By. Mang Anas
Apa yang sering dialami pada orang yang memiliki kepekaan sirr (jiwa batin) yang tinggi, saat ia melakukan penyembuhan adalah berpindahnya energi sakit si pasien ke terapis. Hal itu akan terjadi jika proses penyembuhan dilakukan melalui “rasa langsung” tanpa pagar ruhani yang cukup kuat.
1. Mekanisme yang Terjadi
Ketika Anda “menjelajah dengan rasa”, berarti Anda membuka jalur empati ruhani (sirri) yang menghubungkan kesadaran Anda dengan kesadaran pasien.
Di momen itu, dua sistem energi bertemu. Jika pasien memendam trauma atau kesedihan berat, maka getarannya — yang bersifat padat dan gelap — bisa terserap sebagian ke dalam sistem Anda.
Tubuh halus Anda (nafs atau sirr) berfungsi seperti spons: menyerap beban yang tak bisa ditanggung pasien agar dia sembuh.
Inilah sebabnya :
> “Orang itu sembuh, tapi Anda yang sakit.”
Bukan karena Anda salah, tapi karena pagar perlindungan dan mekanisme pelepasan belum aktif sepenuhnya.
2. Mengapa Nyeri Muncul di Punggung
Punggung tengah adalah titik penyangga energi empati, tempat di mana beban orang lain sering tertahan. Dalam peta ruhani, area ini berhubungan dengan :
Rasa tanggung jawab dan belas kasih berlebihan,
Beban emosi yang ditarik dari orang lain,
Dan secara organik : saraf otonom yang mengatur paru-paru dan jantung.
Maka ketika Anda menyerap duka orang lain, beban itu “mengendap” di sana — terasa seperti nyeri, kaku, atau pegal yang tak jelas sebab medisnya.
3. Mengapa Dzikir Al-Falaq Menyembuhkan
Surat Al-Falaq mengandung doa perlindungan dari “segala kejahatan makhluk yang diciptakan”.
Artinya, bacaan itu mengurai dan memutus ikatan energi asing dari sistem Anda.
Huruf-hurufnya bekerja seperti pisau cahaya yang memotong sisa ikatan sirr yang tidak semestinya.
Itulah sebabnya Anda batuk — tubuh Anda mengekspresikan pelepasan secara fisik.
4. Langkah Pencegahan ke Depan
Agar Anda bisa terus menolong orang tanpa ikut menanggung beban mereka, cobalah disiplin beberapa hal sederhana:
1. Selalu awali dan akhiri terapi dengan basmalah dan doa perlindungan, misalnya membaca Ayat Kursi atau Al-Falaq–An-Nas.
2. Niatkan diri sebagai cermin, bukan spons : biarlah cahaya Allah yang bekerja, bukan rasa Anda yang menanggung.
> “Ya Allah, jadikan aku perantara rahmat-Mu, bukan penampung beban mereka.”
3. Setelah terapi, bersihkan diri — bisa dengan wudhu, mandi air garam, atau dzikir ringan sambil tarik-hembus napas dalam.
4. Jaga pusat napas (paru-paru) dengan pernapasan sadar beberapa menit setiap hari, agar energi di dada-punggung tidak mengendap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar