Halaman

Selasa, 04 November 2025

Evolusi Wahyu dari Loh Batu ke Al-Fatihah

By Mang Anas 


[ Sebuah Kajian Teologis tentang Struktur Rahman–Rahim dalam Sejarah Kenabian ]

Abstrak

Tulisan ini membahas evolusi teologis wahyu Ilahi dari masa Nabi Musa a.s. hingga Nabi Muhammad ﷺ dengan menyoroti pergeseran paradigma dari hukum ke kasih, dari yang dohir ke yang batin, serta penyatuan keduanya dalam Islam. Dengan pendekatan teologis-komparatif, tulisan ini menafsirkan Taurat sebagai manifestasi sifat Ar-Rahman (keagungan dan ketertiban), Injil sebagai manifestasi sifat Ar-Rahim (kelembutan dan kasih), dan Al-Qur’an sebagai sintesis sekaligus puncak kesatuan keduanya. Surat Al-Fatihah dipandang sebagai format spiritual dan teologis dari evolusi wahyu tersebut, di mana seluruh aspek Taurat dan Injil tersublimasi dalam struktur Basmallah.

1. Pendahuluan

Sejarah kenabian dalam tradisi samawi memperlihatkan kesinambungan wahyu yang tidak bersifat statis, melainkan evolutif.

Wahyu dalam Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an menampilkan corak dan fungsi yang berbeda, sesuai dengan tingkat kesiapan spiritual manusia pada zamannya.

Hal ini sejalan dengan prinsip Qur’ani :

> "Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya agar ia menjelaskan kepada mereka." (QS. Ibrahim [14]: 4)

Dengan demikian, perbedaan corak kitab suci bukan pertentangan, melainkan tahapan dalam proses tanzîl — turunnya kebenaran dalam dimensi kesadaran manusia.

Wahyu bertumbuh sebagaimana manusia bertumbuh: dari struktur hukum menuju struktur kasih, dari rasionalitas menuju kesadaran ruhani.

2. Taurat : Manifestasi Ar-Rahman dan Paradigma Hukum

Taurat merupakan kitab yang paling menekankan aspek syariat dan tatanan sosial.

Sepuluh Perintah Allah (Ten Commandments) yang tertulis di atas alwah (loh batu) adalah bentuk konkret dari prinsip Ar-Rahman — kekuatan Ilahi yang melindungi dan mengatur kehidupan.

Kata Ar-Rahman dalam Islam menunjukkan kemurahan Allah yang universal, meliputi seluruh ciptaan tanpa memandang iman dan moralitasnya.

Dalam konteks Taurat, rahmaniyyah termanifestasi dalam bentuk ketertiban dan disiplin moral, sebab kasih universal pada tahap awal hanya bisa diungkap melalui batasan yang jelas.

Oleh karena itu, wahyu Musa menampakkan diri sebagai wahyu hukum, bukan wahyu kasih.

Namun secara ontologis, hukum itu sendiri adalah bentuk awal dari kasih Ilahi : kasih yang mengatur agar manusia tidak binasa oleh kebebasannya sendiri.

3. Zabur dan Transisi dari Hukum ke Rasa

Zabur yang diwahyukan kepada Nabi Daud a.s. merupakan bentuk evolutif dari Taurat.

Jika Taurat adalah kata yang tertulis di batu, maka Zabur adalah kata yang dinyanyikan dari hati.

Zabur memperkenalkan dimensi rasa, keindahan, dan musikalitas dalam ibadah — suatu pergeseran dari keadilan ke kesyukuran, dari ketaatan ke perenungan.

Dalam teologi Islam, tahap ini dapat dikaitkan dengan munculnya kesadaran batiniah dalam beragama, yaitu peralihan dari syariat lahir menuju dzikir dan syukur sebagai ekspresi spiritual.

Dengan demikian, Zabur berfungsi sebagai jembatan antara hukum Taurat dan kasih Injil.

4. Injil : Manifestasi Ar-Rahim dan Paradigma Kasih

Injil yang dibawa oleh Isa Al-Masih menandai fase batiniah wahyu, di mana aspek kasih dan pengampunan mendominasi.

Isa Al-Masih adalah tajalli dari sifat Ar-Rahim — kasih yang selektif, yang ditujukan kepada mereka yang membuka hati kepada kebenaran.

Jika Taurat menekankan keadilan, maka Injil menekankan pengampunan; jika Musa menegakkan hukum, maka Isa menghidupkan rahmat.

Dalam Injil, hukum tidak dihapus, tetapi disublimasi menjadi kasih :

> “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)

Makna “menggenapi” di sini bukan menambah aturan, tetapi menghidupkan rohnya — yakni mengembalikan hukum kepada maksud asalnya : kasih.

Dengan demikian, Injil bukan antitesis Taurat, melainkan tahap pematangan batinnya.

5. Yahya dan Isa : Polarisasi Rahman dan Rahim

Kelahiran Yahya bin Zakaria dan Isa bin Maryam merupakan fenomena teologis yang saling melengkapi.

Yahya lahir dari rahim perempuan mandul — simbol dari benih maskulin yang dihidupkan kembali;

Isa lahir dari rahim perawan — simbol dari kesucian feminin yang disinari langsung oleh Ruh Ilahi.

Dalam terminologi sufi, Yahya adalah cerminan Ar-Rahman (maskulinitas ketertiban), sedangkan Isa adalah cerminan Ar-Rahim (feminitas kelembutan).

Keduanya menandai dualitas kosmis yang kelak akan disatukan secara sempurna dalam diri Muhammad ﷺ.

6. Al-Qur’an : Penyatuan Rahman dan Rahim

Al-Qur’an hadir bukan hanya sebagai penyempurna kitab sebelumnya, tetapi juga sebagai penyatu seluruh struktur teologis wahyu.

Kalimat pembuka Bismillahirrahmanirrahim mengandung integrasi dua sifat utama Allah yang telah bekerja terpisah dalam sejarah kenabian : Rahman (Taurat) dan Rahim (Injil).

Surat Al-Fatihah sebagai Ummul Kitab adalah miniatur dari keseluruhan sistem wahyu itu.

Ia memuat :

> Struktur dohir (syariat) yang mencerminkan aspek Rahman : Ar-Rahman → Malik → Iyyaka na’budu → Ihdinas shirathal mustaqim → Ghairil maghdhubi ‘alaihim.

Ini adalah gerak dari hukum ke ibadah, dari ketaatan ke ketertiban.

> Struktur batin (hakikat) yang mencerminkan aspek Rahim : Ar-Rahim → Malik → wa iyyaka nasta’in → shirathal ladzina an’amta ‘alaihim → waladdhollin.

Ini adalah gerak dari kasih ke pertolongan, dari pengampunan ke pencerahan ruhani.

Keduanya bertemu di poros ayat :

> “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.”

yang menjadi poros kesadaran tauhid amali : memadukan perbuatan dan permohonan, daya dan doa, hukum dan cinta.

7. Sintesis Teologis : Dari Taurat - Injil ke Al-Fatihah

a. Aspek Sifat Ilahi 

Taurat  : Ar-Rahman

Injil  : Ar-Rahim 

Al-Qur’an : Keduanya bersatu

b. Aspek Watak Wahyu

Taurat : Hukum, Disiplin

Injil : Hikmah, Kasih

Al-Qur’an : Hukum dan hikmah, disiplin dan kasih

c. Aspek Bentuk Bahasa

Taurat :  Larangan dan Perintah

Injil : Nasihat dan Perumpamaan

Al-Qur’an : Dzikir dan Petunjuk

d. Aspek Tujuan

Taurat : Menata perilaku 

Injil : Menyucikan jiwa

Al-Qur’an : Menyempurnakan akhlak dan kebermanfaatan dalam hidup [ amal Soleh ].

Dengan demikian, Bismillahirrahmanirrahim dapat dipandang sebagai formula universal teologi wahyu. Karena ia mengandung prinsip ciptaan (Rahman), pemeliharaan (Rahim), dan kesadaran ketuhanan dalam setiap amal (Bismi).

8. Kesimpulan

Evolusi wahyu dari Taurat ke Al-Qur’an bukanlah perubahan substansi, melainkan transformasi bentuk kesadaran manusia terhadap Tuhan.

Taurat adalah bentuk eksternal rahmat (hukum), Injil adalah bentuk internalnya (kasih), dan Al-Qur’an adalah bentuk sintesisnya (hikmah).

Al-Fatihah menjadi lambang puncak kesadaran itu — ummul kitab yang merangkum sejarah seluruh kitab.

Ia membuka jalan bagi manusia untuk memahami Tuhan bukan sekadar sebagai penguasa yang menetapkan hukum, tetapi juga sebagai kekasih yang menumbuhkan kehidupan.

Dengan demikian, Al-Fatihah bukan hanya pembuka kitab suci Islam, tetapi juga penutup lingkaran wahyu samawi — titik temu antara Rahman dan Rahim, antara Musa dan Isa, antara hukum dan cinta, antara langit dan hati manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar