Halaman

Minggu, 09 April 2023

Mengapa Allah SWT Kadang Menyebut Dirinya " AKU " Dan Kadang Menyebut Dirinya " KAMI "

By Mang Anas 


Ada dua jenis proses penciptaan yang terjadi di alam semesta :

A. Proses Penciptaan Makhluk Yang dilakukan Secara Langsung oleh Allah SWT.

1. Proses penciptaan makhluk yang dilakukan oleh Tuhan secara langsung itu diawali saat Dzat Allah bertajalli menjadi Nurullah. Adapun Hakikat dari Nurullah adalah esensi cahaya yang terpancar dari Dzat Allah. Yang esensi cahaya itu pada hakikatnya adalah merupakan manifes dari sifat-sifat esensial yang melekat pada diri Allah SWT. 

Lalu dari esensi yang bernama Nurullah itu lahirlah kemudian esensi kedua yang disebut Nur Muhammad. Dan apa yang dimaksud sebagai Nur Muhammad itu tidak lain adalah empat elemen sifat-sifat esensial dari Allah SWT yaitu sifat Iradat, sifat Hayat, sifat Kudrat dan sifat Ilmu yang kemudian bermanifes menjadi bentuk Al-Qolam, esensi Arsy, Kursi dan Lauhul Makhfudz. 

Dalam bahasa Al Qur'an tahapan ini disebut sebagai manifestasi dari kalimat Kun [ كن  ] yang substansinya merupakan kehendak Allah SWT yang diformulasikan dalam bentuk kata perintah " jadilah ".

2. Dan dari ke-empat elemen Nur Muhammad itu kemudian Allah SWT menciptakan apa yang sekarang kita kenal dengan sebutan Ruh Muhamad,  hal yang hakikatnya merupakan Genos dari penciptaan alam semesta.  Dan Genos itulah yang kemudian menjadi Alat bagi Allah dalam melakukan proses penciptaan pada tahapan selanjutnya. 

Hal demikian itu terjadi karena didalam Genos itu [ Ruh Muhammad ] Allah tanamkan di dalamnya empat elemen esensial dari daya maha dasyat penciptaan, yaitu esensi Al-Qolam, Arsy, Kursi dan Lauhul Makhfudz.   

Dalam bahasa Al Qur'an tahapan ini disebut sebagai Fa [ ف  ] yang berarti " Maka ......." Yang substansinya mirip dengan sebuah Mesin Semesta yang terus bekerja di balik proses yang tidak kasat mata. 

3. Lalu dari Fa [ ف ] itu kemudian mewujudlah bentuk lahir dan batin dari alam semesta yang elemen dasarnya terdiri atas partikel api, air, udara dan debu. 

Lalu Allah SWT kemudian menciptakan para Malaikat dan makhluk yang bernama Jin, berbagai macam jenis pohon dan tumbuhan serta berbagai macam binatang. 

Dan sebagai ciptaan penutup maka Allah SWT kemudian berkehendak untuk menciptakan Adam yang esensi sifat-sifatnya kurang lebih akan sangat mirip dengan diri-Nya. Hal demikian itu terjadi karena Adam memang diciptakan untuk menjadi gambar dari diri-Nya. 

Dan dari diri Adam itu Allah SWT kemudian  menciptakan istrinya,  yang diberi nama Hawa.  Kedua makhluk itu amat sangat disayangi-Nya, dan karena sedemikian sayangnya Tuhan terhadap mereka berdua, maka lalu dijadikanlah mereka berdua itu segel [ materai]  bagi alam semesta. 

Dalam bahasa Al Qur'an tahapan ini disebut dengan istilah يكن [ Yakun ] yang bermakna " Jadilah " atau terciptalah.


Keseluruhan tahapan proses penciptaan tersebut diatas Dalam bahasa Al Qur'an disebut dengan redaksi " wa-kholaq-tu "  [ و خلقت ]  Dan Aku Ciptakan. Pada tahap ini seluruh proses penciptaan masih terjadi secara revolusi.



Bagan : Empat Hakikat Ilahiyah Yang Mendasari Penciptaan Alam Semesta 


B. Proses Penciptaan Makhluk Yang Tidak dilakukan oleh Allah SWT Secara Langsung 

Setelah semua tahapan penciptaan tersebut diatas selesai. Maka di fase sesudahnya seluruh proses penciptaan akan menjadi berlangsung dengan sendirinya dan semuanya telah Tuhan desain agar terjadi secara otomatis melalui sebuah sistem yang disebut hukum pengembang-biakkan. 

Oleh karena itu maka kepada setiap organisme [ baik yang hidup maupun yang dianggap mati ] Allah SWT telah tanamkan kedalam diri setiap makhluk yang diciptakan-Nya itu ketentuan mengenai kadar dan hukum yang berlaku bagi dirinya, sesuai kodrat penciptannya masing-masing yang disebut dengan hukum pertumbuhan dan perkembang-biakan. Keadaan inilah sesungguhnya apa yang dalam al Qur'an disebut sebagai fenomena Allah yang bersemayam diatas Arsy,

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ  ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ (٥٤)

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang telah menciptakan langit dan bumi [ berikut ketetapan hukum yang ia tanamkan kepada keduanya ] dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. [ Lalu dengan hukum yang telah ditetapkannya itu ] Dia [ tanpa harus bersusah payah ] menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. ( Dan lalu Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang [ kesemuanya ] tunduk kepada hukum yang telah Ia buat dan ditetapkannya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. (Q.S. Al-A'raf ayat 54)

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ (٤)

Dialah yang menciptakan langit dan bumi [ berikut ketentuan hukum yang Ia tetapkan terhadap keduanya ] dalam enam masa ; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana [ lewat ketetapan yang telah dibuat-Nya itu ]. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hadid ayat 4)


Dengan demikian maka semua proses pembentukan alam jadian pada tahap ini seluruhnya akan berlangsung dan lahir dari sistem mekanisme kerja alam semesta. Dan semua proses yang terjadi seluruhnya merupakan sunnatullah semata. 

Oleh karena itu maka pada tahap ini seluruh proses penciptaan hanya akan terjadi secara evolusi.

Dan dalam bahasa Al Qur'an fenomena ini disebut dengan redaksi " wa laqod kholaqna "  ولقد خلقنا  yang artinya " Dan Sesungguhnya Kami telah Menciptakan "

[ Referensi : Futuhat Al Makkiyah Jilid 2 Syekh Muhyiddin Ibn Arabi ]

Semoga bermanfaat 

-------®--------

Catatan : Konsekuensi dari dijadikannya manusia oleh Allah SWT sebagai segel adalah : selama makhluk yang bernama manusia itu ada [ eksis ] dimuka bumi, maka alam semesta ini akan tetap ada bersamanya. Tetapi manakala makhluk yang bernama manusia  karena suatu hal atau karena sebab tertentu ia menjadi lenyap [ tidak lagi eksis ], maka sebagai konsekuensinya alam semesta pun oleh Allah SWT akan ikut dilenyapkan [ lihat, Fusus Al-hikam, Syekh Muhyiddin Ibn Arabi, bab tentang Adam]




Selasa, 04 April 2023

Membumikan Nilai-nilai Al Fatiha Sebagai Asas Kita Bernegara dan Asas Dalam Tata Kelola Pemerintahan

By. Mang Anas

A. Pendahuluan 

Bahasan berikut ini adalah makna lain dari surat Al Fatiha, yaitu usaha menafsirkan substansi makna surat Al Fatiha dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)


B. Kewajiban Pemerintah [ Penguasa ] Terhadap Rakyatnya 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

Tafsir  : 

1. Makna lafad  اَلْحَمْدُ  pada kalimat  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ dalam konteks berbangsa dan bernegara  adalah keseluruhan potensi sumberdaya baik manusia maupun bentuk kekayaan lainnya yang dimiliki oleh sebuah bangsa, yaitu kekayaan yang berada di darat, laut, di dalam bumi dan di wilayah udaranya.  

2. Makna lafad  لِلّٰهِ  dalam konteks berbangsa dan bernegara adalah agar seluruh potensi sumberdaya anugerah Tuhan Yang Maha Esa itu digunakan untuk sebesar - besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, dan jangan sampai hanya dinikmati atau dikuasai oleh segelintir dan sekelompok orang saja [ yaitu oleh oligarki ekonomi yang mengkooptasi kekuasaan ].

3. Dan adapun makna  lafad رَبِّ pada kalimat  اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ adalah berarti kemampuan negara [ pemerintah ] dalam memenej seluruh potensi sumberdaya yang dimilikinya menggunakan sistem tata kelola pemerintahan yang baik, benar, efektif dan efisien. 

4. Selanjutnya adalah makna lafad  الْعٰلَمِيْنَۙ  yaitu agar pemerintahan itu dalam mengelola sumberdayanya selalu memperhatikan asas pelestarian lingkungan dan asas kesinambungan ketersediaan sumberdaya bagi kepentingan generasi dibelakangnya. 

--------®---------

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 3)

5. Dan adapun makna lafad  الرَّحْمٰنِ dalam konteks kebangsaan adalah " bangunlah badannya ", yaitu peran pemerintah sebagai fasilitator bagi rakyatnya. Caranya adalah dengan berupaya menyediakan berbagai infrastruktur dibidang perekonomian, berbagai sarana penunjang lembaga pendidikan, sarana kesehatan serta menyediakan berbagai sarana infrastruktur dibidang sosial. Hal itu dilakukan dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan warganya. 

6. Makna lafad  الرَّحِيْمِۙ  dalam konteks kebangsaan adalah " bangunlah jiwanya " , yaitu peran pemerintah sebagai dinamisator bagi rakyatnya.  Yaitu dengan memprakarsai tumbuhnya budaya inovasi, mendukung setiap kegiatan riset dan pengembangan teknologi. Baik yang dilakukan oleh badan-badan pemerintah, swasta dan pihak perguruan tinggi. 

Hal itu  mutlak harus dilakukan dalam rangka menciptakan kemandirian ekonomi. Yaitu dengan memperkuat tatanan perekonomian yang berbasis industri, disamping sektor perdagangan dan jasa.

--------®---------

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)

7. Adapun Lafad مٰلِكِ  dalam konteks ini adalah peran pemerintah selaku otoritas penegak hukum yang berwibawa  dan sekaligus penegak disiplin warga negaranya.  Diharapkan berjalan efektif. Hal itu dilakukan dalam rangka menciptakan tertib sosial didalam masyarakat dan dalam rangka menjaga stabilitas nasional. 


C. Kewajiban Rakyat  [ Warga negara  ]  Terhadap Negara dan Pemerintahnya.


اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)

1. Dan adapun makna kalimat  اِيَّاكَ نَعْبُدُ dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kewajiban warga negara terhadap pemerintah dan negaranya,  yaitu agar mereka terbiasa dengan budaya kerja keras, dan rela mendedikasikan hidupnya demi tercapainya cita-cita dan tujuan bersama.  

2. Dan makna kalimat   وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ dalam konteks ini adalah tumbuhnya budaya inovasi dan kreatifitas dikalangan warga negara dalam rangka memajukan peradabannya.

--------®---------

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

3. Makna kalimat  اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ adalah kewajiban semua warga negara untuk memahami konstitusi, undang-undang dan berbagai peraturan yang disepakati itu  untuk kemudian dilaksanakan dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari mereka.  

--------®---------

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

(Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

4. Makna kalimat صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ adalah agar seluruh rakyat menyadari bahwa kekayaan sumberdaya yang dimiliki oleh negara merupakan milik bersama, dan  itu harus dikelola dan dimanfaatkan untuk kemakmuran bersama.  

5. Makna kalimat غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ adalah terciptanya rasa aman dan tertib sosial yang tinggi.

Semua warga negara hendaknya memiliki disiplin diri yang tinggi serta lebih mengutamakan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi  atau golongannya. 

6. Makna kalimat  وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  adalah semua warga negara hendaklah dapat menahan dirinya agar  tidak terjerumus pada pola hidup yang konsumtif dan atau prilaku hedonis yang akibatnya dapat  menjerumuskan bukan saja dirinya tetapi juga anak cucu yang akan lahir dibelakangnya [ akan mengalami kelangkaan sumberdaya ].

Semoga Tulisan ini dapat menambah wawasan cara kita memandang dan memahami Al Quran. 




Kamis, 30 Maret 2023

Al Quran, Al Fatihah dan Basmalah : Korelasi Isi Serta Persamaan Kandungan antar Ketiganya

By. Mang Anas 


ASubstansi Isi dan Kandungan " Surat Al Fatihah " didalam Kalimah " Bismillahirahmanirrahim " : 


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

1. Huruf  Ba [ ب ] pada kata  بِسْمِ  adalah bermakna اَلْحَمْدُ , mengingat dari titik ب lah  aneka ragam anugerah dan nikmat  Allah SWT itu terpancar, dan kedalam lafad اَلْحَمْدُ lah aneka ragam anugerah dan nikmat Allah itu kemudian dihimpun dan diwadahi. Dengan demikian maka hakikat titik ب  adalah simbol dari eksistensi Dzat Allah dan sementara hakikat dari  اَلْحَمْدُ adalah sebuah eksistens cahaya yang  menyelubungi Dzat dimaksud. Atau dengan kata lain hakikat ب adalah metafor dari esensi Dzat Allah,  sementara hakikat dari  اَلْحَمْدُ adalah metafor dari esensi keberadaan Nur Muhammad, yang kadang juga disebut Hakikatul Muhammadiyah. 

Berangkat dari pemahaman itu maka makna huruf Ba [ ب ] pada lafad  بِسْمِ  menjadi tergambar jelas di dalam Firman Allah berikut ini,  

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢ )

 " Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, "(Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

2. Huruf Sin [ س ] pada kata بِسْمِ itu bermakna Allah dengan ketiga asmanya yakni, Ar Rahman yang menghimpun semua sifat-sifat ke-bapaan, Ar Rahim yang menghimpun semua sifat-sifat ke-ibuan dan Al- Malik  yang menghimpun semua  sifat sifat Kemaha-kuasaan-Nya. Sebagaimana firman-Nya , 

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (Q.S. Al-Fatihah ayat 3)

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)


◇ Melihat fakta bahwa huruf س  pada  lafad  بِسْمِ  itu ber-kharokat sukun dan itu bersukun dengan  huruf  ب yang ber-kharohat kasroh sehingga kedua huruf itu harus dilafalkan bersambung, maka itu merupakan pertanda bahwa hakikat ketiga nama dan atau Sifat-sifat Allah sebagaimana yang tersebut diatas itu tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Dzat [ Allah  ] yang disifati dan atau yang dinamai-nya. Atau dengan kata lain, hakikat keberadaan Dzat Allah  dengan keberadaan Sifat dan nama-nama-Nya itu adalah merupakan satu kesatuan,  dan hakikat ketiganya ada ketunggalan mutlak. Dengan demikian maka ~ Nama Allah itu=Ar-Rahman=Ar-Rahim=Al-Malik ~ atau  Al-Malik itu=Ar-Rahim=Ar-Rahman=Allah.


3. Adapun makna huruf Mim [ م ] pada lafad  بسم الله  itu merujuk pada fenomena adanya hubungan mesra antara hamba dengan Tuhannya.

Hal itu ditandai dengan posisi huruf Mim [ م ] yang sekalipun diposisikan lebih rendah karena ia  ber-kharokat  kasroh tetapi ia [ م itu ]  tersambung sangat manis dengan huruf ل yang berderajat jauh lebih tinggi. Disebut lebih tinggi karena Lam [ ل ] itu bukan saja bertandakan tasdid tetapi juga  sekaligus ber-harokat Mad dan juga merupakan Lam jalalah. 

Untuk melihat betapa mesranya hubungan م dengan ل adalah doa kita berikut ini   : 

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)


4. Dan adapun lafad Allah [ اللّٰهِ ] pada kalimat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) " itu kita harus melihatnya dalam perspektif makna batin atau makna isyari dari doa kita berikut  :

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

◇ Kepada siapa doa kita itu ditujukan, jawabnya tentu saja kepada Allah SWT. Dan apa yang dimaksud dengan jalan lurus, maka tentu saja jalan Allah. 

Dengan demikian maka satu-satunya korelasi logis dari lafad الله  pada kalimat  بسم الله   adalah hanya dengan ayat 6 surat Al Fatihah tersebut diatas.

5. Selanjutnya kata Ar Rahman  [ الرَّحْمٰنِ ] pada kalimatبِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) " itu  bermakna : 

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ 

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; ( 7 )

◇ Ditafsirkan demikian karena kata Ar-Rahman itu selalu berhubungan dengan konotasi memberi [ اَنْعَمْتَ ]. Yaitu kehendak Allah SWT untuk memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya yang layak mendapatkan dan yang kemudian dikehendaki-Nya, yakni para syuhada,   hamba-hamba-Nya yang saleh,  Siddiqin, dan kepada para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Dan lalu Allah juga memberikan rejeki  kepada semua makhluk dan hamba-hamba-Nya, yang mukmin dan yang kafir, yang baik dan yang jahat. Tanpa kecuali. 

Catatan : Terkait dengan tafsir lafad اَنْعَمْتَ yang berstatus sebagai fi'il madi itu, maka lalu Syekhul Akbar Muhyiddin Ibn Arabi berkomentar, bahwa untuk kelompok orang yang jelas-jelas saleh [ yakni kelima golongan sebagaimana disebut diatas ] mereka dapat langsung menikmati kehidupan surga tanpa harus terlebih dahulu menunggu datangnya kiamat.  Begitupun bagi mereka yang jelas-jelas kafir maka mereka akan langsung dimasukan kedalam neraka, juga tanpa harus menunggu datangnya kiamat. 

Dan adapun terhadap mereka yang statusnya " Abu-abu ", maka kepada mereka-lah ketentuan transit di Alam Barzakh itu berlaku. Kelompok inilah yang dalam istilah Al Qur'an disebut sebagai para penghuni 'Araf, yaitu kelompok yang ditetapkan masuk surganya tertunda dan mereka terpaksa harus hidup dalam penantian, menunggu tibanya hari keputusan. [ lihat Futuhat Al-Makkiyyah jilid 2 ]. 

6. Sedangkan Kata Ar-Rahim  [ الرَّحِيْمِ ] pada kalimat  بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)  menjadi bermakna, 

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ (٧)

bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah ayat ( 7)

◇ Ditafsirkan demikian karena kata Ar-Rahim itu selalu dikonotasikan dengan perbuatan mengasuh, mendidik, merawat, menjaga dan memelihara serta perbuatan Rabb dalam usahanya membimbing dan mengarahkan para hamba yang dikehendaki-Nya agar tetap berdiri di jalan-Nya. Supaya ia tidak menjadi " magdhub " terhadap-Nya dan agar ia tidak berlaku " dholin " terhadap dirinya sendiri. 

Itulah penjelasan sekilas mengenai kandungan Al Fatiha didalam kalimat  Basmalah. 


Gambar  : Tabel Korelasi Makna Antara Huruf Ba, Basmalah, Al Fatiha  dan Kandungan Al Quran 


BSubstansi Isi dan Kandungan " Al Quran " didalam " Surat Al Fatihah " : 

Berikut ini adalah kandungan Surat Al Fatihah yang isinya ternyata telah mencakup keseluruhan isu pokok yang dibicarakan dalam Al Quran, yakni : 

1. Konsep Akidah 

2. Konsep Akhlak

3. Konsep Hukum

4. Konsep Ibadah

5. Konsep Pengetahuan 

6. Tema Kisah-kisah Umat di Masa Lalu


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)


1. Konsep Akidah [ Tauhid ] : 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, (Q.S. Al-Fatihah ayat 2)


2. Konsep Akhlak : 

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (Q.S. Al-Fatihah ayat 3)


3. Konsep Hukum : 

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)


4. Konsep Ibadah :

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)


5. Konsep Pengetahuan : 

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

◇ Yaitu jalan para ahli ilmu, baik yang dohir [ yaitu jalan para ahli ilmu yang berbasis logika dan rasionalitas ] maupun ilmu yang batin [  yaitu jalan para ahli makrifat yang berbasis ilmu-ilmu Ruh dan ilmu-ilmu Sirr ].


6. Tema Kisah-kisah Umat di Masa Lalu

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya [ yaitu jalan para Syuhada, Salihin, Siddiqin, Ambiya dan Mursalin ] ; bukan (jalan) mereka yang dimurkai [ yakni jalan Kaum Nuh, Kaum Namrud, Kaum Hud, Kaum Samud, Kaum Luth, Kaum Fir'aun, Askhabul Ross, Askhabul 'Aikah, Kaum Tuba, Serta Kaum Yahudi ], dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat [ yaitu jalan kaum Nasrani yang akidahnya telah dikotori oleh kepercayaan pagan bangsa Romawi serta pengaruh Filsafat Helenisme Yunani ]. (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

Kesimpulan

1. Bahwa hakikat dari huruf ب pada kalimat بسم الله  adalah ibarat esensi otak, atau esensi hati, atau esensi jantung dan atau esensi paru-paru dari Al Qur'an

2. Bahwa hakikat dari kalimat Basmalah adalah ibarat jaringan syaraf, atau jaringan otot-otot dan atau keseluruhan saluran peredaran darah dari al Quran 

3. Bahwa hakikat dari surat Al Fatihah adalah ibarat struktur kerangka dan atau tulang belulang dari Al Qur'an

4. Bahwa hakikat dari Al Qur'an secara keseluruhan [ minus Basmalah dan Fatiha ] adalah ibarat daging dan kulit yang membungkus keseluruh tulang belulang, jaringan syaraf, jaringan otot dan keseluruhan peredaran darahnya. 

Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat serta dapat menambah wawasan kaum muslimin khususnya yang terkait dengan  pemahaman makna-makna Isyari [ makna tersembunyi ] dari Al Quran.



Selasa, 14 Maret 2023

Shalat Wustha Makna Hakiki Dan Fadhilahnya

Oleh : Mang Anas


حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ (٢٣٨)

Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.(Q.S. Al-Baqarah ayat 238)


A. Secara lughot atau makna bahasa kata الْوُسْطٰى  berarti " Tengah ".

Tetapi dari sudut makna  hurufnya maka kata الْوُسْطٰى bermakna sebagai berikut :

1. Huruf و pada kata  الْوُسْطٰى bermakna diri hamba yang tunduk patuh [ cermati bentuk huruf و  ]

2. Huruf س  pada kata الْوُسْطٰى bermakna tiga elemen diri manusia, yaitu jasad, akal dan jiwa [ cermati bentuk huruf س ] 

3. Sedangkan huruf ط bermakna wahyu, yakni bimbingan wahyu [ pada huruf ط itu elemen آ bermakna esensi ilahiah sedangkan elemen ص bermakna mata hati ] . 

Maka berdasarkan tinjauan makna huruf tersebut diatas Fadhilah melaksanakan shalat  الْوُسْطٰى bagi diri seorang hamba adalah berikut, 

1. Bagi Maqom Syariat atau Maqom Asbab :

Bagi hamba yang masih duduk dimaqom syariat [ maqom Asbab ] maka melaksanakan shalat wustho itu akan membuat diri hamba mampu memenej dan sekaligus membuatnya menjadi mampu menundukkan kecenderungan buruk hawa nafsu yang melekat pada elemen jasad, akal dan jiwanya [ disebut elemen buruk huruf س ] . Dan berkat salat wustho itu maka ketiga elemen buruknya insya Allah akan menjadi tunduk dan lalu kemudian menjadi patuh dibawah bimbingan wahyu [ Petunjuk Al Qur'an ]. Dalam kasus ini sang hamba disebut mendapatkan hidayah. 

2. Bagi Maqom Hakikat atau Maqom Tajrid  [ Insan Kamil ]  : 

Bagi diri hamba yang sudah duduk dimaqom hakikat [ maqom Tajrid ] maka Istiqomah dalam melanggengkan salat wustho itu bukan saja akan membuat dirinya semakin dalam memahami hakikat kemanusiaannya [ yaitu ketiga elemen diri yang selama ini tersembunyi didalam huruf س  ] , tetapi juga rakhmat dan barokah Allah SWT akan mengalir semakin deras kepada dirinya. Dalam hal ini diri hamba akan memiliki akses lebih jauh kesumber sumber wahyu  [ rahasia lauhul makhfudz ]. Tandanya adalah sang hamba akan semakin sering mendapatkan anugerah ilmu-ilmu ilham dan juga berbagai bentuk pengajaran ilmu ilmu kelangitan.

B. Lalu apa yang dimaksud sebagai Shalat Wustha ? 

Berdasarkan apa yang saya pahami, maka yang dimaksud sebagai shalat wustha adalah, 

1. Bagi maqom syariat yang dinamakan shalat wustha  adalah shalat yang dilakukan dalam keheningan akal pikiran. 

Dalilnya adalah, 

Jasad --- AKAL --- Jiwa

[ Lihatlah pada tipikal manusia jasad, dalam hal ini adalah diri yang belum dapat melepaskan diri dari cangkangnya yaitu unsur kejasadannya, maka posisi AKAL itu adanya ditengah ]

2. Adapun bagi maqom hakikat [ insan Kamil ] maka yang dimaksud sebagai salat wustho adalah shalat Ruh. 

Dalilnya adalah, 

Jasad - Akal - Jiwa - RUH - Sirr - Nur - Dzat

[ Lihatlah pada diri manusia insanul kamil yang sudah mampu menembus tujuh elemen dirinya, maka posisi RUH itu adanya ditengah ]


C. Kapan Waktunya ? 

a. Secara syariat adalah diwaktu Magrib. 

Dalilnya adalah, 

1. Shalat subuh itu Shalat bagi Jasad

2. Shalat Dhuhur itu Shalat bagi Akal  

3. Shalat Ashar  itu Shalat bagi Jiwa

4. Shalat Maghrib itu Shalat bagi Ruh

5. Shalat Isya itu Shalat bagi Sirr  [ yakni rahasia Insan ]

6. Shalatul Lail [ Tahajud ] itu Shalat bagi Nur [ yakni cahaya Insan ]

7. Shalat Witir itu Shalat bagi Dzat  [ yakni Dzat Insan ]

[ Lihat diantara waktu waktu sholat maka posisi Shalat Maghrib itu adanya ditengah ] 

b. Dan adapun secara hakikat maka waktunya adalah disemua shalat dan bahkan pada setiap hembusan nafas dan sudah selayaknya menempel secara otomatis pada setiap detak jantung. 

Demikianlah rahasia [ Fadhilah ] shalat wustho dari sudut ilmu hakikat dan makna hurufnya. 

Semoga Artikel ini bermanfaat.




Sabtu, 28 Januari 2023

Rumus Cerdas [ Futukh ] Ala Ibn Arabi

By. As-Syeikh Al-Akbar Muhyidin Ibn Al-'Arabi [ Kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah ] 

Tilawah Al-Qur'an Para 'Arif Muḥaqqiq Di Malam Hari 

Tak akan bisa mengenal-Ku dan tak akan mampu menilai dengan benar perkataan-Ku, "Malam adalah untuk-Ku" serta mengetahui mengapa Aku turun kepadamu di malam hari kecuali seorang _'Arif Muḥaqqiq_ . Ia yang ketika berjumpa dengan saudaranya yang mengatakan padanya, "Saudaraku, sebutlah diriku dalam khalwatmu bersama Rabbmu!" ia akan menjawab, "Kalau aku menyebutmu berarti aku sedang tidak berkhalwat dengan-Nya." Seorang _'Arif_ seperti inilah yang tahu seperti apa kadar penurunan-Ku di malam hari ke langit dunia, serta kenapa Aku turun dan siapa yang Kucari. " Akulah yang membacakan Kitab-Ku kepada orang itu melalui lisannya sendiri, sementara dia hanya mendengarkan. Inilah yang disebut "percakapan di malam hari dengan-Ku". Hamba itulah yang merasakan kelezatan dan kenikmatan Kalam-Ku [1]. Namun bila ia terpaku pada makna-maknanya, maka ia telah meninggalkan-Ku melalui pikiran dan perenungannya ".

Yang harus ia lakukan adalah " memusatkan perhatiannya kepada-Ku dan mengosongkan pendengarannya hanya untuk mendengar Kalam-Ku. Hingga pada saat tilawah itu, karena Aku yang membacakan dan memperdengarkan padanya, Akulah yang menjelaskan Kalam-Ku dan menerjemahkan maknanya kepada orang itu. Itulah yang dinamakan percakapan-Ku dengannya. Sehingga ia akan mengambil ilmu langsung dari-Ku, bukan dari pikiran dan pengertiannya sendiri ".

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ (١٦)

Jangan engkau gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. (Q.S. Al-Qiyamah ayat 16)

اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗۚ (١٧)

Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. (Q.S. Al-Qiyamah ayat 17)

فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗۚ (١٨)

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.  (Q.S. Al-Qiyamah ayat 18)

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗۗ (١٩)

Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.  (Q.S. Al-Qiyamah ayat 19)


Sang _Arif Muḥaqqiq_ itu tidak akan terlalu memperhatikan cerita tentang surga, neraka, hisab, hari kiamat, dunia maupun akhirat, karena ia tidak melihat itu semua dengan akalnya dan tidak menelaah ayat tersebut melalui pikirannya. Ia hanya akan mendengarkan dengan seksama apa yang Kukatakan padanya. Ia menjadi orang yang disaksikan dan menyaksikan ( _syahid_ ), hadir bersama-Ku dan Aku Sendiri yang bertanggungjawab atas pengajarannya. Lalu Kukatakan padanya, “Wahai hamba-Ku! Yang Kumaksud dengan ayat ini adalah ini dan itu,sedangkan untuk ayat yang lain adalah ini dan itu.”

Demikianlah yang terjadi hingga fajar menyingsing. Maka Sang _'Arif_ tersebut akan memperoleh banyak ilmu yang belum pernah ia miliki sebelumnya dengan penuh keyakinan, karena ia mendengar Al-Qur'ān dan penjelasan serta tafsir makna-maknanya, juga apa yang Kuinginkan dari Kalam, ayat serta surah tersebut langsung dari-Ku. Dengan itu, ia telah berlaku dengan adab yang baik bersama-Ku, karena ia telah mendengarkan dengan seksama dan memberikan perhatiannya.

Ketika Aku memintanya kembali untuk bercakap-cakap tentang hal-hal tersebut, maka ia akan menanggapi permintaan-Ku itu dengan kehadiran diri dan musyahadah. Ia akan menyampaikan kembali pada-Ku segala apa yang pernah Kusampaikan dan Kuajarkan padanya, dan apakah ia telah menerima sepenuhnya segala ilmu yang terkait dengan hal tersebut atau tidak. Jika tidak, maka kami akan menambahkan kepadanya apa yang kurang dari hal tersebut. Dengan ini, ia menjadi hanya untuk-Ku, bukan untuk dirinya sendiri atau untuk sesama makhluk.

Hamba yang seperti ini adalah sepenuhnya untuk-Ku dan milik-Ku, sementara malam menjadi penghubung antara Diri-Ku dan dirinya. Ketika fajar telah menyingsing, Aku bersemayam di atas _'Arsy-Ku_ untuk mengatur segala urusan dan memerinci ayat-ayat, sementara hamba-Ku ini akan berjalan menuju penghidupan dan mata pencahariannya serta berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya. Tetapi telah Kubukakan pintu yang menghubungkan antara Diri-Ku dan dirinya pada makhluk-Ku. Ia melihat-Ku dari makhluk dan Aku juga melihatnya dari makhluk, walau para makhluk itu tidak merasakannya. Aku berbicara pada hamba itu melalui lisan-lisan para makhluk meski mereka tidak mengetahuinya. Para makhluk itu mengira ia sedang berbicara dengan mereka, padahal ia tidak berbicara dengan siapa pun selain Diri-Ku. Mereka juga mengira bahwa ia sedang menyahuti ucapan mereka, padahal ia tidak menyahuti siapa pun kecuali Diri-Ku. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang pemilik sifat ini: 

" Wahai Dikau penghiburku kala makhluk terlelap di malam hari, dan teman berbincangku di tengah-tengah mereka di siang hari ".


Catatan Kaki : [1] Semua Rasa Nikmat dan Kelezatan yang diperoleh dan dirasakan oleh sebagian besar pembaca Al Qur'an itu,  terjadi akibat sentuhan-sentuhan magis yang bersumber dari kalimat al quran, dan efek megis dari sentuhan huruf-huruf [ yang sejatinya mengandung ruh ].  Daya magis yang berasal dari kumpulan ruh yang terhimpun di dalam sebuah kalimat dan huruf secara individual itu kemudian melanda selaput membran-membran tipis yang ada di seputar relung hati. Itulah sejatinya yang disebut mukjizat Al quran. 

Pengaruh efek magis dari sentuhan ayat ayat suci itu lambat- laun akan membuat hati kita menjadi lembut,  mata hati menjadi hidup, dan lama kelamaan permukaan mata hati kita pun akan menjadi bening dan rasa kita juga akan menjadi sangat tajam. 

Dalam kondisi itu maka hati seorang hamba pada hakikatnya telah menjadi sebuah lahan subur. Dan hati dalam keadaannya yang sudah seperti itu akan layak menerima tajalli Allah Swt. Menjadi kredibel untuk menjadi lokus curahan Ilmu- ilmu Ilham dan Ilmu-ilmu Laduni yang bersumber dari-Nya dan diajarkan secara langsung oleh-Nya.  

Untuk diketahui, di zaman kita ini [ zaman akhir : tahun 2000 ke atas ], semua pintu kerohanian [ pintu pintu langit ] telah dibuka lebar-lebar. Maka untuk mencapai hal itu sekarang peluangnya menjadi sangat besar, dan insya Allah menjadi jauh lebih mudah, dibanding masa- masa sebelumnya. Sebab zamannya memang sudah tiba. 

Dari Abu Hurairah -raiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -allallāhu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila telah dekat waktunya (kiamat), hampir tidak ada mimpi seorang mukmin yang dusta. Mimpi seorang mukmin itu satu dari empat puluh enam bagian kenabian. Dalam riwayat lain disebutkan, "Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur bicaranya."   ( Hadis sahih - Muttafaq 'alaih ). Keterangan lebih lengkap mengenai mimpi seorang mukmin  [ ru'yan sadiqah ] klik artikel kami di url dibawah ini, 

https://matahatirasasejati.blogspot.com/2021/10/perjalanan-suluk-pengajaran-lewat-mimpi.html?m=1






Rabu, 05 Oktober 2022

Hakikat Makna " Liya'budun " Dalam Perspektif Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia

By Mang Anas


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (٥٦)

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.  (Q.S. Az-Zariyat ayat 56)


Semua bermula dari kisah Penciptaan Adam, lalu Allah SWT memberikan mandat  kepada Adam agar ia menjadi wakil-Nya di muka bumi, yaitu agar Adam menjalankan tugas Khalifahanya disana. Dan misi itulah yang kemudian ditataran Implementasi disebutnya sebagai Liya'budun, yang maknanya berarti adalah bahwa Adam dan semua anak keturunannya hendaklah selalu mengindahkan perintah Tuhan,  serta agar dapat melaksanakan seluruh tugas dan amanat yang diberikan kepadanya. Yakni hendaknya Adam dan anak keturunan mereka berupaya menciptakan tata kehidupan yang harmonis dan sinergis-kolaboratif antara sesama mereka,  dan hendaklah mereka dapat menyalaraskan dirinya dengan alam.  Itulah esensi perintahnya, dan esensi itulah yang sebenarnya dimaksudkan sebagai ibadah. Yakni ibadah dalam arti yang sebenarnya, atau ibadah dalam maknanya yang sejati. 

Dan adapun aktivitas shalat, puasa, dzikir, tadabbur al Qur'an dan menuntut ilmu sebagaimana yang diperintahkan oleh agama, hal itu hakikatnya hanyalah alat atau media bagi manusia agar ia dapat mengasah dirinya [ jiwanya ], dan bukan tujuan utama Allah SWT menciptakan makhluk yang bernama manusia.  Sebab sebagaimana telah disinggung dimuka bahwa tujuan utama Allah menciptakan manusia adalah agar mereka mewarisi bumi dan supaya dapat mendirikan kehidupan yang baik di atasnya. 

Lalu kenapa Allah SWT memerintahkan manusia agar setiap saat ia harus mengasah dirinya melalui shalat, puasa, dzikir, tadabbur al Qur'an dan menuntut ilmu ? 

Jawabnya tidak lain, yaitu agar sisi lembut, sisi baik dan daya sensitivitas kemanusiaan yang ada pada diri kita [ yaitu seluruh potensi ruh dan jiwa yang ada pada kita ] itu terus bisa terasah sepanjang waktu. Sehingga dengan demikian  mata hati kita menjadi hidup, sensor rasa kita menjadi tajam,  dan agar seluruh potensi keunggulan komparatif yang ada pada diri kita,  yaitu memori pengajaran " wa'alama adama asma kullaha " yang pernah Allah Swt ajarkan kepada nenek moyang kita [ yaitu Nabi Adam AS ]  itu bisa ter-ekspose dan bisa dimunculkan kepermukaan, dari yang sebelumnya terpendam, tidak teraba, bahkan tidak pernah disadari karena letaknya yang jauh dilubuk hati, dan karena ia tersamar dan tersembunyi dibawah lapisan alam bawah sadar kita sendiri. 

Itulah sesungguhnya hikmah dan manfaat yang tersembunyi dibalik perintah shalat, puasa, dzikir, tadabbur al-qur'an serta menuntut ilmu. Yakni, agar pada saatnya nanti manusia yang telah Allah ciptakan dan didesain dengan tangan-Nya sendiri itu dapat mencapai puncak kematangannya [ yaitu menjadi sosok insanul kamil ].

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ (١٠٥)

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr ( Arsip original kitab yang tersimpan di Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (Q.S. Al-Anbiya' ayat 105)

Dengan menjadikan dirinya sosok yang insanul kamil [ manusia yang matang ] itu maka Allah SWT berharap bahwa manusia yang diciptakan-Nya itu akan dapat memikul tanggung jawabnya dengan baik. Yaitu menjadi wakil-Nya yang paling representatif dimuka bumi. Disana diharapkan manusia bisa menciptakan harmoni, dan dapat menata  diatasnya tata kehidupan yang indah. Jadi Itulah makna yang sesungguhnya dari kata " Liya'budun" sebagaimana disinggung dalam QS. Az-Zariyat ayat 56 tersebut diatas.

Pertanyaan selanjutnya adalah, shalat, puasa, dzikir dan tadabbur Qur'an yang bagaimanakah yang dampaknya dapat melembutkan hati, membuat sensitivitas rasa kita menjadi tajam dan agar seluruh potensi Sirr [ kemampuan rahasia ] yang ada pada diri kita bisa semuanya terekspos dan dimunculkan ke permukaan ? 

Jawabnya adalah ke-tiga hal tersebut diatas akan dapat kita capai jika,

1. Dalam shalat dan dzikir jiwa kita merasa benar benar tergetar, dan jika dalam shalat dan dzikir itu hati kita dipenuhi rasa haru-biru [ isak tangis bahagia ] serta derai kerinduan yang meluap-luap kepada Allah SWT.  

2. Jika setiap kali kita membaca dan mentadabburi Al quran itu diri kita merasa seperti sedang berkaca. Yakni di kala tengah membaca dan mentadabburi Al Qur'an itu kita dapat merasakan suatu fenomena seakan-akan kita sedang mengukur dan membandingkan apa yang selama ini kita lakukan dengan apa yang Allah katakan dan kehendaki dari diri kita sesuai apa yang tertera dalam al Quran. Dengan begitu kita akan segera dapat menyadari apa saja kesalahan diri kita,  dan kita akan dibuat segera dapat menyadari apa-apa saja yang selama ini menjadi kelemahan atau kekurangan diri kita. 

Dalam kondisi itu, untuk orang yang hatinya telah benar benar lembut pasti dia akan berurai air mata. Ia akan  merasakan dirinya menjadi sangat hina-dina dan hidupnya selama ini ternyata dipenuhi oleh banyak kesalahan. Maka dalam keadaan itu dihadapan Allah SWT dirinya akan tersungkur, bersujud dan akan menangis sejadi-jadinya.

3. Jika laku puasa yang kita jalankan dilakukan dengan hati ikhsan. Yakni jika dalam keadaan puasa itu hati kita dipenuhi oleh perasaan sambung yang terus menerus kepada Allah SWT. Maka dalam keadaan itu  kita merasa seperti selalu melihat Allah dimanapun kita memandang atau seperti sedang dilihat Allah dimanapun kita berada. Maka dalam keadaan itu prilaku kita akan selalu terjaga dan kita akan terhindar dari perbuatan salah dan dosa.

4. Jika apa yang kita tonton atau ilmu yang banyak kita baca dan pelajari adalah berupa ilmu ilmu rohani yang dapat menuntun kita menjadi semakin dekat kepada Allah SWT. Dan bukannya tontonan atau ilmu-ilmu yang justru semakin mengajak kita untuk terikat lebih kuat terikat kepada dunia  [ semakin terjerumus dalam kehidupan materialistik].

Jika ke-empat hal itu dapat kita lakukan maka semua landasan untuk mencapai martabat Insan Kamil telah dapat kita penuhi. Untuk selanjutnya maka Allah lah yang akan memanggil diri kita untuk kemudian dimasukkan kehadirat-Nya. 

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

Artinya:

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."[ QS. Al-Fajr ayat 27–30 ]

Disana oleh Allah SWT kepada kita akan diperlihatkan segala kebesaran dan keagungan diri-Nya, diajarkan beberapa bagian dari rahasia ilmu-Nya serta di alam lahut itu sifat, akhlaq, cara pandang kita terhadap segala sesuatu akan dibentuk ulang [ dilahirkan kembali ], dan seluruh proses pembentukan ulang diri kita itu dilakukan oleh Allah SWT hanya dalam waktu satu malam [ Islah ]. Sehingga ke-esok harinya begitu kita bangun dari tidur kita benar benar telah menjadi sosok manusia yang lain, manusia baru [ sosok insanul kamil ].

Apa yang saya tulis ini bukanlah sekedar sebuah teori, tetapi betul betul beranjak dari peristiwa yang saya sendiri dan beberapa salik lain pernah alami.


Semoga artikel singkat ini bermanfaat.




Selasa, 27 September 2022

Tafsir Ayat Ayat Sifat Surat Al-Fatiha ayat 1 dan 3

Tafsir Ayat - ayat Sifat Seri 1 ; 

By Mang Anas


بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣

1. Atas nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Esensi makna dari huruf Ba [ب] yang terdapat di dalam kalimat

 آلله الرحمن الرحيم  بِسۡمِ   

tersebut diatas dijabarkan maknanya oleh Al Quran didalam kalimat Al Hamdu [ ٱلۡحَمۡدُ ] yang terdapat pada ayat kedua. Sedangkan hakikat dari Al Hamdu  [ ٱلۡحَمۡدُ ]  adalah perwujudan dari sifat Allah yang Ar- rahman dan Ar- rahim [ الرحمن الرحيم ]. Dan adapun kalimat  اسم الله [ yang terdapat di dalam rangkaian kalimat Bismillah itu ] dijabarkan maknanya pada kalimat  رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  [ pada ayat 2 ]. Dengan demikian maka hakikat dari huruf Ba [ ب ] adalah الحمد , yang didalamnya kedua sifat Allah yang paling utama itu termanifestasi dalam wujud penciptaan alam semesta beserta semua makhluk yang tinggal didalamnya. Sedangakan hakikat dari 

اسم للله adalah رب العلمين  atau lebih kongkrit lagi dapat dikatakan bahwa esensi dari kalimat آلله  بِسۡمِ  itu adalah kalimat ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ .

Dan adapun esensi dari kalimat 

ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ   sebagaimana yang terdapat pada ayat yang ke tiga itu fungsinya tidak lain adalah sebagai penegasan dari dua sifat yang melekat pada diri Allah Swt sebagaimana yang tertera pada ayat sebelumnya  [ yaitu ayat pertama ] dan yang kemudian pada ayat yang  ke tiga kedua sifat Allah itu telah bermanifestasi menjadi sifat pada diri Rabbull Alamin [ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ].

Demikianlah maka berdasarkan penjelasan tersebut diatas maka bisa disimpulkan bahwa esensi  kalimat

 آلله الرحمن الرحيم  بِسۡمِ   itu memiliki makna yang identik dan sama persis dengan kalimat  ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢  ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣  dan bahkan hakikat isi dan makna substansi  kedua ayat itu sebenarnya adalah tunggal. Sebagaimana manunggalnya esensi Dzat Allah dengan semua sifat-sifat -Nya , dalam hal ini adalah Allah dalam kedudukannya sebagai Rabbal Alamin [ penguasa jagat raya ]. Demikianlah penjelasan makna Al Fatiha mulai dari ayat 1  hingga 3. 

Dan jika diantara para ahli fiqh kemudian terdapat perbedaan pandangan mengenai kedudukan Basmalah dalam surat Al Fatiha, maka berdasarkan penjelasan diatas maka perbedaan itu hakikatnya bukanlah suatu pertentangan. Membaca Al Fatiha dalam shalat dengan Basmalah [ yang dihukumi wajib dalam Mazhab Syafii ] dan membaca Al Fatiha dalam shalat tanpa Basmalah  [ dan membacanya dihukumi makruh menurut Mazhab Khanafi ], pendapat keduanya adalah sah. Bagi yang membaca Basmalah maka berarti dia telah Man-taukidkan kalimat mulia itu dengan pengulangan bacaannya pada kalimat 

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢  ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣ 

sedangakan untuk mereka yang meniadakan Basmalah dalam bacaan Al Fatihanya maka apa yang oleh sementara orang dianggap menanggalkan itu hakikatnya adalah tidak, karena hakikat bacaan Basmalah itu secara implisit sebenarnya sudah terkandung didalam kalimat

 ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٢  ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  ٣  .

Dan adapun hakikat Al Hamdu [ ٱلۡحَمۡدُ ] yang merupakan esensi dari misteri huruf BA [ ب  ] dan yang didalamnya sifat Allah yang Ar-rahman dan Ar-rahim [ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ] termanifestasi adalah bermakna sebagai berikut :

1. Bahwa Hakikat  Al Hamdu itu adalah “ Anugerah Pendengaran, Penglihatan, dan Hati atau Pikiran [ Fuad ] yang diberikan Allah Swt kepada Jin dan Manusia “ selaku makhluk-Nya yang utama sebagaimana firmannya,

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٧٨

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. [ QS. An Nahl 78 ]

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٧٨

Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. [ QS. Al Mukminun 78 ]

ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٩

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. [ QS. As Sajdah 9 ]

 

2. Bahwa Hakikat dari Al Hamdu adalah Anugerah wahyu dan hakikat kenabian yang diturunkan Allah Swt dalam kehidupan bangsa Jin dan umat Manusia yang fungsinya adalah selaku pembimbing dan pemandu  kehidupan bagi keduanya, dan sebagai pedoman agar keduanya dapat kembali dan agar dapat mengenali jalan pulangnya kepada Allah Swt, sebagaimana firman-Nya,

لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ١٦٤

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [ QS. Al Imran 164 ]

3. Bahwa hakikat Al Hamdu adalah “ Segala fasiliatas penunjang kehidupan yang ada pada alam semesta yang telah Allah anugerahkan kepada Jin dan Manusia untuk dikelola dan diambil manfaatnya untuk sebaik baik kegunaan berdasarkan tuntunan yang tertera didalam kitab- kitab Allah Swt.

وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ࣖ ١٠

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. [ Al A’raf 10 ]

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir." ( QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13)

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٣٢

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu ? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [ Az Zukhruf 32 ]

وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ ١٩

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. [ Al Hijr 19 ]

 

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَّسْتُمْ لَهٗ بِرٰزِقِيْنَ ٢٠

Dan Kami telah menjadikan padanya sumber-sumber kehidupan untuk keperluanmu, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya. [ Al Hijr 20 ]

Semoga ulasan singkat ini bermanfaat.





Selasa, 06 September 2022

Iman dan Amal Salih : Pengertian dan Substansinya dalam Perspektif Ilmu Hakikat

By Mang Anas 


لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ (٤)

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, (Q.S. At-Tin ayat 4)

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ (٥)

kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, (Q.S. At-Tin ayat 5)

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ (٦)

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (Q.S. At-Tin ayat 6)


Pengertian Amanu dan Amala Saliha 

A. Yang dimaksud dengan " Amanu " [  الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ] sebagaimana yang disebutkan dalam Al-quran surat At-tin ayat 6 tersebut diatas adalah orang-orang yang dengan rela hati bersedia melakukan semua jenis amalan keimanannya. Dan adapun yang dimaksud dengan amalan keimanan disini adalah semua jenis amalan ibadah makhdoh  yang bentuk amalanya berupa pendekatan diri kepada Allah swt dan untuk tujuan membersihkan  hati atau mengasah diri. 

Yang tergolong dalam amalan jenis ini adalah shalat, dzikir, puasa, menuntut ilmu, membaca atau mentadabburi Al Quran serta amalan-amalan sebangsanya. Dan adapun beberapa manfaat  yang dapat diperoleh dari melakukan amalan - amalan ibadah tersebut diatas adalah,

1. Amalan jenis itu akan dapat melunakkan dan melembutkan hati manusia.

2. Dapat membersihkan semua kotoran yang bersarang didalam hati, yaitu karat-karat dosa yang pernah diperbuat manusia.

3. Dapat membuka semua lapisan-lapisan hijab, dalam hal ini adalah  hawa nafsu, dan utamanya adalah hijab nafsu bahimiyah [ nafsu jasad ] dan nafsu amarah [ nafsu yang bersumber dari jiwa ].

4. Dapat menjadikan hati manusia  menjadi bening bagai kaca, tajam melebihi mata pedang serta sensitif melebihi radar. Dalam kondisi itu  maka qolbu manusia akan menjadi lokus ilham. Karena ia akan bisa menangkap dengan mudah datangnya sinyal-sinyal kelangitan.  Mampu  menguraikan secara cermat, lugas dan jelas substansi isi dari petunjuk- petunjuk Ilham yang datang melintas didasar hatinya itu kepada orang lain. Kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apapun.

5. Manusia akan bisa mendapatkan kembali kesucian dan kemurnian hatinya, dalam hal ini diri sejati manusia akan dapat didudukan kembali pada martabat ruh [ martabat asal dari diri manusia  ]. Dan hati manusia  itu apabila sudah mampu duduk pada martabat ini [ ruh ] maka segala penyakit batinnya seperti dendam, hasad, iri, dengki, tamak dan serakah serta semua rasa kemelekatannya terhadap dunia akan hilang lenyap.

Itulah sejumlah manfaat yang bisa diraih dari beberapa amalan keimanan yang jenis-jenisnya sebagaimana diatas telah dijelaskan.


B. Dan adapun yang dimaksud sebagai " Amalan Saliha " sebagaimana yang tertera dalam ayat tersebut diatas  adalah semua jenis amalan atau ibadah yang dimensinya bersifat sosial atau yang bentuknya berupa ibadah muamalah seperti, mengeluarkan zakat, memberi makan kepada orang yang kelaparan, menjenguk orang yang sakit, menolong orang-orang yang sedang tertimpa musibah, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan amalan sebangsanya.  

c. Dengan demikian maka kedua hal sebagaimana yang tersebut diatas yaitu Amanu dan Amalu Saliha adalah jenis-jenis amalan yang wajib ditempuh oleh semua manusia yang menginginkan dirinya bisa kembali kepada kesucian dan kemurnian dirinya. Setelah sebelumnya manusia itu oleh Tuhan sengaja ditempatkan pada maqom atau kedudukan yang serendah- rendahnya atau  اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ  [ lihat QS. At-Tin ayat 5 ] sebagian ujian baginya.

d. Oleh karena itu orang-orang yang saat hidup didunia melulu disibukkan dengan amalan-amalan  ibadah makhdoh seperti shalat, dzikir, puasa, membaca quran, menuntut ilmu dan sebangsanya, dan dengan sengaja  mengabaikan ibadah sosial yang seharusnya menjadi kewajiban dirinya, maka dalam terminologi al Quran  [ lihat: QS. Al-A'raf ayat 46 - 49 ]  nanti diahirat orang-orang itu akan menjadi calon para penghuni 'Araf. 

Ciri utama dari calon penghuni 'Araf adalah mereka yang saat hidup didunia terlalu menyibukkan dirinya dengan amalan ibadah- ibadah makhdoh [ ibadah yang sifatnya ritual ] seperti shalat, dzikir, berpuasa, menuntut ilmu dan membaca alquran, tetapi melupakan kewajiban kemasyarakatannya. Yaitu pemenuhan hak - hak tetangga dan hak-hak  masyarakat yang ada disekitarnya. 

Perumpamaan mereka  itu adalah seperti  sebuah pohon yang meskipun dahan dan daun - daunnya rimbun tetapi tidak dapat menghasilkan buah sama sekali. Jadi manfaat pohon itu hanya sebatas sebagai peneduh, tidak memiliki manfaat lainnya. Maka sebagai manusia orang-orang ini nilai dan fungsinya dianggap tidak sempurna.

Dan begitu pula sebaliknya,  mereka yang hanya disibukkan dengan amalan-amalan kebajikan yang sifatnya sosial tetapi lupa mendasari amalannya itu dengan akar keimanan. Maka hakikat amalan mereka itu ibarat putik dari sebuah kembang yang jatuh berserakan dan lalu terbang kesana-kemari ditiup angin. Status amalan mereka seperti  sampah. Maka tidak akan dicatat dalam buku catatan amal, dan tidak akan mendapatkan stempel ketuhanan. 

Dengan demikian maka hakikat shalat, puasa, dzikir, baca quran dan menuntut ilmu [ semua jenis ibadah yang tujuannya untuk memperteguh dan menguatkan keimanan ] itu adalah ibarat pohon, sedangkan berbuat baik kepada manusia seperti mendermakan harta, waktu, tenaga, pikiran dan jiwa untuk kebajikan serta untuk  kemaslahatan orang banyak [ amala saliha ] itu adalah ibarat buah. Maka untuk kedua hal ini semua manusia haruslah dapat membangun dan mengerjakannya secara bersamaan dan dengan bersungguh-sungguh. Tipikal manusia yang seperti inilah yang sebenarnya sangat diharapkan, dan yang disebut sebagai khalifah [ manusia paripurna atau insanul kamil ]. Dan hanya manusia dari jenis inilah yang dalam terminologi al Quran surat At-Tin disebut akan dapat meraih kembali kehormatan dan kejayaan dirinya dan yang akan kembali " mendapatkan kedudukan yang sebaik - baiknya "  atau  فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ [ lihat QS. At-Tin ayat 4 ].


Sabtu, 27 Agustus 2022

Hakikatul Muhammadiyah Dan Al-Ittihad Dalam Pandangan Ibn Arabi

 

A. Hakikatul Muhammadiyah

Ketahuilah, semoga engkau diberi taufiq kepada segala yang dicintai dan diridhai Allah. Makhluk yang pertama yang diciptakan Allah adalah Ruh Muhammad s.a.w. Ia diciptakan daripada cahaya Jamal Allah. Sebagaimana firman Allah di dalam Hadits Qudsi: “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”. Nabi s.a.w. bersabda:

Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal.”

Ruh, cahaya, qalam, dan akal pada dasarnya adalah satu, yaitu hakikat Muhammad. Hakikat Muhammad disebut nur, karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi sebagaimana firman Allah:

Telah datang kepadamu cahaya dan kitab penerang dari Allah”.

Hakikat Muhammad disebut juga akal, karena ia yang menemukan segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut qalam, karena ia yang menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai pengalih ilmu di dalam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sesuai dengan sabda Rasul s.a.w.:

Aku dari Allah dan makhluk lain dari aku.”

Dan dari ruh Muhammad itulah Allah menciptakan semua ruh di alam Lahut dalam bentuk yang terbaik yang hakiki. Itulah nama seluruh manusia di alam Lahut. Alam Lahut adalah negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad maka Allah menciptakan Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.

Selanjutnya ruh-ruh diturunkan ke alam yang terendah, dimasukkan pada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Sebagaimana firman Allah: “Kemudian Ku turunkan manusia ke tempat yang terendah”. Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di alam Lahut, maka diturunkan ke alam Jabarut dan dibalut dengan cahaya Jabarut. Sebagai pakaian antara dua haram lapis kedua ini disebut ruh Sultani. Selanjutnya diturunkan lagi ke alam Malakut dan dibalut dengan cahaya Malakut yang disebut ruh Ruhani. Kemudian diturunkan lagi ke alam Mulki dan dibalut dengan cahaya Mulki. Lapis keempat ini disebut ruh Jismani.

Selanjutnya Allah menciptakan badan (jasad) dan Mulki (bumi), sebagaimana firman Allah:

Dari bumi Aku mencipta kamu. Kepada bumi Aku mengembalikanmu. Dan dari bumi pulalah Aku mengeluarkanmu.”

Setelah terwujud jasad, maka Allah memerintahkan ruh agar masuk ke dalam jasad dan ruh masuk ke dalam jasad, sebagaimana firman Allah: “Ku tiupkan ruh dari-Ku dalam jasad”.

Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang berada pada jaad, ruh lupa akan perjanjian awal di alam Lahut, yaitu hari perjanjian: “Alastu birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) Ruh menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami”. Karena ruh lupa pada perjanjian awal, maka ruh tidak dapat kembali ke dalam Lahut sebagai tempat awal. Dengan kasihnya Allah menolong mereka dengan menurunkan kitab-kitab samawi sebagai peringatan tentang negeri asal bagi mereka, sesuai dengan firman Allah: “Berikanlah peringatan pada mereka tentang hari-hari Allah”, yaitu hari pertemuan antara Allah dengan seluruh arwah di alam Lahut. Lain halnya dengan para nabi, mereka datang ke bumi, dan kembali ke akhirat badannya di bumi, sedangkan ruh intinya berada di negeri asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar dan kembali serta berkeinginan dan sampai ke alam asal.

Karena sedikitnya manusia yang mampu kembali ke alam asal, maka Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad Rasulullah. Penutup penunjuk jalan dari kesesatan ke alam terang. Ia diutus untuk mengingatkan mereka yang lupa dan membuka hatinya. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Jamal Allah yang azali, sesuai dengan firman Allah:

Katakanlah: ini adalah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah dengan pandangan yang jelas. Aku dan para pengikutku”.

Nabi bersabda:

Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikut yang mana pun kamu akan mendapat petunjuk”.

Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah dengan pandangan yang jelas, yang di dalam Al-Quran disebut basyirah. Basyirah ini adalah ruh asli yang terbuka pada mata hati bagi para aulia. Basyirah tidak akan terbuka hanya dengan ilmu zahir sahaja, tetapi untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni batin (ilmu yang langsung dari Allah). Sesuai dengan firman Allah: “Kepada dia Ku berikan ilmu yang langsung dari Aku.” Untuk menghasilkan basyirah manusia mengambilnya dari ahli basyirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang dapat menunjukkan dari alam Lahut.

Wahai saudaraku, sadarlah dan bergegaslah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu, sebagaimana firman Allah:

Bergegaslah kamu untuk mendapat ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Wahai saudaraku, masuklah pada tariq (jalan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhanmu bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, jalan hampir tertutup dan sulit mencari teman untuk kembali ke negeri asal (alam Lahut). Keberadaan kita di bumi yang hina dan yang akan hancur ini tidak hanya untuk berpangku dengan makan, minum dan memenuhi nafsu belaka.

Seorang ahli Sya’ir berkata: “Nabimu selalu menunggu, sangat khawatir memikirkanmu”. Sabda Nabi: “Aku mengkhawatirkan umatku yang ada di akhir zaman”.

Ada dua macam ilmu yang diturunkan kepada kita, yaitu:

Ilmu zahir, yakni syariat.

Ilmu batin, yakni ma’rifat.

Syariat untuk jasad kita dan ma’rifat untuk batin. Kedua-duanya harus dipadu dan dari perpaduannya membuahkan hakikat, seperti halnya pohon dan daun yang menghasilkan buah, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-rahman ayat 19-20:

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”.

Dengan ilmu zahir sahaja manusia tidak akan mencapai hakikat dan tidak akan sampai pada inti tujuan ibadah. Ibadah yang sempurna hanya dapat diwujudkan oleh perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin, sebagaimana firman Allah dalam surah Az-dzariyat ayat 56:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya menyembah-Ku [ ma’rifah kepada-KU ] ”.

Yang dimaksudkan dengan ibadah di sini ialah ma’rifat. Manusia tidak akan beribadah secara sempurna kepadanya tanpa ma’rifat yang sesungguhnya. Ma’rifat dapat berwujud setelah hilangnya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati dengan terus berupaya membersihkannya sehingga manusia dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam dan tertutup di dalam rasa di lubuk hati. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:

Aku adalah Kanzun Mahfiyya (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.

Maka jelaslah bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia ma’rifat kepada Allah. Ma’rifat itu ada dua macam, yaitu ma’rifat sifat Allah dan ma’rifat zat Allah. Ma’rifat sifat adalah tugas jasad di dunia dan akhirat (di alam Lahut, sejak manusia hidup di dunia), sebagaimana firman Allah:

Ku perkuat manusia dengan ruh Al-Qudsi” (Surat Al-Baqarah ayat 87).

Seluruh manusia dalam dirinya diperkuat oleh ruh Al-Qudsi. Ma’rifat sifat dan ma’rifat zat hanya dapat dicapai dengan perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin. Rasul bersabda:

Ilmu itu ada dua macam. Pertama: Ilmu lisan, sebagai hujjah Allah dan kepada hambanya. Kedua: Ilmu batin yang bersumber di lubuk hati, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah”.

Mula-mula manusia memerlukan ilmu syariat agar badannya mempunyai kegiatan dalam mencari ma’rifat pada ma’rifat sifat, yaitu darajat. Kemudian memerlukan ilmu batin agar ruhnya mempunyai kegiatan untuk mencapai ma’rifatnya pada ma’rifat zat. Untuk mencapai tujuan ini manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tariqat. Hal ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan keinginan nafsu walaupun terasa pahit dan melakukan kegiatan ruhaniyyah dengan tujuan mencapai ridha Allah serta bersih dari riya’ (ingin dipuji orang lain) dan sum’ah (mencari kemasyhuran). Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.

Yang dimaksudkan dengan alam ma’rifat adalah alam Lahut, yaitu negeri asal tempat diciptakan ruh Al-Qudsi dalam wujud terbaik. Yang dimaksudkan ruh Al-Qudsi ialah hakikat manusia yang disimpan di lubuk hati; keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan talqin dan mudawamah (mengamalkan dengan terus-menerus) kalimat “Laa Ilaha Illallah”. Pertama dengan lidah fisiknya, kemudian bila hatinya sudah hidup beralih dengan lidah hatinya. Ahli tasauf menamakan ruh Al-Qudsi dengan sebutan Tiflul Ma’ani (bayi ma’nawi) karena ia dari ma’nawiyah qudsiyyah. Pemberian nama tiflul ma’ani didasarkan kepada:

Ia lahir dari hati, seperti lahirnya bayi dari rahim seorang ibu dan ia diurus dan dibesarkan hingga dewasa.

Dalam mendidik anak-anak tentang keislaman, ilmu yang didahulukan adalah ilmu ma’rifat. Begitu pula bagi bayi ma’nawi ini.

Bayi bersih dari segala kotoran dosa lahiriyah. Begitu pula bayi ma’nawi, ia bersih dari syirik (menyekutukan Allah) dan ghaflah (lupa kepada Allah).

Perumpamaan bayi ma’nawi merupakan gambaran kesucian karena anak-anak lebih banyak yang suci daripada yang lainnya. Oleh karena itu bayi ma’nawi terlihat dalam mimpi dengan rupa yang indan dan tampan.

Ahli surga disifati dengan sifat anak-anak, sebagaimana firman Allah: “Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap mudanya” (Surah Waqi’ah: 17). Firman Allah: “Anak-anak muda melayani mereka, bagai mutiara yang terpendam” (Ath-Thur: 24).

Karena bayi ma’nawi itu halus dan suci.

Penggunaan nama tiflul ma’ani adalah majazi ditinjau dari kaitannya dengan badan, ia berwujud seperti rupa manusia, juga karena manisnya bukan karena kecilnya: dan dilihat dari awal adanya, ia adalah manusia hakiki karena dialah yang berhubungan langsung dengan Allah, sedangkan badan dan ruh jasmani bukan mahramnya bagi Dia berdasarkan Hadits Nabi s.a.w.: “Aku punya waktu khusus dengan Allah; malaikat terdekat, nabi dan rasul tidak akan dapat memilikinya”. Yang dimaksudkan dengan malaikat terdekat dalam hadits tadi adalah ruh ruhani yang diciptakan di alam Jabarut, seperti halnya malaikat dapat masuk ke alam Lahut. Sabda Nabi s.a.w.: “Allah memiliki surga yang tanpa bidadari dan istana serta tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat zat Allah”. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran: “Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri” (Al-Qiyamah: 22). Juga dijelaskan dalam Hadits Nabi s.a.w.: “Kamu sekalian akan melihat Tuhanmu, seperti kamu melihat sinar bulan purnama”. Bila malak jasmani, yakni segala sesuatu selain ruh Al-Qudsi masuk di alam Lahut, maka pasti akan terbakar.

 

B. Konsep Al- Ittihad atau Wihdatul Wujud 

Konsep Al- Ittihad atau Wihdatul Wujud adalah konsep yang dirumuskan oleh Ibnu Arabi, beliau mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya.

Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya.

Ibn Al-‘Arabi adalah pendiri faham Tauhid Wujudi bahkan ia merupakan panutan dalam pemikiran ini. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqoha. Pemikiran inilah yang menjadi landasan konsep pendidikannya bahkan semua pola pikirnya berporos pada pemahaman ini. Perlu digaris bawahi bahwa Ibn Arabi belum pernah menyebutkan istilah wahdatul wujud dalam kitabnya namun istilah ini dicetuskan oleh orientalis/ kafirin. Namun dari berbagai ajarannya bisa dikatakan bahwa pemahamannya adalah wahdatul wujud.

Dalam menjelaskan konsep wahdatul wujud Ibn Arabi mengungkapkan:

ketahuilah bahwa wujud ini satu namun Dia memiliki penampakan yang disebut dengan alam dan ketersembunyiannya yang dikenal dengan asma (nama-nama), dan memiliki pemisah yang disebut dengan barzakh yang menghimpun dan memisahkan antara batin dan lahir itulah yang dikenal dengan Insan Kamil”.

Ia juga menjelaskan:

Ketahuilah bahwa Tuhan segala Tuhan adalah Allah Swt. Sebagai Nama Yang Teragung dan sebagai ta’ayun (pernyataan) yang pertama. Ia merupakan sumber segala nama, dan tujuan terakhir dari segala tujuan, dan arah dari segala keinginan, serta mencakup segala tuntutan, kepadaNya lah isyarat yang difirmankan Allah kepada Rasul-Nya Saw -bahwa kepada Tuhanmulah tujuan terakhir- karena Muhammad adalah mazhar dari pernyataan pertama (ta’ayyun awwal), dan Tuhan yang khusus baginya adalah Ketuhanan Yang Teragung ini. Ketahuilah bahwa segala nama dari nama-nama Allah merupakan gambaran dalam ilmu Allah yang bernama dengan ‘mahiat’ atau ‘ain sabitah’ (esensi yang tetap). Setiap nama juga memiliki gambaran di luar yang diberi nama dengan mazahir (penampakan atau fenomena) dan segala nama tadi merupakan pengatur dari mazahir (fenomena-fenomena) ini. Sedang Haqiqat Muhammadiyah merupakan gambaran dari nama ‘Allah’ yang menghimpun segala nama ketuhanan yang darinya muncul limpahan atas segala yang ada dan Allah Swt sebagai Tuhannya. Haqiqat Muhammadiyah yang mengatur gambaran alam seluruhnya dengan Tuhan yang tampil padanya, disebut dengan Rab al-arbab (Allah Swt).”

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan Haqiqat Muhammadiyah di sini bukan hanya Nabi Muhammad sebagai manusianya namun Haqiqat Muhammadiayah adalah Asma dan Sifat Allah serta Akhlaqnya. Nabi muhammad disebut dengan Muhammad karena Beliau mampu berakhlaq dengan seluruh akhlaq ketuhanan tersebut.

 Selanjutnya Ibn Arabi juga mengatakan:

ketahuilah bahwa yang ada hanya sifat-sifat-Nya Allah, af’al-Nya maka semuanya adalah Dia, dengan-Nya, dari-Nya dan kepada-Nya. Kalaulah ia terhijab dari alam ini walaupun sekejap maka binasalah alam ini secara keselurhan, kekalnya alam ini dengan penjagaan-NYa dan penglihatan-Nya kepada alam. Akan tetapi jika sesuatu sangat tampak jelas dengan cahaya-Nya hingga pemahaman tidak mampu untuk mengetahuinya maka penampakan itulah yang disebut dengan hijab.”

Jadi asma dan sifat itulah yang disebut dengan Haqiqat Muhammadiyah, dan alam muncul dari hakikat tersebut. Oleh sebab itu Ibn Arabi mengungkapkan:

Alam pada hakikatnya adalah satu namun yang hilang dan muncul adalah gambarnya saja”.

Maksudnya hakikat alam tadi berasal dari Zat Yang Satu, yang pada dasarnya gambaran alam tadi hilang dan muncul, artinya alam itu pada hakikatnya tiada berupa gambar saja. Dalam hal ini ia menyatakan:

Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu Dialah segala sesuatu tadi.”

Artinya penampakannya tiada lain Dia juga, yang tampil dari-Nya adalah Dia juga.

Lebih jelasnya Syaikh Abd Ar-Rauf Singkil menjelaskan dalam sebuah karyanya:

wujud alam ini tidak benar-benar sendiri, melainkan terjadi melalui pancaran. Yang dimaksud dengan memancar di sini adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah Ta’ala. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Zat Allah, karena ia merupakan wujud yang baru, alam juga tidak benar-benar lain dari-Nya. Karena ia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri disamping Allah.”

 Jadi alam bukanlah sebenarnya Allah namun pancarann-Nya dengan kata lain hijabnya. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan William Chittik dalam salah satu karyanya mengenai Ibn Arabi: “Hanya satu wujud dan seluruh eksistensi tiada lain adalah pancaran dari Wujud Yang Satu.” Kesimpulannya yang tampak itulah makhluk cipatan-Nya sedang Zat-Nya tetaplah ghaib. Hal ini dijelaskan oleh Ibn Arabi sebagai berikut:

Allah nyata ditinjau dari penampakan-Nya pada cipatan-Nya dan batin dari segi Zat-nya.”

Untuk lebih jelasnya, Tajalliyat Allah pada lingkatan wujud adalah merupakan penampakan Allah berupa kesempurnaan dan keagungan yang abadi. Zat-Nya merupakan sumber pancaran yang tak pernah habis keindahan dan keagungan-Nya. Ia merupakan perbendaharaan yang tersembunyi yang ingin tampil dan dikenal. Allah sebagai keindahan ingin membuka perbendahataan tersembunyi tersebut dengan Tajalliyat (teofani) Haq tentunya yang merupakan penampakan-penampakan dari keagungan, keindahan dan kesempurnaan-Nya dalam pentas alam yang maha luas.

Ibn Arabi berkata: “Alam maujud atau mengada dengan-Nya”.

Tajalliyat al-Wujud dengan gambaran global dalam tiga hadirat: Hadirat Zat (Tajalliyat Wujudiya Zatiya) yaitu pernyataan dengan diri-Nya untuk diri-Nya dari diri-Nya. Dalam hal ini Ia terbebas dari segala gambaran dan penampakan. Ini dikenal dengan Ahadiyat. Pada keadaan ini tampak Zat Allah terbebas dari segala sifat, nama, kualitas, dan gambaran. Ia merupakan Zat Yang Suci yang dikenal dengan rahasia dari segala rahasia, gaib dari segala yang gaib, sebagaimana ia merupakan penampakan Zat, atau cermin yang terpantul darinya hakikat keberadaan yang mutlak. Tajalliyat Wujudiya Sifatiya yang merupakan pernyataan Allah dengan diri-Nya, untuk diri-Nya, pada penampakan kesempurnaan-Nya (asma) dan penampakan sifat-sifat=Nya yang azali. Keadaan ini dikenal dengan wahdah. Pada hal ini tampak hakikat keberadaan yang mutlak dalam hiasan kesempurnaan ini lah yang dikenal dedngan Haqiqat Muhammadiyah (kebenaran yang terpuji), setelah ia tersembunyi pada rahasia gaib yang mutlak dengan jalan faid al-aqdas (atau limpahan yang paling suci karena ia langsung dari Zat Allah). Dalam keadaan ini tampillah al-A’yan as-Sabitah (esensi-esensi yang tetap) atau ma’lumat Allah. Tajalliyat Wujudiyah Fi’liyah (af’aliyah) yaitu pernyataan Haq dengan diri-Nya untuk diri-Nya dalam fenomena esensi-esensi yang luar (A’yan Kharijah) atau hakikat-hakikat alam semesta. Keadaan ini dikenal dengan mutlaq dengan Zat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya dengan jalan limpahan yang suci (al-faid al-muqaddas). Allah pun tampak pada gambaran esensi-esensi luar (A’yan Kharijah), baik yang abstrak maupun yang kongkrit yang merupakan asal dari alam semesta seluruhnya.

 Allah Swt merupakan awal dari tajalliyat wujud segala fenomenanya dan dimensinya. Jadi Dia tidak berasal dari ketiadaan dan tidak berakhir kepada ketiadaan pula. Ia merupakan karya absolut yang berada pada lingkatan yang absolut, ia berasal dari yang Haq dengan Haq dan kepada yang Haq, baik dalam tahap Zat, Sifat dan Af’al. semuanya adalah penampakan dari hakikat yang satu.

Namun apakah berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam. Bisa dikatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam salah satu karyanya:

Dalam hal ini ada sebagian golongan sufi yang terpeleset jatuh dalam kekhilafan dari yang sebenarnya, mereka berkata tidak ada kecuali apa yang engkau lihat bahwa alam adalah Allah dan Allah adalah alam tiada lain. Sebabnya kesaksian ini terjadi karena mereka belum benar benar mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin. Kalau mereka mencapai apa yang dicapai oleh muhaqiqin maka meraka tidak akan berkata demikian dan menetapkan segala hakikat pada tempatnya dan mengetahuinya dengan ilmu dan penyingkapan.”

Disamping itu penyatuan antara manusia dan hamba adalah mustahil ataupun Allah bertempat adalah juga mustahil. Hal ini ia jelaskan dalam sebuah kitabnya:

Ittihad adalah mustahil karena dua zat menjadi satu, tidak akan mungkin bertemu antara hamba dan Tuhan pada satu wajah selamanya ditinjau dari Zat-Nya.”

Dari pernyataan ini jelas beliau tidak berpaham panteisme, jadi bagaimana menafsirkan wahdatulwujud tersebut? Sebagaimana yang diungkapkan sebelumnya bahwa Zat Allah adalah sumber segalanya. Jadi yang disebut eksistensi atau wujud adalah Zat tersebut. Sedangkan keadaan yang dikenal dngan Haqiqat Muhammadiyah (A’yan sabitah, wahdah, tajalliyat wjudiyah sifatiyah) merupakan penampakan atau bayangan dari Zat Yang Suci yang bernama Allah. Kemudian keadaan yang bernama Wahdaniyat (tajalliyat wujudiyah fi’liyah atau a’yan kharijiyah) adalah bayangan dari wahdah atau Haqiqat Muhammadiyah. Jadi seluruhnya bayangan dari Zat Yang Suci. Lebih jelasnya alam ini (a’yan kharijiyah) penampakan atau bayangan dari Asma Allah yang dikenal dengan Haqiqat Muhammdiyah ataupaun A’yan Sabitah. Sedangkan Asma adalah penampakan dari Zat Yang Maha Suci. Jadi bayangan adalah sesuatu yang pada hakikatnya tiada namun ia ada bergantung kepada Zat Allah, sebagaimana bayangan suatu benda.

Penjelasan diatas dikuatkan dengan perkataan Ibn Arabi dalam kitab Futuhat:

Jika Engkau nyatakan: “Tiada sesuatupun yang setara denganNya maka hilanglah bayangan sementara bayangan terbentang maka hendaklah engkau memperhatikan lebih teliti.”

 Dalam kitab Al-Jalalah beliau menjelaskan:

 Segala sesuatu memiliki bayangan dan bayangan Allah adalah Arasy. Akan tetapi bukanlah setiap bayangan terbentang. Arasy bagi Tuhan adalah bayangan yang tidak terbentang, apakah engkau tidak memperhatikan bahwa jisim yang memiliki bayangan apabila diliputi oleh cahaya maka bayangannya ada padanya.”

Bayangan yang dimaksud di sini adalah alam semesta. Manusia memiliki banyak bayangan jika dia disinari oleh beberapa cahaya yang datang dari berbagai arah, wajahnya akan muncul dalam berbagai cermin yang pada hakikatnya ia adalah satu namun dipatulkan oleh beragam cermin. Begitu pula Allah Esa dari segi Zat-Nya dan berbilang dari segi penampakan-Nya dalam gambaran serta bayangan-Nya dalam cahaya. Jadi jelas bahwa sebenarnya alam ini adalah bayangan yang hakikatnya tiada atau dikenal dengan batil. Ibn Arabi menjelaskan:

sebenar-benar ungkapan yang dikatakan oleh orang Arab bahwa; “segala sesuatu selain Allah adalah batil” karena siapa yang keberadannya tergantung kepada yang lain maka dia adalah tiada.”

Ia juga mengungkapkan dalam Risalah al-Wujudiyah:

Sesungguhnya engkau tidak pernah ada sama sekali dan bukan pula engkau ada dengan dirimu atau ada di dalam-Nya atau bersama-Nya dan bukan pula engkau binasa ataupun ada.”

Untuk menjelaskan perkataan ini ia mengutip perkataan Abu Said Al-Kharraj menyatakan: “Aku mengenal Allah dengan menghimpun segala dua hal yang bertentangan.” Artinya Dialah Yang Lahir dan Yang Batin tanpa keadaan yang lain. Dijelaskan juga dalam kitabnya Ar-risalah Al-Wujudiyah:

Dialah Yang Awal tanpa berawal, Yang Akhir tanpa berakhir, Yang Lahir tanpa jelas, Yang Batin tanpa tersembunyi.”

Hal ini jika difahami berarti bahwa manusia tidak memiliki keberadaan yang independen dalam arti kata keberadaannya pada hakikatnya adalah bayangan dari keadaan Allah. Karena pada hakikatnya manusia tiada yang ada Allah. Jadi manusia adalah penampakan, bayangan atau ayat Allah yang pada hakikata adalah tiada atau khayal. Karena suatu yang sifatnya khayal berjumpa dengan khayal seolah kelihatan nyata.

Dalam Fusus al-Hikam Ibn Arabi mengungkapkan:

Ketahuilah bahwa hadirat khayal merupakan hadirat yang menghimpun dan mencakup segala sesuatu dan yang bukan sesuatu.”

Jadi jelas bahwa alam ini adalah fana atau khayal dan yang kekal dan tampak adalah Zat-Nya Yang Suci dengan penampakan-penampakan yang indah dan agung yang mewujudkan kesempurnaan-Nya yang tiada batas.”

 Di lain bukunya Ibn Arabi mengungkapkan:

Tidak ada dalam wujud ini selain Allah, kita walupun ada (Maujudun) maka sesungguhnya keberadaan kita dengan-Nya, barang siap yang keberadaannya dengan selain Allah maka ia masuk dalam hukum ketiadaan.”

Maksudnya ialah bahwa Allah ada dengan sendiri-Nya dan tidak mengambil keberadaannya dari yagn lain. Sedangkan alam adalah ada karena Allah mengadakannya. Jadi alam adalah keberadaan yang mungkin ada yang pada hakikatnya tiada. Di sini kita harus membedakan antara wujud dan maujud. Wujud merupakan isim masdar yang berarti keadaan dan Maujud merupakan isim maf’ul berarti sesuatu yang mengada karena pengaruh lain . Bisa ditafsirkan bahwa Allah adalah keberadaan itu sendiri atau Zat Yang Maha Ada, sedang maujud adalah sesuatu yang menjadi ada disebabkan hal lain. Maujud merupakan ‘objek’ yang berarti sesuatu yang menerima pengaruh perbuatan yang lain. Jadi sesuatu yang menjadi ada karena adanya keberadaan yang lain bukanlah keberadaan yang sejati namun keberadannya bergantung kepada Wujud Yang Sejati. Keberadaannya disebut dengan khayal, artinya ia ada karena bergantung pada Wujud Sejati. Namun jia sesuatu tidak bergantung kepada Wujud Sejati tentu dia tiada, karena siapa yang akan memberikannya keberadaan? Jadi jelas yang dimaksud dengan Wahdat al-Wujud adalah bahwa wujud yang sejati adalah satu. Bukan berarti alam adalah Allah dan Allah adalah alam.

Dalam menerangkan wahdatul wujud Ibnu Arabi kadang mengutip kutipan berikut, sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Alif: Dalam segala sesuatu Dia memiliki ayat Menunjukkan kenyataan bahwa Dia adalah Satu.

Kesatuan wujud ini juga dapat difahami dari sebuah hadis yang sering dikutip Ibn Arabi dalam menerangkan masalah Wahdat al-Wujud yaitu: Kanallahu wala syai’a ma’ahu artinya ‘dahulu Allah tiada sesuatu apapun beserta-Nya’. Disempurnakan dengan perkataan wahuwal aana ‘ala makaana artinya ‘sekarang Ia sebagaimana keadaan-Nya dahulu’. Maksud dari kedua pernyataan ini tidak ada sesuatu apapun yang menyertai Allah selamanya dan segala-Nya pada sisi-Nya adalah tiada. ‘Tiada Tuhan selain Allah’ artinya segala sesuatu berupa alam yang gaib dan nyata adalah bayangan Allah yang pada hakikatnya tiada. Karena segala sesuatu yang tiada bisa dijadikan Tuhan oleh manusia dan yang pada hakikatnya yang ada hanya Zat Allah Yang Maha Suci yang bernama Allah.

Yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas ialah, alam bisa dikatakan Allah dan bisa juga tidak. Dilihat dari keterbatasan alam dan hakikatnya yang merupakan khayal semata maka alam bukanlah Allah. Namun jika dilihat bahwa alam tidak akan muncul dengan sendirinya dan mustahil ada wujud disamping Allah ataupun diatas-Nya atau dibawah-Nya atau ditengah-Nya atau didalam-Nya atau diluar-Nya maka alam adalah penampakan Allah. Penampakan itu tiada lain Allah jua adanya.

Dibalik itu semua dalam memahami hal ini bukanlah cukup dengan logika namun harus dibuktikan dengan penyaksian sebagaimana pernyataan Ibn Arabi:

Tauhid adalah penyaksian dan bukan pengetahuan, barang siapa menyaksikan maka ia telah bertauhid barang siapa hanya mengetahui ia belum bertauhid.”

Jadi beginilah yang dapat difahami dari Wahdat al-Wujud. Permasalahan Tanzih dan Tasybih akan lebih menjelaskan konsep Wahdat Wujud.

 Semoga Penyajian Artikel ini bermanfaat dan bisa membawa anda mengenal lebih dekat lagi pemikiran - pemikiran besar dan gagasan orsinil Syaikhul  Akbar Muhyiddin Ibn Arabi.