By. Mang Anas
I. Pendahuluan : Zaman ketika Ruh Tersisih dari Kalam
Kita hidup di zaman ketika banyak hal dipelajari, namun sedikit yang diterangi.
Al-Qur’an kini banyak ditafsirkan, tetapi semakin sedikit yang dihidupkan.
Ia dikaji sebagai teks, bukan lagi sebagai napas. Disusun dalam disiplin, bukan lagi dialami dalam dzikir.
Padahal, setiap hurufnya dulu turun bukan untuk dijelaskan, melainkan untuk menyala di dalam diri.
Disepanjang sejarahnya para siddiqin adalah mereka yang mewarisi napas kenabian — bukan sekadar kejujuran dalam ucapan, tetapi keterbukaan batin terhadap kebenaran yang dihembuskan langsung dari langit ke dalam hati.
Mereka adalah jiwa-jiwa yang “diajarkan dengan pena” bukan karena mereka belajar menulis, tetapi karena hati mereka telah menjadi lembaran putih tempat Tuhan menulis makna-makna yang hidup.
Namun kini, pemahaman tentang siddiqin menyempit menjadi sekadar “orang jujur”. Dan ilmu hikmah dianggap telah berakhir dan hanya berlaku pada orang-orang terdahulu.
Dan ayat-ayat yang dahulu menjadi pintu wahyu kini diperlakukan seperti fosil — benda purba yang hanya bisa dipajang, bukan dihidupkan.
Apakah ini bukan tanda bahwa kita telah menjauh dari sumber cahaya, dan lebih sibuk bermain dengan bayangan semu kita sendiri ?
II. Pewaris Ruh Kenabian yang Terlupakan
Al-Qur’an menempatkan Siddiqin pada posisi agung, setelah para nabi dan rasul :
> “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul, mereka itu bersama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah — para nabi, siddiqin, syuhada, dan shalihin.” (QS An-Nisa : 69)
Ayat ini bukan sekadar urutan kehormatan, tapi urutan keberlanjutan nur wahyu.
Nabi adalah sumber pertama cahaya. Siddiqin adalah cermin yang menangkap dan memantulkan cahaya itu ke dalam sejarah. Mereka bukan pewaris kitab, melainkan pewaris ruh kenabian.
Namun sejarah menampilkan pemandangan lain. Ketika keulamaan beralih dari talaqqi ilahi (penerimaan langsung dari Allah) menjadi ta‘allum manusiawi (pembelajaran dari sistem), maka lahirlah ulama yang menguasai teks tetapi kehilangan getarannya. Mereka berbicara tentang Allah, tapi tidak lagi berbicara dengan Allah.
Al-Qur’an menjadi kumpulan kalimat, bukan lagi suara langit yang berdenyut dalam dada.
Siddiqin sejati bukan ahli logika, melainkan ahli rasa. Mereka tidak membaca mushaf dengan mata, tapi dengan ruh yang diterangi cahaya hakikat. Mereka tidak menafsirkan ayat, melainkan ditafsirkan oleh ayat.
Itulah sebabnya para nabi mewariskan ilmu bukan lewat tulisan, tapi lewat cahaya — al-‘ilmu nûrun yaqdzifuhullâhu fi al-qalb.
III. Ketika Hikmah Difosilkan
Ulama ortodoks menafsirkan hikmah sebagai hadits, dan menganggap bahwa anugerah hikmah telah berhenti pada orang orang terdahulu dan pada generasi dimasa lalu. Dengan tafsir itu, pintu langit tertutup di hadapan sejarah. Hikmah menjadi fosil, bukan air yang mengalir.
Padahal Allah berfirman dengan bentuk umum yang tidak terikat waktu :
> “Yutî al-hikmata man yashâ’ — Allah memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS Al-Baqarah: 269)
Artinya selama masih ada manusia yang bernafas dengan nama Allah, maka masih terbuka pintu bagi pancaran hikmah.
Hikmah bukanlah teks untuk dihafal, tapi pengajaran yang diturunkan ke dalam dada orang yang disucikan. Jika basmalah itu hidup di dalam diri, maka seluruh alam berbicara dengan bahasa wahyu.
Namun jika basmalah mati, maka bahkan mushaf pun menjadi benda bisu.
IV. Dari Talaqqi ke Ta‘allum : Saat Qur’an Dijadikan Disiplin Ilmu
Awalnya, Qur’an adalah percakapan antara langit dan jiwa. Namun ketika manusia menundukkan wahyu di bawah laboratorium akal, ia kehilangan getaran hidupnya. Lahir “ilmu tafsir” sebagai disiplin rasional; “ulumul Qur’an” sebagai katalog struktur; dan dari situ muncul generasi yang lebih mengenal hukum mad dan idgham daripada napas basmalah di huruf ba’.
Ilmu-ilmu itu tidak salah, sepanjang tetap diletakkan di atas ruh, ia menjadi tangga menuju Allah; tetapi manakala diletakkan hanya pada akal, ia akan menjadi tembok yang menutup cahaya-Nya.
Tuhan berfirman :
> “Law anzalna hadzal Qur’ana ‘ala jabalin lara’aytahu khashi‘an mutashaddi‘an min khashyati Allah.” (QS Al-Hasyr: 21)
Bahwa gunung pun akan runtuh bila Qur’an diturunkan diatasnya — namun hati manusia yang telah disekat metodologi bisa lebih keras dari batu.
V. Ketika Kalam Menjadi Teks dan Ruhnya Ditinggalkan
Kini, tafsir tidak lagi lahir dari penyaksian ruhani, tetapi dari teori dan analisis. Kalam Allah diperlakukan seperti objek penelitian, bukan subjek yang menyingkap. Banyak orang bicara tentang ayat, tapi tidak lagi berbicara dengan ayat.
Inilah masa di mana Al-Qur’an hidup di rak, tapi mati di dada. Masa di mana pengetahuan menggantikan pengenalan, dan ilmu menggantikan cahaya.
Namun, bagi para siddiqin, Qur’an tidak pernah menjadi teks. Ia adalah denyut nadi, napas, dan cahaya yang membentuk kesadaran. Setiap huruf adalah hidup; setiap bacaan adalah pertemuan. Dan ketika mereka membaca “ Al Qur'an,” mereka tidak sekadar mengucap, tetapi menjadi bagian dari Al-Qur'an itu sendiri.
VI. Penutup : Kembalinya Ruh dalam Kalam
Selama masih ada satu jiwa yang membaca dengan hati yang bersujud, maka Al-Qur’an akan tetap hidup.
Dan selama masih ada satu hati yang menyimpan rahasia huruf ba’, maka hikmah akan terus menetes dari langit ke bumi.
Siddiqin tidak pernah hilang — hanya disalahpahami. Mereka bukan legenda masa lalu, melainkan mata air yang terus muncul di tanah hati yang suci. Mereka adalah ulama Rabbani, yang di dalam dada mereka Allah benamkan ruh basmalah, hingga Al-Fatihah bersemayam di jiwanya, dan Al-Qur’an hidup di dalamnya.
Mereka tidak menafsirkan Qur’an dengan ilmu tafsir, tetapi dengan ilmu yang diilhamkan. Mereka tidak berbicara tentang kebenaran, tetapi berbicara dari dalam kebenaran. Dan kepada merekalah kita harus kembali belajar — bukan untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk menghidupkan kembali jiwa yang telah tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar