By. Mang Anas
Dalam Al-Qur'an, terdapat dialog agung yang membuka rahasia besar tentang manusia, godaan, dan jalan keselamatan. Setelah menolak perintah sujud kepada Adam, Iblis berkata :
Surah Ṣād (38) : 82–85
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ٨٢
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ٨٣
قَالَ فَالْحَقُّ وَالْحَقَّ أَقُولُ ٨٤
لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ ٨٥
Terjemahan :
Ia (Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang mukhlaṣīn.”
Allah berfirman, “Maka yang benar adalah kebenaran itu Aku katakan:
Sungguh Aku akan memenuhi Jahannam dengan engkau dan dengan siapa saja di antara mereka yang mengikutimu semuanya.”
---
Di dalam dialog singkat ini tersimpan satu kenyataan besar: hampir seluruh manusia dapat digelincirkan, kecuali golongan yang ikhlas.
Bukan yang paling cerdas.
Bukan yang paling kaya.
Bukan yang paling kuat.
Bukan yang paling terkenal.
Tetapi yang ikhlas.
Mengapa Ikhlas Begitu Menentukan?
Karena seluruh strategi kesesatan bekerja melalui motif batin.
Manusia jarang hancur karena kurang pengetahuan. Manusia lebih sering hancur karena niat yang rusak.
ilmu dipakai demi kesombongan
kekuasaan dipakai demi penindasan
ibadah dipakai demi pencitraan
kebaikan dipakai demi pujian
agama dipakai demi kelompok
Di sinilah iblis bekerja: bukan selalu menyuruh jahat secara terang-terangan, tetapi membelokkan tujuan.
Orang yang semula mencari kebenaran diarahkan mencari pengikut.
Yang semula beribadah diarahkan mencari kehormatan.
Yang semula berjuang diarahkan mencari nama.
Ikhlas menutup seluruh pintu itu.
Apa Itu Ikhlas?
Ikhlas sering dipersempit menjadi “niat karena Allah” di bibir. Padahal ia jauh lebih dalam.
Ikhlas adalah :
bersihnya orientasi hidup
tidak bercabangnya pusat tujuan
tidak menjadikan makhluk sebagai tuhan kecil
tidak menjadikan ego sebagai penguasa batin
Ikhlas adalah ketika seseorang tetap berbuat benar, walau tidak dipuji.
Tetap jujur, walau rugi.
Tetap beramal, walau tak dilihat.
Tetap taat, walau sendirian.
Mengapa Iblis Takut kepada Orang Ikhlas ?
Karena iblis masuk melalui celah-celah berikut :
cinta pujian
takut celaan
rakus harta
haus kedudukan
iri hati
fanatisme kelompok
keinginan dipandang besar
Tetapi jika seseorang ikhlas, celah itu tertutup.
Ia tak mudah dibeli.
Ia tak mudah diprovokasi.
Ia tak mudah dijilat.
Ia tak mudah diancam.
Orang ikhlas mungkin bisa disakiti, tetapi sulit dikendalikan.
Ilmu Tanpa Ikhlas Bisa Menyesatkan
Ada orang berilmu tetapi sombong.
Ada ahli ibadah tetapi riya.
Ada pemimpin tetapi zalim.
Ada pejuang tetapi haus kuasa.
Semua itu menunjukkan bahwa kemampuan tanpa ikhlas tidak menyelamatkan.
Ilmu adalah alat.
Jabatan adalah alat.
Karisma adalah alat.
Bahkan amal lahir pun bisa menjadi alat.
Yang menentukan nilainya adalah batin yang menggerakkan.
Ikhlas sebagai Modal Keselamatan
Mengapa disebut satu-satunya modal keselamatan?
Karena saat semua atribut dunia lepas, yang tersisa hanyalah kualitas jiwa.
harta tidak ikut
nama besar tidak ikut
pengikut tidak ikut
gelar tidak ikut
citra tidak ikut
Yang ikut hanyalah hati yang datang kepada Allah tanpa membawa berhala-berhala batin.
Ikhlas menjadikan amal kecil bernilai besar.
Sebaliknya, riya menjadikan amal besar kosong.
Ikhlas dalam Kehidupan Sosial
Bila masyarakat dipenuhi orang-orang ikhlas :
pemimpin memimpin karena amanah
ulama mengajar karena kebenaran
pedagang berdagang dengan jujur
pekerja bekerja sungguh-sungguh
orang kaya memberi tanpa pamer
Namun bila ikhlas hilang :
agama jadi panggung
politik jadi tipu daya
ilmu jadi alat dominasi
amal jadi pertunjukan
Bagaimana Menumbuhkan Ikhlas?
Ikhlas tumbuh melalui perjuangan panjang :
sering mengoreksi niat
menyembunyikan amal jika bisa
tidak bergantung pada pujian manusia
menerima hinaan tanpa runtuh
banyak mengingat kematian
merasa selalu diawasi Allah
Ikhlas bukan hadiah instan. Ia buah dari perang batin terus-menerus.
Penutup
Dalam dialog antara Allah dan Iblis, musuh manusia sendiri mengakui siapa yang sulit dikalahkan: orang-orang ikhlas.
Maka keselamatan bukan pertama-tama soal banyaknya atribut, melainkan bersihnya orientasi.
> Ketika ilmu bisa salah arah, ikhlas meluruskannya.
Ketika amal bisa ternoda, ikhlas memurnikannya.
Ketika hidup penuh jebakan, ikhlas menyelamatkannya.
Karena itu, pada akhirnya, ikhlas adalah satu-satunya modal keselamatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar