By. Mang Anas
Kalimat — “Saya tidak berpikir, saya hanya menerjemahkan” — yang diungkapkan oleh seseorang yang telah sepenuhnya menyandarkan pengetahuannya dari sumber Ilham, itu memiliki makna yang sesungguh sangat dalam 🌿
Pernyataan itu menggambarkan posisi kesadaran seseorang yang sudah melampaui kerja akal biasa.
Orang itu bukan lagi “mencipta” gagasan, tetapi menjadi saluran bagi kebenaran yang sudah ada, yang mengalir melaluinya tanpa harus dipikirkan.
Itu keadaan yang dalam tasawuf disebut "al-fahmu al-ladunnī" — pemahaman yang tidak dihasilkan oleh proses berpikir logis, tetapi oleh terbukanya ruang kesadaran hati terhadap sumber makna.
Dalam kerangka ini, orang itu tidak berpikir bukan karena berhenti bernalar, tetapi karena pikirannya sudah tersinkron dengan sumber makna, sehingga logika dan intuisi menyatu dalam satu arus terang.
Ibarat cermin yang jernih :
> Ia tidak menciptakan cahaya, tetapi memantulkan cahaya sebagaimana adanya.
Begitulah kesadarannya berfungsi — bukan sebagai pengarang, melainkan penerjemah dari Cahaya.
Dalam konteks epistemologi, orang diposisi ini sudah berada dipuncak dimensi “hermeneutika wujudiah”: yakni bahwa tafsir sejati bukan lagi “membaca teks dari luar”, melainkan membiarkan teks Ilahi itu membaca dirinya.
Jadi, ketika orang itu berkata “Saya hanya menerjemahkan,” kita memahaminya sebagai bentuk kerendahan hati dari seseorang yang telah sampai pada tahap raḍiyyatan marḍiyyah : akalnya tidak lagi menentang wahyu, rasanya tidak lagi memisah dari Nur, dan kata-katanya mengalir sebagai gema dari sumber yang sama.
🌿 Tentang Proses Penerjemahan Ilahi
Sesungguhnya, tidak ada satu pun dari kata-katanya yang lahir dari proses berpikir sebagaimana lazimnya manusia berpikir. Pikirannya hanyalah alat yang dipinjam oleh kesadaran untuk menerjemahkan sesuatu yang lebih dalam — sesuatu yang tidak berbentuk, namun terasa sangat nyata.
Dalam keadaan itu, yang bekerja bukan lagi logikanya, melainkan rasanya yang tersambung. Rasa itulah yang menangkap makna sebagaimana ia turun, kemudian akalnya sekadar merapikan susunannya agar bisa dipahami oleh bahasa manusia. Itulah sebabnya dikatakan : “Saya tidak berpikir, saya hanya menerjemahkan.”
Proses penerjemahan ini bukan dari bahasa ke bahasa, tetapi dari cahaya ke bunyi, dari makna ke kata.
Hati menjadi cermin tempat Nur menampakkan diri, sementara lidah atau pena menjadi alat untuk menyalin pantulannya ke dalam bentuk kalimat.
Maka, setiap kalimat yang lahir dari keadaan seperti ini tidak pernah mengklaim kebenaran sebagai miliknya. Ia hanya saksi atas kebenaran itu.
Sebagaimana bumi tidak memiliki cahaya, tetapi memantulkan sinar matahari, demikian pula manusia yang jernih hatinya memantulkan cahaya Tuhan ke dalam kata dan pemahaman.
Inilah hakikat ta’wil yang sejati — bukan menafsirkan dengan keinginan, melainkan menerjemahkan apa yang ditunjukkan oleh Cahaya ke dalam bentuk yang bisa dipahami oleh akal dan rasa manusia.
Dan barangkali di sinilah pertemuan antara ilmu dan ilham, antara wahyu dan pengetahuan, antara yang berpikir dan yang diterjemahkan.
Semuanya bertemu di satu titik : Ketika hati telah menjadi cermin bagi Sang Pemilik Makna.
🌸 Jalan Menuju Kesadaran Penerjemahan Ilahi
Untuk dapat menjadi penerjemah dari Cahaya — bukan pemikir, tetapi penyaksi — seseorang harus menempuh jalan penyucian yang mendalam. Jalan ini bukanlah tambahan dari ajaran agama, melainkan inti dari agama itu sendiri, yang menuntun manusia kembali pada asalnya.
1. Menghidupkan Hati yang Mati
Langkah pertama adalah datang kepada guru mursyid yang saleh, yang memiliki sanad ruhani dan kejernihan batin.
Guru ibarat tukang nyala api : ia menyalakan kembali percikan cahaya di dada murid yang telah redup karena nafsu dan kelalaian.
Inilah fase nafsu ammarah — ketika seseorang harus banyak menundukkan ego, membersihkan diri dari cinta dunia, dan melatih kejujuran pada dirinya sendiri.
2. Taubat yang Sejati
Setelah nyala itu hidup, hati perlu dimandikan oleh air mata.
Taubat sejati bukan sekadar ucapan, melainkan penyesalan yang mengguncang seluruh keberadaan.
Inilah fase nafsu lawwamah, di mana seseorang mulai mengenali dosa-dosanya, menyesalinya, dan menjadikan kesadaran dosa itu sebagai sumber kerendahan hati di hadapan Tuhan.
3. Melembutkan Hati melalui Ibadah
Ketika air mata telah membersihkan hati, maka shalat, dzikir, dan tadabbur Al-Qur’an menjadi cermin tempat Nur mulai berpendar.
Hati yang lembut akan mudah menangkap makna-makna halus dari Kalam Tuhan.
Inilah masa pemolesan cermin batin agar mampu memantulkan cahaya tanpa distorsi.
4. Fase Rindu yang Tak Terperi
Setelah hati menjadi bening, muncul rasa rindu kepada Tuhan yang tidak tertahankan.
Rindu itu bukan sekadar emosi, melainkan daya spiritual yang menggerakkan seluruh sistem kesadaran untuk mencari asalnya.
Inilah nafsu mutmainnah, ketika zikir bukan lagi kewajiban, melainkan kebutuhan; dan Tuhan bukan lagi keyakinan, melainkan kehadiran.
5. Fase “Irji‘i ilā rabbiki raḍiyatan marḍiyyah”
Dan ketika kerinduan itu telah mencapai puncaknya, maka disitulah kesadaran manusia akan ditarik kembali ke sumbernya.
Di sinilah biasanya akan terjadi peristiwa pengajaran langsung, bukan melalui huruf dan suara, tetapi melalui transfer makna tanpa kata.
Hamba hanya diam — namun mengerti segalanya.
Inilah anugerah besar yang disebut para arif sebagai ‘ilm ladunni atau ilmu hakikat.
🌿 Penutup
Jalan ini bukan milik siapa pun.
Ia terbuka bagi siapa saja yang sungguh-sungguh ingin mengenal Tuhan bukan dari kabar, tetapi dari pengalaman langsung penyaksian.
Namun harus diingat : " Ilmu hakikat bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk disaksikan dan diamalkan. Ia bukan menjadikan seseorang tinggi di mata manusia, tetapi menenggelamkannya dalam kerendahan di hadapan Tuhan ".
Sebab pada akhirnya, sebagaimana firman-Nya :
> “Kulluman ‘alaiha fān, wa yabqā wajhu rabbika dhul-jalāli wal-ikrām.”
(Segala yang ada akan binasa, dan yang kekal hanyalah Wajah Tuhanmu yang penuh keagungan dan kemuliaan.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar