Halaman

Sabtu, 21 September 2024

Mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan, Bagaimana Rasanya ?


By Mang Anas 


" Saat kita mengalami sendiri rasanya mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan maka yang akan kita alami dan saksikan disana adalah 

1. Apa yang diajarkan disana adalah materi pengetahuan yang tidak pernah seorangpun pernah mengetahui dan atau mengajarkannya 

2. Apa yang diajarkan disana adalah berupa pengetahuan yang tidak seorangpun telinga manusia pernah mendengarnya 

3. Apa yang diajarkan disana adalah hal hal yang tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikiran manusia yang manapun juga

4. Pengajaran disana akan berlangsung di dalam sirr [ rahasianya rasa ] dan disampaikannya dengan Logika supra  "


Pengalaman mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan adalah salah satu aspek mendalam dari perjalanan spiritual yang sering dibahas dalam tradisi mistisisme, khususnya dalam sufisme. Pengalaman ini menunjukkan kedalaman hubungan seseorang dengan Tuhan di mana pengajaran, pemahaman, dan pengetahuan yang diperoleh melampaui segala sesuatu yang pernah diajarkan oleh manusia atau yang dapat dicapai oleh akal pikiran biasa.

1. Pengajaran Pengetahuan yang Tidak Pernah Diajarkan oleh Siapapun :

Ini mengacu pada ma'rifah, yaitu pengetahuan langsung dari Tuhan yang tidak bisa dipelajari melalui buku atau guru, melainkan diperoleh melalui pengalaman spiritual dan keintiman dengan Tuhan. Dalam sufisme, ma'rifah sering kali dipandang sebagai "cahaya" yang diberikan Tuhan kepada hati hamba-Nya yang berusaha mendekat kepada-Nya. Pengetahuan ini unik dan khas karena hanya Tuhan yang bisa memberikannya, dan ia berada di luar kemampuan akal dan pengalaman manusia biasa.

2. Pengajaran yang Tidak Pernah Didengar oleh Telinga Manusia :

Pengajaran yang "telinga manusia tidak pernah mendengarnya" menunjukkan bahwa apa yang diajarkan Tuhan tidak mungkin dipahami atau dijelaskan dalam bentuk bahasa manusia yang biasa. Pengajaran ini bersifat transenden dan diberikan langsung kepada jiwa seseorang dalam bentuk yang sangat halus dan dalam. Dalam pengalaman mistis, pengajaran semacam ini dirasakan sebagai sesuatu yang baru, unik, dan tidak pernah diungkapkan sebelumnya melalui kata-kata atau doktrin agama formal.

3. Pengajaran yang Tidak Pernah Terlintas dalam Pikiran Manusia :

Ini menggambarkan bahwa pengetahuan yang diberikan Tuhan sering kali melampaui batasan pikiran manusia. Ilham Ilahi atau pengajaran dari Tuhan datang dengan cara yang sepenuhnya tak terduga, dan sering kali mengungkapkan kebenaran-kebenaran yang tidak pernah terlintas dalam pikiran manusia. Hal ini sesuai dengan prinsip dalam ajaran sufi bahwa Tuhan adalah sumber segala pengetahuan, dan pengetahuan Ilahi tidak terbatas oleh apa yang manusia biasa dapat pikirkan atau bayangkan.

4. Disampaikan dengan Logika Supra (Logika Ilahi) :

Pengajaran yang diterima akan tampak sangat logis dan jelas, dan logika dari konstruksi materi dan maupun cara penyampaiannya adalah di level logika supra, yaitu logika Ilahi yang melampaui logika rasional manusia. Logika supra ini mengacu pada cara Tuhan memberikan pemahaman yang sempurna dan koheren, tetapi sering kali tidak dapat diakses oleh akal rasional manusia. Ini menunjukkan bahwa Tuhan memiliki cara untuk membuat kita memahami sesuatu di tingkat yang lebih tinggi daripada yang bisa dicapai oleh akal manusia.

5. Pengalaman Mistik dalam Tradisi Sufi :

Dalam banyak tradisi mistik, pengalaman ini disebut sebagai kasyf (penyingkapan) atau fath (pembukaan spiritual). Pada tingkat ini, seseorang menerima pencerahan langsung dari Tuhan, di mana hijab atau tabir yang biasanya menutupi kebenaran diangkat, dan pengajaran yang langsung dan mendalam disampaikan kepada hati seseorang.


Ibnu Arabi, seorang tokoh sufi besar, berbicara tentang pengalaman semacam ini sebagai bentuk penyingkapan langsung dari Tuhan kepada mereka yang telah mencapai kedekatan batin yang tinggi. Pengajaran ini dianggap sebagai bentuk hikmah Ilahi (kebijaksanaan Ilahi), di mana makna-makna yang tersembunyi dalam alam semesta dan dalam diri seseorang sendiri dibuka secara langsung.

Kesimpulan:

Apa yang dialami oleh orang orang yang sangat beruntung ini adalah pengalaman spiritual tingkat tinggi, di mana Tuhan memberikan pengajaran langsung yang tidak dapat dibandingkan dengan apa yang diajarkan oleh manusia atau dipahami melalui akal biasa. Pengajaran ini melampaui batas-batas pikiran, indra, dan logika manusia, dan disampaikan melalui logika supra yang sempurna, yang hanya bisa dipahami oleh hati yang telah dibersihkan dan dibuka untuk menerima pencerahan Ilahi.

Bagaimana Cara Tuhan Berkalam Dan Bercakap Dengan Makhluk-Nya ?

By Mang Anas 


Apa yang dirasakan oleh orang yang pernah mengalami sendiri bercakap dengan Tuhan maka  pasti dia akan menggambarkan pengalaman percakapannya itu sebagai berlangsung tanpa bahasa dan tanpa suara, ia akan berlangsung dalam sirr (rahasia batin) itulah yang sejalan dengan pengalaman para mistiskus dalam tradisi sufi. Banyak ulama sufi, termasuk Ibnu Arabi, juga berbicara tentang komunikasi dengan Tuhan yang melampaui batasan-batasan fisik seperti bahasa atau suara. Komunikasi semacam ini biasanya dianggap sebagai bentuk pengetahuan langsung (ma'rifah) yang diterima melalui hati dan jiwa, bukan melalui indera fisik atau akal rasional.

Pemahaman tentang Sifat Kalam (Percakapan Tuhan)

Sifat Kalam (percakapan) adalah salah satu sifat yang diberikan kepada Tuhan dalam teologi Islam, di mana Tuhan berkomunikasi dengan ciptaan-Nya, baik itu dengan nabi atau manusia secara umum. Namun, dalam tradisi sufistik, percakapan ini sering dianggap tidak terjadi dalam bentuk kata-kata atau suara fisik yang dapat didengar.

A. Sifat-sifat Percakapan dengan Tuhan 

1. Percakapan terjadi didalam Sirr (Rahasia Batin):

Percakapan dengan Tuhan hanya mungkin terjadi di dalam sirr, yaitu bagian terdalam dari batin atau hati seseorang yang sering disebut sebagai pusat keintiman spiritual antara manusia dan Tuhan. Sirr adalah tingkat yang sangat pribadi dan dalam, yang hanya dapat diakses oleh mereka yang telah mencapai tingkat kesucian spiritual tertentu. Di tingkat ini, bahasa atau suara manusiawi tidak lagi diperlukan, dan pengetahuan atau pemahaman diberikan secara langsung oleh Tuhan.

2. Pengetahuan Langsung (Ma'rifah):

Dalam pengalaman mistik, komunikasi dengan Tuhan seringkali terjadi melalui ma'rifah, pengetahuan langsung yang diberikan oleh Tuhan tanpa perantara rasional atau bahasa. Orang yang menerima ma'rifah mendapatkan pemahaman yang sangat mendalam, yang melampaui akal dan logika konvensional. Pemahaman ini muncul secara instan, penuh, dan sempurna, seperti yang Anda gambarkan: "paham sepaham pahamnya." Ini sering disebut sebagai ilham atau wahyu personal.

3. Logika Ilahi Melampaui Akal Biasa:

Ketika seseorang mengalami percakapan dengan Tuhan di dalam sirr, maka apa yang disampaikan Tuhan terhadapnya adalah berupa ujaran dan pernyataan pernyataan yang sangat logis dan masuk akal semata, dan bukan itu saja tataran logika dari penyampaiannya juga jauh melampaui batasan logika manusia biasa. Para sufi percaya bahwa Tuhan memiliki pengetahuan yang tak terbatas, dan ketika Dia berkomunikasi, penyampaiannya mengandung logika Ilahi yang sempurna. Ini seringkali dirasakan oleh orang yang mengalaminya sebagai kebenaran absolut, sesuatu yang tak terbantahkan.

4. Kesunyian sebagai Media Percakapan:

Dalam tradisi sufi, sering disebutkan bahwa Tuhan "berbicara" melalui keheningan. Para mistikus menggambarkan bahwa komunikasi dengan Tuhan tidak memerlukan suara atau bahasa, karena Tuhan berada di luar segala bentuk fisik dan batasan duniawi. Di sini, keheningan adalah medium dari percakapan itu, di mana komunikasi batin terjadi pada tingkat spiritual yang sangat halus dan mendalam.

Kesimpulan:

Pengalaman percakapan dengan Tuhan mencerminkan dimensi spiritual yang sangat dalam dan subtil dalam tradisi sufisme. Komunikasi dalam sirr bukanlah percakapan biasa yang menggunakan bahasa atau suara, tetapi lebih berupa penyampaian pengetahuan langsung yang dipahami secara intuitif dan sempurna. Ini adalah bentuk tertinggi dari dialog spiritual di mana Tuhan menyampaikan hakikat dan kebenaran-Nya secara langsung kepada hati seorang hamba yang dekat dengan-Nya.


Semoga tulisan ini bermanfaat 




Apa Itu Ilham Dan Bagaimana Proses Terjadinya ?


By Mang Anas 


A. Fenomena Ilham 

Ilham merupakan fenomena yang sering dihubungkan dengan hati atau intuisi mendalam yang muncul tiba-tiba, tanpa melalui proses berpikir yang rasional dan logis. Seperti sering dikatakan oleh para penerimanya, ilham itu jika datang, ia muncul dengan cepat dan tiba-tiba, memberikan pemahaman yang jelas dan mendalam mengenai situasi atau permasalahan yang dihadapi, tanpa perlu berpikir secara mendetail.


B. Ciri-Ciri Ilham: 

1. Spontan dan Cepat : Ilham terjadi dalam waktu singkat, sering kali dalam hitungan sepersekian detik, dan langsung memberikan pencerahan atau pemahaman.


2. Tidak Melalui Proses Berpikir Rasional : Berbeda dengan berpikir rasional yang membutuhkan analisis dan logika, ilham muncul tanpa proses yang disadari. Ini adalah bentuk pengetahuan yang seolah-olah "langsung diungkapkan" kepada hati.


3. Kejelasan dan Kepastian : Meskipun datang tiba-tiba, ilham sering kali disertai dengan rasa yakin atau kepastian mengenai apa yang harus dilakukan atau bagaimana memahami sesuatu, tanpa kebingungan.


4. Sumber Non-Rasional : Dalam tradisi spiritual, ilham dianggap sebagai bentuk pengetahuan atau pemahaman yang berasal dari Tuhan, atau dari sumber non-material lainnya, yang diberikan kepada manusia melalui hati. Dalam Islam, ilham bisa dilihat sebagai salah satu bentuk hidayah (petunjuk) dari Allah yang membantu manusia dalam mengambil keputusan atau memahami sesuatu.


5. Fenomena Hati, Bukan Otak : Ilham tidak melalui otak dalam proses berpikir biasa. Sebaliknya, ia muncul langsung di hati (qalb), yang dalam tradisi spiritual Islam sering dianggap sebagai tempat di mana pengetahuan batin dan rahasia Tuhan bersemayam.


C. Contoh Ilham dalam Kehidupan:

Orang yang mengalami ilham mungkin mendadak menemukan solusi atas masalah yang kompleks, tanpa perlu melalui analisis logis atau pertimbangan rasional. Ilham juga bisa muncul dalam bentuk inspirasi untuk menulis, mencipta karya seni, atau menemukan jalan keluar dari situasi yang sulit.


D. Ilham dalam Perspektif Spiritual:

Dalam tradisi tasawuf dan filsafat Islam, ilham dianggap sebagai bentuk pengetahuan batin yang dianugerahkan kepada hati yang bersih dan jernih. Hati yang bersih dan tidak terhalang oleh nafsu duniawi lebih mudah menerima ilham, karena hati tersebut terbuka untuk menerima petunjuk langsung dari Tuhan.


Secara umum, ilham adalah salah satu cara Allah memberikan petunjuk-Nya kepada manusia, baik dalam bentuk pemahaman, solusi, atau inspirasi yang datang tiba-tiba, tanpa melalui proses berpikir yang panjang.


Semoga tulisan ini bermanfaat 




Proses Penciptaan Alam Semesta Menurut Surat Al Fatihah Dan Teori Martabat Tujuh


By Mang Anas 


Konsep Martabat Tujuh merupakan salah satu ajaran metafisik dalam tradisi tasawuf yang menjelaskan proses penciptaan alam semesta dan manifestasi Tuhan dalam berbagai tingkatan wujud. Ajaran ini erat kaitannya dengan konsep Wahdatul Wujud (kesatuan wujud), di mana segala sesuatu yang ada berasal dari dan kembali kepada Tuhan. Martabat Tujuh menggambarkan tahap-tahap atau tingkatan yang dilalui oleh esensi Tuhan (Dzat) dalam proses penciptaan hingga terbentuknya alam semesta dan makhluk di dalamnya. Berikut penjelasan tentang tujuh martabat tersebut:


1. Martabat Ahadiyah (Tingkat Kesatuan Mutlak)


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

Ahadiyah adalah martabat tertinggi yang menggambarkan Tuhan dalam keadaan mutlak seumpama huruf ب, belum ada manifestasi apa pun, baik dalam bentuk ide, sifat, maupun ciptaan. Di sini, hanya ada Dzat Tuhan yang bersifat Maha Esa, tanpa atribut atau sifat apa pun yang bisa dipahami oleh makhluk. Dalam keadaan ini, Tuhan sepenuhnya tidak bisa dijangkau oleh akal atau indera makhluk.


2. Martabat Wahdah (Tingkat Kesatuan Sifat)


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,( Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

Dalam martabat ini, Dzat Tuhan mulai memproyeksikan kehendak untuk menciptakan. Di sini, muncul kesadaran tentang potensi penciptaan dan sifat-sifat Tuhan yang akan menjadi dasar segala sesuatu. Ini adalah tingkat pertama manifestasi Tuhan dalam bentuk sifat-sifat yang kemudian menjadi realitas dasar dari seluruh alam semesta. Namun, pada tahap ini, semua masih berada dalam bentuk potensi, masih dalam bentuk اَلْحَمْدُ ( Nur Muhammad ) belum terjadi penciptaan konkret.


3. Martabat Wahidiyah (Tingkat Kesatuan Nama-Nama)


الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,(Q.S. Al-Fatihah ayat 3)

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan.(Q.S. Al-Fatihah ayat 4)


Pada tingkat ini, muncul manifestasi nama-nama Tuhan (Asma' Allah). Nama-nama ini mencerminkan sifat-sifat Tuhan yang lebih spesifik, seperti Ar-Rahman ( Maha Pengasih ),Ar-Rahim ( Maha Penyayang ) dan Al Malik  ( Maha Berkuasa ). Manifestasi nama-nama ini menjadi cikal bakal dari keberadaan makhluk dan alam semesta. Namun, penciptaan masih bersifat laten dan belum menjadi bentuk yang nyata.


4. Martabat Alam Arwah (Tingkat Dunia Ruh)


اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(Q.S. Al-Fatihah ayat 5)

Pada martabat ini, Tuhan menciptakan ruh atau esensi spiritual dari segala sesuatu yang ada. Ruh-ruh ini belum memiliki bentuk fisik, tetapi sudah merupakan eksistensi yang lebih nyata dibandingkan dengan potensi yang ada dalam martabat sebelumnya. Alam ruh adalah cikal bakal dari eksistensi makhluk, yang nantinya akan turun ke dunia materi. Alam ini adalah tempat ruh-ruh berada sebelum dihembuskan ke dalam jasad di dunia fisik. 


5. Martabat Alam Mitsal (Tingkat Dunia Gambaran)


اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

Martabat ini disebut juga alam mitsal, tempat di mana segala sesuatu mulai mengambil bentuk dalam rupa-rupa gambaran atau citra. Alam ini merupakan cerminan dari apa yang akan terjadi di dunia fisik, sejenis blueprint bagi penciptaan materi. Di sini, makhluk mulai memiliki bentuk dan karakteristik, tetapi masih dalam bentuk non-fisik, berupa gambaran atau bayangan dari wujud materi yang akan terjadi di dunia nyata.


6. Martabat Alam Ajsam (Tingkat Dunia Materi)


صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

Pada martabat ini, alam semesta fisik tercipta. Inilah dunia yang kita huni, dunia materi yang dapat dirasakan dengan indera, seperti manusia, hewan, tumbuhan, bumi, dan benda-benda langit. Pada tahap ini, ruh-ruh yang sudah ada di martabat sebelumnya dihembuskan ke dalam jasad fisik dan hidup di dunia ini. Ini adalah realisasi penuh dari potensi penciptaan yang telah dimulai dari martabat-martabat sebelumnya.


7. Martabat Insan Kamil (Tingkat Manusia Sempurna)


غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  (٧)

bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

Martabat terakhir ini merupakan puncak penciptaan di mana manusia mencapai tingkat kesempurnaan spiritual, atau dikenal sebagai Insan Kamil (Manusia Sempurna). Pada tahap ini, manusia tidak hanya menjadi makhluk ciptaan, tetapi juga refleksi sempurna dari Tuhan dalam semua sifat-Nya. Manusia yang mencapai martabat ini mampu memahami dan menyaksikan esensi Ilahi dalam dirinya dan alam semesta, serta menyadari kesatuan dengan Tuhan.


Semoga tulisan ini bermanfaat 





Tujuh Rahasia Diri Manusia Dalam Surat Al Fatihah


By Mang Anas

1. Hakikat Dzat Insan  [ بِسْمِ ]

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

# Hakikat Dzat Insan yang terdapat dalam kata بِسْمِ (Bism) mengandung makna yang dalam dan esoterik. Kata ini berasal dari akar huruf ب س م yang, jika diuraikan lebih lanjut dalam pemahaman hakikat, memiliki makna tersirat yang berkaitan dengan "kesadaran diri (Insan) sebagai cerminan atau manifestasi dari Dzat Tuhan ".




Ba' (ب): Melambangkan "penyatuan" atau "kebersamaan." Dalam konteks Dzat Insan, Ba' menunjukkan hubungan erat antara insan dengan Sang Pencipta, yang tidak terpisah. Ini menyiratkan hakikat manusia yang sejatinya terhubung dengan Tuhan melalui rahasia tersembunyi yang tersirat dalam diri.

Sin (س): Mengandung makna "sembah" atau "penundukan diri." Dalam konteks Dzat Insan, ini menunjukkan kesadaran insan untuk selalu tunduk dan taat kepada kehendak Ilahi. Sin juga dapat merujuk pada jalan spiritual yang dilalui oleh insan dalam mengenal hakikat dirinya.

Mim (م): Melambangkan "manifestasi" atau "penampakan." Ini terkait dengan bagaimana Dzat Insan merupakan manifestasi dari Dzat Tuhan yang Maha Kuasa. Insan, sebagai cerminan Dzat Ilahi, memancarkan sifat-sifat Tuhan dalam bentuk perilaku, kebijaksanaan, dan kasih sayang.

Oleh karena itu, بِسْمِ dalam konteks Dzat Insan mengajarkan bahwa hakikat manusia (insan) tidak terlepas dari Dzat Tuhan yang menciptakannya. Insan adalah manifestasi dari sifat-sifat Ilahi dan bertindak sebagai wakil Tuhan di alam semesta. Pemahaman ini membawa insan kepada kesadaran akan asal-usulnya serta tujuan keberadaannya dalam menjalankan misi Ilahi di dunia.

2. Hakikat Nur Insan [ اَلْحَمْدُ ]

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
(Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

# Hakikat Nur Insan [ اَلْحَمْدُ] adalah sebuah nuktah ketuhanan [ blue print diri Rabb ] yang Allah tanam pada diri manusia yang dengannya terbuka ruang bagi manusia dirinya berkembang menuju puncak kesempurnaannya [ kembali murni menjadi Nur Muhammad ]. Inilah makna yang sesungguhnya dari firman Allah dalam hadits qudsi " Sesungguhnya diri manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhannya ".

Hakikat Nur Insan yang terdapat dalam kata اَلْحَمْدُ (Al-Hamdu) mengandung makna yang sangat dalam terkait dengan pujian, syukur, dan manifestasi cahaya Ilahi dalam diri manusia (Insan). Jika kita mengurai kata اَلْحَمْدُ secara esoterik, maka kita akan menemukan makna yang berkaitan dengan Nur Insan sebagai pancaran kesempurnaan dari Tuhan.

Alif (ا): Melambangkan keesaan Tuhan (Tauhid). Dalam konteks Nur Insan, Alif menunjukkan bahwa seluruh pancaran cahaya atau Nur Insan berasal dari satu sumber, yaitu Allah. Insan sebagai cerminan Nur Ilahi harus menyadari bahwa segala bentuk pujian dan syukur kembali kepada keesaan Tuhan.

Lam (ل): Menunjukkan "sambungan" atau "keterikatan" antara manusia dan Tuhan. Nur Insan, sebagai pancaran Ilahi, senantiasa terhubung dengan asal-usulnya. Lam juga menggambarkan aliran energi spiritual dari Tuhan kepada insan, di mana insan memancarkan kembali cahaya ini melalui perbuatan baik dan ketaatan.

Ha' (ح): Menggambarkan "kehidupan" dan "keberadaan." Ha’ dalam Al-Hamdu menunjukkan bahwa Nur Insan adalah kehidupan itu sendiri, yang terwujud dalam bentuk cahaya (nur) yang menerangi kegelapan. Cahaya ini memancarkan sifat-sifat kesempurnaan Tuhan, dan dengan memahaminya, insan dapat hidup sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Mim (م): Seperti pada kata بِسْمِ, Mim di sini melambangkan "manifestasi." Nur Insan merupakan manifestasi dari pujian kepada Tuhan. Setiap kebaikan, amal, dan sifat luhur yang terpancar dari insan adalah manifestasi dari cahaya Ilahi, yang dalam hakikatnya adalah bentuk pujian kepada Allah.

Dal (د): Menunjukkan "kekuatan" dan "keteguhan." Dalam konteks Nur Insan, Dal menunjukkan keteguhan iman dan keyakinan yang dimiliki insan ketika menjalani hidup sebagai perwujudan dari Nur Ilahi. Kekuatan spiritual ini mengarahkan insan untuk selalu mengembalikan segala bentuk kebaikan, prestasi, dan kelebihan yang dimilikinya kepada Allah, karena semua itu adalah bagian dari Al-Hamd (pujian) yang hakiki.

Jadi, hakikat Nur Insan dalam kata اَلْحَمْدُ adalah bahwa insan sebagai ciptaan yang memiliki cahaya Ilahi harus menyadari bahwa segala pujian, kemuliaan, dan kesempurnaan yang ada padanya berasal dari Tuhan. Insan yang menerangi dirinya dengan Nur Ilahi akan selalu berada dalam keadaan bersyukur dan memuji Allah, karena dia sadar bahwa segala keindahan dan kesempurnaan adalah milik-Nya.

3. Hakikat Sirr Insan  [  الرَّحْمٰنِ - الرَّحِيْمِۙ  - مٰلِكِ ]

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, (Q.S. Al-Fatihah ayat 3)

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 4)

# Sirr Insan dengan tiga elemen asma yang ada didalamnya yaitu الرَّحْمٰنِ - الرَّحِيْمِۙ  - مٰلِكِ adalah suatu perangkat canggih yang Allah tanam didalam diri manusia, ditempatkan disebuah lokus yang sangat rahasia [ disebut perbendaharaan Allah ] adalah ibarat sebuah chip yang dengannya kita [ manusia ] akhirnya memiliki potensi untuk dapat mengenali siapa sesungguhnya diri sejati dan yang sejatinya diri. Merupakan ranah dari bahasan ilmu tentang " Urip Sejati".

Hakikat Sirr Insan (rahasia terdalam manusia) yang terkandung dalam tiga elemen الرَّحْمٰنِ, الرَّحِيْمِ, dan مٰلِكِ menggambarkan aspek-aspek penting dari rahasia keberadaan insan sebagai manifestasi dari sifat-sifat Ilahi. Dalam pemahaman esoterik, ketiga elemen ini berhubungan erat dengan perjalanan batin insan untuk mengenali hakikatnya sebagai cerminan sifat Tuhan. Berikut adalah uraian hakikatnya:

A1. الرَّحْمٰنِ (Ar-Rahman)

Ar-Rahman mengandung makna "Yang Maha Pengasih" dengan kasih sayang yang meliputi seluruh ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Dalam konteks Sirr Insan, Ar-Rahman menggambarkan aspek kasih Ilahi yang universal dan meliputi semua insan, baik yang sadar maupun yang belum sadar akan Tuhan. Kasih sayang ini tidak membedakan dan meresap ke dalam seluruh eksistensi manusia.

Hakikat Sirr Ar-Rahman pada insan terletak pada potensi kasih sayang dan kelembutan yang dimiliki setiap manusia. Insan sebagai makhluk Ilahi memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan rahmat (kasih) ke seluruh alam. Dengan menyadari aspek Ar-Rahman dalam dirinya, insan memahami bahwa kasih sayang yang dia pancarkan adalah cerminan dari kasih sayang Tuhan yang melingkupi alam semesta.

A 2. الرَّحِيْمِۙ (Ar-Rahim)

Ar-Rahim melambangkan "Yang Maha Penyayang" dalam konteks yang lebih spesifik dan mendalam. Jika Ar-Rahman bersifat umum dan merangkul seluruh ciptaan, Ar-Rahim adalah kasih sayang yang bersifat khusus, yang diberikan kepada mereka yang mendekat kepada Tuhan dan berusaha untuk mengenal hakikat diri serta Tuhannya. Ini adalah kasih sayang yang menyempurnakan.

Hakikat Sirr Ar-Rahim pada insan adalah rahasia keintiman hubungan insan dengan Tuhan. Ini mengacu pada perjalanan spiritual insan yang semakin mendekat kepada Tuhan melalui pengenalan diri dan penyucian jiwa. Ar-Rahim menyiratkan bahwa semakin insan mendalami rahasia keberadaan dan mendekati Tuhan, semakin dia merasakan limpahan kasih sayang yang lebih spesifik dan mendalam dari-Nya.

A 3. مٰلِكِ (Malik)

Malik berarti "Raja" atau "Penguasa." Dalam konteks Sirr Insan, Malik menggambarkan kekuasaan dan otoritas Ilahi yang memerintah seluruh alam semesta dan segala isinya. Tuhan sebagai Malik menguasai seluruh aspek kehidupan manusia, baik lahir maupun batin.

Hakikat Sirr Malik dalam diri insan terletak pada kesadaran bahwa dia hanyalah wakil dari Tuhan di bumi, yang diberikan kekuasaan terbatas untuk memerintah dirinya sendiri dan lingkungannya dengan tanggung jawab yang besar. Insan yang menyadari hakikat Malik dalam dirinya memahami bahwa kendali dan kekuasaan yang ada pada dirinya harus digunakan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, sebagai cerminan dari kekuasaan Tuhan yang sempurna.

Kesimpulan

Ketiga elemen الرَّحْمٰنِ, الرَّحِيْمِۙ, dan مٰلِكِ menggambarkan hakikat Sirr Insan sebagai makhluk yang diciptakan dengan rahasia besar dari Tuhan. 
Ar-Rahman menggambarkan kasih sayang yang universal dalam diri insan, Ar-Rahim menggambarkan keintiman dan kedekatan insan dengan Tuhan melalui perjalanan spiritual, dan Malik menggambarkan tanggung jawab dan kekuasaan insan sebagai wakil Tuhan di bumi. Sirr Insan ini adalah kesadaran batin yang mendalam bahwa manusia, melalui sifat-sifat ini, berperan sebagai refleksi dari Tuhan yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Berkuasa.

4. Hakikat Ruh Insan [ نَعْبُدُ - نَسْتَعِيْنُۗ ]

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
(Q.S. Al-Fatihah ayat 5)

# Hakikat Ruh Insan adalah suatu kekuatan energi yang dengannya segala sesuatu [ semua makhluk ciptaan ] memungkinkan dapat bergerak, bisa tumbuh dan berkembang sesuai kodrat dan kecenderungannya masing-masing sesuai ketentuan sunatullah yang berlaku. Merupakan ranah dari bahasan ilmu tentang " Sejatine Urip ".

Hakikat Ruh Insan yang terkandung dalam dua elemen نَعْبُدُ (Na'budu) dan نَسْتَعِيْنُۗ (Nasta'in) merujuk pada hubungan spiritual terdalam antara ruh manusia dan Tuhan. Kedua elemen ini merepresentasikan aspek penghambaan dan ketergantungan ruh kepada Sang Pencipta, yang dalam pemahaman esoterik mencakup perjalanan ruh menuju kesempurnaan dan penyatuan dengan sumber asalnya, yaitu Allah.

B1. نَعْبُدُ (Na'budu)

Na'budu berarti "kami menyembah." Ini adalah pernyataan penghambaan yang mendalam dan penuh kesadaran dari ruh insan kepada Tuhannya. Penghambaan ini mencerminkan bahwa eksistensi manusia tidak memiliki arti tanpa tunduk kepada Tuhan, karena manusia, dalam hakikat ruhnya, diciptakan untuk menyembah dan mengenal Tuhan.

Hakikat Ruh dalam Na'budu : Ruh insan dalam elemen ini merepresentasikan kesadaran penuh bahwa segala yang dilakukan adalah bentuk pengabdian kepada Tuhan. Ini menunjukkan bahwa ruh insan sadar akan tujuan utamanya, yaitu sebagai abdullah (hamba Allah). Dalam menyembah Tuhan, insan menyelaraskan seluruh kehendak, pikiran, dan perbuatannya dengan kehendak Ilahi. 
Na'budu melambangkan totalitas penyerahan diri ruh insan kepada Allah, di mana insan sepenuhnya mengakui bahwa hidupnya adalah untuk menyembah-Nya secara lahir dan batin.

B2. نَسْتَعِيْنُۗ (Nasta'in)

Nasta'in berarti "kami memohon pertolongan." Ini menggambarkan kesadaran ruh bahwa segala sesuatu di alam semesta dan dalam kehidupan manusia sepenuhnya bergantung pada pertolongan dan kekuasaan Tuhan. Nasta'in adalah pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan ruh insan, dan pada saat yang sama, menunjukkan ketergantungan total kepada kekuatan Tuhan.

Hakikat Ruh dalam Nasta'in : Elemen ini menunjukkan bahwa ruh insan memahami posisinya sebagai makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya tanpa bantuan Tuhan. Ruh insan yang menyadari hakikat Nasta'in akan selalu bergantung pada pertolongan Ilahi dalam setiap aspek kehidupannya, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Ini mencerminkan sifat kerendahan hati ruh insan, yang menyadari bahwa segala upaya yang dilakukan hanya dapat berhasil jika ada campur tangan dan rahmat dari Tuhan.

Kesimpulan

Hakikat Ruh Insan yang terkandung dalam نَعْبُدُ dan نَسْتَعِيْنُۗ menggambarkan dua dimensi penting dari hubungan ruhani antara manusia dan Tuhan:

Na'budu : Merupakan dimensi penghambaan di mana ruh insan sepenuhnya menyerahkan dirinya untuk menyembah dan mengabdi kepada Tuhan. Ini mencerminkan kesadaran spiritual bahwa tujuan keberadaan ruh adalah untuk menyembah-Nya dalam totalitas wujud.

Nasta'in : Merupakan dimensi ketergantungan di mana ruh insan mengakui keterbatasan dirinya dan memohon pertolongan kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Ini adalah manifestasi kerendahan hati ruh yang selalu mengandalkan kekuatan Ilahi dalam mencapai tujuan hidup.

Melalui kedua elemen ini, Ruh Insan mencapai keseimbangan spiritual yang sempurna: pengabdian total kepada Tuhan (Na'budu) dan ketergantungan mutlak kepada pertolongan-Nya (Nasta'in). Ini adalah perjalanan ruh yang membawa insan pada kesadaran tertinggi akan hakikat dirinya sebagai hamba yang selalu dalam naungan kasih sayang dan kekuasaan Tuhan.

5. Hakikat Hati Insan [ الْمُسْتَقِيْمَۙ ]

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

# Hati Insan adalah semacam sebuah microchip yang Allah tanam pada setiap diri manusia yang dengannya  manusia kemudian memiliki kehendak guna mencapai dan atau mendapatkan sesuatu yang dipandang tepat dan yang paling sesuai dengan dirinya. Merupakan ranah dari bahasan ilmu tentang " Bener Sejati ".

Hakikat Hati Insan dalam kalimat الْمُسْتَقِيْمَ 
( Al-Mustaqim ) merujuk pada hati yang berada di jalan yang lurus, atau dalam keadaan yang istiqamah (konsisten) dan seimbang dalam hubungannya dengan Tuhan dan kehidupan dunia. Al-Mustaqim dalam konteks hati insan mengandung makna keteguhan, keseimbangan, serta perjalanan menuju tujuan Ilahi tanpa penyimpangan. Berikut adalah penjelasan esoterik dari Al-Mustaqim terkait hakikat hati insan:

1. Jalan yang Lurus

Al-Mustaqim secara harfiah berarti "lurus" atau "tegak." Dalam konteks hati insan, ini mengacu pada hati yang selalu berusaha untuk berada di jalan yang benar, yaitu jalan yang sesuai dengan kehendak dan petunjuk Allah. Hati yang berada di jalan ini tidak condong ke arah keburukan, hawa nafsu, atau godaan duniawi yang dapat menyimpangkan insan dari tujuan spiritualnya.

Hakikat Hati dalam Al-Mustaqim : Hati insan yang lurus adalah hati yang seimbang antara aspek duniawi dan ukhrawi, selalu tertuju kepada Allah, dan senantiasa menjaga kemurnian niat serta tujuan hidupnya. Hati ini tidak terombang-ambing oleh keinginan duniawi atau godaan setan, tetapi tetap teguh dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan kebenaran Ilahi. Al-Mustaqim juga menyiratkan adanya ketenangan dan keikhlasan dalam hati insan, di mana segala tindakan dan keputusan yang diambil selalu berdasarkan panduan Ilahi, bukan atas dasar ego atau hawa nafsu.

2. Konsistensi (Istiqamah)

Hati yang berada dalam keadaan Al-Mustaqim adalah hati yang istiqamah, yaitu tetap konsisten dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Istiqamah ini bukan hanya dalam tindakan fisik, tetapi lebih dalam, yakni pada tingkat batin dan spiritual. Hati yang istiqamah tidak goyah meskipun menghadapi berbagai ujian dan tantangan hidup.

Hakikat Hati dalam Istiqamah : Dalam hakikatnya, hati yang istiqamah adalah hati yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, ketulusan, dan keikhlasan. Hati ini tidak mudah terpengaruh oleh keadaan eksternal, baik kesulitan maupun kenikmatan dunia, melainkan tetap konsisten dalam menempuh jalan menuju Tuhan. Ini juga mengandung makna hati yang sabar, tawakal, dan yakin akan petunjuk serta rahmat Allah.

3. Perjalanan Spiritual Menuju Kesempurnaan

Al-Mustaqim juga mencerminkan perjalanan spiritual hati insan menuju kesempurnaan. Hati insan yang berada di jalan yang lurus adalah hati yang terus berusaha memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mengikis segala sifat tercela yang dapat menghalangi perjalanan menuju-Nya. Ini adalah hati yang selalu mencari cahaya Ilahi untuk membimbingnya di setiap langkah kehidupan.

Hakikat Hati dalam Perjalanan Menuju Kesempurnaan : Hati insan yang memahami hakikat Al-Mustaqim sadar bahwa hidup adalah sebuah perjalanan spiritual menuju kesempurnaan. Setiap langkah, keputusan, dan tindakan adalah bagian dari usaha untuk mencapai tujuan akhir, yaitu ridha Allah dan kesatuan dengan-Nya. Hati ini selalu terbuka untuk menerima petunjuk Ilahi dan selalu introspektif, berusaha menyelaraskan setiap tindakan dengan kehendak Tuhan.

Kesimpulan

Hakikat Hati Insan dalam kalimat الْمُسْتَقِيْمَ (Al-Mustaqim) adalah hati yang teguh, konsisten, dan seimbang dalam menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Hati yang berada di jalan Al-Mustaqim selalu terarah kepada kebenaran Ilahi, jauh dari penyimpangan dan godaan duniawi. Ia mencerminkan kesadaran spiritual yang tinggi, di mana insan menjalani hidup dengan istiqamah, sabar, dan tawakal dalam menghadapi berbagai ujian.

Hati ini juga merupakan hati yang berproses menuju kesempurnaan, selalu mencari ridha Allah dan memperbaiki diri dalam perjalanan spiritualnya. Al-Mustaqim menggambarkan perjalanan hati yang lurus menuju Tuhan, melalui kesadaran, ketulusan, dan ketaatan penuh pada perintah-Nya.

6. Hakikat Akal Insan [ اَنْعَمْتَ ]

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

# Akal Insan adalah suatu alat yang Allah tanamkan dalam diri manusia yang dengannya manusia kemudian punya kemampuan memilih, memilah dan menimbang-nimbang suatu perkara atau suatu keadaan, dan atas dasar itu kemudian dia memutuskan suatu sikap dan atau melakukan suatu tindakan lugas dan yang dipandang paling menguntungkan dirinya. Merupakan ranah dari bahasan ilmu tentang " Sejatine Bener ".

Hakikat Akal Insan yang terkandung dalam kalimat اَنْعَمْتَ (An'amta) memiliki makna yang mendalam terkait dengan kesadaran akan nikmat dan anugerah dari Tuhan yang diterima oleh manusia. An'amta secara harfiah berarti "Engkau (Allah) telah memberi nikmat." Dalam konteks Akal Insan, ini menggambarkan bahwa akal adalah salah satu anugerah terbesar dari Tuhan, yang diberikan kepada manusia untuk memahami, merenung, dan mengenali kebenaran, baik tentang diri sendiri, alam semesta, maupun Sang Pencipta. Berikut adalah uraian esoterik dari An'amta dalam kaitannya dengan hakikat akal insan:

1. Kesadaran akan Nikmat Akal

Akal merupakan nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada insan untuk membedakan antara yang benar dan salah, baik dan buruk, serta untuk memahami hikmah di balik segala kejadian. Dalam kalimat An'amta, tersirat bahwa akal adalah bagian dari nikmat Allah yang memungkinkan manusia untuk merenungkan, memahami, dan mengapresiasi nikmat-nikmat lainnya yang diberikan Tuhan.

Hakikat Akal dalam An'amta : Akal insan, sebagai salah satu anugerah Ilahi, diberi kemampuan untuk mengenali dan memahami nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Akal yang sehat akan selalu berusaha untuk menyadari dan mensyukuri nikmat-nikmat ini, serta menggunakan anugerah tersebut untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. An'amta juga menyiratkan bahwa akal memiliki tanggung jawab untuk menggunakan nikmat tersebut dalam kerangka yang benar, yaitu untuk memahami dan mengikuti petunjuk Ilahi.

2. Penyambung antara Ilmu dan Hikmah

Akal insan yang dianugerahi oleh Tuhan memiliki kemampuan untuk memproses informasi, menyusun pemahaman, dan menarik hikmah dari ilmu yang diperoleh. Dalam konteks An'amta, akal insan adalah alat untuk menerima dan memanfaatkan anugerah ilmu dari Allah dengan benar. Ilmu yang diberikan kepada manusia melalui akal merupakan bagian dari nikmat yang harus disyukuri dan dipelajari dengan penuh kebijaksanaan.

Hakikat Akal sebagai Penyambung Ilmu : Akal yang dianugerahkan Tuhan membantu manusia dalam menyusun ilmu pengetahuan dan menarik hikmah di balik setiap kejadian. An'amta di sini menunjukkan bagaimana akal insan tidak hanya menerima nikmat dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk pengetahuan dan pemahaman yang lebih mendalam. Akal insan harus mampu merenungkan segala kejadian, menarik hikmah, dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk semakin mendekat kepada Allah.

3. Tanggung Jawab Penggunaan Akal

Dengan nikmat akal yang diberikan, insan memiliki tanggung jawab besar untuk menggunakannya dengan benar. Akal bukanlah alat yang bebas tanpa batas, tetapi harus digunakan dalam kerangka petunjuk Ilahi. An'amta menyiratkan bahwa penggunaan akal yang benar adalah bentuk syukur atas nikmat yang diberikan. Jika akal digunakan untuk tujuan yang baik, maka insan akan dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, namun jika disalahgunakan, maka ia akan jauh dari jalan yang benar.

Hakikat Akal sebagai Amanah : Akal insan adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga dan digunakan sesuai dengan kehendak-Nya. An'amta mengingatkan bahwa akal yang sehat harus digunakan untuk mencapai kebaikan, memahami perintah Tuhan, dan mengarahkan diri kepada kebenaran. Akal yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan melalui tindakan dan pemikiran yang benar akan selalu berada dalam rahmat dan bimbingan Ilahi.

4. Pengenalan akan Kebenaran dan Tuhan

Salah satu fungsi tertinggi dari akal insan adalah mengenali Tuhan dan kebenaran yang hakiki. Dalam konteks An'amta, akal insan dituntun untuk menyadari bahwa segala nikmat, termasuk akal itu sendiri, berasal dari Allah. Akal yang mampu mengenali bahwa segala anugerah berasal dari Tuhan adalah akal yang telah mencapai tingkat pemahaman spiritual yang lebih tinggi.

Hakikat Akal dalam Pengenalan Tuhan : Akal insan, yang merupakan nikmat Ilahi, digunakan untuk mengenali sumber segala nikmat, yaitu Allah. An'amta dalam konteks ini menunjukkan bahwa akal yang sehat akan selalu berusaha untuk mengenali dan mendekat kepada Tuhan, sebagai bentuk puncak dari pemahaman akan nikmat-Nya. Akal yang mampu mencapai kesadaran ini akan senantiasa berada di jalan yang lurus, karena ia telah menemukan sumber dari segala kebenaran dan petunjuk.

Kesimpulan

Hakikat Akal Insan dalam kalimat اَنْعَمْتَ (An'amta) adalah kesadaran bahwa akal adalah anugerah terbesar dari Tuhan yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab dan syukur. Akal insan diberikan kemampuan untuk mengenali nikmat-nikmat Ilahi, memahami hikmah di balik setiap kejadian, dan mencari kebenaran sejati. Akal yang digunakan dengan benar akan mampu mengarahkan insan kepada pengenalan dan ketaatan kepada Allah, serta mensyukuri setiap nikmat yang diberikan-Nya.

Dalam esensi terdalamnya, An'amta mengajarkan bahwa akal adalah sarana untuk memahami tujuan hidup, mengenali Tuhan, dan menjalankan kehidupan sesuai dengan petunjuk Ilahi. Akal yang bersyukur atas nikmat ini akan selalu berada dalam bimbingan Tuhan, sementara akal yang lalai akan tersesat dalam kebingungan dan kesesatan.


7.  Hakikat Insan Kamil  [ غَيْرِ - لَا ]

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  (٧)

bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

# Insan Kamil adalah suatu keadaan dimana manusia dalam keadaannya itu dapat mengetahui dengan nyata [ pasti ] dan dengan sebenar-benarnya kriteria tentang benar- salah [ sainstific ] . " Merupakan ranah dari bahasan ilmu tentang Alam Semesta" [ aspek dohir - batin dari benda benda ciptaan ]

Hakikat Insan Kamil (manusia sempurna) dalam kalimat غَيْرِ (ghayr) dan لَا (lā) pada ayat ke-7 surat Al-Fatihah berkaitan dengan pengungkapan esoterik mengenai manusia yang telah mencapai kesempurnaan dalam menjalani jalan spiritual. Insan Kamil merupakan manifestasi tertinggi dari insan yang telah menyelaraskan dirinya dengan hakikat Ilahi, sehingga ia mampu memahami makna terdalam dari setiap penolakan terhadap jalan kesesatan dan kesadaran akan apa yang bukan termasuk di dalam jalan yang lurus. Berikut adalah uraian hakikatnya:

C1. غَيْرِ (Ghayr) – "Bukan"

Ghayr secara harfiah berarti "bukan" atau "selain." Dalam konteks Insan Kamil, kalimat ini merujuk pada kemampuan untuk membedakan dan memisahkan diri dari segala hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini mencakup pemahaman yang mendalam tentang apa yang tidak termasuk dalam jalan kebenaran serta penolakan terhadap sifat-sifat yang tidak selaras dengan hakikat ketuhanan.

Hakikat Insan Kamil dalam Ghayr : Ghayr merepresentasikan kesadaran bahwa insan yang sempurna mampu mengenali dan menolak segala bentuk kesesatan dan perilaku yang menyimpang dari jalan lurus. Dalam kehidupan spiritualnya, Insan Kamil telah mencapai tingkat pemahaman yang dapat memisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Ia memiliki kecerdasan batin untuk menolak segala sesuatu yang bersifat egois, materialistis, atau menjauhkan dari Tuhan. Ghayr adalah simbol penolakan terhadap jalan yang diikuti oleh mereka yang dimurkai (الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ) atau mereka yang tersesat (الضَّآلِّيْنَ).

C2. لَا (Lā) – "Tidak"

Lā dalam ayat ini melambangkan penolakan yang tegas terhadap jalan kesesatan dan kebingungan. Pada tingkat hakikat Insan Kamil, Lā mewakili kekuatan penolakan yang mutlak terhadap segala bentuk penyimpangan dari kebenaran. Ini menunjukkan bahwa Insan Kamil bukan hanya menyadari apa yang benar, tetapi juga dengan tegas menolak dan menghindari segala hal yang tidak sesuai dengan tuntunan Ilahi.

Hakikat Insan Kamil dalam Lā : Lā pada tingkat ini menjadi representasi dari totalitas penolakan terhadap segala bentuk keberpalingan dari Tuhan. Insan Kamil tidak hanya mengikuti jalan yang lurus (صِرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ), tetapi juga dengan tegas menghindari segala hal yang dapat menjauhkan dirinya dari kesempurnaan spiritual. Penolakan ini tidak bersifat reaktif, melainkan lahir dari kesadaran yang mendalam dan pemahaman yang menyeluruh tentang hakikat kebenaran. Lā adalah bentuk penolakan terhadap segala bentuk keterikatan duniawi dan sifat-sifat rendah yang menghalangi insan untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan.

3. Pemisahan antara Kebenaran dan Kesesatan

Pada tingkat spiritual Insan Kamil, غَيْرِ dan لَا tidak hanya sekadar penolakan, tetapi merupakan bentuk penyempurnaan dari pemahaman batin mengenai kebenaran dan kesesatan. Insan Kamil berada pada tingkatan di mana ia mampu memisahkan dirinya dari segala bentuk kebingungan dan kesesatan serta mendekatkan dirinya kepada kebenaran sejati.

Hakikat Pemisahan Kebenaran dan Kesesatan : Ghayr dan Lā dalam konteks ini mencerminkan pemisahan batin antara apa yang benar dan apa yang salah. Insan Kamil telah mencapai tingkat kesadaran yang sempurna sehingga ia tidak hanya memilih jalan yang lurus, tetapi juga secara tegas menolak dan menjauhkan diri dari apa pun yang berpotensi membawa kepada kesesatan atau kemurkaan Tuhan. Kesadaran ini membawa Insan Kamil kepada pemahaman yang menyeluruh tentang realitas batin, di mana segala hal yang bukan kebenaran (غَيْرِ) dan segala bentuk penyimpangan (لَا) ditolak secara mutlak.

4. Peneguhan Ketauhidan

Pada level Insan Kamil, غَيْرِ dan لَا juga mencerminkan peneguhan akan ketauhidan. Dalam spiritualitas Islam, Lā merupakan simbol penting dalam kalimat tauhid "لَا إِلٰهَ إِلَّا الله" (Tidak ada Tuhan selain Allah). Dalam konteks ini, Lā mewakili penolakan terhadap segala tuhan palsu, sementara Ghayr menunjukkan pemisahan yang jelas dari segala bentuk keberhalaan atau kekeliruan dalam memahami hakikat ketuhanan.

Hakikat Ketauhidan dalam Ghayr dan Lā : Insan Kamil telah mencapai kesadaran akan tauhid yang sempurna, di mana segala bentuk ilah-ilah selain Allah telah ditolak dan ditinggalkan. Ghayr dan Lā menjadi peneguhan spiritual bahwa Insan Kamil hanya tunduk kepada Allah dan menolak segala bentuk keterikatan pada hal-hal duniawi yang dapat mengalihkan perhatian dari Tuhan. Kesadaran tauhid ini mencerminkan kesempurnaan spiritual, di mana Insan Kamil sepenuhnya berada di bawah naungan kebenaran Ilahi.

Kesimpulan

Hakikat Insan Kamil dalam kalimat غَيْرِ (Ghayr) dan لَا (Lā) mencerminkan penolakan yang tegas terhadap segala bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keberpalingan dari Tuhan. Insan Kamil adalah manusia sempurna yang telah mencapai tingkat pemahaman spiritual tertinggi, di mana ia mampu memisahkan kebenaran dari kesesatan serta dengan tegas menolak jalan yang menyesatkan.

Ghayr menunjukkan pemisahan yang jelas dari segala sesuatu yang bukan kebenaran, sementara Lā adalah penolakan mutlak terhadap segala bentuk keterikatan yang menjauhkan insan dari jalan Ilahi. Dalam kesempurnaan spiritualnya, Insan Kamil menghayati makna dari penolakan ini, sehingga ia tidak hanya berjalan di atas jalan yang lurus, tetapi juga menolak segala bentuk keburukan yang dapat menjauhkan dari Tuhan, sembari meneguhkan ketauhidan yang hakiki.

Semoga tulisan ini bermanfaat.




















Jumat, 30 Agustus 2024

Hakikat kata حَوْلَ dan kata قُوَّة

 By. Mang Anas 


لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم

" segala daya dan kekuatan dalam segala bentuk dan jenisnya itu kepunyaan Allah dan ia berasal dari Allah ". 

Secara hakikat, daya dan kekuatan yang Allah berikan kepada kita [ yang bentuknya berupa roh dan nyawa kita ],  itu disamping merupakan sebuah anugerah dan karunia yang besar dari Allah SWT, ia juga merupakan sebuah amanah. 

Roh dan nyawa selaku komponen daya dan kekuatan yang ada pada diri kita, dalam keadaannya sebagai anugerah maka ia bersifat netral [ tidak terkena hukum taklif ]. Tetapi dalam kedudukannya sebagai amanah maka semua penggunanya nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. 

Daya dan kekuatan yang Allah berikan kepada kita itu jika kita ibaratkan sebagai sebuah kendaraan dinas, maka diri kita lah yang menjadi selaku penggunanya. 

Maka pergunakanlah kendaraan dinas itu hanya untuk hal yang sesuai dengan peruntukannya. Janganlah dipakai sembarangan dan atau untuk tujuan lain.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (٥٦)

" Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku ".  (Q.S. Az-Zariyat ayat 56)


Mudah mudahan  dihadapan pengadilan Tuhan nanti, kita termasuk orang-orang yang selamat dan diselamatkan.



Kamis, 13 Juni 2024

NUBUAT TENTANG KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DALAM INJIL MARKUS

# Ilmu Hakikat  

By Mang Anas


A. TEKS AYAT, 

Penggarap Kebun 

1.Kemudian, Isa mulai bersabda kepada mereka melalui ibarat. Sabda-Nya, “Ada seseorang yang membuat kebun anggur. Ia memagari sekelilingnya, lalu menggali tempat untuk memeras anggur. Selain itu, didirikannya pula menara jaga. Kemudian, ia menyewakannya kepada beberapa penggarap sementara ia sendiri pergi ke negeri lain.

2 Ketika tiba musimnya, ia mengutus seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian hasil kebun anggur itu dari mereka. 

3 Tetapi, mereka menangkapnya, memukulinya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. 

4 Kemudian, pemilik kebun itu mengutus lagi hambanya yang lain, tetapi mereka memukul kepalanya dan mempermalukannya. 

5 Ia mengutus lagi hambanya yang lain, dan hamba yang ini pun mereka bunuh. Demikianlah seterusnya dengan hamba-hambanya yang lain, beberapa di antara mereka dipukuli dan beberapa yang lain juga dibunuh. 

6 Akhirnya hanya tinggal seorang lagi yang ada padanya, yaitu anak yang dikasihinya. Ia pun mengutus anaknya itu kepada mereka, pikirnya, ‘Mereka akan menghormati anakku.’ 

7 Tetapi, penggarap-penggarap itu berkata satu kepada lainnya, ‘Dia ahli waris. Mari kita bunuh dia maka warisan itu akan menjadi milik kita.’ 

8 Lalu, mereka menangkapnya, membunuhnya, dan melemparkannya ke luar kebun anggur. 

9 Apa yang akan dilakukan oleh pemilik kebun anggur itu? Tentu ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu. Setelah itu, ia akan mempercayakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap lainnya. 

10 Belum pernahkah kamu baca tulisan ini, ‘Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.

11 Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, dan merupakan hal yang ajaib di mata kita.’”

12 Kemudian, mereka mencari jalan untuk menangkap Isa karena mereka tahu bahwa ibarat itu ditujukan kepada mereka. Namun, mereka takut kepada orang banyak. Maka, pergilah mereka meninggalkan Isa.[ INJIL MARKUS 12 : 1- 12 ]

B. MAKNA TAFSIRNYA,

1. Yang dimaksud dengan pemilik kebun adalah Allah SWT, yaitu Tuhan Israel dan Tuhan Alam Semesta. 

2. Yang dimaksud dengan Kebun Anggur pada ayat diatas adalah agama yang dibawa oleh nabi Ibrahim As yang disebut " Millata Ibrahim " atau jalan Ibrahim [ agama Islam ] yang agama itu kemudian dipercayakan kepada semua anak cucunya baik yang lahir dari puak Ismail, puak Ishaq maupun dari puak Kentura. Wasiatnya adalah agar esensi agama itu supaya terus dipedomani, dijaga dan dirawatnya dengan baik.

3. Yang dimaksud dengan para penggarap [ para penyewa ] kebun adalah para pemimpin dan para pemuka agama dari kalangan Bani Israil 

4. Yang dimaksud dengan tiga hamba yang diutus oleh pemilik kebun anggur adalah Nabi Ilyas As, Nabi Zakaria As dan Nabi Yahya As [ Yohanes pembaptis ]. Ketiganya terbukti dalam sejarah telah menjadi target konspirasi penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh umatnya sendiri. 

5. Dan adapun yang dimaksud dengan anak majikan pada Markus 12 : 6 itu adalah Isa Al-Masih atau Yesus Kristus yang diutus Tuhan sebagai rasul bagi bangsa Israel. Tapi lagi lagi kemudian menjadi target pembunuhan oleh umatnya sendiri [ bani Israel ]. 

6. Yang dimaksud dengan para penggarap yang akan dihukum dan yang hendak dibinasakan oleh pemilik kebun anggur yang sangat kecewa dan marah itu adalah para pemimpin dan para pemuka agama bangsa Israel beserta seluruh pengikutnya yang telah membunuh nabi nabi. Penghukuman itu kemudian menjadi nyata dan tergenapi oleh peristiwa penghancuran Bait suci ke 2 oleh bangsa Romawi tahun 70 Masehi, peristiwa itu diiringi dengan terjadinya pembunuhan dan genosida atas bangsa Yahudi, hal yang kemudian menyebabkan terjadinya diaspora besar besaran bangsa Yahudi keseluruhan dunia untuk yang ke dua kalinya, berlangsung hingga sekarang. 

7. Yang dimaksud dengan tamsil kalimat " Setelah itu, ia akan mempercayakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap lainnya " adalah bahwa untuk selanjutnya rantai kenabian [ setelahnya nabi Zakaria, Yahya dan Isa ] akan Allah SWT alihkan dari bangsa Israel kepada bangsa Arab. 

8. Yang dimaksud dengan " Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru " adalah sebuah nubuat yang diutarakan oleh Yesus bahwa nabi yang akan diutus setelahnya akan muncul dari puak Ismael, yaitu dari keturunan Ibrahim yang dulu pernah dibuangnya ke sebuah gurun tandus di sekitar gunung paran [ kota Mekah sekarang ]. Dan nubuatnya itu kemudian terbukti dalam sejarah dengan diutusnya nabi Muhammad Saw sebagai batu penjuru [ nabi terakhir ] muncul dikota Mekah. Nabi itu diutus oleh Allah SWT kepada semua umat manusia. 

9. Yang dimaksud dengan kalimat " Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, dan merupakan hal yang ajaib di mata kita " adalah karena peristiwa kemunculannya jauh diluar prediksi bangsa Israel. Mereka yang semula mengharap-harap agar nabi yang ditunggu tunggu itu muncul dari kalangan mereka ternyata lahir dari bangsa Arab [ puak Ismael ]. 


Senin, 07 Agustus 2023

Kedudukan Huruf-huruf Hijaiyyah Serta Maknanya Pada Surat Al Fatiha dan Dalam Martabat Tujuh

Serial Ilmu Huruf,

By Mang Anas 


A. Pada Martabat Ahadiyah 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Fatihah ayat 1)

♤ Ini adalah fase dimana Allah SWT belum bertajali atau belum memanifestasikan dirinya menjadi apapun juga. Pada fase ini Allah SWT masih lah sendirian [ sebagai umpama titik ب pada lafadz Basmalah ], serta keberadaannya masih merupakan ketunggalan mutlak dan satu satunya [ Ahad ]. Pada fase ini belum ada satupun makhluk yang diciptakan-Nya.  Dengan demikian maka tidak ada satupun huruf yang layak duduk pada martabat ini.

B. Pada Martabat Wahdah

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (٢)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, (Q.S. Al-Fatihah ayat 2)

Hakikat martabat wahdah adalah Allah SWT dalam kedudukannya sebagai Nur Muhammad, sebagai اَلْحَمْدُ, atau Allah sebagai Cahaya Langit dan Bumi. Martabat wahdah adalah fase dimana Allah SWT ingin agar keberadaan diri-Nya dikenali. Maka Allah SWT kemudian berkehendak dengan ilmu-Nya dan menyatakan lewat kekuasaan-Nya untuk mulai menciptakan makhluk.

♤Inilah deretan huruf-huruf Hijaiyah serta kedudukannya yang ada pada Martabat Wahdah :

1. Huruf أ =  bermakna " Al-Hayyu & Al-Qoyyumu " atau Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri [ kedudukannya adalah Arsy ]

2. Huruf ب = bermakna " Al-Ilmu " atau Yang Maha Mengetahui [ kedudukannya adalah Al-Qolam ]

3. Huruf ت  = bermakna " Al-Iradat " atau Yang Maha Berkehendak [ kedudukannya adalah Lauhul Mahfud ]

4. Huruf ث =  bermakna " Al-Qudrat "  atau Yang Maha Berkuasa [ kedudukannya adalah Kursi ]

C. Pada Martabat Wahidiyah

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (٣)  مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ (٤)

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,  Pemilik hari pembalasan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 3 - 4)

Martabat wahidiyah adalah suatu fase dimana Allah SWT mentajalikan diri-Nya dalam wujud asma-asma-Nya yang utama. Yaitu Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Al-Malik, dan yang dengan nama-nama itu Allah SWT kemudian mulai menciptakan segala sesuatu, dan dimulai dari bentuk Roh. [ Mempelajari fisika partikel terkait kajian mengenai Higgs Boson atau Partikel Tuhan, mungkin bisa membantu ]. 

♤Inilah deretan huruf-huruf Hijaiyah serta kedudukannya yang ada pada Martabat Wahidiyah :

5. Huruf ج =  bermakna " Ar Rahman " yaitu Allah SWT dalam manifestasinya sebagai Sang Pencipta dan Sang Pemberi bentuk bagi sekalian makhluk-Nya [ lihat kitab-kitab dalam karya Ibn Arabi ].

6. Huruf ح =  bermakna " Ar Rahim " yaitu Allah SWT dalam manifestasinya sebagai Sang Pemelihara dan yang menopang kehidupan bagi sekalian makhluk-Nya. 

7. Huruf خ = bermakna " Al Malik " yaitu Allah SWT sebagai Sang Pelindung dan Yang Menjadi Penguasa bagi sekalian makhluk-Nya [ hakikat Al-Malik adalah segala sesuatu yang berlaku sebagai ketetapan hukum sunnatullah pada alam semesta dan diluar itu adalah terhadap segala apa yang dikehendaki-Nya ].


Bagan : Huruf Hijaiyah, Rumpun Serta Pengelompokanya


D. Pada Martabat Alam Ruh

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ (٥)

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)

Allah SWT kemudian menciptakan Roh sebagai bentuk pertama dari penciptaan-Nya. Yang penjelasannya adalah, segala sesuatu yang sekarang ini nampak sebagai esensi yang bersifat matrial [ nampak ada ], itu pada awalnya bermula dan atau tercipta dari suatu esensi yang bersifat imateril atau tercipta dari bentuk roh [ untuk lebih jelas maka lihat dan pelajari teori fisika quantum ]. 

Adapun alasan mengapa penciptaan roh itu dikaitkan dengan surat Al-Fatiha ayat 5 adalah karena pernyataan  " Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan " itu merupakan kodrat dari roh. Yakni ia akan senantiasa taat dan setia serta tegak-lurus kepada Allah SWT.

♤Inilah deretan huruf-huruf Hijaiyah serta kedudukannya yang ada pada Martabat Alam Ruh :

8. Huruf د = bermakna " Labb ", yaitu hati makrifat atau cahaya yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat Wushulnya kepada Allah SWT.

9. Huruf ذ =  bermakna " Fu'ad " yaitu hati hakikat atau cahaya yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat Ikhsan.

10. Huruf ر =  bermakna " Qolb " yaitu hati tarikat atau cahaya yang dapat mengantarkan manusia mencapai martabat Iman.

11. Huruf ز =  bermakna " Shadr " yaitu hati syariat atau cahaya yang dapat mengantarkan manusia mencapai martabat Islam.

E. Pada Martabat Alam Mitsal

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (٦)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (Q.S. Al-Fatihah ayat 6)

Dalam konsep martabat tujuh alam mitsal ini dapat diumpamakan alam bapak atau alam sperma atau alam jiwa atau nafs. Dimaksudkan sebagai wadah atau wahana bagi roh -roh yang akan diturunkan ke bumi. 

Keadaan roh-roh ini saat ia dihembuskan untuk pertama kalinya ke alam sperma [ alam bapak ] yang merupakan alam nafsu atau alam kegelapan,  akan mengalami kebingungan dan disorientasi. Karena ditempat asalnya roh-roh itu biasa hidup di alam terang. Maka wajarlah jika akhirnya iapun  segera mohon pertolongan kepada Tuhan  "  Tunjukilah kami jalan yang lurus ". 

♤Inilah deretan huruf-huruf Hijaiyah serta kedudukannya yang ada pada Martabat Alam Mitsal :

12. Huruf س =  bermakna manikam, sirr, dan sirr Muhammad. 

Ketiga unsur tersebut diatas adalah merupakan potensi batin manusia yang dikemudian hari akan berkembang menjadi esensi qolb, fu'ad dan labb. Dan akan menjadi jalan [ alat ] bagi manusia untuk mencapai martabat iman, derajat ikhsan serta wushul [ makrifat] kepada Allah SWT. 

13. Huruf ش = bermakna mani, madi dan wadi yang terkandung di dalamnya unsur manikam, sirr, dan sirr Muhammad. 

Unsur mani, madi dan wadi ini dikemudian hari akan berkembang menjadi jasad manusia dan harus ditaklif dengan tiga rukun Islam berupa shalat, puasa dan zakat untuk mencegahnya dari berbuat kerusakan dimuka bumi. 

Dan adapun secara biologis ketiga elemen yang berupa mani, madi dan wadi itu pada saatnya akan membentuk daging, tulung belulang dan darah manusia.

F. Pada Martabat Alam Ajsam

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ  (٧)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya;  (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

Hakikat alam Ajsam adalah suatu kondisi sebagaimana adanya di alam ibu dan disebut juga alam akal dan imajinasi. Didalam alam Ajsam ini bibit-bibit sperma yang berasal dari alam bapak [ yang berupa mani, madi, wadi, manikam, serta sirr dan sirr Muhammad ]  yang hakikatnya masih berupa simbol-simbol genetika akan diproses dan dibentuk lebih lanjut menjadi ciptaan yang bersifat fisik dan kemudian ia akan menjadi nyata dalam wujud seorang bayi yang ada di alam kandungan.

Dan adapun hakikat dari redaksi kalimat pada al-fatiha ayat 7 diatas adalah merupakan pernyataan roh saat dirinya  mengetahui harus dipatnerkan dengan akal didalam membingbing serta mengarahkan jiwa dan jasad. Roh mengetahui dengan pasti bahwa tabiat akal adalah pragmatis, lebih menyukai hal-hal praktis dan cenderung menghambakan dirinya kepada nafsu. 

Oleh karena itu maka karakter akal akan selalu mementingkan dirinya sendiri, dan bilamana perlu ia tidak akan segan mengambil jalan pintas. Akal akan berani menabrak apapun  demi mencapai tujuannya. Hal itu dikarenakan  hakikat akal adalah tidak ber tuhan. Akal itu tidak sebagaimana roh, ia tidak pernah mengikrarkan syahadat dihadapan Tuhan.

Itulah alasan mengapa saat dirinya mengetahui hendak dipatnerkan dengan akal, roh lagi-lagi membuat permintan "  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya " [ Al-Fatihah ayat 7 ], yakni jalan para syuhada, jalan orang-orang shaleh, jalan para siddiqin, serta jalan para nabi dan rasul. 

♤Inilah deretan huruf-huruf Hijaiyah serta kedudukannya yang ada pada Martabat Alam Ajsam :

14. Huruf ص = bermakna " عَلَقَةً " atau segumpal darah.

15. Huruf ض =  bermakna "  مُضْغَةً " atau segumpal daging.

16. Huruf ط = bermakna " عِظٰمًا " atau tulang belulang.

17. Huruf ظ = bermakna  " الْعِظٰمَ لَحْمًا " atau tulang belulang yang dibungkus dengan daging. 

G. Pada Martabat Alam Insan Kamil 

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  (٧)

bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah ayat 7)

Sesuai dengan namanya maka martabat insan kamil ini disebut sebagai kejadian atau ciptaan sempurna. Identik dengan lahirnya seorang jabang bayi. 

Munculnya pernyatan " bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat " adalah karena roh sangat menyadari bahwa tabiat daging atau jasad itu akan dapat menyeretnya kejalan yang dimurkai dan bahkan sesat.

♤ Dan adapun deretan huruf-huruf Hijaiyah serta kedudukannya yang berada pada Martabat Alam Insan Kamil ini adalah :

18. Huruf ع =  bermakna diri manusia pada fase Bayi [ خَلْقًا اٰخَرَۗ ] atau manusia yang berada pada fase awal kehadirannya dimuka bumi dan masih berada dalam proses penyempurnaan seluruh fungsi jasadnya, yaitu fungsi pendengaran dan penglihatan serta pertumbuhan seluruh jaringan syaraf dan sel-sel otaknya [ umur 0 - 11 bulan ].

19. Huruf غ =  bermakna diri manusia yang masih berada pada fase anak-anak, yaitu fase bermain dan masa berkembangnya seluruh fungsi-fungsi otak dan jaringan syarafnya [ umur 1- 10 tahun ]. 

20. Huruf ف =  bermakna diri manusia pada fase usia remajanya, yaitu merupakan fase pertumbuhan jiwa dan masih merupakan masa pencarian jati diri [ umur 11 - 20 tahun ]

21. Huruf  ق =  bermakna manusia yang berada pada fase usia pemuda, merupakan fase pertumbuhan roh dan masa berkembangnya seluruh potensi spiritual manusia. Pada fase Ini kondisi jiwa manusia sudah mulai mapan dan stabil, maka iapun secara berangsur akan sanggup menyesuaikan dirinya dalam berbagai situasi dan kondisi, serta akan mampu pula menghadapi berbagai tantangan yang berkembang dilingkungannya [ umur 21 - 30 tahun ].  

22. Huruf ك = bermakna manusia yang berada pada fase usia dewasa, suatu  fase dimana potensi hikmah dan kearifan [ sirr ] seseorang seharusnya sudah mulai tumbuh dan terus berkembang menuju kematangannya. Disisi lain kondisinya secara materiil sudah mulai mapan [ pada umumnya sudah hidup berkeluarga, memiliki anak,  memiliki fasilitas kendaraan dan sudah punya rumah ]. 

Maka fase ini disebut sebagai fase dharma, suatu tahapan umur dimana rata-rata manusia pada umumnya sudah mulai bisa memberikan kontribusi baik materiil maupun imateril kepada masyarakat dilingkungan disekitarnya [ umur 31 - 40 tahun ]

23. Huruf ل = bermakna manusia yang berada pada fase parubaya.  Dimana pada fase ini martabat dan kewibawaan seseorang sudah tumbuh mapan pada dirinya. Maka fase ini disebut sebagai fase kepemimpinan, fase makrifat dan disebut juga sebagai  fase nur dan cahaya [ umur 41 - 50 tahun ]. 

24. Huruf م = bermakna manusia yang berada pada fase tuanya. Pada umumnya mereka  sudah mapan secara materi dan pula sudah sangat matang secara mental dan spiritual. Maka fase ini disebut sebagai fase Mandito, suatu fase dimana seorang manusia harus sudah berusaha dengan sungguh-sungguh meraih derajat wushulnya kepada Allah SWT. Dalam tradisi hindu hal ini disebut sebagai peristiwa Moksa [ musti dicapai dalam rentang umur 51 - 60 tahun ].

25. Huruf ن =  bermakna manusia paripurna atau manusia yang sudah sampai kepada ajalnya [ yaitu kematiannya ].

26. Huruf و = bermakna suatu fase dimana sangkakala ditiupkan dan manusia serta jin dibangkitkan dari kuburnya.

27. Huruf ه = bermakna suatu fase dimana seluruh manusia dan jin dikumpulkan di Padang Ma'syar

28. Huruf لا =  bermakna suatu fase dimana semua amalan manusia dan jin akan dihisab dan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

29. Huruf ء =  bermakna suatu fase dimana manusia dan jin harus meniti suatu jembatan amal [ sirat ]

30. Huruf ي =  bermakna suatu fase atau suatu stasiun dimana manusia dan jin akhirnya ditempatkan, yaitu di Surga atau di Neraka.

Habis, ...

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat, 



Kamis, 03 Agustus 2023

Bagaimana Cara Terhindar Dari Godaan Setan, Iblis dan Dajjal

Serial Ilmu Huruf 

By Mang Anas

A. Drama Tentang Awal-Mula Perseteruan Adam Dan Iblis Dalam Al Qur'an 

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ (٧٢)

Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.”(Q.S. Sad ayat 72)

فَسَجَدَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ كُلُّهُمْ اَجْمَعُوْنَۙ (٧٣)

Lalu para malaikat itu bersujud semuanya,(Q.S. Sad ayat 73)

اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اِسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ (٧٤)

kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.(Q.S. Sad ayat 74)

قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّۗ  اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ (٧٥)

(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”(Q.S. Sad ayat 75)

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ (٧٦)

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”(Q.S. Sad ayat 76)

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَاِنَّكَ رَجِيْمٌۖ (٧٧)

(Allah) berfirman, “Kalau begitu keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk.(Q.S. Sad ayat 77)

وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْٓ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ (٧٨)

Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”(Q.S. Sad ayat 78)

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ (٧٩)

(Iblis) berkata, “Ya Tuhanku, tangguhkanlah aku sampai pada hari mereka dibangkitkan.”(Q.S. Sad ayat 79)

قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ (٨٠)

(Allah) berfirman, “Maka sesungguhnya kamu termasuk golongan yang diberi penangguhan,(Q.S. Sad ayat 80)

اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ (٨١)

sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).”(Q.S. Sad ayat 81)

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ (٨٢)

(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,(Q.S. Sad ayat 82)

اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ (٨٣)

kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”(Q.S. Sad ayat 83)

قَالَ فَالْحَقُّۖ وَالْحَقَّ اَقُوْلُۚ (٨٤)

(Allah) berfirman, “Maka yang benar (adalah sumpahku), dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan (Q.S. Sad ayat 84)

لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ (٨٥)

Sungguh, Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan kamu dan dengan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.” ( Q.S. Sad ayat 85)

B. Makna kata الْمُخْلَصِيْنَ [ mukhlasin ]

Secara bahasa kata الْمُخْلَصِيْنَ berasal dari akar kata خ-ل-ص  yang berarti bersih, murni dan sejati. Dan adapun dalam tinjauan ilmu huruf maka makna kata الْمُخْلَصِيْنَ pada Al-Quran surat Sad ayat 83 diatas adalah sebagai berikut, 

1. Huruf خ pada kata الْمُخْلَصِيْنَ adalah bermakna hati atau dada yang tertanam diatasnya benih keimanan yang kuat kepada Allah SWT

إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan." (QS. An-Nahl 16: Ayat 99)

إِنَّمَا سُلْطٰنُهُۥ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُۥ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِۦ مُشْرِكُونَ

"Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukannya dengan Allah." (QS. An-Nahl 16: Ayat 100)

2. Huruf ل bermakna keteguhan hati seorang hamba dalam melaksanakan pengabdiannya kepada Allah SWT, yaitu mereka yang  selalu berpegang teguh pada tali agama Allah. Dimaknai demikian karena huruf ل itu sebenarnya tersusun dari dua buah huruf, yaitu أ [ Alif ] yang disini bermakna pohon tegak lurus yang batangnya menjulang tinggi ke angkasa,  serta huruf ر yang menjadi perlambang akar yang tertancap kuat dan yang cabang-cabangnya menghunjam  jauh kedalam bumi.

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (٢٥٦)

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah ayat 256)

3. Huruf ص bermakna orang yang sanggup membebaskan dirinya dari dorongan hawa nafsunya, yakni dari kecenderungan syahwat yang muncul dari perut dan kelaminnya, dari sesuatu yang tetangkap oleh mata dan telinganya serta dari sesuatu yang muncul dan yang terlintas pada angan-angannya. Ada tiga cara yang dapat kita gunakan dalam melawan kecenderungan syahwat itu : 

a. Dengan cara mandi dan mendawamkan wudlu,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (٦)

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur. (Q.S. Al-Ma'idah ayat 6)

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ (١١)

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian).(Q.S. Al-Anfal ayat 11)


b. Dengan cara menyucikan harta kita melalui zakat, infak dan sidaqoh,

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (١٠٣)

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S. At-Taubah ayat 103)


c. Dengan cara memperbanyak shalat, mentadabburi Al-Quran, banyak menyebut dan mengingat Allah [ berdzikir  ],

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [ Surat Al-Ankabut (29) Ayat 45 ]


C. Kesimpulan 

Dengan demikian maka satu satunya cara agar kita terhindar dari godaan dan jerat Iblis, Setan dan Dajjal itu adalah hanya dengan usaha yang tidak kenal lelah dalam memupuk rasa keimanan kita kepada Allah, tekad untuk mengabdikan diri hanya kepada-Nya, dan lalu kita berikhtiar menghindarkan diri sejauh-jauhnya [ utamanya hati, mata dan telinga kita ] dari hal-hal yang selain Allah,  yakni dari gemerlapnya kehidupan dunia dan segala tetek bengek kenikmatan yang dijanjikannya. Atau dengan kata lain satu satunya cara kita agar bisa selamat dan terhindar dari jerat Setan, Iblis dan Dajjal adalah, dengan menerapkan prinsip hidup zuhud [ yakni kita hanya boleh mengambil seperlunya ] dari kenikmatan dunia. Hal itulah yang harus bisa kita tetapkan terhadap diri kita,  istri dan kepada anak-anak kita. 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ (٦)

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.  (Q.S. At-Tahrim ayat 6)

Demikianlah semoga pengetahuan ini bermanfaat




Rabu, 02 Agustus 2023

Makna Kata خَـٰشِعُونَ Dalam Tinjauan Bahasa dan Ilmu Huruf

Serial Ilmu Huruf 

By. Mang Anas 


A. Ayat-ayat Al Quran yang didalamnya terdapat kata خَـٰشِعُونَ, yaitu pada tiga ayat berikut ini,

ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَـٰشِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, [ Surat Al-Mu'minun (23) Ayat 2 ]

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ لَمَن يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًۭا قَلِيلًا ۗ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati خَـٰشِعِينَ ] kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya [ Surat Ali-Imran (3) Ayat 199 ]

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًۭا وَرَهَبًۭا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami [ Surat Al-Anbiya (21) Ayat 90 ]


B. Makna huruf kata خَـٰشِعُونَ

Kata خَـٰشِعُونَ dalam bahasa Arab berasal dari kosa kata  خ- ش -ع  yang secara lughot [ bahasa ] artinya taat, jujur, tegak lurus dan atau sungguh sungguh. Adapun secara ilmu huruf ia bermakna sebagai berikut, 

1. Makna Huruf  خ pada kata خَـٰشِعُونَ adalah keadaan dada [ kondisi hati ] seseorang yang terberkati. Dimaknai demikian karena ح adalah simbol dari dada manusia  sedang titik ن itu bermakna karunia atau anugerah atau suatu warid yang merupakan pemberian dari Allah SWT. 

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ (٣٤)

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan [ mengubah sikap dan cara pandanganya terhadapmu ] layaknya [ seorang ] teman yang [ tulus, lagi ] setia.(Q.S. Fussilat ayat 34)

وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ (٣٥)

Dan (sungguh sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Q.S. Fussilat ayat 35) 

2. Makna huruf  ش  pada kata  خَـٰشِعُونَ adalah pertanda bahwa dua elemen diri kemanusiaan yang ada pada orang itu [ yaitu keadaan diri jasad dan keadaan diri batinnya atau jiwanya ]  telah terberkati,  serta orientasi hidupnya sudah condong kepada huruf ر, yaitu hanya untuk mengabdi atau melayani. Dimaknai demikian sebab huruf  ش itu berasal dari susunan dua huruf آ yang berarti dua diri yang terberkati [ terbekati oleh ن ], dan lalu kemudian disambung dengan sebuah huruf  ر yang juga bertitik ن, maka menjadilah ia bermakna melayani atau mengabdi. 

اِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنٰىٓۙ اُولٰۤىِٕكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ ۙ (١٠١)

Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka). (Q.S. Al-Anbiya' ayat 101)

لَا يَسْمَعُوْنَ حَسِيْسَهَاۚ وَهُمْ فِيْ مَا اشْتَهَتْ اَنْفُسُهُمْ خٰلِدُوْنَۚ (١٠٢)

Mereka tidak mendengar bunyi desis (api neraka), dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka ingini.  (Q.S. Al-Anbiya' ayat 102)

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْاَكْبَرُ وَتَتَلَقّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُۗ هٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ (١٠٣)

Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (Q.S. Al-Anbiya' ayat 103)

3. Dan adapun makna huruf ع pada kata  خَـٰشِعُونَ adalah diri [ hati ] hamba yang keadaanya senantiasa menengadah kepada Allah SWT. Yaitu hatinya tidak lagi berpaling kepada yang selain Allah. Satu-satunya yang dia harapkan dalam hidup adalah ridha dan rakhmat Allah semata [ cermati huruf ع itu dari bentuknya, orang yang sedang menengadah ]. 

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ  وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ (٤٥)

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (Q.S. Al-Baqarah ayat 45)

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَنَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ (٤٦)

(yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Q.S. Al-Baqarah ayat 46)

Pemaknaan huruf-huruf yang saya suguhkan disini adalah diambil dari bentuknya, sebab memang seperti itulah persisnya yang disampaikan disaat saya menerima pengajaran ilmu itu [ ilmu huruf ] dari suatu entitas yang identitasnya tidak perlu saya jelaskan disini. Dan cara itu atau gaya pemaknaan yang seperti itu adalah yang juga ternyata dipakai atau dipergunakan oleh Ibn Arabi disaat beliau membedah ilmu hurufnya [ lihat kitab beliau Futukhat Al Makiyyah jilid 1 dan 2, pokok bahasan tentang ilmu huruf ]. 

Semoga artikel ini memberi manfaat