Halaman

Jumat, 07 November 2025

Menyingkap Luka Sejarah Islam : Dari Konflik Klan Quraisy ke Pertikaian Sunni–Syiah

By. Mang Anas 

Pendahuluan : Keberanian Menatap Luka

Di balik kemuliaan sejarah Islam yang sering dikisahkan dalam balutan kesempurnaan, tersembunyi luka yang jarang diakui: konflik berdarah di antara para sahabat Nabi sendiri, yang menelan puluhan ribu nyawa sesama Muslim.

Sikap umum kelompok yang menamakan diri Ahlus Sunnah wal Jama‘ah sering kali berusaha menutup luka itu dengan dalih ukhuwah dan ta’dzim terhadap sahabat. Namun, penyembunyian ini justru membuat umat kehilangan kesempatan untuk memahami akar sejarah mereka sendiri.

Padahal, dalam kacamata wahyu, kejujuran adalah bentuk tertinggi dari iman : “Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, walaupun terhadap diri sendiri” (QS. An-Nisa: 135).

Sejarah tidak akan pernah menjadi guru jika ia terus disamarkan. Dan umat tidak akan dewasa jika ia terus hidup di bawah bayang-bayang mitos kesempurnaan masa silam.

1. Latar Sosial : Mekkah, Kota Klan dan Kekuasaan

Sebelum kenabian, Mekah adalah kota dagang dengan sistem sosial yang bertumpu pada klan-klan aristokrat Quraisy.

Di antaranya :

Bani Umayyah — para pedagang dan bangsawan kuat, dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb.

Bani Makhzum — dikenal sebagai prajurit dan penegak hukum.

Bani Hasyim — klan yang memegang kehormatan moral dan tugas pelayanan Ka‘bah, tetapi kurang dominan secara ekonomi dan militer.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ lahir dari Bani Hasyim dan membawa risalah tauhid, sesungguhnya yang terguncang bukan hanya keyakinan paganisme Quraisy, tetapi struktur kekuasaan dan ekonomi mereka. Dakwah Nabi mengguncang tatanan sosial yang telah mapan selama berabad-abad. Maka perlawanan para bangsawan Quraisy bukan semata karena soal aqidah, tapi karena rasa terancam oleh perubahan tatanan sosial dan politik.

2. Abu Sufyan dan “Islam Politik”

Abu Sufyan adalah lambang aristokrasi Quraisy yang paling keras menentang Nabi. Ia memimpin perang Uhud dan Khandaq, menjadi arsitek utama perlawanan terhadap Islam. Namun setelah kekalahan besar dalam Fath Makkah, ia tidak punya pilihan selain menyerah kepada realitas baru : kekuasaan Nabi.

Nabi tidak membalas dendam, bahkan memberikan amnesti total kepada Abu Sufyan dan kaumnya. Inilah rahmat kenabian yang tak tertandingi : “Pergilah, kalian semua bebas.

Tetapi Rasul juga tahu bahwa Islam Abu Sufyan dan kelompok Umayyah bukanlah Islam yang telah berakar dalam hati.

Hal itu tampak jelas dalam peristiwa Perang Hunain, ketika Nabi memberikan rampasan perang dalam jumlah besar kepada Abu Sufyan, Mu‘awiyah, dan tokoh-tokoh Quraisy lainnya — bukan karena jasa, melainkan “untuk melunakkan hati mereka” (ta’līf al-qulūb).

Artinya, Islam mereka masih di tepi, masih politis, masih berurusan dengan status dan keuntungan. Nabi ingin menarik mereka agar masuk lebih dalam — dari Islam formal menuju Islam batin. Tapi sejarah membuktikan, tidak semua perjalanan itu berhasil.

3. Bara yang Tertahan

Selama Nabi hidup, karisma ruhani beliau menjadi daya gravitasi yang menahan percikan konflik.

Namun bara tribal itu tak pernah padam. Ia hanya tertahan oleh wibawa kerasulan.

Begitu Rasulullah wafat, sumbu lama kembali menyala.

Ketegangan antara idealisme wahyu dan struktur sosial lama muncul kembali dalam bentuk perselisihan tentang siapa yang paling berhak memimpin umat.

Bagi sebagian kaum Anshar dan Bani Hasyim, Ali bin Abi Thalib adalah pewaris spiritual dan moral Rasulullah — simbol kelanjutan nur kenabian.

Namun bagi banyak Quraisy, terutama mereka dari klan non-Hasyim, kepemimpinan adalah urusan politik, bukan kenabian; cukup dengan musyawarah (syura) dan stabilitas sosial.

Inilah pertarungan paradigma pertama dalam sejarah Islam : antara politik wahyu (berbasis kelayakan ruhani) dan politik tribal (berbasis kekuasaan dan stabilitas).

4. Dari Abu Sufyan ke Mu‘awiyah : Kembalinya Kekuasaan Umayyah

Setelah era Abu Bakar dan Umar yang relatif bersih dari nepotisme, kepemimpinan Utsman bin Affan — juga dari Bani Umayyah — membuka jalan bagi kebangkitan kembali kekuasaan keluarga besar Abu Sufyan.

Banyak jabatan penting diisi oleh kerabat Umayyah; harta negara mengalir ke mereka; dan sistem sosial lama Quraisy mulai bersemi kembali di tubuh pemerintahan Islam.

Setelah Utsman wafat dan Ali menjadi khalifah, konflik tak terhindarkan. Mu‘awiyah — anak Abu Sufyan — menolak tunduk pada Ali atas dasar “pembalasan darah Utsman”, tetapi sesungguhnya di balik itu ada rasa dendam lama antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim yang belum sepenuhnya padam.

Perang Shiffin menjadi simbol dari meledaknya bara yang selama ini tersembunyi : perang antara dua klan Quraisy, dengan baju agama Islam.

5. Dari Luka Sejarah ke Polarisasi Teologis

Setelah perang Shiffin, umat terbelah dua :

Kelompok pendukung Ali (Syiah) yang meyakini kepemimpinan spiritual harus diwariskan kepada Ahlul Bait, karena mereka pewaris nur kenabian.

Kelompok pendukung Mu‘awiyah (Sunni) yang menganggap kekuasaan politik sah selama menjaga stabilitas umat, meski penguasanya tidak suci.

Dari dua arus inilah lahir dua teologi besar Islam yang bertahan hingga kini.

Namun jika kita menelusurinya dengan jujur, perpecahan ini berakar bukan pada perbedaan iman, melainkan warisan konflik sosial-politik Quraisy yang belum tuntas diislamkan.

6. Menyembuhkan Luka dengan Kejujuran

Islam sejati tidak menuntut umatnya menutup-nutupi sejarah, tetapi menatapnya dengan jernih agar bisa mengambil ibrah.

Kita tidak perlu menghakimi siapa yang kafir atau munafik, tapi kita harus berani mengakui dimana nilai-nilai wahyu dikalahkan oleh nafsu dunia.

Selama umat masih menutup-nutupi kenyataan sejarah dengan slogan “semua sahabat adil”, umat ini tidak akan dewasa secara spiritual.

Menatap sejarah bukan untuk membuka luka, tapi untuk membersihkannya dari nanah kepalsuan.

Dari situlah kita bisa memahami bahwa konflik Ali dan Mu‘awiyah bukan tragedi politik semata, melainkan refleksi dari pergulatan batin umat antara iman dan kepentingan, antara nur kenabian dan bayang-bayang tribal masa lalu.

Penutup : Dari Luka ke Ibrah

Jika umat Islam ingin benar-benar bersatu, bukan persatuan semu yang menutup-nutupi luka, maka kejujuran sejarah adalah titik tolaknya.

Umat ini harus berani berkata: “Ya, kami pernah terpecah karena nafsu kekuasaan; kami pernah menumpahkan darah sesama; tapi kami belajar bahwa kebenaran tidak diwariskan oleh darah Quraisy, melainkan oleh nur Ilahi.”

Mungkin inilah makna terdalam dari sabda Nabi ﷺ :

> “Aku tinggalkan kepada kalian dua hal : Kitab Allah dan keluargaku (Ahlul Baitku). Jika kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat.”

Hadits ini bukan sekadar wasiat, tetapi peringatan sejarah — bahwa selama umat tidak menjadikan wahyu dan nur Ahlul Bait sebagai penuntun moral, maka politik akan terus mengalahkan iman.

Bagian II — Dari Luka ke Warisan : Dampak Teologis dan Geopolitik Konflik Awal Islam

Berikut Bagian II dari risalah reflektif ini — kali ini berfokus pada dampak teologis, sosial, dan geopolitik dari konflik pasca wafatnya Rasulullah ﷺ.

Bagian ini mengurai bagaimana bara klan Quraisy yang belum selesai berubah menjadi sistem teologi, ideologi, bahkan imperium, yang membentuk wajah Islam hingga masa kini.

1. Dari Politik ke Teologi : Lahirnya Dua Arah Keislaman

Ketika kekuasaan Islam berpindah dari Ali kepada Mu‘awiyah, umat bukan hanya kehilangan seorang khalifah, tetapi juga arah moral dari politik Islam itu sendiri.

Ali adalah simbol idealisme kenabian: politik sebagai amanah spiritual.

Mu‘awiyah adalah simbol realisme duniawi: politik sebagai instrumen kekuasaan.

Pertarungan dua prinsip ini kemudian melahirkan dua arus besar yang membentuk seluruh sejarah teologi Islam:

1. Arus Moral–Spiritual (Syiah)

Meyakini bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah atau kekuasaan, melainkan oleh wilayah (otoritas ruhani) Ahlul Bait.

Kepemimpinan adalah kelanjutan dari kenabian secara batin (imamah).

Agama harus membimbing politik, bukan sebaliknya.

2. Arus Institusional–Politis (Sunni)

Meyakini bahwa kebenaran harus dijaga melalui kesatuan sosial dan legitimasi kekuasaan (ijma‘, bai‘ah, dan syura).

Kepemimpinan bersifat administratif, bukan sakral.

Politik boleh pragmatis selama menjaga stabilitas umat.

Dua paradigma ini sejatinya sama-sama memiliki niat baik, tetapi tumbuh dari luka sejarah yang berbeda.

Syiah lahir dari luka kehilangan legitimasi spiritual, sementara Sunni lahir dari ketakutan akan disintegrasi sosial.

Dan dari sini, sejarah Islam selanjutnya berjalan di atas dua jalur paralel yang sering berseberangan arah : ideal moral vs. realitas politik.

2. Teologi yang Mengabdi pada Kekuasaan

Ketika Mu‘awiyah mendirikan Dinasti Umayyah, ia tidak hanya membangun sistem pemerintahan, tetapi juga membangun narasi teologis untuk melindungi kekuasaan.

Hadits-hadits yang menyanjung para penguasa, ajaran untuk taat mutlak kepada pemimpin meskipun zalim, dan doktrin “semua sahabat adil” lahir dalam atmosfer ini.

Khilafah berubah menjadi monarki turun-temurun, dan untuk pertama kalinya Islam memiliki negara yang memanfaatkan agama sebagai alat legitimasi politik.

Dari sinilah muncul fenomena baru: agama yang mengabdi pada kekuasaan, bukan kekuasaan yang tunduk pada agama.

Dalam konteks ini, posisi Ali dan Ahlul Bait dipinggirkan secara sistematis.

Nama mereka dihapus dari khutbah, pengikut mereka diburu, dan sejarah mereka direvisi.

Maka Syiah — yang semula hanya ekspresi cinta terhadap keluarga Nabi — berubah menjadi gerakan spiritual-protestan yang menolak penyelewengan moral atas nama agama.

3. Dampak Sosial : Pola Kekuasaan dan Mentalitas Umat

Konflik politik yang dibungkus agama ini menanamkan mentalitas paradoks ke dalam tubuh umat Islam :

Di satu sisi, mereka diajarkan untuk mencintai Nabi dan keluarganya.

Di sisi lain, mereka diajarkan untuk menghormati semua sahabat tanpa kritik, termasuk mereka yang memerangi keluarga Nabi.

Paradoks ini menciptakan schizofrenia spiritual : umat kehilangan arah moral yang jernih, tidak tahu mana yang harus diikuti — nur kenabian atau legitimasi kekuasaan.

Akibatnya, budaya “taat tanpa berpikir” tumbuh, sementara tradisi ijtihad moral merosot.

Islam menjadi peradaban yang kuat secara hukum, tapi lemah secara ruhani.

Muncul ulama-ulama yang lebih takut pada penguasa daripada pada Tuhan, karena sistem teologi Sunni–Umayyah menekankan stabilitas di atas kebenaran.

4. Dari Damaskus ke Baghdad : Pecahnya Wajah Islam

Setelah Umayyah runtuh, Dinasti Abbasiyah mengambil alih kekuasaan dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap Ahlul Bait.

Namun setelah berkuasa, mereka pun mengulangi kesalahan yang sama : menjadikan agama sebagai instrumen politik.

Para ulama dijadikan alat legitimasi, dan konflik Sunni–Syiah dilestarikan untuk kepentingan kekuasaan.

Secara geopolitik, perpecahan ini memunculkan dua sumbu besar dunia Islam :

• Sumbu Arab–Sunni, yang berpusat di Hijaz, Suriah, dan kemudian Mesir.

• Sumbu Persia–Syiah, yang berakar di Iran, Irak, dan sebagian Asia Tengah.

Persaingan ini tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia bergeser bentuk, dari perang saudara awal Islam menjadi persaingan peradaban dan identitas, yang bahkan masih terasa hingga abad ke-21.

5. Luka yang Menjadi Warisan

Luka sejarah Islam tidak pernah disembuhkan; ia diwariskan.

Ketika umat berhenti membedah sejarah secara jujur, luka itu berubah menjadi dogma.

Syiah menutup diri dalam romantisme kesyahidan Husain; Sunni menutup diri dalam glorifikasi sahabat dan penguasa.

Keduanya sering kehilangan ruang dialog, karena masing-masing menganggap dirinya pewaris “Islam yang sah”.

Padahal, jika ditelusuri secara jernih, kedua sisi itu sejatinya memiliki separuh wajah Islam yang sama-sama sahih :

> Syiah menjaga nur kesadaran moral kenabian — semangat untuk melawan penyelewengan atas nama agama.

> Sunni menjaga tulang punggung sosial umat — struktur hukum dan tata negara Islam yang mampu bertahan.

Tapi tanpa sintesis di antara keduanya, umat terus terbelah antara moralitas dan kekuasaan, antara ruh dan jasad.

6. Refleksi : Islam yang Hilang di Tengah Dua Kutub

Yang paling tragis dari semua ini adalah hilangnya wajah ketiga — wajah yang dulu hidup di diri Nabi ﷺ — yakni Islam Ruhama’, Islam kasih sayang dan kebijaksanaan, yang tidak berpihak pada klan, tetapi pada kebenaran dan nur ilahi.

Ketika ruh kasih itu hilang, Islam hanya tinggal dua bentuk :

1. Islam formalistik yang kaku, terjebak dalam hukum dan loyalitas buta.

2. Islam emosional yang romantik, tenggelam dalam nostalgia kesyahidan.

Padahal, sejarah Islam seharusnya dibaca bukan untuk mencari siapa benar dan siapa salah, tetapi untuk menemukan kembali napas kenabian yang telah hilang di tengah debu konflik manusia.

Nabi tidak datang untuk membentuk klan baru, tetapi untuk melenyapkan logika klan dari hati manusia.

Namun setelah beliau wafat, manusia kembali membangun klan di atas nama beliau — dan di situlah letak ironi terbesar sejarah Islam.

7. Penutup : Dari Luka Menuju Penyembuhan

Membaca sejarah dengan jujur bukan tindakan kufur terhadap sahabat, tetapi bentuk kesetiaan tertinggi kepada Nabi.

Sebab Nabi datang bukan untuk disucikan, tetapi untuk dibenarkan dalam nur kebenaran yang hidup.

Menutup-nutupi luka sejarah berarti membiarkan luka itu terus bernanah dalam tubuh umat.

Membuka dan membersihkannya — dengan akal, ilmu, dan kasih — adalah satu-satunya jalan menuju penyembuhan kolektif.

Hari ini, jika umat Islam ingin bangkit, ia harus berani berkata dengan rendah hati : 

> “ Kami mencintai seluruh sahabat, tapi kami juga mengakui bahwa mereka manusia yang bisa salah. Kami menghormati sejarah, tapi kami tidak akan memutlakkan masa lalu. Kami mencari kembali nur Nabi yang murni, bukan demi membela sekte, tapi demi menghidupkan kasih dan kebenaran.”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar