Halaman

Jumat, 17 Oktober 2025

Rahasia Tiga Instrumen Kesadaran – Sam’an, Absoro, dan Af’idah

By. Mang Anas 


Dan sungguh Kami telah menjadikan untuk mereka pendengaran, penglihatan, dan af’idah, namun sedikit sekali mereka bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 9)

1.1. Penciptaan Kesadaran Sebagai Amanah Ilahiah

Manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan wadah kesadaran ilahi. Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad Adam, yang diberikan bukan hanya kehidupan, tetapi kesadaran akan kehidupan. Di situlah terletak perbedaan mendasar antara manusia dan ciptaan lainnya : manusia tidak hanya hidup, tetapi juga mengetahui bahwa ia hidup.

Inilah sebabnya mengapa Allah berfirman :

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya, dan menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan af’idah.” (QS. As-Sajdah: 9)

Ayat ini adalah cetak biru kesadaran manusia, yang terdiri dari tiga lapisan utama :

1. Sam’an – sensor batin untuk menangkap getaran kebenaran.

2. Absoro – alat pengindraan logika dan fakta lahir.

3. Af’idah – ruang penyatuan antara keduanya, tempat ruh berinteraksi dengan pikiran.

Jika sam’an dan absoro ibarat dua kutub, maka af’idah adalah titik keseimbangannya, atau dalam istilah tasawuf disebut maqam wasath, posisi tengah antara lahir dan batin.

Tanpa af’idah, manusia hanya menjadi makhluk yang berpikir atau berperasaan — tetapi belum menjadi makhluk yang berhikmah. Karena hikmah lahir dari kesadaran yang menyatukan dua dunia : yang tampak dan yang tersembunyi.

1.2. Sam’an – Gerbang Ilham dan Imajinasi Ilahiah

Sam’an bukan sekadar telinga fisik, melainkan getaran batin yang mampu menangkap frekuensi makna.

Anak kecil, pada masa awal kehidupannya, hidup sepenuhnya dalam dimensi sam’an — ia menyerap, meniru, dan mengafal dengan kemampuan yang luar biasa. Fase ini bukan kebetulan, melainkan rancangan Ilahi agar potensi imajinasi dan spiritualnya terbentuk sebelum logika mengambil alih.

Dalam dimensi spiritual, sam’an adalah alat penerima wahyu batin.

Ketika Nabi menerima wahyu, atau seorang wali mendapatkan ilham, sebenarnya yang bekerja pertama kali bukan penglihatan atau akal, tetapi sam’an : kesanggupan mendengar tanpa suara, menangkap makna tanpa kata. Itulah sebabnya Al-Qur’an berulang kali menegaskan :

Afala yasma’un ?” – Tidakkah mereka mendengar ?

Bukan mendengar bunyi, tetapi menangkap pesan hakikat di balik setiap fenomena.

Dalam pendidikan manusia modern, fase sam’an adalah fondasi pembentukan bawah sadar, di mana iman, rasa aman, kasih sayang, dan nilai-nilai kebenaran ditanamkan. Tanpa fase ini, logika yang datang kemudian akan tumbuh kering, tanpa akar ruhani.

1.3. Absoro – Gerbang Rasio dan Pembacaan Alam

Setelah sam’an terbentuk, manusia naik ke tahap absoro, yaitu kemampuan membaca hukum-hukum lahiriah semesta. Di sinilah lahir sains, eksperimentasi, observasi, dan sistem berpikir logis. Namun sayangnya, manusia modern berhenti di sini — di gerbang kedua — seolah alam semesta berhenti pada yang terlihat. Padahal absoro sejatinya adalah alat untuk menyingkap tanda-tanda, bukan untuk berhenti pada benda-benda. Ia adalah “cermin” tempat manusia melihat hukum keteraturan, keseimbangan, dan keterhubungan yang menjadi ayat-ayat kauniyah.

Ketika manusia berhenti pada hasil observasi dan melupakan yang mengatur hukum itu, maka absoro kehilangan arah, menjadi mata yang melihat tetapi tidak mengenal makna.

Al-Qur’an mengingatkan :

Banyak di antara mereka yang Kami jadikan untuk Jahanam; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat.” (QS. Al-A’raf: 179)

Artinya, absoro hanya berfungsi sempurna ketika bersinergi dengan sam’an dan dituntun oleh af’idah.

1.4. Af’idah – Gerbang Hikmah dan Kesadaran Universal

Af’idah adalah jantung kesadaran manusia. Ia bukan hati dalam arti biologis, melainkan pusat resonansi antara akal dan jiwa. Di sinilah manusia bisa “mengingat kembali” ilmu yang telah tertanam dalam fitrahnya sejak penciptaan. Ilmu yang tidak dipelajari dari luar, tetapi diingat dari dalam — sebagaimana firman Allah :

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya (fa’allama Adam al-asmaa kullaha).” (QS. Al-Baqarah: 31)

Af’idah bekerja pada frekuensi yang sangat halus, di wilayah antara sadar dan bawah sadar. Ia membuka jendela kepada “dua timur dan dua barat” — dua sisi realitas : lahir dan batin, cahaya dan bayangan. Dari titik keseimbangan inilah manusia bisa memahami sebab-akibat bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara metafisik. Orang-orang yang mencapai makom ini disebut “ulul albab” — pemilik inti kesadaran. Mereka tidak lagi mencari kebenaran di luar, karena kebenaran telah bangkit di dalam dirinya.

1.5. Evolusi Kesadaran dan Pendidikan Manusia

Jika ayat “sam’an, absoro, af’idah” kita baca sebagai peta perkembangan kesadaran, maka pendidikan manusia sejatinya juga harus mengikuti tiga fase itu :

1. Fase Sam’an (0–9 tahun)

Masa penanaman iman, kasih sayang, dan imajinasi kreatif. Jiwa dibentuk untuk mengenal rasa dan keindahan sebagai dasar fitrah.

2. Fase Absoro (10–18 tahun) –

Masa pembentukan logika, etika, dan rasionalitas. Penglihatan diarahkan untuk membaca hukum-hukum alam dengan dasar akhlak.

3. Fase Af’idah (dewasa)

Masa perenungan, integrasi, dan kebangkitan kesadaran. Di sini manusia mulai menyadari bahwa akal hanyalah alat, bukan tujuan.

Ketika tiga fase ini berjalan harmonis, maka lahirlah manusia yang utuh — insan kamil — yang mampu mengelola dunia tanpa kehilangan langit [ marwah Ketuhanan ] di dalam dirinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar