By. Mang Anas
[ Sebuah Risalah Filsafat Wahyu dan Kosmologi Ruhani ]
Pendahuluan : Ummul Kitab, Ummul Wujud
Al-Fatihah adalah Ummul Kitab (induk kitab), maka ia juga Ummul Wujud — induk segala kejadian.
Artinya, segala sesuatu yang terjadi di jagat raya, dari ledakan pertama cahaya hingga perang politik antar manusia, sesungguhnya adalah gema dari tujuh ayat itu.
• Pembukaan ini bukan hanya liturgi, tapi cetak biru keberadaan (blueprint of being).
• Menjelaskan bahwa sejarah manusia dan alam adalah “Al-Fatihah yang sedang terbaca dalam waktu.”
Prinsip dasar : Setiap yang lahir (zahir) memiliki bayangan batin; setiap yang batin mencari tubuh untuk menampakkan dirinya.
I — Bismillahirrahmanirrahim : Letupan Cahaya Pertama dan Awal Dualitas
• “Bismillah” sebagai perintah penciptaan, kun fayakun dalam bentuk kalimat kasih.
• Ar-Rahman dan Ar-Rahim sebagai dua kutub energi Ilahi: ekspansi (rahmah umum) dan intensifikasi (rahmah khusus).
• Dari sini muncul hukum ganda kosmos : dhohir-batin, maskulin-feminin, jasad-ruh.
• Pada tingkat sejarah manusia, muncul dualitas kekuasaan dan kasih, hukum dan cinta, seperti antara Muawiyah dan Ali, Kapitalisme dan Sosialisme, antara rasionalisme Barat dan spiritualitas Timur.
• Simbolisme Nur Muhammad sebagai pancaran pertama Bismillah.
II — Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin : Lahirnya Kesadaran dan Alam-Alam
•Alam sebagai cermin pujian : setiap makhluk bertasbih, karena di dalam dirinya ada bekas Rabb yang mendidik.
• “Alhamdulillah” adalah kesadaran reflektif pertama dari makhluk.
• Rabb al-‘Alamin berarti pendidik seluruh lapisan realitas : fisik, psikis, ruhani, hingga sejarah umat.
• Manusia adalah mikrokosmos tempat seluruh pujian alam berhimpun.
• Dalam sejarah : munculnya nabi-nabi sebagai “lisan pujian” umatnya — puncaknya di Muhammad.
III — Ar-Rahmanir-Rahim : Hukum Kembar Kehidupan
•Ar-Rahman : daya mencipta dan meluas — basis peradaban, ilmu, dan pembangunan.
•Ar-Rahim : daya memelihara dan menumbuhkan — basis moral, kasih, dan spiritualitas.
•Seluruh sejarah manusia adalah drama antara keduanya :
>ketika Ar-Rahman tanpa Ar-Rahim → lahir imperialisme, kapitalisme, rasionalisme kering;
>ketika Ar-Rahim tanpa Ar-Rahman → lahir kemalasan, fatalisme, eskapisme mistik.
• Kesempurnaan hanya terjadi bila keduanya berpadu. Di sinilah posisi ideal Ruhama — peradaban kasih yang menyeimbangkan ilmu dan iman.
IV — Malik Yawmiddin : Hukum Keseimbangan dan Kembalinya Segala Sesuatu
• “Hari Pembalasan” sebagai hukum keseimbangan moral dan kosmik.
• Segala energi yang keluar dari Bismillah akan kembali kepada Malik Yawmiddin.
• Dalam sejarah, hukum ini muncul dalam bentuk siklus kebangkitan dan kejatuhan peradaban.
• Dalam diri manusia, ini adalah momen hisab eksistensial — kesadaran diri tertinggi.
• Malik adalah hukum karma Ilahi : bukan sekadar balasan, tetapi pemulihan keseimbangan Nur.
V — Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in: Dialektika Syariat dan Hakikat
• Na’budu → ekspresi lahir, disiplin, sistem, hukum, kerja, jihad.
• Nasta’in → ekspresi batin, doa, penyerahan, ilham, dan rahmat.
• Sejarah agama adalah upaya menjaga keseimbangan dua arus ini.
• Ketika “na’budu” mendominasi lahirlah kaku fikih, ketika “nasta’in” mendominasi lahir ekstase tanpa pijakan.
• Politik dan spiritualitas, sunnah dan syiah, timur dan barat — semuanya bisa dibaca sebagai ketegangan antara dua arus ini.
• Kesempurnaan ibadah adalah menyatukan keduanya dalam satu gerak batin.
VI — Ihdinas Shirathal Mustaqim : Evolusi Kesadaran Semesta
• Jalan lurus sebagai orbit kesadaran seluruh makhluk menuju asalnya.
• Shirath bukan garis mati, tapi lintasan dinamis yang dilalui seluruh sejarah.
• Para nabi, wali, dan ilmuwan sejati adalah “penunjuk arah” di jalan evolusi ruhani ini.
• Di sini dapat dibahas teori sejarah ilahi : bahwa seluruh gerak peradaban adalah perjalanan kembali menuju Nur al-Fatihah.
• Manusia modern sedang tersesat karena keluar dari orbit shirath, tetapi tetap dalam gravitasi rahmah — akan kembali melalui gelombang pembaharuan ruhani global.
VII. Shirothalladzina An‘amta ‘Alaihim Ghairil Maghdubi ‘Alaihim Waladhdollin : Polarisasi Akhir Zaman dan Kebangkitan Ruhama
Ayat terakhir sebagai babak final tajalli sejarah.
• “Yang dimurkai” → peradaban rasionalistik materialistik (tanpa Ar-Rahim).
• “Yang tersesat” → peradaban spiritual tanpa arah (tanpa Ar-Rahman).
• “An‘amta ‘alaihim” → para pewaris Nur Muhammad, umat Ruhama yang mengembalikan keseimbangan.
• Kebangkitan Islam akhir zaman sebagai penyatuan kembali antara ilmu (zahir) dan cinta (batin), antara keadilan (Malik) dan rahmat (Rahim).
• Inilah peradaban Basmallah yang akan menutup siklus sejarah dunia.
Penutup : Fatihah Sebagai Cermin Diri dan Cermin Semesta
• Alam semesta adalah Al-Fatihah yang membentang.
• Jiwa manusia adalah Al-Fatihah yang dipadatkan.
• Barang siapa membaca dirinya dengan kacamata Al-Fatihah, ia membaca semesta dengan pandangan Tuhan.
> “Sebagaimana di awal Dia menampakkan Diri dengan Bismillah, demikian pula di akhir sejarah Dia menutupnya dengan Rahman dan Rahim.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar