Halaman

Senin, 27 April 2026

Rahmat dan Kesesatan : Tafsir Abdul Karim al-Jili atas QS Al-Ma’idah 118

By. Mang Anas 


Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?”

Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka selain apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu : Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [ QS Al-Mā’idah : 116 -118

Abstrak

Artikel ini mengkaji tafsir Abdul Karim al-Jili terhadap QS Al-Ma’idah ayat 118, khususnya mengenai kemungkinan rahmat Ilahi terhadap kelompok yang terjatuh dalam kesesatan teologis. Berbeda dari pembacaan polemis yang menempatkan ayat ini semata sebagai penegasan kesalahan kaum Nasrani, Al-Jili membacanya melalui perspektif tasawuf-metafisik yang menekankan keluasan rahmat Allah, kompleksitas kondisi batin manusia, dan perbedaan antara pembangkangan sadar dengan kesesatan akibat keterbatasan pengetahuan. Dengan metode analisis hermeneutika tekstual-komparatif, artikel ini menunjukkan bahwa tafsir Al-Jili membuka horizon soteriologis dalam tradisi Islam tanpa menegasikan prinsip tauhid. Ayat ini, dalam pembacaan Al-Jili, bukan sekadar momen penghakiman, tetapi juga manifestasi adab Nabi Isa dan kemungkinan belas kasih Ilahi yang melampaui kategorisasi formal manusia.

Kata kunci : Al-Jili, QS Al-Ma’idah 118, tasawuf, rahmat, kesesatan, Isa al-Masih.

---

Pendahuluan

QS Al-Ma’idah 116–118 merupakan salah satu bagian Al-Qur’an yang paling penting dalam menjelaskan posisi Nabi Isa dalam perspektif Islam. Ayat tersebut menggambarkan dialog eskatologis antara Allah dan Isa mengenai sikap sebagian pengikutnya yang mengangkat Isa dan ibunya ke posisi yang melampaui batas kemanusiaan. Secara umum, ayat ini sering dibaca dalam kerangka polemik teologis antara Islam dan Kristen: penolakan terhadap deifikasi Isa, kritik terhadap trinitas, dan penegasan tauhid.

Namun demikian, tradisi tafsir Islam tidak tunggal. Di samping tafsir hukum, kalam, dan polemik, terdapat pula tafsir sufistik yang berusaha membaca lapisan batin teks. Salah satu tokoh penting dalam jalur ini adalah Abdul Karim al-Jili. Dalam karya monumentalnya Al-Insan al-Kamil, Al-Jili sering menempatkan wahyu sebagai medan penyingkapan rahasia hubungan Tuhan, manusia, dan rahmat.

Tulisan ini berfokus pada QS Al-Ma’idah 118 :

> “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Pertanyaan utama artikel ini adalah : bagaimana Al-Jili memahami ayat ini, dan apa implikasinya terhadap konsep rahmat bagi mereka yang tersesat?

---

Metodologi

Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan metode :

1. Analisis tekstual, terhadap struktur bahasa QS Al-Ma’idah 118.

2. Pendekatan komparatif, membandingkan pembacaan umum tafsir klasik dengan tafsir sufistik Al-Jili.

3. Hermeneutika spiritual, yaitu pembacaan yang memperhatikan dimensi rasa, maqam kenabian, dan orientasi rahmat.

---

QS Al-Ma’idah 118 dalam Tafsir Umum

Mayoritas mufasir klasik membaca ayat ini sebagai kelanjutan dari pembelaan Nabi Isa terhadap dirinya dari tuduhan bahwa ia pernah mengajarkan penyembahan terhadap dirinya dan Maryam. Dalam konteks itu, ayat 118 dipahami sebagai bentuk penyerahan total Isa kepada keputusan Allah.

Beberapa penekanan tafsir umum adalah :

Isa tidak bertanggung jawab atas penyimpangan umat setelahnya.

Allah berhak mutlak menghukum atau mengampuni.

Tauhid tetap menjadi poros utama penilaian.

Pembacaan seperti ini benar secara kerangka dasar, tetapi cenderung berhenti pada aspek legal-formal.

---

Tafsir Al-Jili : Dari Penghakiman ke Rahmat

Al-Jili membaca ayat ini dengan kepekaan berbeda. Baginya, ucapan Isa bukan hanya jawaban normatif, tetapi ekspresi maqam kenabian yang penuh kasih dan adab.

Isa tidak berkata :

“Azablah mereka karena mereka sesat.”

“Selamatkan mereka karena mereka pengikutku.”

Sebaliknya, Isa menyerahkan keputusan kepada Allah, namun tetap membuka kemungkinan pengampunan :

> “Dan jika Engkau mengampuni mereka…”

Dalam perspektif Al-Jili, frasa ini bukan sisipan netral, melainkan isyarat bahwa bahkan dalam momen pengadilan akhir, rahmat belum tertutup.

---

Kesesatan dan Pembangkangan

Salah satu kontribusi penting tafsir ini adalah pembedaan implisit antara dua jenis kesalahan :

1. Pembangkangan sadar

Yaitu mengetahui kebenaran namun menolaknya karena kesombongan, kepentingan, atau permusuhan.

2. Kesesatan eksistensial

Yaitu terjatuh dalam kesalahan karena warisan tradisi, keterbatasan intelektual, ketidaktahuan sejarah, atau pencarian yang gagal.

Dalam kerangka ini, tidak semua orang yang berada dalam keyakinan salah memiliki bobot moral yang sama. Al-Jili melihat bahwa Allah menilai berdasarkan kedalaman ilmu-Nya atas kondisi jiwa manusia.

Dengan demikian, sebagian pengikut Isa mungkin berada pada wilayah kesesatan, bukan permusuhan sadar terhadap kebenaran.

---

Bahasa Rasa Nabi Isa

Aspek paling halus dari ayat ini terletak pada nada ucapannya. Secara rasional-formal, Isa bisa saja menyatakan penolakan keras dan menyerahkan seluruh pengikut sesat kepada hukuman. Tetapi Al-Qur’an menampilkan Isa dengan bahasa yang lembut dan penuh adab.

Ucapan itu mencerminkan :

>pengakuan mutlak atas kedaulatan Allah

>kasih terhadap manusia yang tersesat

>penolakan terhadap klaim palsu atas dirinya

>harapan yang disampaikan tanpa menuntut

Di sinilah tafsir Al-Jili bergerak dari “bahasa hukum” menuju “bahasa rasa”.

---

Mengapa Penutupnya “Al-‘Aziz Al-Hakim”?

Menarik dicermati bahwa ayat ini ditutup bukan dengan “Al-Ghafur Al-Rahim”, melainkan :

> Al-‘Aziz (Maha Perkasa)

> Al-Hakim (Maha Bijaksana)

Ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah bukan kelemahan sentimental, tetapi tindakan yang lahir dari kekuasaan mutlak dan kebijaksanaan sempurna. Allah dapat mengampuni bukan karena dipaksa belas kasihan, tetapi karena Dia berkuasa penuh dan mengetahui hakikat terdalam setiap jiwa.

---

Implikasi Soteriologis

Tafsir Al-Jili memiliki implikasi penting terhadap diskursus keselamatan dalam Islam.

Pertama, kebenaran tauhid tetap normatif dan tidak direlatifkan. Kedua, nasib individual manusia tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan label komunitas. Ketiga, rahmat Allah bekerja pada wilayah yang tidak seluruhnya dapat dijangkau penilaian manusia.

Dengan demikian, ayat ini memberi pelajaran bahwa ada jarak antara :

"penilaian sosial manusia di dunia, dengan keputusan akhir Allah atas jiwa manusia"

---

Relevansi Kontemporer

Dalam dunia modern yang ditandai pluralitas agama dan kompleksitas sejarah, tafsir Al-Jili menawarkan model penting: tegas pada prinsip, namun rendah hati dalam memvonis nasib akhir manusia.

Sikap ini dapat mendorong :

>dialog antaragama yang lebih matang

>pengakuan atas kompleksitas pencarian iman

>kritik terhadap eksklusivisme yang simplistis

---

Kesimpulan

QS Al-Ma’idah 118, dalam tafsir Abdul Karim al-Jili, bukan sekadar ayat penghakiman terhadap kaum Nasrani, tetapi ayat yang membuka kemungkinan rahmat bagi mereka yang tersesat tanpa pembangkangan sadar. Ucapan Nabi Isa dibaca sebagai ekspresi kasih, adab, dan penyerahan total kepada kebijaksanaan Allah.

Melalui pembacaan ini, Al-Jili memperlihatkan bahwa tauhid dan rahmat tidak harus dipertentangkan. Kebenaran tetap satu, tetapi jalan penilaian Allah atas manusia jauh lebih luas daripada kategorisasi lahiriah manusia. Ayat ini akhirnya menjadi pengingat bahwa di hadapan keadilan Ilahi, tidak ada jiwa yang dizalimi, dan di hadapan rahmat-Nya, tidak ada pintu yang sepenuhnya tertutup.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar