Halaman

Selasa, 28 Oktober 2025

Hiperbola Ibn Arabi : Mikrokosmos Lebih Besar daripada Makrokosmos

By. Mang Anas 


Pernyataan Ibn ‘Arabi yang sekilas tampak hiperbolik dan membingungkan pembaca awam itu, sejatinya adalah sebuah proposisi metafisik tingkat tinggi, bukan pernyataan puitik. 🌌

Kalimat beliau bahwa “mikrokosmos (al-insān ash-shaghīr) sebenarnya lebih besar daripada makrokosmos (al-‘ālam al-kabīr)” adalah hasil dari kesadaran wahdah — kesadaran bahwa realitas batin manusia adalah cermin langsung dari realitas Ilahi.

Mari kita uraikan kedalaman logika di balik ucapan itu.

1. Makrokosmos dan Mikrokosmos : Dua Cermin dari Satu Wujud

Dalam kosmologi filsafat Islam klasik :

Makrokosmos (al-‘ālam al-kabīr) adalah alam semesta, ruang-waktu, bintang, materi, dan seluruh manifestasi ciptaan.

Mikrokosmos (al-insān ash-shaghīr) adalah manusia, yang di dalam dirinya tercermin seluruh struktur eksistensi semesta.

Namun bagi Ibn ‘Arabi — sebagaimana bagi para arif sejati — “mikro” dan “makro” hanyalah relatif bagi pandangan inderawi.

Dalam pandangan hakikat, jiwa manusia mengandung seluruh pola eksistensi kosmos, bahkan menjadi cermin tempat Tuhan menampakkan diri-Nya secara paling sempurna.

> “Al-‘ālamu mazharun, wal-insānu mazharul jam‘.

“Alam adalah tempat penampakan (Tuhan), tetapi manusia adalah tempat penampakan yang menyatukan semuanya.”

2. Yang Batin Lebih Luas dari yang Lahir

Ketika Ibn ‘Arabi berkata “yang batin lebih luas dari yang lahir”, ia sedang berbicara dalam perspektif tingkatan wujud (marātib al-wujūd), bukan dalam ukuran ruang fisik.

Logikanya begini :

1. Tingkatan Jasad (Dohir)

Dimensi : Materi 

Sifat : Terbatas oleh ruang dan waktu

Ruang Cakupan : Kecil, partikular 

2. Tingkatan Jiwa (Batin)

Dimensi : Kesadaran

Sifat : Tidak terikat ruang dan waktu

Ruang Cakupan : Luas, meliputi

3. Tingkatan Ruh

Dimensi : Cahaya Ilahi

Sifat : Tak terukur

Ruang Cakupan : Tak terbatas

4. Tingkatan Sirr (Hakikat Ilahi dalam diri) 

Dimensi : Pusat tauhid

Sifat :  Meliputi seluruh wujud

Ruang Cakupan : Mencakup segalanya

Maka ketika kesadaran batin seseorang terbangun sepenuhnya, ia tidak lagi melihat dirinya di dalam alam, tetapi melihat alam di dalam dirinya. Seperti cermin yang semula memantulkan cahaya, kini menjadi cahaya itu sendiri.

> Itulah sebabnya Nabi ﷺ bersabda :

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

(من عرف نفسه فقد عرف ربه)

3. Perspektif Kosmik : Dari Luasnya Alam ke Luasnya Jiwa

Secara empiris, semesta tampak tak terbatas — tetapi kesadaran manusia mampu memikirkan, membayangkan, dan menampung seluruh semesta itu dalam satu ruang batin : Imajinasi dalam pikirannya.

Jadi dalam arti epistemologis dan eksistensial :

Alam semesta ada di luar manusia, tapi dipahami di dalam kesadarannya. Maka kesadaran (batin) itu sejatinya lebih luas daripada alam yang ia pahami.

Dengan kata lain :

> Alam semesta adalah objek; sedangkan kesadaran manusia adalah ruang bagi segala objek.

Maka yang batin — kesadaran — meliputi yang lahir.

4. Perspektif Qur’ani dan Teologis

Qur’an sendiri memberi landasan bagi pandangan ini :

> “Wa fī anfusikum, afalā tubṣirūn.

Dan (tanda-tanda Kami) juga ada dalam dirimu, maka tidakkah kamu melihat?” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 21)

> “Wanafaḫtu fīhi min rūḥī.”

“Dan Aku tiupkan ke dalamnya Ruh-Ku.” (QS. As-Sajdah [32] : 9)

Jika manusia mengandung nafakh (hembusan) langsung dari Ruh Ilahi, maka dimensi batinnya adalah cermin eksistensi Tuhan itu sendiri — yang tentu tak terbatas.

Karena itu Ibn ‘Arabi menegaskan :

> Al-Insān al-Kāmil huwa ‘ālamun kabīrun la yanqadhi.”

“Manusia sejati adalah alam besar yang tak bertepi.”

5. Kesimpulan : Hiperbola yang Justru Akurat

a. Perspektif Fisik (indra) 

Yang Lahir  : Alam tampak luas, manusia kecil

Yang Batin : _

b. Perspektif Kesadaran (akal)

Yang Lahir : Alam dipahami oleh manusia

Yang Batin : Kesadaran meliputi alam

c. Perspektif Spiritual (ruh) 

Yang Lahir : Alam fana, batin kekal

Yang Batin : Yang batin adalah cermin Wujud Tuhan

d. Perspektif Hakikat

Yang Lahir :  “Yang nampak” (Ẓāhir)

Yang Batin : “Yang tersembunyi tapi meliputi” (Bāṭin)

Maka kalimat Ibn ‘Arabi bukan hiperbola, tapi pernyataan logis dari perspektif tauhid eksistensial :

> “Yang batin (kesadaran) lebih besar dari yang lahir (materi), karena yang lahir hanyalah bayangan dari yang batin.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar