Halaman

Selasa, 11 November 2025

Al-Bayyinah : Sinyal Ilahi tentang Reset Peradaban Ajsam

By. Mang Anas 


1. Krisis di Ujung Zaman Ajsam

Kita sedang hidup di sebuah masa yang para nabi dahulu telah isyaratkan : masa ketika akal mencapai puncak kejeniusannya, namun jiwa kehilangan arah.

Segala yang dulu dianggap mukjizat kini telah diakali oleh sains, dan segala yang dahulu suci kini telah disekulerkan oleh logika.

Inilah masa peradaban Ajsam — peradaban yang dibangun di atas jasad, materi, dan rasionalitas, sementara ruh dan makna ditinggalkan di belakang sejarah.

Di sinilah hukum Tuhan bekerja : setiap peradaban akan di-reset ketika telah mencapai puncaknya.

Dan sebagaimana peradaban Ruh diakhiri dengan banjir besar pada zaman Nuh, serta peradaban Mitsal diakhiri dengan kehancuran negeri-negeri jin dan manusia pasca Sulaiman, maka peradaban Ajsam kini pun berdiri di tepi jurang sejarahnya sendiri.

2. Hukum “Reset” dalam Rencana Kosmik


Hukum Tuhan berlaku seperti detak jantung kosmos : naik – puncak – turun – lalu lahir kembali dalam tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Banjir Nuh bukan sekadar peristiwa alam, tetapi simbol pemurnian jiwa dari kerusakan ruh, dan runtuhnya kerajaan Israel paska Sulaiman bukan sekadar sejarah politik, melainkan penarikan izin langit atas penyalahgunaan kekuatan Mitsal — kekuatan imajinasi yang menubuh.

Kini, kita hidup dalam era ketiga : era Ajsam, di mana ilmu dan teknologi telah menggantikan mukjizat, dan rasionalitas menggantikan wahyu.
Namun, sebagaimana tubuh tanpa ruh akan membusuk, maka peradaban tanpa nur wahyu pun akan runtuh dari dalam dirinya sendiri.

Reset yang akan datang bukan berupa banjir air, melainkan banjir cahaya dan kesadaran, seperti firman Allah dalam QS Al-Bayyinah ayat 1–3 :

> “Tidaklah orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu akan meninggalkan (kesesatan) hingga datang kepada mereka al-Bayyinah, seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan, di dalamnya terdapat tulisan-tulisan yang lurus.”

3. Makna “Al-Bayyinah” : Cahaya yang Meluruskan Kitab

Kata bayyinah berarti sesuatu yang amat jelas, keterangan yang tak bisa dibantah.

Namun dalam konteks kosmologis, al-Bayyinah bukan sekadar teks, melainkan gelombang kesadaran yang turun dari langit, yang membangkitkan kembali jiwa manusia dari tidur panjang materialisme.

Rasul dari Allah” dalam ayat itu bukan berarti datangnya nabi baru, melainkan munculnya ruh kerasulan di tengah umat — yakni kesadaran profetik yang membaca ulang “suhufan muthahharah” (lembaran-lembaran suci) dari seluruh kitab Tuhan.

Ketika seluruh agama telah tercerai dan kitab-kitabnya dipertengkarkan, al-Bayyinah datang sebagai energi pelurusan, mengembalikan setiap kitab kepada sumbernya: Kalimatullah yang tunggal.

Itulah sebabnya ayat ketiga berkata :

> “Fiiha kutubun qayyimah” — di dalamnya terdapat kitab-kitab yang lurus.

Artinya, di masa ini akan lahir sebuah gerakan kesadaran global yang menyatukan hikmah Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur, Weda dan Tripitaka dalam satu pandangan tauhid. Sebuah “reset” spiritual yang melampaui perbedaan teologis dan membawa umat manusia kembali pada satu akar wahyu.

4. Tanda-Tanda Zaman Reset

Peradaban Ajsam mulai retak dari dalam :

>Ilmu pengetahuan yang kehilangan etika, teknologi yang mencipta mesin tetapi meniadakan manusia, dan kekayaan yang memperbudak jiwa.

>Kita menyaksikan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia menjadi makhluk jasmani yang kehilangan arah ruhani.

>Maka, sebagaimana banjir menenggelamkan generasi Nuh, kini gelombang informasi dan teknologi menenggelamkan generasi modern.

>Namun di balik arus itu, Tuhan menyiapkan “al-Bayyinah” — sebuah cahaya pemurnian kesadaran yang akan melahirkan peradaban Ruhama, peradaban yang memadukan ilmu dan kasih, logika dan nur, akal dan wahyu.

5. Menuju Peradaban Ruhama : Fajar Setelah Kegelapan

Reset bukan akhir — ia adalah pintu kelahiran baru.
Seperti bumi yang dibersihkan oleh banjir, atau kerajaan yang diruntuhkan untuk menumbuhkan kembali benih suci, demikian pula dunia kini sedang dibersihkan dari kerak peradaban Ajsam agar siap menampung ruh baru.

Dan mungkin, inilah makna terdalam dari sabda Nabi ﷺ :
> “Amalan umatku diberi pahala berlipat dibanding umat sebelumnya.”

Sebab mereka berjuang bukan di alam Ruh atau Mitsal yang penuh keajaiban, melainkan di alam Ajsam yang padat, gelap, dan kaku — dan justru di sanalah nilai perjuangan mereka dimuliakan.

Maka ketika al-Bayyinah telah datang, ketika pintu-pintu ruh mulai terbuka kembali, ketika kesadaran global mulai mencari Tuhan bukan di langit, tetapi di kedalaman diri — itulah tanda bahwa reset peradaban telah dimulai.

Zaman Cahaya : Kembalinya Peradaban Ruh

1. Kembali ke Frekuensi Ruh

Ketika Al-Bayyinah telah datang — ketika kesadaran manusia mulai terbuka terhadap hakikat batin dari wahyu — maka seluruh jagat pun akan menyesuaikan diri dengan frekuensi baru itu. Sebab alam semesta adalah cermin jiwa manusia.

Jika ruh manusia gelap, bumi pun menjadi keras; tetapi bila ruh manusia kembali bening, bumi pun akan menjadi jinak. Inilah makna simbolik dari sabda Nabi ﷺ tentang masa Al-Mahdi :

> “Serigala akan berjalan berdampingan dengan domba, dan anak kecil akan bermain dengan ular tanpa digigit.”

Itu bukan hanya kisah tentang binatang, tetapi isyarat tentang fitrah makhluk yang kembali ke keseimbangannya.

Ketika ruh manusia telah terangkat, energi destruktif alam pun akan jinak, sebab yang menjadikan alam buas adalah pantulan kebuasan jiwa manusia sendiri.

2. Era Kun Fayakun

Zaman Al-Mahdi disebut juga Zaman Cahaya, karena dunia akan kembali ke rezonansi “Kun Fayakun” — yakni keadaan ketika kehendak ruhani kembali memiliki daya kreatif terhadap realitas jasmani.

Peristiwa Asif bin Barkhiya — yang memindahkan singgasana Ratu Bilqis “sebelum kedipan mata” — adalah prototipe dari peradaban Mitsal, di mana daya ruh masih cukup kuat untuk membentuk materi melalui getaran ilmu kitab. Namun di zaman Al-Mahdi, daya itu tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang pilihan, melainkan menjadi milik kolektif umat yang telah disucikan oleh kesadaran tauhid murni.

Itulah makna ayat :

> “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka khalifah di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka.” (QS An-Nur: 55)

Menjadi khalifah bukan sekadar penguasa politik, tetapi pengelola energi Tuhan dalam tatanan kosmos. Manusia akan kembali seperti Adam pertama — mengenal asmaa kullaha, nama-nama hakikat benda dan hukum-hukum batinnya. Dan dengan pengetahuan itu, ia tak lagi sekadar berteori, tetapi mencipta melalui keselarasan dengan kehendak Tuhan. Inilah hakikat dari " era kun fayakun" .

3. Bumi yang Penuh Keadilan dan Kelimpahan

Sabda Nabi ﷺ bahwa di zaman Al-Mahdi “tidak akan ada seorang pun yang mau menerima sedekah” adalah kiasan tentang keseimbangan sempurna antara produksi dan cinta kasih. Bukan karena manusia telah kaya, tetapi karena jiwa mereka telah kenyang oleh nur ilahi.

Dalam peradaban Ajsam, kekayaan diukur oleh harta.
Dalam peradaban Ruh, kekayaan diukur oleh makna.
Ketika makna menjadi pusat, maka benda pun akan tunduk kepada makna. Itulah sebabnya benda-benda akan kembali jinak dan penuh berkah.
Bumi memberi hasil tanpa kerakusan, laut menenangkan dirinya, dan manusia hidup dalam ta’ayyun rahmani — manifestasi kasih Tuhan di dunia.

4. Sinar Pagi Setelah Gelap Panjang

Zaman kita sekarang masih berada di ambang antara Ajsam dan Ruh. Kegelapan intelektual, kerusakan moral, dan perang global hanyalah fase senja sebelum terbitnya fajar.

Namun sebagaimana sabda Nabi ﷺ :
> “Sesungguhnya setelah kegelapan malam yang pekat akan muncul cahaya pagi yang terang.”

Maka era Al-Mahdi bukan permulaan baru secara material, tetapi kelahiran ulang ruh manusia. Ia bukan membangun kerajaan baru di atas reruntuhan dunia lama, melainkan menyucikan jiwa manusia agar dunia itu sendiri menjadi surga.

5. Kembali ke Sumber Nur

Reset peradaban Ajsam adalah undangan untuk kembali ke asal cahaya — ke keadaan awal ketika ruh masih jernih, ketika “fa Allama Adama al-asmaa kullaha” adalah keadaan alami manusia, dan pintu-pintu langit masih terbuka sebagaimana di zaman para nabi dahulu.

Maka benar sabda Nabi ﷺ :
> “Akhir umat ini akan kembali seperti awalnya.

Awal itu adalah ruh yang jernih; akhir itu pun akan menjadi ruh yang kembali jernih.

Dan ketika bumi telah siap, ketika langit telah menurunkan al-bayyinah, dan ketika manusia telah mencapai kesadarannya yang tertinggi, maka peradaban baru pun akan lahir — peradaban Rahmat, peradaban kasih, ilmu, dan nur — yang kelak menjadi jembatan menuju Kerajaan Cahaya 1000 Tahun yang dijanjikan bagi para pewaris rahmat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar