ma'rifat ] dan rahasia hikmah [ hakikat ] serta rahasia ilmu kekhalifahan. 

3. Dan manakala asma Ar Rahman itu telah mengendap kedalam Asma " Ar Rahim " yang bersemayam didalam Ruh dan Sirr manusia. Maka  Allah swt akan menganugerahkan kepada hambanya itu cahaya-Nya, yaitu nur " bismillahi rohmani rohimi ". Sehingga dengan nur itu akan nampak jelaslah wajah Tuhan itu  [ yaitu sifat , asma dan af'al-Nya ] pada diri hamba-Nya.

Selanjutnya pribadi yang diselubungi oleh cahaya itu [ yaitu pribadi hamba yang selalu berada dalam kondisi bakabillah ] akan memancarkan nurnya kepada orang - orang yang ada disekitarnya, sehingga akan terpaparlah jiwa dan raga semua makhluk oleh cahayanya itu.  Hal itulah yang membuat seluruh makhluk,  baik jin dan manusia, juga hewan dan tumbuh - tumbuhan serta semua apa yang ada di alam semesta ini menjadi tunduk dan patuh serta mau berkhidmat kepadanya. 

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Jawabnya adalah karena seorang hamba itu apabila dirinya sudah ditempatkan oleh Allah Swt didalam " maqam bakabillah " maka kehendak Tuhan itu akan ditempatkan didalam kehendaknya, sifat - sifat Tuhah akan disematkan ke dalam sifat - sifatnya serta ilmu Tuhan akan dipinjamkan untuk menjadi ilmunya.

Begitulah pada hakikatnya cara Tuhan bekerja melalui tangan nabi Daud dan Sulaiman AS, dan cara kedua hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu mendapatkan nur-Nya. Sehingga dengan pancaran nur ilahi itu keduanya bisa memerintah dan mengarahkan semua makhluk yang ada dibumi, sesuai kehendak dan apa yang direncanakannya. 

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa substansi kalimat " Bismillahi rohmani rohimi "adalah kunci keselamatan dan kemuliaan manusia di dunia dan ahirat. Oleh karena itu tidaklah salah jika sebagian ulama mengatakan bahwa seluruh kandungan kitab suci Al Qur'an dan juga kitab - kitab sebelumnya [ yaitu Taurat, Zabur dan Injil ] semuanya sudah terhimpun dalam sebuah kalimat yang pendek, sederhana dan ringkas itu, yakni kalimat " Bismillahi rohmani rohimi." Dan hakikat dari kalimat itu tidak lain adalah substansi semangat dari ayat berikut ini,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ (١٠٥)

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh [ yaitu oleh mereka mereka yang dapat mewujudkan semangat  dan nilai - nilai " bismillahi rohmani rohimi " itu didalam praktek ](Q.S. Al-Anbiya' ayat 105)

اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَۗ (١٠٦)

Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur'an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (  yakni bagi mereka yang ingin betul - betul taat kepada Tuhan dan berusaha meneladani sifat sifatNya. Dan ciri mereka itu adalah senantiasa menjaga dan menegakkan marwah " kasih sayang " dalam kehidupan mereka sehari - hari " ). (Q.S. Al-Anbiya' ayat 106)

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ (١٠٧)

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam [ padanan dari kata rahmat adalah " rohman rohim " ](Q.S. Al-Anbiya' ayat 107)

Perhatikan bunyi surat Al - Anbiya' ayat 105 - 107 diatas, disitulah substansi kalimat  " Bismillahi rohmani rohimi " itu diletakkan.


B. Ayat ayat Al Qur'an yang berhubungan dengan kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman AS : 


اَلَمْ تَرَ اِلَى الْمَلَاِ مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰىۘ اِذْ قَالُوْا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ  قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوْاۗ  قَالُوْا وَمَا لَنَآ اَلَّا نُقَاتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَدْاُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَاَبْنَاۤىِٕنَاۗ  فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِالظّٰلِمِيْنَ (٢٤٦)

Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Baqarah ayat 246)

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًاۗ  قَالُوْٓا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِۗ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِۗ  وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُۗ  وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (٢٤٧)

Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah ayat 247)

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اٰيَةَ مُلْكِهٖٓ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ التَّابُوْتُ فِيْهِ سَكِيْنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ اٰلُ مُوْسٰى وَاٰلُ هٰرُوْنَ تَحْمِلُهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ࣖ (٢٤٨)

Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepadamu, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dibawa oleh malaikat. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu, jika kamu orang beriman. (Q.S. Al-Baqarah ayat 248)

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖۚ  فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْۗ  فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖۗ  قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِۗ  وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ (٢٤٩)

Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, “Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqarah ayat 249)

وَلَمَّا بَرَزُوْا لِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ قَالُوْا رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَۗ (٢٥٠)

Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 250)

فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِۗ  وَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَاۤءُۗ  وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ (٢٥١)

Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan, dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam. (Q.S. Al-Baqarah ayat 251)

وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِمَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيّٖنَ عَلٰى بَعْضٍ وَّاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًا (٥٥)

Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.(Q.S. Al-Isra' ayat 55)

۞ وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ مِنَّا فَضْلًاۗ يٰجِبَالُ اَوِّبِيْ مَعَهٗ وَالطَّيْرَۚ وَاَلَنَّا لَهُ الْحَدِيْدَۙ (١٠)

Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (Q.S. Saba' ayat 10)

اِصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوٗدَ ذَا الْاَيْدِۚ اِنَّهٗٓ اَوَّابٌ (١٧)

Bersabarlah atas apa yang mereka katakan; dan ingatlah akan hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). (Q.S. Sad ayat 17)

اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ (١٨)

Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi, (Q.S. Sad ayat 18)

وَالطَّيْرَمَحْشُوْرَةًۗ  كُلٌّ لَّهٗٓ اَوَّابٌ (١٩)

dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing sangat taat (kepada Allah). (Q.S. Sad ayat 19)

وَشَدَدْنَا مُلْكَهٗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ (٢٠)

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara. (Q.S. Sad ayat 20)

۞ وَهَلْ اَتٰىكَ نَبَؤُا الْخَصْمِۘ اِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَۙ (٢١)

Dan apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab? (Q.S. Sad ayat 21)

اِذْ دَخَلُوْا عَلٰى دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوْا لَا تَخَفْۚ خَصْمٰنِ بَغٰى بَعْضُنَا عَلٰى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَآ اِلٰى سَوَاۤءِ الصِّرَاطِ (٢٢)

ketika mereka masuk menemui Dawud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (Q.S. Sad ayat 22)

اِنَّ هٰذَآ اَخِيْۗ  لَهٗ تِسْعٌ وَّتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَّلِيَ نَعْجَةٌ وَّاحِدَةٌۗ  فَقَالَ اَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِيْ فِى الْخِطَابِ (٢٣)

Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” (Q.S. Sad ayat 23)

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَاجِهٖۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ ۩ (٢٤)

Dia (Dawud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. (Q.S. Sad ayat 24)

فَغَفَرْنَا لَهٗ ذٰلِكَۗ وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ (٢٥)

Lalu Kami mengampuni (kesalahannya) itu. Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Q.S. Sad ayat 25)

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ (٢٦)

(Allah berfirman), “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Q.S. Sad ayat 26)

اَمْ نَجْعَلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَالْمُفْسِدِيْنَ فِى الْاَرْضِۖ اَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِيْنَ كَالْفُجَّارِ (٢٨)

Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (Q.S. Sad ayat 28)

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ (٢٩)

Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (Q.S. Sad ayat 29)

وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُۗ اِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ (٣٠)

Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah). (Q.S. Sad ayat 30)

اِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصّٰفِنٰتُ الْجِيَادُۙ (٣١)

(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak, (tetapi) sangat cepat larinya, (Q.S. Sad ayat 31)

فَقَالَ اِنِّيْٓ اَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّيْۚ حَتّٰى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِۗ (٣٢)

maka dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai segala yang baik (kuda), yang membuat aku ingat akan (kebesaran) Tuhanku, sampai matahari terbenam.” (Q.S. Sad ayat 32)

رُدُّوْهَا عَلَيَّۚ فَطَفِقَ مَسْحًا ۢبِالسُّوْقِ وَالْاَعْنَاقِ (٣٣)

”Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu dia mengusap-usap kaki dan leher kuda itu. (Q.S. Sad ayat 33)

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمٰنَ وَاَلْقَيْنَا عَلٰى كُرْسِيِّهٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ (٣٤)

Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat. (Q.S. Sad ayat 34)

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ (٣٥)

Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S. Sad ayat 35)

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ (٣٦)

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya, (Q.S. Sad ayat 36)

وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ (٣٧)

dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam, (Q.S. Sad ayat 37)

وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ (٣٨)

dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu. (Q.S. Sad ayat 38)

هٰذَا عَطَاۤؤُنَا فَامْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (٣٩)

Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan. (Q.S. Sad ayat 39)

وَاِنَّ لَهٗ عِنْدَنَا لَزُلْفٰى وَحُسْنَ مَاٰبٍ ࣖ (٤٠)

Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Q.S. Sad ayat 40)

اَنِ اعْمَلْ سٰبِغٰتٍ وَّقَدِّرْ فِى السَّرْدِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ (١١)

yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Saba' ayat 11)

وَعَلَّمْنٰهُ صَنْعَةَ لَبُوْسٍ لَّكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِّنْۢ بَأْسِكُمْۚ فَهَلْ اَنْتُمْ شٰكِرُوْنَ (٨٠)

Dan Kami ajarkan (pula) kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperangan. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?(Q.S. Al-Anbiya' ayat 80)

وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ وَاَسَلْنَا لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ (١٢)

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (Q.S. Saba' ayat 12)

وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ (٨١)

Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Anbiya' ayat 81)

يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًاۗ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ (١٣)

Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (Q.S. Saba' ayat 13)

وَمِنَ الشَّيٰطِيْنِ مَنْ يَّغُوْصُوْنَ لَهٗ وَيَعْمَلُوْنَ عَمَلًا دُوْنَ ذٰلِكَۚ وَكُنَّا لَهُمْ حٰفِظِيْنَ ۙ (٨٢)

Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain  itu; dan  Kami yang memelihara mereka itu. (Q.S. Al-Anbiya' ayat 82)

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلٰى مَوْتِهٖٓ اِلَّا دَاۤبَّةُ الْاَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَاَتَهٗۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ اَنْ لَّوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوْا فِى الْعَذَابِ الْمُهِيْنِۗ (١٤)

Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atasnya (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka ketika dia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentu mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan. (Q.S. Saba' ayat 14)

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌۚ  جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ  بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ (١٥)

Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (Q.S. Saba' ayat 15)

وَدَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ اِذْ يَحْكُمٰنِ فِى الْحَرْثِ اِذْ نَفَشَتْ فِيْهِ غَنَمُ الْقَوْمِۚ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شٰهِدِيْنَ ۖ (٧٨)

 Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. (Q.S. Al-Anbiya' ayat 78)

فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ (٧٩)

 Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya. (Q.S. Al-Anbiya' ayat 79)

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ عِلْمًاۗ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ (١٥)

Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman; dan keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.” (Q.S. An-Naml ayat 15)

وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ (١٦)

Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” (Q.S. An-Naml ayat 16)

وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ (١٧)

Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib. (Q.S. An-Naml ayat 17)

حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ  لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ (١٨)

Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (Q.S. An-Naml ayat 18)

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ (١٩)

Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (Q.S. An-Naml ayat 19).

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَآ اَرَى الْهُدْهُدَۖ اَمْ كَانَ مِنَ الْغَاۤىِٕبِيْنَ (٢٠)

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? (Q.S. An-Naml ayat 20)

لَاُعَذِّبَنَّهٗ عَذَابًا شَدِيْدًا اَوْ لَاَا۟ذْبَحَنَّهٗٓ اَوْ لَيَأْتِيَنِّيْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ (٢١)

Pasti akan ku hukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.” (Q.S. An-Naml ayat 21)

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَاٍ ۢبِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ (٢٢)

Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba' membawa suatu berita yang meyakinkan. (Q.S. An-Naml ayat 22)

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ (٢٣)

Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar. (Q.S. An-Naml ayat 23)

وَجَدْتُّهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُوْنَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ اَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُوْنَۙ (٢٤)

Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak mendapat petunjuk, (Q.S. An-Naml ayat 24)

اَلَّا يَسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ (٢٥)

mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan. (Q.S. An-Naml ayat 25)

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ۩ (٢٦)

Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang agung.” (Q.S. An-Naml ayat 26)

۞ قَالَ سَنَنْظُرُ اَصَدَقْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ (٢٧)

Dia (Sulaiman) berkata, “Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta. (Q.S. An-Naml ayat 27)

اِذْهَبْ بِّكِتٰبِيْ هٰذَا فَاَلْقِهْ اِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُوْنَ (٢٨)

Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (Q.S. An-Naml ayat 28)

قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اِنِّيْٓ اُلْقِيَ اِلَيَّ كِتٰبٌ كَرِيْمٌ (٢٩)

Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.” (Q.S. An-Naml ayat 29)

اِنَّهٗ مِنْ سُلَيْمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ (٣٠)

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (Q.S. An-Naml ayat 30)

اَلَّا تَعْلُوْا عَلَيَّ وَأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ ࣖ (٣١)

janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. An-Naml ayat 31)

قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَفْتُوْنِيْ فِيْٓ اَمْرِيْۚ مَا كُنْتُ قَاطِعَةً اَمْرًا حَتّٰى تَشْهَدُوْنِ (٣٢)

Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Berilah aku pertimbangan dalam perkaraku (ini). Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelis(ku).” (Q.S. An-Naml ayat 32)

قَالُوْا نَحْنُ اُولُوْا قُوَّةٍ وَّاُولُوْا بَأْسٍ شَدِيْدٍ ەۙ وَّالْاَمْرُ اِلَيْكِ فَانْظُرِيْ مَاذَا تَأْمُرِيْنَ (٣٣)

Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.” (Q.S. An-Naml ayat 33)

قَالَتْ اِنَّ الْمُلُوْكَ اِذَا دَخَلُوْا قَرْيَةً اَفْسَدُوْهَا وَجَعَلُوْٓا اَعِزَّةَ اَهْلِهَآ اَذِلَّةًۚ وَكَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ (٣٤)

Dia (Balqis) berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat. (Q.S. An-Naml ayat 34)

وَاِنِّيْ مُرْسِلَةٌ اِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنٰظِرَةٌ ۢبِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُوْنَ (٣٥)

Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.” (Q.S. An-Naml ayat 35)

فَلَمَّا جَاۤءَ سُلَيْمٰنَ قَالَ اَتُمِدُّوْنَنِ بِمَالٍ فَمَآ اٰتٰىنِ  َۧ اللّٰهُ خَيْرٌ مِّمَّآ اٰتٰىكُمْۚ بَلْ اَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُوْنَ (٣٦)

Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.  (Q.S. An-Naml ayat 36)

اِرْجِعْ اِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُوْدٍ لَّا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِّنْهَآ اَذِلَّةً وَّهُمْ صٰغِرُوْنَ (٣٧)

Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba') secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.” (Q.S. An-Naml ayat 37)

قَالَ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَيُّكُمْ يَأْتِيْنِيْ بِعَرْشِهَا قَبْلَ اَنْ يَّأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ (٣٨)

Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” (Q.S. An-Naml ayat 38)

قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ (٣٩)

‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (Q.S. An-Naml ayat 39)

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ  فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ  لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (٤٠)

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (Q.S. An-Naml ayat 40).

قَالَ نَكِّرُوْا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ اَتَهْتَدِيْٓ اَمْ تَكُوْنُ مِنَ الَّذِيْنَ لَا يَهْتَدُوْنَ (٤١)

Dia (Sulaiman) berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia (Balqis) mengenal; atau tidak mengenalnya lagi.” (Q.S. An-Naml ayat 41)

فَلَمَّا جَاۤءَتْ قِيْلَ اَهٰكَذَا عَرْشُكِۗ قَالَتْ كَاَنَّهٗ هُوَۚ وَاُوْتِيْنَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِيْنَ (٤٢)

Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Seakan-akan itulah dia.” (Dan dia Balqis berkata), “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Q.S. An-Naml ayat 42)

وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَّعْبُدُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ اِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كٰفِرِيْنَ (٤٣)

Dan kebiasaannya menyembah selain Allah mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), sesungguhnya dia (Balqis) dahulu termasuk orang-orang kafir. (Q.S. An-Naml ayat 43)

قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ (٤٤)

Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S. An-Naml ayat 44)

وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَۚ  وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَۗ  وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْۗ  فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖۗ  وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ  وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْۗ  وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍۗ  وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْۗ   لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ (١٠٢)

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.

(Q.S. Al-Baqarah ayat 102)