By. Mang Anas
---
Pendahuluan : Ketika Islam Tinggal di Bibir, dan Tuhan Tidak Lagi Dikenal Lewat Kerja.
“Masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS Al-Baqarah: 208)
Di balik ayat ini tersembunyi sebuah rahasia besar tentang perbedaan iman dan Islam yang selama berabad-abad tereduksi oleh tafsir ritualistik. Padahal, dua kata itu menandai dua tingkat kesadaran spiritual manusia, dan dari perbedaan itulah nasib ruhani seseorang ditentukan : apakah ia akan menjadi penghuni surga, atau hanya penghuni ‘Araf—mereka yang terhenti di antara iman dan Islam.
Sesungguhnya, musibah terbesar umat bukanlah hilangnya kekuasaan, melainkan terjadinya jarak antara iman dan Islam. Kita beriman kepada Allah, tapi belum bekerja untuk-Nya. Kita meyakini Tuhan sebagai Pencipta, tapi tidak menempatkan diri sebagai pekerja dalam proyek ciptaan-Nya. Kita menyebut na‘budu, tapi mengartikannya “menyembah”, bukan “mengabdi dan bekerja”.
Maka jadilah Islam sebatas ritual, bukan sistem kehidupan. Padahal dalam bahasa Allah, Islam bukan sekadar agama — tetapi sistem kerja kosmik yang menata seluruh ciptaan dalam harmoni.
Langit dan bumi bertasbih bukan karena mereka berzikir dengan lisan, melainkan karena mereka bekerja tanpa membantah perintah-Nya.
Matahari tidak pernah lalai terbit, air tidak pernah malas mengalir, dan bumi tidak pernah lupa menumbuhkan benih — itulah tasbih sejati, itulah Islam.
Manusia yang sejati seharusnya menjadi bagian dari simfoni itu : berfungsi sebagaimana Tuhan menugaskannya. Namun banyak manusia berhenti di pintu iman, mengaku mengenal Tuhan tapi belum masuk ke rumah Islam. Mereka mengenal cahaya, tapi belum berjalan di dalamnya. Dan di antara pengakuan dan tindakan itu terbentang lembah yang kelak disebut Al-Qur’an sebagai ‘Araf — tempat orang-orang yang tidak kafir, tetapi juga belum benar-benar beriman.
Dari lembah inilah risalah ini berbicara. Sebuah ajakan untuk beranjak dari iman menuju Islam, dari ucapan menuju tindakan, dari dzikir menuju fungsi.
Sebab hanya dengan itulah manusia bisa kembali menjadi khalifah, yakni makhluk yang bukan hanya menyebut nama Allah, tetapi benar- benar bekerja atas nama-Nya.
---
1. Iman adalah mengenal Majikan.
> “Orang-orang Arab Badui berkata : kami telah beriman. Katakanlah : kalian belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk (aslamnā), karena iman belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS Al-Ḥujurāt:14)
Ayat ini mengandung pelajaran mendalam : beriman belum tentu berislam, dan berislam belum tentu beriman.
Iman berarti memiliki majikan — mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan. Sedangkan Islam berarti bekerja untuk majikan itu — tunduk, berfungsi, dan menjalankan tugas sesuai kehendak-Nya.
Banyak manusia yang sudah mengenal Tuhan (beriman), tetapi belum bekerja dalam sistem ketuhanan itu (belum berislam).
Sebaliknya, ada pula yang telah menjalankan sistem Islam secara lahir (shalat, puasa, zakat), tetapi hatinya belum mengenal siapa sebenarnya Tuan yang ia layani (belum beriman).
Keduanya belum sempurna hingga iman dan Islam bersatu menjadi amal yang hidup.
---
2. Islam adalah bekerja untuk Majikan itu.
> “Udkhulū fis-silmi kāffah” – Masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh. (QS Al-Baqarah : 208)
Islam bukan sekadar agama yang dianut, tapi sistem kerja yang dijalani. “Na‘budu” dalam iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn bukan “kami menyembah-Mu,” melainkan “kami bekerja untuk-Mu.” Bukan ritual, tapi fungsi. Bukan sujud di sajadah, tapi pengabdian total dalam hidup.
Islam berarti beroperasi dalam sistem Allah. Ia melibatkan seluruh sendi kehidupan : ekonomi, sosial, politik, ilmu, dan budaya — semuanya diorientasikan untuk menghidupkan nilai-nilai Tuhan di bumi. Itulah makna masuk ke dalam Islam secara kaffah : menjadikan seluruh hidup sebagai proyek Ilahi.
---
3. Tasbih adalah ketaatan kosmik, bukan ritual lisan.
> “Bertasbih kepada Allah segala yang di langit dan di bumi.” (QS Al-Ḥadīd:1)
Tasbih bukan sekadar ucapan Subḥānallāh, melainkan ketaatan fungsional terhadap hukum Allah. Setiap makhluk tunduk pada orbitnya : matahari terbit tepat waktu, air mengalir memberi kehidupan, pohon tumbuh memberi oksigen.
Itulah tasbih sejati — bekerja sebagaimana Allah menakdirkan.
Maka manusia pun baru bertasbih bila berfungsi sesuai fitrahnya : menegakkan kebenaran, menumbuhkan rahmat, dan menjaga keseimbangan bumi. Mereka yang berzikir tapi tidak berfungsi, sejatinya belum bertasbih.
---
4. Syukur adalah mengoptimalkan nikmat.
> “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai tanda syukur.” (QS Saba’:13)
Syukur bukan sekedar berkata dalam hati, melainkan tindakan memproduktifkan karunia Tuhan. Mereka yang hanya berkata alhamdulillah tapi menyia-nyiakan nikmat waktu, potensi, dan ilmu—sesungguhnya belum bersyukur. Syukur yang benar melahirkan karya, bukan sekadar rasa.
Sebagaimana daun bersyukur dengan berfotosintesis, tulang bersyukur dengan menyangga tubuh, dan manusia bersyukur ketika mengerahkan potensi hidupnya untuk menegakkan keadilan dan kasih sayang.
Maka seluruh alam adalah muslimin sejati, karena semuanya bekerja dan tunduk sesuai kodratnya.
---
5. Alhamdulillah dan Allahu Akbar adalah kesadaran orientatif, bukan slogan.
Alhamdulillah artinya : semua hasil, daya, dan keberhasilan kembali kepada Allah.
Allāhu Akbar artinya : tidak ada sistem, kekuasaan, atau tujuan yang lebih besar dari Allah.
Namun ketika dua kalimat ini hanya menjadi gema di lisan, tanpa mengubah orientasi hidup, ia kehilangan ruhnya. Ucapan tanpa tindakan hanyalah zikir yang menggantung di udara.
Seorang yang benar-benar mengucap Allāhu Akbar akan menolak setiap kekuasaan yang menindas, karena ia tahu : tidak ada kekuasaan yang lebih besar dari Allah.
Dan seorang yang benar-benar berkata Alhamdulillah akan menolak kesombongan atas hasil, karena ia tahu : tidak ada yang berhak dipuji selain Dia.
---
6. Lembah ‘Araf : ruang antara ucapan dan perbuatan.
Al-Qur’an menyebut satu kelompok manusia yang berada “antara surga dan neraka” :
> “Dan di antara keduanya ada dinding, dan di atas ‘Araf itu ada orang-orang yang saling mengenal.” (QS Al-A‘rāf:46)
Mereka beriman, tapi belum berislam. Mereka bertasbih, beralhamdulillah, dan bertakbir, tetapi hanya di level kata dan rasa, belum di level fungsi dan kerja. Mereka berhenti di perbatasan, karena tidak pernah benar-benar “masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.”
Mereka tidak kafir, tapi juga belum layak disebut mukmin sejati.
Mereka tergantung di tengah—dan di sanalah lembah ‘Araf terbentang.
---
7. Jalan keluar dari lembah ‘Araf adalah Islam total.
> “Masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS Al-Baqarah:208)
Islam kaffah berarti menjadikan seluruh aspek kehidupan - ekonomi, pendidikan, politik, budaya, dan spiritualitas — sebagai ekspresi pengabdian. Inilah tingkat kesadaran di mana manusia tidak hanya beriman kepada Allah, tetapi menjadi alat kerja Allah di bumi. Ia berpikir, bekerja, dan mencipta dalam orbit rahmat Ilahi. Itulah manusia yang hidup dalam “tasbih fungsional” dan “amal syukur”, bukan sekadar ritual dan retorika.
Ketika manusia telah sampai di derajat ini, ia tidak lagi memisahkan antara dunia dan akhirat, antara ibadah dan profesi, antara dzikir dan tindakan. Semuanya menjadi satu tarikan napas pengabdian : “inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil ‘ālamīn.” Inilah Islam yang hidup — bukan sekadar dihafal, tapi dihayati dan dijalani.
---
🌿 Penutup : Kembali Menjadi Khalifah
Kebenaran wahyu menuntun kita pada satu simpul : bahwa iman adalah kesadaran, Islam adalah tindakan. Keduanya tidak boleh dipisahkan.
Beriman berarti mengakui Tuhan sebagai Majikan. Berislam berarti bekerja untuk-Nya. Dan siapa yang hanya berhenti pada pengakuan tanpa kerja, ia tidak lebih dari pegawai yang mengaku punya majikan tetapi tak pernah masuk kantor.
Umat Muhammad harus bangkit dari lembah ‘Araf. Kita telah terlalu lama berhenti di pinggir iman dan mengira sudah sampai pada Islam. Padahal Islam sejati bukan di bibir, bukan di hati, tapi di fungsi dan karya.
Itulah makna sejati dari “iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.” Kami bekerja hanya untuk-Mu, dan hanya dari-Mu kami menerima daya kerja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar