By. Mang Anas
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan semakin eratnya hubungan antara sebagian arus Evangelik konservatif di Amerika Serikat dengan proyek politik negara Israel modern. Dukungan tersebut tidak lagi sekadar berbentuk solidaritas diplomatik biasa, melainkan telah berkembang menjadi konstruksi teologis yang memengaruhi arah geopolitik global.
Tokoh-tokoh seperti Paula White-Cain maupun sejumlah pengkhotbah dalam tradisi Christian Zionism sering menggunakan retorika :
> “memberkati Israel adalah kewajiban iman,”
dengan merujuk terutama pada Kitab Kejadian 12:3 :
> “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.” {Genesis 12 : 3}
Dalam konstruksi teologi politik ini, dukungan terhadap Israel modern diposisikan hampir sebagai syarat moral absolut bagi bangsa-bangsa Barat, khususnya Amerika.
Namun ketika teks-teks Biblikal tersebut dibaca secara lebih utuh dan historis, mulai tampak adanya retakan hermeneutika yang serius. Problem utamanya bukan sekadar perbedaan tafsir biasa, melainkan kecenderungan melakukan eisegesis :
> memasukkan agenda politik modern ke dalam teks suci, alih-alih membiarkan teks berbicara melalui konteks dan struktur maknanya sendiri.
---
“Gerrymandering” Teologis
Memilih Janji, Mengabaikan Keseluruhan Narasi
Salah satu ciri paling menonjol dari politik apokaliptik modern adalah pembacaan yang sangat selektif terhadap narasi Abrahamik.
Ayat-ayat tertentu diangkat secara absolut, sementara bagian lain yang mengganggu konstruksi politik tersebut cenderung diabaikan.
Fenomena ini dapat disebut sebagai :
> gerrymandering teologis,
yakni praktik “menggambar ulang batas tafsir” demi menghasilkan legitimasi ideologis tertentu.
Kelompok Christian Zionist modern sering memperlakukan bangsa Israel modern sebagai pewaris tunggal dan mutlak janji Abraham. Dalam konstruksi ini, bangsa Arab—khususnya keturunan Ismael—kerap ditempatkan sebagai pihak luar, bahkan kadang diasosiasikan dengan musuh eskatologis.
Namun posisi ini menghadapi persoalan serius ketika berhadapan dengan teks Biblikal itu sendiri.
Dalam Kitab Kejadian 17:20, Tuhan justru menyampaikan janji eksplisit kepada Ismael :
> “Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan engkau; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” {Genesis 17:20}
Ayat ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Ismael tidak pernah dikeluarkan dari cakupan rahmat dan rencana sejarah Tuhan.
Dengan demikian, ketika sebagian teologi politik modern memperlakukan bangsa Arab sebagai “penghalang nubuatan,” muncul pertanyaan logis:
> atas dasar apa keturunan Ismael diposisikan sebagai pihak yang secara spiritual harus disingkirkan, padahal teks Biblikal sendiri menyebut mereka sebagai bangsa yang diberkati ?
Di sinilah terlihat bahwa konflik modern sering kali bukan lahir murni dari teks suci, melainkan dari pembacaan ideologis atas teks tersebut.
---
Dispensasionalisme dan Politik Akhir Zaman
Penting dipahami bahwa hubungan antara : negara Israel modern, Armageddon, dan kewajiban mendukung Zionisme politik, bukanlah doktrin tunggal yang diwarisi secara utuh sejak masa gereja awal.
Sebagian besar konstruksi tersebut berkembang kuat melalui arus dispensasionalisme abad ke-19, terutama melalui pemikiran John Nelson Darby dan kemudian dipopulerkan oleh Scofield Reference Bible.
Dalam kerangka ini, sejarah dibagi ke dalam fase-fase ilahi, Israel etnis dipisahkan secara tegas dari gereja, dan berdirinya negara Israel modern dipandang sebagai penggenapan literal nubuat akhir zaman.
Masalahnya, ketika tafsir eskatologi dilekatkan terlalu erat dengan proyek geopolitik modern, maka agama berisiko berubah menjadi :
> instrumen legitimasi konflik.
Nubuat tidak lagi berfungsi sebagai panggilan moral, peringatan spiritual, atau pencarian keadilan, melainkan sebagai naskah ideologis untuk membenarkan aliansi politik tertentu.
---
Tamsil yang Dibungkam
Mengapa Matius 21 : 43 Sangat Krusial
Jika Kitab Kejadian 12 : 3 dijadikan fondasi utama teologi Zionisme Kristen modern, maka Injil Matius 21 : 43 justru menjadi ayat yang paling problematik bagi konstruksi tersebut.
Dalam tamsil kebun anggur, Isa Al-Masih menyatakan :
> “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil darimu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” {Matthew 21: 43}
Ayat ini mengubah paradigma secara radikal. Status sebagai “umat pilihan” ternyata bukan hak statis berbasis : etnis, darah, atau garis keturunan.
Melainkan amanah yang bergantung pada :
> kemampuan menghasilkan buah.
Konsep “buah” di sini membawa implikasi moral yang sangat besar : keadilan, amanah, welas asih, perlindungan terhadap manusia, dan kesetiaan terhadap nilai ketuhanan.
Dengan demikian, “Kerajaan Tuhan” dalam logika ayat ini bersifat dinamis. Ia dapat : diberikan, dicabut, lalu dipindahkan kepada komunitas lain.
Dan justru karena prinsip inilah, Matius 21:43 menjadi ayat yang sangat sulit diserap oleh teologi politik yang menghendaki legitimasi absolut tanpa syarat.
---
Dari “Bangsa Pilihan” menuju “Peradaban yang Menghasilkan Buah”
Pembacaan seperti ini membawa konsekuensi besar terhadap cara memahami sejarah dunia.
Jika prinsip “buah” dijadikan ukuran, maka tidak ada satu bangsa pun yang memiliki mandat abadi secara otomatis.
Semua peradaban dapat bangkit, jatuh, atau kehilangan legitimasi sejarahnya. Termasuk Romawi, dunia Islam, Eropa, bahkan Amerika modern.
Dengan demikian, sejarah tidak lagi dibaca sebagai :
> konflik ras pilihan versus ras terkutuk,
melainkan:
> siklus amanah peradaban berdasarkan kualitas moral dan spiritualnya.
---
Kesimpulan
Ketika Nubuat Berubah Menjadi Ideologi Kekuasaan
Kesalahan paling mendasar dari politik apokaliptik modern adalah memperlakukan kitab suci sebagai : instrumen legitimasi geopolitik.
Akibatnya :
teks dipotong, simbol dipersempit, dan nubuat direduksi menjadi skenario konflik. Padahal fungsi utama wahyu bukan untuk membenarkan dominasi, melainkan : membimbing manusia menuju keadilan, menjaga amanah, dan mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa buah akan kehilangan legitimasi spiritualnya.
Ketika sebuah teologi harus :
>mengabaikan berkah Tuhan kepada Ismael,
>membungkam prinsip amanah dalam Matius 21:43,
>dan menutup mata terhadap keadilan universal,
>maka yang sedang dipertahankan bukan lagi kemurnian wahyu, melainkan : kepentingan sejarah manusia yang dibungkus bahasa suci.
Dan mungkin di situlah letak retakan terdalam hermeneutika politik apokaliptik modern: ketika kitab suci tidak lagi dibaca untuk mencari kebenaran, tetapi untuk mempertahankan posisi kekuasaan tertentu di panggung dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar