By. Mang Anas
Pendahuluan
Dalam lanskap keislaman Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah dua tiang penyangga utama yang membentuk wajah keberagamaan umat. Keduanya lahir dari rahim sejarah yang sama, namun tumbuh dengan karakter yang berbeda. Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam modernis yang menekankan rasionalitas, sistem, dan kerapian manajemen. Sementara NU berkembang sebagai jaringan kultural yang berakar pada pesantren, tradisi ulama, dan kharisma personal para kiai.
Perbedaan ini tak hanya tampak dalam aspek teologis dan metode dakwah, tetapi juga dalam cara kedua ormas ini menanggapi arus modernitas, terutama ketika berhadapan dengan kekuasaan, kemewahan, dan godaan duniawi. Dalam dua dekade terakhir — terutama di era pemerintahan Jokowi — NU menikmati perhatian dan dukungan negara dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pesantren-pesantren besar berkembang pesat, fasilitas membaik, dan posisi sosial para kiai menguat secara signifikan.
Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul gejala baru: sebagian oknum di lingkungan pesantren terlihat “kagetan” dengan limpahan sumber daya. Kemewahan yang dulu asing kini hadir begitu dekat, dan tidak semua siap menghadapinya dengan kedewasaan spiritual. Hal ini menimbulkan kesan kontras jika dibandingkan dengan Muhammadiyah, yang secara historis lebih terbiasa mengelola kekuasaan dan dana secara sistemik dan institusional, sehingga relatif lebih tahan terhadap godaan personal.
Fenomena ini bukan sekadar perbandingan ormas, melainkan cermin bagaimana kekuatan agama berinteraksi dengan kekuasaan modern. Di sinilah pentingnya membedakan antara marwah agama dan perilaku oknum, antara kekuatan spiritual dan daya tarik materi, antara kesakralan dan kekuasaan. Kritik yang sehat dan jernih diperlukan — bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menjaga kemuliaan Islam dari dalam tubuhnya sendiri.
Apa yang saya ungkapkan disini sebenarnya bukan sekadar kesan pribadi, melainkan fenomena sosiologis dan historis yang sangat nyata dalam perkembangan dua ormas Islam terbesar di Indonesia — NU dan Muhammadiyah.
Keduanya sama-sama lahir dari rahim umat Islam, tapi berbeda orientasi, kultur, dan sejarah perjumpaan dengan modernitas.
Karena itu, cara mereka menanggapi kekuasaan, uang, dan kemewahan duniawi pun berkembang secara berbeda.
🕊️ 1. Perbedaan DNA Gerakan Sejak Awal
🕌 NU (1926)
Lahir sebagai gerakan ulama pesantren tradisional untuk melindungi otoritas keagamaan lokal dari penetrasi modernisme dan kolonialisme.
Basis sosialnya: desa, masyarakat tradisional, pesantren, dan para kiai karismatik.
Kekuatan NU bersumber dari “karisma personal” kiai dan jaringan kulturalnya.
Struktur NU awal sangat cair — lebih seperti jejaring kultural daripada organisasi modern yang rigid.
🏫 Muhammadiyah (1912)
Lahir sebagai gerakan modernis-reformis, terinspirasi gerakan pembaruan Islam global (Abduh, Al-Afghani).
Basis sosialnya : kelas menengah kota, guru, pedagang, cendekiawan.
Kekuatan Muhammadiyah bersumber dari institusi — sekolah, rumah sakit, dan organisasi yang disiplin.
Sejak awal sangat rasional, mengedepankan manajemen dan tertib organisasi.
👉 Karena itu :
NU tumbuh organik dan berbasis figur,
Muhammadiyah tumbuh institusional dan berbasis sistem.
🪙 2. Perbedaan Cara Bertemu dengan Modernitas dan Uang
NU :
Sebagian besar kiai dan pesantren lama baru bersentuhan serius dengan kekuasaan dan dana besar pasca reformasi — terutama era Jokowi.
Banyak pengasuh pesantren tidak terbiasa dengan manajemen kekayaan dalam skala besar, sehingga ketika uang dan fasilitas besar datang, ada yang gagap dan “tergoda”.
Karena NU bersandar pada figur personal, kontrol terhadap gaya hidup elit lebih lemah dan bersifat sosial, bukan institusional.
Muhammadiyah :
Sejak awal terbiasa mengelola dana organisasi, sekolah, dan amal usaha secara rapi.
Ulama Muhammadiyah tidak memegang otoritas absolut seperti kiai NU — mereka tunduk pada aturan organisasi (AD/ART, keputusan tanwir, dan musyawarah).
Kekayaan dikelola oleh lembaga, bukan personal. Maka kemewahan personal relatif lebih terkendali.
👉 Karena itu ketika dana besar datang :
Muhammadiyah lebih siap secara sistem.
NU cenderung tergantung karakter individu — sehingga muncul ketimpangan antara kiai sederhana dan kiai “baru melek kemewahan”.
⚖️ 3. Budaya Organisasi vs Budaya Patronase
1. Basis Massa :
NU, Tradisional
Muhammadiyah, Modern
2. Struktur :
NU, Figur kiai, patronase Kolektif,
Muhammadiyah, berbasis lembaga
3. Otoritas :
NU, Karisma personal
Muhammadiyah, Musyawarah & aturan organisasi
4. Pengelolaan dana :
NU, Tergantung pengasuh pondok
Muhammadiyah, Dikelola lembaga
5. Budaya hidup :
NU, pemimpin Bervariasi (ada yang sederhana, ada yang mewah)
Muhammadiyah, Umumnya moderat dan terkendali
6. Respon terhadap kritik :
NU, Cenderung personal/fanatik
Muhammadiyah, Lebih terbuka terhadap mekanisme organisasi
7. Kontrol :
NU, moral Sosial & kultural
Muhammadiyah, Struktural & etis
👉 Inilah sebabnya kenapa banyak masyarakat memandang Muhammadiyah “lebih tenang dan mapan”, sedangkan NU kadang tampak “kagetan” ketika masuk dunia gemerlap politik dan ekonomi modern.
🧠 4. Kedewasaan Menghadapi Kekuasaan
Ulama Muhammadiyah pada umumnya lahir dan dibentuk dalam kultur rasional dan terbiasa berinteraksi dengan struktur modern — perguruan tinggi, birokrasi, NGO, dunia internasional.
Kiai NU (terutama di pedesaan) banyak lahir dari kultur pesantren tradisional, yang minim kontak dengan dunia modern.
Maka ketika tiba-tiba ada dana APBN besar, proyek infrastruktur, bantuan politik, atau jabatan — sebagian di antaranya mudah tergoda dan silau.
Ini bukan menyalahkan satu pihak — ini perbedaan kesiapan mental dan sistemik.
🧭 5. Masalahnya Jadi Serius Karena “Aura Sakral”
Seperti dikatakan sebelumnya :
NU punya lapisan fanatisme yang kuat. Maka ketika ada kiai bergaya hidup mewah :
> Tidak ada yang berani mengingatkan secara terbuka,
> Kritik dianggap menyerang agama,
> Maka perilaku mewah bisa mendapat pembenaran kultural, bukan koreksi.
Sebaliknya, di Muhammadiyah :
> Ulama bukan figur sakral, tapi fungsionaris organisasi,
> Kritik dan koreksi bisa lewat mekanisme lembaga,
> Maka gaya hidup berlebihan akan lebih cepat mendapat tekanan internal.
🕯️ 6. Catatan Penting : NU Juga Masih Punya Banyak Kiai Sederhana
Tentu, tidak semua kiai NU silau kemewahan. Masih banyak sekali ulama NU yang masih hidup zuhud, ikhlas, dan menjadi benteng moral masyarakat. Terutama dikalangan kyai sepuhnya.
Hanya saja, suara mereka sering tenggelam oleh sorotan terhadap oknum-oknum yang menonjol karena kemewahan.
Dan di sinilah pentingnya kritik yang cerdas dan sehat — bukan untuk menjatuhkan NU, tetapi untuk menjaga marwah NU itu sendiri dari pembusukan oleh oknum.
🪞 7. Jalan Tengah : Fanatisme Harus Didewasakan
🪭NU butuh institusionalisasi moral, bukan hanya ketergantungan pada karisma individu.
🪭Muhammadiyah perlu tetap menjaga etos rasional dan untuk tidak menjadi jumawa dengan segudang prestasi organisasi yang diraihnya.
🪭Umat Islam Indonesia perlu belajar membedakan antara “agama” dan “oknum agama”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar