Sebuah Formulasi Ontologis tentang Asal, Manifestasi, dan Kesempurnaan Manusia
By. Mang Anas
Di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang menjadi fondasi bagi pemahaman mendalam tentang struktur realitas, satu diantaranya :
> هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3)
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia ber-istiwa atas ‘Arsy… (QS. Al-A’raf: 54 )
Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan peta ontologis tentang seluruh keberadaan.
---
1. Empat Titik Tolak Keberadaan
Empat istilah dalam ayat tersebut membentuk satu lingkaran realitas :
>Al-Awwal (Yang Awal) → sumber segala kemungkinan
>Al-Bāṭin (Yang Batin) → kedalaman laten, struktur tersembunyi
>Az-Zhāhir (Yang Zhahir) → manifestasi yang tampak
>Al-Ākhir (Yang Akhir) → titik penyempurnaan
Namun dalam pembacaan yang lebih sistematis, keempatnya dapat dirumuskan menjadi dua kutub utama :
> Awwal = domain batin (asal laten)
> Akhir = domain zhahir (hasil manifestasi)
Dengan demikian:
> awal bukan sekadar waktu, tapi kedalaman asal
> akhir bukan sekadar penutup, tapi puncak penampakan
---
2. Dari Empat Kutub ke Tujuh Martabat
Untuk memahami bagaimana realitas itu terurai, para sufi merumuskan konsep martabat tajalli (martabat tujuh).
Dalam formulasi ini, tujuh martabat dapat dibagi menjadi dua domain besar :
A. Domain Awwal (Batin)
Tiga martabat awal sebagai sumber laten realitas
(1) Ahadiyah
>kesatuan mutlak
>tanpa relasi, tanpa diferensiasi
(2) Wahdah
>mulai ada potensi relasi
>namun belum terpisah
(3) Wahidiyah
>pola dan struktur mulai terdefinisi
>blueprint seluruh kemungkinan
Tiga martabat ini adalah : arsitektur batin dari seluruh keberadaan
---
B. Domain Akhir (Zhahir)
Tiga martabat manifestasi
(4) Alam Arwah
>prinsip hidup / daya
>yang mengaktifkan potensi
(5) Alam Mitsal
>bentuk-bentuk halus
>citra, makna, dan representasi
(6) Alam Ajsam
>dunia fisik
>realitas material yang dapat diindera
Tiga martabat ini adalah : arsitektur penampakan realitas
---
3. Insan sebagai Martabat Ketujuh
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia ber-istiwa atas ‘Arsy… (QS. Al-A’raf: 54 )
Jika enam martabat sebelumnya adalah spektrum realitas, maka :
(7) Insan
adalah titik di mana semua martabat bertemu.
Manusia :
>membawa dimensi batin (Ahadiyah–Wahidiyah)
>hidup dalam dimensi zhahir (Arwah–Ajsam)
>dan memiliki kesadaran untuk menghubungkan keduanya
Maka Insan adalah titik pertemuan antara Awwal dan Akhir, antara Batin dan Zhahir.
1. Pembacaan Rasional atas “Enam Masa” dan Istawā
Jika dibaca dalam kerangka pemikiran diatas :
>enam masa → adalah proses pembentukan sistem (lapisan zhahir dan batin)
>setelah itu → tercapai kesempurnaan struktur
Lalu :
“tsumma istawā”
→ bukan sekadar “naik” atau “bersemayam” secara literal
→ tetapi : keadaan stabil dan mapan setelah sistem sempurna
Dengan demikian maka Istawā = kondisi ketika seluruh komponen : telah tersusun, saling terhubung dan berjalan sesuai hukum yang ditetapkan. Maka sistem tidak lagi membutuhkan “intervensi langsung” tetapi berjalan melalui sunatullah
---
5. Implikasi Filosofis
Dari formulasi ini, muncul beberapa pemahaman mendasar:
1. Realitas itu satu pada sumbernya
> Perbedaan hanyalah proses tajalli (penampakan)
2. Dunia bukan ilusi
>Melainkan lapisan manifestasi dari yang batin
3. Manusia bukan sekadar makhluk
Melainkan:
> cermin struktur realitas itu sendiri
4. Kesempurnaan bukan melarikan diri dari dunia
Tetapi : menyatukan seluruh dimensi dalam diri
---
6. Penutup
Empat titik tolak pemikiran tentang keberadaan :
Awwal
Akhir
Zhahir
Batin
adalah peta padat realitas.
Tujuh martabat adalah : penjabaran bagaimana peta itu terurai.
Dan manusia adalah : tempat di mana seluruh peta itu menjadi hidup, sadar, dan utuh kembali.
---
Dalam kerangka martabat tujuh :
>enam martabat pertama merupakan proses pembentukan struktur
>dan martabat ketujuh adalah kondisi integrasi total
Di sinilah muncul konsep Insan Kamil :
bukan hanya manusia yang baik secara moral, tetapi manusia yang seluruh dimensi dirinya—batin dan zhahir—telah selaras dan berfungsi sebagai satu kesatuan utuh.
Pada titik ini, manusia menjadi:
otonom dalam bertindak
sadar dalam memilih
namun tetap berada dalam koridor takdir yang telah ditetapkan
Ia tidak menjadi sumber realitas, tetapi menjadi:
manifestasi yang sadar dari sistem realitas itu sendiri
Dengan demikian:
Insan Kamil adalah “sistem hidup” yang telah mencapai kondisi istawā— mstabil, terintegrasi, dan selaras dengan hukum keberadaan.
>enam martabat pertama merupakan proses pembentukan struktur
>dan martabat ketujuh adalah kondisi integrasi total
Di sinilah muncul konsep Insan Kamil :
bukan hanya manusia yang baik secara moral, tetapi manusia yang seluruh dimensi dirinya—batin dan zhahir—telah selaras dan berfungsi sebagai satu kesatuan utuh.
Pada titik ini, manusia menjadi:
otonom dalam bertindak
sadar dalam memilih
namun tetap berada dalam koridor takdir yang telah ditetapkan
Ia tidak menjadi sumber realitas, tetapi menjadi:
manifestasi yang sadar dari sistem realitas itu sendiri
Dengan demikian:
Insan Kamil adalah “sistem hidup” yang telah mencapai kondisi istawā— mstabil, terintegrasi, dan selaras dengan hukum keberadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar