By. Mang Anas
Jika pribadi mukhlasin adalah manusia yang telah menyatukan orientasi batinnya melalui iman dan amal ṣāliḥ, maka ketika pribadi-pribadi seperti itu berkumpul, lahirlah masyarakat mukhlasin : masyarakat yang tidak berdiri di atas fanatisme sempit, melainkan di atas fungsi, amanah, dan kualitas jiwa.
Dalam Al-Qur'an terdapat gambaran tentang golongan yang diberi nikmat : an‘amta ‘alaihim. Pada ayat lain dijelaskan lapisan-lapisan mereka : para nabi, ṣiddīqīn, syuhadā’, dan ṣāliḥīn. Dalam kerangka sosial, ini dapat dibaca sebagai empat pilar peradaban yang ideal dan sehat.
Ini bukan kasta, bukan darah keturunan, dan bukan kelas tertutup. Ini adalah struktur fungsi sosial.
1. Ambiya : Pembawa Arah dan Visi
Lapisan pertama adalah para nabi: pembawa petunjuk, penjaga orientasi, penyeru kepada pusat yang benar.
Dalam masyarakat modern, fungsi kenabian tidak berarti ada nabi baru, melainkan hadirnya orang-orang yang membawa :
>visi moral yang ideal dan tinggi yang bersumber dari wahyu
>keberanian menegur dan mengoreksi penyimpangan arah peradaban dan lalu menyodorkan solusinya lewat kebenaran murni yang bersumber dari wahyu. Kebenaran yang terbebas dari bias nafsu dan kepentingan.
>Menggemakan suara nurani kolektif masyarakat yang tertidas dan terpinggirkan [ seperti dalam kasus Musa As vs Fir'aun dan Nabi Muhammad versus ketimpangan tatanan ekonomi dan sosial dalam masyarakat Quraisy ]
Masyarakat tanpa fungsi ini akan kehilangan kompas.
Ia bisa maju teknologinya, tetapi bingung arah hidupnya.
2. Ṣiddīqīn : Rois fil ‘Ilmi dan Pewaris Misi Nabi
Di sinilah ṣiddīqīn tidak cukup dimaknai hanya sebagai “orang orang yang lurus dan benar, dalam arti prilaku.”
Dalam kedalaman makna, mereka adalah orang-orang kokoh dalam ilmu, matang dalam pemahaman, dan terpercaya dalam membawa kebenaran. Mereka dapat dipahami sebagai :
>rois fil ‘ilmi (pemuka dalam ilmu)
>ahli tafaqquh fid-dīn
>pewaris misi para nabi
>penjaga makna dari penyimpangan
Dalam terminologi Ibn Arabi, mereka disebut Ahl al-Ḥaqq : orang-orang yang memahami kebenaran pada tingkatnya yang hakiki.
Peran sosial mereka sangat vital :
>menafsirkan wahyu dengan hikmah
>menjaga ilmu dari kedangkalan [ dengan ilmu hakikat ]
>menjembatani teks dan realitas
>menjadi rujukan saat masyarakat bingung
Jika lapisan ini rusak, masyarakat akan gaduh oleh kebodohan yang merasa pintar.
3. Syuhadā’: Penjaga dan Saksi Nilai dan Penegakan Aturan
Syuhadā’ sering dipersempit menjadi orang yang gugur di medan perang. Padahal akar maknanya berkaitan dengan kesaksian.
Mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi hidup bagi nilai kebenaran. Dalam masyarakat, mereka tampil sebagai :
>pembela keadilan
>penjaga amanah publik
>orang yang berani menanggung risiko demi kebenaran
>pengawas moral kekuasaan, mereka akan berdiri saat yang lain diam.
Tanpa syuhadā’, kebenaran hanya tinggal teori.
4. Ṣāliḥīn : Jaringan Pekerja Kebaikan
Lapisan keempat adalah ṣāliḥīn : orang-orang yang memperbaiki, menata, dan menghidupkan kebaikan dalam keseharian.
Mereka adalah mayoritas mulia yang menopang dunia :
>pedagang jujur
>petani amanah
>guru yang tulus
>pekerja disiplin
>ibu dan ayah yang mendidik dengan kasih
>tetangga yang membawa ketenteraman
Mereka mungkin tidak terkenal, tetapi tanpa mereka masyarakat runtuh.
Jadi jika :
>para nabi memberi arah,
>Siddīqīn menjaga dan mengajarkan ilmu,
>Syuhadā’ menjaga tegaknya keadilan,
>Maka ṣāliḥīn lah yang menjaga dan menopang berbagai kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari.
Bukan Hirarki Kuasa, tetapi Hirarki Amanah
Empat lapisan ini jangan dibaca sebagai tangga status sosial. Ini bukan elitisme spiritual.
Seseorang bisa memiliki unsur lebih dari satu fungsi. Kadang seorang alim juga syahid dalam perjuangannya. Kadang pekerja sederhana memiliki kesalehan yang menopang masyarakat lebih besar daripada tokoh terkenal.
Yang dibedakan bukan martabat manusia, tetapi jenis amanah.
Lawan dari Masyarakat Fragmentasi
Masyarakat yang dikuasai ego biasanya tersusun begini :
>yang populer memimpin arah
>yang licik menguasai ilmu
>yang takut diam terhadap kezaliman
>yang jujur tersisih
Sedangkan masyarakat mukhlasin tersusun sebaliknya :
>arah dipimpin nilai
>ilmu dijaga dan diajarkan ahli haq
>keadilan dibela saksi-saksi berani
>aktivitas sosial - ekonomi ditopang orang saleh
Relevansi Dunia Modern
Krisis zaman ini sering bukan kekurangan sumber daya, tetapi rusaknya empat lapisan tadi :
>visi hilang
>ulama/intelektual kehilangan independensi
>saksi dan pejuang kebenaran dibungkam
>etika sosial keseharian masyarakat rusak
Akibatnya masyarakat kaya fasilitas tetapi miskin jiwa.
Penutup
Makna an‘amta ‘alaihim dapat dibaca sebagai rancangan sosial manusia unggul. Ketika empat fungsi ini hidup bersama, lahirlah masyarakat yang sehat.
> Nabi memberi arah.
> Ṣiddīqīn menjaga cahaya ilmu.
> Syuhadā’ menjadi benteng moral.
> Ṣāliḥīn menjaga denyut kehidupan.
Dan ketika semuanya bekerja dalam keikhlasan, itulah masyarakat mukhlasin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar